INFOGRAFIS: Palapa Ring, Jalan Panjang Cita-cita 2 Dekade
ARB INdonesia, JAKARTA – Proyek Palapa Ring akhirnya rampung. Proyek yang bercita-cita menghubungkan wilayah Indonesia ini punya cerita panjang sejak 22 tahun yang lalu.
Sumber CNN Indonesia
ARB INdonesia, JAKARTA – Proyek Palapa Ring akhirnya rampung. Proyek yang bercita-cita menghubungkan wilayah Indonesia ini punya cerita panjang sejak 22 tahun yang lalu.
Sumber CNN Indonesia
Foto : Ilustrasi peti kemas. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
ARB INdonesia, JAKARTA – Kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke China mengalami penurunan pada September 2019, meski masih tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas ke China pada periode Januari-September 2019 tercatat sebesar US$18,35 miliar. Angka itu menurun dari nilai ekspor periode yang sama tahun sebelumnya US$18,53 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menyebutkan perekonomian global sedang mengalami ketidakpastian dan hal itu berpengaruh pada kondisi ekonomi Indonesia.
“Kita dihadapkan dengan negara tujuan utama ekspor seperti China, AS, dan Jepang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga permintaan berkurang. ditambah harga komoditas yang terus berfluktuasi,” papar Suhariyanto, Selasa (15/10).
Secara total, ekspor Indonesia ke China menurun. Penyusutan ekspor juga menyebar hampir ke seluruh negara tujuan.
Komoditas utama yang diekspor ke China pada periode tersebut adalah batubara, minyak kelapa sawit, dan lignit.
Berdasarkan pangsa pasar periode Januari-September 2019, nilai ekspor nonmigas China tercatat masih paling tinggi dibanding negara-negara lain, yakni dengan porsi 15,99 persen dari total ekspor Indonesia. Berada di urutan kedua ialah Amerika Serikat (AS) sebesar US$13 miliar (11,3 persen), dan Jepang di peringkat ketiga dengan nilai ekspor US$10,23 miliar (8,92 persen).
Selanjutnya, India US$8,46 miliar (7,38 persen), Singapura US$6,9 miliar (6,02 persen), Malaysia US$5,6 miliar (4,9 persen), Korea Selatan US$4,6 miliar (4 persen), Thailand US$4,1 miliar (3,6 persen), Taiwan US$2,9 miliar (2,52 persen), dan Belanda US$2,2 miliar (1,97 persen).
Dalam perhitungan bulanan, ekspor nonmigas Indonesia ke China pada September 2019 tercatat sebesar US$2,4 miliar. Sedangkan, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang masing-masing mencapai US$1,48 miliar, dan US$1,13 miliar.
Secara umum, neraca perdagangan Indonesia periode Januari-September 2019 defisit mencapai US$1,95 miliar. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari-September 2019 yang masih mencapai US$3,78 miliar.
Suhariyanto mengatakan defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,1 miliar, sementara impor mencapai US$14,26 miliar. Kinerja ekspor turun persen dari bulan sebelumnya, sedangkan impor melorot lebih dalam 8,53 persen dari Agustus 2019.
Sumber CNNIndonesia. com
Foto: Ustaz Abdul Somad (Antara Foto/Syifa Yulinnas)
ARB INdonesia, PEKANBARU – Kabar mengejutkan datang dari Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS). Ustaz kondang ini mengundurkan diri sebagai PNS Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Pekanbaru.
“Iya benar, UAS mengundurkan diri sebagai tenaga pengajar sebagai PNS di Kampus UIN. Iya ini ada surat resminya,” kata Kepala Biro Administrasi Umum Perencanaan Keuangan dan Kepegawaian UIN Suska Pekanbaru, Prod DR Ahmad Supardi MA, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (15/10/2019).
Ahmad tidak bisa menyebutkan secara pasti kapan surat pengunduran diri UAS tersebut. Namun yang pasti surat pengunduran diri ustaz yang sedang berkuliah S3 di Sudan ini sudah diterima Rektorat UIN Pekanbaru.
“Saya lupa tanggal berapa surat pengundurannya. Tapi beberapa waktu yang lalu lah.Saya lagi di Bogor ini,” kata Ahmad.
Ahmad menjelaskan, surat pengunduran diri UAS masih diproses di pihak rektorat. Nantinya jika sudah selesai, akan dilaporkan ke Kemenag.
“Belum (Kemenag). Inikan sedang kita proses sekarang, iya (masih) di internalnya UIN,” kata Ahmad.
