Akhir Kisah Si Namrud yang Angkuh di Tangan Nyamuk

Ilustrasi: Net

detikriau.org – Ribuan tahun sebelum Masehi, wilayah bumi dari Timur hingga Barat, dikuasai empat orang saja dengan daerah kekuasaan masing-masing. Mereka terdiri atas dua orang mukmin yang percaya kepada Allah SWT.

Sedangkan, dua penguasa lainnya berasal dari kalangan nonmukmin yang ingkar terhadap risalah keesaan-Nya. Dua pemimpin mukmin adalah Sulaiman bin Dawud dan Zulkarnain. Sementara, pemimpin yang tak beriman ialah Bakhtanshar dan Namrud bin Kan’an.

Nama pemimpin nonmukmin yang terakhir dikenal diktator, otoriter, dan zalim. Bahkan, Namrud pun disebut-sebut sebagai tiran berdarah dingin dan tak segan menghukum siapa pun yang menolak tunduk terhadap perintahnya. Ia sosok yang ingin dipuja hingga ia memproklamasikan diri menjadi tuhan yang wajib disembah rakyatnya.

Suatu saat, Nabi Ibrahim AS tengah datang menghadiri jamuan makan yang digelar Namrud. Para tamu undangan memilih berbagai menu yang terjamu di meja makan. Namrud bercengkerama dan bertanya pada tiap tamunya tentang siapakah tuhan mereka. Hampir tiap hadirin yang ia tanya menjawab, Namrudlah tuhan mereka.

Tiba giliran Ibrahim mendapat pertanyaan serupa. Terjadilah perdebatan singkat antara kedua tokoh tersebut. Betapa kagetnya Namrud mendapat jawaban yang tak biasa. “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” kata ayahanda Ismail itu menimpali pertanyaan Namrud.

Merasa dipermalukan, Namrud pun tidak mau kalah. Ia membantah argumentasi Ibrahim dan tetap bersikeras bahwa dirinya juga bisa menghidupkan makhluk atau mematikannya tanpa menyadari bahwa keistimewan itu hanya dimiliki oleh Allah Sang Khalik semata.
Reaksi ingkar Namrud pun sudah dapat dibaca dengan baik oleh Ibrahim. Ia pun bergegas mengutarakan argumentasi berikutnya tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Ibrahim menyatakan bahwa Tuhan yang ia sembah mampu mendatangkan matahari dari ufuk timur lalu menenggelamkannya di belahan bumi bagian barat. “Bisakah engkau wahai Namrud melakukan itu?” katanya mendebat Namrud.

Kisah itu terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 258, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Sang Diktator pun tak bisa berkutik dan kehabisan akal untuk kembali menyanggah pernyataan Ibrahim. Ia terdiam seribu bahasa. Merasa kalah, ia lantas memerintahkan untuk mengambil makanan yang telah diambil Ibrahim. Sosok bergelar khalilullah itu pun diusir dan lantas kembali tanpa merasakan kelezatan hidangan sang raja.

Ibrahim pulang ke rumah dengan tangan hampa di tengah perjalanan ia pun mengambil sekantong pasir lembut dan berdoa agar Allah memberikan rezeki kepada keluarganya. Sesampainya di rumah, Ibrahim beristirahat, perbekalan yang ia bawa, termasuk pasir dalam kantongnya ia taruh di sampingnya begitu saja.

Sewaktu tidur itulah, istrinya membuka perbekalannya dan ia mendapati ragam menu makanan yang nikmat. Ketika Ibrahim bangun, istrinya bertanya dari manakah suaminya itu mendapat makanan lezat begitu banyaknya. Ibrahim sadar, Allah telah memberikan rezeki kepada segenap keluarganya.

Kisah Namrud, tak terhenti pada kegelisahannya. Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui Namrud dan mengajaknya beriman. Sekali, dua kali, ajakan tersebut ditolak. “Memangnya ada tuhan selain aku,” kata Namrud sesumbar.

Di kali yang ketiga, ajakan malaikat itu pun mendapat respons tak sedap. Akhirnya, malaikat meminta agar Namrud mengumpulkan sejumlah warganya di pelataran istana. Permintaan itu dikabulkan.

