The Somad Power

Puluhan ribu jammah membanjiri lapangan gadjahmada saat UAS menyampaikan tausyiah sempena haul syech Abdul Qadir Al Jailani di Ibu Kota Kabupaten Inhil, Riau awal Januari 2019 yang lalu.

AZAN masjid tadi di kompleks rumahku, yang baru direnovasi hampir Rp 5 miliar bergema. Ini azan Jumat, 25 Januari 2019.

Hatiku tetap bingung apakah aku ke masjid itu, atau ke masjid yang lebih kecil berjarak 500-an meter, di mana Ustaz Abdul Somad (UAS) menjadi khatib Jumat dan ceramah sesudahnya.

Di tengah jalan sepada motorku berbelok ke Masjid Nurul Huda, Cimanggis, di mana UAS berada. Naik motor memudahkanku menerobos jalan yang sudah diblokir. Jalan sepanjang lebih 1 KM diblokir untuk tempat massa berkumpul.

Masjid baru akan mulai Azan. Aku harus buru-buru menerobos massa yang sudah tiba sejak awal. Masih ada ruang di seberang Masjid, sebuah rumah tua berhalaman luas. Hujan gerimis membasahi tanah. Untung penjual tikar sebesar dua kali sajadah seharga Rp. 10.000 gampang dijumpai.

Di situlah aku mulai mendengar suara UAS yang menggelegar sebagai khatib Jumat. Sebagai Khotib, UAS memberikan pencerahan soal tanggung jawab kita terhadap anak.

Di masa lalu, ada Muhammad Al Fatih, yang bisa menaklukkan Constantinopel. Saat ini dia menganjurkan agar jamaah berdoa agar memiliki anaknya yang bisa menaklukkan Israel.

Jumatan dan doa berakhir. Massa ibu-ibu dan bapak-bapak mulai bangkit berdiri. Somad akan menuju panggung. Rumah di seberang masjid ini terhalangi tembok untuk pandangan ke panggung. Tentu bisa melihat sambil berdiri. Saya memilih naik ke pohon yang sedikit basah. Agar ketinggian saya dan Somad sejajar, sehingga enak mendengar dan melihatnya.

Laskar FPI sibuk mengatur massa yang sudah seribuan disekitar panggung untuk tertib. Semua harus adil melihat, yang berdiri di depan harus duduk.

Ceramah dipanggung ini di-setting tanya jawab. Ada 7 pertanyaan yang diberikan ke UAS di kertas setelah 10 menit ia memulai ceramah membangkitkan gairah massa.

Pertanyaan pertama menyangkut ghibah alias menggosip aib orang; istri Solehah; kawin beda agama; kawin ketika hamil; kredit emas; belanja di toko 212; dan turunnya Dajjal.

Dari pertanyaan ini dan jawaban UAS terlihat pandangan holistic dia yang melingkupi persoalan masyarakat, individu dan negara.

UAS megatakan bahwa pelacuran makin subur karena persepsi materialistik memenuhi otak manusia. Anak-anak perempuan dibuatkan mahar yang terlalu mahal, sehingga banyak pria yang kesulitan menikah. Akhirnya sebagian memilih zina.

UAS mengharapkan orang-orang tua kembali kepada ukuran keagamaan, yakni keshalehan calon suami sebagai ukuran mencari menantu.

Kesalehan istri, menurutnya, banyak terganggu dengan membanjirnya budaya mempercantik diri bagi wanita bersuami di luar rumah, daripada di rumah. Suami juga jangan terpesona dengan kecantikan perempuan bukan istrinya. Karena beban istri mengurus anak dan rumah tangga akan berkorelasi dengan kecantikan. Sehingga suami harus melihat kesalehan istri sebagai jaminan.

Dikaitkan dengan peran negara, UAS mengatakan bahwa diskriminasi terjadi terhadap guru-guru Madrasah, yang mengajarkan bathiniah, yang ditandai dengan kecilnya honor guru-guru tersebut. Sebaliknya, guru-guru yang mengajarkan “ilmu material” di sekolah-sekolah umum mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar.

Seharusnya pemerintah memberikan perhatian yang seimbang bagi guru-guru yang mengajarkan Akhlak. Tentu juga masyarakat harus bertanggung jawab dengan memperbesar infak dan sedekah.

