Tiga Masalah Pendidikan Ini Prioritas Wakil Bupati Inhil

Wakil Bupati Inhil, H Syamsuddin Uti (dua dari kanan)  diabadikan detikriau.org disela kunjungannya di kantor Kesbangpol Inhil

Tembilahan, detikriau.org – Wakil Bupati Inhil, H Syamsuddin Uti janjikan akan lebih fokus benahi berbagai persoalan di dunia pendidikan. Tidak hanya masalah sarana dan prasarana, pemerataan tenaga didik serta penuntasan pungutan liar juga akan diprioritaskan.

“masalah pendidikan akan saya prioritaskan. Bantu saya dengan memberikan informasi berkaitan dengan masalah pendidikan di Inhil,” Pintakan Wabup saat berbincang dengan detikriau.org ditemui disela kunjungannya dikantor Kesbangpol Inhil akhir pekan kemaren.

Meski baru menjabat, Wabup mengaku sudah menerima cukup banyak informasi masalah pendidikan di Inhil. Diakuinya, saat ini masih cukup banyak ditemui gedung sekolah yang masih kurang layak termasuk perlengkapannya. Hanya saja untuk membenahi kekurangan ini menurut Wabup tentu membutuhkan waktu dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang dimiliki.

Tidak hanya itu kata Wabup juga, pemerataan tenaga didik juga perlu untuk dijadikan perhatian. Kedepan ia mengaku akan terus berupaya agar tidak lagi ada sekolah, terutama di daerah yang kekurangan guru.

“pemerataan penyebaran tenaga didik, itu penting, agar setiap anak di bumi hamparan kelapa ini mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, baik itu di kota maupun di desa,” tekankan Wabup.

Dikatakan Wabup juga, dalam program 100 hari kerjanya bersama Bupati Inhil HM Wardan, khusus untuk Dinas Pendidikan, salah satunya adalah melakukan sosialisasi masalah saber pungli.

“Pengetahuan yang cukup akan pungutan-pungutan yang dikategorikan sebagai pungli itu tentunya agar dipatuhi dan akhirnya akan berdampak meminimalisir beban biaya yang harus dikeluarkan orang tua siswa”. Akhirinya. [faisal]




Pengamat CIIA: Catatan Khusus Bagi Pemangku Kepentingan Terkait Aksi Brutal Separatis OPM

foto: Internet

Detikriau.org – Aksi brutal pembunuhan yang dilakukan kelompok separatis OPM bukanlah aksi spontanitas. Aksi yang sudah di rencanakan untuk mencapai target-target kepentingan mereka. 

Demikian disampaikan oleh Pengamat Intelijen dan Terorisme Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, dikabarkan voa-islam.com

Oleh karena itu, menurut Harits ada beberapa catatan agar menjadi perhatian semua pihak khususnya kepada pemangku kebijakan.

Pertama katanya, bisa jadi aksi brutal dan terorisme yang OPM lakukan adalah pesan kepada pemerintah Indonesia dan publik bahwa mereka masih eksis dan terus bergerilya melakukan perlawanan.

“Mereka mengambil momentum sekitar 1 Desember sebagai hari penting bagi perjuangan mereka. Sebagaimana publik ketahui di saat 1 Desember dibeberapa kota seperti Surabaya, komponen atau anasir dari kelompok separatis OPM melakukan unjuk rasa menuntut kemerdekaan,” katanya dalam keterangan tertulisnyaRabu (05/12).

“Kedua, publik menunggu ketegasan dan keseriusan pemerintah Jokowi untuk menumpas ancaman aktual dalam wujud teroris separatis yang beroperasi di wilayah Papua dan seluruh sayap underbownya yang gerak senyap diberbagai instansi dan wilayah di Indonesia,” lanjutnya.

Catatan ketiga pemerintah, lanjut Harits perlu juga kiranya transparan menjelaskan kepada publik kenapa sekarang kelompok separatis OPM dilabeli sebagai KKB/KKSB (kelompok kriminal bersenjata/kelompok kriminal sipil bersenjata)?

