Infrastruktur di Pedesaan Minim, Biaya Pendidikan Melonjak

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Perbaikan infrastruktur yang selama ini menjadi program prioritas Pemkab Inhil, sepertinya hanya sebatas retorika belaka. Kenyataannya infrastruktur, terutama di pedasaan masih sangat minim, hingga berimbas pada terhambatnya berbagai aktivitas warga masyarakat.

Infrastruktur yang minim, ternyata juga berimbas pada dunia pendidikan. Dikarenakan keterbatasan infrastruktur yang ada membuat orang tua harus mengeluarkan biaya tambahan setiap bulannya hanya karena persoalan transportasi.

Orang tua yang ada di pelosok dan tinggal di parit Desa Rambain Kecamatan Mendah mengeluhkan besarnya biaya transportasi air yang harus mereka keluarkan dalam setiap bulan untuk kepentingan sekolah putera puteri mereka harus menyisihkan tidak kurang Rp 250 ribu dalam setiap bulannya.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pemuka masyarakat setempat Mukhtar Thaib kepada detikriau.org melalui HP, Kondisi itu dinilainya sangat sangat memberatkan orang tua. Padahal keinginan orang tua maupun anak-anak dalam menuntut ilmu sangatlah besar. sayangnya minimnya sarana penghubung menjadi kendala utama yang harus dihadapi masyarakat setempat.

Ditambahkannnya, kenapa warga menggunakan transportasi air, disebabkan tidak adanya akses jalan yang bisa ditempuh ke Desa Rambaian dari parit dimana mereka tinggal. Kalaupun terkadang ada, permasalahan lainnya terletak pada tidak adanya jembatan penghubung. Akibatnya mau tidak mau, meski dengan dana yang jauh lebih besar, mereka terpaksa menggunakan jasa transportasi air.

Untuk itu menurutnya, warga kawasan tersebut sangat berharap kepada Pemkab Inhil untuk dapat mencarikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Diantaranya mungkin dengan memberikan bantuan alat transportasi, atapun dengan jalan membangun akses jalan dan jembatan yang dibutuhkan.

“Kita sangat berharap kepada Pemkab Inhil dapat mencarikan solusi atas permasalahan yang kita hadapi.  Sebab animo anak-anak dalam menuntut ilmu sangat besar, tentunya sangat disayangkan kalau hanya persoalan tersebut menghambat keinginan mereka,” katanya.

Lebih jauh dijelaskannnya, jumlah anak sekolah yang menuntut ilmu ke Desa Rambaian sangat banyak, sebab hanya di desa tersebut ada berdiri sekolah Ibtidaiyah, Tsanawiyah. Selain itu di Desa tersebut juga ada SMA, meski siswa SMA masih menumpang proses belajar mengajar di gedung Tsanawiyah, karena tidak memiliki gedung sendiri.

Sementara itu Hariansyah, anggota DPRD Inhil dari Dapil tersebut yang kebetulan baru selesai melakukan reses membenarkan persoalan tersebut. Menurutnya keinginan warga tersebut ia nilai sangat wajar. Hal itu tentunya tidak terlepas dalam upaya peningkatan SDM di kawasan tersebut.

“Bagaimanapun juga kemajuan suatu daerah tentunya sangat bergantung dengan kualitas SDM yang dimiliki. Warga disana sudah berupaya untuk berubah tapi tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai, dan itu tentunya bisa menghambat kemajuan daerah,” katanya.

Untuk itu ia berharap kepada Pemkab Inhil pada tahun ini harus bisa mencarikan solusi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Untuk jangka pendek mungkin dengan memberikan bantuan alat transportasi air. Sedangkan jangka panjang, tentunya harus membangun akses jalan demi memudahkan arus orang dan jasa. (Nejad)




Air Sering tidak Ada di kamar Mandi, Pelayanan RSUD Puri Husada Tembilahan Makin Mengecewakan

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Kualitas pelayanan RSUD Puri Husada Tembilahan terus mendapat sorotan dari warga. Rumah sakit yang meskinya menjadi kebanggaan warga “Negeri Seribu Jembatan” tersebut, ternyata memiliki pelayanan yang sangat buruk. Salah satunya adalah, pasokan air yang sering macet, hingga membuat pasien dan keluarga yang menjaga kesulitan untuk mandi dan dan bersih-bersih selepas dari buang air.