Dalam menyikapi soal kredit emas, UAS memasukkan sebagi riba. Riba adalah haram dalam Islam. Pertukaran dalam Islam haruslah uang versus uang. Dinar versus rupiah, misalnya.

Terhadap isu “Warung 212″ UAS menjawab dua hal, pertama Warung 212 harus membanjiri majelis-majelis taklim dan pengajian dengan jualan sembako miliknya.

Masyarakat pengajian juga harus gairah membeli produk Warung 212 tersebut. Perinsip membeli di warung ummat, UAS menekankan agar pembeli mempunyai misi menyelamatkan gairah perekonomian ummat tersebut. Bukan sekedar faktor harga.

Di akhir ceramahnya UAS mengajak berdoa agar Indonesia diberikan pemimpin yang cinta terhadap Islam dan ummat Islam, bukan pemimpin yang benci Islam, bukan pemimpin yang bisa menerima komunis.

Sebelumnya UAS mengatakan bahwa sudah ratusan bahwa seribu tahun lalu dari Sabang sampai Papua, Islam itu telah menpersatukan Indonesia, sehingga tidak ada persoalan permusuhan antar suku bangsa.

Kekuatan Somad

Ribuan orang berkumpul mendengarkan UAS meskipun gerimis datang. Tidak ada yang gelisah, semuanya senang. Majelis ini adalah majelis dengan bahasa rakyat, bahkan rakyat jelata.

Kekuatan Somad terpancar dari bahasanya tidak dibuat. Bahasa UAS adalah bahasa lepas. Spontan. Namun pas.

UAS mempunyai intonasi dengan penyesuaian pada bahasan. Ketika UAS membahas seseorang mati dalam keadaan syirik, misalnya, UAS dalam bahasa menggegelar dan intonasi tinggi.

UAS menekankan pentingnya pemimpin yang soleh,  peraturan yang memihak orang kecil dan partisipasi rakyat dalam membangun suatu peradaban yang adil.

Tentu kekuatan UAS sebelumnya terpancar saat dia dilamar Prabowo dan Ijtima ulama menjadi calon wakil Presiden, malah dia melarikan diri ke pedalaman hutan, menghindar. Somad tidak menjual agama dan ketenaran  untuk kekuasaan. Dia hanya ingin berdakwah.

Pandangan UAS soal peranan pemimpin dan regulasi yang baik, merupakan “Windows” bagi UAS untuk melihat bahwa urusan agama bukanlah urusan privat semata, melainkan menyangkut negara.

Meskipun UAS menekankan kewajiban individual dalam konteks ilahiah, yakni sebagai manusia pecinta Rasulullah, penekanan kepemimpinan dan negara membuat bahasan UAS tentang manusia dan masyarakat menjadi satu kesatuan utuh, hokistik.

Lebih holistik lagi ketika UAS menutup doa bagi keselamatan berbagai negara muslim dan yang di awal meminta orang tua mendoakan anaknya agar kelak jadi penakluk Israel, menjadian kita melihat UAS sebagai manusia dengan beban berskala dunia.

Acara bubar, saya berjalan menerobos massa menuju sepeda motor yang parkir. Penjual-penjual buku UAS, Kalender UAS yang ada logo Prabowo-Sandi, penjual topi dan syal tauhid dan lain-lain membanjiri jalan.

Di antara kerumunan massa, saya masih tetap merenung kenapa seorang manusia yang lahir di pedalaman Kisaran, hampir 200 km dari tanah saya lahir di kota Medan, lalu saya sekolah di ITB, Somad kuliah Agama, namun akhirnya saya duduk di pohon yang licin menjadi penonton dia yang terkenal. Semuanya itu rejeki Allah. Itulah kekuatan Ustad Somad. [***]

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle (SMC), dilansir melalui rmol.co




“Orang Gila” Bagi-Bagi Jutaan Uang Lembaran Rp 100 Ribu, Siapa Dia?

Foto: dok. YouTube Baim Paula

Jakarta – Pria mengenakan sarung bermotif kotak-kotak lusuh, bertelanjang dada, berjanggut lebat tak terawat dan rambut acak-acakan mengagetkan warga. Yang lebih herannya, pria ini justru membagi-bagikan uang lembaran Rp 100 ribu kepada orang yang dihampirinya. Siapakah dia?

Prank dengan menjadi orang gila ini ternyata ulahnya Baim Wong. Suami Paula Verhoeven itu bertindak nyeleneh untuk merayakan YouTube chanelnya yang mendapat satu juta subscriber.