Sumber Detik. com
Foto : Rocky Gerung. (CNN Indonesia/Safir Makki)
ARB INdonesia, JAKARTA – Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan pernyataannya yang menyebut bahwa Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai tokoh ‘sampah’ hanyalah sindiran kepada Prabowo.
“Sebagai satire,” kata Rocky melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia, Selasa (15/11).
Satire merupakan gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi.
Rocky mengatakan, dia sengaja melontarkan itu untuk menyindir manuver Prabowo.
“Itu cara saya,” katanya.
Pernyataan Rocky itu diucapkan ketika ia berkunjung ke salah satu kantor redaksi media C&R. Pertemuan antara Rocky dan Pemimpin Redaksi C&R Ilham Bintang.
Melalui akun Facebooknya, Minggu (13/11), Ilham Bintang menulis, Rocky Gerung berpaling. Kata Ilham, dalam perbincangannya dengan Rocky, Ilham berdiskusi panjang tentang kondisi bangsa pasca Pilpres.
”Roger (Rocky Gerung) membuat deklarasi. Hari itu ia nyatakan beroposisi kepada Prabowo. Ia akan “road show” berkeliling Tanah Air untuk mengajak kampret beroposisi pada Ketua Umum Gerindra itu,” kata Ilham.
Alasan Rocky, menurut Ilham, karena Prabowo sudah bergabung dalam kubu pemerintah.
“Sekarang, Prabowo sudah bergabung dengan Jokowi sebelum pelantikan. Makanya, saya majukan deklarasi saya beroposisi, menjadi mulai hari ini,” kata Rocky.
Ilham juga menulis, dan mengutip pernyataan Rocky Gerung yang meminta agar pendukung Jokowi supaya mengusir Prabowo dari kubu mereka.
“Enggak perlu tokoh seperti dia, nyampah-nyampahin negeri saja,” kata Rocky seperti dituliskan Ilham Bintang.
Prabowo Subianto melakukan safari politik usai kekalahannya di Pilpres 2019. Prabowo telah bertemu dengan Joko Widodo, dan sejumlah Ketua Umum Partai Politik seperti Surya Paloh, dan Ketua Umum PPP Muhaimin Iskandar.
Tanggapan Gerindra
Menanggapi pernyataan Rocky itu, politikus muda partai Gerindra TB Ardi Januar menilai pernyataan Rocky itu merupakan upaya Rocky untuk menjaga eksistensinya.
Kata Ardi, Pilpres telah “membesarkan” nama Rocky, dan kini Pilpres sudah selesai. Ada tiga kelompok yang menyikapi hasil pilpres. Pertama, kelompok yang memilih move on dan kembali bersatu demi keutuhan Bangsa.
Kedua, kelompok yang belum move on dan memilih tetap berseteru. Sementara yang ketiga adalah kelompok yang terancam kehilangan eksistensi karena pertunjukan telah usai.
“Bagi saya, Rocky adalah bagian dari kelompok ketiga,” kata Ardi.
Menurut Ardi, Rocky sadar betul pilpres kemarin telah membesarkan namanya. Bila seluruh pertunjukan selesai, eksistensi dia juga ikut selesai. Karena itu, dia perlu manuver baru untuk menjaga eksistensi. Rocky sadar, kelompok baper yang tak terima hasil pemilu masih lumayan jumlahnya.
“Mereka adalah pasar yang jelas bagi eksistensi Rocky,” katanya.
Rocky kembali muncul membawa narasi baru. Kali ini, Prabowo menjadi sasarannya. “Lantas, sebagai pendukung Prabowo, apakah saya harus marah dengan pendapat Rocky? Tidak juga. Biarkan saja dia bicara dan bersikap,” katanya.
Ardi pun mengutip pernyataan Rocky, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.
“Rocky pernah bilang, cara terbaik menghormati aksi badut adalah dengan cara tepuk tangan. Dan saya cukup menikmati pertunjukan yang dilakukan Rocky,” katanya.
Menurut Ardi, sejarah tak bisa bohong. Rocky adalah orang yang sangat mengidolakan Soemitro, ayah Prabowo. Dia juga sangat mengerti tentang kualitas pemikiran dan ketulusan Prabowo.
Sumber CNNIndonesia. com
Foto : Ilustrasi Wanita memegang Clapperboard. FOTO/iStockphoto
ARB INdnesia, ARTIKEL – Pernahkah Anda ditanya seputar pernikahan atau anak? Beberapa waktu lalu saya baru saja dikomentari soal hal tersebut. Seorang kawan lama di SMA mengirimkan pesan Instagram untuk merespons unggahan saya yang berisi foto diri bersama rekan lain.
