Malam Pergantian Tahun, ini Pesan Kapolres Inhil

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kapolres Kabupaten Indragiri Hilir, AKBP Indra Duaman Siahaan SIK, menghimbau kepada masyarakat agar mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif, Selasa (31/12/2019).

Sebab, menurut  Kapolres yang merupakan putra daerah tersebut, tak jarang perayaan malam tahun baru berujung masalah. Terlebih masalah yang bisa merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.





“Kebut-kebutan dan konvoi dijalan tidak perlu dilakukan, apalagi mabuk-mabukan serta meminum-minunaman keras. Itu jangan dilakukan,” tegas AKBP Indra Duaman Siahaan SIK.

Dikatakannya juga, Pemerintah Daerah Kabupaten Inhil telah menyiapkan tempat untuk masyarakat berkumpul dalam menyambut malam pergantian tahun dengan melakkan kegiatan Zikir bersama dan Do’a bersama di depan kantor Bank BNI Tembilahan.





” Agar masyarakat terkonsentrasi dalam melaksanakan kegitan zikir dan Do’a bersama, kita akan melakukan penutupan di beberapa jalan,” imbuhnya.

Terakhir AKBP Indra Duaman Siahaan SIK juga berharap, kedepannya Kabupaten Inhil bisa lebih maju, Kabupaten yang bisa menyiapkan Manusia-manusia unggul dalam mendukung Indonesia Maju.

” Kita siap mensukseskan Program Pemerintah”, tutur Kapolres Inhil.

Reporter Arbain




Kenakan Peci Hitam, Ahmad Dhani Resmi Bebas dari Penjara

Ahmad Dhani bebas dari penjara. (CNN Indonesia/Tohirin)





ARB INdonesia, JAKARTA – Musikus Ahmad Dhani resmi bebas dari Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Timur Senin (30/12). Dari pantuan awak media dilapangan, Dhani keluar sekitar pukul 09.35 WIB.

Dhani keluar dengan melepas senyum bersama sang istri Mulan Jameela yang sedari pagi sudah mendatangi Rutan Cipinang. Turut mendampingi Dhani, ketiga anaknya Al, El dan Dul yang sudah tiba di Rutan Cipinang sekitar pukul 09.36 WIB.

Keluarnya Dhani molor dari agenda sebelumnya. Tim penjemput Dhani sebelumnya mengetahui kabar bahwa Dhani akan keluar rutan pada pukul 08.30 WIB.





Usai bebas, Dhani yang mengenakan peci hitam langsung bergerak menuju kediamannya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Seperti informasi yang diterima para pewarta, tak ada sesi jumpa pers di Rutan Cipinang sesaat setelah Dhani bebas.

Dhani langsung menaiki mobil komando yang sejak pagi sudah teparkir di sisi luar Rutan Cipinang. Sejumlah relawan massa juga sudah menanti kepulangan Dhani yang mereka sebut sebagai ‘pengujar kebenaran’. Sejumlah poster dukungan moril untuk Dhani dibentangkan.

Mobil relawan para penjemput Ahmad Dhani. (CNN Indonesia/Tohirin)

Seperti diketahui, Dhani divonis 1,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin, 28 Januari 2019. Dhani divonis terkait ujaran kebencian lewat cuitan di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST.

Melalui akun Twitter-nya, Dhani menyatakan, ‘Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya -ADP





Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni dua tahun penjara. Dhani mengajukan banding dan berhasil mengurangi hukumannya menjadi 1 tahun penjara. Kemudian Dhani mengajukan kasasi, namun MA menolaknya.

Selain itu, pentolan grup band Dewa 19 itu juga divonis bersalah dalam kasus ujaran ‘idiot’ yang dilontarkannya kepada massa pedemo lewat video di media sosial.

Hakim Pengadilan Negeri Surabaya yang menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara kepadanya. Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur kemudian mengkortingnya menjadi 3 bulan penjara dan 6 bulan masa percobaan.





Sumber CNNIndonesia.com
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20191230090658-12-460894/kenakan-peci-hitam-ahmad-dhani-resmi-bebas-dari-penjara




Sambut Tahun Baru 2020, Tim Gabungan di Surabaya Bersinergi Lakukan Patroli

ARB INdonesia, SURABAYA – Tiga pilar di wilayah Kodim Tipe A 0830/Surabaya, nantinya bakal bersinergi menggelar patroli gabungan.

