Mitos dan Isu Sesat Hari Tanpa Bayangan

detikriau.org – Hari ini fenomena tahunan equinox akan terjadi. Fenomena ini terjadi saat Matahari berada tepat di atas gari khatulistiwa. Pada momen ini seluruh tempat di Bumi akan mengalami durasi siang dan malam yang sama, masing-masing 12 jam. 

Fenomena Matahari berada tepat di atas ekuator ini jamak dikenal Hari Tanpa Bayangan. Sebab saat tepat di atas ekuator, matahari berada tepat di atas kepala, akibatnya dalam beberapa saat benda tidak memiliki bayangan.

Fenomena equinox terjadi dua kali setiap tahun. yakni 21 Maret dan yang kedua 23 September.

Fenomena ini bagi para ilmuwan adalah hal yang biasa tak istimewa. Namun beragam isu dan mitos mengiringi fenomena Hari Tanpa Bayangan.

Isu yang pernah menimbulkan khawatir pada equinox tahun lalu adalah munculnya gelombang panas tinggi (hatewave). Isu yang berembus, suhu udara di Indonesia akan sampai 40 derajat celsius. Panas menyengat tentunya. Isu cuaca panas itu kala itu berbarengan dengan gelombang panas yang melanda Afrika dan Timur Tengah.

Isu gelombang panas itu, pada tahun lalu, sudah dibantah tegas.

Mitos Telur Tegak

Selain isu, ada mitos yang mengiringi Hari Tanpa Bayangan. Saat equinox menjelang, mitos telut berdiri tegak mengiringinya.

Pada tahun lalu, mitos telur ini berembus. Sama saja dengan isu gelombang panas, ilmuwan ramai membantahnya. BMKG menjelaskan, telur mentah memang sulit berdiri tegak karena cairan di dalamnya. Sedangkan telur matang lebih mudah berdiri tegak.

Namun, memang ada fakta telur bisa berdiri tegak bisa dilakukan di lintang nol Pontianak, yang merupakan kota Hari Tanpa Bayangan.

Peneliti Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto beberapa waktu lalu menjelaskan, telur tegak bisa dilakukan tiap hari di Pontianak, tak perlu harus menunggu momentum equinox.

Soal telur tegak di Pontianak, kata Tri Handoko, terkait dengan posisi Pontianak yang berada di tengah garis bumi utara dan selatan.

“Jadi lebih mudah menempatkan telut secara seimbang, jadi bisa berdiri,” kata dia.

Sedangkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan telur berdiri tegak akibat pengaruh gravitasi bumi.

Sumber: viva.co.id




Ngaku Bermodal Senjata Rampasan, OPM Tantang TNI dan POLRI Berperang

detikriau.org – Gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka atau OPM, telah mengeluarkan ultimatum berperang kepada Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia. Bahkan, dalam waktu dekat mereka berencana mendeklarasikan angkat senjata melawan Indonesia.

Ultimatum perang itu disampaikan Mayor Jenderal G.Lekkagak Telenggen, usai dilantik sebagai Kepala Staf Operasi Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Ultimatum ini bahkan telah disiarkan meluas melalui situs dan akun Youtube resmi mereka.

“Perang jangan berhenti, perang harus tanpa intervensi internasional di Papua. Ultimatum perang, saya sudah umumkan, jadi perang harus dilakukan di mana saya, di Papua,  ketentuan, aturan perang kita sudah keluarkan itu, Panglima TNI, Polda harus tunduk pada aturan itu TPN di seluruh Papua, perang harus berdasarkan aturan ini. Tujuan, kami ingin perang lawan TNI, Polri sudah tecantum dalam aturan TPN,” kata Lekkagak seperti dikutip VIVA. TPNPB mengklaim memiliki pasukan tempur yang mampu merepotkan TNI dan Polri. Bahkan, mereka menyatakan telah menyiapkan senjata dan aturan berperang.

“Kami siap layani mereka (TNI dan Polri), mereka siapkan ribuan personel, saya juga siap ribuan, mereka bawa berapa ratusan senjata saya juga siap, kami siap lawan, demi kemerdekaan Papua,” katanya.

Jika diamati pada situs separatis ini, memang mereka memiliki pasukan tempur. Hanya saja jumlahnya tak sampai ribuan personel. Tapi, dari serangkaian foto yang disiarkan, terlihat jelas TPNPB telah menyiapkan diri untuk perang. Terbukti pasukan TPNPB sudah memegang senjata api.