Pada hari yang telah ditentukan Allah mengirim ribuan nyamuk atau sejenis serangga ganas menyerang mereka yang telah berkumpul di sana. Serangga itu memakan habis mereka dan hanya menyisakan tulang belulang. Si malaikat masih berdiri tegak, tak tersentuh serangan mematikan serangga-serangga itu.

Namrud mencoba meloloskan diri dan sembunyi di ruang khususnya. Serangga-serangga itu mengejar. Di persembunyiannya, ia berusaha mengusir nyamuk itu sekuat tenaga dengan memukul-mukulkan papan ke kepalanya.

Kondisi itu bertahan hingga 400 tahun lamanya. Ia pun meninggal dalam kondisi mengenaskan, bukan karena serangan tombak atau hujaman anak panah, melainkan sang diktator itu tewas akibat serangga kecil.

Kisah ini mengisyaratkan tentang kebesaran Tuhan. Allah berkuasa membalas keangkuhan manusia yang congkak dan menumbangkannya dengan perkara sepele, seperti kisah makar dan konspirasi Abrahah dengan pasukan gajahnya yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Kedigdayaan pasukan gajahnya ditumpulkan dengan pasukan kecil berupa gerombolan burung ababil ataupun kisah tentang kematian Fir’aun yang mengaku tuhan. Penguasa Mesir itu meninggal tenggelam di Laut Merah.

Sumber : Islam Digest Republika




Terungkap, Implan Payudara Sebabkan Kanker Langka

laporan: abc.net.au

Carol Camilleri melakukan implan payudara untuk memperbaiki dadanya yang tak seimbang.
(ABC News: Tom Hancock)

Seorang warga Australia Carol Camilleri menjalani operasi implan payudara pada 2014. Tiga tahun kemudian, dia divonis dokter mengalami kanker darah yang langka.

Implan tersebut dia lakukan untuk memperbaiki dadanya yang tak rata. Namun belakangan terjadi pembengkakan di payudara kirinya. Dia mulai merasakan sakit.

Pemeriksaan dokter menemukan adanya limfoma sel besar anaplastik terkait implan payudara (BIA-ALCL) dengan tumor ganas. Ini sejenis kanker darah yang langka.

“Sangat menakutkan karena mereka terus mengatakan ini sangat langka. Yang saya dengar cuma kematian, sekarat, mati,” katanya kepada ABC.

Camilleri hanya satu dari banyak wanita yang kena kanker karena implan payudara bertekstur yang mereka lakukan.

Tak seperti implan payudara halus, ahli bedah menyebut bakteri jauh lebih mungkin tumbuh di alur implan bertekstur, sehingga memicu limfoma.

Laporan ABC mengenai kasus BIA-ALCL ini adalah bagian investigasi International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) terhadap alat-alat medis yang ditanam di tubuh pasien.

Disebutkan hanya 29 dari 72 kasus kanker jenis ini yang tercatat dalam database Therapeutic Goods Administration (TGA) di Australia.

Ahli bedah Profesor Anand Deva yang berinisiatif menghubungi para dokter di seluruh Australia untuk mengumpulkan data prevalensinya kasus kanker ini.

Diketahui antara 2012 dan 2015, kasus limfoma baru meningkat tajam di Australia sementara TGA tetap tak menyadari permasalahannya karena kekurangan data.

Dalam periode tersebut, regulator masih menyampaikan agar para wanita Australia tak perlu khawatir dengan kondisi yang muncul akibat implan payudara. Implan ini, katanya, “aman dan efektif”.

Hal serupa terjadi di Amerika Serikat hingga 2017. Pihak Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) mengizinkan pemasok implan payudara untuk menyembunyikan kerusakan yang disebabkan produk mereka pada pasien.

Analisis ICIJ dari data FDA menemukan jumlah cedera implan payudara melonjak menjadi lebih dari 4.500 kasus pada tahun 2017. Hampir 8.300 kasus terjadi pada semester pertama 2018.

