ARB INdonesia, JAKARTA – Tim yang diinisiasi oleh Sofian Sibarani, arsitek dari Urban+ telah memenangkan sayembara desain ibu kota negara (IKN) dengan konsep desainnya yang diberi judul Nagara Rimba Nusa. Sofian mencoba menampilkan konsep ibu kota yang ramah lingkungan namun tetap modern dan berbasis smart city.
Dia menjelaskan, kompetisi ini menjadi wadah segala ahli untuk menyatukan pikiran membentuk konsep ibu kota baru yang bisa dibanggakan.
“Ada ahli lanskap, ahli lingkungan, dan lain-lainnya. Ini kompleks, karena kita berpikir bagaimana bisa mewujudkan keseimbangan pembangunan, bagaimana bisa manusia bersanding dengan alam, karena di sejarah kita sebagian besar selalu tidak berhasil,” ujar Sofian di Gedung Kementerian PUPR, Senin (23/12).
Sofian melanjutkan, timnya sengaja membuat kompleks bangunan yang saling berdekatan agar penduduknya bisa dengan mudah melakukan mobilisasi. Ibu kota rancangan tim Sofian ini mengadaptasi prinsip bio mimikri. Artinya, pembangunan dilakukan menyesuaikan dengan karakteristik hutan, tidak menghalangi aliran air dan angin.
“Kemudian, kami memilih lokasi dengan dengan air karena menurut kami, Indonesia negara maritim dan harus memperlihatkan kekuatan maritimnya. Ini adalah kebanggaan Indonesia juga,” ungkap Sofian.
Urusan banjir, Sofian mengatakan timnya telah mendesain di lahan bekas perkebunan yang konturnya di atas 10 meter. “Bekas perkebunan tidak mungkin kena banjir karena logikanya, masyarakat di sana berkebun agar bisa berbuah. Tidak mungkin mereka memilih lahan yang rawan banjir. Di samping itu, masyarakat juga telah membangun pertahanan banjir,” ujar Sofian.
Sementara, area pembangunan akan berkisar 2.000 hingga 3.000 hektar. Sisanya akan dibiarkan menjadi lahan hijau tempat bekantan dan hewan endemik lain hidup.
“Nanti kita akan bangun jalur yang tidak menyentuh habitat bekantan,” imbuhnya.
Bekerja di Pemerintahan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) membuka peluang untuk merekrut pemenang sayembara desain ibu kota negara (IKN) masuk ke dalam tim pemerintah. Nantinya, desain tersebut akan digunakan dan dikembangkan lagi bersama pemerintah untuk proses akhirnya.
“Itu bisa saja terbuka kemungkinan (direkrut) untuk itu amat sangat terbuka,” Kata Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (23/12).
Dia mengatakan, dengan diumumkannya pemenang desain sayembara ibu kota negara, maka sepenuhnya desain itu akan menjadi milik negara. Setidaknya, desain tersebut menjadi gagasan pemerintah untuk mengimplementasikan desain tersebut menjadi bentuk nyata.
“Ketika menjadi milik negara maka dia akan pemicu pemantik kita untuk sebuah gagasan. Jadi gagasannya yang kita beli, sebenarnya gagasan yang kita ambil tematiknya,” jelas dia.
Sumber merdeka.com / liputan6.com
https://m.merdeka.com/uang/mengenal-konsep-nagara-rimba-nusa-pemenang-sayembara-desain-ibu-kota-baru.html
Kapal Bermuatan Rokok Ilegal Kembali Diamankan Polres Inhil
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Personil Unit Reskrim Polsek Keritang berjibaku dengan Polsek Reteh berhasil melakukan penangkapan terhadap ‘Kapal Dua Putra’ yang bermuatan barang berupa rokok ilegal.
Peristiwa penangkapan tersebut terjadi di pinggir Sungai Parit 3, Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Kabupaten Inhil, Minggu (22/12/19) sekira pukul 18:30 WIB.
