Awas, Ada Zat dalam Makanan yang Bisa Picu Kanker Testis!

 

Detikriau.org — Kanker testis merupakan penyakit mengerikan yang penyebabnya masih belum diketahui pasti hingga saat ini. Akan tetapi, para peneliti dari Wake Forest University, Amerika Serikat, memiliki dugaan kuat bahwa kanker testis bisa terjadi akibat paparan zat yang ada di dalam jenis makanan tertentu.

Dilansir melalui klikdokter.com, Profesor biologi dan kanker, Gary G. Schwartz, PhD, MPH, menyebut bahwa zat tersebut adalah racun yang disebut ochratoxin A. Racun itu muncul karena kontaminasi yang berasal dari jamur. Schwartz mengungkapkan bahwa racun itu mungkin ditemukan pada biji-bijian dan produk tanaman lain, termasuk kopi, kacang-kacangan, dan rempah-rempah. Racun penyebab kanker testis juga berpotensi ada di dalam makanan yang berasal dari hewan, terutama daging babi.

Bukti bahwa ochratoxin A dapat menyebabkan kanker testis berasal dari percobaan yang menggunakan tikus. Sebelumnya, ochratoxin A dapat menyebabkan kanker ginjal dan itu ditunjukkan dalam percobaan pada tikus yang sedang hamil. Racun itu melintasi plasenta dan menumpuk di organ-organ dalam janin, di mana peristiwa tersebut menyebabkan perubahan DNA yang berakibat pada terbentuknya sel kanker.

Schwartz kemudian mengaitkan temuan tersebut pada manusia. Ia beranggapan bahwa janin laki-laki yang terpapar ochratoxin A saat masih dalam kandungan dapat mengalami kerusakan DNA di testis. Selain itu, Schwartz mengatakan bahwa bayi yang telah dilahirkan juga mungkin terpapar ochratoxin A dari ASI ketika menyusui.

Belum bisa jadi acuan

Terlihat meyakinkan, namun teori yang dilontarkan Schwartz masih belum dapat dijadikan sebagai acuan. Kendati demikian, Schwartz tetap memberikan solusi untuk menghadapi apa yang ia temukan dalam penelitiannya.

“Kadar ochratoxin A dapat dikurangi dengan memberikan obat antiinflamasi seperti aspirin, indometasin, atau vitamin A, C, dan E pada wanita hamil. Aspartam, yang merupakan pemanis buatan dan biasanya ada di dalam minuman bersoda, juga bisa melawan efek ochratoxin A,” kata Schwartz.

Pernyataan oleh Schwartz dinilai sangat kontroversial. Ini karena sebelumnya tidak ada yang menyarankan bahwa wanita hamil boleh minum obat antiinflamasi atau vitamin dalam dosis besar. Dan juga, selama ini wanita hamil sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi pemanis buatan, termasuk minuman bersoda.

Penelitian oleh Schwartz memang masih jauh dari sempurna. Akan tetapi, Schwartz mengatakan bahwa penelitian selanjutnya tidak harus mencoba untuk membuktikan atau membantah hubungan antara ochratoxin A dan kanker testis.

Pemicu kanker testis lainnya

Faktor yang paling berperan pada terjadinya kanker testis adalah genetik atau keturunan. Namun, dr. Andika Widyatama dari KlikDokter mengatakan bahwa junk food, merokok, dan minum alkohol juga berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit mengerikan itu.

“Pola makan yang bisa meningkatkan risiko kanker itu biasanya adalah yang suka makan junk food. Begitu juga dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol,” ungkapnya.

Jadi, meski penelitian tersebut masih belum terbukti sepenuhnya, tak ada salahnya untuk terus waspada dan berhati-hati dalam memilih makanan sehari-hari. Jangan lupa juga untuk terus memperbaiki gaya hidup yang Anda jalankan, agar Anda terhindar dari risiko beragam penyakit termasuk kanker testis.

 




Oartfish Muncul di Jepang, Benarkah Pertanda Akan Adanya Bencana?

Ikan oarfish (Foto: Instagram/@uozuaquarium_official)

Detikriau.org Media sosial Jepang tengah mengalami kegelisahan setelah penemuan sejumlah ikan laut dalam, oarfish yang secara tradisional dianggap sebagai pertanda bencana alam.