Bahkan untuk membuat penampilan “orang gilanya” agar tampak meyakinkan, Baim rela menyewa profesional make up karakter untuk mempermak penampilannya bak orang hilang ingatan sungguhan.

Dilansir melalui hot.detikcom, awalnya, Baim Wong menghampiri mobil-mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan. Setelah satu mobil pergi begitu saja, ada seseorang dari sebuah mobil city car memberikannya roti.

Baru Baim akan mengambil uang dari dalam sarung, mobil tersebut justru pergi. Bahkan saat Baim berusaha memberhentikannya, mobil tersebut tetap meninggalkannya.

Baim kembali melanjutkan misinya. Kali ini dia mendekati seorang tukang parkir.

Sambil menirukan gaya pengemis yang meminta makan, tukang parkir itu memberikan satu tempat kue cubit ke Baim. Usai mendapatkan kue cubit, Baim kembali menghampiri tukang parkir itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan Rp 100 ribu.

“Wah iya bagus-bagus. Bawa-bawa nggak apa-apa,” kata tukang parkir itu yang masih menganggap Baim Wong adalah orang gila.

Baim pun mengaku kalau dirinya berbohong. Untuk meyakinkan si tukang parkir, Baim menunjukkan clip on yang menempel di kain sarungnya.

“Ini buat kamu karena kamu baik sama saya. Ambil! Tahu saya siapa nggak? Nama saya Baim Wong. Ini buat memperingati satu juta viewers saya,” ucap Baim.

“Terima kasih bos ya, semoga panjang umur banyak rezekinya. Terima kasih bosque,” kata si tukang parkir itu.

Sudah berhasil membuat prank, Baim Wong bergeser ke daerah Pondok Indah. Baim mencari lokasi yang menurutnya ekstrem.

Kali ini seorang supir taksi yang memberinya uang seribu logam. Supir taksi itu pun tak mengenali wajah bintang film ‘Jakarta Undercover’ itu.

“Gua demenan jadi orang gila bro. Baru ngomong kamu tahu nggak saya siapa? Baim Wong, baru deh mereka wah,” ucap Baim.

Setelah supir taksi, Baim juga berhasil mendapat uang seribu rupiah dari pemilik warung yang ada di depan rumahnya. Kala itu, Baim iseng mengganggu pemilik warung yang sedang tertidur pulas, meski kesal si pemilik warung tetap memberinya uang.

Baim pun menggantinya dengan memberikan si pemilik warung Rp 1 juta.

Target terakhir, tanpa disangka saat berjalan, seorang ibu penjual pisang memberikannya pisang satu tandan.

Alih-alih membawa pisang tersebut, Baim yang kembali lagi mendekati si ibu justru diberikan kantong plastik. Si ibu pun tak menyadari kalau Baim menaruh sejumlah uang lembaran Rp 100 ribu.

“Mas, mas, nggak. Saya ikhlas,” kata si ibu yang berusaha mengembalikan uang tersebut ke Baim.

Baim yang sudah berjalan meninggalkan si ibu, kembali berbalik dan memberikan sejumlah uang lagi. Si ibu penjual pisang itu pun langsung menangis.




Sule Percaya Anjingnya Mati karena Dibunuh Kuntilanak

Foto: Kemewahan Sule / ist

Jakarta – Komedian Sule sudah berkali-kali mengungkapkan bahwa rumah megahnya di kawasan Cikarang memang berhantu. Sule belakangan ini juga mengungkapkan bahwa hewan peliharaannya juga baru-baru ini mati karena ulah sang hantu.

Pelawak bernama asli Entis Sutisna percaya bahwa anjing peliharaannya dibunuh oleh kuntilanak di rumahnya.

Kepada Raditya Dika lewat vlognya, dilansir detikcom, Sule meyakini anjingnya tewas karena dicekik kuntilanak. Tentu pernyataan Sule ini mengundang kontroversi.

“Kalau urusan anjing benar karena kan anjing lebih sensitif sama hal-hal yang seperti itu. Dia melihat dan merasa sesuatu. Kayaknya dia dicekik deh sama kuntilanak,” aku Sule di channel YouTube Raditya Dika.

Sule mengaku anjiingnya memang agak ngedrop sebelum mati. Perubahan hewan peliharaannya itu juga dirasakan Sule.