Banyak dokter tak melaporkan

Kurangnya pemahaman pihak berwenang TGA terhadap munculnya jenis limfoma ini pada pasien tidak mengejutkan para pakar di Australia.

Database TGA memungkinkan dokter, pasien, dan produsen mencatat efek samping perlatan medis mereka di pasaran.

Namun data ini tidak lengkap karena hanya pabrikan yang wajib membuat laporan dan sangat jarang pasien yang mengtahuinya.

Banyak dokter yang tak membuat laporan adanya efek samping implan payudara.

“Seperti lubang hitam. Semua implan ini dilakukan, sebagian wanita pergi ke Thailand atau apalah. Kita tidak tahu apa yang terjadi,” kata Profesor Deva.

Professor Anand Deva mengumpulkan data kasus kanker di kalangan pasien yang melakukan implan payudara.
(ABC News: Jack Fisher)

Menurut Profesor Deva, para dokter seharusnya diwajibkan melaporkan potensi permasalahan yang ditimbulkan peralatan medis seperti implan. Jika tak melakukannya, dokter misalnya bisa dihukum.

Seorang pengacara Libby Brookes dari kantor hukum Maurice Blackburn yang terkenal di Australia telah menghubungi sejumlah pasien, termasuk Camilleri.

“Saya sangat kaget dengan kelemahan sistem regulasi dan pemantauan peralatan medis dan implan di Australia,” kata Brookes.

“Secara akal sehat, jika keselamatan pasien memang jadi prioritas, maka harus ada kewajiban membuat laporan bagi para dokter,” tambahnya.

TGA berdalih telah berusaha mengatasi permasalahan ini dengan mewajibkan kartu implan peralatan medis dan brosur informasi pasien.

Kini ahli bedah kini harus memilih untuk tidak melanjutkan operasi implant payudara jika tindakan mereka itu tak ingin dicatat dalam Registrasi Peralatan Payudara.

Tahun ini, 90 persen ahli bedah payudara telah memasok data pasien, meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

TGA juga telah menggelar kelompok ahli pada 2016 dan 2018 untuk mempelajari lebih lanjut jenis baru limfoma tersebut.

Tanggapan produsen implan payudara

Produsen implan payudara yang jumlah kasus limfoma tertinggi di Australia adalah Allergan yang berbasis di Dublin.

Setelah kasus awal ALCL terdeteksi di Australia dan di negara lain, yang mencakup produk-produk Allergan, perusahaan ini merilis penelitian dengan angka-angka yang sangat rendah.

Mereka menyebutkan bahwa tingkat limfoma yang terjadi kurang dari satu kasus untuk 100.000 implan payudara.

Namun pendapat ahli terbaru justru menyebutkan kasusnya satu dari 1.000 implan payudara.

Menurut Profesor Deva penelitian yang dikutip pihak produsen tersebut mengecilkan risiko kepada pasien.

TGA sendiri menyatakan sebagai regulator di Australia pihaknya menggunakan berbagai sumber informasi untuk menentukan risiko suatu perangkat medis.

Profesor Deva mengaku kesulitan meyakinkan koleganya mengenai masalah kanker darah yang langka ini.

“Saya kira ketika data semakin banyak muncul, hal itu mengancam orang. Mengancam bisnis mereka. Mata pencaharian mereka,” katanya.

Analisis ABC News menunjukkan pada setelah studi yang dilakukan produsen Allergan dirilis pada 2012, laporan kasus kanker menjadi stagnan dan peringatan dari pihak berwenang tak diperbarui.

Padahal, tiga tahu setelah rilis dari Allergan itu, kasus ALCL justru meningkat.

“Kami terus bekerja sama dengan dokter, masyarakat dan otoritas pengawas di seluruh dunia untuk penelitian, pemahaman dan kesadaran tentang efektivitas dan keamanan implan payudara,” kata Allergan.

Belum ada penarikan produk

Sampai laporan ini diterbitkan, belum ada penarikan produk implan payuidara yang terkait dengan kanker ini dan sebagian besar masih beredar di pasaran.

“Semua data menunjukkan kasus ALCL akan sangat melonjak dalam 12 tahun ke depan,” kata Profesor Deva.