Seperti yang diungkapkan oleh Surti Warga Desa Pulau Palas Kecamatan Tembilahan Hulu baru-baru ini. Terus terang ia sangat kecewa dengan kondisi pelayanan yang diberikan. Salah satunya adalah, pasokan air yang tidak ada di kamar mandi ruangan tempat keluarganya dirawat inap.

“Tidak adanya pasokan air dikamar mandi, membuat kita sangat kesulitan. Yang namanya orang sakit, terkadang mau ke kamar kecil untuk buang hajat. Tapi karena air tidak ada, terkadang terpaksa harus mencari kesana kemari terlebih dahulu, barulah dapat,” ujarnya dengan nada kecewa.

Tidak adanya air juga membuat keluarga pasien merasa kecewa. Sebab ada keluarga yang menunggu pasien ingin melaksanakan shalat jadi terkendala karena tidak bisa berwudhu. Padahal tidak semuanya pasien yang kondisi baik dan bisa ditinggalkan ke mushalla untuk melaksanakan ibadah shalat.
Selain itu berbagai fasilitas lainnya yang ada di rumah sakit terutama untuk kelas II dan III ternyata sudah banyak mengalami kerusakan, seperti kipas angin. Untuk sekedar mengusir udara panas dan pengab  keluarga pasien terpaksa membawa kipas angin dari rumah.

“Kipasangin juga tidak hidup bang, saya terpaksa membawa kipas angin dari rumah. Sebab kalau sudah siang seperti ini hawa di rumah sakit ini cukup panas,” kata Anto warga Tembilahan dalam kesempatan berbeda.

Selain itu kebersihan rumah sakit juga dipertanyakan. Terlihat di salah satu ruangan kelas dua di bagian perawatan penyakit dalam, ada kasur yang yang kondisinya begitu kotor dan bercak darah yang masih menempel seperti tidak pernah dibersihkan. Kondisinya itu tentunya, sangat kontras dengan rumah sakit yang meskinya mengedepankan kebersihan.

Hal lain yang tampak, keluarga pasien yang terpaksa makan disembarang tempat, karena tidak adanya ruangan khusus yang bisa digunakan untuk pasien yang menunggu keluarga. Meskinya untuk Rumah Sakit sperti RSUD Puri Husada, permasalahan seperti itu juga harus dipikirkan. Agar keberadaan rumah sakit yang asri terlihat hingga mempercepat kesembuhan orang yang dirawat.

“Terus terang kita merasa sangat pihatin dengan kondisi pelayanan yang ada. Lihat saja ada orang yang makan disembarang tempat seperti itu, meskinya rumah sakit memikirkan untuk menyediakan sebuah tempat khusus yang bisa digunakan keluarga pasien untuk makan, terutama untuk pasien kelas II dan III,” kata salah seorang anggota dewan yang kebetulan sedang berada di RSUD. (Nejad)




DISIBUKKAN PORDA VII, PEMKAB TERLAMBAT SERAHKAN KUA PPAS

Ketua Komisi III DPRD Inhil, Edy Gunawan,SE

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Inhil, Edy Gunawan,SE mengatakan bahwa pembahasan KUA PPAS  kabupaten inhil 2012 mencatat record paling terlambat. Keterlambatan ini disebutnya kembali disebabkan oleh tidak dipatuhinya batasan akhir penyampaian KUA PPAS oleh Pemkab Indragiri Hilir.

“Sesuai aturan, KUA PPAS paling lambat akhir desember tahun sebelumnya sudah diserahkan oleh pemkab ke DPRD, tapi tahun ini mereka kembali terlambat dan baru menyerahkan pada bulan januari 2012. Kondisi ini tentunya membuat pembahasan kita kembali molor dan tahun ini juga menurut saya kita mendapat predikat paling terlambat,” Ujar Asun, panggilan akrab Ketua Komisi III DPRD Inhil ini ketika ditemui di gedung DPRD Inhil, Selasa (14/2).

Dijelaskan Asun, keterlambatan penyerahan KUA PPAS ini menurut pemkab inhil dikarenakan kesibukan Kab. Inhil dalam penyelenggaraan PORDA ke VII tahun 2011 yang lalu.”menurut kita dengan alasan ini, okelah bisa kita maklumi karena berbagai kesibukan kita sebagai tuan rumah. Namun yang perlu menjadi catatan, tahun 2012 ini kita juga menjadi tuan rumah salah satu cabang PON, kita berharap ini tidak lagi dipergunakan sebagai alasan untuk keterlambatan tahun mendatang. Dengan adanya keterlambatan ini, mungkin saja DAU kita akan dikurangi, jadi harus pandai menyampaikan alibi atas keterlambatan ini.”Ujar Asun mengingatkan. (fsl)




Banggar DPRD Inhil Sampaikan Hasil Rapat Pembahasan KUA dan PPAS

APBD Inhil 2012 Kembali Mengalami Defisit.

