PERBAIKAN JALAN PENGHUBUNG SUNGAI LUAR- SUNGAI PIRING DILAKUKAN BERTAHAP.

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Jalan penghubung antara sungai luar menuju sungai piring yang mengalami rusak parah, dipastikan akan segera diperbaiki. Namun, karena kecilnya anggaran yang di gulirkan kesana, perbaikan akan dilakukan secara bertahap.
“Jalan penghubung antara sungai luar menuju sungai piring memang tahun ini akan kita perbaiki bahkan sekarangpun sudah dikerjakan. Namun karena minimnya dana untuk perbaikan tersebut kita belum bisa memperbaikinya secara keseluruhan.”Sebut Kadis PU. M.Nasir.
Menurut Nasir, untuk memastikan agar jalan tersebut benar-benar padat maka penimbunan akan dilakukan sebanyak dua kali pengerjaan. Pertama akan dilakukan penimbunan dengan sirtu dan yang kedua akan ditimbun dengan material. setelah benar-benar padat baru dapat lakukan pengaspalan.
“Beratnya medan yang akan kita perbaiki serta minimnya dana, untuk tahun ini kita baru bisa lakukan penimbunan jalan dengan sirtu kurang lebih sepanjang 5 km. Jadi perbaikan jalan penghubung antara sungai luar menuju sungai piring tersebut merupakan program kita untuk jangka panjang,” katanya baru-baru ini di Tembilahan. (Wawan)




Ahmad Yani “Pemkab Harus Tentukan Lokasi Pembangunan Jembatan”

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Permasalahan perbedaan keinginan dari masyarakat dua dusun di desa Sungai Empat tentang lokasi, mengakibatkan tertundanya proses pembangunan jembatan yang telah mulai dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum yg direncanakan akan dibangun di sungai simpun.
Perbedaan dikarenakan masyarakat dusun kampung baru menginginkan jembatan tersebut dibangun di dusun mereka, tapi jika dilihat dari segi teknis, keinginan mereka tidak mungkin dilakukan karena untuk pengerjaan pembangunan jembatan, diperlukan areal bebas dengan radius 50 meter. Kalau ini tetap dilakukan, tentunya pemukiman warga dalam radius tersebut dengan terpaksa juga harus dirubuhkan.
“Dalam hal ini, pihak pemerintah desa meminta kepada pemerintah kabupaten untuk segera mengambil keputusan pasti lokasi pembangunan jembatan tersebut. Dari dua kali kita pertemukan masyarakat dari dusun sungai simpun dan dusun kampung baru, tidak juga ditemukan kesepakatan,” kata Ahmad Yani, Kades desa sungai empat.
Jika lokasi pembangunan jembatan tersebut sudah ditentukan oleh Pemkab maka kita yakin masyarakat akan menerimanya, sebab hanya disungai simpun terdapat lokasi yang baik dan tidak mengganggu masyarakat.
Jika lokasi pembuatan jembatan tersebut terletak di dusun kampung baru maka banyak rumah pendudu yang terpaksa dipindahkan guna meletakkan alat-alat berat untuk pembuatan jembatan tersebut. “Ada tiga titik yang diinginkan masyarakat dalam pembangunan jembatan tersebut, jika pembangunan jembatan kita lakukan didusun kampung baru maka rumah-rumah masyarakat yang terletak dalam radius 50 meter terpaksa kita pindahkan, siapa yang akan mengganti kerugian yang mereka terima,” katanya.
lokasi kedua adalah dipasar, jika pembangunan tersebut dilakukan, tentunya akan mengganggu arus transportasi dan perekonomian masyarakat karena di lokasi terdapat kantin dan dermaga.
“Selain itu kita juga telah mempunyai program kerjasama antara pemerintah desa dengan CV untuk membangun kantin di pasar tersebut. Dari ketiga titik hanya disungai simpun yang paling memungkinkan karena tidak mengganggu apapun dan tidak merugikan masyarakat” kata Ahmad Yani.
Dengan perbedaan yang terjadi antara masyarakat dusun kampung baru dan dusun sungai simpun ini kita harapkan agar Pemkab khusunya Dinas PU selaku instansi terkait untuk segera mengambil keputusan. kita yakin jika pemerintah sudah menetapkan lokasi tersebut tidak akan terjadi konflik dimasyarakat, imbuhnya. (Wawan)




RALAT BERITA

Mohon maaf atas terjadinya kesalahan penulisan judul berita yang tertulis;
“PON VII RIAU, INHIL IMPORT 40 PERSEN ATLIT”.
Seharusnya, “PORDA VII RIAU, INHIL IMPORT 40 PERSEN ATLIT”

Berita sudah di ralat.

TTD, Pemimpin Redaksi.




PSU WALIKOTA PEKANBARU TUNGGU KOMITMEN DPRD

Paling Cepat April 2012 Mendatang

www.detikriau.wordpress.com (PEKANBARU) – Pemungutan Suara Ulang Walikota Pekanbaru paling cepat dilaksanakan April 2012 mendatang. Saat ini, meskipun dana belum tersedia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pekanbaru terus lakukan persiapan.