“Jadi, masih akan banyak kasus lagi yang muncul,” ujarnya.

Jurubicara TGA mengatakan penarikan produk tidak diperlukan karena penyebab limfoma tersebut tidak dapat dikonfirmasi.

Padahal, penelitian sudah jelas mengidentifikasi kaitan limfoma tersebut dengan implan payudara bertekstur, kombinasi dari bakteri tertentu dan predisposisi genetik terhadap penyakit.

Wakil sekretaris TGA, Profesor John Skerritt kepada ABC menyatakan penarikan produk tidak dapat dibenarkan.

“Ingat hal ini tak hanya digunakan untuk kosmetik dan juga digunakan buat wanita yang memiliki mastektomi untuk kanker,” katanya.

“Perangkat payudara sangat penting bagi harga diri dan ketenangan psikologis (pasien),” tambah Prof Skrerritt.

Profesor Deva mengatakan daripada menarik produk terkait, lebih baik menyediakan informasi lebih jelas mengenai risikonya bagi pasien.

Bagi pasien seperti Camilleri yang kini kondisinya sudah dinyatakan bebas dari tumor tersebut, tindakan TGA yang lambat sangat disayangkan.

“Bagaimana bisa mereka membiarkan kami mempertaruhkan hidup seperti ini?” ujarnya.

Baca berita ini dalam bahasa inggris disini




Waspada, Kasus Malaria Meningkat di Lebih dari 13 Negara

Waspada, Kasus Malaria Meningkat di Lebih dari 13 Negara (Surapol Usanakul/Shutterstock)

Jakarta – Jumlah orang yang terkena malaria meningkat pada tahun 2017, demikian menurut laporan World Malaria Report 2018 dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tercatat ada 219 juta kasus malaria pada 2017, naik dari 217 juta pada 2016. Pada tahun 2017, disebutkan juga bahwa ada 435.000 kematian akibat malaria secara global, dibandingkan dengan 451.000 kematian pada 2016.

Secara global klikdokter.com mengabarkan, hampir 80% kematian akibat malaria pada tahun 2017 terjadi di 17 negara di wilayah Afrika dan India. Tujuh dari negara tersebut memanggul 54% kematian akibat malaria: Nigeria (19%), Republik Demokrasi Kongo (11%), Burkina Faso (6%), Tanzania (5%), Sierra Leone (4%), Niger (4%) and India (4%).

Anak usia 5 tahun adalah kelompok yang terkena dampak malaria. Pada 2017, sebanyak 61% persen kematian akibat malaria terjadi pada anak-anak. Faktanya, setiap dua menit seorang anak meninggal dunia karena penyakit ini.

“Untuk benar-benar mengendalikan malaria, kita memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup tindakan pengendalian vektor dan diagnosis serta pengobatan dini, terutama di tingkat desa. Sebagian besar orang yang berisiko terinfeksi tidak mendapatkan perlindungan, termasuk wanita hamil dan anak-anak di Afrika,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director-General dari WHO, dilansir situs web who.int.
Sekilas tentang malaria

Penyakit malaria telah menyebar sejak lebih dari tiga ribu tahun lalu. Ia mengancam hampir di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 72 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah bebas malaria. Namun, masih terdapat 10,7 juta penduduk yang bermukim di zona endemis menengah dan tinggi malaria. Papua, Papua Timur, dan Nusa Tenggara Timur dikategorikan sebagai wilayah endemis tinggi malaria.

Penyakit malaria disebabkan oleh parasit jenis Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles. Akibatnya, Anda akan mengalami sejumlah gangguan kesehatan yang khas.

“Malaria ditandai dengan demam tinggi, menggigil, anemia, pembesaran limpa, dan terbilang berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Umumnya kematian terjadi bila malaria menyerang otak, karena dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan kejang,” ujar dr. Resthie Rachmanta Putri dari KlikDokter.

Untuk mencegah malaria, menurut dr. Resthie ada beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan di daerah endemis malaria, seperti:

Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang

Hal ini dilakukan selama beraktivitas di dalam dan luar rumah. Pilihlah pakaian dengan bahan yang nyaman, misalnya yang terbuat dari katun.

