Terus Dipantau, 65 ODP di Inhu Dalam Keadaan Sehat dan Tanpa Gejala Terjangkit Virus Corona

ARB INdonesia.com, INHU – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Elis Julinarti menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap 65 Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang tersebar di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Inhu.


“Alhamdulillah, berdasarkan pemantauan kami, seluruh ODP tersebut dalam keadaan sehat dan tidak menunjukan gejala terjangkit virus corona. Oleh karenanya, masyarakat Inhu tenang dan tidak perlu resah,” ujar Elis Julinarti saat dikonfirmasi, Rabu 25 Maret 2020.


Elis melanjutkan bahwa pemantauan seluruh ODP dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas.


“Pemantauannya rutin, petugas kesehatan kita selalu memantau kondisi kesehatan mereka. Sampai saat ini seluruh ODP beristirahat di rumahnya masing-masing dan tidak ada gejala COVID-19,” ujarnya.


Pemantauan terhadap kesehatan ODP tersebut dilakukan semenjak Sabtu (21/3/2020) dan akan terus berlanjut hingga 10 hari ke depan.


“Kita melakukan pemantauan selama 14 hari dan sudah dilakukan semenjak Sabtu kemarin,” katanya.


Elis juga menyampaikan bahwa pihaknya sudah mendapat bantuan perlengkapan kesehatan berupa masker dan alkohol dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau.


“Sudah kita jemput dan akan kita bagikan kepada petugas kesehatan yang ada di Puskesmas maupun RSUD Indrasari Rengat,” kata Elis.


Terkait alat rapid test dari pemerintah pusat hingga kini masih belum sampai ke Kabupaten Inhu.


Oleh karena itu untuk mendeteksi gejala, Dinkes Inhu melakukan screaning tes.


Dalam pencegahan penyebaran virus COVID-19 di Kabupaten Inhu, Dinkes Inhu juga dibantu Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) wilayah kerja Rengat.


Disamping itu, Dinkes Inhu terus melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh areal publik.


Sumber : riaukarya.com https://riaukarya.com/read/detail/5249/terus-dipantau-65-odp-di-inhu-dalam-keadaan-sehat-dan-tanpa-gejala-terjangkit-virus-corona#.Xnrhs3IHb_0.facebook




Tips Social Distancing Cegah Corona Buat Ibu-Ibu Saat Belanja ke Warung dan Pasar

ARB INdonesia.com – Pemerintah mengambil langkah melakukan social distancing atau pembatasan aktivitas sosial sebagai langkah menekan sebaran virus Corona atau Covid-19. Kebijakan ini diambil setelah temuan kasus virus Corona di Tanah Air terpantau terus meninggal.


Dalam instruksi pemerintah sendiri, social distancing yang dimaksud, menghindari kontak dengan sesama manusia dengan jarak dekat semisal tidak mendatangi tempat keramaian sementara waktu juga tidak bepergian jauh. Namun tak semua lapisan masyarakat memahami dengan jelas makna dari imbauan itu.


Di lapak dagang sayur mayur, pedagang dan pembeli kebingungan dengan model jaga jarak yang harus mereka lakukan. Sebab dalam transaksi jual beli, pastinya melakukan komunikasi.


“Saya tiap hari meladeni orang yang beli, kalau diminta jaga jarak terus artinya saya gak boleh dagang lagi? Atau orang gak boleh belanja lagi,” kata Pak Unang, pedagang sayur di perumahan di Kabupaten Bogor, saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (24/3).


Sebagai pembeli dan orang awam, Epi kebingungan batasan aktivitas di luar rumah yang dimaksud pemerintah.


“Kalau artinya gak boleh belanja di warung juga, keluarga saya makan apa? Mau dibeli diluarkan lebih mahal, emang kita orang beduit,” keluhnya.


Lantas bagaimana sebenarnya sikap jaga jarak yang harus diterapkan saat berada di luar rumah utamanya ketika kita berbelanja pasar atau minimarket?


Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, menegaskan social distancing yang dimaksud pemerintah bukan berarti melarang masyarakat untuk keluar dari rumahnya. Apalagi jika orang tersebut ingin berbelanja untuk keperluan sehari-harinya di rumah.