“Makanya cepet punya dedek dong,” tulis kawan perempuan saya.
Di waktu lain, saya pernah mendapat pernyataan nyinyir serupa ketika pertama kali bertemu tante dari pihak suami. Selepas bersalaman, tanpa basa-basi ia langsung mendaratkan pertanyaan tentang jumlah anak. Perbincangan kami kemudian diakhiri dengan senyum canggung saya dan respons basa-basi lainnya seperti, “Cepet-cepet lah, jangan ditunda-tunda.”
Ada lagi komentar senada datang dari kawan perempuan suami saya–yang bahkan tidak saya kenal namanya. Ia lancang menanyakan soal anak, dan bahkan menekankan pada suami saya, bahwa usia pernikahan kami sudah cukup lama untuk dikategorikan normal belum memiliki anak. Saya cuma bisa ngeloyor, meninggalkan ia yang masih ngoceh soal kebahagiaan berumah tangga versi dia.
Komentar paling tidak sopan saya dapatkan datang dari tetangga, yakni ibu dari teman sekolah saya. Saat tak sengaja bertemu di jalan, dengan santai ia memegang bagian perut saya tanpa izin, sambil membandingkan dengan anak perempuannya yang tengah hamil. “Kapan nih isi? Si Anggun aja udah dua kali.”
Seolah tanpa beban, komentar-komentar itu meluncur dengan mudahnya dari mulut seorang perempuan kepada perempuan lain. Mereka seperti merasa punya tanggung jawab untuk menyamaratakan jalan hidup orang sesuai standar kebahagiaan umum. Barangkali mereka tak sadar, basa-basinya bisa sangat menyakitkan dan melecehkan kelompoknya sendiri.
Demikian pula dengan urusan cari jodoh. Destia (36 tahun), sudah kenyang menelan stigma karena memutuskan melajang sampai hari ini. Sepuluh tahun lalu, ia pernah dijodohkan dengan anak teman ibunya. Tapi, karena kurang sreg, Destia menolak. Lucunya, sampai dua tahun setelah aksi perjodohan, sang ibu masih berusaha membikin ia jatuh cinta.
“Ibu bilang ‘Jangan galak-galak. Kasihan dia baru putus, cobalah kamu hibur dia’. Tapi aku bilang itu bukan urusanku,” kata Destia.
Komentar yang paling sering ia dapatkan adalah soal umur. Dalam konsensus umum negara kita, perempuan akan dianggap “enggak laku atau terlalu selektif” ketika belum menikah di usia 30 tahun. Jika batas waktunya tiba, bersiap-siaplah diberondong pertanyaan “kapan nikah?”
Ingat kasus Mice Cartoon yang menganalogikan perempuan seperti bola? Komikusnya, Muhammad Misrad, mengumpamakan perempuan umur 17 tahun seperti bola sepak, diperebutkan banyak laki-laki. Sementara perempuan umur 50 tahun ibarat bola golf, dipukul sejauh-jauhnya. Tapi Destia tak mau ambil pusing dengan stereotip itu. “Beli mangga di pasar aja milih yang bagus, masa nyari suami nggak milih,” ujar Destia, tegas.
Konsensus sosial membentuk standar kebahagiaan yang berbeda bagi perempuan. Mereka dituntut menikah cepat dan punya anak untuk bisa dapat predikat ‘bahagia’. Komentar soal anak juga lebih sering menyasar perempuan yang sudah menikah, dibanding suami mereka.
Stigma kemandulan lebih lekat menempel pada perempuan. Padahal, menurut ilmu medis, persentase infertilitas antara perempuan dan laki-laki sama besar. Sementara standar yang sama tidak disematkan kepada laki-laki. Amat jarang bagi laki-laki mendapat komentar nyinyir soal pernikahan di umur yang menginjak kepala tiga.
Laki-laki lebih sering ditanya soal jabatan, atau pekerjaan–sesuatu hal yang bisa diusahakan. Pertanyaan yang sama tidak berlaku untuk perempuan. Mereka dilihat dari hal-hal yang kadang mereka sendiri tak punya kuasa untuk memperjuangkannya. Setinggi apa pun jabatan dan prestasi perempuan, mereka akan tetap ditanya soal nikah dan anak.
Harus diakui, banyak komentar semacam itu terlontar dari sesama perempuan, entah itu kerabat, teman, atau bahkan orang yang tak dikenal. Perempuan memang bisa bias terhadap sesamanya. Sebagaimana dilansir BBC, kecenderungan itu telah banyak diteliti. Penyebabnya adalah evolusi. Otak bawah sadar manusia memiliki kemampuan memproses suatu hal lebih besar daripada otak sadar. Ia bekerja dengan cara pintas, yang dikenal sebagai heuristik.