Pada Senin 28 Januari 2019, seekor oarfish berukuran hampir empat meter dari moncong ke ekor ditemukan terbelit jaring ikan di lepas pantai Imizu, di prefektur pantai utara Toyama.

Seperti diberitakan South China Morning Post yang dikutip dari liputan6.com, Jumat (1/2/2019), binatang laut itu ditemukan sudah mati tetapi kemudian dibawa ke Akuarium Uozu terdekat untuk dipelajari.

Dua ikan langsing mirip ular itu ditemukan di Teluk Toyama sembilan hari sebelumnya. Rekor empat oarfish ditemukan di Teluk Toyama pada 2015 tetapi itu bisa dilampaui tahun ini.

Spesies – yang memiliki ciri bertubuh perak panjang dan bersirip merah – biasanya menghuni perairan dalam dan jarang terlihat di permukaan, meskipun legenda mengatakan bahwa ketika ikan oar naik ke perairan dangkal, bencana sudah dekat.

Kata Ilmuwan

Hiroyuki Motomura, seorang profesor ichthyology di Universitas Kagoshima, memiliki penjelasan yang lebih biasa untuk penemuan ikan oar baru-baru ini di Prefektur Toyama.

“Saya memiliki sekitar 20 spesimen ikan ini dalam koleksi saya sehingga bukan spesies yang sangat langka, tetapi saya percaya ikan ini cenderung naik ke permukaan ketika kondisi fisik mereka buruk, naik pada arus air, itulah sebabnya mereka begitu sering mati ketika mereka ditemukan,” katanya.

“Tautan ke laporan aktivitas seismik telah terjadi bertahun-tahun, tetapi tidak ada bukti ilmiah tentang hubungan itu sehingga saya tidak berpikir orang perlu khawatir.”

Namun demikian, reputasi oarfish sebagai indikator malapetaka segera meningkat setelah setidaknya 10 oarfish terhanyut di sepanjang garis pantai utara Jepang pada 2010.

Sedangkan pada Maret 2011, gempa bermagnitudo 9 melanda timur laut Jepang, memicu tsunami besar yang menewaskan hampir 19.000 orang dan menghancurkan pembangkit nuklir Fukushima.

Dengan peringatan gempa dan tsunami semakin dekat, orang-orang di jagat maya menjadi gelisah tentang pertanda bencana alam itu.

lama detikcom mewartakan, secara tradisional dalam bahasa Jepang, oarfish disebut sebagai ‘Ryugu no tsukai‘ yang berarti ‘Pembawa pesan dari Istana Dewa Laut’. Mitos soal oarfish yang berkembang luas menyebut bahwa oarfish akan muncul ke pantai sebelum gempa bumi bawah laut terjadi.

Mitos soal oarfish pernah marak dibahas publik setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat menerjang Fukushima, Jepang tahun 2011. Laporan Kyodo News menyebut sedikitnya satu lusin ekor oarfish terdampar ke pantai-pantai Jepang dalam jangka waktu setahun sebelum bencana alam terjadi.

Pendapat Peneliti Taksonomi Ikan LIPI

Detikcom juga mewartakan, Peneliti Taksonomi Ikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Teguh Peristiwady menilai ikan tersebut tidak berbahaya malah justru dapat dikonsumsi meksi jarang ditemukan.

“Nggak (berbahaya) ikan ini bahkan nggak punya jari-jari sirip yang keras. Ya (bisa dikonsumsi) tapi nggak banyak ditemukan. Ada sumber menyebutkan ikan ini rasanya kurang enak. Saya sendiri belum pernah mencicipi daging ikan ini,” ujar Teguh ketika dihubungi, Sabtu (2/2/2019) malam.

Teguh menjelakan ikan tersebut terdiri dari tiga jenis, dan dikelompokkan sesuai wilayah habitatnya. Sedangkan, ikan yang muncul di Jepang itu termasuk dalam Regalecus Russelli (Cuvier, 1816) yang biasa hidup di wilayah perairan Indo-Pasifik seperti, China, Jepang.

“Pertama itu Regaleus Glesne Ascanius, (King of herrings, 1772), jenis ini tersebar hampir di semua lautan, tropis sampai sub-tropis, ditemukan di negara-negara Afrika, Eropa, Amerika Utara, Oceania, Amerika Selatan bahkan Asia. Kedua, Agrostichthys Parkeri (Benham, 1904) (Streamer fish) jenis ini hanya ditemukan di perairan selatan seperti di New Zealand dan negara-negara lain,” ujarnya.

