4 Remaja di Bone Dilapor ke Polisi karena Pura-pura Kena Corona

Pihak RSUD Tenriawaru saat berada di Polres Bone melaporkan aksi empat remaja yang pura-pura terinfeksi corona. Foto: iNews/Bulan Sri Indra Maya


ARBindonesia.com, BONE – Petugas medis di RSUD Tenriawaru Kabupaten Bone melaporkan aksi remaja yang diduga berpura-pura terinfeksi virus corona atau COVID-19 ke polisi. Aksi para remaja tersebut dianggap telah meresahkan petugas medis.


Humas RSUD Tenriwaru, Ramly Syam, membenarkan telah membuat laporan ke Polres Bone atas ulah remaja tersebut. Mereka kata Ramly membuat petugas medis panik dengan mengaku tertular virus corona.


“Kami sudah melaporkan ulah empat remaja yang mengaku terkena COVID-19, ternyata tidak. Ini menimbulkan keresahan masyarakat,” kata Ramly kepada iNews di Mapolres Bone, Senin (11/5/2020).


Ramly bercerita, kejadian tersebut bermula ketika seorang remaja mendatangi rumah sakit dan melaporkan soal temannya yang pingsan. Remaja tersebut juga melapor diduga terinfeksi virus corona, sehingga petugas medis segera mengevakuasi korban.


Saat dievakuasi itu kata Ramly, salah seorang petugas mencium aroma alkohol dari remaja yang dievakuasi tersebut.


Kemudian, ketika dilakukan pemeriksaan medis, remaja tersebut tiba-tiba sadar dan langsung pergi meninggalkan RSUD Tenriwaru. Petugas kemudian menyadari kalau mereka hanya dikerjai oleh remaja yang berjumlah empat tersebut.


“Kami tidak tahu mereka prank ke temannya atau ke kami (rumah sakit). Tapi ini sudah meresahkan keluarga pasien, petugas medis dan warga sekitar,” katanya.


Dengan laporan ini, Ramly berharap mereka mendapat pelajaran agar ke depannya tidak lagi membuat aksi yang meresahkan masyarakat.


“Kasihan juga mereka masih muda. Tapi ini semoga menjadi pelajaran,” pungkas dia. (*)


Sumber sindonews.com




Kapan Virus Corona akan Berakhir ?

ARBindonesia.com – Kapan pandemi Covid-19 akan berakhir? dan bagaimana?


Menurut sejarawan, akhir pandemi biasanya dilihat dari dua hal: medis, yang terjadi ketika insiden dan tingkat kematian anjlok, dan sosial, ketika ketakutan mengenai penyakit tersebut berkurang.


“Ketika orang bertanya, ‘Kapan ini akan berakhir?,’ Mereka bertanya tentang akhir sosial,” kata sejarawan kedokteran Universitas John Hopkins, Dr. Jeremy Greene, dilansir dari The New York Times, Senin (11/5).


Dengan kata lain, suatu akhir dapat terjadi bukan karena suatu penyakit telah ditaklukkan tetapi karena orang menjadi bosan dengan kepanikan dan belajar untuk hidup penyakit tersebut.


Menurut sejarawan sejarawan Yale, Naomi Rogers, bahwa satu kemungkinan pandemi virus corona dapat berakhir secara sosial sebelum berakhir secara medis.


Orang-orang mungkin menjadi sangat lelah dengan pembatasan-pembatasan sehingga mereka menyatakan pandemi telah berakhir, bahkan ketika virus terus menyebar di tengah masyarakat dan sebelum vaksin atau pengobatan yang efektif ditemukan.

“Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial kelelahan dan frustrasi,” kata sejarawan Yale, Naomi Rogers.

“Kita mungkin berada di saat ketika orang-orang hanya mengatakan:” Sudah cukup. Saya berhak untuk dapat kembali ke kehidupan normal saya,” katanya lagi.

Hal ini sudah terjadi; di beberapa negara bagian di AS, gubernur mencabut pembatasan, yang memungkinkan salon dan arena kebugaran dibuka kembali, yang bertentangan dengan peringatan pejabat kesehatan masyarakat yang menilai penerapan langkah-langkah tersebut terlalu dini. Ketika bencana ekonomi yang diakibatkan lockdown semakin meningkat, semakin banyak orang mungkin siap untuk mengatakan “cukup.”

“Ada konflik semacam ini sekarang,” kata Dr. Rogers.


Pejabat kesehatan masyarakat memiliki tujuan medis yang nyata, tetapi beberapa anggota masyarakat melihat tujuan sosial.

