Bupati: Jika Membangun Bisa disulap Maka Saya Akan Sulap Biar Cepat Terlaksana
Tembilahan (www.detikriau.org) – Jika saya bisa menjadi pesulap, maka pembangunan di Inhil akan saya sulap agar bisa cepat selesai. Perkataan ini dilontarkan Bupati Inhil, H Indra Muchlis Adnan menggapi kritikan segelintir orang yang mengultimatum bahwa pembangunan di Inhil berjalan lamban.
Dikatakan Bupati, membangun itu tidaklah semudah membalik telapak tangan karena banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi. Apalagi melakukan pembangunan bukan hanya sesaat tetapi diperlukan waktu yang berkelanjutan. Tidak boleh dilakukan tambal sulam karena kurang matangnya perencanaan.
“Kalaulah membangun itu bisa saya sulap, maka saya akan sulap agar cepat terlaksana. Namun membangun tentunya bukan bisa disulap tetapi harus realistis. Banyak hal yang harus dilalui dan dihadapi agar tujuan pembangunan dapat berhasil dilaksanakan dan sesuai dengan harapan,” Kata Bupati
Membangunan infrastruktur banyak hal yang saling berkaitan. Pelaksana pembangunan, musim dan kondisi geografis memegang peran yang cukup penting. Kadangkala pembangunan yang sudah direncanakan dengan matang dapat terhambat disebabkan hambatan alam seperti cuaca ataupun pelaksana yang tidak konsisten.
Disamping berbagai hambatan tersebut, keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu kendala. Seluruh ruas jalan di kabupaten Inhil sudah direncanakan peningkatannya. Hanya saja karena keterbatasan anggaran makanya harus dilakukan secara bertahap.
Contohnya kata Bupati, peningkatan kualitas jalan penghubung kawasan Inhil bagian selatan, setiap waktu selalu dianggarkan namun karena keterbatasan anggaran tentunya tidak bisa dilakukan sekaligus karena kawasan di Inhil lainnya juga membutuhkan dana untuk melakukan pembangunan.
“Pembangunan selayaknya harus terus berlanjut. Tidak perduli siapapun pemimpin penerusnya. Tidak boleh bongkar pasang karena tidak akan efektif,”Tegas Bupati.(dro)
Duda Bejat, Bocah 9 Tahun pun digagahi
Enok (www.detikriau.org) – Entah setan mana yang sudah merasuki tubuh Junaidi alias Sodi (42) seorang duda asal Kampung Tengah Desa Pengalihan Enok Kecamatan Enok. Pasalnya pada Ahad (8/9) yang lalu, ia tega melakukan tindakan tidak senonoh, layaknya suami istri terhadap korban SA yang masih berusia 9 tahun dan duduk dibangku kelas III SD.
Kronologi, perbuatan biadab yang dilakukan pelaku yang juga tetangga dekat korban berawal pada saat itu korban SA sedang bermain dengan teman mainnya di kebun kelapa tidak jauh dari rumahnya, sekitar pukul 10.00 Wib.
Ketika kedua bocah itu sedang asyik bermain, tiba-tiba pelaku melintas di TKP dan langsung menghampiri korban. Kemudian untuk mewujudkan rencana busuknya, teman korban disuruh pergi meninggalkan TKP untuk mengambil jambu, sehingga hanya tinggal berdua antara korban dengan pelaku.
Pelaku mengeluarkan sejuta jurus mautnya untuk merayu agar korban tertipu daya untuk melayani nafsu birahinya. Akhirnya korbanpun terlena lalu dibawa ke sebuah gubuk yang ada di kebun kelapa dan sepi, tidak ada warga yang melintas.
Singkat cerita, di gubuk kecil beratap daun alang-alang itulah bocah bau kencur yang baru berumur 9 tahun ini digagahi dan dipaksa untuk berhubungan layaknya suami istri. Bahkan ironisnya setelah dicabuli korban diancam akan dibunuh jika berani menceritakan perbuatan bejat ini kepada orang lain.
Tabir hitam hilangnya mahkota korban, baru terkuak setelah ibu kandung korban merasa curiga melihat perilaku anaknya. Kalau sedang berjalan, ia seperti menahan sakit. Bahkan kecurigaan Ibu korban semakin penasaran, setelah menemukan celana dalam korban juga terdapat lendir yang mengental.
