FORKI INHIL SIAP SEMBAHKAN PRESTASI TERBAIK

www.detikriau.wordpress.com (Tembilahan) – Guna menghadapi event FORDA VII Riau Tgl 15 – 23 Oktober 2011 mendatang, Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kabupaten Indragiri Hilir ( Kab. Inhil) bertekat memberikan prestasi terbaik. Untuk mencapai hal itu, Forki terus lakukan pematangan kesiapan Fisik dan Tehnik tarung atlit-atlitnya.
“Harus kita akui, sebagai tuan rumah, dari segi mental mungkin atlit kita akan lebih siap karena bertanding di kandang sendiri. Namun tentunya harus kita ingat bahwa lawan tanding yang kita hadapi nantinya adalah atlit-atlit karate terbaik di daerahnya masing-masing. Mereka juga telah digembleng dengan matang. Agar mampu memberikan prestasi terbaik, secara rutin kita terus lakukan pelatihan pada seluruh atlit kita,” Jelas Rudy, salah seorang pelatih saat ditemui disela kegiatan Training Centre (TC) di Taman Kota Jalan Swarna Bumi Tembilahan baru-baru ini.

Saat ini, tambah Rudy, Tim pelatih FORKI terus lakukan pematangan kesiapan Fisik dan Tehnik tarung atlit. Mudah-mudahan, dengan pelatihan rutin dan kesungguhan para atlit, kita akan mampu memberikan prestasi terbaik demi keharuman nama daerah.” Jelasnya.(fsl)




PARI RAKSASA GEGERKAN WARGA TEMBILAHAN

Bobot Diperkirakan Seberat 250 Kg




PPATK HARUS LAPOR 21 TRANSAKSI MENCURIGAKAN BANGGAR KE KPK

www.detikriau.wordpress.com (Jakarta) – Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) melansir 21 transaksi mencurigakan anggota Badan Anggaran DPR. Selain kepada Pimpinan DPR, data itu harus diserahkan juga kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Bukan hanya kepada Pimpinan DPR saja, tapi hasil kajian itu harus juga diserahkan kepada KPK,” kata peneliti korupsi politik ICW, Apung Widadi kepada detikcom, Sabtu (17/9/2011).

Apung menjelaskan, PPATK selama ini hanya membuat tabulasi saja, tanpa ditindaklanjuti. Untuk memprosesnya, PPATK harus juga menyerahkan data itu kepada penegak hukum seperti KPK.

“Itu (Data) harus ditindaklanjuti oleh KPK,” lanjutnya.

Selain itu, persoalan ini bisa menjadi momentum yang baik bagi Badan Kehormatan DPR untuk menunjukan taringnya. Apung melihat, selama ini BK tidak memiliki perannya dalam menegakkan kode etik di DPR.

“BK perlu telusuri hal itu. Ini juga harus bisa dijadikan momentum yang baik untuk menunjukan kualitas BK,” papar Apung.

Apung juga menyoroti kinerja Badan Akuntabilitas Keuangan Negara dalam persoalan ini. Salah satu alat kelengkapan yang bersifat tetap ini tidak pernah terdengar tajinya. Padahal alat kelengkapan ini memiliki kemampuan untuk mencari indikasi temuan PPATK.

Sebelumnya, pimpinan DPR mendapat surat berisi laporan transaksi mencurigakan dari PPATK. Di surat itu tertulis, seorang anggota Badan Anggaran DPR terlacak melakukan 21 transaksi mencurigakan.

Wakil Ketua DPR, Pramono Anung mengapresiasi temuan PPATK itu. Ia berharap KPK terus menelusuri arah transaksi mencurigakan ini.

Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Namun ia menolak mengungkap nama siapa anggota Banggar tersebut.

“Mengenai PPATK itu kami menerima dalam bentuk surat dan sepakat tidak mengungkap siapa orangnya dan transaksinya. Tapi kami mendukung penuh untuk ditelusuri,” jelas Priyo.(mok/mok)




NORMAN KAMARU MUNDUR DARI POLRI

www.detikriau.wordpress.com (JAKARTA) – Mabes Polri bersikap dingin terhadap rencana pengunduran diri Briptu Norman “Chaiya” Kamaru dari Korps Bhayangkara. Besok (Senin 19/09) rencananya orang tua Norman akan menemui Kapolri Jenderal Timur Pradopo. “Saya diajak untuk mendampingi tapi karena ada agenda lain belum bisa janji,” ujar pengacara Farhat Abbas di Jakarta kemarin (17/09).

