Asisiten III Buka Kegiatan Sosialisasi PBDT

BAGANSIAPIAPI (detikriau.org) – Asisten III Setda Kabupaten Rokan Hilir Bidang Bina Kesra Ali Asfar membuka sosialisasi Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) bertempat di lantai IV Kantor Bupati Rohil, Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Senin (25/5/2015).

Menurut Ali, kegiatan PBDT 2015 ini dilakukan dalam rangka menyempurnakan dan pemuktahiran informasi Rumah tangga dan individu yang terdapat dalam Basis Data Terpadu (BDT).

“BDT terakhir yang kita miliki adalah hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 yang saat ini sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Rokan hilir,” ujar Ali

Pemutakhiran ini juga menurutnya bertujuan untuk mempertajam ketepatan sasaran, sehingga kekurang akuratan penetapan sasaran dan diharapkan dapat menjangkau rumah tangga miskin yang belum tercangkup dalam data tahun 2011 lalu.

BDT juga dimanfaaatkan bagi Program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan diantaranya, Program simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS),  Program Indonesia Pintar (PIP), Program subsidi beras bagi masyrakat berpendapatan Rendah (Raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), Jamkesda, serta Program sosial lainnya.

”Metodologi pemuktahiran BDT 2015 berbeda dengan pendataan tahun 2011. Dalam Pemuktahiran BDT tahun 2015 ini sangat diperlukan dukungan dan peran serta masyrakat serta pemerintah daerah,” jelasnya.

Sosialisasi pemuktahiran BDT itu dihadiri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rohil, Kepala Bappeda Rohil M Job Kurniawan, KadisKesehatan Rohil, HM Junaidi Saleh, Dinas Sosial, Sekretaris Disdik Khairul Azam, Para Camat dan Lurah dan serta undangan lainnya. (tris/*/adv)




Pemprov Riau Diminta Segera Perbaiki Jembatan Sungai Nyiur

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau diminta untuk segera memperbaiki jembatan Sungai Nyiur Kecamatan Tanah Merah yang saat ini kondisinya sudah sangat memperihatinkan.

Permintaan tersebut disampaikan Anggota DPRD Inhil, Edi Haryanto Sindrang saat berbincang dengan sejumlah awak media di Gedung DPRD Jalan HR Soebrantas Tembilahan, belum lama ini.

Dikatakan Edi, keberadaan jembatan ini merupakan tanggung jawab Pemprov Riau, karena berada di jalan lintas provinsi dan jalan negara.

“Kalau saja jembatan ini menjadi kewenangan kebupaten, tentu kita siap menganggarkannya, tapikan ini tanggung jawab provinsi,” tutur Edi.

Oleh karena itu, lanjut politisi dari Partai Golongan Karya (Golkar) Inhil ini, Pemprov Riau harus secepatnya mengatasi persoalan tersebut karena keberadaan jembatan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Seperti kita ketahui bersama, keberadaan jembatan dan jalan penghubung sangat penting bagi masyarakat, khususnya untuk membuka keterisolasian dan akses dari suatu daerah ke daerah lainnya,” imbuhnya.(adi/adv)




Tangani Kasus Sesuai Protap, Bidan Diminta Tingkatkan Kompetensi

Kabid PPKDPK Dinkes Inhil, Ns Matzen S.Kep, MSi memberikan sambutan saat pelaksanaan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil
Kabid PPKDPK Dinkes Inhil, Ns Matzen S.Kep, MSi memberikan sambutan saat pelaksanaan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh tenaga bidan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta untuk terus meningkatkan kompetensinya, sehingga dalam penanganan kasus bisa sesuai dengan protap yang telah ditentukan.

Permintaan tersebut disampaikan Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pengendalian Kemitraan dan Promosi Kesehatan (PPKDPK), Ns Matzen Msi saat membuka pelatihan peningkatan kapasitas manajemen BBLR, Asfiksia dan Sepsis yang digelar di aula salah satu hotel di Tembilahan, kemarin.

Dikatakan Matzen, kecenderungan kematian bayi dan balita terutama terjadi pada periode persalinan dan kelahiran serta beberapa saat setelah persalinan dan kelahiran. Dimana, sebanyak 43 persen kematian balita terjadi pada masa neonatal dan sebagian besar dari kematian neonatal terjadi pada usia yang sangat dini, yaitu dalam satu minggu pertama kehidupannya.

“Penyebab utama kematian neonatal adalah Asfiksia, hipotermi dan infeksi. Dimana, selain kondisi yang buruk pada saat dilahirkan, kematian neonatal sering disebabkan oleh cara penanganan kasus yang tidak tepat,” tutur Matzen.

Para peserta terlihar serius mengikuti kegiatan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil
Para peserta terlihar serius mengikuti kegiatan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil

Dijelaskan, permasalahan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dapat berupa hipotermi, rendahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi, enterokolitis neokrotokans. Sedangkan kebutuhan bayi berat badan lahir rendah, antara lain dengan kehangatan tubuh ibu yang ternyata marupakan sumber panas yang efektif untuk bayi yang lahir cukup bulan maupun BBLR.

“Dengan demikian, upaya penurunan AKB perlu memberikan perhatian yang besar pada upaya penyelamatan bayi baru lahir ini,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Matzen, terdapat kesenjangan dalam determinan AKB yang cukup besar antar tingkat pendidikan, sosial ekonomi, antar kawasan dan antar perkotaan perdesaan.