“Karena orang yang cermat dalam masalah ini tentu paham, bahwa pelabelan tersebut ada konsekuensinya baik pada aspek; politik, hukum, isu HAM, aspek penindakan oleh siapa dan seperti apa, bahkan juga masuk di ranah nomenklatur anggaran,” jelasnya.

“Di sisi lain juga terkait sikap dunia internasional atas penanganan teroris separatis OPM oleh pemerintah Indonesia. Dan Independensi Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan di uji dalam kasus ini,” tambahnya.

Menurut Harits, catatan keempat perlu diingat bahwa aksi teror dari kelompok teroris separatis kerap terjadi dan korban tidak hanya aparat TNI/Polri tapi juga masyarakat sipil telah menjadi target mereka.

“Oleh karena itu publik berharap ada tindakan tegas, taktis dan strategis harus segera di gelar oleh pemerintah dengan dukungan politik dari parlemen. Sehingga ada keputusan politik yang terukur demi menjaga tanah dan segenap tumpah darah warga negara Indonesia dari rongrongan separatisme,” paparnya

“Kelima, demi menjaga dan mewujudkan kedaulatan NKRI maka pemerintah tidak boleh mentolerir ancaman aktual yang datang dari teroris separatis. Pemerintah jangan hanya sibuk pada ancaman-ancaman asumtif tapi tidak kelihatan sigap terhadap ancaman aktual yang sudah jelas-jelas banyak menimbulkan korban nyawa bahkan mengoyak rasa aman dan ketentraman masyarakat luas di wilayah Papua,” pungkasnya.

 




Menhan: Pembantai Pekerja di Nduga Bukan KKB Tapi Pemberontak

(ANTARA FOTO/Puskom Kemhan-Juli Syawaludin)

detikriau.org –Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut, pelaku penembakan terhadap sejumlah pekerja PT Istaka Karya yang tengah melakukan pembangunan jalan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, pada Ahad (2/12/2018) merupakan kelompok pemberontak.

Ryamizard tak sepakat bila kelompok separatis itu hanya disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Mereka bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kalau sudah nembak-nembak gitu ya, tidak ada kriminal nembak sebanyak itu,” kata Menhan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 4 Desember 2018 dilansir dari Antaranews.com.

Ryamizard menjelaskan alasannya menyebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebagai pemberontak lantaran kelompok itu ingin memisahkan Papua dari Indonesia.

“Mereka itu bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kenapa saya bilang pemberontak? Ya kan mau memisahkan diri, (memisahkan) Papua dari Indonesia. Itu kan memberontak bukan kriminal lagi,” tegasnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini menyebutkan TNI harus turun tangan dalam menangani persoalan kelompok bersenjata di Papua. Menurut dia, penanganan kasus itu juga menjadi tugas pokok Kementerian Pertahanan.

“Ini tugas pokok Kementerian Pertahanan, tugas pokok juga untuk TNI, yakni menjaga kedaulatan negara, menjaga keutuhan negara dan menjaga keselamatan bangsa,” tutur Ryamizard.

Sebelumnya Kabidhumas Polda Papua Kombes Pol A.M. Kamal menginformasikan bahwa 31 orang telah meninggal dunia dan satu orang hilang diduga karena dibunuh oleh KKB di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Ia menduga sebanyak 24 orang dibunuh di hari pertama, delapan orang yang berusaha menyelamatkan diri di rumah anggota DPRD, tujuh di antaranya dijemput dan dibunuh KKB dan satu orang belum ditemukan.

Kombes Kamal menambahkan bahwa para korban adalah pekerja proyek Istaka Karya yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak.

“Dari informasi masyarakat bahwa pembunuhan terhadap para pekerja proyek Istaka Karya terjadi pada hari Minggu, 2 Desember 2018,” kata Kamal.

