8 Cara Menghemat Uang Belanja Bulanan

Detikriau.org – Perencanaan keuangan keluarga sangat dipengaruhi 2 hal utama yaitu berapa penghasilan Anda, sumbernya dari mana saja dan berapa pengeluaran bulanan Anda sekeluarga. Anggap saja penghasilan Anda adalah tetap dan belum menemukan sumber penghasilan tambahan sehingga untuk menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran satu hal penting yang harus Anda lakukan adalah menghemat uang belanja bulanan Anda.

Apakah Anda masih bingung cara melakukannya? Atau sudah melakukan namun tetap kurang efektif? Simak tips ampuh yang dibagikan cermati.com berikut ini:

  1. Gunakan Sistem 31 Amplop untuk Berhemat

Metode Syukri Muhammad Syukri ini walau terlihat klasik namun cukup efektif dicoba. Sebagai Ibu rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap uang belanja, Anda hanya butuh menyiapkan 31 lembar amplop kosong untuk memulai sistem 31 amplop ini.

Langkah selanjutnya ambil semua uang Anda dan masukkan ke amplop sesuai kebutuhan seperti bayar cicilan rumah atau uang kontrakan, beli beras sebulan, bayar tagihan listrik, air, telepon, uang bensin, gas, uang saku anak-anak, dan tabungan untuk dana darurat. Tulis tanggal belanja mulai dari 1 sampai dengan 31. Setelah semua terisi, sisanya adalah uang untuk investasi. Jika dilakukan secara tertib, ibu rumah tangga akan tertantang untuk lebih kreatif dalam mengelola uang belanja bulanan.

2. Jangan Terfokus Pada Merek

Makin sering Anda jalan ke mal atau swalayan, maka godaan untuk berbelanja akan makin besar. Godaan jadi kian kuat manakala banyak promo, diskon dari berbagai merk terkenal dengan berbagai penawaran menarik mulai dari produk kebutuhan rumah tangga seperti gula, minyak, camilan, tisu, pembersih lantai, dan sebagainya. Jangan tergoda, bandingkan dengan merk lain yang lebih murah. Syukur kalau Anda bisa membeli produk tak bermerek namun punya fungsi sama.

3. Biar Tahan Lama Simpanlah Bahan Makanan Dengan Baik

Beberapa tempat menyimpan makanan seperti lemari beras, lemari es atau wadah kedap udara dapat membuat makanan lebih awet. Jika ini berlangsung secara terus menerus dan menjadi budaya dalam keluarga maka akan menghemat uang belanja bulanan.

4. Buat Daftar Menu Makanan Mingguan

Prinsip yang berawal dari kebiasaan ini layak dicoba. Dengan membuat daftar menu makanan mingguan maka pola belanja kita akan terkontrol sehingga kita terhindar dari membeli bahan makanan yang akhirnya mubazir.

5. Catat Rencana Belanja dan Simpan Nota Pembelian

Cara paling gampang mencatat belanja adalah dengan menempel catatan di kulkas, barang apa yang sudah habis, supaya saat berbelanja kita tidak melihat-lihat barang lain, atau bisa juga dengan mencoba membeli produk promosi (turun harga atau buy 1 get 2). Dengan cara seperti ini Anda bisa berhemat supaya bulan depan tidak perlu membeli produk itu lagi. Supaya pengeluaran terkontrol simpan bon belanja. Tujuan menyimpan bon ini adalah agar kita bisa membandingkan harga bulan ini dan bulan lalu. Dengan cara seperti itu Anda akan tahu saat harga sedang murah dan tempat beli produk murah tersebut.

6. Lihat dan Bandingkan Sebelum Membeli 

Sebaiknya beli produk sekaligus dalam jumlah banyak, pilih saja produk ‘istimewa’ dari masing-masing supermarket. Akan lebih baik jika  Anda bersedia mengganti daging dengan produk makanan berprotein, seperti telur atau tahu-tempe. Konsumsi daging memang nikmat namun jika berlebih tidak baik untuk kesehatan dan harganya juga lebih mahal.  Selain itu bandingkan produk yang ingin  Anda beli di beberapa supermarket, misalnya, supermarket A  harga ikannya lebih murah dibanding supermarket B namun tisu, pembersih lantai, gula pasir, terkadang juga diproduksi supermarket dengan harga yang berbeda namun kualitasnya cukup baik dan jelas lebih murah.

7. Kurangi Penggunaan Kartu Kredit Saat Belanja 

Mungkin saja gaji Anda cukup banyak, sehingga sering tanpa sadar over budget alias belanja tak terkontrol. Hal ini disebabkan oleh kemudahan saat membeli barang dengan bayar di belakang. Kartu kredit salah satu penunjang budaya bayar dibelakang tersebut. Jika ini tidak cepat  Anda sadari, lambat laun  Anda akan sadar bahwa uangmu ternyata tak sebanyak yang dikira. Waspadai efek psikologis pasca gajian membuat kita seolah jadi “orang kaya” yang justru semuanya akhirnya berujung pada tragedi kantung tipis sebelum waktunya.

