Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei - Opini - Arbindonesia
Mei 20, 2021

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei – Opini

IMG-20210520-WA0032

Pengurus HMI MPO Cabang Medan

Bagikan..

Opini – Rizki Rahayu Fitri, Ketua Umum HMI MPO Cabang Medan

ARBIndonesia.com – Hari ini tanggal 20 mei, adalah hari yang ditetapkan dalam rangka memperingati Kebangkitan Nasional yang digagas untuk memperjuangkan pendidikan bagi rakyat Indonesia (pribumi).

Pada 113 tahun silam, pemuda Indonesia yang didominasi oleh Mahasiswa STOVIA melakukan perkumpulan untuk membentuk sebuah pergerakan yang bernama Budi Utomo, gerakan ini dipimpin oleh Mahasiswa Kedokteran yang berpikiran intelektual pada zamannya seperti Dr. Supoemo, Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan Dr. Gunawan.

Organisasi ini juga di pelopori oleh kaum buruh agar cita-cita rakyat Indonesia untuk merdeka dapat terealisasi.

Notabenenya hari kebangkitan nasional merupakan hari lahirnya sebuah organisasi bernama Budi Oetomo pada 20 mei 1908 jauh 37 tahun sebelum Indonesia merdeka organisasi ini telah berdiri, untuk menumpas ketidaksetaraan kaum priayi terhadap pribumi kala itu.

Sejarah mencatat bahwasanya pendidikan kala itu hanya mendidik pribumi sebagai budak dari penjajah. Organisasi Budi Utomo hadir ditengah pengawasan hindia belanda yang massif atas pergerakan dari lahirnya organisasi budi oetomo.

Rasa syukur tak henti harus kita tanamkan dalam hati atas kerja keras dari para tokoh intelektual yang telah membuka jalan dalam proses menuntut ilmu tidak ada lagi pembeda antara koum priayi dan kaum pribumi.

Namun, 2021 bukanlah zaman yang tidak memiliki dinamika perkembangan zaman bukan saja sebuah kemajuan tanpa efek samping bagi generasi milinial penerus bangsa.

Kehadiran teknologi di abad ke-21 ini menjadi tantangan besar terhadap regenerasi, sebab teknologi tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang diinginkan oleh organisasi Budi Utomo.

Ketergerusan nilai adab dan moral terjadi karena regenerasi memiliki hobi ‘dzikir teknologi’, sampai lupa waktu dan kerjaan.

Menelisik pada masa lampau, semua orang kala itu ingin merasakan kecanggihan pada masa kini, era ini pemuda sangat piawai dalam menelanjangi teknologi, juga banyak harapan yang ingin di implementasikan dari pemuda untuk bisa melahirkan gaya baru untuk menumbuhkan resolusi apa yang bisa diberikan untuk Negara.

Melihat negara selalu berduka baik dari alamnya, manusianya, serta pemerintahannya, peran pemuda masih minim untuk menumbuhkan resolusi tersebut.

Faktanya kecanggihan tekhnologi belum mampu menyelesaikan dengan sekali sentuhan saja.

Problematika di negeri ini sangat using sekali, sehingga tidak salah jika regenerasi menjadi apatis. Kenapa demikian?, tentu yang menjadi persoalan tidak lain yaitu ‘tikus berdasi’.

Seseorang atau individual yang memiliki pangkat, jabatan dan pendidikan tinggi tapi punya keahlian khusus menjadi pencuri berdasi.

Tentu ghirah dari setiap pemuda dalam meningkatkan kemajuan bangsa ini menjadi lesu, bahkan anak-anak saja juga paham akan pencuri berdasi yang dipertontonkan di negeri lawak-lawak ini.

Pendalaman-pemahaman nilai moral kini telah dicabut dalam kurikulum pendidikan, pengamalan moral dan pancasila kini ditertawakan sama pemerintah sendiri. Sangat layak dan pantas negeri ini dikatakan negeri lawak-lawak.

Padahal untuk mengingat momen hari kebangkitan nasional maka pemuda beserta regenerasi dibawahnya harus ditanamkan habid atau kebiasaan mempelajari dan memahami perjuangan, menghargai, menanamkan lima nilai sila pancasila, dan menanamkan diingatan sejarah pengorbanan pahlawan.

Dinamika di negeri ini banyak, pemuda jangan lagi bersikap apatis, semakin apatis semakin memberi peluang terhadap ‘pencuri berdasi’ yang duduk di ‘kursi panas’ negeri ini.

Pandemi belum lagi berakhir, mau sampai kapan kita seperti ini?, Jikalau aksi kita dikebiri maka harus berani mengkritisi melalui teknologi.

Kendati demikian kita selaku harapan orang tua, bangsa, serta pahlawan masa lalu ada baiknya memberi perubahan dengan cara tidak bermalas-malasan, melakukan hal produktif yang bisa membanggakan kedua orang tua dan bangsa, memberantas korupsi dari yang terkecil, membantu pemulihan ekonomi dengan mengusulkan ide-ide kreatif anak bangsa, pergunakan tekhnologi sesuai pada fungsinya.

Penulis: Rizki Rahayu Fitri
(Ketua Umum HMI MPO Cabang Medan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *