Halim Perdanakusuma, Perintis TNI AU yang Gugur Setelah Tuntaskan Misinya

ARBIndonesia.com, JAKARTA – Kala itu penghujung akhir tahun 1939 di Eropa pecah perang dunia ke II. Sekitar bulan Mei 1940 Belanda diduduki Jerman, seketika itu juga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan wajib militer bagi rakyat Hindia Belanda.

Peraturan ini terjadi juga di Indonesia, yang saat itu termasuk daerah jajahannya untuk menghadapi kemungkinan perang di wilayah Asia.

Seperti dikutip dari tni-au.mil.id, Rabu (14/7/2021), seorang pemuda bernama Abdul Halim Perdanakusuma yang tengah duduk di tingkat dua sekolah Mosvia (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah pendidikan pribumi, turut juga terkena wajib militer.

Sehingga Halim Perdanakusuma tidak dapat menyelesaikan pendidikan pamong praja tersebut dan wajib melaksanakan peraturan Pemerintah Hindia Belanda untuk melaksanakan milisi dan memasuki dunia militer.

Pemuda kelahiran Sampang, Madura, 18 November 1922 ini kemudian dikirim oleh Angkatan Laut Hindia Belanda untuk mengikuti pendidikan opsir (calon perwira) Torpedo di Surabaya.

Selama Perang Dunia II dalam menjalankan masa penugasan sebagai militer, Abdul Halim Perdanakusuma tercatat pernah bertugas di Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force dengan pangkat Wing Commander dan mendapat tugas di skadron tempur pesawat Lancaster dan Liberator.

Sedangkan dalam Perang Pasifik, Jepang kalah. Secara berturut-turut pasukan sekutu mulai memasuki Indonesia. Tanggal 15 Oktober 1945, ketika tentara Sekutu mendarat di Tanjung Priok, Jakarta diantara sekian banyak orang berkulit putih terdapat seorang berkulit sawo matang berpakaian Angkatan Udara Inggris. Dia adalah Halim Perdanakusuma.

Saat itu situasi negara pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia sangat mencekam. Belanda dan tentara sekutu menjadi musuh, bagi bangsa Indonesia. Sedangkan keberadaan Abdul Halim Perdanakusuma di tanah air dicurigai sebagai tentara NICA, karenanya dia dimasukkan dalam penjara di Kediri.

Keadaan pun makin genting, ditambah terjadi pertempuran hebat di Surabaya antara pasukan Indonesia dengan pasukan sekutu Inggris. Akhirnya, demi menjaga keselamatan Abdul Halim Perdanakusuma, lewat Menteri Pertahanan (Menhan) Amir Syarifuddin, Pemerintah Indonesia membebaskan Abdul Halim Perdanakusuma.

Kemudian anak dari Haji Abdulgani Wongsotaruno dan Raden Ayu Aisah ini pulang kampung ke Sumenep, tempat kedua orangtuanya. Di kampungnya ini, Abdul Halim Perdanakusuma tidak bertahan lama.

Dengan kondisi peperangan yang cukup sengit, dibutuhkan untuk membangun kekuatan udara, cikal bakal Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), adalah Komodor Udara R Soerjadi Soerjadarma bersama dengan Komodor Muda Udara Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrachman Saleh yang menjadi arsitek awal perancang kekuaran udara Indonesia waktu itu.

Namun diperlukan personel lagi untuk menambah kekuatan udara Indonesia, seketika R Soerjadi Soerjadarma mendengar tentang bebasnya Halim Perdanakusuma. Dengan segera R Soerjadi memerintahkan untuk menghubungi dan mengajak Halim turut mengabdi kepada perjuangan bangsa Indonesia.

Halim yang saat itu tengah berada di kampungnya, langsung menerima tawaran tersebut untuk membela angkatan udara Indonesia. Dimulai saat itu Abdul Halim Perdanakusuma mengawali tugasnya ikut serta membina dan merintis perkembangan AURI dengan pangkat Komodor Muda Udara.

Sesuai dengan keahlian dan pengalaman yang dimilikinya, Halim diserahi tugas sebagai Perwira Operasi Udara. Ia bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi udara. Selain itu, dia juga diserahi tugas sebagai instruktur navigasi di sekolah penerbangan yang didirikan dan dipelopori oleh Agustinus Adisutjipto.

