Warga Inhil Wajib Tau! Inilah Sosok Pemimpin yang Setia Menjadi Petugas Masyarakat

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kehadiran sosok Herman menjadi secercah harapan baru bagi masyarakat di Kabupaten Inhil. Figur yang dikenal memiliki etos kerja yang tinggi ini dinilai mampu mengatasi persoalan di kabupaten yang berjuluk ‘Seribu Parit’.

Kepada awak media Herman mengatakan, mengatasi persoalan di Inhil memang tidak mudah, dengan tofografi wilayah yang begitu luas membutuhkan kerja ekstra agar dapat mengatasi persoalan hingga ke masyarakat paling bawah.

“Kita memiliki wilayah cukup luas, tantangannya tentu semakin besar, perlu sinergi semua pihak untuk membangun inhil ini menjadi lebih baik kedepanya,” ucap Herman Jumat, 20/09/2024.

Disamping itu kata Herman persoalan di Inhil ini multi dimensi, mulai dari persoalan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, perkebunan rakyat hingga nasib para petani dan nelayan menjadi harapan warga inhil yang belum tuntas.

“Kita sebenarnya tidak perlu Muluk-muluk janji Sana-sini sementara realisasi tidak sesuai dengan apa yang masyarakat harapkan. Masyarakat sekarang sudah pintar menilai, hari ini mereka butuh kerja nyata dari seorang pemimpin,” lanjutnya.

Gambaran itu dijelaskan Herman ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati Inhil bebeapa waktu lalu.

“Masyarakat itu banyak yang berharap perubahan, saya sebagai penjabat bupati saat itu rasanya malu jika tak dapat berbuat banyak untuk mereka,” tambahnya.

Herman menyebut pengabdian dirinya di dasarkan atas dorongan masyarakat yang inginkan perubahan, sehingga ia berusaha berbuat maksimal agar masyarakat tidak terus kecewa.

“Sebagai putra asli daerah saya hanya ingin menjadi petugas masyarakat penyambung keinginan mereka, karena saya sangat yakin masyarkat inhil ini sangat berharap kepada pemimpin yang Benar-benar mau berkerja untuk masyarakatnya,” pungkas Herman. *




Kadiskes Inhil Himbau Masyarakat Terapkan Pola Makan 4 sehat 5 Sempurna

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Rahmi Indrasuri, SKM, M.KL, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir, telah  menghimbauan masyarakat untuk mengadopsi pola makan yang sehat dan bergizi.

Pola makan yang dianjurkan adalah ‘4 sehat 5 sempurna’, sebuah konsep makanan yang telah lama dikenal di Indonesia sebagai pedoman dasar nutrisi. Konsep ini menekankan pentingnya mengonsumsi berbagai jenis makanan yang mencakup kelompok utama nutrisi dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh.

Empat kelompok makanan yang sehat meliputi sumber karbohidrat, protein, sayur-sayuran, dan buah-buahan, sedangkan ‘satu sempurna’ merujuk pada pentingnya asupan susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium.

Himbauan ini datang di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya diet seimbang dan gaya hidup sehat di kalangan masyarakat. Dengan menerapkan pola makan ‘4 sehat 5 sempurna’, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gizi dan protein yang esensial untuk mendukung pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan, dan pencegahan berbagai penyakit.

Kesehatan masyarakat merupakan prioritas utama, dan dengan mengikuti pedoman nutrisi yang tepat, kita dapat bersama-sama membangun komunitas yang lebih kuat dan sehat.(adv)




Analisis Hasil Pengukuran Stunting di Kecamatan Teluk Belengkong Tahun 2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kecamatan Teluk Belengkong telah melakukan langkah signifikan dalam menangani masalah stunting, sebuah kondisi serius yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. 20/09/24

Menurut definisi WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan tinggi badan di bawah standar. Dalam konteks ini, stunting bukan hanya sekadar pendek; anak yang stunting pasti pendek, tetapi tidak semua balita pendek dapat dikategorikan sebagai stunting.