“Ketiga, Regalecus Russelli (Cuvier, 1816) (Oarfish) jenis ini tersebar di perairan Indo-Pasifik seperti China, Jepang, Korea Selatan. Saya nggak terlalu yakin, karena dari Fotonya sirip perutnya terlihat pendek (apakah terpotong). Tetapi sepertinya dari Regalecus,” lanjut Teguh.

Teguh belum mengetahui sejarah kemunculan oarfish itu. Namun, dipastikan ikan tersebut tidak pernah muncul di perairan Indonesia.

“Saya nggak tahu tentang data-data munculnya ikan-ikan ini. Dari database yang ada. (LIPI) selama ini belum pernah mencatat jenis ikan ini. Tapi yang pasti tidak satu pun jenis tertangkap atau pernah dikoleksi dari perairan Indonesia,” katanya.

Ia pun tidak mengetahui pasti keterkaitan munculnya ikan itu dengan bencana alam. Namun, menurutnya kemungkinan ikan yang hidup di perairan dalam itu muncul ketika mengejar makanan yang diberikan oleh para nelayan.

Lalu, soal keterkaitan dengan bencana alam, Teguh tidak memahami soal itu. Ikan yang hidup di perairan dalam itu jelasnya mungkin tertangkap ketika mengejar makanan seperti udang-udangan.

“Pada umumnya memang ikan-ikan ini mempunyai habitat di perairan dalam, tetapi kalau dihubungkan dengan akan adanya gempa atau kejadian alam lainnya saya sendiri kurang memahami. Barangkali dia tertangkap pada saat mengejar makanan, karena makanannya adalah udang-udangan, cumi,” tuturnya.

Editor: Faisal




Bolehkah Balita Minum Susu Kental Manis?

foto: detikHealth

 

Susu adalah salah satu minuman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari segala usia. Rasa dan manfaat yang terkandung di dalam susu menjadikan minuman ini digemari oleh banyak kalangan.

Produk susu juga sangat variatif dan mudah ditemukan di pasaran mulai dari produk yang berbentuk susu murni, susu bubuk, hingga susu cair dalam kemasan. Namun, salah satu yang cukup digemari adalah susu kental manis.

Tidak sedikit orang tua menjadikan susu kental manis sebagai minuman wajib di rumah. Selain rasanya yang enak, susu kental manis juga dipercaya memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh. Karena alasan itu pula, tak jarang susu kental manis diberikan ke anak usia balita.

Susu kental manis mengandung tinggi gula

Muncul berbagai kabar di media yang memberitakan bahwa kandungan nutrisi susu kental manis tidaklah sebaik apa yang diasumsikan oleh mayoritas orang tua. Sebanyak 50 persen kandungan yang terdapat dalam susu kental manis adalah gula. Kandungan lainnya terdiri atas lemak susu sebesar minimal 8 persen, protein (Nx6,38) minimal sebesar 6,5 persen, dan tidak memiliki total padatan susu sesuai dengan tabel dari BPOM.

Komposisi ini membuat susu kental manis lebih banyak mengandung kalori ketimbang zat gizi dan nutrisi penting.Hal ini tentu akan membahayakan bagi balita Anda yang sedang dalam masa pertumbuhan. Selain itu, tingginya kandungan lemak juga akan memicu gangguan kesehatan, seperti obesitas dan memperbesar kemungkinan terjangkit diabetes sejak usia dini.

Tingginya gula dalam susu kental manis juga berpotensi menimbulkan gangguan dalam jangka pendek, seperti batuk pada saat tidur. Ini disebabkan tertinggalnya lendir di tenggorokan yang tentu akan mengganggu proses pernapasan anak. Karena alasan itulah, susu kental manis lebih tepat untuk digunakan sebagai penambah rasa manis di sajian makanan, bukan minuman yang rutin untuk dikonsumsi sehari-hari.

Di lain sisi, Kepala BPOM, Penny Lukito, seperti dikutip dari Liputan6.com, pernah menegaskan bahwa susu kental manis mengandung susu dan termasuk dalam kategori susu. Namun demikian, meski mengandung susu, susu kental manis bukanlah produk susu untuk pengganti kebutuhan gizi maupun pengganti air susu ibu (ASI). Oleh karena itu, susu ini tidak diperuntukkan untuk bayi dan balita di bawah 12 bulan.

