Enam Misteri yang Allah Sembunyikan dari Manusia

Kehidupan di dunia merupakan salah satu misteri yang tidak diketahui oleh penghuninya. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahui bagaimana jalan cerita hidupnya kecuali atas izin Allah SWT. Begitu banyak hal yang Allah sembunyikan dari makhluk ciptaan-Nya.

Beberapa hal bahkan dikatakan sebagai rahasia Ilahi yang tidak bisa diramalkan secara pasti. Akan tetapi di balik misteri yang disembunyikan tersebut tentu ada hikmah luar biasa yang akan diperoleh manusia.

Misteri tersebut akan terbuka apabila Allah SWT berkehendak. Menurut Umar bin Khattab ada enam perkara yang masih jadi misteri dan disembunyikan oleh Allah dari umat-Nya. Lantas apa sajakah keenam misteri tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

1. Allah Menyembunyikan Keridhoan-Nya Dalam Ketaatan kepada-Nya
Misteri pertama yang disembunyikan Allah SWT dari umat-Nya adalah, Dia menyembunyikan keridhoan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Tujuan dari disembunyikannya hal tersebut adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala perintah yang diberikan oleh Allah dengan penuh ketaatan.

Maka dari itu, janganlah menyepelekan ketaatan walaupun perbuatan atau amalan tersebut merupakan perkara kecil. Sebab bisa jadi di sanalah terleta keridhoan Allah SWT kepada kita yang melaksanakannya.

2. Allah Menyembunyikan Murka-Nya Dalam Kemaksiatan seorang hamba-Nya
Tidak hanya menyembunyikan ridho-Nya dalam ketaatan seorang hamba, ternyata Allah SWT juga menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang. Hal ini bertujuan agar manusia menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan merasa takut untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan tersebut.

Maka dari itu, tidak pantas bagi kita untuk meremehkan kemaksiatan walaupun dalam bentuk yang sangat kecil. Sebab bisa jadi, dari perbuatan kecil tersebut justru terletak murka Allah SWT yang dapat membuat kita terjerumus dalam api neraka di akhirat kelak.

3. Allah menyembunyikan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadan
Misteri selanjutnya yang disembunyikan oleh Allah yakni perihal malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Sebagaimana di sebutkan dalam Hadist ‘pahala ibadah sunnah di bulan Ramadhan sama dengan pahala ibadah wajib pada bulan selainnya dan agar bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar sebab nilainya lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun 4 bulan)

Itulah sebabnya Allah SWT menyembunyikan kapan terjadinya malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadan untuk melihat kesungguhan dari Umat untuk mendapatkannya lewat jalan beribadah kepada Allah Ta’ala.

4. Allah Menyembunyikan Para Wali Di Antara Manusia
Allah SWT juga menyembunyikan para wali di antara manusia. Tujuannya adalah agar manusia saling menghormati dan tidak meremehkan orang lain. Apabila orang tersebut meremehkan orang lain, bisa jadi orang yang diremehkannya tersebut justru merupakan wali Allah. Maka dari itu, kita harus menghargai semua orang.

5. Allah Menyembunyikan Kematian Dalam Umur
Misteri selanjutnya yang juga disembunyikan oleh Allah SWT dari manusia adalah Dia menyembunyikan kematian dalam umur orang tersebut. Tujuanya adalah agar semua manusia senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut kematian yang belum tahu kapan akan terjadinya dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. a.dan

6. Allah Menyembunyikan ‘Ash-Sholatul Wushta’ (Sholat Yang Paling Utama) Dalam Salat Lima Waktu
Hal terakhir yang disembunyikan oleh Allah SWT dari umat manusia ialah Allah menyembunyikan ‘Ash-Sholatul Wushta’ atau salat yang paling utama di dalam salat lima waktu. Tujuannya adalah agar seorang muslim tersebut dapat memelihara semua salat wajibnya dan tidak meremehkan satu di antaranya.

Demikianlah informasi mengenai enam misteri yang disembunyikan oleh Allah SWT dari manusia. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa ada maksud baik di balik penyembunyian enam hal di atas. Yakni untuk menambah keimanan dan keikhlasan kita dalam melaksanakan ibadah dan amalan kebaikan lainnya kepada Allah SWT.

sumber: infoyunik




Mengenal Sosok Ketua Majelis Hakim yang Memvonis Ahok 2 Tahun Penjara

Catatan ringan Ilham Bintang

Hakim Ketua Dwiarso Budi Santiarto (tengah) memimpin persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di PN Jakarta Utara, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (29/3). Sidang ke-16 itu beragendakan mendengarkan keterangan dari tujuh saksi ahli yang dihadirkan pihak penasehat hukum. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./aww/17.