29 Juli 1947, Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma mendapat perintah menyusun serangan udara balasan atas agresi militer I Belanda. Serangan itu menyasar tiga kota yang dikuasai Belanda, yaitu Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

Serangan ini dinilai berhasil dan membawa nama AURI dikenal. Namun di sisi lain Belanda murka dengan serangan tersebut. Sore harinya keberhasilan tersebut dibayar mahal dengan gugurnya tiga perintis dan pelopor AURI yaitu Komodor Muda Udara A Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrahman Saleh, dan Juru Radio Opsir Udara Adisoemarmo Wiryokusumo.

Ketiganya dalam pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya di atas langit Maguwo Yogyakarta, ditembak oleh dua pesawat pemburu Kitty Hawk Belanda, Pesawat tersebut jatuh di sekitar desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, dekat Desa Ngoto, Bantul Yogjakarta.

Kemudian Halim Perdanakusuma menggantikan posisi Adisutjipto sebagai Wakil Kepala Staf AURI. Di tengah kesibukannya dalam melaksanakan pengabdian di AURI, pada tanggal 24 Agustus 1947 Halim melaksanakan pernikahan dengan Koesdalina di Madiun. Dua bulan setelah menikah Halim mendapat tugas membangun angkatan udara di Sumatera.

Tugas ini sebagai upaya menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera menembus blokade udara Belanda, serta persiapan sebagai basis perjuangan apabila pangkalan-pangkalan udara di Pulau Jawa dikuasai oleh Belanda. Didampingi oleh Opsir Udara II Iswahjudi, Halim berangkat menuju Sumatera.

Penerbangan dilakukan pada malam hari dengan tujuan negara tetangga untuk mengangkut persenjataan yang telah disiapkan. Dalam usaha mencari bantuan ke luar negeri inilah, bersama opsir udara I Iswahjudi pergi ke Muangthai (Bangkok) pada bulan Desember 1947 menggunakan Pesawat Avro Anson RI-003 dengan penerbang Iswahyudi, dan seorang penumpang bernama Keegan berkebangsaan Australia yang telah menjual pesawat tersebut.

Selain mengantarkan Keegan pulang, misinya adalah untuk melakukan penjajakan lebih jauh tentang kemungkinan pembelian senjata dan pesawat serta melakukan inspeksi terhadap perwakilan RI dalam mengatur penukaran dan penjualan barang-barang yang berhasil dikirim dari dalam negeri dan berhasil memasukan barang-barang dari Singapura ke daerah RI menembus blokade udara Belanda.

Dalam perjalanan kembali inilah pesawat terjebak dalam cuaca buruk di daerah Perak Malaysia, yang disertai dengan kabut tebal yang menghalangi pandangan sang pilot sehingga pesawat jatuh di pantai. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut.

Berita jatuhnya pesawat RI-003 ini mendapat perhatian luar biasa dan disiarkan oleh surat kabar berbahasa Inggris The Times dan Malay Tribune yang terbit pada tanggal 16 Desember 1947.

Almarhum Abdul Halim Perdanakusuma. meninggalkan seorang istri bernama Koesdalinah yang pada waktu itu tengah mengandung empat bulan. Sebelum berangkat tugas, ia berpesan kepada istrinya, jika kelak anak yang lahir laki-laki agar kelak diberi nama Ian Santoso, maksudnya untuk mengenang sahabat karibnya sewaktu perang dunia II di Eropa.

Selanjutnya Ian Santoso mengikuti jejak ayahnya menjadi prajurit TNI AU sebagai penerbang pada Skadron Udara 17 di Lanud Halim Perdanakusuma. Jabatan terakhir Marsdya TNI Purn Ian Santoso Perdanakusuma adalah sebagai, Kepala Badan Intelijen Strategis (Ka BAIS) TNI.

sumber sindonews.com




10 Foto Indah Detail Permukaan Bulan yang Diambil Bocah 16 Tahun

ARBIndonesia.com – Seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun baru-baru ini jadi berita utama di sejumlah media lokal India. Alasannya? Ia berhasil mengabadikan foto Bulan paling jelas dengan menggabungkan lebih dari 50.000 gambar!

Bahkan saking jelasnya foto-foto itu, kamu akan dapat dengan detail melihat kawah-kawah kecil yang berada di sekeliling Bulan.

Nama remaja laki-laki ini adalah Prathamesh Jaju yang merupakan sosok di balik viralnya foto Bulan paling jelas itu.