Adapun pemilik barang tersebut adalah saudara SRP, Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Kabupaten Inhil. Untuk diketahui, jumlah barang berdasarkan keterangan Nakhoda Kapal Dua Putra, berjumlah kurang lebih 319 kotak merk Luffman. Personil Polsek Reteh dipimpin oleh Kapolsek Reteh, Iptu Muhammad Rafi melakukan back up dan pengamanan disekitar area barang tersebut.
“Peristiwa penangkapan tersebut berawal dari perintah lisan Kapolres Inhil, AKBP Indra Duaman Siahaan S.I.K kepada Kanit Reskrim Polsek Keritang, Ipda Delni Atma Saputra, SH., untuk melakukan patroli di wilayah perairan Sungai Batang Gangsal,” ungkap Kasubag Humas Polres Inhil, IPTU Warno, Selasa (23/12/19) malam.
Dikatakannya lagi, Kemudian, sekira pukul 17.00 WIB, Personil Unit Reskrim Polsek Keritang melihat 1 (satu) Kapal Motor yg dicurigai sehingga Tim mendekati Kapal tersebut dan melakukan pengecekan.
“Setelah dilakukan pengecekan terhadap kapal tersebut, diduga kapal tersebut mengangkut Rokok Illegal yang berasal dari Batam. Setelah mengamankan kapal bermuatan diduga rokok tersebut, Kanit Reskrim Polsek Keritang, Ipda Delni Atma Saputra, SH., menghubungi Kapolsek Reteh, Iptu Muhammad Rafi untuk meminta back up dari personil Polsek Reteh,” Ujarnya
Lebih jauh dikatakannya, Kapal bermuatan barang berupa rokok illegal tersebut diamankan di dermaga Markas Unit Pol Air Polda Riau yang melibatkan 6 personil Pengamanan (5 pers Polsek Reteh dan 1 pers Pol Air Polres Inhil), sedangkan terhadap pemilik Kapal dilakukan introgasi.
Selanjutnya pada hari Senin tanggal 23 Desember 2019 sekira pukul 07.30 WIB telah dilakukan pengecekan barang hasil tangkapan berupa rokok illegal oleh Kapolres Inhil, AKBP Indra Duaman Siahaan SIK.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut pengecekkan tersebut Kasat Reskrim Polres Inhil, AKP Indra Lamhot Sihombing S.I.K, Kasat Pol Air Polres Inhil, AKP H Awaludin Munthe.
Kedatangan Kapolres Inhil beserta rombongan disambut oleh baik oleh Kapolsek Reteh, Iptu Muhammad Rafi., Ps Kanit Reskrim Polsek Reteh, Aiptu Herry Indrawan., Ps Kanit Intelkam Polsek Reteh, Bripka Ahmad Siregar S.IP., Ba Sium Polsek Reteh, Brigadir Kusuma Nusantara., Banit Sabhara Polsek Reteh, dan Brigadir Ade Putra.
Sekira pukul 08.15 WIB kegiatan pengecekan selesai dilaksanakan, dan selanjutnya Kapolres Inhil dan rombongan beserta barang bukti berupa Rokok Illegal dan Kapal Motor dibawa ke Tembilahan guna proses lebih lanjut. (arb)
Lahan 200 Hektar Diserobot Perusahaan, Warga Desa Sungai Bela Gelar Aksi Dikantor Bupati
Foto : Aliansi Inhil Menggapai Keadilan (IMK) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Kabupaten Indragiri Hilir
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Puluhan warga Desa Sungai Bela Kecamatan Kuala Indragiri yang tergabung dalam aliansi Inhil Menggapai Keadilan (IMK) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Kabupaten Indragiri Hilir, Senin (23/12/2019)
Dalam orasinya, Sukri selaku korlap mengatakan meminta keadilan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Inhil terkait penyerobotan lahan seluas 200 hektar milik masyarakat yang diduga dilakukan oleh perusahaan di Desa Sungai Bela.
“Kami menuntut keadilan dan meminta ganti rugi atas penyerobotan lahan yang yang diduga dilakukan oleh PT IJA yang ada di Desa Sungai Bela,” ungkap Sukri alias Basok.