Jadi solusinya adalah biasakan untuk membayar segala tagihan di muka, kemudian lakukan investasi setelah itu baru belanja.

8. Berburu Diskon 

Tak mengapa Anda dijuluki Mendis alias Mental Diskon, yang penting bisa berhemat. Amati tiap hari dan carilah promo atau diskon-diskon yang menguntungkan bagi Anda yang biasanya banyak terdapat di supermarket besar. Pastikan produk yang Anda beli tidak kadaluarsa dan memang betul-betul Anda butuhkan.

Cara Pintar Belanja Barang Diskonan

Biasanya diskon digandengkan dengan cicilan 0% supaya produk yang ditawarkan makin ciamik. Sebelum kian terbuai ingat beberapa hal berikut ini:

  1. a) Sadar Isi Dompet

Saat liat promo cicilan tanpa 0 % dan diskon, segera cek isi dompet untuk cek kesanggupan Anda membayar

  1. b) Sebelum kalap, Anda Mesti Tahu Standar Harga Barang Yang di Diskon

Banyak barang diskon yang sudah di naikkan terlebih dahulu harganya, oleh karena itu cari tahu berapa harga st Andar barang tersebut?

  1. c) Bikin Daftar Prioritas, Mana yang lebih penting?

Ingat, jangan kalap lihat diskon. Kuncinya Anda mesti pegang daftar prioritas beli dulu supaya fokus pada kebutuhan dan bukan keinginan.

  1. d) Karena Barang Diskonan, Cari Cacatnya

Salah satu alasan barang didiskon adalah karena adanya cacat produksi. Jadi lihat produk sampai detil ya.

  1. e) Meski Murah, Tapi Jangan Memaksakan Diri Membeli, Jika Ukurannya Tidak Ada

Barang diskon biasanya produk yang gak laku sehingga ukurannya juga seringkali tidak banyak variasinya.Jangan maksa beli jika ukurannya tidak ada yang pas buat kamu.

  1. f)Cari Dengan Teliti

Namanya juga diskon, banyak hal yang dilakukan toko agar semua barangnya laku. Biasanya yang ditampilkan atas adalah produk yang paling jelek supaya cepet laku atau bisa juga orang lain ngumpetin pilihan dia di bawah buat nanti dia beli. Jadi sebagai pembeli dengan mental diskon,  Anda mesti sabar dan teliti mencari diantara barang-barang diskon.

Lakukan dan Ubah Kebiasaan Anda

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, apalagi jika berbicara mengenai mengubah kebiasaan dalam hal penggunaan uang. Namun bukan berarti tidak bisa, Anda dapat memulai dengan menerapkannya secara berkala dan konsisten, dengan begitu Anda bisa merubah kebiasaan boros Anda untuk hidup lebih hemat. Kuncinya adalah displin terhadap semua aturan keuangan yang Anda buat sendiri. Selamat mencoba!

 




Mitos dan Fakta Seputar Diet

Time to lose weight
Time to lose weight

Kelebihan berat badan bagi sebagian besar orang merupakan masalah yang ‘besar’. Banyak dari mereka yang mengalami berat badan berlebih berupaya susah payah untuk mencapai berat badan yang ideal. Nah, bicara soal diet banyak mitos yang beredar yang sepertinya harus diluruskan. Kesempatan kali ini dibagiin.com akan mengulas mitos-mitos yang beredar seputar diet.

 

Inilah mitos dan fakta seputar diet :

Mitos : Orang yang sedang program diet dilarang makan telur

Mitos ini muncul karena telur khususnya kuning telur mengandung kadar kolesterol tinggi dan kolesterol tinggi erat kaitanya dengan penyakit kardiovaskular (jantung).

 

Fakta : Sebagian besar kolesterol diproduksi oleh hati, kita hanya menyerap sekitar 25% dari makanan yang kita konsumsi. Kadar kolesterol dalam tubuh kita lebih dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang mengandung lemah jenuh tinggi seperti jeroan, daging merah, minyak makan, dan seafood. Sedangkan telur tidak mengandung kadar lemak jenuh yang tinggi. Dengan demikian telur aman dimasukkan dalam menu diet tanpa menimbulkan resiko kardiovaskular.

 

Mitos : Ada beberapa jenis makanan yang dapat membakar lemak

Sobat tentu sering mendengar ada beberapa jenis makanan yang dapat membantu diet karena dapat membakar lemak seperti ginseng, teh hijau, jeruk, cabai atau lainnya. Karena mitos inilah banyak orang yang sedang menjalani program diet berbondong-bondong membeli teh hijau karena ingin dietnya sukses.