Bahkan, patroli gabungan tersebut nantinya juga mendapat dukungan dari pihak Lantamal.

Demikian dikatakan Dandim Tipe A 0830/Surabaya Utara, Kolonel Arh Putut Witjaksono dalam upayanya mewujudkan kondusifitas wilayah
selama berlangsungnya malam pergantian tahun baru 2020, pekan depan.





“Kita ingin semuanya berjalan dengan aman dan lancar,” kata Dandim ketika dihubungi melalui via seluler miliknya, Sabtu (28/12/2019).

Soliditas, kata Putut, merupakan pondasi utama guna mendukung pelaksanaan kebijakan Pemerintah, terlebih dalam mendukung pembangunan nasional dan keamanan.

“Itu juga mencakup sistem pertahanan terhadap berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri,” bebernya.





Selain aparat, almamater Akademi Militer tahun 1992 itu juga mengatakan jika peran, sekaligus partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya mewujudkan stabilitas wilayah.

Ia menilai, tanpa peran masyarakat, stabilitas maupun kondusifitas wilayah tak akan terwujud dengan baik.

“Kita juga mengajak warga untuk ikut bekerjasama mewujudkan Surabaya yang aman dan rukun,” tandasnya.*** (rl)




Bakal Didemo FPI, Jalan depan Kedubes China Ditutup

Jalan di depan Gedung Kedutaan Besar (Kedubes) China, Jalan DR Ide Anak Agung Gde Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (27/12/2019) ditutup. Foto/Ari Sandita Murti/SINDOnews





ARB INdonesia, JAKARTA – Jalan di depan Gedung Kedutaan Besar (Kedubes) China, Jalan DR Ide Anak Agung Gde Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (27/12/2019) ditutup. Pasalnya, Front Pembela Islam (FPI) bakal melakukan aksi bela muslim Uighur di depan Kedubes China.

Berdasarkan pantauan, pada Jumat (27/12/2019) siang ini, sekitar pukul 12.25 WIB, Jalan depan Kedubes China itu ditutup mengingat bakal ada aksi dari FPI. Meski begitu, arus lalu lintas di jalan tersebut tampak lengang lantaran saat ini masih hari libur Natal 2019 dan Tahun Baru.





Alhasil, kendaraan di sepanjang kawasan Mega Kuningan ini pun tampak lancar dan cenderung sepi. Saat ini, sejumlah orang yang hendak melakukan aksi demo pun tampak sudah ada yang berdatangan ke depan Kedubes China.

Saat ini, anggota kepolisian pun tampak bersiaga di kawasan Kedubes China guna mengamankan aksi demo tersebut. Kawat berduri dan tenda-tenda pengamanan pun tampak mejeng di sekitaran Kedubes China.

Begitu juga dengan sejumlah mobil polisi, motor polisi, dan anggota polisi yang bersiap melakukan pengamanan demo tersebut. Demo itu terkait penderitaan yang dialami muslim Uighur di Xinjiang, China.





Sumber Sindonews.com
https://metro.sindonews.com/read/1481152/170/bakal-didemo-fpi-jalan-depan-kedubes-china-ditutup-1577427429




Lahan 200 Hektar Diserobot Perusahaan, Warga Desa Sungai Bela Gelar Aksi Dikantor Bupati

Foto : Aliansi Inhil Menggapai Keadilan (IMK) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Kabupaten Indragiri Hilir






ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR –  Puluhan warga Desa Sungai Bela Kecamatan Kuala Indragiri yang tergabung dalam aliansi Inhil Menggapai Keadilan (IMK) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Kabupaten Indragiri Hilir, Senin (23/12/2019)

Dalam orasinya, Sukri selaku korlap mengatakan meminta keadilan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Inhil terkait penyerobotan lahan seluas 200 hektar milik masyarakat yang diduga dilakukan oleh perusahaan di Desa Sungai Bela.

“Kami menuntut keadilan dan meminta ganti rugi atas penyerobotan lahan yang yang diduga dilakukan oleh PT IJA yang ada di Desa Sungai Bela,”  ungkap Sukri alias Basok.






Dalam aksi itu, masa aksi juga meneriakan meminta Bupati Inhil HM Wardan untuk hadir menemui masyarakat yang melakukan demonstarsi.

“Kita minta Bupati hadir bersama kami disini”, ujar seseorang dalam barisan itu. “Betul… ” sahut yang lainnya.