Oleskan insect repellent setiap 4-6 jam

Insect repellent, atau lebih dikenal dengan istilah losion antinyamuk, merupakan salah satu jenis pestisida yang aman untuk kulit tubuh dan efektif untuk menghalau nyamuk.

“Jika akan menggunakannya di pagi hari bersamaan dengan tabir surya, gunakan tabir surya terlebih dahulu. Sekitar 10 menit kemudian baru oleskan repellent. Jangan oleskan repellent di sekitar mulut dan mata,” kata dr. Resthie.

Gunakan kelambu di tempat tidur

Studi membuktikan bahwa di Indonesia, penggunaan kelambu sangat efektif untuk mencegah gigitan nyamuk penyebab malaria saat tidur.

Nyalakan pendingin ruangan atau kipas saat tidur

“Pada umumnya nyamuk enggan berada dalam ruangan bersuhu dingin. Jadi usahakan kamar tidur Anda memiliki udara yang sejuk,” tutur dr. Resthie.

Bagi Anda yang tinggal atau hendak bepergian ke daerah endemis malaria, Anda dapat menerapkan kiat-kiat yang sudah dijelaskan. Bicarakan juga dengan dokter apakah Anda membutuhkan obat antimalaria. Meski obat-obatan dapat mengurangi risiko, mengambil langkah untuk menghindari gigitan nyamuk juga penting untuk mencegah malaria.




Digigit Ular Berbisa Jangan Diikat atau Disedot, Mengapa?

Ilustrasi: Net

detikriau.org – Tercatat ada 235 ribu kasus gigitan ular terjadi di Indonesia setiap tahunya. Jumlah itu menempatkan kasus tersebut di urutan 10 besar penyakit dengan korban tertinggi. Namun, masih banyak yang tidak tahu cara pertolongan pertama terhadap korban.

Bukannya menyelamatkan, penanganan yang salah justru mengakibatkan korban semakin parah dan berakhir dengan kematian.

”Saya punya pengalaman di Merauke. Bidan bercerita, ada yang digigit ular di leher. Korban diikat di leher dengan tali agar bisa ular tidak menyebar. Tapi, orang itu akhirnya meninggal. Bukan karena gigitan ularnya, tapi karena tercekik,” ujar dokter spesialis emergency medicine subspesialis toksinologi Dr dr Tri Maharani MSi SpEm saat menjadi pembicara di Jawa Pos Buah Bibir di lantai 4 gedung Graha Pena Surabaya, Minggu (25/11) dikabarkan jpnn.com

Masyarakat sampai tenaga medis sering salah kaprah ketika memberikan pertolongan pertama terhadap korban gigitan ular berbisa. Selama ini masih banyak yang memercayai, untuk mengeluarkan racun ular di dalam tubuh, caranya adalah diikat atau disedot darahnya.

Padahal, cara-cara itu tidak terbukti mampu mengeluarkan bisa ular dari dalam tubuh. Penanganan yang keliru justru membuat racun dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh hingga berakibat fatal.

Selain itu, korban selama ini masih lebih percaya dengan pengobatan tradisional daripada penanganan medis. Misalnya, mengobati dengan obat-obatan herbal, menggunakan keris, batu akik, atau batu hitam.

Dokter Maha –sapaan akrabnya– yang juga penasihat WHO itu menegaskan bahwa cara-cara tersebut tidak terbukti mampu menyembuhkan. ”Riset WHO menyatakan, tidak ada satu pun cara pengobatan tradisional yang terbukti mengeluarkan venom (bisa ular) dari dalam tubuh,” tuturnya.

Racun ular, menurut dia, masuk ke tubuh melalui kelenjar bening, bukan pembuluh darah. Cara penanganan pertama yang tepat sebenarnya cukup sederhana. Yakni, dengan imobilisasi atau mendiamkan bagian tubuh yang terkena gigitan ular.