Mengutip dari Mashable, Jaju yang menyebut dirinya sebagai astronom serta astrofotografer amatir bikin foto Bulan ini butuh waktu hingga empat jam demi mengumpulkan puluhan ribu foto ini!

“Foto ini adalah terdiri atas dua gambar HDR yang berbeda agar menghasilkan efek 3 dimensi. Ini adalah jepretan paling detail dan jernih dari Fase Bulan Kuartal Ketiga,” tulis Jaju pada keterangan di Instagramnya @prathameshjaju.

Seperti apa indahnya foto-foto tersebut? Berikut ini Jaka sudah merangkumnya agar bisa kamu nikmati keindahan dari foto-foto itu.

Total foto-foto yang terkumpul bahkan memakan data sampai lebih dari 186 GB! Bahkan, Jaju butuh waktu tambahan selama 38 hingga 40 jam demi pemrosesan lanjutan dari hasil foto akhir yang berukuran sekitar 600 MB.
“Saya mengambil gambar (foto Bulan) pada 3 Mei pukul 1 dini hari. Saya mengambil gambar dalam bentuk video dan foto selama empat jam. Butuh waktu 38-40 jam untuk pemrosesan,” kata Jaju kepada kantor berita India, ANI.
Jaju menjelaskan kalau laptopnya hampir mati ketika memproses lebih dari 186 GB Data, karena menjalani tugas pengeditan yang sangat berat.
Lebih mengejutkannya, Jaju belajar secara otodidak demi mempelajari segalanya melalui membaca artikel juga menonton YouTube. Nah, patut dicontoh nih.
“Saya membaca beberapa artikel dan melihat beberapa video YouTube untuk mempelajari cara menangkap gambar-gambar ini. Saya belajar prosesnya,” jelasnya.
Gambar foto Bulan yang teramat jelas ini bikin orang-orang bisa memperbesar sebanyak yang dia inginkan tanpa harus kehilangan detailnya.
Gambar yang ditangkap oleh Jaju juga punya nilai ilmiah, lantaran warna berbeda yang tampak pada gambar memperlihatkan adanya endapan mineral pada permukaan bulan.
Banyak yang mungkin bertanya-tanya kenapa dirinya perlu mengambil 50.000 gambar dan bukan hanya melalui satu bidikan saja?
“Seringkali satu gambar menjadi piksel dan buram saat kami memperbesarnya. Untuk menghindari itu saya menggunakan teknik mosaik, yang dalam istilah awam disebut fotografi panorama,” ungkap Jaju.
Pada unggahan akun Instagramnya, Jaju menjelaskan alat yang ia pakai dalam menangkap foto Bulan ini dengan jelas. Seperti, Celestron 5 Cassegrain OTA, ZWO ASI120MC-S, SkyWatcher EQ3-2 GO-TO, dan GSO 2X BARLOW.

Itu dia tadi kumpulan foto-foto detail permukaan Bulan terbaik yang diambil bocah berusia 16 tahun. Cukup menakjubkan dan bikin terpesona yang melihat bukan?

untuk diketahui, artikel ini telah terbit di laman situs “jalan tikus”.***




Dumai Tuan Rumah Konkerprov PWI Riau, Pelatihan PWI Daerah dan UKW XVII

ARBIndonesia.com, PEKANBARU – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau akan menggelar Konferensi Kerja (Konkerprov) 2021 di Hotel Grand Zuri Dumai, Kamis-Jumat (24-25/6). Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari dijadwalkan membuka secara virtual agenda yang akan membahas dan mengevaluasi program kerja PWI Riau.

Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang mengatakan persiapan untuk pelaksanaan Konkerprov sudah matang. Selain tempat, peserta dari seluruh PWI Kabupaten/Kota se-Riau juga sudah menyatakan kesiapan mengikuti acara ini.

Beedasarkan ketentuan PD/PRT PWI, Konkerprov PWI harus diselenggarakan minimal sekali dalam masa periode kepengurusan. Peserta Konkerprov, selain PWI Kabupaten/Kota se-Riau juga terdiri dari pengurus harian PWI Riau, Dewan Kehormatan PWI Riau, dewan penasihat serta ketua-ketua seksi.

Selain akan mengevaluasi program kerja, Konkerprov PWI Riau juga akan membahas sinkronisasi program kerja antara PWI Riau dan PWI cabang untuk pelaksanaan program di sisa periode 2017-2022.