Selain itu, Anawawik Ketua LSM KPK wilayah Riau yang juga tergabung dalam barisan masa aksi menghatarkan orasinya dihadapan Wakil Bupati dan pejabat lainnya yang ada saat itu.

“Ini bukan langkah awal yang kami lakukan, kami melalui LSM KPK juga akan terus mengawal permasalahan ini sampai hak-hak masyarakat yang direbut kembali kepada masyarakat itu lagi,” pungkasnya






Menanggapi Aksi itu, Wakil Bupati Inhil H Syamasudin Uti yang hadir langsung saat itu mengaku sudah mengatahui soal penyerobotan lahan yang terjadi di Desa Sungai Bela. Bahkan SU juga mengaku sudah mengetahui adanya oknum yang diduga bermain.

“Saya berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini, nanti akan kita panggil pihak perusahaannya dan oknum yang di duga terlibat didalamnya. Kita ajar berdiskusi,” janji Wabub kepada demonstarsi.






Dibawah kepemimpinan Wardan-SU, Wabub juga mengatakan tidak mau dan tidak suka rakyat diperlakukan seperti ini oleh perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab.

“Kita menegaskan perusahaan-perusahaan yang ada di Inhil yang tidak mau mengikuti peraturan Pemerintah akan dicabut izinnya,” ucapnya.

Untuk diketahui, sebelumnya masyarakat Desa Sungai Bela yang tergabung dalam aliansi IMK ini juga telah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPRD Inhil pada 16 Desember 2019 lalu.  (Arbain)




Mas Yudi Adalah Kakiku, dan Mas Agung Adalah Mataku

Sugeng Wahyudi (), dan Agung () selalu bersama untuk berjualan kerupuk untuk nafkah sehari-hari, dan bergantian mengantar ke tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Yuswantoro






ARB INdonesia – “Mas Yudi itu sudah menjadi kaki saya, kemanapun saya pergi selalu bersamanya,”. “Mas Agung adalah mata saya, dia menunjukkan jalan bagi langkah kami berdua,”.

Dalam berjalan mencari nafkah. Menyusuri kerasnya jalanan, untuk menjual kerupuk, dan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sugeng Wahyudi (32), dan Agung (29) selalu bersama.

Menggunakan sepeda roda tiga yang telah dimodifikasi, keduanya selalu setia menyusuri jalanan yang tidak ramah lagi bagi keduanya. Debu, terik mentari, dan bising suara klakson, serta mesin-mesin selalu menjadi pengiring setiap tangkah mereka.






Sugeng Wahyudi, yang akrab disapa Yudi, adalah penganut Katolik yang taat. Almarhum bapaknya asli Papua, sementara ibunya orang Blitar. Dia dibesarkan di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di Desa Nyawangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.

Sejak lahir, Yudi mengalami keterbatasan penglihatan. Dia buta. Saat masih kecil, dia dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang, untuk menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan hidup di asrama.

Sementara Agung pemeluk Islam yang taat, berasal dari Yogyakarta. Dia penyandang tuna daksa. Kakinya memiliki keterbatasan, sehingga menyulitkannya untuk bergerak. Kemana-mana, Agung selalu berada di atas sepeda roda tiga.






Agung berada di depan sebagai pengendali setir sepeda roda tiganya. Dia juga menjadi pemandu arah kemana mereka harus berjalan. Sementara Yudi yang memiliki penglihatan terbatas, namun fisik kaki dan tangannya normal, berjalan di belakang mendorong sepeda.

Yudi menjadi “kaki” penggerak sepeda roda tiga, untuk bisa terus melaju menyusuri jalanan. Sementara Agung, menjadi “mata” yang menentukan arah kemana keduanya harus berjalan berjualan kerupuk.

Bukan hanya berjalan di sekitaran rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” saja. Keduanya sudah bergerak kemana-mana. Bahkan, kemarin keduanya baru saja sampai di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” di Jalan Bandulan, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.






Empat hari lamanya, keduanya meninggalkan rumah singgah itu untuk berjualan kerupuk. Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Malang, menuju ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dan berakhir di Kesamben, Kabupaten Blitar, lalu kembali lagi ke Kota Malang.