“Artinya batasi, titiknya dibatasi. Ya memang lebih banyak di rumah, kalau keluar, kalau enggak perlu jangan keluar. Kalau belanja masih bisa, tapi kalau mau ketemu ngobrol sama orang jaraknya dibatasi 1 meter sampai 2 meter,” kata Agus kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (24/3).


Misalnya saat berada di warung, katanya, diharapkan masyarakat tidak berkumpul secara berdekat-dekatan tanpa menjaga jarak. Bila merasa ada hal yang perlu diperbincangkan, tetap patuh pada jarak aman.


“Terus enggak boleh kumpul banyak orang dempet-dempetan gitu. Karena kan transfer penyakit ini lewat mulut, kalau kita hadap-hadapan dekat, nanti transferan dari mulut ke mulut,” ujarnya.


“Ya kalau kita ngobrol jangan berdekatan, jaraknya 1-2 meter, kalau ngobrol boleh tapi jauh jaraknya jauh 1-2 meter kira-kira,” sambungnya.


Agus kembali menegaskan, masyarakat masih diizinkan beraktivitas keluar rumah. Tetapi perlu ditekankan, untuk kebutuhan yang benar-benar penting seperti ke rumah sakit atau memenuhi kebutuhan pangan di rumah dengan berbelanja ke minimarket atau tukang sayur.


Jangan sampai, katanya, karena kebijakan itu masyarakat sampai tak mau keluar padahal butuh mencari bahan makanan. Atau suatu perumahan memberlakukan aturan ojek online dilarang masuk padahal untuk mengantar makanan tetangganya.


“Boleh lewat, tapi kita harus jaga jarak gitu. Kalau mau beli atau apa itu jaga jarak,” ungkapnya.


“Kalau di luar negeri aja bahkan ngambilnya aja pakai tongkat, seperti apa gitu. Kalau ojek online itukah udah diatur juga cara kerja mereka, misalnya si pembeli taruh uang di mana untuk memudahkan diambil, driver juga meletakkan pesanannya di tempat yang ditentukan. Barulah setelah itu diambil,” katanya.


Agus mengingatkan, masyarakat jangan panik berlebihan menyikapi virus corona. Tetapi sikap waspada, antisipasi dan pencegahan tetap harus dilakukan.


“Iya (enggak boleh berlebihan), jaga jarak terutama itu intinya. Jangan sampai kamu menulari atau kamu ketularan dari orang lain. Makanya kalau ngomong juga jangan terlalu dekat, kalau keluar pakai masker, sapu tangan, ditutup mulutnya kalau batuk enggak nyemprot ke mana-mana. Nah itu dijaga, itu intinya,” tegasnya.


Tidak hanya dengan orang luar, lanjut Agus, social distancing sebenarnya bisa diterapkan di lingkungan keluarga. Tujuannya, menjaga kesehatan bersama.


“Kalau saya duduk jauh-jauhan sama itu (anak). Saya kan takut nularin anak saya. Sama keluarga, kalau ada keluarga anak kecil, orangtua itu agak jauh, itu takutnya ketularan. Kita jangan sampai menulari orang atau ketularan orang, itu yang paling penting prinsipnya itu,” ucapnya.


Selain itu, katanya, saat bepergian ke luar rumah harus memakai masker dan menyiapkan hand sanitizer. Kemudian setibanya di rumah, langsung melakukan bersih-bersih agar virus atau bakteri yang menempel hilang.


“Kalau pulang bersihkan diri, mandi, keramas supaya enggak terlalu bahaya. Karena takut ketularan orang lain. Jadi kalau dari luar, saya langsung ganti baju semua, mandi keramas, sabunan, supaya kalau ada sisa-sisa virus atau apa bisa hilang dan langsung dicuci,” jelasnya.


Terpisah, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menilai ada baiknya pemerintah menggunakan bahasa-bahasa yang lebih dipahami masyarakat sebagai langkah antisipasi penyebaran corona di masyarakat. Agar, apa yang diharapkan pemerintah benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat.


Semisal terkait penggunaan istilah social distancing. Dia yakin tidak semua orang memahami makna istilah itu.