Farhat selama ini dekat dengan keluarga Briptu Norman Kamaru. Pengacara yang sekarang sedang sibuk mendampingi tersangka kasus korupsi di Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu juga pernah membuatkan Norman lagu dan membantu memproduksinya di dapur rekaman. “Rencana itu sudah keputusan Norman dan keluarganya, kita hormati saja,” kata Farhat.

Keluarga Norman sekarang berada di Bogor setelah terbang dari Gorontalo. Mereka berupaya berdialog dengan Kapolri dan akan menyerahkan surat pengunduran diri resmi dari dinas kepolisian.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengaku belum mendengar rencana Norman atau keluarganya menghadap pimpinan tertingi Polri. “Sebenarnya cukup di tingkat Polda saja, ada mekanisme disana. Tidak semua harus ke Mabes,” katanya.

Mantan Kapolda Jatim itu mempersilahkan Norman menetapkan pilihan jalan hidupnya. “Itu tergantung yang bersangkutan. Yang jelas bagi setiap anggota Polri aktif terikat dengan aturan dank ode etik tanpa pandang bulu,” katanya.

Bukankah dulu pernah ada rencana merekrut Norman sebagai staf di Mabes – “Oh tidak, itu wacana di luar saja. Penempatan personel ka nada prosedurnya yang baku, tidak bisa langsung,” kata Anton.

Briptu Norman Kamaru tenar sejak rekaman lip sync Chaiya Chaiya ala Syahrul Khan di youtube diekspose media pada April 2011 lalu. Setelah tampil di televisi, Norman lantas kebanjiran order. Bulan-bulan pertama Norman di Jakarta didampingi oleh Kasat Brimob Polda Gorontalo AKBP Anang Sumpena dan Kabagpenum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar.

Norman juga sempat diundang bernyanyi di Mabes Polri. Saat itu, Norman duduk satu meja dengan Kadivhumas Polri rjen Anton Bachrul Alam dan menyanyikan Chaiya Chaiya.

Namun, setelah laris order, Norman rupanya sering lupa minta ijin. Pada 8 Juli 2011 dia dijemput tim pengamanan internal (Paminal) Provos Polri saat sedang syuting bersama pesulap Dedy Corbuzier. Rupanya, Norman tidak minta ijin pimpinan. Dia lalu dipulangkan ke Gorontalo dan hanya diberi sanksi teguran .

Tapi, pada 8 September 2011 lalu, Norman kembali bermasalah dengan provos Polri. Saat sedang syuting video klip di Kotamobagu Sulawesi Utara , Norman kembali “diamankan”. Lagi, lagi, tersandung masalah perijinan.

Puncaknya, Jumat 16 September 2011 lalu Norman menyatakan akan mundur sebagai polisi di Gorontalo. Namun, secara resmi, surat permohonannya akan disampaikan langsung ke Mabes Polri.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Police Watch Neta Sanusi Pane menilai Norman ibarat habis manis sepah dibuang. “Dulu digunakan untuk angkat citra Polri, sekarang mau mundur langsung diperbolehkan,” katanya.

Aktivis yang menulis buku “Jangan Bosan Kritik Polisi” itu menilai sikap Norman muncul karena tekanan dari atasan. “Dia juga tidak ingin melanggar janji dengan pihak lain, sementara untuk perijinan dan sebagainya mungkin saja dipersulit,” katanya. (jpnn/rdl)




ANGGARAN DIKNAS MENINGKAT, KOMPETENSI GURU TETAP RENDAH

www.detikriau.wordpress.com (JAKARTA) – Rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) untuk meningkatkan anggaran untuk gaji dan tunjangan guru, ternyata tidak diikuti dengan peningkatan kompetensi guru. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya kompetensi dan profesionalisme guru yang mengajar di berbagai daerah di Indonesia

Anggota Komisi X DPR RI, Raihan Iskandar, mengungkapkan, berdasarkan data Kemdiknas ternyata dari 2,7 juta guru, sebanyak 1,35 juta atau 50 persen adalah lulusan D2 atau D3. Menurutnya, ketidakprofesionalan para guru juga terlihat dari kemampuan menganalisis dan berkreativitas dalam mengajar yang masih rendah. “Program sertifikasi yang selama ini berjalan pun akhirnya tidak signifikan untuk meningkatkan profesionalisme guru,” ungkap Raihan di Jakarta, Jumat (16/9).