Pilih susu jenis lain

Dalam menyikapi hal ini, orang tua tidak perlu khawatir berlebihan karena bagaimanapun susu yang benar akan memberikan banyak sekali manfaat bagi buah hati. Pilihlah susu yang tepat untuk diberikan kepada balita Anda dan mengandung nutrisi yang dibutuhkan. Misalnya, susu seperti pasteurisasi, UHT, susu steril, susu skim, hingga susu segar adalah beberapa pilihan yang bisa Anda berikan kepada anak.

Kandungan nutrisi pada susu yang tepat akan sangat membantu proses tumbuh kembang anak. Seperti menjaga kesehatan tulang, menguatkan gigi, memelihara kesehatan jantung, meringankan depresi hingga menjaga berat badan anak.

Jadilah orangtua yang bijak. Jangan berikan susu kental manis sebagai minuman utama untuk pemenuhan gizi balita Anda. Sebaiknya, Anda memilih susu jenis lain, seperti sus UHT dan susu bubuk lainnya. Pastikan pula untuk selalu membaca terlebih dahulu kandungan nutrisi yang ada pada setiap produk susu ataupun produk makanan dan minuman lain sebelum diberikan kepada balita Anda sebelum membeli.

Sumber: klikdokter.com

 




Sejarah Tersembunyi Islam di Australia Mulai Terungkap

Oleh Gabriella Marchant

Rekaan realitas virtual dari masjid pertama Australia di daerah Marree, yang dipamerkan di Islamic Museum of Australia. (Supplied: Islamic Museum of Australia)

Ammin Nullah Shamroze memiliki logat bahasa Inggris warga pedalaman yang sangat kental. Dia seorang penjaga masjid tua di Broken Hill, keturunan dari para Muslim penunggang unta yang sering terlupakan di Australia.

Pria yang biasa disapa Bob ini merupakan keturunan terakhir para pendatang Timur Tengah yang di abad ke-19 bekerja sebagai penunggang unta.

“Tanpa jasa penunggang unta, negara kita tidak akan seperti sekarang ini,” ujar Bob kepada ABC.

Bob tumbuh dewasa di kota pedalaman Broken Hill. Ayahnya, Shamroze Khan, kemungkinan besar berasal dari Pakistan, tiba pada akhir 1800-an untuk membantu pendatang Inggris menjelajahi pedalaman benua ini.

Kisah mereka kini dipamerkan di Museum Islam Australia di Melbourne, bertujuan untuk mengungkap peran umat Islam dalam membangun Australia.

Ammin Nullah “Bob” Shamroze dan istrinya Janet. (Kiriman: Bob dan Indiana Shamroze)

Direktur pendidikan pada museum ini, Sherene Hassan, menjelaskan pameran dimaksudkan sebagai upaya meluruskan sejarah.

“Sangat bermakna bila masyarakat luas memahami kontribusi umat Islam ke Australia selama berabad-abad,” katanya kepada ABC.

Pameran bertajuk Mekah ke Marree menggunakan teknologi realitas virtual 3 dimensi, mengajak pengunjung menyusuri perjalanan Islam dari Mekah hingga ke masjid pertama Australia, yang dibangun para penunggang unta di Marree, Australia Selatan, tahun 1885.

Menurut Sherene Hassan, kereta api Adelaide ke Darwin, The Ghan yang dinamai dari penunggang unta Afghanistan, terkesan menyesatkan. Sebab, para penunggang unta itu bukan hanya dari Afghanistan.

“Mereka berasal dari berbagai negara, bukan hanya Afghanistan, tetapi juga Pakistan, Mesir, Suriah, dan Turki,” jelasnya.

Penulis Hanifa Deen, yang bukunya Ali Abdul v The King menceritakan kisah ini, mengatakan mereka datang untuk bekerja dan berpetualang.

“Tiga penunggang unta Afghanistan mendarat dengan 20 ekor unta, bergabung dengan ekspedisi Burke dan Wills pada tahun 1860,” jelas Deen.

“Inggris menyadari betapa gersangnya padang pasir Australia dan berpikir unta bisa mengatasinya, dan kita membutuhkan orang yang tahu menangani unta,” tambahnya.

Unta menjadi alat transportasi yang bisa diandalkan di pedalaman Australia pada abad ke-19. (Kiriman: Indiana Shamroze)

Berbeda dengan pendatang China, para penunggung unta itu tak diizinkan menambang emas atau membawa istri mereka ke Australia.