Rasanya sulit dipercaya, tetapi begitulah faktanya. Setiap hari, dari rumah ke kantor, pulang-pergi, ia naik angkutan umum Transjakarta. Itulah hakim H Dwiarso Budi, ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memimpin majelis hakim sidang perkara penistaan agama oleh Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Sidang ini telah dimulai dari Selasa (13/12/2016) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajahmada, Jakarta.

Di mata kawan-kawannya, ia dijuluki bonek (bondo nekat). Bukan hanya karena kelahiran Surabaya. Namun, julukan itu menunjuk pada integritasnya sebagai hakim. “Antisuap, antigertak,” kata seorang sahabatnya.

Lahir di Surabaya, 14 Maret 1962, Inoenk, begitu panggilan akrab H Dwiarso Budi Santiarto SH Mhum, sampai sekarang pun masih tinggal di rumah dinas. Suami Yanti SH MH (teman kuliah) dan ayah dua anak, Rio dan Anya ini pernah menjadi ketua pengadilan di Kotabumi, Kraksaan, Depok, Banjarmasin, dan Semarang.

Putranya, Rio (S-1 ITB dan S-2 UI), saat ini tinggal di Jepang bekerja sebagai pelayan toko. Sedangkan, Anya (Hukum Unpar) bekerja sebagai pegawai pajak di Palangka Raya. Ada kisah menarik dari putra-putri Inoenk ketika terjadi penangkapan terhadap Ketua Mahkamah Konstitus Akil Mochtar tempo hari. Kompak mereka meminta Inoenk berhenti jadi hakim karena merasa malu dengan profesi ayahnya. Juga kompak berdua menyatakan biarlah mereka yang bekerja untuk menopang ekonomi orang tuanya.

Sarjana hukum jebolan S-I Universitas Airlangga dan S-2 Universitas Gadjah Mada serta terakhir Lemhanas (2016) ini adalah mantan atlet hoki PON Jatim dan atlet tenis mewakili provinsi di mana dia bertugas waktu itu.

Memutus seumur hidup koruptor BLBI

Mantan asisten/sekretaris Mahkamah Agung ini sewaktu bertugas sebagai hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutus hukuman seumur hidup untuk koruptor BLBI. Bahkan, waktu bertugas di Semarang, Inoenk juga memutus sengketa gubernur Jateng lawan pengacara kondang Yusril dengan menghukum hakim temannya sendiri karena menerima suap dan beberapa koruptor serta pejabat bupati Karang Anyar.

Keberaniannya untuk berbeda dengan alasan hukum yang rasional itulah yang membuat Ketua Mahkamah Agung Marsekal Sarwata sangat membanggakannya. Dosen favorit Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu kini menjadi tempat bergantung harapan keputusan adil dari persidangan kasus penistaan agama Ahok. Sekian lama, ia memang menjadi gantungan harapan para penuntut keadilan yang mengharapkan vonisnya terhadap Ahok terbebas dari pelbagai intervensi supaya wajah hukum kita mendapat kepercayaan publik.

Selasa (9/5) siang, akhirnya, ia membuktikan dirinya memang hakim yang berintegritas tinggi. Meskipun sempat dibayangi spekulasi, dia juga akan dilumat pelbagai manuver, seperti aparat penegak hukum lainnya yang masuk angin. Vonisnya, Ahok terbukti bersalah dan dihukum penjara dua tahun yang langsung ditahan di LP Cipinang.

sumber: republika.co.id




Cinta Ulama

JAKARTA — Sayyidina Abu Bakar RA selalu mengiringi Rasulullah SAW berjalan pulang setelah menunaikan shalat Isya berjamaah. Keduanya berjalan bersama dan berpisah ketika Nabi masuk rumahnya. Meski berpisah sesaat, tapi terasa berat bagi seorang Abu Bakar. Karenanya, terkadang beliau duduk dan terjaga semalam suntuk di depan pintu rumah Nabi hingga fajar tiba.

“Mengapa sampai segitunya, duhai Abu Bakar?” tanya Rasul ketika tahu sahabat sejatinya itu menunggui rumahnya sampai menjelang fajar.

