Kabupaten Rohul Pertahankan Peringkat Juara Umum pada MTQ Ke XXXIII Provinsi Riau

Sekdaprov Riau Zaini Ismail didampingi Bupati Inhi, HM Wardan dan Ketua LPTQ Riau saat menyerahkan Piala tropy pememang  MTQ Riau 2014 kepada peraih juara Umum
Sekdaprov Riau Zaini Ismail didampingi Bupati Inhi, HM Wardan dan Ketua LPTQ Riau saat menyerahkan Piala tropy pememang MTQ Riau 2014 kepada peraih juara Umum

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) memposisikan diri sebagai peserta terbaik dengan merebut juara umum dengan nilai 48 pada pelaksanaan MTQ ke XXXIII Tingkat Provinsi Riau yang berlangsung di kota Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir sejak tanggal 13 – 18 Desember 2014. Dengan kemenangan ini, Rohul kembali berhasil mempertahankan gelar juara umum yang juga diraihnya pada MTQ XXXII tahun 2013 silam.

Berdasarkan Surat Keputusan bernomor 001/mtq/33/r/12/2014 yang disampaikan seiring dengan pelaksanaan acara penutupan MTQ, Kamis (18/12/2014) malam, duduk diposisi kedua adalah Kab Kepulauan Meranti dengan nilai 40 dan juara ketiga direbut Kab Rokan Hilir dengan nilai 39. Sedangkan tuan rumah, Kab Inhil hanya mampu merebut posisi ke 7,.

Secara berurut, peringkat ke 4 kota Pekanbaru, 5 kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), 6 Kabupaten Pelalawan, j 7 kabupaten Inhil, 8 kabupaten Siak, 9 kabupaten Kampar, 10 kabupaten Bengkalis, 11 kabupaten Kuansing, dan penutup diperingkat ke 12 adalah Kota Dumai.

Penutupan MTQ Riau 2014 ini langsung ditutup oleh Sekretaris Daerah Provinsi Riau Zaini Ismail yang dihadiri Bupati dan Wali Kota se Provinsi Riau, ketua LPTQ Riau Surya A Jamrah serta pejabat lainnya dan masyarakat.(mirwan)




Ketua K3S Inhil Kunjungi dan Berikan Bantuan di Dua Panti Asuhan

Penyerahan bantuan kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Tembilahan. Foto, Humas Pemkab Inhil
Penyerahan bantuan kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Tembilahan. Foto, Humas Pemkab Inhil

Tembilahan (detikriau.org) – Ketua Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Indragiri Hilir, Hj Zulaikah Wardan berpesan kepada anak-anak Panti asuhan untuk dapat mewujudkan cita-cita dengan cara terus rajin dan tekun belajar sejak usia dini.

Permintaan ini disampaikan langsung olehnya dalam kunjungan di dua panti asuhan, Ibnu salafi jalan Gerilya Kecamatan tembilahan Hulu dan panti Asuhan Muhammadiyah Jalan pendidikan kecamatan Tembilahan, rabu (17/12/2014). Istri Bupati Inhil juga meminta kepada anak-anak panti untuk membentuk prilaku yang disiplin, kuat, mandiri dan pantang menyerah.

“K3S Inhil pastinya ingin selalu saling berbagi dan bersilaturrahmi dengan anak-anak yang ada di panti asuhan termasuk dengan seluruh pengurus panti,” Ujar Ikha panggilan akrab ketua K3S Inhil ini.

Dalam kesempatan kunjungan yang juga didampingi oleh kadis Sosial Inhil dan Ketua Dharma Wanita persatuan Inhil Hj Hariati Alimuddin beserta rombongan lainnya ini juga dilakukan penyerahan bantuan sembako dan bantuan 15 kita suci Al-Qur’an untuk kegiatan program Maghrib Mengaji kepada panti asuhan muhammadiyah Tembilahan.

Ikha berharap semoga apa yang diberikan ini dapat bermanfaat, lebih lanjut ia menyampaikan bahwa pemberian sembako ini merupakan salah satu program K3S Kab Inhil. (dro/adv pemkab inhil)




Stand MTQ Kab Bengkalis dihibahkanke Pemkab Inhil

Stand Kabupaten Bengkalis copyTEMBILAHAN (detikriau.org) – Stand Kabupaten Bengkalis pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXIII tingkat Provinsi Riau tahun 2014 di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) resmi dihibahkan kepada Pemkab Inhil.