Dalam aksi itu, masa aksi juga meneriakan meminta Bupati Inhil HM Wardan untuk hadir menemui masyarakat yang melakukan demonstarsi.
“Kita minta Bupati hadir bersama kami disini”, ujar seseorang dalam barisan itu. “Betul… ” sahut yang lainnya.
Selain itu, Anawawik Ketua LSM KPK wilayah Riau yang juga tergabung dalam barisan masa aksi menghatarkan orasinya dihadapan Wakil Bupati dan pejabat lainnya yang ada saat itu.
“Ini bukan langkah awal yang kami lakukan, kami melalui LSM KPK juga akan terus mengawal permasalahan ini sampai hak-hak masyarakat yang direbut kembali kepada masyarakat itu lagi,” pungkasnya
Menanggapi Aksi itu, Wakil Bupati Inhil H Syamasudin Uti yang hadir langsung saat itu mengaku sudah mengatahui soal penyerobotan lahan yang terjadi di Desa Sungai Bela. Bahkan SU juga mengaku sudah mengetahui adanya oknum yang diduga bermain.
“Saya berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini, nanti akan kita panggil pihak perusahaannya dan oknum yang di duga terlibat didalamnya. Kita ajar berdiskusi,” janji Wabub kepada demonstarsi.
Dibawah kepemimpinan Wardan-SU, Wabub juga mengatakan tidak mau dan tidak suka rakyat diperlakukan seperti ini oleh perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab.
“Kita menegaskan perusahaan-perusahaan yang ada di Inhil yang tidak mau mengikuti peraturan Pemerintah akan dicabut izinnya,” ucapnya.
Untuk diketahui, sebelumnya masyarakat Desa Sungai Bela yang tergabung dalam aliansi IMK ini juga telah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPRD Inhil pada 16 Desember 2019 lalu. (Arbain)
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Perwakilan dari Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Netherland Developmen Organization (Organisasi Pengembangan Belanda)melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pelatihan Keterampilan 8 Yan Ekhsan (LPK 8YES) di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, Minggu (22/12/2019).
Dalam kunjungan itu, Retno perwakilan SNV Netherland Developmen Organization yang bertugas di Kabupaten Banyu Asin, Provinsi Sumatra Selatan menyampaikan, SNV Netherland Developmen Organization adalah organisasi pembangunan internasional nirlaba, yang didirikan di Belanda.
Didorong oleh tujuan pembangunan berkelanjutan, SNV membuat perbedaan abadi dalam kehidupan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dengan membantu meningkatkan pendapatan.
“Organisasi ini bekerja di lebih dari 25 Negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin,” imbuh Retno.
Selain itu Retno juga mengatakan, melalui kunjungannya di LPK 8 YES soal pengolahan kopra putih melalui ‘Langkau Milenial’ ini merupakan suatu gagasan yang ingin di implementasikan di daerah tempatnya bertugas saat ini.
“kita ingin melihat dan memahami langsung pengolahan kopra putih, tidak menutup kemungkinan ini akan kita terapkan untuk meningkatkan perekonomian di Banyu Asin Khususnya,” ujarnya.
Sementara itu, Yan Ekhsan selaku pendiri LPK 8 YES mengapresiasi atas kunjungan yang dilakukan oleh perwakilan SNV Netherland Developmen Organization.
“Saya pribadi salut gengan Mbak Retno Jauh-jauh dari Banyu Asin datang seorang diri ke Kabupaten Indragiri Hilir hanya untuk melihat langsung pengolahan kopra putih,” ungkapnya.
Disisi lain Yan Ekhsan juga menyampaikan, bahwa LPK 8 YES akan terus berupaya menyebarkan ‘virus’ tentang pengolahan kopra putih melalui tenda yang ia beri nama ‘Langkau Milenial’.
” intinya, LPK akan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin tau dan belajar pengolahan kopra putih,” cetusnya.
Untuk diketahui, pada kunjungan SNV Netherland Developmen Organization ke LPK 8 YES tersebut, turut hadir mendampingi beberapa orang Mahasiswa dari Unversitas Islam Indragiri Hilir (UNISI).