“Sungguh, engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah; qurratu ‘ayni bika ya Rasulullah!” jawab Abu Bakar as-Shidiq.

Subhanallah, begitulah kecintaan mendalam seseorang kepada Sang Nabi. Lalu, bagaimana dengan kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah SAW. Jawabannya adalah sebagaimana ujaran Imam Hasan al-Basri ketika ditanya tentang amalan yang mendekatkan diri kepada Allah dan yang menyelamatkan pada hari akhir. “Cintailah para aulia atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya, di sana tertulis namamu. Dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik-Nya.”

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu-ilmu-Nya. Dari lisan dan amal mereka, umat mendapati khazanah pengetahuan untuk tetap berpegang pada kebenaran di atas Alquran dan as-Sunnah.

Dengan mencintai ulama maka pasti yang ditemukan adalah kebaikan dan keberkahan. Mengambil tangan ulama lalu menciumnya adalah hal indah yang didapat dari mereka yang mencintai ulama. Apalagi, menziarahi dan bersilaturahim kepadanya.

Sebut sebuah hadis, “Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim, ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku di dunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku di dunia maka Allah mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku.” (Kitab Lubabul Hadits).

Dari Abu Harairah RA, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah.” (Kitab Tanqihul Qaul).

Mencintai ulama berarti mencintai dan meneruskannya dalam amal setiap nasihatnya. Mencintai ulama berarti siap menyokong dan membelanya. Mencintai ulama berarti bersiap menjemput syahid jika ada titah turun kepadanya.

Semoga, umat di negeri ini semakin cerdas dalam menyebar cinta kepada para ulamanya. Ulama yang disayang, bukan malah ditendang. Ulama yang dicintai, bukan malah dizalimi. Insya Allah.

sumber: republika.co.id




Ingin Gapai Kebahagiaan Hakiki? Yuk Ikuti Kiatnya

detikriau.org – Bicara soal kebahagiaan, para ilmuwan dunia berbeda-beda dalam mendefinisikan. Tapi secara garis besar, ada dua macam kebahagiaan yang dapat dirasakan manusia di dunia ini. Kebahagiaan semu dan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan semu diperoleh manusia dengan menikmati hiburan secara berlebihan, bahkan sampai masuk ke dalam kemaksiatan. Ia hanya menjadi penutup masalah dalam waktu sementara, bukan menjadi penyelesainya. Bahkan sebaliknya malah dapat mendatangkan dosa dan bencana.

Sedang kebahagiaan hakiki, ia hanya dapat diraih dengan berbuat kebajikan, baik dengan lisan, tindakan, atau perasaan. Dengan syarat, kebaikan tersebut terlaksana dengan landasan iman, sebagai pancaran akhlaq mulia. Hebatnya, kebahagiaan hakiki secara otomatis juga menjadi jalan pemiliknya dalam meraih kebahagiaan akhirat yang kekal abadi, insya Allah. Dan ia dapat dipetik dari tujuh macam “pohon” sebagai berikut.

  1. Hati yang Bersyukur (Qalbun Syakurin)

Bila kita memandang segala sesuatu dengan kesyukuran, hati yang tenteram akan kita dapatkan. Di situlah hadirnya kebahagiaan.

“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat padamu. Bersyukurlah kepadaKu dan jangan ingkar kepadaKu.” (al-Baqarah: 152),

“(Yaitu) orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28).

Baca juga an-Nahl:18, Saba’:13, ar-Rahman: 13, dan Ibrahim: 7.

2. Pasangan Hidup yang Shalih (al-Azwaju Shalihah)

Keluarga yang dibina oleh sepasang suami-istri yang tunduk kepada wahyu Allah swt akan lebih mudah membentuk situasi tenteram nan membahagiakan.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antaramu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahahalus (pemberianNya), Maha Mengetahui.” (an-Nuur: 32)

Baca juga an-Nuur: 26, al-Furqan: 74, al-Isra’: 32, dan adz-Dzariyat: 49.

  1. Anak yang Shalih (al-Auladul Abrar)

Anak shalih adalah investasi yang tak dapat diukur dengan angka. Ia begitu berharga. Doa dan amal baiknya menambah nilai orang tua di mata Allah swt. Menyaksikannya, hati tenteram bahagia.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selainNya, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah satu atau keduanya sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali mengatakan kepada keduanya ucapan “ah”, dan jangan kamu membentak keduanya, dan ucapkan kepada mereka perkataan yang baik.” (al-Isra’: 23).