Peristiwa pembunuhan itu baru diketahui ketika kendaraan yang membawa para pekerja ke lokasi proyek tidak kembali sesuai jadwal.

“Dari informasi bahwa satu mobil Strada yang membawa 15 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya sampai saat ini belum kembali ke Wamena,” katanya.

Atas informasi tersebut tim personel gabungan TNI dan Polri mengecek lokasi proyek dan di tengah perjalanan didapat informasi bahwa jalan menuju lokasi sudah diblokir oleh KKB.

“Saat tiba di kilometer 46, tim bertemu dengan salah satu mobil dari arah Distrik Bua dan menyampaikan untuk tim segera balik karena jalan diblokir oleh Kelompok Kriminal Bersenjata,” ujar Kamal.

Pihaknya menyatakan akan berupaya untuk segera menangkap pelaku.




Gempa Lagi, Kali ini di Kepulauan Talaut dengan Magnitudo 5,3

Laporan: Amrul

Detikriau.org – Pukul 15:13:55 Wib, rabu (5/12) gempa dengan magnitude 5,3 guncang provinsi Sulawesi Utara.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengabarkan bahwa gempa berpusat di 54 km Barat Laut Kepulauan Talaut atau pada titik koordinat 4.27 LU – 126.28 BT pada kedalaman 67 km.

“tidak berpotensi tsunami.” Tulis BMKG melalui laman resminya.




Aksi Kejam KKB Dipimpin Langsung Egianus Kogoya

Detikriau.org – Tim gabungan TNI dan Polri hingga Selasa (4/12) masih berusaha menjangkau Distrik Yigi, lokasi pembangunan jembatan Trans Papua yang diserbu KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata).

Jpnn.com mengabarkan, kemarin pasukan gabungan itu masih tertahan di Distrik Mbua. Mereka bergerak bersama-sama dari Wamena di Kabupaten Jawawijaya melalui jalur darat. Butuh waktu sekitar 8 sampai 12 jam untuk menjangkau Distrik Yigi dari Wamena.

”Tentu pergerakan itu kami tidak mempertimbangkan kecepatan. Tapi, kami pertimbangkan keamanan,” Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi.

Tugas awal mereka tidak lain memastikan seluruh informasi yang diterima oleh TNI maupun Polri. Mereka perlu melakukan itu lantaran informasi awal masih satu arah. Petugas tidak bisa mengonfirmasi ulang karena terkendala akses komunikasi.

Sejauh ini, analisis dan identifikasi Kodam XVII/Cendrawasih merujuk informasi awal. Salah satunya soal pimpinan KKB yang diduga menghabisi puluhan pekerja bangunan itu.

Menurut Aidi mereka adalah kelompok lama yang selama ini berbasis di Nduga. Yakni KKB pimpinan Egianus Kogoya. Akhri Oktober lalu, mereka juga beraksi di Mapenduma. Distrik yang lokasinya bersebaeahan dengan Distrik Yigi. Di Mapenduma mereka menyandera dan memerkosa guru.

”Dia yang melakukan penganiayaan terhadap guru dan tenaga kerja yang ada di Mapenduma,” imbuhnya.

Walau belum bisa memastikan, Aidi menuturkan, tidak menutup kemungkinan puluhan pekerja PT Istaka Karya diburu dan dibunuh oleh kelompok tersebut karena mereka merasa terusik. Minggu (1/12) kelompok itu melaksanakan upacara guna memeringati hari kemerdekaan Papua Barat.

Aktivitas itu lantas diabadikan oleh pekerja yang membangun jembatan di sana. ”Sehingga mereka marah,” ungkap Aidi.

Selain itu, sambung Aidi, kelompok tersebut memang sudah lama tidak senang dengan upaya pemerintah membangun Papua. Mereka khawatir pembangunan itu membuat masyarakat semakin percaya dan yakin untuk teguh membela NKRI.

Sebab, pelan-pelan pembangunan infrastruktur membuat masyarakat kian mudah beraktivitas. ”Makin banyak masyarakat pro terhadap NKRI, mereka merasa terhambat perjuangannya,” tuturnya.