(Arbain)
https://youtu.be/mx3IROlbsg4
Video
Jalan di Limapuluh Kota Nyaris Putus
Kondisi Jalan Lintas Riau-Sumbar yang retak akibat tanah bergerak di Jorong Simpangtiga, Nagari Kotoalam, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Sabtu (21/12/2019). Di tepi jalan tersebut, beberapa rumah juga sudah ambruk akibat tanah bergerak (kiri). Petugas dari Polres Limapuluh Kota saat meninjau jalan penghubung Nagari Lubuk Alai dengan Nagari Koto Lamo, Sabtu (21/12/2019)(kanan).
ARB INdonesia, SUMBAR – Ruas jalan negara Sumbar-Riau yang membelah wilayah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, semakin sekarat. Bahkan, sudah terancam putus total di Jorong Simpang Tigo, Nagari Kotoalam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. Tepatnya lagi sebelum penurunan Tujuah Baleh jika datang dari arah Sumbar atau persis di depan deretan rumah warga Nagari Kotoalam yang terbelah akibat fenomena tanah bergerak.
Kondisi Jalan Sumbar-Riau yang menunggu putus akibat keretakan badan jalan di Nagari Kotoalam ini, tidak hanya disampaikan Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi kepada JPG usai meninjau lokasi banjir dan longsor di daerahnya pada Jumat lalu (20/12). Namun, juga diisyaratkan oleh Kapolres Limapuluh Kota AKBP Sri Wibowo yang sepanjang Sabtu (21/12), dua kali melintasi jalan negara tersebut.
“Sabtu ini (kemarin, red), saya dua kali lewat Jalan Sumbar-Riau di Nagari Kotoalam. Karena saya pergi melihat kondisi Nagari Kotolamo, Kecamatan Kapur IX yang sempat terisolasi akibat longsor, tapi malam ini sudah tidak terisolasi lagi. Nah, dari pengamatan saya, secara kasat mata saja, memang badan jalan Sumbar-Riau di Nagari Kotoalam itu, semakin turun. Jika tidak ditangani cepat, badan jalan ini memang berpotensi putus total,” kata AKBP Sri Wibowo saat dihubungi JPG, malam tadi.
Mantan Kasat PJR Dirlantas Polda Sumbar ini menyarankan kepada Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) III selaku penanggungjawab pengelolaan Jalan Sumbar-Riau, agar segera bersikap. “Menurut saya, malam ini (kemarin, red), BPJN III harus bersikap. Menurunkan ahli jalan atau ahli apalah namanya, untuk melihat langsung kondisi badan jalan di Nagari Kotoalam, apakah layak ditempuh atau tidak oleh kendaraan. Dengan demikian, kami pun bisa bersikap pula,” tegas AKBP Sri Wibowo.
Selain disarankan segera menurunkan ahli jalan atau ahli bina marga untuk melihat kondisi badan jalan Sumbar-Riaudi Nagari Kotoalam, Polres Limapuluh Kota juga meminta BPJN III segera melakukan penanganan terhadap badan jalan yang semakin retak dan turun tersebut. “Kita khawatirnya, saat dilewati kenderaan berat, jalan ini amblas. Makanya, ini memang harus ditangani dengan cepat,” katanya.
Terkait dengan beredarnya rekaman di sosial media yang menyebut Jalan Sumbar-Riau sudah putus pada Sabtu (21/12) sore, AKBP Sri Wibowo memastikan informasi itu belum benar. Tapi, Kapolres mengakui, jika kondisi jalur utama penghubung Sumbar dengan Riau ini, sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Soal adanya imbauan atau papan informasi yang terpasang pada sejumlah titik di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, tentang kendaraan bertonase di atas 10 ton tidak bisa lewat jalan Sumbar-Riau, Kapolres mengaku tidak berkompeten untuk memberi penjelasan terkait hal tersebut.
Namun, Kapolres mengakui, jika pihaknya memang menganjurkan atau memberi imbauan kepada pengemudi kenderaan berat di jalur Sumbar-Riau memilih lewat jalan alternatif yakni melewati Kiliranjao Sijunjung, terus ke Telukkuantan dan Pekanbaru.
