Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas

Foto Ilustrasi idntime.com


ARB INdonesia, LA TAHZAN – Sang Pencipta dan Pemberi rezeki Yang Maha Mulia, acapkali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang pandir yang tak berakal. Maka, apalagi saya, Anda dan kita sebagai manusia yang selalu terpeleset dan salah.


Dalam hidup ini, terutama jika Anda seseorang yang selalu memberi, memperbaiki, mempengaruhi dan berusaha membangun, maka Anda akan selalu menjumpai kritikan-kritikan yang pedas dan pahit. Mungkin pula, sesekali Anda akan mendapat cemoohan dan hinaan dari orang lain. Dan mereka, tidak akan pernah diam mengkritik Anda sebelum Anda masuk ke dalam liang bumi, menaiki tangga ke langit, dan berpisah dengan mereka.


Adapun bila Anda masih berada di tengah-tengah mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat Anda bersedih dan meneteskan air mata, atau membuat tempat tidur Anda selalu terasa gerah. Perlu diingat, orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah jatuh, dan manusia tidak akan pernah menendang anjing yang sudah mati.







Baca Juga : Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan Anda!


Adapun mereka, marah dan kesal kepada Anda adalah karena mungkin Anda mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, atau harta. Jelasnya, Anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak terampuni sampai Anda melepaskan semua karunia dan nikmat Allah yang pada diri Anda, atau sampai Anda meninggalkan semua sifat terpuji dan nilai-nilai luhur yang selama ini Anda pegang teguh. Dan menjadi orang yang bodoh, pandir dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri Anda.


Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu cadas; tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran￾butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya.


Artinya, jika Anda merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan atau cemoohan mereka, berarti Anda telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan Anda. Padahal, yang terbaik adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan akhlak yang baik.


Baca Juga : Yang Lalu Biar Berlalu







Acuhkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap upadaya mereka untuk menjatuhkan Anda. Sebab, kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk Anda. Yakni, semakin tinggi derajat dan posisi yang Anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu.


Betapapun, Anda akan kesulitan membungkam mulut mereka dan menahan gerakan lidah mereka. Yang Anda mampu adalah hanya mengubur dalam-dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka pada Anda, dan cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah.


{Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.”} (QS. Ali ‘Imran: 119).


Bahkan, Anda juga dapat ‘menyumpal’ mulut mereka dengan ‘potongan-potongan daging’ agar diam seribu bahasa dengan cara memperbanyak keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap kesalahan Anda. Dan bila Anda ingin diterima oleh semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, berarti Anda telah menginginkan sesuatu yang mustahii terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan.


(Karya  Dr. Aidh al- Qarni – Penerbit Qisthi Press)




Bermodal Rompi SWAT, Polisi Gadungan Peras Pengendara di Makassar

Ilustrasi Polisi Gadungan. ©2015 Merdeka.com







ARB INdonesia, MAKASSAR – Residivis bernama Lufti Tajuddin (31) warga Kecamatan Manggala yang mengaku-ngaku sebagai polisi diringkus polisi dari unit Jatanras Polrestabes Makassar, Jumat malam (17/1) pukul 21.00 Wita. Lutfi merupakan pelaku kriminal dengan 14 Laporan Polisi (LP) terhitung sejak Oktober 2019 hingga Januari 2020 ini.


Kejahatan yang dilakukannya mulai dari pencurian, penipuan dan pemerasan. Dari tangan Lutfi, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti sejumlah ponsel dan sepeda motor.


Kemudian satu lembar rompi hitam bertuliskan SWAT (Special Weapons And Tactics). Rompi tersebut digunakan Lutfi saat menjadi polisi gadungan untuk memeras pengendara yang tidak lengkap surat-surat kendaraannya.


Kapolrestabes Makassar, Kombes Polisi Yudhiawan Wibisono saat dikonfirmasi Minggu (19/1) menjelaskan Lutfi sebelumnya residivis kasus pencurian sepeda motor di Polsek Manggala, penggelapan sepeda motor di Polsek Mamajang dan penggelapan alat elektronik di Polsek Panakkukang.







“Ada tujuh tindak pidana pencurian, penipuan dan pemerasan yang dilakukan tersangka dengan cara menyamar sebagai polisi dengan menggunakan rompi hitam bertuliskan SWAT. Modusnya dengan menahan pengguna jalan di pinggir jalan dan memeriksa kelengkapan surat-suratnya. Jika tidak lengkap, dia minta uang tebusan dengan nilai beragam mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu,”kata Yudhiawan.


“Pernah juga di sebuah warung mengaku anggota Resmob, pinjam ponsel pengunjung. Saat pemilik lengah, tersangka lalu bawa kabur ponsel itu,” sambungnya.



Selain mengaku sebagai polisi, Lutfi juga pernah mencuri di indekos putri, rumah bernyanyi atau tempat karaoke dan rumah sakit. Modusnya antara lain pura-pura jadi sales dan membawa kabur barang incaran saat perawat di rumah sakit tertidur.


“Saat pengembangan, tersangka berusaha melarikan diri dan mencoba lompat dari kendaraan petugas dengan mendorong dan membenturkan kepalanya ke arah wajah anggota kemudian melarikan diri. Tapi anggota mengejar dan berhasil mengamankannya setelah kaki kanannya ditembak lantaran mengabaikan tiga kali tembakan peringatan,” pungkas Kombes Polisi Yudhiawan Wibisono. (*)


loading…




Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/peristiwa/bermodal-rompi-swat-polisi-gadungan-peras-pengendara-di-makassar.html




Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan Anda!

Foto : Ilustrasi popbela.com







ARB INdonesia, LA TAHZAN – Banyak orang bersedih hanya karena hal-hal sepele yang tak berarti. Perhatikanlah orang-orang munafik; betapa rendahnya semangat dan tekad mereka.


Berikut ini adalah perkataan-perkataan mereka:
{Janganlah kamu sekalian berangkat (pergi berperang) di dalam panas terik ini.} (QS. At-Taubah: 81)


{Berilah kami izin (tidak pergi berperang) dan janganlah menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.}  (QS. At-Taubah: 49)


{Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).} (QS. Al-Ahzab: 13)


{Kami takut akan mendapat bencana.} (QS. Al-Ma’idah: 52)


{Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.} (QS. Al-Ahzab: 12)


Sungguh, betapa sempitnya hidung-hidung mereka, betapa sengsaranya jiwa-jiwa mereka. Hidup mereka hanya pada sebatas soal perut, piring, rumah dan istana. Mereka tidak pernah mau menengadahkan pandangan mereka ke angkasa kehidupan yang ideal. Mereka juga tak pernah menatap bintang-bintang keutamaan hidup.


Kecemasan dan pengetahuan mereka hanya pada soal kendaraan, pakaian, sandal dan makanan. Coba perhatikan, betapa banyaknya manusia yang hidupnya dari pagi hingga sore hanya disibukkan oleh kecemasan dan kegelisahan mereka agar tidak dibenci isteri, anak atau kerabat dekatnya, atau agar tidak mendapat celaan, atau mengalami keadaan yang menyedihkan.


Ini semua, pada dasarnya justru merupakan musibah besar bagi manusia-manusia seperti itu. Betapa mereka sama sekali tidak memiliki tujuan-tujuan yang lebih mulia yang seharusnya menyibukkan mereka, dan juga kepentingan-kepentingan agung yang seharusnya menyita seluruh waktu mereka.

Padahal, pepatah mengatakan: “Jika air telah keluar dari bejana, hawa kosong akan datang memenuhinya.” Maka dari itu, bila Anda juga merasa seperti orang-orang tadi, renungkanlah kembali hal-hal yang selama ini telah menyita perhatian dan hidup Anda, atau bahkan membuat Anda resah setiap saat.


Baca juga : Yang Lalu Biar Berlalu


Benarkah semuanya itu pantas memperoleh perhatian dan porsi yang sedemikian besar dalam hidup Anda? Mengapa Anda harus rela mengorbankan pikiran, daging darah, ketentraman dan juga waktu hanya untuk persoalan-persoalan sepele tadi?


Ibarat orang berjual beli, apa yang Anda lakukan itu sebenarnya suatu keculasan dan kerugian besar yang dibayar murah. Para ahli jiwa sering mengatakan, “Buatlah batasan yang rasional (wajar) untuk setiap hall” Dan lebih tepat dari kalimat ini adalah firman Allah, {Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.} (QS. Ath-Thalaq: 3)


Yakni, letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran, bobot dan kadarnya. Janganlah sekali-kali Anda melakukan kezaliman dan melampaui batas. Ibaratnya, bila tujuan utama orang-orang yang berbakti kepada Allah (ketika berada dibawah sebuah pohon) adalah untuk berjual beli, maka mereka akan mendapatkan ridha Allah. Namun, bila salah seorang dari mereka hanya disibukkan dengan urusan untanya saja, hingga ia tak sempat ikut berjual beli, maka yang akan ia peroleh adalah hanya kebinasaan dan kegagalan.


Abaikanlah hal-hal sepele yang tak penting. Jangan sampai Anda hanya disibukkan olehnya dan waktu Anda habis karenanya. Dengan begitu, niscaya Anda kegundahan dan kecemasan akan selalu menjauhi Anda. Dan Anda pun selalu riang ceria.


((Karya  Dr. Aidh al-Qarni))




Beberapa Organisasi Wartawan Inhil Dukung Langkah Infokom

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Beberapa organisasi wartawan berbadan hukum di Kabupaten Indragiri mendukung langkah Dinas Komunikasi dan Informasi (Infokom) untuk menyelesaikan hak perusahaan pers yang menjalin kerjasama advertorial selama ini.


“Kami mendukung dan apresiasi langkah Dinas Komunikasi dan Informasi yang akan menyelesaikan hak perusahaan pers yang belum sempat diselesaikan, beri kesempatan mereka menyelesaikan sesuai aturan yang berlaku, ” ungkap Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Inhil Muridi Susandi, Minggu (19/1/2020).


Diharapkan, semua pihak dapat mendukung langkah-langkah yang dilakukan dalam penyelesaian hal perusahaan pers ini, jangan sampai justru membuat polemik dan kegaduhan yang justru menimbulkan keresahan di kalangan wartawan dan masyarakat.


“Kalau memang sedang dilakukan upaya penyelesaian masalah hak perusahaan pers ini, maka tentu kita semua harus mendukungnya tanpa melakukan tindakan yang justru membuat langkah yang akan dilakukan tidak dapat dijalankan dengan baik,” ujar Deby Chandra Syahriwan, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Indragiri Hilir (FKWI) melalui Sekjen Muhammad Daud.







Pihaknya, merasa selama ini kebijakan yang dilakukan Infokom Inhil dalam menjalin kerjasama kemitraan dengan kalangan wartawan sudah cukup baik, hanya memang perlu dibenahi kedepannya agar berjalan lebih baik lagi.


Sedangkan perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Inhil mendukung langkah Dinas Infokom Inhil untuk menerapkan sistem kerjasama media berbasis online, mulai tahun ini.


“Kami sangat mendukung sistem kerjasama media berbasis online ini, sehingga dalam realisasi nanti dapat berjalan lebih baik,” tegas Muhammad Faisal, SE, perwakilan AJI Inhil.


Sedangkan Maryanto SH dari PWI mengakui, selama ini kemitraan antara wartawan melalui perusahaan pers dan Pemkab Inhil sudah berjalan dengan baik, sehingga segala kegiatan dan program pembangunan pemerintah juga dapat disampaikan dengan cepat kepada publik.



“Pada prinsipnya, kita sepakat untuk bersama-sama bersinergi dalam membangun daerah melalui pemberitaan yang menyejukkan dan mencerdaskan masyarakat, bukan justru menyebarkan berita yang membuat gaduh sehingga menimbulkan pemahaman yang salah di kalangan wartawan dan masyarakat,” pesannya.


Diharapkan, juga setiap stakeholder terkait dapat menyikapi dengan baik setiap informasi dari beberapa pihak yang mengatasnamakan wartawan, karena justru dapat menimbulkan polemik dan kegaduhan di kalangan wartawan.


Karena justru kalau salah menyikapi permasalahan ini justru akan menimbulkan benturan sesama wartawan dan juga berujung terganggunya hak masyarakat untuk mendapatkan akses informasi yang menyejukkan dan mencerdaskan tersebut. (rls)




Ayah dan 3 Anak Jatuh Kesungai saat Melintas di Jembatan Rusak, 1 Diantaranya dalam Pencarian

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR –  Menggunakan Sepeda Motor miliknya, Samul Bahri bersama 3 orang anaknya jatuh kesungai saat melintasi jembatan Sungai Pinggan di Desa gemilang, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) – Riau, Minggu (19/1/2020) Pukul 13.30 Wib.


Tak kunjung mendapat perbaikan, Kondisi jembatan yang mengalami rusak parah tersebut akhirnya memakan korban. Pasalnya satu dari  3 orang anak yang jatuh saat itu, hingga kini belum diketemukan.


Dari penjelasan Warga saat dikonfirmasi menjelaskan, jika peristiwa naas tersebut terjadi sekira pukul 13:00 Wib. 


“Syamsul saat itu berkendara bersama tiga anaknya, sementara sang istri berjalan kaki. Saat lewat dijembatan korban terjatuh ke Sungai karena jembatan sudah tidak memiliki pagar lagi,” jelasnya. 







Saat terjatuh, Syamsul hanya sempat menyelamatkan dua anaknya, sementara satu anaknya lain sempat dipegang namun terlepas.


“Hingga saat ini,  warga desa Sialang Jaya masih berusaha mencari anak korban yang hilang dengan menggunakan pompong menyisiri sungai,” kata Salam. 


Dari pantauan wartawan dilapangan, kondisi jembatan Sungai Pinggan tersebut rusak parah. Kedua sisi jembatan tidak lagi memiliki pagar, kondisi jembatanpun sudah tidak layak pakai. Pasalnya, didua ujung jembatan yang sudah melengkung tersebut diatasnya dikasih jembatan lagi dari papan oleh masyarakat.


Sementara itu,  Kepala Desa Sialang Rusdi turut berduka atas peristiwa tersebut.  “Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan bisa melewati musibah ini dengan baik,” katanya saat dijumpai dilokasi kejadian. 


Dijelaskannya, peristiwa pengendara yang jatuh di jembatan sudah sering terjadi. 


“Namun baru ini memakan korban.  Atas peristiwa ini, saya berharap kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan dan segera membangun jembatan yang layak agar menjamin keselamatan pengendara, ” tambahnya. (*)


Editor Arb




Yang Lalu Biar Berlalu

Foto : masa lalu, ilustrasi klimg.com


ARB INdonesia, LA TAHZAN – Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.


Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak
pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.


Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah
payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu!  Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.







Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.


Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang
yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.


Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang
meratapi masa lalunya demikian: “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak?”


“Aku benci khayalan,” jawab keledai.


Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan
dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan
kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.


Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun
menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan !.


( Karya  Dr. Aidh al- Qarni)