Namun saat ditanyai, korban tidak mau mengaku diduga akibat takut dengan ancaman pelaku.
Barulah setelah dipaksa, korban mengaku kemudian menceritakan semua yang sudah dialami. Mendengar pengakuan korban, Ibu kandung korban bagaikan tersambar geledek, seketika bergegas untuk melapor ke Polsek Enok atas perlakuan biadap pelaku.
“Saya berharap, pelaku dihukum seberat-beratnya bila perlu dihukum mati. Karena Ia sudah tega menghancurkan buah hatiku masih dibawah umur,”Pinta Ibu kandung korban sambil menangis dihadapan petugas Polisi.
Kapolres Indragiri Hilir AKBP Dedi Rahman Dayan SIK.M.si melalui Kapolsek Enok AKP Suhariyono menjelaskan begitu mendapat laporan pengaduan dari orang tua korban, beberapa anggota langsung meluncur ke TKP, untuk mengamankan pelaku sesuai dengan identitas yang diberikan pelapor.
Memang naas nasib pelaku, sebab sebelum petugas Polsek Enok sampai di TKP. Ternyata ditengah jalan berjumpa dengan pelaku sedang melintas, tanpa perlawanan akhirnya pelaku langsung diringkus dan dibawa ke Mapolsek Enok, untuk dimintai keterangan atas perbuatan yang sudah dilakukan.
“Saat dimintai keterangan, pelaku juga mengakui telah melakukan perbuatan pencabulan terhadap korban, akibat lama berstatus duda sehingga tidak pernah bertemu lagi dengan istrinya,”ujar Kapolsek Enok. (dro/tok)
Indra Ajak mahasiswa Untuk Sama-Sama Besarkan UNISI
Indra Saat memberikan penjelasan dihadapan puluhan massa demontrans
Tembilahan (www.detikriau.org) –H Indra Muchlis Adnan, mengajak seluruh Mahasiswa untuk bersama-sama membesarkan UNISI. Jika ada persoalan, ia meminta untuk disampaikan melalui Presiden Mahasiswa agar dapat dicarikan jalan penyelesaian terbaik.
Permintaan ini disampaikan Indra Muchlis Adnan dihadapan puluhan Mahasiswa yang menggelar aksi demontrasi mejelang pelantikan rektor baru UNISI, Dr Ririn handayani, senin (16/9). Dalam kesempatan itu, Indra juga dengan tegas memberikan apresiasi atas aksi kalangan Mahasiswa ini. Ia juga menyebut tidak ingin melihat mahasiswa melempem dan bungkam. pengawasan dan kritikan terhadap berbagai kebijakan kampus yang ditujukan untuk melakukan perbaikan adalah sebuah tindakan yang baik.
“Saya juga lama berkecimpung sebagai aktifis kampus. Protes dan penyampian pendapat itu juga diperlukan agar terciptanya pengawasan yang baik. Hanya saja saya menyarankan agar berbagai persoalan itu tidak mesti disalurkan melalui aksi demontrasi tetapi salah satunya bisa disampaikan melalu Presiden Mahasiswa agar bisa dirembukkan dan dicarikan jalan penyelesaian terbaik,” Ujar Indra dihadapan massa demontrans.
UNISI bukan dibiayai oleh Pemerintah Daerah. bahkan gedung yang ada saat ini hanya bersifat pinjaman. Semua pembiayaan didanai sendiri oleh UNISI.
Dikatakannnya, sejak awal berdiri, pembangunan UNISI semata ditujukan untuk memudahkan seluruh masyarakat Inhil mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Masyarakat Inhil tidak perlu lagi harus menyekolah anak-anak mereka keluar daerah. Jika tidak dibantu dan dijaga bersama, bukan mustahil kampus yang sudah memiliki ribuan mahasiswa akan terhambat dan pada akhirnya tutup. Untuk membiaya pendidikan, UNISI memerlukan biaya yang tidak sedikit termasuk biaya gaji tenaga dosen tidak didapatkan secara gratis. Dinilai Indra, pembebanan biaya bagi mahasiswa UNISI saat ini masih jauh lebih murah dibandingkan Universitas lainnya.
Terkait kebijakan menunjuk seorang rektor kata Indra ada aturan dan syarat yang mesti dipenuhi. Salah satunya, minimal haruslah seorang bertitel doktor dan itupun bukan doktor lulusan baru namun harus sudah memiliki pengalaman yang mencukupi.
Sebelum menetapkan pilihan kepada Dr Ririn handayani sebagai rektor UNISI menggantikan Prof Sopian Hamim, Indra menyebut sudah berusaha menawarkan kesempatan ini kepada beberapa orang yang memiliki kompetensi dan memenuhi persyaratan yang diharuskan. Namun tidak ada satupun yang bersedia karena imbalan gaji yang diberikan relatif kecil dibandingkan dengan menjadi rektor di Universitas lain.
Ia meminta agar kalangan Mahasiswa memberikan kesempatan bagi Dr Ririn untuk memberikan karyanya dalam rangka membangun UNISI.
“Kalau memang anda-anda mahasiswa tidak ingin bekerjasama membesarkan kampus ini, anda tandatangani pernyataan dan kalau perlu, besok kampus ini kita bubarkan,” Ancam Indra.
Terkait tuntutan mahasiswa mengenai terhambatnya pemberian beasiswa, menurut Indra, urusan beasiswa bukan kebijakan UNISI. Pihak UNISI hanya sebagai penerima bantuan Beasiswa yang disalurkan oleh Pemkab Inhil.
Beasiswa didanai melalui Program Beasiswa Abdi oleh Pemkab Inhil. hanya saja ada kesalahan pengurusan sehingga menjadi temuan BPK. Namun tahun ini sudah selesai dan kembali bisa dicairkan. “Kesalahan juga dari kalangan mahasiswa. Ada yang sengaja berbohong, mengambil tapi tidak kuliah dan akhirnya jadi temuan BPK. Makanya pencairannya sempat terhambat,” Terang Indra sambil kembali menegaskan bahwa UNISI hanya sebatas penerima bantuan.
Persoalan baju KKN mahasiswa yang juga sempat diprotes kalangan demonstrans diakui Indra memang ada masalah. Oleh sebab itu juga perlu adanya pembenahan dan evaluasi kembali.
Diakhir katanya, Indra juga meminta mahasiswa terus mengawasi jalannya kampus UNISI agar dapat terus besar dan berkembang. Jika memang menemukan adanya tindakan melawan hukum, Indra meminta kalau perlu langsung disampaikan kepihak aparat hukum. Tapi harus ada bukti jelas bukan hanya sekedar bisa menuduh.
“Saya tidak ingin ada koruptor di kampus ini. Ini kampus perjuangan bagi seluruh masyarakat Inhil. harusnya kita jaga secara bersama-sama agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi generasi penerus negri ini,” Pungkas Indra.
Usai mendengarkan penjelas Indra, puluhan massa demontrans mengaku cukup puas. Menurut mereka, unjuk rasa yang mereka laksanakan sebagai bentuk tidak adanya penjelasan yang disampaikan secara gampalng terkait berbagai hal yang mereka tuntut.
Dalam orasinya, beberapa tuntutan yang disampaikan massa demonstran diantaranya penolakan pelantikan Dr Ririn Handayani sebagai rektor UNISI. Menuntut kejelasan penyaluran bantuan Beasiswa. Kemudian keluhan tingginya uang pembayaran biaya semester serta ketidakjelasan baju seragam KKN mahasiswa. (dro)
Pelaksanaan Ris PNPM Desa Rantau Panjang dinilai langgar Aturan
Rantau panjang, Enok (www.detikriau.org) – Masyarakat Desa Rantau panjang Kecamatan Enok menilai pelaksanaan program RIS PNPM di desa mereka tidak dijalankan sesuai aturan. Penunjukkan lokasi semata hanya dilakukan oleh kepala desa tanpa melibatkan pihak terkait serta berbagai penyimpangan aturan lainnya.