“Kami memang anjurkan pengemudi kendaraan berat, lewat jalan altenatif atau memutar dulu. Namun, untuk memastikan kendaraan berat berapa saja yang bisa melewati jalan retak di Nagari Kotoalam, itu tentu bukan kompetensi kami,’’ kata AKBP Sri Wibowo.
‘’Makanya, dari awal saya sampaikan, kita minta Balai Jalan Naisona agar segera menurunkan ahli jalan untuk menentukan sikap. Ini yang penting. Jika tidak, kita khawatirnya, jalan ini tidak bisa dilewati untuk libur akhir tahun nanti. Apalagi, warga Riau itu pada libur akhir tahun banyak, yang berwisata ke Sumbar,” tambahnya.
Sebelumnya, Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi yang juga Ketua PDI-Perjuangan di daerahnya, meminta Balai Pelaksana Jalan Nasional agar terus menangani keretakan badan jalan Sumbar-Riau yang makin meluas.
“Saya khawatir sekali dengan kondisi badan jalan Sumbar-Riau. Yang saya pikirkan, keselamatan pengemudi dan masyarakat kita. Baik warga Sumbar ataupun Riau. Ini jika tidak ditangani segera, bisa memicu biaya ekonomi tinggi. Menganggu perekonomian Sumbar dan Riau,” kata Irfendi.
Sementara itu, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) III Sumbar Aidil Fiqri yang dikonfirmasi JPG dari Payakumbuh, Sabtu malam (21/12), menyebut, BPJN III Sumbar akan melakukan penanganan darurat secepatnya, terkait dengan kondisi jalan Sumbar-Riau yang mengalami pergerakan di Kotoalam. “Sekarang kami tangani darurat. Celah-celah kami timbun supaya menjamin lalu-lintas tetap lancar,” ujarnya.
Aidil Fiqri mengakui, di kawasan Kotoalam itu terjadi pergerakan tanah secara full. “Jadi, tentunya, kami akan mengirim tim survei, baik dari Balai, gabungan dari tim ahli Bina marga yang menyangkut dengan ada namanya Subdit Lereng, menyangkut dengan lereng, dan Tim Reaksi Cepat Bencana Alam. Ini akan kami laporkan secara resmi untuk mengundang,” ujarnya.
Apakah sejauh ini sudah ada kajian dari BPJN III Sumbar terhadap penyebab fenomena tanah bergerak di Jalan Sumbar-Riau terutama di ruas Nagari Kotoalam? Aidil Fiqri mengakui, belum dilakukan kajian. “Memang ini perlu dikaji, penyebabnya murni alam atau ada campur tangan manusia. Ada tidak aktifitas penambangan di sana? Saya sendiri tidak tahu, tentu kawan-kawan wartawan di sana juga perlu mencaritahu,” katanya.
Selain BPJN III Sumbar, Aidil Fiqri meyakini, pihak kepolisian juga menyelidiki penyebab jalan retak dan pergerakan tanah yang terjadi di Nagari Kotoalam. “Untuk kami di BPJN sendiri, sekarang melakukan penanganan darurat dulu. Yang retak-retak itu, kami isi dulu dengan timbunan sirtu, timbunan pilihan. untuk menjamin lewat. sementara alat berat juga standy-by di sana,” kata Aidil.
Jika terjadi kondisi buruk, seumpama jalan putus, BPJN III Sumbar menurut Aidil juga sudah menyiapkan langkah antisipasi. “Kalau putus sekali pun, saya sudah siapkan jembatan balley untuk atasi itu. Jembatan balley sendiri sudah di atas truk sekarang. Kalau itu terjadi yang tidak diperkirakan. Kita kan tidak tahu apa yang terjadi besok. Yang jelas kami harus siap,” ujar Aidil Fiqri.
Longsor di Limapuluh Kota
Selain fenomena tanah bergerak, sekitar 680 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Limapuluh Kota, terisolasi akibat longsor yang kembali melanda daerah tersebut, sepanjang Kamis malam (19/12) hingga Jumat (20/12). Sedangkan, 105 KK lainnya, sampai Sabtu (21/12) dini hari, kembali diungsikan akibat banjir.