Baca juga Luqman: 14, al-Ahqaf: 15, al-Ankabut: 8, dan al-Furqan: 74.

  1. Lingkungan yang Kondusif untuk Menjaga Iman (al-Baiatu Shalihah )

Dalam psikologi dikatakan bahwa hal yang memengaruhi bentuk pribadi dan pola pikir manusia adalah teman dan bacaan. Lingkungan yang berdaya konstruktif memudahkan terciptanya tatanan kehidupan yang rapi. Di sanalah kebahagiaan bersemayam.

“Dan siapa menaati Allah dan Rasul(Muhammad saw), mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yakni para nabi, pecinta kebenaran, orang mati syahid, dan orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (an-Nisa: 69).

Baca juga adz-Dzariyat: 55, an-Naml: 214, dan al-Maidah: 2.

  1. Harta yang Halal (al-Malul Halal)

Harta yang halal dan digunakan untuk kebaikan akan membuahkan keberkahan. Bukan jumlah nominal, keberkahanlah yang menjadi pemantik kebahagiaan.

“Hai orang-orang beriman, infaqkanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk dikeluarkan, padahal kamu sendiri tak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata (enggan). Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (al-Baqarah: 267).

Baca juga ayat 155 dari surat yang sama.

6. Semangat Memahami Islam (Tafaquh Fi ad-Diin)

Kebahagiaan hakiki hanya ada di dalam Islam. Bila kita memelajari agama ini, maka akan menemukan kebahagiaan di sana.

“(al-Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (al-Jatsiyah: 20).

Baca juga Ali-Imran: 138, al-Maidah: 16, an-Nisa’: 174, dan al-Baqarah: 269.

  1. Umur Barakah

Ruang kesempatan yang kosong dari amal shalih menyebabkan kegelisahan, rasa bersalah. Pada saat itu, sebelum melangkah maju, kebahagiaan sirna. Ia tumbuh kembali kala langkah perbaikan mulai diayunkan.

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia paling tamak terhadap (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik, masing-masing mereka ingin diberi umur seribu tahun. Padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)

Baca juga, Fathir: 37 dan Yasin: 68.

Itulah tujuh macam “pohon” yang seyogianya “ditanam di kebun” setiap Mukmin, dan setiap hari “dipetik buahnya”. Selamat berjuang, selamat menjalani hidup penuh kebahagiaan! Wallahu a’lam. [dalan]

Sumber: panjimas

 




Alasan Mengapa Kita Perlu Menghormati Kiai

Edy Nasrul
Edy Nasrul

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Hasyim Asy’ari pernah berguru kepada Kiai Khalil Bangkalan. Ketika itu Kiai Hasyim bukan hanya belajar membaca kitab. Kiai Khalil memintanya mengurus ternak kambing dan sapi.

Suatu ketika Kiai Hasyim melihat Kiai Khalil terdiam. ‎Santri yang kelak mendirikan ormas Islam besar di Indonesia itu memberanikan diri bertanya, “Ada apa Pak Kiai?” Lalu Kiai Khalil menjawab, dia sedih karena cincin istrinya terjatuh di kamar mandi dan masuk ke dalam tempat pembuangan akhir.

Tanpa berpikir panjang, Kiai Hasyim muda bergegas masuk ke tempat pembuangan itu tanpa merasa jijik. Dia menemukan perhiasan tersebut dan mengembalikannya ke Kiai Khalil.

Masya Allah, sang kiai bahagia sekali. Kiai Khalil lalu mendoakan, semoga Kiai Hasyim menjadi orang yang bermanfaat. Ilmunya berguna bagi masyarakat luas.

Doa tersebut pun dikabulkan Allah. Mbah Hasyim, sapaan akrab di kalangan Nahdliyin, adalah pahlawan karena jasanya menghimpun ulama untuk mengeluarkan fatwa melawan penjajahan Belanda yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Beliau juga dikenal karena mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.

Jika mendatangi sejumlah pesantren, maka siapa pun akan menemukan para santri menghormati kiainya. Ada yang mencium tangan kiai. Ada juga yang membukakan atau memberikan jalan untuk mempersilakan kiai atau keluarga kiai lewat terlebih dahulu.