Mereka umumnya hanya tinggal beberapa tahun, dan fokus sebagai pekerja transportasi di wilayah pedalaman yang keras.

Menurut Deen, para penunggang unta yang kembali ke tanah air mereka secara tidak langsung kemudian merekrut orang lain.

“Mereka bercerita tentang orang kulit putih dengan mata biru yang aneh atau kisah semacam itu,” katanya.

“Bagi mereka yang ingin berpetualang dan menghasilkan uang, Australia adalah tempat yang tepat untuk itu,” tuturnya.

Sejarah yang tak tersingkap

Menurut pengakuan Bob Shamroze, riwayat Muslim di kedua sisi keluarganya nyaris tak pernah dibahas. Ibu Bob juga keturunan penunggang unta.

“Tidak ada yang pernah membicarakannya,” katanya. “Kami tak pernah bertanya.”

Dia mengaku tak mengenal keluarga dari pihak ayahnya. “Kami tidak tahu dia naik kapal apa atau tanggal berapa dia datang ke sini,” ujarnya.

Menurut Deen, hal ini juga bagian dari semacam penuturan selektif tentang sejarah Australia.

“Ini sejarah yang tak terlihat. Kita selalu fokus dengan sejarah orang kulit putih,” katanya.

Baru sekitar satu dekade terakhir, katanya, sejarah masyarakat adat mulai muncul karena mereka semakin giat menuntut agar dipandang sebagai bagian dari sejarah Australia.

“Sebagian besar penunggang unta pulang kembali ke negara asalnya. Atau mereka terlupakan,” katanya.

Masjid pertama Australia di daerah Marree, Australia Selatan, dari sekitar tahun 1884. (Kiriman: State Library of South Australia)

Meski tinggal sedikit yang menjalankan agamanya, namun sebagai keturunan Muslim, Bob Shamroze mengaku masih mengikuti tradisi penguburan sesuai ajaran Islam.

Ketika berusia 17 tahun, Bob belajar tata-cara menguburan dari pamannya, ketika kakek dari pihak ibunya meninggal dunia.

“Kami ke masjid dan harus memandikan jenazah kakek. Dia menunjukkan bagaimana caranya,” kata Bob.

“Saya melakukan hal yang sama untuk jenazah kakakku,” katanya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

 




Jus Pahit Penurun Kadar Gula Darah

Ilustrasi pare (Pixabay/VitaminaMov)

Jakarta — Banyak orang menganggap bahwa jus tak baik jika dikonsumsi oleh pengidap diabetes. Bukannya menjadi penurun kadar gula darah, jus justru disebut bakal semakin memperparah kondisi.

Penderita diabetes diharuskan untuk menghindari minuman kaya gula, termasuk jus buah segar. Namun, cerita berbeda akan didapat jika Anda meracik jus dengan resep yang tepat.

Salah satu bahan umum yang ditemukan di sebagian besar resep jus untuk pengidap diabetes adalah pare.

Pare merupakan sayur atau buah unik yang kerap digunakan sebagai bahan obat-obatan herbal. Pare merupakan bagian dari tanaman Momorcadica charantia, yang merupakan pohon anggur dari keluarga Cucurbitaceae. Tanaman itu dianggap sebagai yang paling pahit di antara semua buah dan sayuran.

Baca Juga : Mengapa Seharusnya Anda Tidak Minum Kopi Instans?

Tanaman ini tumbuh di daerah tropis dan subtropis seperti Amerika Selatan, Asia, sebagian Afrika, dan Karibia. Di Indonesia, pare mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Situs resmi diabetes.co.uk dilansir cnnindonesia.com menyebut, pare mengandung empat bahan penurun kadar gula darah.

Sejumlah penelitian ilmiah telah membuktikan khasiat pare untuk menurunkan kadar gula darah. Pusat medis NYU Langone, misalnya, menyebut bahwa jika dikombinasikan dengan pengobatan medis, pare bakal ampuh menurunkan kadar gula darah.

Baca Juga: Minyak Kelapa dan Manfaatnya untuk Kecantikan

Terakhir, penelitian yang dipublikasikan pada 2011 dalam Journal of Ethnopharmacologymenyebutkan, dosis pare 2 ribu miligram setiap hari secara signifikan mengurangi kadar gula darah di antara pasien diabetes tipe 2.