Pernyataan ini disampaikan oleh seorang tokoh muda Desa Rantau panjang, Dahlan di Tembilahan, senin (16/9). Dikatakannya, penentuan lokasi perbaikan ruas jalan di sungai tiung sama sekali tidak mengakomodir kepentingan masyarakat banyak. Seharusnya, pembangunan jalan dilaksanakan di jalan poros antara sungai tiung dan sungai intan.
“Kita menilai penentuan lokasi ini semata atas kebijakan kepala desa dan kami duga, secara pribadi, Kades ada meraup keuntungan dibalik semua kebijakan itu.” Ujar Dahlan.
Sesuai aturan, ditambahkan Dahlan, Sekretaris Desa harusnya dilibatkan karena ia termasuk dalam tim yang menjadi pihak penilai program kegiatan pembangunan apa yang paling dibutuhkan oleh Desa. Tetapi berdasarkan komfirmasi yang ia lakukan, Sekdes mengaku tidak mengetahui.
Dalam kesempatan itu, Dahlan juga sempat melontarkan kalimat bahwa Kades Rantau panjang, Zulkifli tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin. Apalagi selama dua tahun masa kepemimpinannya, Kades jarang berada di Desa apalagi memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. “ Kades kami nilai juga pembohong. Dulu waktu ia berkampanye agar dipilih sebagai kades, ia pernah menjanjikan untuk membangun jembatan desa jika kelak terpilih. Sekarang sudah 2 tahun. Janji itu hanya isapan jempol. Bahkan dalam waktu dekat ini masyarakat berencana akan melaksanakan aksi demo untuk menuntut janji kades,” Sampaikan Dahlan.
Sekretaris Desa (Sekdes) Rantau panjang, Fadli ketika dikomfirmasi, tidak menampik apa yang disampaikan Dahlan. Sebagai Sekdes, Fadli membenarkan bahwa ia tidak pernah dilibatkan dalam segala hal terkait pelaksanaan program RIS PNPM di desanya.
“saya tidak pernah mengetahui karena memang tidak pernah dilibatkan.” Ujar Fadli, senin (16/9)
Untuk pelaksanaan program RIS PNPM, menurut Fadli, sebagai aparatur pemerintahan desa, ia memang diberikan pelatihan khusus untuk itu. Sekdes menurutnya termasuk dalam tim perencanaan dan integrasi. Salah satunya apa yang disebut sebagai Survey Kampung Sendiri (SKS) yang dimaksudkan untuk menentukan program pembangunan apa yang menjadi skala prioritas untuk kepentingan masyarakat Desa. Fadli sekali menegaskan untuk penetuan lokasi pembangunan di sungai tiung sama sekali diluar pengetahuan dirinya sebagai Sekdes.
“Kades termasuk OMS seharusnya hanya berperan sebagai pemantau pelaksanaan program PNPM bukan malah turun secara langsung sebagai pelaksana pekerjaan seperti yang terjadi saat ini,” Sampaikan Fadli.
Fadli juga mengakui pernah mendapatkan informasi bahwa Camat Enok pernah menyarankan agar Kades, BPD, LPM dan Sekdes untuk duduk bersama merembukkan persoalan ini. Tapi hingga saat ini tidak pernah diindahkan Kades.
“yang juga kita sesalkan, pihak konsultan pendamping tidak pernah hadir secara langsung ke lokasi. Saya pernah bertanya, menurutnya, warga rantau panjang susah diatur. Saya sendiri tidak paham apa yang dimaksudnya,” Pungkas Sekdes.
Terkait semua tudingan ini, Kepala Desa Rantau Panjang Kecamatan Enok, Zulkifli ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya dengan suara sedikit gagap membantah semua tudingan. Menurut kades, penentuan lokasi pembangunan proyek bukan kebijakan dirinya secara pribadi tetapi berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat Desa.
“Kita sudah pernah melakukan rapat di sungai piyai terkait penentuan lokasi ini. Saat itu ketua BPD juga hadir. Bahkan kalau saat pelaksanaan itu hari tidak hujan, camat juga pasti hadir. Semua sesuai aturan. Tidak benar untuk kebijakan itu semata saya yang tentukan,” Bantah Zulkifli melalui sambungan selularnya dan mengakui bahwa ia saat ini sedang berada di Tembilahan.