“Jadi masyarakat enggak ngerti, itu yang perlunya komunikasi, edukasi dan sosialisasi, supaya masyarakat paham dan maksudnya apa itu, ngerti gitu, jadi ini persoalan di sini aja,” jelas Said Iqbal.


Sumber : Merdeka.com
https://m.merdeka.com/peristiwa/tips-social-distancing-cegah-corona-buat-ibu-ibu-saat-belanja-ke-warung-dan-pasar.html




Cegah Covid-19, Gubri Syamsuar Imbau Umat Islam Tidak Salat Berjemaah di Masjid, Termasuk Salat Jumat

ARB INdonesia.com, PEKANBARU – Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar mengimbau tokoh agama Islam di provinsi Riau agar salat Jumat pekan ini ditiadakan di masjid. Imbauan disampaikan Gubri untuk menghindari keramaian di rumah ibadah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid-19) di provinsi Riau.


“Imbauan saya kalau bisa Jumat ke depan mungkin salat di rumah saja,” kata Syamsuar kepada CAKAPLAH.com usai menggelar pertemuan dengan para tokoh agama, adat dan masyarakat Riau di Gedung Daerah Pekanbaru, Selasa (24/3/2020) malam.


Begitu juga dengan salat lima waktu berjemaah di masjid, diharapkan tidak ada orang yang berjemaah di masjid. Namun azan di masjid tetap dikumandangkan setiap masuk waktu salat.


“Tadi Sekjen MUI Riau menyampaikan sepakat kepada kami, di masjid itu ada orang salat di sana, tapi tidak berjemaah lagi. Yang berjemaah itu paling-paling iman dan bilal. Dan masjid tetap melaksanakan azan,” terangnya.


Tak hanya itu, mantan Bupati Siak juga meminta ceramah di masjid dan musala untuk sementara waktu dihentikan.


“Kemudian ceramah-ceramah yang sudah terjadwal diberbagai masjid dan musalah, kalau bisa diberhentikan dulu,” pintanya.


“Begitu juga ibadah di Gereja, Vihara dan Pura, para tokoh sudah sepakat tidak melibatkan jemaah banyak,” sambungnya.


Gubri menyampaikan tujuan pihaknya mengundang para tokoh agama, baik Islam, Kristen, Hindu dan Budha, serta tokoh adat dan masyarakat, agar mereka bisa membantu pemerintah meningkatkan kesadaran masyarakat. Kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi merebaknya virus Corona ini untuk keselamatan masyatakat itu sendiri.


“Karena tujuan pemerintah membuat semua ini untuk memelihara kesehatan sekaligus menjaga keselamatan masyarakat,” ucapnya.


“Tadi saya sampaikan jangan positif satu Covid-19 di Riau ini dianggap sedikit, karena ada ribuan orang di Riau ODP yang diantaranya datang dari Malaysia. Dan pasien PDP yang dirawat di rumah sakit sebagaian besar memiliki riwayat perjalanan dari Malaysia,” tambahnya.


Menurutnya, jika Orang Dengan Pemantauan (ODP) dan Pasien Dengan Pemeriksaan (PDP) di Riau ini dilakukna rapit test (tes cepat) Covid-19, maka akan ketahuan terinfeksi atau tidak.


“Makanya saya katakan kasus Covid-19 di Riau ini tidak sederhana. Karena itu kami harapkan dukungan dari tokoh agama, masyarakat dan adat agar mereka bisa menyampaikan kepada jemaah dan masyarakat. Karena ini semua dalam dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Corona,” cakapnya.


Sumber : Cakaplah.com
https://www.cakaplah.com/berita/baca/51510/2020/03/25/cegah-covid19-gubri-syamsuar-imbau-umat-islam-tidak-salat-berjemaah-di-masjid-termasuk-salat-jumat/#sthash.9iNN0fn7.dpbs




Pelanggar Jam Malam Terkait Corona

ARB INdonesia.com – Aparat Yordania menahan lebih dari 1.600 orang pelanggar aturan jam malam yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran virus corona.


Seorang petugas keamanan mengatakan kepada AFP bahwa 1.657 orang tersebut ditahan di berbagai penjuru Yordania sejak jam malam diberlakukan pada akhir pekan lalu.


