Kampung yang Dikuasai Setan

Foto Ilustrasi: Net

Shalat jamaah adalah salah satu amalan harian rutin yang sering dijumpai masyarakat pada umumnya. Bagi kebanyakan orang, amalan tersebut seolah menjadi hal yang lumrah dan biasa. Oleh karena kelumrahan itulah, tidak jarang bila kebanyakan orang meremehkannya. Mereka dengan mudah mengabaikannya dengan dalih, “Shalat bisa dikerjakan di rumah, tidak harus di masjid.”

Fenomena di atas ternyata telah banyak menggejala bahkan menghinggapi diri setiap muslim. Mereka mendatangi masjid untuk shalat jamaah hanya pada hari Jumat ketika shalat Jumat dilaksanakan. Di luar waktu tersebut, masjid menjadi sangat lengang. Azan yang berkumandang hanyalah sebatas penunjuk waktu bahwa saat itu telah memasuki waktu shalat, tidak lebih. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering menekankan kepada umatnya untuk selalu melaksanakan shalat jamaah di masjid.

Bahkan dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setan akan menguasai suatu kampung yang tidak didirikan shalat jamaah di dalamnya. Imam Abu Dawud telah meriwayatkan dari Ma’dan bin Abi Thalhah Al-Ya’mari bahwa Abu Darda’a berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

  مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidaklah tiga orang dari suatu kampung atau pelosok yang di dalamnya tidak didirikan shalat (jamaah), melainkan mereka telah dikuasai setan. Hendaklah kalian berjamaah. Sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang jauh (dari kawanannya)’.” (HR Abu Dawud: II/251-252. Nasa’i: II/106. Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Shahîh At-Targhîb: I/244)

Zaidah meriwayatkan bahwa As-Saib berkata, “Maksud dari berjamaah adalah shalat berjamaah.”

Imam Ibnu Hibban telah memberi judul hadits ini di dalam Shahih-nya: Pengaruh setan terhadap tiga orang jika mereka berada di sebuah padang atau kampung dan mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah. (Al-Ihsân fî Taqrîbi Shahîh Ibni Hibbân: V/457)

Seandainya shalat jamaah bukan suatu kewajiban, maka setan tidak mungkin dapat menguasai mereka hanya karena mereka meninggalkannya.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan tentang keterkaitan hadits ini dengan wajibnya shalat jamaah, “Sisi pengambilan dalilnya ialah beliau telah memberitahukan bahwa setan akan menguasai mereka karena meninggalkan jamaah, yang syiar-syiarnya adalah azan dan iqamat shalat. Seandainya jamaah itu hanya sebuah anjuran, sehingga seseorang bebas memilih antara melakukannya atau tidak, niscaya setan tidak akan mampu menguasai orang yang meninggalkan jamaah dan syiarnya.” (Kitab Ash-Shalâh hal. 73)

Ya, meninggalkan shalat jamaah sama saja menghilangkan syiar Islam. ketika nilai-nilai Islam mulai terkikis di suatu kampung, maka kekufuran pun akan berkuasa. Kezaliman  dan kemungkaran terus berkembang merajalela. Kebenaran dan keadilan akan sulit didapatkan. Sehingga kondisi ini tak ubahnya seperti kampung yang sedang dikuasai setan.

 

Penulis: Fakhruddin/kiblat.net




Ingin Jadi Perawat di Jepang? Peluang Banyak, Catat Ini Syaratnya

Ilustrasi caregiver asal Indonesia. Foto: Thinkstock

detikriau.org – Jumlah lansia di Jepang membludak, sehingga negaranya sendiri pun kewalahan untuk menyediakan tenaga perawat lansia. Inilah yang membawa peluang bagi tenaga kerja perawat di Indonesia untuk dikirimkan ke Negeri Sakura ini.

detikHealth mengabarkan, setidaknya, sekitar 35 ribu sampai dengan 40 ribu perawat dan caregiver yang dibutuhkan oleh Jepang dalam tenggat waktu 5 tahun ke depan. Akan tetapi, persyaratan yang diterapkan menjadi perawat profesional di sana tak mudah.

“Persyaratannya ketat, terutama soal bahasa. Jadi kita harus mempersiapkan kalau calon tenaga kerja itu bagaimana mereka mendapat belajar bahasa, supaya datang ke sini tuh enggak nol jadi tinggal dipoles lagi. Vietnam juga kirim dan mereka sudah ‘panggang’ sebelum berangkat,” ungkap Arifin Tasfir, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Jepang, di sela acara pertemuan bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI).

Sementara itu, ditemui dalam satu tempat yang sama, Bob Felix Tobing, Kepala Fungsi Protokoler/Konsuler di KBRI Tokyo, menjelaskan bahwa tidak ada kuota yang ditentukan dari kerjasama tersebut. Semua ditentukan berdasarkan persiapan dan juga jumlah tenaga kerja yang tersedia untuk dikirim ke sana.

“Jadi enggak ada targetnya, memang tantangan kita sekarang ini tentang tingkat kelulusan. Kelulusan para pemagang, ketika mereka lulus dari Indonesia ini kan mereka mengikuti pelatihan. Di sana dilatih dulu (Indonesia) sebelum berangkat, nanti dilatih lagi. Nanti mereka dites lagi selama tiga tahun, kalau lulus nanti jadi profesional perawat dan caregiver, kalau tidak ya kembali,” tandas Bob.

Dilansir detikFinance, Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Roostiawati beberapa waktu menjelaskan bahwa Pemerintah Jepang setidaknya membutuhkan 500 caregiver atau ‘kaigofukushisi’ dalam setiap tahunnya. Kebutuhan ini sulit dipenuhi dari tenaga kerja di Jepang sendiri karena populasi lanjut usia yang sangat besar, yakni penduduk di atas 100 tahun mencapai 15 ribu orang.




Mampukah DJP Kejar Rp 407,48 T Kekurangan Penerimaan Pajak?

Foto: Ari Saputra

Jakarta – Penerimaan pajak telah mencapai Rp 1.016,52 triliun atau 71,39% dari target APBN yang sebesar Rp 1.424,00 triliun. Di sisa waktu yang kurang dari dua bulan ini setidaknya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus mengumpulkan Rp 407,48 triliun lagi. Mampukah?

Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak mengatakan Hestu Yoga Saksama mengatakan pihaknya ditargetkan mengumpulkan penerimaan pajak hanya sebesar 94,9% atau Rp 1.350 triliun.

“Sesuai outlook APBN 2018, kami optimis penerimaan pajak sampai dengan akhir tahun bisa tercapai sebesar Rp 1.350 triliun atau 94,9% dari target Rp 1.424 triliun,” kata Hestu saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (20/11/2018) dilansir detikcom

Hestu menyebut, untuk mencapai target outlook penerimaan pajak 2018 juga butuh usaha ekstra, yaitu mempertahankan pertumbuhan penerimaan pajak di Oktober 2018 yang sebesar 17,6%.

“Target outlook tersebut akan tercapai apabila penerimaan 2 bulan terakhir ini tumbuh sekitar 17,6%, konsisten dengan pertumbuhan Januari sampai Oktober kemarin,” ujar dia.

Penerimaan pajak sampai Oktober 2018 telah Rp 1.016,52 triliun atau 71,39% dari target APBN. Angka tersebut kurang Rp 407,48 triliun dari target.

Hestu mengungkapkan, pihaknya tetap optimis penerimaan pajak bisa terkumpul 94,9% atau Rp 1.350 triliun dari target APBN karena tren akhir tahun penerimaan mengalami peningkatan.

“Karena belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat di akhir tahun. Untuk 2 bulan terakhir angkanya biasanya berkisar antara 20% sampai dengan 24% dari target total,” ujar dia.




Dokter Kerja Rodi Akibat Pemerintah Nunggak BPJS

Jakarta, detikriau — Permasalahan BPJS Kesehatan yang menunggak pembayaran pada rumah sakit merupakan ketidaksempurnaan sistem.

“Kalau ada dokter, perawat sekarang kayak kerja rodi tapi bayaran sangat kecil. Bukan cuma itu rumah sakit juga kebanyakan nunggak pemerintah,” ujar Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) Mardani Ali Sera dalam deklarasi Emak-Emak Indonesia Jaya (Mak Ija) di Duren Sawit, Jakarta, Selasa (20/11) dilansir rmol.co

Seharusnya, kata Mardani, sistem BPJS Kesehatan mempermudah akses bagi masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Kita akan perbaiki BPJS kita di 2019, BPJS harus membuat masyarakat tidak ngantri lagi. BPJS membuat dokter dan perawat  mendapat bayaran yang benar, BPJS harus bikin rumah sakit tidak rugi,” jelasnya.

Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) setidaknya hingga akhir 2018 defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp 10,98 triliun. Hal tersebut yang membuat pelayanan BPJS Kesehatan tidak maksimal.




Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

JAKARTA – Politikus Gerindra Bambang Riyanto optimistis Prabowo Subianto bisa menyelesaikan masalah honorer K2 (kategori dua). Keyakinan itu lantaran Prabowo dinilai sosok negarawan sejati.

“Bukan karena saya kader Gerindra lantas saya memuji Pak Prabowo. Beliau itu negarawan sejati, berani mengakui salah, minta maaf tanpa mengorbankan anak buah. Indonesia sekarang krisis negarawan sejati,” kata Bambang kepada JPNN, Selasa (20/11).

Mantan bupati Sukoharjo ini menambahkan, Prabowo sempat kaget mengetahui masalah honorer K2 yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit. Itu sebabnya, Prabowo pun sepakat memasukkan penyelesain masalah honorer K2 dalam program kerjanya.

“Pak Prabowo bukan melihat itu masalah warisan masa lalu atau enggak. Yang dilihat adalah anak bangsa, mengabdi puluhan tahun dengan gaji kecil tapi dibiarkan. Rasa kemanusiaan beliau yang menguat ketimbang pencitraan,” tuturnya.

Dia menambahkan, masyarakat saat ini bukan butuh sosok pejabat yang jago pencitraan. Yang dibutuhkan adalah sosok pembaru dan pemberi solusi.

Pemerintah merasa telah menyelesaikan masalah honorer K2 dengan mempercepat RPP Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, itu bukan solusi yang diharapkan honorer K2.

“Mereka itu layak dijadikan PNS bukan dikontrak. Yang dituntut honorer K2 kan janji pemerintah menyelesaikan secara bertahap. Sudah ada roadmap-nya di 2015 tapi malah menguap,” sesal anggota Badan Legislasi DPR RI ini




Bersaing dengan 72 Negara, Polri Raih Juara Menembak di Tiongkok

Tim Polri meraih juara pada ajang World Police Pistol Shooting Championship 2018 di Guangdong, Tiongkok, Senin (19/11/2018). (Foto: Istimewa/inews)

Jakarta — Kontingen Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berhasil meraih juara ketiga dalam ajang kejuaraan internasional World Police Pistol Shooting Championship 2018 di Provinsi Guangdong, Tiongkok, Senin (19/11/2018) kemarin.

inews.id mengabarkan, Dalam kejuaraan tersebut, tim penembak Polri menjadi juara pada nomor beregu dan perorangan. Kontingen Polri dipimpin Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose (selaku ketua tim) dengan lima anggota yaitu, Kombes Pol Drs Widodo, Komisaris Pol Kevin Leleury, AKP Anggi Saputra Ibrahim, Aiptu Sonny Prabowo, dan Aiptu Anang Yulianto.

“Ini menjadi prestasi yang sangat membanggakan bagi Indonesia, khusunya Polri karena berhasil membentangkan atau mengibarkan bendera pusaka Indonesia yaitu Bendera Merah Putih dalam ajang internasional di negeri tirai bambu,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (20/11/2018).

Dia menuturkan, keberhasilan tim penembak Polri memenangkan juara ketiga di Tiongkok menjadikan nama Indonesia diperhitungkan dalam kemapuan menembak pistol di seluruh dunia. Prestasi itu sekaligus mengharumkan nama Indonesia dalam sejarah ajang World Police Service Shooting Company.

Kejuaraan yang diselenggrakan pada 12–20 November 2018 itu diikuti 73 negara dari seluruh dunia. Lomba itu bertujuan untuk mendorog anggota polisi di seluruh dunia agar terus meningkatkan kemampuan menembak dalam meningkatkan efisiensi penggunaan senjata dalam bertempur dan juga dapat meningkatkan komunikasi polisi antarnegara, terutama dalam kerja sama di bidang keamanan.

“Dengan bukti prestasi saat ini, Polri optimistis dapat mengharumkan nama Indonesia dalam ajang selanjutnya, yaitu Asean Police Shooting, yang akan dilangsungkan di Milan, Italia,” tutur Dedi.