Bahkan dalam kesempatan itu, Kades juga menyebutkan bahwa untuk penentuan lokasi, ia sudah mendapatkan persetujuan dari konsultan pendamping termasuk Camat Enok. Camat menurut Kades mengatakan agar penentuan lokasi disesuaikan saja.
Terkait tudingan bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pemimpin menurutnya itu hanya pendapat segelintir orang yang tidak puas dengan dirinya. Janji untuk membangun jembatan disebutkannya sudah ia usulkan kepada Pemerintah Kabupaten tapi memang belum terealisasi.” Saya sudah usahakan tapi memang belum bisa terpenuhi. Jadi mau diapakan lagi?” Elak Kades. (dro)
Pasca Kebakaran, Sementara Lokasi Kebakaran Pujasera dipagari Seng
TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Pasca terjadinya kebakaran di kawasan Pujasera pada Ahad (15/9) kemarin. Pemkab Inhil melalui Dinas Perdagangan belum bisa memastikan untuk merelokasi atau melakukan pembangunan kembali.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Perdangan H.Rudiansyah Senin (16/9). Dikatakannya, untuk sementara lokasi Pujasera yang terbakar tersebut, ditutup dengan pagar seng sambil menunggu langkah selanjutnya perintah dari Bupati.
“Sementara lokasi yang terbakar kita tutup dengan pagar seng. Kedepan apakah akan kita bangun lagi atau di relokasi kita juga belum tahu, pokonya tergantung dari pernyataan pimpinan,” ujar H.Rudiansyah.
Terpisah, Kapolres Indragiri Hilir AKBP Dedi Rahman Dayan SIK.M.si melalui Kasat Reskrim AKP Ade Zamrah mengatakan untuk mengetahui penyebab terjadinya kebakaran di lokasi Pujasera, di lakukan olah TKP bersama Tim Lafbor dari Medan.
“Untuk mencari tahu penyebab kebakaran, kita segera melakukan olah TKP di lokasi kebakaran bersama Tim Lafbor. Setelah mendapatkan hasilnya barulah bisa memastikan penyebabnya,”ujar AKP.Ade Zamrah SIK. (dro/tok)
Suami Tewas Terpanggang, Istri Menyusul, Anak Semata Wayang Masih Kritis
TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Setelah suami tewas terpanggang api dalam kebakaran yang terjadi di Jalan baharuddin Jusuf, Parit 8 Kecamatan Tembilahan Hulu, Kamis (12/9) yang lalu Istri korban-pun akhirnya menyusul. Sementara anak semata wayang masih dalam keadaan kritis dan dalam perawatan di ruang perawatan bedah RSUD PH Tembilahan.
Istri Zainudin (40), Siti Hadijah (30), meninggal dunia pada Sabtu (14/9) saat dalam perawatan intensif di ruang bedah RSUD Puri Husada Tembilahan, akibat mengalami luka bakar pada sekujur tubuhnya.
Direktur RSUD Puri Husada dr.Iriyanto, saat dihubungi via ponselnya membenarkan atas meninggal Hadijah akibat luka bakar sekitar 75 persen sekujur tubuhnya.
“Kita sudah berusaha untuk merawat secara intensif, namun akibat luka bakarnya cukup serius, Akhirnya nyawa korban tidak bisa di selamatkan. Anaknya saat ini masih dalam perawatan intensif ”ujar dr.Iriyanto.
Peristiwa kebakaran yang dialami keluarga pekerja bengkel kendaraan hingga suami dan istri penghuninya ini menyisakan duka yang mendalam. Terutama bagi tetangga terdekat serta tokoh masyarakat yang tinggal disekitar rumah korban.
“Terus terang saya sangat prihatin atas musibah kebakaran yang dialami korban. Apalagi keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang cukup ramah dan disenangi warga” ujar Jumiardi Ali (29) tetangga dekat korban.
Sementara itu, Kapolres Indragiri Hilir AKBP Dedi Rahman Dayan SIK.M.si melalui Kasat Reskrim menyatakan penyebab kebakaran hingga hari ini masih dalam penyidikan dan menunggu hasil identifikasi Tim Lafbor. (dro/tok)