Stunting Dalam Angka Di Kecamatan Keritang Tahun 2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Stunting tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan kinerja jangka panjang karena perkembangan otak yang tidak optimal. 

Stunting merupakan masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka Panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehamilan, kemudian setelah bayi lahir sampai dengan usia 2 tahun yang disebut dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

Akan tetapi kondisi stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1.000 HPK seharusnya mendapat perhatian khusus oleh Pemerintah dan semua pihak karena periode ini menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Stunting disebabkan oleh berbagai faktor, tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi dialami oleh ibu hamil  dengan kondisi Kehamilan KEK maupun anak balita dengan kondisi Gizi Buruk. Tindakan pencegahan yang paling menentukan untuk dapat mengurangi jumlah kasus stunting adalah tindakan pencegahan yang dilakukan pada 1.000 HPK. 

Tindakan pencegahan stunting memerlukan penyatuan berbagai program dan Upaya Bersama antara Pemerintah serta Dunia Usaha dan Masyarakat. Pada tahun 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan rembuk stunting dengan menetapkan lokasi Fokus (Lokus) untuk tahun 2022, 40 Desa/Kelurahan. 

Rembuk stunting tersebut telah dilakukan di Kabupaten, Kecamatan dan Desa/Kelurahan lokus. Kegiatan ini terus berlanjut hingga tahun 2024. Berikut Grafik jumlah angka kasus stunting tahun 2022, 2023 dan 2024 di Kecamatan Keritang:

Grafk Prevalensi Stunting Tahun 2022, 2023 dan 2024

Sumber : Data sistem pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) 2022, 2023 dan 2024

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita stunting di Kecamatan Keritang di tahun 2022 : 0,7%, 2023 : 0,7%. dan 2024 : 0,2%. Namun dari 17 Desa, ada 1 Desa yang terjadi peningkatan kasus stunting yaitu Desa Nusantara Jaya dan Desa Pebenaan dimana terjadi peningkatan data stunting dari tahun 2022 sampai tahun 2024 dari 0 kasus menjadi 2 kasus pada tahun 2024. Secara umum, sebagian besar desa di Kecamatan Keritang telah menunjukkan angka penurunan kasus stunting dari tahun 2022 ke 2024. Hal ini menunjukkan sudah adanya penyatuan program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting, sehingga telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kecamatan Keritang. Namun hal ini belum maksimal, sehingga perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapat lebih kompak dalam menangani kasus stunting di Kecamatan Keritang. (ADV)




Analisis Hasil Pengukuran Stunting Desa Bagan Jaya Tahun 2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita . Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat.  Pada tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 25 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. Kecamatan Pelangiran sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat desa atau kelurahan. Pada tahun 2024 ini terdapat 8 Desa/Kelurahan Lokus Fokus Intervensi Penurunan Stunting Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2025. Adapun Nama-nama Desa/Keluran di kecamatan Pelangiran tsb, sebagai berikut : Terusan Beringin Jaya, Tegal Rejo Jaya, Bagan Jaya, Tanjung Simpang, Saka Palas Jaya, Tagagiri Tama Jaya, Simpang Kateman dan Kelurahan Pelangiran. 

Grafik Prevalensi Stunting di Desa Bagan Jaya Tahun 2022, 2023 dan 2024 

       Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Bagan Jaya mengalami peningkatan dari 2 kasus pada tahun 2022 menjadi 5 kasus pada tahun 2023. Namun terjadi penurunan dari 5 kasus pada tahun 2023 menjadi 3 kasus pada tahun 2024.

Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2023 ke 2024. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting  di Desa Bagan Jaya namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang. 

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :

  1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
  2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
  3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
  4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
  5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
  6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
  7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
  8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
  9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
  10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
  11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
  12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
  13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan  lingkungan
  14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi 
  15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
  16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
  17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.

Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

    Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

    Kelompok Sasaran Beresiko

      Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

      Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)




      Analisis Hasil Pengukuran Stunting Desa Catur Karya Tahun 2024

      ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

      Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita . Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat.  Pada tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 25 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. Kecamatan Pelangiran sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat desa atau kelurahan. Pada tahun 2024 ini terdapat 8 Desa/Kelurahan Lokus Fokus Intervensi Penurunan Stunting Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2025. Adapun Nama-nama Desa/Keluran di kecamatan Pelangiran tsb, sebagai berikut : Terusan Beringin Jaya, Tegal Rejo Jaya, Bagan Jaya, Tanjung Simpang, Saka Palas Jaya, Tagagiri Tama Jaya, Simpang Kateman dan Kelurahan Pelangiran. 

      Grafik Prevalensi Stunting di Desa Catur Karya Tahun 2022, 2023 dan 2024 

             Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Catur Karya mengalami penurunan dari 3 kasus pada tahun 2022 menjadi 1 kasus pada tahun 2023. Namun terjadi peniningkatan dari 1 kasus pada tahun 2023 menjadi 2 kasus pada tahun 2024.

      Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2022 ke 2023. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting  di Desa Catur Karya namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang. 

      Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :

      1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
      2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
      3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
      4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
      5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
      6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
      7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
      8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
      9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
      10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
      11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
      12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
      13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan  lingkungan
      14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi 
      15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
      16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
      17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.

      Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

      Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

      Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

        Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

        Kelompok Sasaran Beresiko

          Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

          Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (Adv)




          Analisis Hasil Pengukuran Stunting Desa Intan Mulya Jaya Tahun 2024

          ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

          Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita . Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat.  

          Pada tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 25 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. Kecamatan Pelangiran sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat desa atau kelurahan. 

          Pada tahun 2024 ini terdapat 8 Desa/Kelurahan Lokus Fokus Intervensi Penurunan Stunting Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2025. Adapun Nama-nama Desa/Keluran di kecamatan Pelangiran tsb, sebagai berikut : Terusan Beringin Jaya, Tegal Rejo Jaya, Bagan Jaya, Tanjung Simpang, Saka Palas Jaya, Tagagiri Tama Jaya, Simpang Kateman dan Kelurahan Pelangiran. 

          Grafik Prevalensi Stunting di Desa Intan Mulya Jaya Tahun 2022, 2023 dan 2024 

                 Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Intan Mulya Jaya mengalami penurunan dari 5 kasus pada tahun 2022 menjadi 3 kasus pada tahun 2023 dan terus mengalami penurunan dari 3 kasus pada tahun 2023 menjadi 0 kasus pada tahun 2024.

          Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2022 sampai 2024. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting  di Desa Intan Mulya Jaya namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang. 

          Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :

          1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
          2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
          3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
          4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
          5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
          6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
          7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
          8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
          9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
          10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
          11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
          12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
          13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan  lingkungan
          14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi 
          15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
          16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
          17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.

          Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

          Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

          Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

            Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

            Kelompok Sasaran Beresiko

              Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

              Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)




              Analisis Hasil Pengukuran Stunting Desa Simpang Kateman Tahun 2024

              ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. 

              Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

              Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita . Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. 

              Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat.  Pada tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 25 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. 

              Kecamatan Pelangiran sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat desa atau kelurahan. Pada tahun 2024 ini terdapat 8 Desa/Kelurahan Lokus Fokus Intervensi Penurunan Stunting Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2025. Adapun Nama-nama Desa/Keluran di kecamatan Pelangiran tsb, sebagai berikut : Terusan Beringin Jaya, Tegal Rejo Jaya, Bagan Jaya, Tanjung Simpang, Saka Palas Jaya, Tagagiri Tama Jaya, Simpang Kateman dan Kelurahan Pelangiran. 

              Grafik Prevalensi Stunting di Desa Simpang Kateman Tahun 2022, 2023 dan 2024 

                     Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Simpang Kateman mengalami peningkatan dari 7 kasus pada tahun 2022 menjadi 14 kasus pada tahun 2023. Namun terjadi penurunan dari 14 kasus pada tahun 2023 menjadi 9 kasus pada tahun 2024.

              Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2023 ke 2024. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting  di Desa Simpang Kateman namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang. 

              Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :

              1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
              2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
              3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
              4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
              5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
              6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
              7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
              8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
              9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
              10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
              11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
              12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
              13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan  lingkungan
              14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi 
              15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
              16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
              17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.

              Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

              Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

              Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

                Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

                Kelompok Sasaran Beresiko

                  Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

                  Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)




                  Analisis Hasil Pengukuran Stunting Desa Tanjung Simpang Tahun 2024

                   ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

                  Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita . Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. 

                  Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat.  Pada tahun 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 25 lokus desa untuk intervensi spesifik dan sensitif pada lokus tersebut. Kecamatan Pelangiran sebagai salah satu kecamatan lokus memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat desa atau kelurahan. Pada tahun 2024 ini terdapat 8 Desa/Kelurahan Lokus Fokus Intervensi Penurunan Stunting Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2025.

                  Adapun Nama-nama Desa/Keluran di kecamatan Pelangiran tsb, sebagai berikut : Terusan Beringin Jaya, Tegal Rejo Jaya, Bagan Jaya, Tanjung Simpang, Saka Palas Jaya, Tagagiri Tama Jaya, Simpang Kateman dan Kelurahan Pelangiran. 

                  Grafik Prevalensi Stunting di Desa Tanjung Simpang Tahun 2022, 2023 dan 2024 

                         Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Tanjung Simpang mengalami penurunan dari 9 kasus pada tahun 2022 menjadi 6 kasus pada tahun 2023. Namun terjadi peningkatan dari 6 kasus pada tahun 2023 menjadi 8 kasus pada tahun 2024.

                  Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2022 ke 2023. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting  di Desa Tanjung Simpang namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang. 

                  Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :

                  1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
                  2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
                  3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
                  4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
                  5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
                  6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
                  7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
                  8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
                  9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
                  10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
                  11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
                  12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
                  13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan  lingkungan
                  14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi 
                  15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
                  16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
                  17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.

                  Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

                  Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.

                  Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

                    Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.

                    Kelompok Sasaran Beresiko

                      Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

                      Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)