Humas Polres Limapuluh Kota Brigadir Ababil melaporkan, ruas jalan negara Sumbar-Riau kembali longsor di Kilometer 156, tepatnya di Jorong Simpang Tigo, Nagari Kotoalam, Kecamatan Pangkalan. Akibat longsor tersebut, separuh badan setinggi kurang lebih satu meter. Sedangkan panjang material longsor 20 meter. Sehingga mengganggu arus lalu lintas Sumbar-Riau. (*)
Sumber riaupos.co http://m.riaupos.co/217958-berita-jalan-di-limapuluh-kota-nyaris-putus.html
Mas Yudi Adalah Kakiku, dan Mas Agung Adalah Mataku
Sugeng Wahyudi (), dan Agung () selalu bersama untuk berjualan kerupuk untuk nafkah sehari-hari, dan bergantian mengantar ke tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
ARB INdonesia – “Mas Yudi itu sudah menjadi kaki saya, kemanapun saya pergi selalu bersamanya,”. “Mas Agung adalah mata saya, dia menunjukkan jalan bagi langkah kami berdua,”.
Dalam berjalan mencari nafkah. Menyusuri kerasnya jalanan, untuk menjual kerupuk, dan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sugeng Wahyudi (32), dan Agung (29) selalu bersama.
Menggunakan sepeda roda tiga yang telah dimodifikasi, keduanya selalu setia menyusuri jalanan yang tidak ramah lagi bagi keduanya. Debu, terik mentari, dan bising suara klakson, serta mesin-mesin selalu menjadi pengiring setiap tangkah mereka.
Sugeng Wahyudi, yang akrab disapa Yudi, adalah penganut Katolik yang taat. Almarhum bapaknya asli Papua, sementara ibunya orang Blitar. Dia dibesarkan di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di Desa Nyawangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.
Sejak lahir, Yudi mengalami keterbatasan penglihatan. Dia buta. Saat masih kecil, dia dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang, untuk menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan hidup di asrama.
Sementara Agung pemeluk Islam yang taat, berasal dari Yogyakarta. Dia penyandang tuna daksa. Kakinya memiliki keterbatasan, sehingga menyulitkannya untuk bergerak. Kemana-mana, Agung selalu berada di atas sepeda roda tiga.
Agung berada di depan sebagai pengendali setir sepeda roda tiganya. Dia juga menjadi pemandu arah kemana mereka harus berjalan. Sementara Yudi yang memiliki penglihatan terbatas, namun fisik kaki dan tangannya normal, berjalan di belakang mendorong sepeda.
Yudi menjadi “kaki” penggerak sepeda roda tiga, untuk bisa terus melaju menyusuri jalanan. Sementara Agung, menjadi “mata” yang menentukan arah kemana keduanya harus berjalan berjualan kerupuk.
Bukan hanya berjalan di sekitaran rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” saja. Keduanya sudah bergerak kemana-mana. Bahkan, kemarin keduanya baru saja sampai di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” di Jalan Bandulan, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Empat hari lamanya, keduanya meninggalkan rumah singgah itu untuk berjualan kerupuk. Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Malang, menuju ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dan berakhir di Kesamben, Kabupaten Blitar, lalu kembali lagi ke Kota Malang.
Jarak tempuh sepanjang 2 x 60 km tersebut, mereka tempuh selama empat hari perjalanan. Kerupuk dalam keranjang mampu mereka jual habis. “Selama berada di perjalanan ya kalau capek istirahat di SPBU, mushola, ya dimana saja tempat yang aman dan nyaman bisa buat tidur,” ujar Yudi, sambil mengumbar tawanya yang khas.
Pemuda yang selalu ceria ini, begitu bahagia hidup bersama para sahabatnya. Berkat Agung, dia bisa berjalanan kemana saja. Dia juga bisa mengikuti Misa Minggu di Gereja Katolik Paroki Vincentius A. Paulo di Jalan Langsep, Kota Malang.
