Cara Praktis Membuat Sendiri Sekam Bakar Untuk Media Tanam

sekam bakar untuk media tanam. Foto: Net

detikriau.org – Arang sekam banyak dimanfaatkan oleh para petani sebagai media penggembur tanah, media tanam, media persemaian dan bahan pupuk kompos. Arang sekam dibuat dengan cara proses pembakaran tak sempurna (parsial) dari sekam padi. Bahan yang digunakan dalam pembuatan arang sekam bisa anda dapatkan dengan mudah apabila anda berada di daerah dekat tempat penggilingan padi.

Arang sekam berfungsi untuk memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi di dalam tanah. Arang sekam mampu meningkatkan porositas tanah sehingga tanah menjadi gembur dan mampu menyerap nutrisi dengan baik. Tanah yang gembur menjadi media tumbuh organisme hidup yang berguna bagi tanaman seperti cacing tanah, serta tidak membawa microorganisme patogen karena relatif steril akibat proses pembakaran.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa arang sekam bakar mampu berperan sebagai absorban, yang berfungsi menekan jumlah mikroba patogen dan logam berbahaya dalam kompos, sehingga menghasilkan tanah yang bebas dari penyakit dan zat kimia berbahaya. Sifatnya yang ringan dan mudah dibersihkan dari sampah membuat arang sekam banyak digunakan oleh masyarakat perkotaan sebagai media tanam tanaman hias.

Berikut cara praktis yang bisa dicontoh untuk membuat sekam bakar. Simak Video tutorial berikut ini :

 




Bahaya Laten Zat Ngelem

“Zat toluena yang terkandung di dalam lem bahkan dapat menimbulkan fenomena yang dinamakan sudden sniffing death, yaitu kematian tiba-tiba”

Anak jalanan ngelem. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

Fenomena pemakaian lem sebagai candu memang semakin mencemaskan. Di kota-kota besar di penjuru Nusantara pun mudah dijumpai gerombolan anak yang bebas menghirup uap lem kaleng yang ditentengnya.

Hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia menyebutkan prevalensi pemakaian lem oleh generasi muda mencapai 35,3 persen (Survei Penyalahgunaan Narkotika BNN, 2015).

Fenomena ini disebut sebagai adiksi zat inhalen, yaitu proses kecanduan zat yang masuk ke dalam tubuh dengan dihirup.

Di dalam lem itu sendiri terkandung zat bernama toluena, turunan hidrokarbon aromatik yang juga lazim dijumpai pada pelarut cat dan bensin.

Efek menghirup toluena adalah halusinasi dan perasaan melayang-layang yang dapat berlangsung hingga lima jam sesudah pemakaian. Karena toluena juga bersifat sebagai dePresan (penekan) susunan saraf, pengguna zat ini tak akan merasa lapar walau tak makan selama berjam-jam.

Efek negatif lainnya yang umumnya amat dicari oleh pengguna, adalah ketenangan sesaat yang membuat mereka seakan berada di “dunia lain”. Padahal itu akibat penekanan saraf di otak yang justru memperlambat koordinasi gerakan dan konsentrasi pikiran sang pengguna. Semua efek itu menjadikan mereka kecanduan (adiksi) dan terus mencari zat inhalen tersebut.

Cara ngelem pun bermacam-macam. Ada yang sekadar menghirup uap lem (sniffing), menuangkan langsung ke hidung atau mulut (snorting), menghirup melalui kain yang telah direndam dalam lem (huffing), dan yang terpopuler adalah menghirup lem yang telah dibungkus plastik atau kantong kertas (bagging).

Dari semua cara itu, snorting yang paling berbahaya karena dapat mengakibatkan kerusakan permanen jaringan mukosa hidung atau mulut dan penyumbatan jalan napas.