Penyerahan ini ditanda-tangani secara resmi oleh kedua pihak, Pemkab Bengkalis dengan Pemkab Inhil oleh Kasubag Penyimpanan Materi Promosi BPMP2T Kabupaten Bengkalis Asmaliali dan diterima pihak kedua yang ditanda tangani Asisten II Setda Kabupaten Inhil, H Fauzan Hamid.

Kasubag Penyimpanan Materi Promosi BPMP2T Kabupaten Bengkalis, Asmaliali saat dikonfirmasi awak media, Kamis (18/12/2014) mengatakan bahwa Stand milik Pemkab Bengkalis itu telah diserahkan dan ini akan mengurangi beban mereka dalam menangani kepulangannya setelah penutupan MTQ Riau 2014 ini.

“Hari inilah resminya serah terima itu, mulai besok (19/12) kami sudah meninggalkan Stand ini,” ungkap Asmaliali.

Selanjutnya ia menjelaskan atas penghibahan ini tidak semua barang miliknya diserahkan, akan tetapi hanya berupa benda yang mustahil untuk dibawa pulang ke Kampung mereka.

“Untuk barang-barang yang ada di dalam pastinya kami bawa pulang, yang dihibahkan itu hanya satu buah Stand yang berdiri tegak saja,” katanya.

Dijelaskan, setelah penyerahan ini maka tidak ada lagi hak pihaknya untuk menggunakan Stand tersebut. Namun, hal itu menjadi wewenang Pemkab Inhil mau dijadikan apa stand itu. (mirwan)




Taliban Afghanistan Kecam Pembantaian Peshawar

Ratusan anak-anak tewas, sisanya meringkuk di rumah sakit: Pakistan berkabung seusai pembantaian di Peshawar. Aksi biadab itu bahkan mengundang kecaman dari sayap Taliban di Afghanistan.

0,,18135907_303,00Seratus tiga puluh dua bocah berusia antara 12 hingga 16 tahun – sebagian besar mati dengan tembakan di kepala. Seorang guru tewas dibakar hidup-hidup di depan muridnya sendiri. Lebih dari seratus lainnya mengalami luka tembakan dan dirawat di rumah sakit.

Bahkan buat Taliban Afghanistan yang kenyang perang sekalipun, kebiadaban yang dikobarkan kelompok Tahrik-i-Taliban Pakistan (TTP) di Peshawar terlalu brutal. “Pembunuhan berencana terhadap perempuan dan anak-anak melanggar dasar-dasar Syariat Islam,” kata Sabihullah Mujahid, Jurubicara Taliban di Afghanistan.

Kedua organisasi berbagi nama dan tujuan, tapi berbeda dalam strukturnya. Pembantaian di Peshawar dimaksudkan sebagai tindakan balas dendam atas operasi militer Pakistan. “Kami ingin mereka merasakan sakit yang kami derita,” kata jurubicara TTP Muhammad Khorasani.

Army Public School and Colleges di Peshawar yang dijadikan sasaran serangan, banyak menampung anak-anak perwira militer. Setelah serangan, gedung sekolah berada dalam kondisi mengenaskan. Darah berceceran di lantai dan tangga, potongan pakaian dan sepatu murid berserakan di sana sini. Beberapa ruang menghitam diselimuti jelaga.

Aula utama yang pada siang laknat itu dijadikan ruang buat ujian sekolah, sesak oleh seratus jenazah murid yang tewas ditembak. Di antara puing-puing kamar mandi, polisi menemukan potongan tubuh Tahira Qazi, sang kepala sekolah yang hancur oleh granat.

“Ini bukan tindakan manusia. Ini adalah tragedi nasional,” kata Mayor Jendral Asim Bajwa, Jurubicara militer.

Derita Orangtua Korban

Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif sendiri memerintahkan tiga hari berkabung untuk mengenang korban pembantaian di Peshawar. Pemerintah Pakistan juga mencabut moratorium hukuman mati.