“Siapa yang bisa mengklaim akhir semua ini?” Kata Rogers.

“Jika Anda menolak gagasan tentang berakhirnya pandemi ini, apa yang Anda lawan balik? Apa yang Anda klaim ketika Anda berkata, ‘Tidak, ini belum berakhir.'”

Tantangannya, kata Dr. Brandt, adalah tidak akan ada kemenangan yang tiba-tiba. Mencoba mendefinisikan akhir epidemi “akan menjadi proses yang panjang dan sulit.”

Satu kemungkinan, kata sejarawan, adalah pandemi virus corona dapat berakhir secara sosial sebelum berakhir secara medis. Orang-orang mungkin menjadi sangat lelah dengan pembatasan-pembatasan sehingga mereka menyatakan pandemi telah berakhir, bahkan ketika virus terus menyebar di tengah masyarakat dan sebelum vaksin atau pengobatan yang efektif ditemukan.

“Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial kelelahan dan frustrasi,” kata sejarawan Yale, Naomi Rogers.

“Kita mungkin berada di saat ketika orang-orang hanya mengatakan:” Sudah cukup. Saya berhak untuk dapat kembali ke kehidupan normal saya.”

Hal ini sudah terjadi di beberapa negara bagian di AS, gubernur mencabut pembatasan, yang memungkinkan salon dan arena kebugaran dibuka kembali, yang bertentangan dengan peringatan pejabat kesehatan masyarakat yang menilai penerapan langkah-langkah tersebut terlalu dini.


Ketika bencana ekonomi yang diakibatkan lockdown semakin meningkat, semakin banyak orang mungkin siap untuk mengatakan “cukup.”

“Ada konflik semacam ini sekarang,” kata Dr. Rogers.


Pejabat kesehatan masyarakat memiliki tujuan medis yang nyata, tetapi beberapa anggota masyarakat melihat tujuan sosial.

“Siapa yang bisa mengklaim akhir semua ini ?. Jika Anda menolak gagasan tentang berakhirnya pandemi ini, apa yang Anda lawan balik? Apa yang Anda klaim ketika Anda berkata, ‘Tidak, ini belum berakhir’,” kata Rogers.

Tantangannya, kata Dr. Brandt, adalah tidak akan ada kemenangan yang tiba-tiba. Mencoba mendefinisikan akhir epidemi “akan menjadi proses yang panjang dan sulit.”


Sumber merdeka.com
Editor Arb




Kendalikan Sabu dari dalam Sel, Polres Inhu Ungkap Mafia Narkoba di Rutan Rengat

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HULU – Kepolisian Resor (Polres) Inhu melalui Satuan Reserse (Satres) Narkoba Polres Inhu berhasil meringkus salah seorang Napi yang mengendalikan peredaran narkoba jenis sabu-sabu dari dalam sel tahanannya.


Napi yang sedang menjalani masa hukuman terkait kasus narkoba yang diketahui berinisial S (42) warga Desa Batu Gajah Kecamatan Pasir Penyu ini diringkus Satres Narkoba Polres Inhu, Minggu 3 Mei 2020 sekitar pukul 02.00 WIB.


Kapolres Inhu, AKBP Efrizal S.IK melalui PS Paur Humas Polres Inhu, Aipda Misran ketika dikonfirmasi membenarkan penangkapan terhadap Napi pengendali narkoba dari dalam Rutan tersebut.


Dikatakan Misran, keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama dan peran aktif Kepala Rutan Rengat, Fauzi Harahap yang ingin lingkungan tempat tugasnya bersih dari segala bentuk tindak pidana.


Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diterima dari masyarakat, jika Rutan Rengat sering dijadikan sebagai pusat peredaran narkoba disebagian wilayah Inhu, bahkan untuk didalam Rutan itu sendiri.


Setelah mendapat informasi tersebut, Kasat Narkoba Polres Inhu, AKP Jalifer L Toruan S.AP  berkoordinasi dengan kepala Rutan sekaligus melakukan penyelidikan.


Ternyata benar, hanya beberapa jam saja melakukan penyelidikan, sekitar pukul 02.00 WIB, polisi berhasil meringkus S dikamar tahanan blok B dengan Barang Bukti (BB) narkoba sebanyak 7 (tujuh) bungkus plastik besar, 5 (lima) bungkus plastik sedang, 95 (sembilan puluh lima) bungkus plastik kecil, 1 (satu) bungkus plastik berisi 37 butir di duga narkotika jenis ekstacy bruto 14 gram, 2 (dua) pak plastik bening, Uang tunai Rp 21.400.000, 2 (dua) unit hp, 2 (dua) unit timbangan elektrik, 1 (satu) dompet warna cream.