 

Fakta : Memang benar bahwa ada penelitian yang mengatakan bahwa beberapa jenis makanan dapat meningkatkan metabolisme tubuh, namun persentase peningkatan ini sangat kecil sedangkan tubuh sangat mudah beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Jadi ketika kita mengkonsumsi misal teh hijau, metabolisme akan meningkat sedikit (sementara waktu), lalu tubuh akan menyesuaikan. Dalam jangka waktu tertentu maka efek dari teh hijau tersebut pun akan musnah.

 

Mitos : Minum air es bikin gemuk

Mitos ini muncul karena ada anggapan air es dapat membekukan lapisan lemak di perut dan membuat perut menjadi buncit.

 

Fakta : Panas atau dingin air tidak berpengaruh terhadap tubuh, tubuh akan selalu menyesuaikan dengan suhu yang masuk. Yang menjadi penyebab kegemukan bukanlah dinginnya, tetapi kalori yang terkandung di dalam minumannya (misal jika Sobat minum milkshake, maka kalori yang terkandung pada milkshake tersebutlah yang menyebabkan kegemukan bukan suhu dinginnya). Untuk mengetahui ulasan lebih lengkap tentang mitos ini, Sobat bisa baca pada artikel sebelumnya, Minum Es Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

 

Mitos : Pantangan makan diatas jam 7 malam

Banyak yang meyakini kalau makan diatas jam 7 malam merupakan penghancur program diet karena dapat menyebabkan kegemukan. Mungkin mereka beranggapan setelah makan lalu tidur, maka makanan tidak terpakai lalu menjadi timbunan lemak.

 

Fakta : Bukan jam berapanya yang menjadi faktor penyebab, tetapi apa yang dimakan, seberapa banyak porsinya, dan seberapa berat aktifitas sepanjang hari itu. Tiga pertanyaan inilah yang menjadi penentu apakah berat badan Sobat akan naik atau stabil. Jam berapa pun makan, tubuh akan tetap menyimpan kelebihan kalori menjadi lemak. Untuk lebih jelasnya sobat bisa baca pada artikel Makan Diatas Jam 7 Malam Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

 

Mitos : Lebih baik makan sedikit tapi sering untuk menghindari lapar

Cara ini sering dilakukan oleh mereka yang sedang menjalani program diet. Mereka beranggapan dengan meningkatkan frekuensi makan dengan porsi yang kecil berarti mencegah rasa lapar, harapanya ketika jam makan datang tidak perlu tergoda untuk makan berlebihan.

Fakta : Makan sering dengan porsi sedikit = makan tiga kali sehari. Jadi pilihannya apakah mau makan sering atau tiga kali saja dalam sehari? Bukan frekuensinya yang harus dipusingkan tetapi sekali lagi jumlah asupan kalorinya yang harus diperhatikan. Cara ini justru seringkali memberi hasil kebalikan dari yang diharapkan. Dengan dalih mencegah lapar, mengkonsumsi snack disela-sela jam makan menjadi pilihan. Masalahnya adalah terkadang kita sendiri tidak paham mana snack yang aman dikonsumsi atau bisa jadi kita malah mengkonsumsi snack yang tinggi kalori.

 

Mitos : Kalau diet mau cepat sukses, lakukan olahraga berat

Wajar saja jika banyak yang menganjurkan untuk meningkatkan kapasitas olahraga di saat program diet karena beranggapan dengan berolahraga semakin keras maka lemak dalam tubuh akan terbakar makin maksimal.

 

Fakta : Latihan berat akan membuat kita merasa lapar dan membuat tubuh harus beristirahat lebih lama dari biasanya. Belum lagi mereka yang menjalani program diet biasanya membatasi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi. Logikanya ketika porsi makan dikurangi namun tubuh dipaksa bekerja jauh lebih berat dari biasanya maka tubuh akan ‘berontak’, produktifitas dalam pekerjaan sehari-hari pun dapat terganggu. Latihan memang dapat membentu/menguatkan otot-otot, tapi tidak bisa membakar lapisan lemak di atas otot. Buang dulu lemak yang tertimbun dengan menjaga pola makan guna menjaga keseimbangan kalori yang masuk dengan yang keluar, baru setelah itu bentuk dengan berolahraga atau ngegym. Ada olahraga murah meriah yang bisa kita lakukan disela-sela aktifitas baik di kantor atau di tempat kuliah yaitu dengan naik turun tangga. Sobat bisa baca artikel Manfaat Naik Turun Tangga Bagi Kesehatan.

 

Itulah ulasan mitos dan fakta seputar diet. Mudah-mudahan artikel yang kami susun ini dapat menjadi panduan Sobat yang ingin menjalani program diet.

 




Udara yang membuat Anda jadi gemuk

Detikriau.org – Ambil napas dalam-dalam, dan hembuskan. Tergantung di mana Anda tinggal, udara yang memenuhi paru-paru dan menghidupkan itu mungkin akan mendorong Anda menuju diabetes dan obesitas.

Bayangan bahwa udara bisa membuat kita gemuk terdengar konyol, tapi beberapa studi yang luar biasa rumit menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi. Dua orang bisa makan makanan yang sama dan melakukan olahraga dalam porsi yang sama, tapi dalam beberapa tahun, salah satunya bisa lebih gemuk dan mengalami metabolisme yang lebih kacau – karena atmosfer di rumah mereka.