“Kita tidak boleh melupakan peristiwa ini,” kata Sharif dalam pertemuan tingkat tinggi di Peshawar. “Bagaimana mereka meninggalkan lubang tembakan di tubuh anak-anak tak berdosa itu, bagaimana mereka menghancurkan wajah-wajah kecil itu dengan peluru.”

Ucapan belasungkawa juga datang dari Indonesia. “Pembantaian itu adalah tindakan tidak manusiawi,” yang tidak bisa ditolerir, tulis Kementrian Luar Negeri di Jakarta kepada kantor berita Antara. Pemerintah juga menyuarakan dukungan moral buat keluarga korban.

Sebagian jenazah korban segera dikuburkan pada malam hari seusai tragedi. Namun sebagian lain baru akan dimakamkan Rabu (17/12). “Dalam beberapa menit mereka menghancurkan apa yang menjadi alasan hidup saya,” kata Akhtra Hussain yang kehilangan putranya yang berusia 14 tahun.

Hussain adalah buruh konstruksi. Ia membanting tulang di Dubai selama bertahun-tahun untuk membiayai pendidikan anaknya. “Dia yang tak berdosa menghilang di balik kubur dan saya tidak sabar bergabung dengannya. Saya tidak punya alasan lagi untuk hidup,” kata Hussain sembari memukuli kepalanya sendiri.

sumber: dw.de/rnz/vlz (ap,rtr, dpa, nytimes, dawn, the nation)




Siapakah Kelompok Taliban Pakistan?

detikriau.org – Taliban muncul di Pakistan Utara awal 1990-an, setelah Uni Soviet menarik pasukan dari Afghanistan. Kaum prianya memanjangkan jenggot dan kaum perempuan dituntut mengenakan burka. Apa lagi yang diketahui tentang mereka? Sumber: http://www.dw.de

0,,17494913_303,00

Tahrik-i-Taliban Pakistan (TTP)

TTP dulunya bawahi beberapa kelompok militan dari suku-suku Pakistan. Mereka berakar dalam jaringan militan yang disokong Pakistan tahun 80-90an untuk berperang di Afghanistan dan Kashmir. Ketika Pakistan dukung AS setelah serangan 11 September, banyak dari mereka bentuk TTP. Tapi TTP terbentuk resmi 2007. Banyak anggotanya punya hubungan dengan Taliban Afghanistan dan Haqqani sebelum bergabung.

0,,18136493_303,00

Dipimpin Maulana Fazlullah

Fazlullah dipilih jadi pemimpin Tehrik-i-Taliban (TTP) tahun 7 November 2013, setelah pemimpin sebelumnya mati dalam serangan drone AS. Foto diambil ketika ia berbicara dengan wartawan lokal di Lembah Swat, Pakistan. Fazlullah memimpin Taliban di daerah Swat tahun 2007-2009, dan menindas warga secara brutal, sebelum militer Pakistan mengambil alih kawasan tersebut.

0,,16476573_303,00

Tujuan TTP

Tujuan TTP adalah membubarkan negara Pakistan dan menggantinya dengan sistem garis keras Islam yang dipimpin dengan paham berdasarkan interpretasi undang-undang Islam yang paling keras. Pada dasarnya, TTP ingin agar di Pakistan berjalan sistem seperti yang dipaksakan Taliban di Afghanistan tahun 1990an.

0,,17076703_303,00

Punya Pemimpin Tapi Struktur Tak Jelas

Struktur TTP sulit diketahui. Mereka punya beberapa bagian di daerah suku Pakistan, dan sebagian tersebar di seluruh negeri. Secara teori, mereka semua berada di bawah Fazlullah. Tapi kenyataannya tidak demikian. Yang tampak jelas, semua bagian TTP menyatakan loyalitas kepada Mullah Omar, pemimpin tertinggi Taliban di Afghanistan. Foto: polisi Pakistan tangkap dua anggota TTP (13/06/2011).

0,,18136641_303,00

Bagaimana Mereka Biayai Aksi Teror

Diduga mereka dapat uang dari berbagai bisnis kriminal seperti penculikan dan pemerasan. Seperti Taliban di Afghanistan, mereka kemungkinan juga dapat uang dari perdagangan obat terlarang. Selain itu mereka juga mendapat sokongan dari orang-orang kaya tertentu di kawasan itu dan daerah Teluk. Foto: tentara mengangkut sejumlah murid dari sekolah tempat Taliban adakan pembantaian 16 Desember 2014.

