Februari 23, 2024

KADINKES: KRITIKAN DEWAN LEBIH DIDASARI DARI KETIDAKMENGERTIAN

Bagikan..

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Kritik pedas atas Kesan cuek Dinas Kesehatan Inhil menyikapi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kini telah menyerang hampir seluruh Kabupaten/Kota di Riau diterima Kadis Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Indragiri Hilir, Rasul Alim dengan jiwa besar. Menurutnya, yang namanya kritikan memang harus pedas untuk mengingatkan dirinya agar memberikan pengabdian pada masyarakat dengan lebih baik kedepannya.

“yang namanya kritikan memang sudah semestinya harus dilontarkan dengan pedas, kalau tidak pedas, bukan kritik namanya. Yang jelas. Menyikapi penyebaran DBD, Dinkes bukan hanya berpangku tangan. Untuk lakukan tindakan sudah ada ukuran dan prosedur kerjanya. Seperti DBD, bukan setiap kali ada kejadian kita harus langsung lakukan fogging. Sekali lagi ada ukurannya,”Kata Rasul memberikan jawaban ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya, Rabu (9/11/2011).

Menurut Rasul, kritikan yang dilontarkan Komisi IV kepada dirinya itu disebutkannya timbul hanya karena unsur ketidakmengertian. Rasul malah mempertanyakan, apakah memang harus setiap kerja yang dilakukan Dinkes dilaporkan seketika itu juga ke Komisi IV DPRD Inhil?.”Saat ini kita baru tetapkan untuk kasus DBD dalam kategori “Waspada Dini”. Artinya, tindakan dilakukan melalui Puskesmas-Puskesmas yang ada.  Kategori selanjutnya “Siaga I” baru kemudian bisa diusulkan KLB. Sekali lagi ada level-level tindakannya sesuai kondisi riil dilapangan,” Terang mantan Direktur RSUD Puri Husada ini sambil tertawa kecil.

Rasul juga menerangkan, saat ini dirinya sedang berada di Kota Baru dalam rangka memantau langsung pelaksaan gotong royong yang dilaukan petugas kesehatan dengan masyarakat.”Menangani DBD hanya kita kenal dengan istilah 3 M,  Mengubur, Menutup dan Menguras Tidak ada yang namanya membersihkan. Jadi sifat gotongroyongnya ya harus disesuaikan dengan motto 3 M itu, sekali lagi sesuai ketentuan bukan dengan cara kerjaserampangan dan malah tidak memberikan hasil yang jelas,”Katanya dengan panjang lebar.

Diterangkan kembali oleh Rasul, untuk provinsi Riau, yang paling potensial diserang DBD adalah Kota Pekanbaru dan Kabupaten Indragiri Hilir. Dan sampai saat ini menurutnya, dari seluruh Kabupaten/Kota, hanya Inhil yang belum menyatakan KLB. ”artinya apa? Sesuai kriteria kejadian riil dilapangan, kita memang belum bisa mengusulkan kejadian ini sebagai KLB. Karena menurutnya, Dinkes sudah bekerja dan mengantisipasi kejadian ini jauh-jauh hari terutama antisipasi penyebaran penyakit menular yang disebabkan pergantian musim.” Kita memang akui adanya kejadian DBD di Inhil namun tidak meluas,”Sanggah Rasul dengan tutur kata tenang. (fsl)