Beragam aksi teror yang ditebar oleh KKB kerap dibuntuti tuntutan agar pemerintah melepaskan Papua. Karena itu, Aidi menyebut, setiap usaha membangun Papua terus mereka ganggu. Bukan hanya pekerja yang membangun infrasruktur, aparat keamanan dari TNI dan Polri juga kerap jadi sasaran. Bahkan, tidak sedikit dari mereka kehilangan nyawa. Senjata api yang dimiliki KKB juga banyak diperoleh dari merampas milik petugas.

Senjata api itu pula yang diduga kuat mereka gunakan untuk menyerang pekerja bangunan PT Istaka Karya. Hingga banyak di antara para pekerja itu meninggal dunia. Tidak sampai disitu, Senin malam (3/12) mereka juga beraksi dengan menyerbu Pos Batalyon Infanteri (Yonif) 755/Yalet.

Menurut Wakapendam XVII/Cendrawasih Letkol Infanteri Dax Sianturi, pos itu berada di wilayah Distrik Mbua. Distrik yang juga berdekatan dengan Distrik Yigi.

Pria yang akrab dipanggil Dax itu menyampaikan, personel gabungan TNI dan Polri yang bertolak dari Wamena tiba Pos Yonif 755/Yalet sekitar pukul 14.00 WIT kemarin. ”Didapat informasi bahwa Pos Yonif 755/Yalet di Distrik Mbua juga diserang oleh KKSB pada kemarin malam (Senin) sekira pukul 18.30 WIT,” ujarnya. Akibat serangan itu, seorang prajurit TNI meninggal dunia. Sedangkan seorang lainnya terluka.

Usai mendapat laporan tersebut, personel gabungan TNI dan Polri lantas menysir Distrik Mbua. Mereka juga beristirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Distrik Yigi. ”Jarak dari Distrik Mbua ke Distrik Yigi masih sekitar sepuluh kilometer,” jelas Dax. Tentu saja dengan medan yang tidak mudah ditempuh. Dari Distrik Mbua, personel gabungan itu mengevakuasi 12 orang masyarakat sipil.

Seluruhnya terdiri atas dua orang pekerja bangunan di SMPN Mbua, enam orang pekerja bangunan Puskesmas Mbua dan empat orang karyawan PT Istaka Karya. Dari 12 orang tersebut tiga di antaranya didapati mengalami luka-luka. ”Tiga (karyawan) PT Istaka Karya luka tembak,” ungkap Dax.

Dia pun menyebut, 12 orang tersebut berhasil dievakuasi ke Wamena pada pukul 17.55 WIT menggunakan helikopter.

Berdasar data dari Kabidhumas Polda Papua Kombespol A. M. Kamal, pasukan gabungan TNI dan Polri memang sudah menjangkau Distrik Mbua kemarin. Mereka lantas melanjutkan perjalanan ke Distrik Yigi dengan berjalan kaki. ”Dalam perjalanan inilah ditemukan empat orang pekerja,” jelasnya. Empat pekerja itu, sambung dia, sedang berjalan kaki dan mengalami luka yang cukup parah.

Empat orang itu terdiri atas dua pekerja PT Istaka Karya bernama Martinus Sampe dan Jefrianto. Nama kedua mengalami luka tempat di pelipis kiri. Sedang Martinus kena tembak pada kaki kiri. ”Mereka melarikan diri dari kejaran KKB,” ujarnya.

Dua orang lainnya bernama Irawan yang merupakan pekerja Telkomsel dan John petugas yang terdata sebagai petugas puskesmas. Mereka berdua tidak mengalami luka.

”Dari keterangan keempatnya diketahui bahwa sebuah pos TNI diserang oleh KKB dan seorang anggota TNI meninggal Dunia,” tuturnya. Dari keterangan mereka pula diketahui bahwa KKB yang melakukan pembantaian dipimpin Egianus Kogoya.