”Yang digigit di kaki jangan dibuat jalan. Kalau di bagian badannya, orangnya buat tiduran. Jangan dibuat bergerak,” kata Maha ketika menyampaikan materi pertolongan pertama saat digigit ular.




Bikin Aturan Baru, Facebook Lakukan 3 Hal Ini

Ilustrasi Penyebaran Hoax di Facebook. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta – Facebook menerbitkan standar komunitas baru untuk memantau konten yang masuk dalam platformnya. Selama dua tahun terakhir, Facebook telah berinvestasi dalam teknologi dan sumber daya manusia agar konten negative dapat dihapus dari platform dengan lebih efektif.

“Kami mengalami kemajuan dalam mengidentifikasi konten yang melanggar secara proaktif. Sebelum ada yang melaporkan konten tersebut, khususnya untuk ujaran kebencian dan gambar kekerasan,” ujar Vice President Product Management Facebook Guy Rosen, dalam keterangan tertulis, Kamis, 22 November 2018 dilansir dari Tempo.co

Berikut standar komunitas baru dan hal yang dilakukan oleh media sosial besutan Mark Zuckerberg itu;

1. Menemukan Konten yang Melanggar

Facebook mengalami kemajuan dalam mengidentifikasi konten yang melanggar secara proaktif, sebelum ada yang melaporkan konten tersebut, khususnya untuk ujaran kebencian dan gambaran kekerasan. Namun, masih ada bidang di mana kami masih harus berusaha lebih keras.

“Sejak laporan terakhir, jumlah ujaran kebencian yang terdeteksi secara proaktif, sebelum ada yang melaporkannya, meningkat dari 24 persen menjadi 52 persen. Sebagian besar postingan yang kami hapus karena ujaran kebencian,” kata Rosen.
Hal tersebut menjadi pekerjaan penting bagi Facebook untuk terus berinvestasi besar dalam hal meningkatkan kinerja. Dan tingkat deteksi proaktif untuk gambaran kekerasan meningkat persentasenya sebesar 25 poin, dari 72 persen menjadi 97 persen.

2. Menghapus Konten dan Akun yang Melanggar

Facebook tidak hanya membuat kemajuan dalam menemukan konten buruk, tapi juga menghapusnya. Pada kuartal tiga 2018, Facebook menindak 15,4 juta konten yang memuat gambaran kekerasan, lebih dari 10 kali lipat jumlah konten yang ditindak pada kuartal empat 2017.

“Peningkatan ini disebabkan oleh terus berkembangnya teknologi kami yang memungkinkan penerapan tindakan yang sama secara otomatis untuk konten identik,” tambah Rosen. “Selain itu, minggu lalu, ada peningkatan signifikan jumlah konten terorisme yang dihapus pada kuartal dua 2018.”

Media sosial tersebut memperluas penggunaan sistem pencocokan media, teknologi yang secara proaktif mendeteksi foto serupa dengan konten yang melanggar di database, untuk menghapus gambar lama propaganda teroris. Sebagian peningkatan itu juga karena Facebook telah memperbaiki bug yang membuat platform tidak bisa menghapus beberapa konten yang melanggar kebijakan.

Sebanyak 800,4 juta akun palsu telah dihapus pada kuartal kedua 2018 dan 753,7 juta kuartal ketiga 2018. Sebagian besar akun palsu merupakan akibat dari serangan spam dengan motivasi komersial yang berusaha membuat akun palsu secara massal.

3. Menambah Kategori Baru Pelanggaran

Data dari dua kategori baru yang Facebook tambahkan ke laporan tersebut adalah perundungan serta ketelanjangan anak dan eksploitasi seksual anak. Akan berfungsi sebagai awal yang digunakan untuk mengukur kemajuan dalam hal ini dengan seiringnya waktu.

Perundungan dan pelecehan cenderung bersifat personal dan spesifik konteksnya. Jadi, dalam banyak kasus, orang harus melaporkan perilaku ini kepada Facebook sebelum dapat mengidentifikasi atau menghapusnya.