Wakil Ketua DPRD Inhil, Dani M Nursalam, S.Pi

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Dalam penyampaian hasil  rapat paripurna  Badan Anggaran (Banggar) DPRD Inhil tentang pembahasan   Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Plafon Perhitungan Anggaran Sementara (PPAS), senin malam (13/2) tercantum besaran APBD Inhil untuk tahun anggaran 2012 lebih kurang sebesar Rp. 1,268 Triliyun sementara belanja daerah Rp. 1,39 Triliyun.  Difisit anggaran kurang lebih  sebesar Rp. 128,3 milyar ini menurut Dewan ditutupi dengan menggunakan dana Silva.

“memang kita masih mengalami defisit, tapi kekurangan itu kita tutupi dengan dana silva yang untuk tahun ini kurang lebih sebesar Rp. 196 Milyar.”Ungkap Wakil Ketua DPRD Inhil, Dani M. Nursalam.S.Pi didampingi dua orang anggota DPRD Inhil, Edy Gunawan dan Irwandi ketika ditemui di gedung DPRD Inhil, rabu (14/2).

Menurut  penjelasan Dani M. Nursalam yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Tanfizs Partai Kebangkitan Bangsa ini, lebih kurang Rp. 670 Milyar APBD Inhil sudah terserap untuk pembiayaan pemerintahan seperti gaji pegawai, perjalan dinas dan sebagainya.

Untuk belanja langsung, SKPD yang paling besar diusulkan mendapatkan bagian APBD adalah Dinas PU, perkiraan sebesar 30an persen dari total belanja langsung. Didalamnya juga termasuk untuk pembiayaan tiga paket multiyears sebesar Rp. 110 Milyar. Sedangkan untuk pembangunan venues futsal, untuk tahun anggaran 2012 ini Inhil kembali menggelontorkan dana sebesar Rp. 6 Milyar.

“Namun untuk porsi belanja langsung dan tidak langsung ini masih belum rampung karena masih ada beberapa item yang masih harus disesuaikan,seperti permohonan masayarakat untuk belanja hibah. Tentunya perlu kejelasan apakah belanja hibah ini berbentuk barang atau uang. Kalau berbentuk uang tentunya masuk pada APBD. Beberapa item ini sampai saat ini masih diinpentarisir oleh SKPD.”Jelas Dani panggilan akrab Wakil Ketua DPRD Inhil yang dikenal cukup enerjik ini.

Dari total Rp. 1,268 Triliyun, Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2012 sebesar 49,6 milyar, dana perimbangan Rp. 1,145,800 juta dan pendapatan lain-lain sebesar lebih kurang Rp, 72 Milyar.”PAD Inhil 2011 ditargetkan sebesar Rp. 44 Milyar dan mampu dicapai sebesar Rp. 46 milyar lebih. beberapa sumber PAD yang menduduki porsi besar diantaranya adalah pajak penerangan jalan, pajak perusahaan dan penerimaan retribusi ijin HO.”Pungkas Dani.

Dengan adanya keterlambatan ini, agar pekerjaan proyek tidak kembali molor, Dewan berharap satker dapat mempercepat proses lelang. “Agar berbagai kegiatan tahun 2012 ini tidak kembali terbengkalai karena keterlambatan waktu, salah satu alternatifnya kita berharap kepada satker terkait untuk mempercepat proses lelang.” Ungkap anggota DPRD Inhil, Edy Gunawan menyambung.(fsl).




Frustasi, Seorang Guru Nekat Gantung Diri

gambar ilustrasi

TEMBILAHAN (www.detikriau.org)– Diduga akibat frustasi karena mendengar kabar mantan suaminya hendak menikah lagi, sehingga seorang Guru Iftidaiyah Kecamatan Mandah harus mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dipintu dapur dengan menggunakan seutas tali, akibat aksi nekatnya korban langsung tewas di TKP.

Berdasarkan keterangan Kapolres Indragiri Hilir AKBP Dedi Rahman Dayan SIK.M.si melalui Kapolsek Guntung Kateman Kompol Sugeng Hariyanto SH kepada Pekanbaru MX Senin (14/02) menuturkan, perbuatan nekat yang dilakukan oleh korban terjadi di Jalan Pendidikan Parit 6 RT.1 Kelurahan Tagaraja pada Minggu (13/02) sekitar pukul 12.30 WIB

Dikatakan oleh Kapolsek Kateman Kompol Sugeng Hariyanto SH bahwa kronologi kejadian bunuh diri sesuai dengan cerita mantan suaminya yakni Adnan (34) juga seorang Guru SD di Sungai Guntung, pada hari Sabtu (11/02) korban Meli Restina (32) datang kerumah mantan suaminya di TKP sekitar pukul 16.00 WIB

Dalam pertemuan antara mantan suami istri tersebut, Adnan bercerita kepada korban (mantan istrinya) sebaiknya tidak usah datang lagi kerumahnya, karena dirinya sudah mempunyai tunangan dengan seorang perempuan yang berasal dari Kecamatan Teluk Pinang

Setelah menceritakan maksud dan tujuannya, lalu mantan sang suami langsung meninggalkan korban dirumahnya hingga pukul 24.00 WIB, karena sudah larut malam sehingga korban tertidur didalam kamar rumahnya

Barulah pada pagi harinya Minggu (12/2) sekitar pukul 09.00 WIB, korban berpamitan dan minta tolong sebelum balik kerumahnya di Padang Bolak Kecamatan Mandah, untuk terlebih dahulu diantarkan ke Pelabuhan Pasar Ikan Sungai Guntung oleh mantan suaminya. Dan akhirnya sang mantanpun menuruti permintaan korban

Kemudian sesudah sampai di Pelabuhan Pasar Ikan, korban turun sedangkan Adnan langsung meninggalkan korban menuju Pasar Ikan. Namun beberapa jam kemudian ada perasaan gundah pada diri Adnan terkait dengan mantan istrinya tersebut, sehingga sekitar pukul 11.00 WIB, Adnan kembali menuju ke Pelabuhan Pasar Ikan dengan maksud untuk memastikan keberadaan korban apakah sudah kembali ke Mandah, tapi pada saat itu korban sudah tidak ada lagi di pelabuhan

Namun takdir mengatakan lain, sebab saat mantan suaminya kembali pulang kerumahnya, Ia sudah melihat mantan istrinya sudah dalam keadaan lemas dan tidak bernyawa dengan cara gantung diri, persis dipintu dapur dengan menggunakan seutas tali.

Melihat aksi perbuatan nekat korban,  mantan suami langsung menurunkan korban sambil lalu minta pertolongan ke tetangga  dan melaporkan kejadian itu kepada Polsek Kateman. Beberapa menit kemudian setelah ada laporan dari masyarakat petugas Polsek Kateman langsung mendatangi TKP

“Karena korban sudah tidak bernyawa lalu kita langsung membawa korban ke Rumah Sakit Raja Musa Sungai Guntung, untuk divisum” ujar Kapolsek Sungai Kateman Kompol Sugeng Heriyanto SH

Dari hasil visum pada bagian leher korban mengalami luka lecet dan membiru akibat jeratan tali, yang menyebabkan korban meninggal dunia, dan pada diri korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan

“Diduga korban berbuta nekat karena kecewa setelah mendengar kabar bahwa suaminya hendak bertunangan, sedangkan korban sudah diserahkan kepihak keluarganya untuk dikebumikan sebagaimana mestinya” pungkasnya.(mx)   




Ulah Oknum Dokter RSUD Puri Husada Tembilahan Mengecewakan

Berikan Pelayanan Setengah Hati Bagi Masyarakat Kecil.

Masyarakat rela antri berjam-jam untuk mendapatkan perobatan di RSUD Puri Husada. Sayangnya, pelayanan yang diterima sangat mengecewakan.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) — Kinerja beberapa oknum dokter spesialis di RSUD Puri Husada Tembilahan sungguh sangat mengecewakan warga. Pelayanan yang mereka berikan terkadang membuat masyarakat berang. Bagaimana tidak, kebanyakan pasien yang datang berobat ke RSUD dari golongan ekonomi menengah kebawah tetapi sang dokter seenaknya merujuk pasien berobat ke Rumah Sakit swasta yang jelas biayanya selangit.