Saat melakukan penyerangan tersebut diketahui dengan dibantu warga sebanyak 250 orang. Dengan jumlah tersebut tentunya TNI dan Polri perlu kekuatan tambahan. Sebab, jumlah mereka saat ini 153 orang.

Sabtu (1/12)

Seorang pekerja ketahuan memotret peringatan OPM pada 1 Desember. Dia dikejar oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya hingga ke basecamp pekerja. Puluhan pekerja ditembak. Delapan orang berhasil kabur.

Minggu (2/12)

Delapan pekerja yang melarikan diri ditolong anggota DPRD. Namun, KKB menjemput delapan orang tersebut dan mengeksekusi tujuh di antaranya. Satu orang berhasil kabur.

Senin (3/12)

Polri dan TNI mendapatkan laporan pembantaian tersebut. Satu peleton pasukan gabungan dikerahkan. Namun, jalan diblokade oleh KKB.

Selasa (4/12)

Pasukan gabungan berupaya menjebol blokade. Di perjalanan ditemukan empat korban. Dua pekerja mengalami luka tembak di pelipis dan kaki. Ada pula seorang karyawan Telkomsel dan satu karyawan Puskesmas.

Catatan: Jumlah pekerja yang dibantai belum jelas, ada yang menyebut 24 dan ada yang menyebut 31 orang.

Sumber: Polri dan TNI

 




Sadis!, KKB Bantai Pekerja di Nduga Sambil Menari Kegirangan

detikriau.org – Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, aparat gabungan TNI-Polri terus berupaya mengevakuasi korban pembantaian yang merupakan pekerja PT. Istaka Karya, di Nduga, Papua.

Dilaporkan jpnn.com, sedikitnya ada 19 orang tewas dibantai kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Menurutnya, dari keterangan salah satu korban selamat dengan inisial JA, kejadian bermula ketika PT Istaka Karya memutuskan untuk tidak bekerja pada 1 Desember.

Pasalnya, pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat.

Lalu, pada pukul 15.00 WIT, kelompok KKB mendatangi tempat PT. Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan sejumlah 25 orang keluar. Mereka digiring menuju kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dan dikawal sekitar 50 orang KKB bersenjata campuran standar militer.

“Lalu, Minggu, 2 Desember 2018 pukul 07.00 seluruh pekerja dibawa berjalan kaki dalam keadaan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo, di tengah jalan mereka dipaksa berbaris dengan formasi 5 saf dalam keadaan jalan jongkok,” kata Aidi dalam keterangannya, Rabu (5/12).

Tidak lama kemudian, para KKB dalam suasana kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah.

Setelah itu KKB meninggalkan para korban melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Sementara, sebelas orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri. Namun malangnya, mereka terlihat oleh KKB sehingga dikejar.

“Lima orang tertangkap dan digorok oleh KKB (meninggal di tempat), enam berhasil melarikan diri ke arah Mbua. Dua orang di antaranya belum ditemukan dam empat orang selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” katanya.

Insiden ini berlanjut pada 3 Desember sekitar pukul 05.00 WIT, pos TNI 755/Yalet tempat korban diamankan diserang oleh KKB bersenjata standar militer campuran panah dan tombak, rupanya mereka tetap melakukan pengejaran.

Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah pos sehingga salah seorang anggota yonif 755/Yalet atas nama Serda Handoko membuka jendela sehingga tertembak dan meninggal dunia.

Anggota pos membalas tembakan sehingga terjadi kontak tembak dari jam 05.00 pagi hingga 21.00 WIT. “Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada 4 Desember pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan, saat itulah salah seorang anggota a.n Pratu Sugeng tertembak di lengan,” urai dia.

Pada Selasa 4 Desember 2018 pukul 07.00 WIT Satgas gabungan TNI-Polri berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban. Dalam insiden itu dipastikan 19 orang pekerja tewas dan satu anggota TNI gugur.