Tokoh Tionghoa: Pelawak Saja Diterima di Istana, Ini Umat Islam tidak Dilayani

aksi_bela_islam_20161031_125556JAKARTA — Ketua Komunitas Tionghoa Antikorupsi (Komtak), Lieus Sungkharisma, menilai kasus dugaan penistaan agama yang melilit Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini dapat merusak citra Indonesia sebagai negara Pancasila. Namun, dia melihat persoalan tersebut justru tidak mendapat perhatian yang serius dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) selaku kepala negara.

“Saya betul-betul menyesalkan sikap Jokowi yang kurang sensitif dalam melihat persoalan yang terjadi,” kata Lieus kepada Republika.co.id, Sabtu (5/11).

Dia pun menyayangkan sikap tak negarawan Jokowi yang terkesan menghindar menemui perwakilan demonstran di Istana Negara, Jumat (4/11) lalu. Menurut Lieus, Jokowi seharusnya bisa memahami betapa seriusnya kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok, karena berpotensi merusak keutuhan bangsa.

“Pelawak aja diterima sama presiden di istana. Ini yang datang umat Islam dari seluruh Indonesia yang marah karena agamanya dihina, tapi malah tidak dilayani oleh presiden. Enggak bener ini Jokowi,” ucapnya.

Lieus menuturkan, umat Islam di Indonesia sudah begitu sabar menunggu kepastian hukum atas masalah dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Sayangnya, aparat penegak hukum malah terkesan lamban mengusut kasus tersebut.

“Jangan karena si Ahok sekarang ini sedang jadi gubernur, lalu dia mendapat perlakuan istimewa. Siapa pun yang salah, hukum tetap harus ditegakkan,” ujarnya.

Jokowi sebelumnya lebih memilih mengunjungi Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, daripada menemui perwakilan demonstran Muslim yang melakukan aksi damai di depan Istana Negara, Jumat (4/11). Hingga selepas Magrib, mantan wali kota Solo itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya di hadapan perwakilan pengunjuk rasa.

Kehadiran Jokowi di Istana Negara baru diketahui publik setelah massa demonstran bubar, lewat siaran di sejumlah stasiun televisi, menjelang tengah malam. Pemerintah berdalih Jokowi tidak bisa menemui demonstran hari itu karena sulitnya akses menuju kantornya yang berada di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, Jokowi saat di bandara telah meminta untuk kembali ke Istana Negara. “Tapi aksesnya susah,” kata politikus PDI Perjuangan itu./republika




Demo 4 November, Anggota FPI Inhil Ikuti Jihat Konstitusional Bersama Jutaan Umat Musllim di Jakarta

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) turut andil dalam aksi demonstrasi 4 November, esok hari di Jakarta.

Keberangkatan anggota ormas islam yang berada dibawah pimpinan umum Habib Rizieq Shihab ini memenuhi seruan jihad konstitusional yang telah dikumandangkan para ulama untuk kaum muslimin dari seluruh Indonesia dalam Aksi Bela Islam II.

“Sekarang kami baru sampai Jambi, sekitar jam 8 pagi tadi berangkat dari Tembilahan,” sampaikan salah seorang anggota FPI Inhil, Said Anel Osman kepada detikriau.org melalui sambungan selularnya, Rabu (2/11/2016).

Menurut Anel, keikutsertaannya bukan sebatas gerakan sepihak, namun pihaknya mendapat restu dan dukungan dari pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Inhil.

Dimana, beberapa waktu lalu kedua organisasi Islam ini sempat duduk bersama antara Ketua FPI dan Ketua MUI Inhil.

Rasulullah saw bersabda:

Al-ulama’ warisatul ambiya’ (ulama adalah pewaris para nabi).

Mengikuti ulama berarti mengikuti para nabi.

Bahkan Rasulullah saw bersabda :

Bukan termasuk kedalam golongan ummatku orang yang memusuhi ulama.

Lebih mendalam lagi Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah RA berkata : Ketika Ulil Amri disuatu negeri tidak lagi berpihak kepada Islam dan kaum muslimin, maka pada saat itu yang menjadi ulil amri adalah ulama.

Dengan sikap ‘alim, wara’ dan kecintaan kepada Islam dan kaum muslimin, para Ulama, Habaib, Kiyai, Ustadz, Tokoh Islam, Tokoh Nasional, Pejuang Islam, Aktivis Dakwah telah menyerukan agar umat Islam diseluruh tanah air melaksanakan Jihad Konstitusi untuk menegakkan supremasi hukum di tanah air.

Dimana hukum tajam kepada muslim pribumi dan tumpul kepada kafir non pribumi.

Oleh sebab itu Ulama-Ulama besar Indonesia telah menyerukan agar kaum muslimin dari seluruh Indonesia berangkat ikut Aksi Bela Islam II, pada hari Jum’ay 4 November 2016 di Jakarta. Tujuan aksi ini adalah untuk membela Al-Qur’an, membela Islam, membela Ulama dan menjaga fatwa Majelis Ulama Indonesia dari penistaan yang dilaksanakan Ahok./Mirwan