Bahkan tak hanya membukakan jalan. Santri juga berdiri menundukkan kepala ‎hanya untuk mempersilakan sang guru lewat.

Ini adalah tradisi yang sudah lama ada di pesantren, lembaga pendidikan asli Indonesia. Cara menghormati guru yang biasa mereka sapa ustaz dalam bahasa Arab atau kiai dalam bahasa Jawa tidak berlebihan.

Penghormatan ini bukan karena kiai mempunyai lahan pesantren yang luas. Bukan pula karena dia kaya. Kiai dihormati ribuan, bahkan puluhan ribu santrinya, dan masyarakat sekitar pesantren, karena ilmunya.

Kiai mengajarkan santrinya gramatika bahasa Arab‎, fikih, logika, tasawuf, dan banyak lagi. Ilmu itu bukan sebatas pengetahuan, tapi juga membentuk kepribadian. Santri mengerti, bagaimana etika menghormati orang tua dan muda. Mereka memahami bagaimana harus bersikap terhadap orang lain, termasuk orang asing.

Ada satu keyakinan unik di balik tradisi menghormati ini. Kalau tidak menghormati kiai maka ilmunya tidak berkah. Mereka terancam tidak akan bermanfaat saat hidup bermasyarakat.

Sebuah kitab menginspirasi mereka untuk menghormati kiai, Ta’limul Muta’allim Thariqah Litta’allum. Pengarangnya adalah Syeikh Azzarnuji. Ini adalah panduan bagi pelajar bagaimana cara menuntut ilmu.

Mereka yang baru saja menjadi santri biasanya mempelajari kitab ini. Tujuannya untuk memudahkan para santri menimba ilmu dengan baik.

Satu bagian dalam kitab itu mengajarkan tentang menghormati guru. Di antaranya, ‎santri tidak berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat gurunya, tidak memulai bicara kecuali dengan izin guru‎, tid‎ak bertanya sesuatu bila guru sedang capai atau bosan, dan masih banyak lagi.

Syeikh Azzarnuji menulis, salah satu syarat sukses menuntut ilmu adalah mendapatkan keridhaan guru. Kiai Hasyim adalah contoh santri yang berhasil mendapatkan ridha kiai, sehingga menjadi orang besar.

Belum lama ini masyarakat menyoroti Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Ma’ruf Amin. Alim (orang berilmu) asal Banten ini dihardik dalam sebuah persidangan.

Tak hanya itu, kehidupan pribadi Kiai Ma’ruf terkait pasangan hidupnya, sempat menjadi isu di media sosial (medsos). Banyak pengguna medsos menjadikan isu ini sebagai pembicaraan untuk merendahkan Kiai Ma’ruf.

Saya mengkhawatirkan, kejadian tersebut menjadi tanda masyarakat sekarang ini tak bisa menghormati ulama. Mereka merasa ada figur yang lebih terhormat, beruang, dan berjabatan tinggi, sehingga tak perlu lagi menghormati ulama.

Karena tak perlu dihormati, ada yang merasa tak perlu lagi menambahkan gelar kiai, ustaz, habib, sebelum menulis nama ulama. Tak heran bila akhir-akhir ini, sebagian media massa tak menyebutkan kiai ketika menulis nama Kiai Ma’ruf Amin. Hal yang sama juga terjadi ketika menulis nama Habib Rizieq Shihab dan Ustaz Bachtiar Nasir. Entah apa alasan di balik itu semua.

Tak ada salahnya masyarakat modern belajar dari pendahulu. Pembelajaran seperti itu merupakan bagian dari sejarah. Sejarawan Ibnu Khaldun menuliskan dalam Mukaddimahnya, sejarah tak hanya cerita masa lalu. Di dalamnya ada perumpamaan, pengalaman, dan hikmah, untuk menjadi pelajaran masyarakat saat ini.

Sejarah telah menjadikan Islam belajar dari peradaban terdahulu, sehingga menjadi besar pada abad kedelapan Masehi. Sejarah membuat Indonesia bersemangat untuk lepas dari penjajahan, sehingga merdeka pada 1945.

Tak ada salahnya masyarakat sekarang ini kembali mempelajari sejarah, di antaranya tentang perjalanan hidup Mbah Hasyim. Salah satu tujuannya adalah agar bermanfaat dan tidak kualat kepada ulama, kiai, ustaz, atau guru, yang telah mencerdaskan banyak orang. Mari sama-sama belajar.