Hasil pengukuran stunting di Kecamatan Teluk Belengkong menunjukkan perkembangan yang menarik. Grafik dari data Sistem Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) untuk tahun 2022, 2023, dan 2024 menunjukkan peningkatan stunting pada lima desa di tahun 2023. Namun, pada tahun 2024, terjadi penurunan angka stunting di semua desa di kecamatan ini, menandakan kemajuan dalam upaya penanganan stunting.

Faktor Determinan Stunting
Beberapa faktor determinan yang berkontribusi terhadap stunting di Kecamatan Teluk Belengkong meliputi:

1. Faktor Lingkungan: Beberapa desa masih mengalami kesulitan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.
2. Pelayanan Kesehatan: Terdapat ibu hamil dan balita yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, seperti tablet tambah darah (TTD) dan imunisasi dasar lengkap. Selain itu, masih banyak bayi yang belum menerima ASI eksklusif dan makanan tambahan yang optimal.
3. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Masih ada perilaku merokok di dalam rumah dan kurangnya kunjungan rutin ke posyandu.

Upaya Penanggulangan
Untuk menurunkan angka stunting, berbagai upaya telah dilakukan, antara lain:

1. Pelatihan pencegahan dan penanggulangan stunting.
2. Advokasi serta kerjasama lintas sektor dan lintas program.
3. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.
4. Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak (PMBA).
5. Pemberian TTD kepada ibu hamil dan remaja putri.
6. Penyuluhan dan sosialisasi mengenai ASI eksklusif, inisiasi imunisasi dini (IMD), PHBS, GERMAS, dan GEMARIKAN.

Dengan berbagai upaya tersebut, Kecamatan Teluk Belengkong menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi masalah stunting, demi kesehatan dan masa depan anak-anaknya. Langkah-langkah ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa mendatang. (ADV)




Publikasi Hasil pengukuran Untuk ata Pengukuran Stunting Tingkat Kecamatan Mandah Tahun 2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting, Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. 

Balita yang stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mecapai perkemkembangan fisik dan kognitif yang optimal sehingga dapat mempengaruhi sumber daya manusia di masa depan. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. 

Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat. Pada tahun 2023, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan rembuk stunting dengan menetapkan 26 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. Kecamatan Mandah sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab 1 Desa Lokus yaitu Batang Tumu dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Kecamatan. Berikut ini adalah garafik prevalensi stunting di tingkat kecamatan Mandah : 

Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kecamatan Mandah di tahun 2022 (1.43 %) ,2023 (1.46%) dan tahun 2024 menjadi (1.07%). Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kabupaten Indragiri Hilir, Namun perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapatnya lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Kecamatan Mandah

Berbagai upaya yang telah ditempuh diguna menurunkan  angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan semakin gencarnya sosialisasi ASI Ekslusif,pendidikan gizi untuk ibu hamil, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk ibu hamil, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Pemberian makan pada Bayi,dan Anak (PMBA), pemberian mikro, pemberian vitamin A untuk bayi balita, pemberian obat cacing, program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

    Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan  status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku hidup bersih dan sehat . Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian TTD baik remaja yang ada di sekolah maupun di pondok Pesantren dan Posyandu Remaja. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

    Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah 

      Masih banyak nya masyarakat yang mengikuti tradisi atau budaya yang susah untuk di rubah sehingga hal ini juga dapat mempengaruhi pola asuh anak yang salah.   Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada tahun 2021 Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

      Kelompok Sasaran Beresiko

        Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas dimasa depan.

        Pemerintah di kecamatan Mandah sangat mengharapkan dukungan dari berbagai sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di kecamatan Mandah melalui konvergensi Pencegahan dan Penangulangan Stunting. Pemerintah desa diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. 