Pada pemakaian kronik dan yang berlangsung lama, toluena mengakibatkan kerusakan saraf otak permanen dan hancurnya organ vital, seperti hati dan ginjal (Flanagan et al, 1990). Zat laknat tersebut bahkan dapat menimbulkan fenomena yang dinamakan sudden sniffing death, yaitu kematian tiba-tiba saat menghirup lem yang diakibatkan oleh kombinasi gangguan irama jantung disertai peningkatan adrenalin (Shepherd, 1989).

Penegakan hukum sulit dilakukan karena zat tersebut tak dikategorikan sebagai narkotika dalam aturan kita.

Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika tak mencantumkan zat toluena di dalamnya.

Karena itu, aparat kepolisian atau BNN hanya melakukan upaya pembinaan dan penyadaran terhadap anak dan remaja yang tertangkap menggunakan lem.

Ini sangat berbahaya. Selain berdampak buruk terhadap kesehatan, hal ini mencitrakan negara melakukan “pembiaran” dan terkesan melempem terhadap fenomena mengerikan tersebut.

Penanggulangan zat inhalen di negara-negara maju layak dicontoh. Di Australia misalnya, polisi didukung oleh Undang-Undang Wewenang dan Tanggung Jawab Polisi (PPRA) yang memungkinkan mereka menyelidiki dan menyita barang bukti yang digunakan oleh pecandu zat inhalen.

Mereka juga berwenang menangkap dan menahan para pengguna, yang kemudian diarahkan ke pusat-pusat rehabilitasi terdekat. Aturan tersebut juga dilengkapi dengan delik Undang-Undang Pelanggaran Sumir (SOA) yang melindungi pedagang yang menolak menjual zat inhalen kepada orang-orang yang dicurigai dapat menyalahgunakannya.

Di Amerika Serikat, Badan Pencegahan Narkoba (DEA) memiliki unit khusus Kantor Pembatasan Zat Diversi dan penyelidik diversi. Para penyelidik ini didominasi oleh apoteker dan sarjana kimia. Mereka berperan laiknya detektif yang melakukan upaya penegakan hukum terhadap segala penyimpangan zat diversi (zat yang digunakan tidak untuk peruntukannya), termasuk zat inhalen.

Pemerintah harus bertindak tegas dan cepat dalam memerangi fenomena ngelem. Sudah saatnya toluena dimasukkan ke pembahasan revisi Undang-Undang Narkotika dan Psikotropika. Momentumnya sangat tepat karena aturan tersebut masih dibahas di parlemen.

 

dikutip dari tulisan Muhammad Hatta (Dokter Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar)

Artikel ini sudah tayang dilaman Tempo.co / https://kolom.tempo.co/read/1163330/bahaya-laten-zat-ngelem

 Editor: faisal




Demokrasi Indonesia dan AS Masih Dalam Kategori Cacat

Oleh: Ian Burrows     sumber: ABC

(ABC News: Jarrod Frankhauser)

Divisi Intelligence Unit (EIU) dari majalah Inggris The Economist setiap tahun mengeluarkan daftar indeks demokrasi negara-negara di dunia.

Beberapa negara yang menggunakan nama demokrasi sebagai nama resmi negara mereka, namun dalam kehidupan politik sehari-hari negara-negara tersebut tidaklah sepenuhnya demokratis.

EIU menggolongkan 167 negara yang dinlai dalam beberapa kategori, yaitu demokrasi penuh, demokrasi cacat, rejim hibrid, dan otoriter.

Di kawasan Asia Pasifik Australia dan Selandia Baru menjadi dua negara yang masuk dalam kategori betul-betul demokrasi.

Indonesia masuk dalam kategori kedua, demokrasi yang masih cacat, masuk dalam kategori yang sama dengan Amerika Serikat, dan Jepang.

Ada delapan negara yang menggunakan nama demokratik yaitu Aljazair, Republik Demokratik Kongo, Timor Leste, Ethiopia, Korea Utara, Laos, Nepal dan Sri Lanka namun Korea Utara misalnya malah berada di peringkat paling bawah dan masuk kategori sebagai negara otoriter.