Jarak rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” dengan gereja tersebut, sekitar 3 km. Jalannya berupa turunan tajam, dan tanjakan. Lalulintasnya sangat padat, karena menjadi jalur menuju daerah industri di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Yudi penuh semangat datang ke gereja, diantarkan Agung sahabatnya. Saat Yudi khusuk mengikuti Misa Minggu, Agung yang pemeluk Islam taat, dengan setia menanti di luar gereja. “Kadang saya menunggu Yudi ikut Misa Minggu, sambil jualan kerupuk di luar gereja,” ujar Agung.
“Jadi semangat kalau ke gereja ada yang mengantarkan. Kalau tidak ada yang mengantarkan, ya saya kesulitan jalannya. Bisa nabrak-nabrak jalannya,” kata Yudi sambil terkekeh penuh keakraban.
Pergi dan pulang mereka selalu bersama. Demikian juga saat Agung harus menjalankan ibadah sholat lima waktu di mushola, atau saat menjalankan Sholat Jumat di masjid, Yudi dengan setia mengantarkannya.
“Kalau Mas Agung sholat, saya menunggu di luar masjid. Sambil duduk-duduk saja. Beberapa kali saya juga ditanya oleh umat yang akan sholat, karena tidak masuk ke Masjid. Ya saya jawab kalau saya hanya mengantarkan teman,” kata Yudi.
Sama halnya dengan Yudi, Agung juga sangat semangat untuk sholat ketika diantarkan oleh Yudi. “Ke mushola atau masjid jadi lebih mudah, soalnya Mas Yudi yang mengatarkan. Saya bisa ikut sholat berjamaah,” ujar Agung.
Mereka hidup saling melengkapi, dalam segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah merasa tersekat-sekat, meskipun hidup berbeda agama. “Belum tentu juga orang yang seiman dengan saya bersedia mengantarkan saya ke gereja seperti Mas Agung,” ujar Yudi, sambil tertawa lepas.
Kedua pemuda ini sudah beberapa tahun ini tinggal bersama di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat”. Mereka yang tinggal di rumah singgah tersebut, rata-rata para penyandang disabilitas, mulai dari tuna daksa, buta, serta mengalami gangguan penglihatan.
Rumah ini menghadirkan hidup nyata dalam kebhinekaan. Bisa saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang suku, ras, golongan, dan agama. Mereka hidup dalam cinta kasih yang nyata, saling tolong-menolong, bergotong royong, membangun toleransi, dan bekerja keras untuk hidup dan menghidupi.
Tak perlu banyak teori dan wacana tentang ke-Indonesiaan, persatuan, serta Pancasila untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di rumah singgah ini. Toleransi, kerja keras, persahabatan, dan persaudaraan sejati itu mengalir begitu indah dalam kehidupan setiap hari.
“Kami selalu hidup bersama sebagai anak-anak Indonesia, yang tumbuh dalam segala perbedaan dan keterbatasan,” ujar Akhiles Alokako (50), pendiri Komunitas Rumah Sahabat.
Baginya, rasa cinta kepada Indonesia, dan Pancasila, tidak hanya sekedar banyak wacana dan teori, tetapi langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang penuh keterbatasan, mengamalkannya semampu yang kami bisa di kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pria asli Bajawa, Flores, NTT tersebut, tinggal di Kota Malang, sejak 22 tahun silam. Dia datang berniat menjadi pastor, dan ingin mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Langkahnya ternyata membawanya ke Yayasan Bhakti Luhur, dan menjadi bagian dari kerasulan awam untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas.
Keahliannya bermusik, membawanya menjadi guru musik untuk para penyandang disabilitas, sampai dia memilih keluar dari Yayasan Bhakti Luhur pada tahun 2007, dan mulai merintis Komunitas Rumah Sahabat.
Rumah singgah yang harus berpindah-pindah tempat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan untuk mengontrak rumah tersebut, awalnya diisi oleh anak-anak jalanan. “Mereka sudah banyak yang mandiri sekarang,” ujar Akhiles.