Jarak tempuh sepanjang 2 x 60 km tersebut, mereka tempuh selama empat hari perjalanan. Kerupuk dalam keranjang mampu mereka jual habis. “Selama berada di perjalanan ya kalau capek istirahat di SPBU, mushola, ya dimana saja tempat yang aman dan nyaman bisa buat tidur,” ujar Yudi, sambil mengumbar tawanya yang khas.






Pemuda yang selalu ceria ini, begitu bahagia hidup bersama para sahabatnya. Berkat Agung, dia bisa berjalanan kemana saja. Dia juga bisa mengikuti Misa Minggu di Gereja Katolik Paroki Vincentius A. Paulo di Jalan Langsep, Kota Malang.

Jarak rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” dengan gereja tersebut, sekitar 3 km. Jalannya berupa turunan tajam, dan tanjakan. Lalulintasnya sangat padat, karena menjadi jalur menuju daerah industri di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Yudi penuh semangat datang ke gereja, diantarkan Agung sahabatnya. Saat Yudi khusuk mengikuti Misa Minggu, Agung yang pemeluk Islam taat, dengan setia menanti di luar gereja. “Kadang saya menunggu Yudi ikut Misa Minggu, sambil jualan kerupuk di luar gereja,” ujar Agung.

“Jadi semangat kalau ke gereja ada yang mengantarkan. Kalau tidak ada yang mengantarkan, ya saya kesulitan jalannya. Bisa nabrak-nabrak jalannya,” kata Yudi sambil terkekeh penuh keakraban.






Pergi dan pulang mereka selalu bersama. Demikian juga saat Agung harus menjalankan ibadah sholat lima waktu di mushola, atau saat menjalankan Sholat Jumat di masjid, Yudi dengan setia mengantarkannya.

“Kalau Mas Agung sholat, saya menunggu di luar masjid. Sambil duduk-duduk saja. Beberapa kali saya juga ditanya oleh umat yang akan sholat, karena tidak masuk ke Masjid. Ya saya jawab kalau saya hanya mengantarkan teman,” kata Yudi.

Sama halnya dengan Yudi, Agung juga sangat semangat untuk sholat ketika diantarkan oleh Yudi. “Ke mushola atau masjid jadi lebih mudah, soalnya Mas Yudi yang mengatarkan. Saya bisa ikut sholat berjamaah,” ujar Agung.






Mereka hidup saling melengkapi, dalam segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah merasa tersekat-sekat, meskipun hidup berbeda agama. “Belum tentu juga orang yang seiman dengan saya bersedia mengantarkan saya ke gereja seperti Mas Agung,” ujar Yudi, sambil tertawa lepas.

Kedua pemuda ini sudah beberapa tahun ini tinggal bersama di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat”. Mereka yang tinggal di rumah singgah tersebut, rata-rata para penyandang disabilitas, mulai dari tuna daksa, buta, serta mengalami gangguan penglihatan.

Rumah ini menghadirkan hidup nyata dalam kebhinekaan. Bisa saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang suku, ras, golongan, dan agama. Mereka hidup dalam cinta kasih yang nyata, saling tolong-menolong, bergotong royong, membangun toleransi, dan bekerja keras untuk hidup dan menghidupi.






Tak perlu banyak teori dan wacana tentang ke-Indonesiaan, persatuan, serta Pancasila untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di rumah singgah ini. Toleransi, kerja keras, persahabatan, dan persaudaraan sejati itu mengalir begitu indah dalam kehidupan setiap hari.

“Kami selalu hidup bersama sebagai anak-anak Indonesia, yang tumbuh dalam segala perbedaan dan keterbatasan,” ujar Akhiles Alokako (50), pendiri Komunitas Rumah Sahabat.

Baginya, rasa cinta kepada Indonesia, dan Pancasila, tidak hanya sekedar banyak wacana dan teori, tetapi langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang penuh keterbatasan, mengamalkannya semampu yang kami bisa di kehidupan sehari-hari,” tuturnya.






Pria asli Bajawa, Flores, NTT tersebut, tinggal di Kota Malang, sejak 22 tahun silam. Dia datang berniat menjadi pastor, dan ingin mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Langkahnya ternyata membawanya ke Yayasan Bhakti Luhur, dan menjadi bagian dari kerasulan awam untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas.

Keahliannya bermusik, membawanya menjadi guru musik untuk para penyandang disabilitas, sampai dia memilih keluar dari Yayasan Bhakti Luhur pada tahun 2007, dan mulai merintis Komunitas Rumah Sahabat.