Untuk memberikan peringkat EIU memberikan angka dari nol sampai 10 untuk sejumlah kategori seperti partisipasi politik, dan fungsi pemerintah.

Indonesia berada di peringkat 65 dengan nilai 6,39, satu peringkat lebih baik dari Singapura dengan peringkat 66 dengan nilai 6,38.

Di Asia Tenggara, Malaysia dan Filipina lebih tinggi peringkatnya dari Indonesia.

Malaysia di peringkat 52 dengan nilai 6,88 dan Filipina di peringkat 53 dengan nilai 6,71.




Infografis Debat capres 2019

Infografis : Antara

 

 




Tak Hanya Mempercantik Halaman, Berkebun Ternyata Memiliki Manfaat Sehat Untuk Keluarga.

 

Ilustrasi Foto: vita-nurhayati.blogspot

detikriau.org — Berkebun dapat menjadi aktivitas fisik yang bisa Anda lakukan di waktu senggang bersama keluarga. Selain mudah, berkebun juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga.

Aktivitas berkebun misalnya, menjadi lebih menyenangkan dengan mengajak buah hati Anda bagaimana cara merawat tanaman sejak usia dini. Dengan melakukan aktivitas berkebun, anak dapat belajar mengenai berbagai ragam tumbuhan, termasuk jenis-jenis pohon, bunga, buah, dan sayur.

Aktivitas rumahan tersebut juga membuat anak belajar lebih lanjut mengenai alam sekitarnya, termasuk dari mana asal makanan yang dikonsumsinya, bagaimana cara menyemai biji sayuran, dan lain-lain.

Diwartakan klikdokter.com, berikut beberapa manfaat berkebun yang dapat Anda petik bersama keluarga:

1. Penghilang stres

Tanpa disadari, ketika Anda berkebun di tengah udara segar sambil bermandikan cahaya matahari, mampu menghilangkan stres. Tidak hanya itu, bakteri baik dalam tanah memicu produksi senyawa serotonin dalam otak.

2. Baik untuk kesehatan tubuh

Selain bermanfaat sebagai penghilang stres, ternyata berkebun juga baik untuk kesehatan fisik. Ini disebabkan, berkebun termasuk dalam olahraga tingkat menengah.

Seperti yang disampaikan oleh dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, berkebun merupakan salah satu jenis aktivitas fisik aerobik yang baik bagi tubuh. Tanpa disadari, seseorang yang berkebun dengan durasi cukup lama dapat membakar kalori dalam jumlah yang relatif tinggi.

Sesuai dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh dr. Nitish, berkebun memiliki efek yang sama dengan berolahraga. Hanya saja, berkebun tidak memerlukan tenaga yang relatif banyak seperti berlari atau bermain tennis.

3. Membangun keluarga harmonis

Berkebun bersama keluarga menciptakan adanya ikatan yang kuat dan kerja sama antar anggota keluarga. Setiap anggota keluarga dapat merasakan momen bahagia dengan melakukan kegiatan di luar ruangan. Kegiatan di luar ruangan sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.

Selain itu, berkebun juga bermanfaat untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak Anda. Dengan memberikan mereka kesempatan untuk menanam tanaman yang mereka suka, anak Anda akan merasa bertanggung jawab untuk merawat dan  menjaga tanamannya dengan baik.

4. Menumbuhkan pola makan sehat pada anak

Berkebun terbukti dapat menumbuhkan kebiasaan makan sayur-sayuran dan buah pada anak-anak. Jika Anda membiasakan anak Anda berkebun, mereka cenderung mau mencoba berbagai jenis sayuran dan buah.

Tidak hanya menumbuhkan nafsu makan sayuran dan buah pada anak-anak. Ternyata, berkebun juga membuat orang dewasa menyukai sayuran dan buah dibandingkan dengan yang tidak berkebun.