Polusi dari kendaraan bermotor dan asap rokok adalah sebab utama, dengan partikel kecil yang mengganggu dan menyebabkan peradangan luas dan mengganggu kemampuan tubuh membakar energi. Meski dampak jangka pendeknya minim, tapi secara akumulatif sepanjang hidup, cukup untuk menyebabkan penyakit serius – selain penyakit pernapasan yang biasanya terkait asap. “Kita baru mulai memahami bahwa dampak dari sirkulasi polusi udara dalam tubuh bisa berpengaruh lebih dari sekadar paru-paru,” kata Hong Chen, peneliti di Public Health Ontario dan Institute of Clinical Evaluative Sciences di Canada.

Seberapa kuat bukti dari penelitian ini, dan haruskah kita cemas?

Tikus laborataorium menawarkan bukti konkret paling awal tentang dampak dari polusi udara yang bisa menjangkau jauh melampaui paru-paru. Qinghua Sun, yang membiakkan tikus di Ohio State University, tergerak untuk meneliti kenapa penduduk kota lebih berisiko terkena serangan jantung dibanding penduduk desa. Gaya hidup, tentu saja, menjadi satu alasan; contohnya di kebanyakan kota besar, makanan cepat saji gampang sekali didapat, sehingga bisa memicu kebiasaan makan tak sehat. Namun, dia bertanya-tanya, apakah ada jawaban lain, yang tak terlihat di udara yang kita hirup.

Untuk mencari tahu lebih jauh, dia mulai membiakkan tikus lab dalam kondisi yang mirip dengan keadaan di berbagaikota. Beberapa menghirup udara yang bersih dan difilter, sementara yang lain menghirup udara dan asap seperti di dekat jalan raya atau pusat kota yang sibuk. Sepanjang penelitian, timnya menimbang tikus-tikus tersebut dan melakukan berbagai tes untuk menguji bagaimana metabolismenya.

Setelah hanya 10 minggu, efeknya langsung terlihat. Tikus yang terpapar polusi udara menunjukkan volume lemak tubuh yang lebih besar, baik pada sekitar perut atau sekitar organ dalam; pada level mikro, sel lemak terlihat 20% lebih besar pada tikus yang menghirup kabut polutan. Terlebih lagi, mereka menjadi tak sensitif pada insulin, hormon yang memberi sinyal pada sel untuk mengubah gula darah menjadi energi: langkah pertama menuju diabetes.

Mekanisme tepatnya masih dalam perdebatan, tapi berbagai eksperimen lanjutan pada hewan menunjukkan bahwa polusi udara memicu rangkaian reaksi dalam tubuh. Partikel-partikel kecil, yang lebarnya kurang dari 2,5 mikrometer, disebut sebagai alasan utama – butiran polutan yang kecil yang membuat udara kota berkabut. Saat kita menghirupnya, polutan ini mengganggu kantung udara kecil dan lembap yang biasanya akan mengalirkan oksigen masuk ke aliran darah.

Hasilnya, lapisan paru-paru meningkatkan respons stresnya dan membuat sistem saraf bekerja berlebihan, termasuk melepas hormon yang mengurangi kekuatan insulin dan menarik darah dari jaringan otot yang sensitif terhadap insulin, sehingga tubuh tak bisa mengendalikan kadar gula darahnya.

Partikel kecil yang mengganggu ini juga melepaskan molekul peradangan yang disebut “sitokin (cytokine)” untuk mencuci aliran darah, respons yang memicu sel kekebalan tubuh untuk menyerang jaringan yang sebenarnya sehat. Tak hanya mengganggu kemampuan jaringan tubuh untuk merespons insulin; peradangan yang terjadi selanjutnya juga mengganggu hormon dan otak yang memproses dan mengatur nafsu makan, kata Michael Jerrett dari University of California, Berkeley.

Semua rangkaian ini mengganggu keseimbangan energi tubuh, dan mendorong serangkaian gangguan metabolisme, termasuk diabetes dan kegemukan, serta masalah kardiovaskuler seperti tekanan darah tinggi.

Berbagai penelitian besar dari kota-kota di seluruh dunia menunjukkan bahwa manusia bisa jadi mengalami konsekuensi yang sama. Chen, misalnya, memeriksa catatan medis 62.000 orang di Ontario, Kanada, sepanjang 14 tahun. Dia menemukan bahwa risiko diabetes naik 11% untuk setiap 10 mikrogram partikel halus dalam satu meter kubik udara – statistik yang mencemaskan mengingat polusi di berbagai kota Asia bisa mencapai sampai 500 mikrogram per meter kubik udara. Di Eropa, sebuah penelitian di Swiss menemukan tanda-tanda serupa akan resistensi yang meningkat terhadap insulin, tekanan darah tinggi, dan lingkar pinggang dalam sampel 4.000 orang yang hidup di tengah polusi parah.