Oleh: Wartawan Republika, Erdy Nasrul‎




UMUR

detikriau.org – Hamka mengisahkan dalam Tasawuf Modern, bahwa di Barat ada seorang sangat kaya raya bernama Rockefeller. Sebelum menjadi kaya, ia merindukan kebahagiaan yang dikiranya akan dapat diperoleh dengan kekayaan. Setelah harta benda yang berlimpah sudah berada dalam genggaman, dalam umur 97 tahun (1937), ia merasa semua itu tak punya arti. Menjelang ajal, ia merasa bahwa bahagia adalah ketika umurnya digenapkan 100 tahun. Namun takdir bicara lain. Di tahun itu juga ia meninggal dunia. Tak mampu ia membeli waktu tiga tahun dengan seluruh kekayaannya!

Sementara, di belahan bumi lain, di Surakarta, ada seorang nenek bernama Mbah Suro yang hidup mencapai umur 150 tahun, sedang ia sangat miskin. Acap kali ia merasakan kebosanan hidup oleh karena ketiadaan harta benda. Bila saja nasib dan umur bisa diatur sekehandak manusia, apa salahnya bila ia memberikan tiga tahun saja jatah hidupnya untuk Rockefeller. Jika memang bisa, agaknya si kaya raya bersedia menggantinya dengan separuh kekayaan yang ia miliki.

”Allah-lah yang telah menciptakan kamu, kemudian ia mewafatkan kamu. Di antara kamu ada yang di panjangkan umurnya sampai tua renta, sehingga menjadi tak tahu apa-apa sesudah dia mengetahui segala-galanya. Sesungguhnya Allah Mahatahu, Mahakuasa.” (an-Nahl: 70)

Umur setua mereka terbilang langka di zaman kita. Namun Rockefeller masih saja merasakan kekurangan, ingin minta tambahan.

“Umur umatku berkisar antara 60 sampai 70 tahun. Amat sedikit dari mereka yang lebih dari itu.” (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 757).

Selesainya hidup di dunia, akan ada kehidupan berikutnya. Di sanalah semua kelakuan semasa di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun ada saja manusia yang tak percaya.

”Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (al-An’am: 2).

Hanya penyesalan hadiah terbaik mereka. Tiada kesempatan sezarah pun untuk mengulang. Tiada lorong untuk merangkak pergi.

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami keluarkan kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.” (al-Fathir: 37)

Pembahasan umur tak bisa dipisahkan dengan masalah waktu. Allah swt berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al ‘Ashr: 1-3)

Tiada lain, umur ada hanya untuk iman dan kebajikan. al-Ghazali mengajak kita merenung,

“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku, sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memerpanjang usiaku dan memberi kenikmatan.” Dan mengajak kita agar setiap hari meluangkan waktu barang sesaat guna menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyarathah).

Syaikh Abdul Wahhab bin Ahmad asy-Sya’rani, Seorang sufi besar, dalam Bahrul Maurud, menulis, “Telah diambil perjanjian dari kita, apabila umur telah mencapai 40 tahun, hendaklah bersiap-siap melipat kasur dan selalu ingat pada setiap tarik nafas, bahwa kita sedang berjalan menuju akhirat, sampai tak merasa tenang lagi rasanya hidup di dunia ini.” Melipat kasur ia maksudkan dengan mengurangi tidur untuk menambah ibadah.

‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, Abu Bakrah, mengatakan, ada orang bertanya kepada Rasulullah saw,

“Wahai Rasulullah, manusia mana yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun baik amalnya.” “Lalu manusia mana yang dikatakan jelek?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (Hr. Tirmidzi no. 2330, shahih menurut al-Albani).

Panjang pendeknya umur bukanlah urusan kita. Manusia hanya menjalani kehendakNya saja. Jadi, yang perlu kita fikirkan ialah bagaimana umur bisa barakah. Rasulullah saw memberi jawabannya,

“Siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahim.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama menafsiri panjang umur di sini adalah barakahnya umur.

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat…” (Hr. Bukhari dan Muslim).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Itulah cara-cara menjadikan umur berbarakah.

Sebagai penutup, mari kita renungi hadist ini. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda,

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, saat luangmu sebelum datang saat sibukmu, masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(Hr. Hakim dalam al-Mustadrak, shahih menurut al-Albani, dalam al-Jami’ ash-Shaghir). Wallahu a’lam.

baca sumber; panjimas.com