0,,18136205_303,00

Lokasi Operasi TTP

Bertahun-tahun TTP beroperasi di daerah Waziristan dan daerah suku. Tapi beberapa tahun terakhir mereka tambah kuat di Karachi dan Peshawar. Bersamaan dengan itu serangan juga meluas ke daerah-daerah di luar wilayah suku. Foto: anak-anak di Karachi menyatakan ikut berduka cita akibat pembantaian murid sekolah di Peshawar oleh Taliban.

0,,17721036_303,00

Penyokong TTP

Mereka didukung organisasi-organisasi paling kejam di dunia, misalnya Taliban di Afghanistan, Al Qaeda, juga IMU, yaitu sebuah kelompok militan sadis dari Uzbekistan yang bantu TTP adakan serangan di lapangan terbang Karachi. Selain itu mereka dapat bantuan dari kelompok militan sektarian Pakistan seperti Lashkar-e-Jhangvi. Foto: anggota TTP dan senjata yang berhasil disita militer (13/06/14).

0,,17730723_303,00

Sekuat Apa TTP?

Di satu pihak kekuatan TTP sudah berkurang akibat serangan drone dan militer Pakistan, dan jadi lemah karena terpecah-belah. Tapi TTP tetap mampu lancarkan serangan besar. Karena organisasi teroris itu kuat di daerah yang tidak disasar militer, mereka bisa andalkan bantuan organisasi militan lain, seperti Al Qaeda. Foto: warga Waziristan Utara mengungsi sebelum operasi militer diadakan, Juni 2014.




Seragam Sekolah Berlumuran Darah Membalut 132 Anak Pakistan yang Tewas Dibantai Taliban

taliban-sekolah-penyerangan-korban_20141216_233529detikriau.org – ”Semakin kecil peti mati, semakin berat untuk digotong,” ujar Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif, seperti dirilis CNN, Rabu (17/12), mengenang 132 anak sekolah yang tewas dibantai Taliban, Selasa. Anak-anak itu, demikian Asif, telah mati syahid dan mereka tewas di garis terdepan dalam perang melawan kelompok teroris di Pakistan.

Air mata duka belum kering. Orangtua, kerabat, dan teman-teman di sekolah masih trauma dan amat berduka mengenang pembantaian oleh tujuh militan Taliban Pakistan di Sekolah Umum Militer (APS) di Peshawar, ibu kota Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan barat laut, Selasa siang hingga sore itu.

Rumah Sakit Lady Reading di Peshawar, Selasa, penuh sesak oleh ratusan orangtua murid dan kerabat, yang panik dan menangis histeris saat mayat anak-anak kesayangan mereka tiba. Seragam sekolah berlumuran darah membalut tubuh yang kaku, tanpa nyawa.

”Ya Allah, mengapa Engkau mengambil anak saya? Apa dosa anak saya dan semua anak-anak ini,” jerit pilu Irshada Bibi (40) menangisi mayat putranya berusia 12 tahun, yang dibawa ambulans ke rumah sakit.

Isak tangis bersahut-sahutan di rumah sakit. Salah satu keluarga bingung mengenali wajah anak-anak yang tewas terbakar akibat ledakan bom bunuh diri. Selain membawa senjata, para penyerang juga mengikatkan diri dengan bahan peledak dan setidaknya tiga militan meledakkan diri saat dikepung militer.

Setidaknya 141 orang tewas, yakni 132 murid dan 9 anggota staf serta guru, dalam delapan jam serangan Taliban ke sekolah yang dikelola militer itu. Selain orangtua, banyak pemimpin dunia mengecam dan menyatakan dukungan untuk memerangi terorisme.

”Taliban kejam. Mereka membunuh sebagian besar teman kelas saya. Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi karena saya baru sadar setelah tiba di rumah sakit,” kata Khalid Khan (13), salah seorang siswa yang lolos dari maut di ujung senjata laras panjang militan Taliban.