Para ilmuwan sangat khawatir akan dampak ini pada anak-anak kecil, dan beberapa cemas bahwa ibu yang terpapar polutan ini bisa mengubah metabolisme bayi sehingga mereka lebih mudah terkena obesitas. Simaklah penelitian Andrew Rundle di Columbia University yang meneliti anak-anak yang tumbuh besar di Bronx. Saat kehamilan, ibu dari anak-anak itu mengenakan ransel kecil untuk mengukur kualitas udara saat menjalani aktivitas sehari-hari, dan dalam tujuh tahun terakhir kesehatan anak-anaknya dimonitor secara teratur. Dengan mengendalikan faktor lain (seperti kekayaan dan diet), anak-anak yang lahir di area yang paling tercemar bisa 2,3 kali lebih mungkin menjadi obesitas, dibandingkan mereka yang tinggal di kawasan yang lebih bersih.

Sementara itu, Jerrett juga menemukan bahwa risikonya bisa datang dari luar dan dari dalam rumah: orangtua yang merokok bisa menyebabkan lebih cepatnya peningkatan berat badan di kalangan remaja dan anak-anak California. “Terjadi interaksi yang sinergis dengan dampak dari polusi udara,” katanya – dengan kata lain, risiko gabungannya jauh lebih besar daripada risiko yang dihadapi sendiri-sendiri.

Terlepas dari hasil temuan yang menakutkan ini, kita juga harus waspada dalam mencermatinya. “Penelitian ini hanya menarik kesimpulan antara keterpaparan dan hasil, tapi tak bisa membuktikan yang satu mempengaruhi yang lain,” kata Abby Fleisch di Harvard Medical School. Meski begitu, temuan penelitiannya juga sama dengan tren umum – dia telah membuktikan bahwa daam enam bulan pertama, bayi-bayi dari para ibu yang tinggal di area tercemar terlihat bertambah berat tubuhnya lebih cepat dari mereka yang tinggal dia area yang bersih – tapi dia menegaskan bahwa kita masih belum pasti apakah ada faktor lain yang terlupakan, selain polusi, yang bisa menjelaskan hubungan tersebut.

Untungnya, sejumlah tim sudah mencari bagian yang hilang dalam pengetahuan kita akan studi yang lebih mendalam. Robert Brook dari University of Michigan dan koleganya di Cina, contohnya, baru-baru ini menguji sekelompok kecil subyek di Beijing selama dua tahun. Mereka menemukan bahwa setiap kali kabut polusi datang ke kota itu, terjadi peningkatan tanda-tanda masalah yang berkembang, seperti resistensi terhadap insulin dan tekanan darah tinggi – dan ini memberikan bukti yang lebih konkret bahwa kualitas udara mendorong perubahan dalam metabolisme.

Jika kaitan ini terbukti, apakah kita harus cemas? Para saintis menegaskan bahwa risiko jangka pendek dan individual terhadap satu orang relatif kecil, dan tak seharusnya disebut sebagai penyebab obesitas, tanpa mempertimbangkan aspek lain dalam gaya hidup. Namun melihat jumlah orang yang hidup di kota dengan polusi tinggi, dalam jangka panjang, jumlah korban bisa menjadi besar. “Semua orang terdampak polusi dengan berbagai cara,” kata Brook. “Keterpaparan yang terus-terusan dan tak bisa terhindarkan pada miliaran orang – sehingga dampaknya menjadi lebih besar.”

Solusinya sudah banyak diketahui, tapi sulit diterapkan: membatasi polusi udara dengan mempromosikan kendaraan listrik dan hybrid, contohnya. Jerrett menyarankan bahwa jalanan juga bisa dirancang ulang untuk mengurangi kemungkinan pejalan kaki dan pesepeda terpapar polusi. Dalam jangka pendek, dia juga menyebut penyaring udara bisa ditambahkan di banyak rumah-rumah, sekolah, dan kantor untuk menyaring partikel berbahaya.

Brook setuju bahwa langkah ini harus diambil secara internasional, baik di negara berkembang maupun di kota-kota seperti Paris dan London yang, kelihatannya, seperti bisa menekan tingkat pencemaran udara. “Di Amerika Utara dan Eropa, kadar polusi menunjukkan arah yang tepat – tapi kita tak boleh puas,” katanya. “Dari sudut pandang memperbaiki kesehatan di seluruh dunia, ini harusnya menjadi satu dari 10 kepedulian kita yang terbesar.”

Sumber; bbcindonesia

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The air that makes you fat di laman BBC Future

 




Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean

Detikriau.org – Negara-negara di ASEAN secara resmi telah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak awal Januari 2016.

Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.

Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui dan antisipasi dalam menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Apa itu Masyarakat Ekonomi Asean?

Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.

Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Bagaimana itu mempengaruhi Anda?

Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.

Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.

“Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan,” katanya.

“Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.”

Apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?

Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di Indonesia cukup mampu bersaing.

Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa tren penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun.

“Pengacara-pengacara kita, apalagi yang muda-muda, sudah cukup unggul. Selama ini kendala kita kan cuma bahasa. Tetapi sekarang banyak anggota-anggota kita yang sekolah di luar negeri,” katanya.

Di sektor akuntansi, Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat.

“Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental. Banyak yang belum siap kalau mereka bersaing dengan akuntan luar negeri.”

Bagaimana Indonesia mengantisipasi arus tenaga kerja asing?

Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menyatakan tidak ingin “kecolongan” dan mengaku telah menyiapkan strategi dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja.

“Oke jabatan dibuka, sektor diperluas, tetapi syarat diperketat. Jadi buka tidak asal buka, bebas tidak asal bebas,” katanya.

“Kita tidak mau tenaga kerja lokal yang sebetulnya berkualitas dan mampu, tetapi karena ada tenaga kerja asing jadi tergeser.

Sejumlah syarat yang ditentukan antara lain kewajiban berbahasa Indonesia dan sertifikasi lembaga profesi terkait di dalam negeri.

Apa keuntungan MEA bagi negara-negara Asia Tenggara?

Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar.

Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara.

Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta.

Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta.

Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi./ dro

Sumber; bbcindonesia

 




Perbedaan Penyakit DBD dan Tifus yang Penting untuk Anda Ketahui

Detikriau.org – Gejala Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) dan tifus memiliki kesamaan. Bila kita tidak mengetahui tentang kedua penyakit ini, bisa mengakibatkan salah dalam penanganan penderita bahkan dapat menyebabkan kematian. Apa perbedaan antara DBD dan tifus? Mari kita pelajari dalam artikel ini! 

Penyebab

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue, itulah sebabnya penyakit ini disebut Demam Berdarah Dengue yang disingkat menjadi DBD. Penyakit ini menular dari satu penderita ke penderita lainnya melalui nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini biasa menggigit pada siang hari. Nyamuk yang mengisap darah dari penderita DBD kemudian langsung menggigit orang sehat lainnya dan membuat virus yang ada berpindah ke orang sehat sehingga menyebabkan orang tersebut menderita Demam Berdarah.

Tifus disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini ada pada berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebaran bakteri ini dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri seperti lalat atau serangga lainnya. Bakteri ini bisa ada pada makanan atau minuman dan akan masuk ke tubuh orang yang mengkonsumsinya. Itulah penyebab seseorang bisa terkena tifus.

Gejala

Demam Berdarah Dengue

  • Panas tinggi, umumnya > 38 derajat Celcius.
  • Badan pegal-pegal atau nyeri otot, sakit kepala, menggigil, buang-buang air atau muntah.
  • Muncul bintik-bintik merah. Gejala ini mungkin tidak muncul jika demam yang dialami baru sebentar. Cara melihat bintik merah ini dengan tes tourniquet yaitu dengan menjepit pembuluh darah mirip seperti saat Anda hendak memeriksa tekanan darah. Setelah tahap ini, biasanya bintik merah akan terlihat.
  • Setelah hari ketiga, biasanya demam akan turun dan penderita mungkin merasa sudah sembuh tetapi setelah itu demam dapat menyerang kembali. Pada masa ini sebaiknya berhati-hati agar tidak menganggap sudah sembuh dan tidak menjaga kesehatannya.

Tifus

  • Awalnya, demam yang dialami tidak terlalu tinggi dan suhu akan terus meningkat bertahap sampai > 38 derajat Celcius.
  • Khususnya pada malam hari, suhu akan meningkat dan akan turun pada pagi hari. Inilah yang membedakan demam tifus dengan demam pada demam berdarah.
  • Nyeri perut dan diare.
  • Batuk dan sakit tenggorokan.

Pemeriksaan

Cara paling tepat untuk mengetahui apakah seseorang menderita demam berdarah atau tifus adalah dengan melakukan pemeriksaan. Berkonsultasi dengan dokter dan biasanya untuk memastikan, dokter akan meminta untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui secara pasti penyakit apa yang diderita

Demam Berdarah Dengue
Pada pasien demam berdarah, pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa jumlah trombosit. Jika trombosit menurun, biasanya < 100.000/ul, seseorang akan didiagnosis mengalami demam berdarah. Tetapi, jika demam baru satu hari belum bisa diketahui karena jumlah trombosit yang masih normal. Pada kasus seperti ini, Anda dapat berkunjung kembali ke dokter untuk memeriksa jumlah trombosit jika masih mengalami demam. Pada pemeriksaan yang lebih canggih, dapat diketahui apakah darah mengandung virus dengue atau tidak. Jadi, jika jumlah trombosit masih normal tetapi pada darah positif mengandung virus dengue berarti Anda mengalami demam berdarah.