“Sebagai pihak penyelenggara, KPU Pekanbaru terus lakukan persiapan. Namun tentunya belum secara keseluruhan karena ketiadaan biaya,” Ungkap T. Rafizal kepada Wartawan usai hearing dengan Komisi A DPRD Riau belum lama ini.
Dijelaskan Rafizal, untuk melakukan penghematan biaya, KPU akan melakukan pengurangan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kepastian pelaksanaan paling cepat April 2012 tentunya juga tergantung komitmen pihak DPRD untuk menganggarkan biayanya.”Jika APBD Kota Pekanbaru bisa disahkan januari 2012 mendatang, tentunya dibulan Aprilnya, paling cepat, kita sudah bisa laksanakan PSU,” Pungkas Rizal.(drc)




PORDA VII RIAU, INHIL IMPORT 40 PERSEN ATLIT

www.detikriau.wordpress.com (Tembilahan) – Menghadapi pelaksanaan event Porda VII Riau, kontingen Inhil lakukan perekrutan 40 persen Atlit dari luar. Atlit hasil mutasi ini akan memperkuat Inhil pada 60 persen cabor yang nantinya akan dipertandingkan.
“Ya, sekitar 40 persen dari total 352 Atlit kita adalah hasil mutasi. Atlit-atlit ini akan kita ikutkan pada 60 persen cabor yang nantinya akan dipertandingakan,” Ungkap Ketua Kontingen Inhil, H.Syamsurizal Awi  kepada wartawan baru-baru ini di Tembilahan.
Ketika ditanyakan apakah hal ini diperbolehkan, Syamsurizal mengatakan bahwa perekrutan ini mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh KONI.
“Saat ini persiapan kita telah rampung. Beberapa cabor sedang laksanakan Training Centre (TC). TC secara bersamaan akan kita laksanakan pada tanggal 20 September esok. Namun lima orang atlit kita dari cabang Atlit saat ini melaksanakan TC di Pekanbaru karena kelima atlit ini nantinya juga akan memperkuat kontingen Riau di ajang PON XVIII 2012 mendatang,”
Dari data Entry By Number yang diterima di sekretriat Porda VII Riau, terdata keseluruhan kontingen sbb; Kabupaten Bengkalis dengan 348 atlit, Siak Sri Indrapura sebanyak 344 atlit, Dumai 276 atlit, Meranti 202 atlit, Rohul 196 atlit, Rohil 28 atlit, Pelalawan 235 atlit, Kuantan Singingi 249 atlit, Indragiri Hilir 352 atlit, Indragiri Hulu 332 atlit, Kampar 251 atlit, dan Kota Madya Pekanbaru 327 atlit, sehingga total keseluruhan sebanyak 3.140 orang atlit. (fsl)




Dokter Puskesmas Kerintang, Inhil Sering Bepergian

Masyarakat Keritang, Inhil mengeluhkan pelayanan Puskesmas setempat. Dokternya sering tidak berada di tempat. Padahal masyarakat yang sakit perlu perawatan.

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN)-Keluarga pasien kecewa dan mengeluhkan pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Keritang. Disaat pasien memerlukan pertolongan, justru dokternya pergi keluar kota.

Ungkapan kekecewaan ini disampaikan Muammar Armain, anak dari pasien bernama Hj Maimunah (60), warga Kotabaru Siberida, Keritang, ia mengaku ortunya tersebut tidak mendapatkan pelayanan memadai dari dokter yang ada, bahkan terkesan ditelantarkan.

“Kami kecewa dan menyesalkan pelayanan dari dokter yang bertugas di Puskesmas Keritang, di saat orangtua saya memerlukan penanganan darinya, justru ia meninggalkan tempat,” ungkap Muammar kepada riauterkini.com, Ahad (18/9/11).

Lanjutnya, pada Sabtu (17/9/11) malam, ortunya dibawa keluarga ke Puskesmas karena mengeluhkan sakit perut. Saat sampai di Puskesmas dan pihak keluarga minta dirawat, ternyata dokter Dwi Gunawan justru berangkat ke Pekanbaru.

“Karena keluarga merasa tidak mendapatkan penanganan dan pelayanan maksimal, maka terpaksa orangtua saya itu dibawa pulang saja,” kesalnya.

Berdasarkan keterangan warga setempat, memang selama ini terkesan pihak Puskesmas tidak memberikan pelayanan yang baik kepada warga yang akan berobat.

Seperti kejadian yang menimpa seorang warga Desa Kotabaru Reteh, Kecamatan Keritang bernama Majid (50), yang dibawa keluarganya berobat ke Puskesmas tersebut beberapa waktu lalu dengan menggunakan Jamkesda, karena ia tidak mampu.

Saat itu dr Dwi Gunawan tidak menerima pasien berobat dengan menggunakan Jamkesda, alasannya pelayanan dengan Jamkesda tidak berlaku lagi.

Pada saat itu pasien yang dirawat beberapa hari di Pukesmas tersebut harus membayar biaya obat-obatan sebesar Rp 500 ribu. Ternyata, setelah tak lama keluar dari Puskesmas pasien tersebut meninggal dunia.

Kepala Puskesmas Keritang, dr Dwi Gunawan ketika dikonfirmasi mengenai permasalahan terlantarnya pasien yang tidak mendapatkan penanganan dan pelayanan dengan baik membantahnya, menurutnya ia lagi tugas belajar keluar daerah.

“Kita bukan tidak memberikan pelayanan, pasien dirawat kok oleh perawat yang ada, malahan sempat diinfus. Kita pergi untuk kuliah dan mendapatkan izin,” sebut pria yang juga Kepala UPTD Kesehatan Kecamatan Keritang tersebut.

Imbuhnya, pasien dibawa pulang oleh pihak keluarganya atas kemauan sendiri, yang jelas pihaknya telah memberikan penanganan dan pelayanan.***(mar)