Seperti yang dialami Faisal salah seorang warga jalan Batang Tuaka, Kelurahan Tembilahan Kota saat membawa istrinya yang kebetulan sedang sakit ke Bagian Penyakit Dalam. Ia harus menelan kekecewan yang sangat besar. Mulai dari menunggu yang hampir memakan waktu selama 2 jam lebih, ternyata ketika diperiksa oleh dokternya hanya dalam hitungan menit, itupun hanya dipegang bagian perut. Padahal yang bersangkutan ingin diminta untuk dilakukan USG, tapi jawaban dari dokternya sangat mengecewakan. “Alat USG kita hasilnya tidak baik, kalau memang ingin juga, saya tunggu nanti sore di RS Indragiri. Disana peralatannya bagus” kata Faisal menirukan ucapan dokter berinisial H kepada istrinya ketika bertemu www.detikriau.org, Senin, (13/2).

Kata Faisal lagi, saat selesai diperiksa, istrinya sama sekali tidak diberikan obat ataupun resep oleh dokter yang bersangkutan, padahal dengan pelayanan yang sangat mengecewakan seperti itu ia masih harus membayar biaya jasa konsultasi ke RS Puri Husada Tembilahan sebesar Rp 31.500. Ia menilai kondisi itu tentunya semakin memberatkan warga yang kebetulan masuk dalam kategori masyarakat kurang mampu.

“Uang sebesar itu tentu sagat besar artinya bagi masyarakat kecil. Karena tidak mampu masyarakat kecil datang ke RSUD dengan harapan tentunya bisa menghemat biaya. Seharusnya, berikan mereka pelayanan yang sebaik-baiknya secara professional. Yang lebih mengecewakan lagi, rumah sakit yang setiap tahunnya menghabiskan dana milyaran ini kok peralatannya dikatakan si dokter tidak bagus? Ataukah memang seperti ini pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu? Pelayanan dan peralatan seadanya. Belum lagi muka masam yang dipertontonkan kebanyakan tenaga medis yang membuat kita harus banyak mengurut dada. ”Kecam Faisal.

Tugas tenaga medis menurut faisal lagi memang untuk melayani orang sakit. Mereka sudah makan dari uang rakyat. Jangan malah besar kepala dan merasa diatas angin karena dibutuhkan. Kalau memang tidak sanggup memegang sumpah dan janji lebih baik berhenti.

Hal senada juga pernah dialami warga lainnya yang tidak mau namanya disebutkan saat akan melakukan operasi anaknya. salah seorang dokter bedah yang ada di RSUD Puri Husada Tembilahan tanpa alasan jelas langsung mengarahkan untuk dilakukan operasi di RS Indragiri.

“Terus terang kita sangat kecewa dengan ulah segelintir oknum tenaga medis yang ada disana. Kita ke RSUD Puri Husada ingin berobat dengan biaya yang masih terjangkau, tapi seharusnya juga tetap mengedepankan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata warga tersebut.

Sementara itu Indra Gunawan Ketua LSM Gemilang Serumpun menuding para dokter yang bertugas di RSUD Puri Husada Tembilahan sudah menyalahi kode etik yang ada. Bagaimana tidak, sudah jelas mereka saat itu sedang bertugas di RSUD, tapi mereka mempromosikan RS Indragiri. Padahal untuk pasien yang melakukan konsultasi mampu ditangani di RSUD.

“Sangat tidak pantas apa yang dilakukan oleh tenaga medis seperti itu. Mereka saat itu sedang tugas untuk RSUD Puri Husada Tembilahan. Jadi kalau memang pasien yang berobat bisa ditangani, lakukan segera langkah medis kepada pasien, kenapa harus disuruh ke RS Indragiri segala,” ujar aktivis yang terkenal lantang tersebut.

Lain cerita kalau mereka sedang praktek dan  tidak di dalam jam dinas seperti itu. Tapi itupun meski di sampaikan terlebih dahulu kepada pasien apakah ingin di rawat di RSUD atau RS Indragiri. Karena pada kenyataannya dokter yang menangani di RSUD dan RS Indragiri, dokternya ya itu-itu juga.

“Sebagai tenaga dokter, mereka sudah terikat dengan sumpah. Jangan hanya mengedepankan sisi komersial tanpa memikirkan nasib masyarakat yang sedang dalam kesusahan seperti itu,” tukas Indra.

Sementara itu Dirut RSUD Puri Husada Tembilahan dr Iriyanto SPD ketika dikonfirmasi terkait dengan pernyataan dokter H, Senin, (13/2),  mengatakan, bahwa saat ini alat untuk USG di RSUD PH kondisi baik  dan bisa dipergunakan.

“Kalau dibandingkan dengan alat USG yang ada di RS Indragiri punya kita memang masih kalah, tapi kondisinya masih sangat bagus. Tentunya masih bisa digunakan untuk mendiaknosa penyakit,” jawabnya. (Suf)