Tentara kabur

Khan dan teman-temannya, sekitar 150 orang, sedang berada di auditorium sekolah untuk mengikuti pelajaran pertolongan pertama pada kecelakaan ketika serangan itu datang. Uniknya, pelajaran itu diberikan oleh tim militer, terdiri dari tentara dan dokter tentara.

Tiba-tiba ada dua orang bersenjata masuk auditorium setelah menendang paksa salah satu pintu. ”Mereka melepaskan tembakan ke para siswa dan kemudian pergi. Dokter tentara dan tentara berhasil melarikan diri. Kami mengunci pintu dari dalam. Tiba-tiba mereka datang mendobrak pintu lagi, lalu mulai menembak,” kata Khan.

Penyerang berbicara satu sama lain dalam bahasa yang tidak dikenal. Namun, mereka juga menggunakan bahasa yang bisa dipahami, yakni bahasa Arab atau Persia—ini bisa menjadi pertanda bahwa mereka mungkin bagian jaringan militan asing yang bersembunyi di pegunungan terpencil di perbatasan Pakistan dan Afganistan.

Berbicara sambil berbaring di Rumah Sakit Lady Reading, Shahrukh Khan (16) mengatakan, dia dan teman-temannya sedang mengikuti pelatihan di auditorium sekolah. Tiba-tiba empat pria bersenjata yang mengenakan seragam militer Pakistan menyerbu masuk.

”Kami semua merunduk dan bersembunyi di bawah meja. Orang-orang bersenjata itu berteriak keras sebelum menembak. Salah satu dari mereka berteriak, cari dan bunuh,” kata Shahrukh Khan yang terkena luka tembak di kedua kaki.

”Saya melihat sepasang kaki mengenakan sepatu bot hitam besar melangkah mendekati saya. Orang ini tampaknya sedang mencari siswa yang bersembunyi di bawah bangku. Tiba-tiba saya merasakan sakit membakar di kaki karena dua kaki saya ditembak tepat di bawah lutut,” ujar Khan berlinang air mata.

Shahrukh Khan lalu pura-pura mati dengan menggigit ujung dasinya agar desis suaranya tak terdengar. ”Orang dengan sepatu besar itu terus mencari siswa dan menodongkan senjata. Saya terbaring diam sebisa mungkin dan menutup mata. Tubuh saya menggigil karena menyadari kematian sudah dekat. Saya tak akan melupakan sepatu hitam mendekati saya. Saya merasa seolah-olah itulah hari kematian saya,” kenangnya sambil meringis karena menahan sakit di kedua kaki.

Salah satu guru Khan menangis saat tangannya ditembak oleh seorang penyerang. ”Salah satu teroris mendekat, lalu menembaknya hingga dia (guru itu) tidak lagi bersuara. Semua teman di sekitar saya terluka dan tewas. Saya sangat sedih.”

Ayah Khan, seorang pedagang kecil, menghiburnya. ”Anak-anak yang selamat, termasuk saya, masih bertahan di sana untuk beberapa menit. Kemudian saya mencoba untuk berdiri, tetapi tak kuat dan jatuh lagi ke tanah,” ujar Khan lagi.

Ketika merangkak ke ruangan sebelah, Khan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. ”Saya melihat asisten di kantor sekolah kami terbakar. Dia terduduk di kursi dengan darah menetes dari tubuhnya yang telah hangus terbakar.”

Setiap kali mengingat kejadian itu, Jalal Ahmed (15), yang juga terluka akibat tembakan dan terbaring di rumah sakit, menangis. Dia mengalami trauma berat. ”Orang-orang itu datang dengan senjata, menembak membabi buta,” katanya.

”Dia terus berteriak: bawa aku pulang, mereka datang lagi dan akan membunuh saya,” ujar Mushtaq Ahmed, ayah dari Jalal Ahmed, tentang anaknya itu.

Penyerangan oleh kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan ini dimulai pukul 10.00. Namun, militer baru menuntaskan penyelamatan anak-anak pada pukul 18.00, atau delapan jam setelah serangan dimulai, dengan semua penyerang tewas. Kata-kata Asif di awal tulisan pantas direnungkan di akhir kisah ini. (TRIBUN/AFP/BBC/REUTERS/CAL)