Padahal, lanjut Raihan, alokasi anggaran untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru dan dosen dalam APBN 2011 dipatok paling besar, yaitu sekitar Rp 19,9 triliun atau 29,5 persen dari total anggaran Kemdiknas tahun 2011 yang mencapai Rp 67,38 triliun. Bahkan, rencananya, anggaran untuk pos ini akan ditingkatkan menjadi Rp 22,20 triliun atau sekitar 38,60 persen dari total anggaran yang diusulkan oleh Kemdiknas sebesar Rp 57,81 triliun.

“Seharusnya, alokasi anggaran yang besar ini secara nyata terwujud dengan meningkatnya kualitas guru, baik secara akademik maupun profesionalismenya. Jika anggaran yang besar ini tidak berkorelasi secara positif terhadap peningkatan kualitas guru, maka output atau peserta didik yang dihasilkannya pun akan rendah,” ujarnya.

Politikus dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga mengatakan bahwa saat ini masih banyaknya kekerasan di internal sekolah maupun antarsekolah serta rendahnya daya saing siswa adalah output dari rendahnya kompetensi dan profesionalisme guru. Ketidakprofesionalan guru terlihat dari masih banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar bidang studinya. Misalnya, banyak guru bidang sosial yang merangkap menjadi guru matematika.

Raihan lantas mengutip UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang pada Pasal 7 menyebutkan bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. “UU ini pun memberikan tenggat waktu sampai tahun 2015 bahwa pada akhir tahun 2015, semua guru harus memenuhi kualifikasi akademik minimal D4/S1,” tukasnya.

Ditambahkannya, kegiatan sertifikasi yang tujuannya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru ternyata tak banyak pengaruhnya dan hanya dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan tunjangan profesi, dengan cara mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya.

“Mereka hanya berperan sebagai seorang pengajar yang mentransfer materi pelajaran dan menempatkan siswa sebagai obyek eksploitasi dengan beban-beban pelajaran yang amat berat. Seharusnya, peningkatan profesionalisme guru harus terlihat dari cara mereka menempatkan dirinya sebagai pendidik yang memiliki karakter dan berakhlak mulia, serta memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional,” tuturnya. (Cha/jpnn)




DAGELAN WAKIL RAKYAT

(Tembilahan) – DPRD Inhil kali ini kembali memainkan dagelan politik. Tarik ulur kepentingan rakyat ditangan para wakil ini, Kok semakin hari malah semakin menjadi dagelan yang tidak lucu. Hari ini ribut, esoknya sudah kembali akur. Hari ini tidak setuju, esok, kok, eeh. Dagelan yang dipertontonkan kali ini menyangkut usulan ranperda Venues lapangan futsal senilai Rp. 73 Milyar.
Dalam penyampaian Paripurna yang digelar bertepatan bulan suci ramadhan beberapa waktu lalu, dengan mantap dan suara berapi-api, hampir seluruh fraksi memberikan syarat yang patut diacungi jempol untuk tidak melanjutkan pembahasan ranperda ini sampai adanya kejelasan sharing budget dana.
Katanya, semua ini demi kepentingan rakyat agar Inhil mendapat fasilitas lapangan futsal ber-klas Nasional dengan pengorbanan biaya dari uang rakyat yang seminimal mungkin. Istilahnya, ya akal-akalan lah, ambil dana APBD Provinsi juga Pusat dan yang menikmati keuntungan masyarakat Inhil. Wuih…mantap bro.
Semua peserta paripurna saat itu terkesima. Hati rasa bersorak gembira ternyata para wakil rakyat masih kekeh dalam ikrar sumpah dan janji amanah. Bagaimana tidak, gebrakan ini menunjukkan bahwa wakil kita cukup berhati-hati untuk tidak mengulangi bayangan tiga proyek multiyears (Islamic Centre, Kampus baru Unisi dan High Way Bandara Tempuling Mandah) yang membuat masyarakat ngeri, Dewan merasa dibohongi dan sebahagian wakil rakyat juga mengamini kalau proyek “wah” ini ditenggarai akan menguras kantong APBD Inhil.
Eh…eh, ternyata rasa kebanggaan itu hanya dalam hitungan bulan kok makin terasa pupus. Wakil rakyat yang dulunya lantang, kini telah menjadi lemah. Yang dulunya garang, kok kini tersenyum? Yang dulunya berbicara dengan mata berapi-api kini lembut, selembut bulan purnama. Entahlah……….

Penulis: Muhammad Faisal, SE.,Akt
Pemimpinan Redaksi : indragirinews.com dan detikriau.wordpress.com