Terlihat ada berbagai jenis senjata yang mereka miliki, mulai dari senjata laras panjang hingga jenis pistol. Senjata laras panjang yang dimiliki pasukan TPNPB seperti AK 47, M1, M14 hingga SS1.

Lalu dari mana senjata-senjata mereka dapatkan? Berdasarkan pengakuan Lekkagak, mereka mendapatkan senjata-senjata itu dengan cara merampasnya dari prajurit TNI dan personel Polri.

“Musuh kami adalah TNI Polri, jadi pasukan TPNPB yang tembak TNI, senjata sudah jadi milik kami. Senjata dan amunisi TNI POLRI itu gudang senjata kami, dan senjata yang sudah rampas tidak akan kembalikan, itu sudah menjadi milik TPNPB,” kata Lekkagak.

Kasus perampasan senjata oleh TPNPB terjadi di Pasar Sinak, Puncakjaya, Papua. Mereka menembak mati prajurit TNI dari Kopassus. Penembakan terjadi saat prajurit TNI itu sedang berbelanja di dalam pasar.

TPNPB juga telah menginstruksikan pasukannya di seluruh Papua, untuk bertahan di dalam hutan dan melakukan perang secara gerilya.

Berita ini sudah diberitakan viva.co.id dengan judul “Tantang TNI Perang, Ini Kekuatan Tempur OPM

 

Simak rekaman ultimatum perang OPM ke TNI:




Jam 12.00 Wib Esok, Riau, Salah Satu Daerah yang Alami Fenomena Langka “Hari Tanpa Bayangan”

foto: net

Detikriau.org – Esok, Rabu (21/3/2018) jam 12.00 Wib, Riau termasuk menjadi salah satu daerah di Indonesia yang mengalami fenomena langka yakni, hari tanpa bayangan. Hal ini terjadi karena matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa.

Menurut Lembaga Penerbangan dan Antartika Nasional (LAPAN), pada jam 12 siang, dimana matahari tepat berada diatas kepala, objek yang berdiri tegak pada equator atau garis khatulistiwa dapat dipastikan akan mengalami tak muncul bayangan.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN, Jasyanto hari tanpa bayangan terjadi karena bumi beredar mengelilingi Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari.

“Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong, sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat,” bedasarkan laporan tertulisnya kepada liputan6.com. Jayanto juga menjelaskan bahwa perubahan posisi matahari itu menyebabkan perubahan musim di sejumlah benua.

Para astronom dan ilmuwan menyebutkan bahwa equinoks yang terjadi pada bulan Maret ini merupakan pertanda munculnya musim panas pada negara di belahan utara bumi dan musim dingin di bagian selatan. Indonesia juga turut mengalami perubahan musim kering-basah akibat hari tanpa bayangan ini.

Uniknya, fenomena ini hanya terjadi di daerah yang berada di garis equator saja. Walau begitu, fenomena ini tak hanya terjadi di Pontianak yang terkenal dilalui oleh garis khatulistiwa dengan garis lintang 0°.

Menurut LAPAN, daerah lain yang akan mengalami hari tanpa bayangan meliputi Bonjol, Bontang, Riau, Parigi Moutong, Kepulauan Kayoa, Amberi, Gebe, dsb. Daerah tersebut dapat mengalami hari tanpa bayangan karena dekat dengan equator.

Meskipun unik, ada juga dampak yang timbulkan dari fenomena alam ini. Di Indonesia, Matahari akan memberikan suhu yang lebih terik pada siang hari. Kemudian lapisan ionosfer yang terkenal membantu memantulkan gelombang-gelombang radio telekomunikasi, dapat terhambat.

Sehingga ada kemungkinan besar gangguan komunikasi radio dapat terjadi. Tetapi, tidak membuat sinyal pada alat komunikasi kita benar-benar hilang. Fenomena langka ini biasanya terjadi selama dua kali dalam setahun pada 21 Maret dan 23 September.

Editor: dro

Tulisan ini sudah diterbitkan di Liputan6.com dengan Judul “Fenomena Langka, Ini Wilayah Indonesia yang Alami Hari Tanpa Bayangan

 




Hilangkan Kantuk Dengan Konsumsi Cabe Dalam Bentuk Permen. Ini Cara Membuatnya

Foto: net

detikriau.org – Siapa yang tidak kenal dengan tanaman buah sayur, cabe. Buah dengan rasa pedas dan beraroma khas ini lazim dikonsumsi sebagai bumbu pada masakan. Bagi sebahagian besar masyarakat Indonesia, buah cabe menjadi bumbu wajib. Rasanya masakan tidak akan terasa lezat tanpa kehadiran tanaman buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum ini. Namun ternyata, buah cabe tidak hanya bisa disajikan sebagai bumbu masakan. Melalui tangan Peneliti BB Pascapanen, kini cabe juga bisa dinikmati dalam bentuk permen.