Sempat dibawa ke dokter hewan, Sule kaget kondisinya disebut baik-baik saja. Sule lalu makin terkejut karena anjingnya yang disebut tidak sakit malam harinya meninggal.

“Dua minggu dia nggak menggonggong. Saya pikir dia kangen sama saya. Pegawai saya bilang kalau anjing itu sakit, lalu saya samperin. Lalu dia ngonggong, saya anggap kangen,” urai Sule.

“Lalu saya minta anjingnya dibawa ke dokter. Di dokter nggak apa-apa, lalu habis ketemu sama saya, malamnya meninggal. Akhirnya dia meninggal dan sepertinya dicekik oleh kuntilanak,” tuntasnya.




Pelajaran dari Hamba Allah yang Berilmu

JAKARTA — Pada era kerasulan Musa, hidup seorang nabi bernama Khidir. Asal usulnya tak jelas. Ada yang mengatakan, ia merupakan keluarga Dzulqarnain, ada pula yang mengatakan, ia keturunan bangsa Persia dan Romawi.

Beberapa menyebut, Khidir merupakan nama julukan dari pria kalangan biasa bernama Balya bin Malkan. Entah siapa Khidir tersebut, sosoknya begitu misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri.

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu?” ujarnya.

Tersentak, Nabi Musa pun jelas menjawab, “Tidak.” Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya.

Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa.

Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuanya.

“Ya Allah, di mana orang ini bisa saya temui? Saya ingin bertemu dengannya dan belajar darinya,” tanya Musa antusias.

Nabi Musa sendiri dikenal dengan keistimewaan sebagai nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah tanpa perlu perantara malaikat. Allah pun menunjukkan sebuah tempat di mana Musa dapat menemui orang berilmu tersebut. Di pertemuan antara dua lautan, demikian lokasi ahli ilmu itu.

Agar lebih yakin dan tak salah mengenali orang, Musa pun meminta tanda identitas orang tersebut. Allah pun memerintahkan Musa membawa seekor ikan dalam wadah berisi air. Ikan tersebut akan menunjukkan arah di mana keberadaan sang ahli ilmu Khidir.

Berangkatlah Musa menyusuri lautan, mencari keberadaan Khidir. Ia ditemani muridnya yang terkenal setia Yusya bin Nun. Yusya lah yang membawa bejana berisi ikan yang akan menghantarkan Musa pada Khidir. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tak juga menemukan Khidir. Meski lelah, keduanya tetap melanjutkan perjalanan.

“Aku tak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun,” ujar Musa pada Yusya.

Perjalanan telah jauh, tapi Khidir tak juga dijumpai. Musa pun memutuskan untuk sejenak beristirahat di sebuah batu besar di tepi sungai. Kelelahan, Musa pun tertidur. Saat Musa terlelap, Yusya melihat ikan dalam bejana tersebut meloncat keluar dari bejana ke arah sungai. Tapi, Yusya lupa mengabarkannya pada Musa. Saat Musa bangun, keduanya pun melanjutkan perjalanan tanpa ingat panduan sang ikan.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu. Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali syaitan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat.

Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Sampailah mereka pada tempat yang mereka tuju dan bertemu sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah Khidir. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki?” ujar Musa kepada Khidir.

Apa jawab Khidir kepada Musa? “Sungguh kau tak akan sanggup untuk sabar jika bersamaku. Bagimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu,” kata Khidir.

Bukan Musa kalau langsung patah semangat dengan penolakan halus itu. “Insya Allah, kau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Aku tak akan menentangmu dalam urusan apa pun,’” ujarnya. Mendengar ketekadan hati Musa, Khidir pun akhirnya mengizinkan Musa mengikutinya. Tapi, dengan syarat, “Jika kau mengikutiku, jangan menanyakan suatu apa pun padaku sampai aku yang menerangkannya padamu,” kata Khidir.

Musa girang dapat mengikuti Khidir. Artinya, ia dapat menuntut ilmu dari Khidir. Pergilah Khidir dan Musa menumpang sebuah perahu. Tapi, ketika perahu itu hampir mendarat, Khidir melubangi perahu tersebut. Musa kaget, ia pun berkata, “Mengapa kau lubangi perahu ini. Kau akan membuat penumpang tenggelam. Kau telah melakukan sebuah kesalahan besar.”