Selain ampuh mengobati diabetes, pare juga biasa digunakan untuk mengatasi sakit perut, demam, terbakar, batuk kronis, menstruasi yang menyakitkan, dan gangguan kondisi kulit.

Mengutip Juicing with G, Anda bisa membuat jus dari dua buah pare utuh. Namun, sebelumnya Anda harus siap dengan rasa pahit yang dihadirkan.

Baca Juga : Lezat untuk Lalapan, Kemangi Ternyata Juga Miliki Banyak Manfaat Bagi Kesehatan

Untuk sedikit ‘mematikan’ rasa pahit pare, Anda juga bisa mencampur 2 buah pare dengan 1 mentimun dan 1/2 buah lemon. Timun dan lemon dapat sedikit memberikan variasi dari rasa pare yang sangat pahit.

Terakhir, jika resep kedua tak juga cocok di lidah, Anda bisa mencoba resep penurun kadar gula darah lainnya. Sebanyak 2 buah pare dapat Anda campur bersama dengan 1 mentimun, 1/2 lemon, dan 1 apel hijau.

Namun, perlu dicatat, pengidap diabetes tipe-2 direkomendasikan untuk mengonsumsi resep pertama yang terbuat dari jus pare utuh.




Kebiasaan Abu Bakar Sebelum Menyantap Makanan

ilustrasi: net

JAKARTA — Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi Abu Bakar RA, setiap kali sebelum menyantap makanan yang dihidangkan pembantunya, selalu bertanya. “Bagaimana engkau dapatkan makanan ini? Dari siapakah engkau mendapatkannya?” Inilah kalimat yang selalu terucap dari lisan Abu Bakar RA pada pembantunya itu. 

Suatu kali, Abu Bakar dilanda rasa lapar yang hebat. Memang ia telah terbiasa dengan rasa lapar. Namun, saat itu batu-batu yang sering ia gunakan untuk mengganjal perutnya tak lagi bisa membantu. Untunglah pembantunya telah siap menghidangkan makanan. Dengan mengucap doa, Abu Bakar langsung saja menyantap hidangan makanan tersebut.

“Wahai Abu Bakar, bukankah engkau biasanya selalu menanyakan kepada ku asal-usul makanan itu sebelum memakannya?” tanya si pembantu.

Abu Bakar sadar. Ia melewatkan sesuatu yang selama ini telah menjadi kebiasaannya. “Maafkan aku. Tadi aku sangat lapar, jadi aku tak sempat bertanya. Sekarang ceritakanlah kepadaku dari mana asal-usul makanan ini?” pinta Abu Bakar.

Pembantunya pun berkisah. “Wahai Abu Bakar. Sebelum masuk Islam, aku ada lah seorang dukun (tukang sihir). Aku banyak sekali menerima pasien. Ada beberapa pasienku yang mengutang saat berobat padaku. Nah, kebetulan tadi aku bertemu dengan salah satu pasien yang mengutang itu. Dia memberikanku makanan ini (sebagai upah pelunas utang). Makanan itulah yang aku hidangkan kepadamu,” kisah si pembantu.

Betapa kagetnya Abu Bakar mendengar penuturan si pembantu. Abu Bakar langsung memasukkan jarinya ke dalam mulutnya. Ia mencoba memuntahkan kembali apa yang baru disantapnya.

Dalam riwayat Aisyah disebutkan, hampir saja Abu Bakar tewas karena usahanya memuntahkan makanan tersebut. Perutnya yang masih lapar menolak untuk memuntahkan makanan. Perjuangan Abu Bakar untuk memuntahkan makanan itu hampir-hampir merenggut nyawanya.

“Mengapa engkau memuntahkan kembali makanan itu, wahai Abu Bakar? Bukankah apa yang telah (tidak sengaja) termakan (sekali pun haram) itu telah dimaafkan Allah SWT?” tanya si pembantu sedih.

“Memang benar. Tapi, aku takut karena Rasulullah SAW bersabda, ‘setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka tempatnya (daging itu) adalah di neraka’ (HR Muslim),” kata Abu Bakar menjelaskan.

Demikian disiplinnya Abu Bakar menjaga dirinya dari makanan yang syubhat, yang belum otentik kehalalannya apalagi dari yang haram. Ia takut, jika ada daging yang melekat di tubuhnya ditumbuhkan dari makanan yang haram. Tentu, tempat daging tersebut adalah neraka di akhirat kelak.

sumber: khazanan.republika.co.id