Tifus
Untuk mengetahui apakah Anda mengalami tifus atau tidak, maka akan dilakukan tes Widal. Yang diperiksa pada tes ini adalah apakah pada darah mengandung antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Jika hasil menunjukkan > 1/160 berarti Anda menderita tifus. Pemeriksaan lain dapat dilakukan dengan memeriksa tinja penderita karena pada tinja penderita tifus mengandung bakteri Salmonella typhi.

Pengobatan

Demam Berdarah Dengue
Tidak ada obat khusus untuk mengobati penderita demam berdarah karena tidak ada vaksin untuk membunuh virus dengue. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga agar penderita tidak mengalami dehidrasi. Jika penderita tidak dapat makan dengan baik, mengalami diare atau muntah, ada baiknya penderita dirawat di rumah sakit agar dapat dibantu dengan infus sehingga daya tahan penderita lebih kuat. Pada penderita demam berdarah tidak ada pantangan makanan.

Tifus
Pemberian antibiotik adalah paling tepat untuk membunuh bakteri penyebab penyakit ini. Untuk menyembuhkan usus yang luka, makanan yang dimakan tidak boleh keras agar tidak memaksa kerja usus yang sedang sakit. Hindari juga makanan yang asam dan pedas.

Cara Pencegahan

Demam Berdarah Dengue
Melakukan gerakan 3 M. Yang dimaksud gerakan 3 M adalah Menguras bak mandi minimal 1 minggu sekali, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas yang tidak terpakai yang berpotensi menjadi tempat genangan air hujan.

Tifus
Dengan selalu menjaga lingkungan tetap bersih sehingga bakteri tifus tidak dapat berkembang biak. Dan memilih makanan dan minuman yang bersih untuk dikonsumsi./ doktersehat.com




Mau Mendapat Beasiswa? Buatlah Potret Diri Anda yang “Charming”!

Detikriau.org – Sebutlah, Anda lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) terkenal dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,8. Dengan modal itu, Anda ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 di bidang food technology di Wageningen University, sebuah universitas pertanian terbaik di dunia yang berada di Belanda. Saat diminta menjelaskan mengapa Anda melamar program tersebut, kira-kira apa jawaban Anda?

Jika jawaban Anda adalah ingin memperdalam ilmu yang telah didapatkan di Indonesia atau ingin meraih karir yang baik di bidang tersebut, maka bersiaplah Anda bersaing dengan ratusan mahasiswa lain untuk bisa studi di kampus itu.

Kenapa? Karena akan ada beratus orang yang menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama dengan Anda. Anda tidak sendiri!

Lalu, jika ditanya lagi, manfaat apa yang akan Anda berikan dengan ilmu yang Anda akan dapatkan nanti bagi organisasi, institusi, komunitas, bangsa dan negara, apa kira-kira jawaban Anda?

Boleh jadi, dengan optimistisnya Anda menjawab akan membawa ide-ide baru bagi organisasi Anda dan berkontribusi penuh terhadap pembangunan di bidang tersebut. Jika benar itu adalah jawabannya, maka bersiap-siaplah Anda akan bersaing dengan ratusan orang yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sama. Ya, jawaban yang generik dan normatif, tidak artikulatif!

Mengapa

Banyak pelajar yang menemui kesulitan dan tidak dapat menjawabnya dengan tepat dan artikulatif tentang motivasi mereka untuk meneruskan studi di luar negeri dan mengambil bidang studi tersebut.

Jawaban standar biasanya, “Saya ingin memperdalam ilmu yang saya dapat saat kuliah S-1,”.

Atau, jawaban lainnya, “Saya ingin memperluas wawasan saya, atau ingin mendapat pengalaman internasional,”.

Bahkan, ada jawaban yang lebih sederhana lagi. “Karena bidang studi S-2 yang saya ambil ini sama dengan program studi S-1 saya,”.

Sepertinya, pertanyaan berbau ‘mengapa’ cukup sulit dijawab oleh sebagian besar pelajar Indonesia. Padahal, pertanyaan seputar ‘mengapa’ itulah yang justru menjadi kunci untuk menentukan pelajar tersebut layak diterima di suatu perguruan tinggi atau menjadi penerima beasiswa.

Mengapa? Mengapa Anda ingin kuliah di negara tersebut dan mengambil bidang studi tertentu? Mengapa Anda layak menjadi penerima beasiswa? Mengapa Anda merasa lebih baik dari kandidat lain? Mengapa dari kacamata lembaga pemberi beasiswa, ‘investasi’ yang mereka tanamkan ke Anda akan mendatangkan return lebih baik ketimbang pada kandidat lain?

Mengapa universitas-universitas berkelas dunia tersebut rugi besar jika tidak memberikan Anda letter of admission? Masih banyak ‘mengapa’ lainnya untuk dijawab.

Motivasi

Banyak pemburu beasiswa mengira bahwa dengan berbekal IPK tinggi dari universitas terkenal dan nilai bahasa Inggris tinggi, maka otomatis pintu akan terbuka lebar-lebar dan mereka dengan mudah melanjutkan studi atau meraih beasiswa di luar negeri. Mereka lupa, ada beratus-ratus, bahkan beribu pelamar lain memiliki IPK di atas 3 atau nilai IELTS di atas 6.5.