        Upaya Yang Telah Di lakukan Dalam rangka percepatan penurunan angka stunting

        1. Pemberian makanan tambahan pada balita gizi kurang dan balita yang mengalami stunting serta gangguan pertumbuhan
        2. Penyuluhan penting nya minum tablet tambah darah pada ibu hamil serta Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil KEK.
        3. Pemberian Tablet Tambah Darah pada remaja putri di sekolah
        4. Pemberian vitamin A dan obat cacing setiap bulan februari dan agustus di posyandu
        5. Pemantaun TB dan BB Pada bayi dan balita gizi kurang dan stunting



        Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Desa Batang Tumu 2023-2024

        ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting, Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan dataang. Stunting menjadi ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia di masa mendatang karena dapat menghambat pertumbuhan fisik, hambatan pertumbuhan otak anak (kognitif), penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa serta ancaman peningkatan penyakit tidak menular. 

        Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal, pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. 

        Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini. 

        Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.

        Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Desa Batang Tumu sebagai salah satu desa yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa. 

        Grafik 1. Angka Prevalensi Stunting Tahun 2023 dan 2024

        di Desa Batang Tumu

        Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Desa Batang Tumu di tahun 2023 yaitu 1.5% dan 2024 yaitu 0.7%.  Beberapa upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan pemberian TTD pada Ibu hamil, melakukan sosialisasi ASI Ekslusif, Pemberian makan pada Bayi,dan Anak (PMBA), Pemberian Vitamin A, melakukan pemantauan tumbuh kembang, serta program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

        Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting

         Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

          Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu.  Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita. 

          Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi. 

          Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah 

            Dinas Kesehatan bersama Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa, dimana Pola Konsumsi Ibu Hamil, Pola Asuh Ibu dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan. Selain diberikan nya Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil, juga dilakukan Intervensi pada Ibu Hamil KEK dengan Pemberian PMT. Guna mencegah terjadinya BBLR yang akan berdampak pada masalah gizi anak.




            Dinkes Inhil Dorong Kesehatan Masyarakat dengan Mengelar Pertemuan Implementasi Kawasan Tanpa Rokok

            ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam sebuah acara yang penuh semangat dan harapan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir membuka Pertemuan Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Tahun 2024.

            Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Inderagiri Hilir (Inhil) Rahmi Indrasuri mengajak semua peserta untuk bersyukur atas kesempatan berkumpul demi kesehatan masyarakat. 19/09/24

            Merokok, diakui sebagai faktor risiko utama untuk berbagai penyakit serius seperti jantung, diabetes, dan kanker, menjadi sorotan utama. Data menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia terus meningkat.

            Dari 28,8% pada 2013, angka ini melonjak menjadi 33,5% pada 2021. Khusus untuk anak-anak, prevalensi perokok berusia 13-15 tahun juga meningkat dari 18,3% pada 2016 menjadi 19,2% pada 2019.

            Kepala Dinas Kesehatan menekankan bahwa rokok bukan hanya masalah individu, melainkan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

            Oleh karena itu, penerapan KTR di tujuh tatanan—termasuk fasilitas kesehatan, sekolah, dan tempat umum—menjadi langkah strategis untuk melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari bahaya asap rokok.

            Acara ini juga menyoroti pentingnya dukungan dari semua pihak, baik individu, masyarakat, maupun pemerintah.

            Komitmen bersama untuk menerbitkan regulasi yang lebih tegas mengenai KTR diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan masyarakat dan menurunkan angka perokok.

            Kepala Dinas Kesehatan berharap bahwa kegiatan ini dapat menciptakan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat.

            Dalam semangat kolaborasi, beliau mengajak semua peserta untuk berkontribusi aktif dalam pengendalian dampak negatif rokok, demi kesejahteraan bersama.

            Dengan resmi membuka acara, beliau menekankan harapan untuk meningkatkan perlindungan masyarakat dari asap rokok.

            Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam upaya menciptakan Kabupaten Indragiri Hilir yang lebih sehat dan bebas rokok. (Adv)