Dengan aturan tersebut, pemerintah memberikan kewenangan bagi tentara untuk menangkap warga yang melanggar jam malam.


Pemerintah mengancam bakal dikarantina selama 14 hari dan dapat dijerat dengan hukuman penjara hingga satu tahun.


Yordania menerapkan aturan jam malam ini karena warga di negara tersebut tak mengindahkan imbauan pemerintah agar tidak meninggalkan rumah kecuali ada keperluan darurat.


Setelah mengeluarkan imbauan tersebut, pemerintah langsung mengirimkan 190 bus yang membawa roti untuk diantarkan langsung ke rumah-rumah warga.


Sementara itu, distributor farmasi dan air juga diberikan izin untuk mengantarkan barang dagangan mereka langsung ke rumah pemesan.


Selain itu, pemerintah Yordania juga melarang semua perjalanan antar-provinsi di negara itu, serta menangguhkan seluruh transportasi publik hingga penerbangan menuju dari dan menuju Amman.


Sumber : Cakaplah.com
https://www.cakaplah.com/berita/baca/51501/2020/03/25/pelanggar-jam-malam-terkait-corona/




THR Terancam Mandek Gara-gara Corona

ARB INdonesia, Jakarta – Pengusaha wajib membayar lagi tunjangan hari raya alias THR. Namun kini dunia usaha sedang terpukul akibat corona (covid-19) merajalela.


Lalu bagaimana nasibnya THR Lebaran nanti? Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Ketenagakerjaan Anton J. Supit mengaku tahun ini kemungkinan pengusaha akan kesulitan membayar THR untuk karyawan. Dia tidak ingin menyimpulkan apakah THR akan ditiadakan, yang jelas dia mengatakan sekarang semua tergantung kekuatan perusahaan masing-masing.


“Memang sangat berat, apa bisa bayar atau tidak kita tidak tahu. Balik lagi ke pengusahanya saja, kita nggak mau satu pihak saja ini usulkan,” kata Anton kepada detikcom, Selasa (24/3/2020).


Dia menyatakan kondisi dunia usaha sangat terpukul dengan virus corona, kinerja perusahaan menurun. Pengusaha pun dilema, di sisi lain THR adalah kewajiban, tapi untuk membayarnya kondisi usaha sedang sulit.


“Kita sebagai gambaran produksi juga menurun, order menurun, ekspor menurun, semua menurun. Ini memang kewajiban tapi kalau dia (perusahaan) nggak ada, bayar gaji aja susah, mau gimana ini kan? Ini kan dilema,” ungkap Anton.


Hal serupa juga diungkapkan Ketua Umum DPD HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) DKI Jakarta Sarman Simanjorang, menurutnya membayar THR di tengah pelemahan ekonomi adalah beban bagi pengusaha.


“Dengan situasi seperti ini pengusaha melihat THR ini suatu beban, di satu sisi ini kan kewajiban keharusan kepada karyawan tiap tahun. Tapi dengan kondisi ini, pemasukan menurun mau tidak mau jadi beban buat pengusaha,” kata Sarman kepada detikcom.


“Pengusaha besar ya mungkin bisa bayar, tapi kan nggak semua besar, nggak semua cashflownya baik, modalnya besar,” ungkapnya.


Sumber : Detik.com
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4952156/thr-terancam-mandek-gara-gara-corona?tag_from=wpm_nhl_7




Sedang Berlangsung, Pasar Rakyat Tembilahan Terbakar

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Sedang berlangsung musibah kebakaran di sekitar Pasar Rakyat Tembilahan di Jalan Jenderal Sudirman,  Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil),  Selasa (24/3/20).


Asap tebal terlihat menyelimuti udara di kawasan lokasi kebakaran  sekitar pukul 11.45 wib, petugas Pemadaman Kebakaran (Damkar) pun dikerahkan.


Pantauan langsung dilokasi,  api diduga berasal dari dalam bangunan pasar rakyat Tembilahan.


Saat ini petugas Damkar dibantu Polres Inhil sedang berupaya mencari sumber titik api yang menimbulkan asap tebal.


Hingga berita ini terbitkan belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. (Arb)