Rumah singgah yang harus berpindah-pindah tempat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan untuk mengontrak rumah tersebut, awalnya diisi oleh anak-anak jalanan. “Mereka sudah banyak yang mandiri sekarang,” ujar Akhiles.






Di kemudian hari, Komunitas Rumah Sahabat ini bukan hanya menampung anak-anak jalanan. Tetapi, juga para penyandang disabilitas. Menurut Akhiles, banyak yang enggan mengurus para penyandang disabilitas, makanya Komunitas Rumah Sahabat hadir sebisa mungkin untuk mereka.

Guru musik yang sempat mengajar ke sejumlah sekolah di Kota Malang, dan Lumajang tersebut, terpaksa juga harus mengalami keterbatasan untuk bergerak, setelah dia menjadi korban kecelakaan. Keterbatasan itu, membuatnya fokus bermusik bersama para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat.

Dia sudah sangat senang, ketika persaudaraan sejati yang dibangun tanpa basa-basi oleh para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat, mulai dicontoh oleh masyarakat kampung yang tinggal di dekat rumah singgah.






Dicontohkannya, suatu hari pernah melihat ibu-ibu yang mengenajak hijab di dekat rumah singgah, pergi mengatarkan keluarganya yang menyandang disabilitas ke gereja untuk beribadah. “Perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik di sekitar kami, sudah sangat membuat kami bahagia,” ungkapnya.

Di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat tersebut, kini juga menjadi tempat untuk para disabilitas berkarya dan hidup mandiri. Bukan hanya berjualan kerupuk, mereka juga bermusik.

Ada dua grup musik dengan genre musik berbeda yang dikembangkan mereka. Satu grup musik bernaama Netra Laras, yang lebih banyak beraliran musik Capursari. Pemainnya Akhiles, Yudi, Agung, Joko, Rofi.






Sementara, satu grup musik lagi beraliran pop, yakni RJY. Nama itu singkatan dari tiga nama pemainnya, yakni Rofi, Yudi, dan Joko. Akhiles biasa mengisi keyboard melodi dua, sementara Yudi merupakan pemegang gitar melodi dan vokal.

Joko yang mengalami keterbatasan penglihatan, atau lowfision, merupakan pemain keyboard melodi satu. Rofi seorang penyandang tuna netra, menjadi pemain bass, dan Agung adalah penggebuk drum yang handal, meskipun mengalami keterbatasan pada kakinya.

Mereka merupakan sahabat disabilitas dewasa dan remaja, yang sudah lepas dari sekolah dan harus hidup mandiri. Selain berjualan kerupuk dan ngamen, mereka juga menerima undangan untuk bermain musik mengisi acara.






Akhiles menegaskan, yang mereka butuhkan bukanlah belas kasihan. Tetapi kesempatan yang sama layaknya orang normal pada umumnya. “Kami punya kemampuan dan kemauan, meskipun banyak keterbatasan. Yang kami butuhkan ruang apresiasi serta kesempatan, bukan belas kasihan,” tegasnya.

Hadirnya media sosial, juga mulai mereka manfaatkan untuk mempromosikan karya-karya musik RJY dan Netra Laras. Video sederhana saat mereka tampil di berbagai kesempatan, telah mereka unggah di akun youtube Netra Laras Music.






Mereka juga pernah rekaman dan mengeluarkan album dalam bentuk VCD. Sayangnya, produksi yang telah dibuat dengan modal patungan itu sulit dipasarkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka patah semangat untuk hidup mandiri.

Semangat, kerja keras, kebersamaan, serta sikap saling menghormati dalam segala perbedaan dan keterbatasan yang dihadirkan para penyandang disabilitas ini, menghadirkan contoh yang baik bagi masyarakat. Mereka mampu hidup berdampingan dengan tetangga dan saling menghormati, tanpa sedikitpun meminta belas kasihan.

Yudi, Agung, Joko, Rofi, Akhiles, serta sahabat-sahabat disabilitas lainnya di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat, memiliki banyak keterbatasan fisik, tetapi mereka memiliki hati seluas samudera untuk menerima segala perbedaan dan keterbatasan itu dalam persaudaraan sejati.






Sumber Sindonews.com
https://jatim.sindonews.com/read/18100/1/mas-yudi-adalah-kakiku-dan-mas-agung-adalah-mataku-1576977173