Di kemudian hari, Komunitas Rumah Sahabat ini bukan hanya menampung anak-anak jalanan. Tetapi, juga para penyandang disabilitas. Menurut Akhiles, banyak yang enggan mengurus para penyandang disabilitas, makanya Komunitas Rumah Sahabat hadir sebisa mungkin untuk mereka.
Guru musik yang sempat mengajar ke sejumlah sekolah di Kota Malang, dan Lumajang tersebut, terpaksa juga harus mengalami keterbatasan untuk bergerak, setelah dia menjadi korban kecelakaan. Keterbatasan itu, membuatnya fokus bermusik bersama para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat.
Dia sudah sangat senang, ketika persaudaraan sejati yang dibangun tanpa basa-basi oleh para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat, mulai dicontoh oleh masyarakat kampung yang tinggal di dekat rumah singgah.
Dicontohkannya, suatu hari pernah melihat ibu-ibu yang mengenajak hijab di dekat rumah singgah, pergi mengatarkan keluarganya yang menyandang disabilitas ke gereja untuk beribadah. “Perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik di sekitar kami, sudah sangat membuat kami bahagia,” ungkapnya.
Di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat tersebut, kini juga menjadi tempat untuk para disabilitas berkarya dan hidup mandiri. Bukan hanya berjualan kerupuk, mereka juga bermusik.
Ada dua grup musik dengan genre musik berbeda yang dikembangkan mereka. Satu grup musik bernaama Netra Laras, yang lebih banyak beraliran musik Capursari. Pemainnya Akhiles, Yudi, Agung, Joko, Rofi.
Sementara, satu grup musik lagi beraliran pop, yakni RJY. Nama itu singkatan dari tiga nama pemainnya, yakni Rofi, Yudi, dan Joko. Akhiles biasa mengisi keyboard melodi dua, sementara Yudi merupakan pemegang gitar melodi dan vokal.
Joko yang mengalami keterbatasan penglihatan, atau lowfision, merupakan pemain keyboard melodi satu. Rofi seorang penyandang tuna netra, menjadi pemain bass, dan Agung adalah penggebuk drum yang handal, meskipun mengalami keterbatasan pada kakinya.
Mereka merupakan sahabat disabilitas dewasa dan remaja, yang sudah lepas dari sekolah dan harus hidup mandiri. Selain berjualan kerupuk dan ngamen, mereka juga menerima undangan untuk bermain musik mengisi acara.
Akhiles menegaskan, yang mereka butuhkan bukanlah belas kasihan. Tetapi kesempatan yang sama layaknya orang normal pada umumnya. “Kami punya kemampuan dan kemauan, meskipun banyak keterbatasan. Yang kami butuhkan ruang apresiasi serta kesempatan, bukan belas kasihan,” tegasnya.
Hadirnya media sosial, juga mulai mereka manfaatkan untuk mempromosikan karya-karya musik RJY dan Netra Laras. Video sederhana saat mereka tampil di berbagai kesempatan, telah mereka unggah di akun youtube Netra Laras Music.
Mereka juga pernah rekaman dan mengeluarkan album dalam bentuk VCD. Sayangnya, produksi yang telah dibuat dengan modal patungan itu sulit dipasarkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka patah semangat untuk hidup mandiri.
Semangat, kerja keras, kebersamaan, serta sikap saling menghormati dalam segala perbedaan dan keterbatasan yang dihadirkan para penyandang disabilitas ini, menghadirkan contoh yang baik bagi masyarakat. Mereka mampu hidup berdampingan dengan tetangga dan saling menghormati, tanpa sedikitpun meminta belas kasihan.
Yudi, Agung, Joko, Rofi, Akhiles, serta sahabat-sahabat disabilitas lainnya di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat, memiliki banyak keterbatasan fisik, tetapi mereka memiliki hati seluas samudera untuk menerima segala perbedaan dan keterbatasan itu dalam persaudaraan sejati.
Sumber Sindonews.com https://jatim.sindonews.com/read/18100/1/mas-yudi-adalah-kakiku-dan-mas-agung-adalah-mataku-1576977173