Setelah mengetahui rangkaian manfaat berkebun, kini saatnya Anda merealisasikan hal tersebut dengan langkah berikut:

Konsultasikan tanaman apa yang cocok

Anda dapat menanyakan pada tetangga Anda yang hobi berkebun atau petani lokal terkait tanaman yang cocok. Hal ini perlu Anda lakukan karena setiap wilayah memiliki perbedaan geografis.

Memulainya dengan menanam di pot

Berkebun dengan pot sesuai untuk halaman rumah yang sempit. Bagi Anda yang memiliki halaman rumah luas, menanam di pot juga bermanfaat untuk membiasakan anak-anak berkebun.

Memilih benih tanaman yang baik

Anda dapat melibatkan anak-anak dalam memilih benih tanaman. Misalnya dengan memilih benih tanaman dari sayuran atau buah yang anak Anda suka.

Jadi tunggu apa lagi? Siapkan media tanam, pot, lahan dan biji-biji tanaman yang hendak Anda tanam. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk berkebun dan mendapatkan manfaatnya dari aktivitas yang menyehatkan fisik dan pikiran ini.

Editor: faisal




Kemenpar Siapkan Rp150 Juta untuk Lomba Foto Akhir Tahun

Ilustrasi: Net

Jakarta — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Lomba Cerita Liburan Akhir & Awal Tahun yang berbarengan dengan momen liburan keluarga.

Lomba ini dibuka untuk periode 27 Desember 2018-7 Januari 2019. Panitia telah menyiapkan total hadiah sebesar Rp150 juta. Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan siapa pun boleh ikut meramaikan lomba ini di seluruh destinasi wisata di Indonesia.

“Destinasi bebas, bisa di mana saja di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Peserta bisa mengeksplorasi gunung, savana, hutan, ladang, kebun, danau, sungai, hamparan persawahan, pantai, pulau, hingga bawah laut,” beber Arief dalam keterangan tertulis dilansir melalui CNN Indonesia, Jumat (28/12).

Caranya, peserta hanya memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter untuk mempublikasikan karyanya ke dalam tiga platform tersebut soal wisata Tanah Air.

Ketentuan lomba khusus bagi pengguna Instagram dan Facebook, adalah mengunggah foto atau video saat liburan di akun pribadi. Berikan caption tentang cerita liburan lengkap dengan nama destinasinya.

Peserta juga wajib mengikuti dan menyebut akun @kemenpar dan @pesonaid_travel. Jangan lupa gunakan hashtag #LombaCeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #PesonaCeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #CeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #PesonaIndonesia, dan #WonderfulIndonesia.

Sementara untuk pengguna Twitter, peserta bisa membuat kultwit minimal 10 twit pada akun pribadi. Ceritakan tentang serunya liburan di akhir 2018 dan awal 2019. Peserta juga harus mengikuti akun pesonaid_travel dan gunakan hashtag #PesonaCeritaAkhir2018Awal2019.

“Untuk pengguna Instagram dan Facebook, penilaian dilakukan berdasarkan interaksi dengan netizen seperti komentar, likeshare, dan view. Sedangkan untuk pengguna Twitter, penilaian berdasarkan kultwit dengan cerita terbaik,” imbuhnya.

Arief menambahkan hadiah sebesar Rp150 juta akan diberikan kepada 150 pemenang, baik peserta pengguna Instagram, Facebook, maupun Twitter. Dengan demikian, setiap kategori akan dipilih 50 pemenang yang masing-masing akan mendapat hadiah Rp1 juta.

“Peserta boleh ikut di semua kategori dan boleh mengajak semua anggota keluarga. Ajak juga teman-teman untuk berbagi keseruan liburannya di lomba ini. Pemenang akan diumumkan sehari setelah lomba ditutup atau tepatnya pada 8 Januari 2019,” kata Arief.