Heuristik merupakan bagian otak reptil manusia yang terbentuk dari pengalaman. Misal ketika pertama kali terkena api, kita mengaitkannya dengan panas. Seterusnya, otak akan mengasosiasikan api dengan panas.
Begitu juga dengan bias gender.
Ketika perempuan dibesarkan dalam lingkungan tidak proporsional, di mana laki-laki berada di posisi teratas, maka otak mereka akan mengaitkan laki-laki dengan “pemimpin dan sukses”–yang sebaliknya berlaku untuk deskripsi perempuan.
“Perempuan juga diasumsikan tidak kompeten, sementara laki-laki diasumsikan kompeten, sampai semua terbukti sebaliknya,” ungkap Joan Roughgarden, seorang ahli ekologi dan biologi evolusioner dari Amerika Serikat.
Untuk mendapatkan pengakuan yang sama, perempuan harus bekerja dua kali lebih keras dibanding laki-laki. Teori itu sudah dibuktikan oleh Catherine Nichols, seorang penulis asal Boston. Ia pernah mengirim sinopsis novelnya kepada 50 agen menggunakan nama asli tapi hanya mendapat dua respons positif. Sementara ketika menggunakan nama laki-laki, Nichols menerima 17 balasan positif.
Pada kisah Destia, misalnya, ia perempuan independen yang menguasai banyak bahasa, termasuk Spanyol. Ia sering bertemu dan mewawancarai pesepakbola dunia untuk kantor berita asing–posisi yang jarang didapat jurnalis perempuan. Ia juga punya mimpi untuk mengejar gelar master tahun depan. Begitu banyak hal positif dari dirinya, tapi yang dibahas oleh orang selalu tentang pernikahan.
Padahal, dengan hidupnya saat ini, Destia bisa jalan-jalan ke berbagai penjuru dunia tanpa harus pusing memikirkan izin dari pasangan atau urusan anak. Bertemu dengan berbagai orang, menjalin relasi, dan meraih posisi. Rasa-rasanya bahagia memang bisa ditempuh dengan berbagai cara, bukan melulu soal lulus tepat waktu, menikah, dan punya anak.
Sumber Tirto. id
Foto : Kepala MTs An-Nur Bantul, Subakir. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
ARB INdonesia, BANTUL – Seorang siswa MTs, R tewas usai berkelahi dengan temannya, M di dalam kelasnya, kemarin. Kepala MTs An-Nur Bantul, Subakir mengungkap bahwa perkelahian itu terjadi diawali dengan candaan antara keduanya.
“Sebenarnya bercanda, gojek seperti itulah, lalu kejadian itu (perkelahian). Dari keterangan saksi-saksi, dia (M) hanya memukul pakai tangan kosong dan sekali saja, lalu (R) jatuh terus muntah, tapi tidak pingsan,” ujar Subakir kepada wartawan, di kantornya, Kampung Ngrukem, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Selasa (15/10/2019).
Karena R terus mmuntah-muntah, temannya melaporkan kejadian itu kepada wali murid dan dilanjutkan dengan membawa R ke Pondok Pesantren An-Nur. Mengingat kondisi R yang belum membaik, wali murid segera membawanya ke Puskesmas I Sewon.
Tapi sampai Puskesmas katanya (R) sudah ndak ada. Dari Puskesmas menduga meninggalnya pas di perjalanan (ke Puskesmas Sewon I),” ujar Subakir.
Subakir mengaku belum bisa menentukan langkah selanjutnya terkait peristiwa ini. Namun, ia menyebut bahwa orangtua dari R dan M telah bertemu. Kedua pihak keluarga menyatakan telah ikhlas dan menganggap kejadian ini sebagai musibah.
“Belum bisa mengambil kebijakan, karena dia (M) anak yang baik sekali, dia rajin (salat) jamaah dan selalu paling depan. Dia juga sudah hafal 4 juz, memang anaknya itu (M) lebih kecil dari korban dan pendiam, tapi anaknya itu baik sekali, asli itu dia anak baik-baik,” ucap Subakir.
“Tapi saat saya melayat tadi, bapak korban bersikeras tidak ada masalah, waktu pemakaman bilang sudah ikhlas, ridho, tidak akan mempermasalahkan karena ini murni musibah. Apalagi selama ini anak (M) tercatat belum pernah melukai orang, atau nakal dengan temannya,” sambungnya.
Sumber Detik. com