“Sampai tahun 2022 yang akan datang, masih ada beberapa kegiatan PWI Riau yang bersifat lokal dan nasional yang menunggu. Misalnya Ekspedisi PWI Riau ke Taman Nasional, Uji Kompetensi Wartawan (UKW), serta Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2022 Jawa Timur. Makanya perlu dilakukan sinkronisasi program,” jelas Zulmansyah.

Bersamaan dengan Konkerprov PWI Riau, juga diselenggarakan Konsolidasi dan Pelatihan Pengurus PWI Kabupaten/Kota se-Riau dengan menampilkan narasumber dari internal dan eksternal PWI.

Narasumber pelatihan pengurus PWI Kabupaten/Kota se-Riau antara lain adalah Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Nurjaman Mochtar, Walikota Dumai H Paisal, Kadiskominfotik Riau H Chairul Riski,. Ketua Komisi V DPRD Riau Eddy M Yatim, Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang dan Ketua DKD Riau H Dheni Kurnia.

Materi pelatihan pengurus PWI ini sangat penting. Antara lain bagaimana menyikapi kasus hukum yang terjadi pada wartawan di daerah berdasarkan PD/PRT PWI, bagaimana menghadapi intimidasi dan kekerasan pada insan pers, bagaimana menjalin kerjasama dengan mitra daerah dan sebagainya.

”Konkerprov dan pelatihan pengurus ini berlangsung dua hari. Ini sangat penting, karena membahas beberapa hal yang berkaitan dengan program kerja organisasi dan isu-isu yang berkaitan dengan pers. Makanya semua pengurus harian dan PWI cabang diundang,” ujar Zulmansyah.

Setelah Konkerprov PWI Riau dan Pelatihan Pengurus, di tempat yang sama digelar juga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Angkatan XVII pada 25-26 Juni. Persiapannya juga sudah matang. Ada 42 wartawan yang akan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat kompetensi kali ini. Terbagi dalam tiga tingkatan, muda, madya, dan utama. Sementara penguji UKW datang dari PWI Pusat, Kepri, Sumut dan pengurus PWI Riau.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung seluruh acara ini. Terutama Pemprov Riau, SKK Migas Sumbagut, PT. Chevron Pacific Indonesia dan K3S lainnya se-Riau, Pemko Dumai, PT RAPP, Asian Agri dan berbagai pihak lainnya yang sudah berkontribusi,” tutup Zulmansyah.(***)




Dinilai Publik Positif, Ini yang Ada di Benak Publik Saat Mendengar Kata Polisi

ARBIndonesia.com – Cyrus Network dalam laporan hasil surveinya menyebutkan opini publik terhadap institusi Polri cenderung positif. Direktur Riset Cyrus Network Fadhli MR mengatakan hal pertama yang ada di benak publik saat mendengar kata polisi adalah “Menjaga Keamanan”.

“Secara top of mind, sebanyak 22,9% responden menjawab Menjaga Keamanan” saat ditanyai pertanyaan, “Apa yang terlintas pertama kali di benak Anda jika mendengar kata ”Polisi”? kata Fadhli, Senin (21/6/2021).

Selain “Menjaga Keamanan” respon publik teratas lainnya ketika mendengar kata polisi adalah “Aparat Penegak Hukum” sebanyak 19,8% dan “Melindungi dan Mengayomi” masyarakat sebanyak 13%. Namun masih ada opini spontan, “Takut” sebanyak 9,9% dan “Razia/Tilang” sebanyak 5,6%.

“Opini publik terhadap Polri relatif positif. Terlihat tiga respon teratas merupakan respon yang positif menggambarkan fungsi dan tugas dari Kepolisian,” ujarnya.

Citra positif Polri ini selaras dengan penilaian publik terhadap kepuasan pelayanan publik yang dilakukan Polri. Publik mengaku puas terhadap pelayanan Polri seperti mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM), membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), dan laporan pengaduan masyarakat.

“Secara umum, opini publik terhadap pelayanan Polri sudah cukup baik, hal ini tercermin dari persepsi responden yang mengaku pernah mengurus SIM, mengurus SKCK, dan membuat pengaduan penegakan hukum dalam empat bulan terakhir. Dari seluruh layanan POLRI yang kami uji, tercatat bahwa pelayanan mengurus SIM memiliki tingkat kepuasan tertinggi yaitu sebesar 90,3%; diikuti dengan layanan membuat SKCK sebesar 82,8%; dan mengurus proses pengaduan masyarakat sebesar 79,4%,” ungkap Fadhli.