Nilai dan angka tersebut hanyalah persyaratan minimal. Itu semua hanya knock out of criteria.

Agar dapat terpilih, harus ada faktor lain yang mampu membuat si pelamar mengungguli pelamar lain. Faktor itu harus mampu membedakan Anda dengan pelamar lain. Apa itu? Motivasi!

Lembaga pemberi beasiswa memang akan mencari kandidat yang punya motivasi kuat dan tujuan studi yang jelas. Mereka mencari kandidat dengan self awareness tinggi terhadap kekuatan dan kelebihannya. Juga, terhadap potensi dan passion yang dimilikinya.

Para kandidat juga harus mampu membaca faktor-faktor eksternal dan perubahan global, misalnya tentang kelangkaan energi, ketahanan pangan dan perubahan iklim, selain tentu saja isu-isu geopolitik, perubahan perilaku sebagai dampak digitalisasi dan mampu memprediksi bermacam perubahan di masa depan.

Kemampuan membaca dan memahami faktor internal (potensi, minat, passion) atau self awareness dan sensibilitas membaca faktor eksternal (perubahan global, tantangan masa depan) dan ‘mengemasnya’ menjadi satu paket yang “menggiurkan” pihak pemberi beasiswa, adalah keharusan bagi para pemburu beasiswa.

Di tengah ratusan, bahkan ribuan formulir pendaftaran yang masuk, motivation statement dan CV yang artikulatif, yang distinctive, menjadi satu nilai jual di mata lembaga pemberi beasiswa. Baik itu motivation statement dan CV harus bikin mereka kepincut!

Ingat, pemberi beasiswa tidak akan memberikan beasiswa kepada pelamar yang sekedar mencari pengalaman internasional atau memperluas jejaring, apalagi hanya ingin naik golongan karena telah mendapatkan gelar akademis lebih tinggi.

Pemberi beasiswa tidak akan pernah kepincut dengan pelamar yang motivasi utamanya belajar ke luar negeri sekadar untuk mendapat posisi lebih baik sepulang studi di negeri orang. Organisasi pemberi beasiswa manapun mendapat mandat yang sama dari pendonor masing-masing, yaitu mencari kandidat terbaik, yang worth investing! Anda harus menjadi kandidat yang benar-benar diperhitungkan!

Memangnya kenapa kalau Anda lulusan PTN ternama dan lulus sebagai lulusan terbaik? Memangnya kenapa kalau Anda pernah jadi pemimpin organisasi mahasiswa di kampus? Tidak berarti apa-apa jika Anda tidak bisa mengkaitkan potensi diri anda dengan study objective Anda?

Yang terjadi akhirnya adalah sebuah paradoks, yaitu di satu sisi over valuation. Yaitu, kondisi dimana Anda merasa yang terbaik dan paling berkualifikasi tanpa dibarengi self awareness tentang kekuatan dalam diri Anda tersebut dapat menjadi katalis bagi keberhasilan studi dan rencana masa depan setelah selesai studi. Enggak nyambung!

Siapkan potret diri Anda!

Bagi Anda yang pernah melihat lukisan potret diri dari pelukis besar Affandi di museum Affandi di Yogyakarta atau pelukis legendaris Vincent van Gogh di Van Gogh Museum di Amsterdam, tentu setuju kalau lukisan-lukisan tersebut, walaupun terlihat sangat sederhana, tidak glamor dan neko-neko. Lukisan itu tidak rumit, tapi lain dari yang lain, dan berhasil mencuri perhatian.

Lukisan Affandi berkaos oblong sambil menghisap pipa seakan mengeluarkan pernyataan: “Inilah aku (self awareness). Aku dengan kebersahajaanku, sekaligus kekuatanku. Aku dan duniaku, passion-ku dan visiku!”.

Begitu juga lukisan potret diri Van Gogh. Sederhananya lukisan tersebut, tapi mampu menyihir karena lugas mengatakan: “Lihatlah aku, sang maestro!”.

Jadi, motivation statement dan curriculum vitae tidak perlu berbunga-bunga, apalagi copy paste dari sumber lain. Buatlah lukisan potret diri yang lugas, tidak perlu cantik, tapi charming dan dapat mencuri perhatian tim seleksi beasiswa.

Buatlah lukisan potret diri yang tidak membuat pemberi beasiwa nantinya akan mengatakan “Kalian berhutang pada negara, dan kalian beruntung mendapatkan beasiswa ke luar negeri!”.

Tapi, lukisan potret diri Anda yang mampu berkata: “Negara atau pemberi beasiswa akan sangat beruntung memilih saya. Cause I deserve it!”.

Selamat berburu beasiswa!

Penulis adalah pemerhati pendidikan dan bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office (NESO) di Jakarta/kompas.com