Khidir hanya menjawab, “Bukankah aku telah berkata bahwa kau tak akan sabar bersamaku.” Musa pun teringat janjinya tak akan menanyakan apa pun. Ia pun menyesali ucapannya. “Jangan hukum aku atas lupaku dan jangan bebani aku dengan kesulitan urusan,” kata Musa.

Keduanya pun melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang anak. Mengagetkan, Khidir kemudian membunuhnya. Musa yang sifatnya spontan langsung bereaksi. “Mengapa kau bunuh jiwa yang bersih? Dia tak membunuh orang lain. Sungguh, kau melakukan suatu yang mungkar,” protes Musa.

Lagi-lagi, Khidir hanya menjawab, “Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau sungguh tak akan sabar bersamaku?” Musa pun kembali teringat janjinya. Dia pun memendam rasa amarah sekaligus herannya atas kelakuan Khidir. “Jika setelah ini aku bertanya kembali padamu, jangan kau izinkan aku lagi mengikutimu. Sungguh, kau cukup memberiku uzur,” kata Musa.

Perjalanan keduanya dilanjutkan. Tibalah mereka di sebuah negeri. Tapi, tak ada satu pun penduduk negeri yang berkenan menjamu mereka. Lagi, Khidir melakukan perbuatan yang tak masuk akal bagi Musa. Kali ini khidir tidak melakukan perbuatan mungkar di negeri tersebut, ia justru memperbaiki dinding sebuah rumah yang hampir roboh. “Jika kau mau, kau dapat mengambil upah karena telah memperbaiki itu,” ujar Musa.

Lupa sudah Musa akan tekadnya untuk diam tak mengomentari ulah Khidir. Sesuai ucapan Musa, ia pun tak lagi mendapat pengecualian. Sudah tiga kali Musa mempertanyakan sikap Khidir. “Inilah perpisahanku denganmu,” kata Khidir.

Sebelum berpisah, Khidir pun menjelaskan maksud dibalik perbuatan yang Musa tak sabar atasnya. “Aku akan memberitahu tujuan perbuatanku. Perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak perahu mereka karena mereka dihadapkan pada seorang raja yang merampas setiap perahu,” kata Khidir. Betapa ilmu Khidir benar-benar luar biasa. Ilmu tersebut membuatnya sangat bijak. Bayangkan jika Khidir tak melubangi perahu itu, orang miskin tersebut akan kehilangan tak hanya perahu, tapi juga mata pencaharian mereka. Dengan perahu yang berlubang, raja lalim mana yang suka untuk mengambilnya.

Itu baru satu kisah. Kisah selanjutnya, Khidir menjelaskan, “Adapun anak itu, kedua orang tuanya merupakan Mukminin. Kami khawatir, dia akan mendorong kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Dan, kami menghendaki supaya Rabb mengganti anak lain untuk mereka yang lebih baik, suci, dan lebih sayang pada ibu bapaknya,” ujar Khidir.

Tahulah Musa bahwa ilmu yang dimiliki Khidir benar-benar luar biasa. Ia mengetahui hal misterius dan mengambil kebijaksanaan atasnya. Kisah terakhir, “Dinding rumah itu merupakan milik dua anak yatim di negeri tersebut. Di bawahnya tersimpan harta benda simpanan sang ayah untuk keduanya. Ayahnya adalah seorang yang shalih. Rabbmu menghendaki agar mereka sampai dewasa dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat Rabbmu,” jelas Khidir.

Terjawablah semua pertanyaan Musa atas sikap Khidir. Musa pun kagum dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada Khidir. “Tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri,” pungkas Khidir yang menunjukkan betapa dia memiliki ilmu yang luar biasa dari rahmat Allah.

Perjalanan Musa dan Khidir tersebut dikisahkan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat 60 hingga 82. Rasulullah pun mengisahkannya dalam sebuah hadis riwayat Ubai Ibn Ka’ab yang tercantum dalam Shahih Al Bukhari.

Ibnu Katsir menjelaskan kisah dengan rinci melalui hadis tersebut. Di akhir hadis, Rasulullah bersabda, “Kami berharap, Musa dapat sabar dengan kebajikan yang mana Allah mungkin akan memberitahu kami lebih banyak tentang kisah ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Musa,” sabda Rasulullah.

Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir di atas, salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu.

Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu. Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu. Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”

sumber: Islam Digest Republika




Zahid dan Sang Bidadari

“Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak”

Ilustrasi: Net

Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid.  Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW.  Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah.  Zahid memang bukan pemuda tampan.  Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya.  Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup.  “Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja”, sapa Rasulullah SAW.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah”, jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih lajang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?”, tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?”.

“Mudah saja kalau kau mau..!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu.  Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said.  Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita.  Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said.  Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu.  Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia”, kata Zahid.

Said menjawab, “Ini adalah kehormatan buatku”.

Surat itu dibuka dan dibacanya.  Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut.  Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula.  Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga.  Itulah yang dinamakan “sekufu (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?”

“Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu.  Dia akan menjadikan engkau istrinya”, kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya.  “Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku.  Aku tak mau, Ayah..!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan.  Bukannya aku hendak menghalanginya.  Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak”.

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?”

Said menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah.”

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu.  Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW.  Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya.  Karena aku teringat firman Allah : ‘Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’  Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (An-Nur : 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana.  Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya.  Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu.  Setiba di masjid ia bersujud syukur.  Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid..?” tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan..?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf.  Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan.  Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya.  Zahid bertanya, “Ada apa ini..?”

Sahabat menjawab, “Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita.  Apakah engkau tidak mengetahuinya..?”

Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, “Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik.”

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu.  Apakah engkau akan pergi juga..?” kata para shahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri..!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya.  Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur.  Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”  Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 – 170.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.  Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati.  Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para Shahabat pun meneteskan air mata.  Bagaimana dengan Zulfah..?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu.  Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.”  Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat.  Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.

Dikutip dari buku  “Ayat-Ayat Pedang – Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang”/dilansir melalui laman wattpad




Kemenpar Siapkan Rp150 Juta untuk Lomba Foto Akhir Tahun

Ilustrasi: Net

Jakarta — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Lomba Cerita Liburan Akhir & Awal Tahun yang berbarengan dengan momen liburan keluarga.

Lomba ini dibuka untuk periode 27 Desember 2018-7 Januari 2019. Panitia telah menyiapkan total hadiah sebesar Rp150 juta. Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan siapa pun boleh ikut meramaikan lomba ini di seluruh destinasi wisata di Indonesia.

“Destinasi bebas, bisa di mana saja di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Peserta bisa mengeksplorasi gunung, savana, hutan, ladang, kebun, danau, sungai, hamparan persawahan, pantai, pulau, hingga bawah laut,” beber Arief dalam keterangan tertulis dilansir melalui CNN Indonesia, Jumat (28/12).

Caranya, peserta hanya memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter untuk mempublikasikan karyanya ke dalam tiga platform tersebut soal wisata Tanah Air.

Ketentuan lomba khusus bagi pengguna Instagram dan Facebook, adalah mengunggah foto atau video saat liburan di akun pribadi. Berikan caption tentang cerita liburan lengkap dengan nama destinasinya.

Peserta juga wajib mengikuti dan menyebut akun @kemenpar dan @pesonaid_travel. Jangan lupa gunakan hashtag #LombaCeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #PesonaCeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #CeritaLiburanAkhirDanAwalTahun, #PesonaIndonesia, dan #WonderfulIndonesia.

Sementara untuk pengguna Twitter, peserta bisa membuat kultwit minimal 10 twit pada akun pribadi. Ceritakan tentang serunya liburan di akhir 2018 dan awal 2019. Peserta juga harus mengikuti akun pesonaid_travel dan gunakan hashtag #PesonaCeritaAkhir2018Awal2019.

“Untuk pengguna Instagram dan Facebook, penilaian dilakukan berdasarkan interaksi dengan netizen seperti komentar, likeshare, dan view. Sedangkan untuk pengguna Twitter, penilaian berdasarkan kultwit dengan cerita terbaik,” imbuhnya.

Arief menambahkan hadiah sebesar Rp150 juta akan diberikan kepada 150 pemenang, baik peserta pengguna Instagram, Facebook, maupun Twitter. Dengan demikian, setiap kategori akan dipilih 50 pemenang yang masing-masing akan mendapat hadiah Rp1 juta.

“Peserta boleh ikut di semua kategori dan boleh mengajak semua anggota keluarga. Ajak juga teman-teman untuk berbagi keseruan liburannya di lomba ini. Pemenang akan diumumkan sehari setelah lomba ditutup atau tepatnya pada 8 Januari 2019,” kata Arief.