Mengolah cabai menjadi permen sebenarnya pertama kali dikenalkan oleh negara meksiko bahkan menjadi makanan tradisional disana. Di Mexico permen ini lazim disebut dengan Calaveras De Azucar (Aji Saputro:2015).
Cara membuat permen cabai sangat sederhana. Baca selengkapnya 



Musrenbang RKPD 2019, Pj Bupati Inhil Minta Inisiatif OPD Cari Sumber Dana Lain Jalankan Program

Tembilahan, detikriau.org – Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) tahun 2019 yang digelar Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Inhil, Rudyanto meminta inisiatif dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mencari sumber dana lain guna menjalankan kegiatan keprograman.

Bukan tanpa sebab, permintaan Pj Bupati ini ternyata didasarkan atas pertimbangan alokasi dana di APBD Kabupaten Inhil yang berkisar Rp 1,2 Trilyun per tahun anggaran relatif tidak memadai untuk meng – cover seluruh kegiatan keprograman dari masing – masing OPD.

Menurut Pj Bupati, sumber keuangan lain dapat diakses oleh OPD melalui Pemerintah Provinsi Riau maupun Pemerintah Pusat. Dana tersebut, imbuhnya akan dapat diperoleh dengan usaha dan kerja keras masing – masing OPD.

“Dari dana Rp1,2 triliun itu, tentunya hanya sedikit porsi yang bisa tertampung. Kepada OPD untuk rajin mencari dana tambahan baik ke Pemprov maupun ke Pusat,” kata Pj Bupati pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan RKPD, Senin (19/3/2018).

Selain menuntut keaktifan OPD dalam mengakses sumber dana lain, Pj Bupati juga meminta kepada OPD untuk bisa selektif dalam merealisasikan setiap kegiatan keprograman sesuai dengan skala prioritas.

“OPD semestinya bisa membuat skala prioritas, menentukan program mana saja yang harus diutamakan. Program dengan imbas lebih besar kepada masyarakat itu yang lebih diutamakan terlebih dahulu,” pungkas Pj Bupati./diskominfops_inhil/adv




Kesal ditagih Hutang, Jun Bacok Ros Dengan Sebilah Parang

Pelangiran, detikriau.org –  Jun alias Kel (36) ditahan Kepolisian Polsek Pelangiran atas tuduhan melakukan penganiayaan terhadap Rusdalidi alias Ros (40) warga sekampungnya dengan menggunakan sebilah parang. Senin malam (19/3/2018)

Pelaku, warga Desa Tagagiri Tama Jaya Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir ini diringkus di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran saat mencoba akan melarikan diri.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Pelangiran IPTU Muhammad Rafi menerangkan bahwa penganiayaan itu berawal dari perselisihan masalah hutang piutang.

Lebih jauh IPTU M.Rafi menjelaskan, malam Senin, sekira pukul 20.00 WIB, korban mendatangi tersangka yang sedang berada di sebuah warung kopi. Ros kemudian menagih hutang sebesar Rp. 150 ribu kepada pelaku. Namun permintaan tersebut diacuhkan tersangka. Karena Ros terus mendesak, Jun bangkit emosi dan beranjak meninggalkan warung kopi tersebut, kembali ke rumahnya.

Satu jam kemudian, Jun mendatangi rumah kediaman Ros. Tanpa banyak tanya, Jun langsung membacok korban sehingga mengakibatkan Ros menderita luka di bahagian paha dan punggung. Melihat korban sudah terkapar, tersangka lalu melarikan diri. Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Pelangiran untuk perawatan atas luka yang dialaminya.

Polsek Pelangiran yang mendapat informasi tentang kejadian tersebut, mendatangi TKP dan melakukan pengejaran terhadap Jun.  Pelarian tersangka dapat dihentikan di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran tanpa perlawanan.

“Saat ini, tersangka bersama barang bukti sebilah parang panjang bergagang warna hitam sudah diamankan di Polsek Pelangiran untuk proses penyidikan lebih lanjut.”/ Diterangkan Kapolsek./ Ikhwan