“Ini mengakibatkan tingkat deteksi proaktif yang lebih rendah dari pada jenis pelanggaran lainnya. Pada kuartal terakhir, kami menindak 2,1 juta konten yang melanggar kebijakan kami tentang perundungan dan pelecehan, menghapus 15 persen di antaranya sebelum dilaporkan,” lanjut Rosen.

Standar komunitas Facebook melarang eksploitasi anak. Namun untuk menghindari potensi penyalahgunaan, Facebook juga menghapus konten nonseksual, misalnya foto anak sedang mandi yang bersifat polos, yang dalam konteks lain mudah untuk disalahgunakan.

Dalam kuartal terakhir saja, Facebook telah menghapus 8,7 juga konten yang melanggar kebijakan tentang ketelanjangan anak atau eksploitasi seksual anak. Dan 99 persen di antaranya dihapus sebelum ada yang melaporkannya.




Mewaspadai Tipu Daya Setan

Takwa (ilustrasi).
Foto: blog.science.gc.ca

Setan dengan seluruh pasukannya tidak akan pernah berhenti dan tidak mengenal istilah capai dalam menyesatkan manusia. Dari segala arah mereka la’natullah ‘alaihim menggoda dan menjerumuskan kita; tidak berhasil dari arah depan, dicoba dari belakang. Mentok dari samping kanan, mereka lirik samping kiri (QS al-A’raf [7]:17).

Begitulah seterusnya, musuh nyata manusia ini menggoda kita sampai ada di antara kita ikut serta menjadi teman mereka. Di hadapan Rabb Semesta, iblis, tetua para setan dan makhluk pencinta kegelapan ini, mendeklarasikan diri untuk mencari pertemanan yang bisa diajak berbenam di kawah besar api neraka.

“Iblis ber kata, ‘Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai ke pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)’.

Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.’” (QS Shad [38]: 79-83).

Inilah kiat supaya kita selamat dari tipu daya setan yang terkutuk. Pertama, ikhlas dalam menghamba kepada Sang Khaliq (QS al-Hijr [15]:40). Apa pun aktivitas kita, termasuk dalam hal ibadah dan amaliah keduniawian, haruslah semata karena mencari ridha Allah. Ikhlas ini seperti alat proteksi yang mampu melindungi kita dari virus mematikan setan de ngan segala tipu muslihatnya.

Kedua, meniti jalan takwa dengan keseriusan taat yang sempurna. Lihat QS al-Hijr [15]: 42 dan al-Baqarah [2]: 208.

Ketiga, iltizam biljamaah (melazimkan diri dengan berjamaah), baik dalam praktik iba dah, muamalah, maupun secara manhaj hidup (pola dan tata cara hidup). “Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian dan menjauh dari dua orang.” (HR Ahmad).

Keempat, melazimkan sha lat berjamaah di masjid (QS al- Hadid [58]:19). Berjamaah menghadirkan kekuatan (al-jama’ah quwwatun), berjamaah menjadi mudah mengakses keberkahan (al-jama’ah ba ra katun). “Jika ada tiga orang di desa atau kampung yang tidak mendirikan shalat jamaah kecuali mereka telah dikuasai oleh setan …” (HR Abu Dawud).

Kelima, sering-seringlah memohon pertolongan Allah dari tipu daya setan dan kehadirannya dalam semua majelis kehidupan.

Sungguh kita tidak akan pernah menang perang me la wan makhluk terkutuk ini kecuali atas pertolongan-Nya. De ngan memperkuat tauhid, ikhlas, dan istiqamah ibadah ser ta memperbanyak isti’adzah atau doa, niscaya kita akan senantiasa mendapat per lindungan Allah dan mam pu menaklukkannya. (QS al- Mu’minun 97-98).

Jika anak Adam membaca ayat sajdah lalu dia sujud, setan menyendiri sambil menangis. Ia berkata, “Sungguh celaka (aku)! Anak Adam diperintah sujud lalu ia bersujud, maka baginya surga, dan aku disuruh sujud, tapi tidak mau sujud, maka bagiku neraka.” (HR Mus lim). Karena itu, jika ingin setan banyak menangis, per banyak sujud. Wallahu a’lam.

Sumber: Republika.co.id/ Oleh: M Arifin Ilham