Kemudian dilakukan pengembangan, selang beberapa menit kemudian kembali polisi berhasil mengamankan Z (38) yang juga Napi Rutan Rengat, warga Desa Pelangko Kecamatan Kelayang yang sedang menjalani hukuman kasus narkoba.


Selanjutnya, Sabtu 9 Mei 2020 sekitar pukul 14.00 WIB, kembali diamankan seorang Napi Rutan Rengat DD (31) dengan BB 1 (satu) bungkus plastik diduga narkotika jenis sabu bruto 3 gram, kemudian 1 (satu) bungkus plastik diduga narkotika jenis pil ekstacy sebanyak 15 butir bruto 6 gram dan 1 (satu) unit HP merk Vivo yang digunakan tersangka untuk bertransaksi.


“Ketiga tersangka dan BB sudah diamankan di Mapolres Inhu untuk proses selanjutnya,” ucap Misran (**)




Mengejutkan! Wuhan Kembali Diserang Corona

ARBindonesia.com, WUHAN – Kabar mengejutkan terkait virus corona datang dari Wuhan, Tiongkok. Setelah sebulan lebih tanpa kasus baru, kota kelahiran virus corona itu melaporkan temuan lima transmisi lokal pada Minggu (10/5).


Wuhan terakhir kali melaporkan penambahan kasus pada awal April lalu. Sementara terakhir kali ibu kota Provinsi Hubei itu mengumumkan lima tambahan kasus baru adalah pada 11 Maret.


Pemerintah setempat menyatakan bahwa kelima kasus baru itu ditemukan di sebuah kawasan permukiman.
Secara nasional, jumlah kasus baru yang dilaporkan kemarin mencapai 17 kasus. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Tiongkok sejak 28 April.


Data baru ini menunjukkan sulitnya mencegah gelombang kedua infeksi virus corona di tengah upaya menggenjot kembali perekonomian Tiongkok.


Kini, sebagian besar infeksi baru di Negeri Tirai Bambu itu berasal dari luar negeri. Dari total 17 kasus baru yang ditemukan kemarin, sebanyak tujuh di antaranya merupakan impor. (*)


Sumber pojoksatu.id




Polres Kampar Bagikan 150 Nasi Kotak untuk Santapan Sahur Warga yang Terdampak Covid 19

ARBindonesia.com, KAMPAR – Sejumlah Personel Polres Kampar kembali membagikan nasi kotak untuk santapan sahur bagi warga kurang mampu yang terdampak Covid-19, Selasa (12/5/2020) dinihari.


Sebanyak 150 paket nasi kotak yang dibuat di dapur umum oleh anggota Polres Kampar bersama Bhayangkari, dibagikan kepada warga kurang mampu di wilayah Kampung Godang Desa Pulau Lawas Kecamatan Bangkinang.


Pendistribusian nasi kotak untuk masyarakat ini dipimpin Waka Polres Kampar Kompol Ricky Ricardo SIK, didampingi Kabag Ren Kompol Jhon Firdaus AMK, Kasat Sabhara AKP Ikwan Widarmono, Kasatres Narkoba AKP Daren Maysar SH, Kasat Intel Iptu Achri Dwi Yunito SIK serta beberapa Perwira Polres Kampar lainnya, mereka dilepas oleh Kapolres Kampar dari halaman Mapolres.


Selanjutnya Waka Polres beserta Tim langsung berangkat menuju daerah Kampung Godang Desa Pulau Lawas Kecamatan Bangkinang, mengantarkan nasi kotak kerumah-rumah warga kurang mampu di daerah tersebut untuk makan sahur bagi mereka.


Warga masyarakat yang menerima pemberian dari Polres Kampar ini tampak senang, mereka mengucapkan terimakasih kepada Aparat Kepolisian yang telah mendatangi kediaman mereka sembari mengantarkan makanan untuk sahur.


Kapolres Kampar AKBP Mohammad Kholid SIK ketika dijumpai awak media beberapa saat sebelum melepas anggota yang akan mengantarkan makanan ini menyampaikan, bahwa hari ini dapur umum Polres Kampar sengaja menyiapkan makanan untuk buka puasa dan sahur, yang akan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan diseputaran Kota Bangkinang.


“Hal ini dilakukan semata-mata sebagai wujud kepedulian terhadap kesulitan masyarakat ditengah merebaknya wabah Covid-19, semoga hal ini dapat diterima dan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Kapolres.(Hms/Yus)




Wow! Jubir Presiden RI jadi Pemateri di Seminar Online Kovid Psikologi UIN Suska Riau

ARBindonesia.com – Komunitas Virtual dengan Psikologi (Kovid Psikologi) menaja Seminar Online Nasional jilid V. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 8 Mei 2020 itu masih mengusung tema seputar Covid 19.


“Tema yang diangkatkan pada seminar kali ini adalah Meningkatkan Iman, Imun dan Aman dalam Menghadapi Covid 19,” ungkap Cahaya Makbul selaku koordinator acara, Senin (11/5/2020).


Selanjutnya Humas Kovid Psikologi, Mulkismawati menjelaskan bahwa seminar jilid V ini menghadirkan tiga pemateri sekaligus.


“Ketiga pemateri tersebut adalah Dekan Fakultas Psikologi UIN SUSKA Riau Prof.Dr.Khairunnas Rajab,M.Ag, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Riau dr.Zul Asdi,SpB,M.Kes dan Juru Bicara Kepresidenan Republik Indonesia Dr. Ir.H. Fadjroel Rahman,MH,” jelasnya.


Sesuai dengan tema yang diangkat, ketiga pemateri memberikan materi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.


Prof Dr.Khairunnas Rajab sebagai seorang Psikoterapist Islam menerangkan tentang peran iman sebagai sumber terapi spritual dalam menghadapi covid 19.


“Iman dan taqwa adalah sumber kekuatan yang ikut membantu menguatkan imun,” terangnya.


Di sisi lain, sebagai seorang Tenaga Medis, dr. Zul Asdi  menjelaskan bagaimana pentingnya meningkatkan imun di tengah wabah covid 19.


“Menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat adalah kunci menjaga imun,” katanya.


Yang paling ditunggu oleh peserta seminar adalah pemaparan dari bung Fadjroel Rahman sebagai perwakilan pemerintah Indonesia yang menjelaskan tentang kebijakan dan strategi pemerintah Indonesia dalam menghadapi covid 19.


“Presiden melalui Kabinet Indonesia Maju memang memprioritas masalah kesehatan. Dibentuknya Satuan Gugus dari pusat sampai daerah merupakan bentuk nyata kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid 19,” ungkap Fajdroel Rahman.


Hal yang menarik dari seminar online kali ini adalah kehadiran sang jubir yang dengan kepiawaiannya memberikan materi serta karakternya yang semangat dan low profile membuat suasana saat diskusi menjadi lebih hidup.


Para pemateri juga saling sapa dan berinteraksi layaknya bukan dalam pertemuan virtual. Peserta yang membludak membuat panitia berinisiatif menayangkan secara live di youtube channelnya Kovid Psikologi.


Seminar yang dimoderatori oleh Ulfa Rima Ramadanti, mahasiswi magister psikologi UIN SUSKA ini berlangsung selama 2 jam 30 Menit.


“Saya sangat senang mengikuti seminar yang ditaja oleh Kovid Psikologi ini karena materinya kekinian dan pematerinya memang orang-orang yang ahli di bidangnya. Ini bukan kali pertama saya ikut,” ucap Marlen Angela Daek, salah seorang peserta seminar dari Kupang.


Dekan Fakultas Psikologi UIN-SUSKA dan Ka Prodi Magister Psikologi UIN SUSKA Riau memberikan apresiasi kepada tim Kovid Psikologi.


“Kini Kovid Psikologi semakin diminati dan menjadi perhatian publik. Setelah menghadirkan beberapa pakar dan menyelesaikan 5 sesi seminar Nasional online, bahkan dilirik oleh media lain yg ingin ikut terlibat mempublish juga, seperti ARB INdonesia.com. Kami berharap Kovid Psikologi kiranya dapat menjadikan psikologi semakin gemilang. Terima kasih Tim Kovid Psikologi, karena telah mengharumkan nama Fakultas Psikologi,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UIN Suska Riau tersebut.


Beberapa catatan penting dari seminar tersebut adalah perlunya sinerginitas antara kekuatan spritual yang akan berefek pada imunitas seseorang dalam menghadapi wabah covid 19 ini.


Pelaksanaannya secara menyeluruh harus ditopang oleh kebijakan yang cepat dan tepat dari pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam memberikan rasa aman pada seluruh rakyatnya. Kerjasama yang bersinergi antara semua pihak semoga bisa membuat Indonesia segera aman dari Covid 19. (MS).


Editor Arb