“Kematian bayi pada penduduk yang tidak berpendidikan 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi dan kematian pada tingkat sosial ekonomi rendah lebih besar dari tingkat ekonomi tinggi,” terangnya.

Oleh karena itu, terkait dengan kendala geografis, daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan, diharapkan kepada pemerintah untuk memberikan perhatian besar dan serius dalam peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan.

“Penyediaan sarana dan SDM kesehatan maupun peningkatan kompetensi mereka dalam melakukan penanganan kasus emengensi harus ditingkatkan lagi,” katanya.

Seluruh upaya tersebut, harus dilihat secara komprehensif di dalam suatu continuum of care, baik dari tingkat masyarakat, Puskesmas hingga layanan rujukan di rumah sakit, mulai dari aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pendekatan yang harus kita berikan adalah equity dan universal access.

“Dengan pelatihan ini, saya harapkan tujuan kita untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam manajemen BBLR, Asfiksia dan Sepsis dapat tercapai, sehingga akselerasi penurunan AKB dapat diraih,” imbuhnya.(adi/adv)




Dinsos Diminta Lakukan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Terlantar

anak terlantar. Foto; net
anak terlantar. Foto; net

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta untuk melakukan pendataan terhadap keberadaan fakir miskin dan orang terlantar di Negeri Seribu Parit.

Permintaan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Inhil, Herwanissitas terkait dengan adanya penemuan jenazah orang terlantar di Kota Tembilahan, belum lama ini.

Dikatakan pria yang akrab disapa Sitas ini, fakir miskin dan orang terlantar wajib diperhatikan dan dipelihara oleh negara. Karena itu, jangan sampai keberadaan mereka dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian serius dari Pemkab Inhil.

“Ke depan, kita minta hal ini tidak terjadi lagi. Kalau masih ditemukan, Pemda harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan dan melakukan pembiaran terhadap masyarakat,” tutur Sitas.

Dijelaskan politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Inhil ini, Dinsos harus menyadari serta memahami dengan baik apa yang menjadi peran dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat.

Apalagi, sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Inhil tentunya Dinsos memiliki tanggung jawab penuh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta turut bersama-sama mendukung dan mensukseskan program pemerintah.

Oleh karena itu lanjut Sitas, diharapkan kepada Kepala Dinsos dan jajarannya agar bisa melakukan pendataan fakir miskin dan orang terlantar ini secara tepat dan akurat sesuai dengan fakta yang ada di lapangan guna memudahkan pemerintah dalam penyediaan pelayanan.

“Kemudian yang juga tak kalah pentingnya, Dinsos harus menjalin kerjasama dan koordinasi yang baik dengan pihak terkait lainnya seperti Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB), dalam upaya memudahkan pelaksanaan berbagai program pemerintah,” imbuhnya.(adi/adv)




Fahrolrozy: Begini Cara Mudah Membedakan Beras Asli dengan Beras Pelastik

beras-plastik-640x320TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) H Fahrolrozy menyampaikan cara mudah untuk membedakan antara beras asli dengan beras yang terbuat dari plastik.

“Caranya mudahnya, kalau dimasak, beras berbahan pelastik itu akan menyatu layaknya pelastik yang dipanaskan karena meleleh, beda halnya dengan beras asli,” katanya kemaren disela melakukan Sidak di kota Tembilahan.

Lebih lanjut ia menyampaikan, jika dibakar, beras yang berbahan pelastik itu tidak akan hangus menghitam, namun akan meleleh. Tetapi jika beras asli, jika dibakar akan hangus dan menghitam.

Banyak lagi katanya cara untuk membedakan antara beras asli dengan beras yang berbahan pelastik. Yang jelas Kadiperindag ini menjelaskanbahwa antara keduanya itu sangat mudah untuk dibedakan.(mirwan/adv)




Ayah Tega Perkosa Anak Tiri Hingga Hamil

Gbr Ilustrasi. net
Gbr Ilustrasi. net

KEMUNING (detikriau.org) – Sebut saja bunga (14), gadis belia warga Desa Keritang kecamatan Kemuning itu kini dalam kondisi hamil 9 bulan. Mirisnya, anak yang dikandungnya itu adalah buah perbuatan bejat ayah tirinya, AS (31).

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, peristiwa ini bermula pada bulan Juli tahun 2014 lalu. Dimana suatu hari sekitar pukul 07.00 WIB saat itu bunga sedang memasak di dapur rumahnya dan tiba-tiba AS datang menghampiri dan mengajak masuk ke  dalam kamar serta menyetubuhi anak yang seharusnya berada dibawah lindungannya.

Kala itu, korban sempat menolak bahkan berontak hingga lari keluar rumah. Meski begitu, ayah bejat ini mengejar korban sambil membawa sebilah pisau. Apalah daya, bungapun akhirnya terpaksa menuruti kemauan “manusia iblis” ini.

“Kejadian tersebut dilakukan tsk berulang kali hingga akhirnya bunga berbadan dua yang kini memasuki usia kehamilan 9 bulan,” Sampaikan Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Suwoyo Sik Msi melalui PAUR Humas, Iptu Warno Akman kepada sejumlah awak media, Minggu (24/5/2015).

Saat ini, lanjut Warno, tsk telah mendekam di Polsek Kemuning Polres Inhil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tsk diancam kurungan 12 tahun penjara. (mirwan)