Survei Cyrus Network ini dilakukan secara tatap muka pada tanggal 28 Mei-1 Juni 2021 dengan jumlah responden sebesar 1230 responden tersebar secara proporsional pada 123 desa/kelurahan terpilih di 34 Provinsi. Survei dilakukan dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan (significant level) survei ini adalah 95% dengan _margin of error_sebesar +/- 2,85%. ***




PWI Inhil Targetkan Seluruh Anggota Kantongi Sertifikat UKW

ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme anggota.

Salah satunya dengan mendorong para anggota PWI Inhil untuk mengantongi sertifikat Uji Kompentesi Wartawan (UKW) baik tingkat muda, madya dan tingkat utama.

“Target kita seluruh wartawan yang tergabung di PWI Inhil memiliki sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) minimal UKW muda,” ujar Ketua PWI Inhil Ardiansyah Julor melalui Wakil Ketua Bidang Organisasi Ramli Agus, Kamis (17/06/2021).

Dikatakan Agus, dalam waktu dekat sebanyak tujuh orang anggota PWI Inhil kembali mengikuti test UKW yang diselenggarakan oleh PWI Riau di Kota Dumai pada tanggal 25-26 Juni 2021.

“Akhir Juni akan ada lagi tujuh orang anggota PWI Inhil akan mengikuti ujian UKW di Dumai, lima orang naik tingkat dari jenjang muda ke madya dan dua orang mengambil tingkat muda,” jelas Agus.

Selain kegiatan UKW, Agus menambahkan PWI Inhil juga mengikuti Konferensi Kerja PWI Riau di Kota Dumai yang salah satu agendanya adalah konsolidasi dan pelatihan bagi pengurus PWI Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau. (Rls)




Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei – Opini

Opini – Rizki Rahayu Fitri, Ketua Umum HMI MPO Cabang Medan

ARBIndonesia.com – Hari ini tanggal 20 mei, adalah hari yang ditetapkan dalam rangka memperingati Kebangkitan Nasional yang digagas untuk memperjuangkan pendidikan bagi rakyat Indonesia (pribumi).

Pada 113 tahun silam, pemuda Indonesia yang didominasi oleh Mahasiswa STOVIA melakukan perkumpulan untuk membentuk sebuah pergerakan yang bernama Budi Utomo, gerakan ini dipimpin oleh Mahasiswa Kedokteran yang berpikiran intelektual pada zamannya seperti Dr. Supoemo, Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan Dr. Gunawan.

Organisasi ini juga di pelopori oleh kaum buruh agar cita-cita rakyat Indonesia untuk merdeka dapat terealisasi.

Notabenenya hari kebangkitan nasional merupakan hari lahirnya sebuah organisasi bernama Budi Oetomo pada 20 mei 1908 jauh 37 tahun sebelum Indonesia merdeka organisasi ini telah berdiri, untuk menumpas ketidaksetaraan kaum priayi terhadap pribumi kala itu.

Sejarah mencatat bahwasanya pendidikan kala itu hanya mendidik pribumi sebagai budak dari penjajah. Organisasi Budi Utomo hadir ditengah pengawasan hindia belanda yang massif atas pergerakan dari lahirnya organisasi budi oetomo.

Rasa syukur tak henti harus kita tanamkan dalam hati atas kerja keras dari para tokoh intelektual yang telah membuka jalan dalam proses menuntut ilmu tidak ada lagi pembeda antara koum priayi dan kaum pribumi.

Namun, 2021 bukanlah zaman yang tidak memiliki dinamika perkembangan zaman bukan saja sebuah kemajuan tanpa efek samping bagi generasi milinial penerus bangsa.

Kehadiran teknologi di abad ke-21 ini menjadi tantangan besar terhadap regenerasi, sebab teknologi tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang diinginkan oleh organisasi Budi Utomo.

Ketergerusan nilai adab dan moral terjadi karena regenerasi memiliki hobi ‘dzikir teknologi’, sampai lupa waktu dan kerjaan.

Menelisik pada masa lampau, semua orang kala itu ingin merasakan kecanggihan pada masa kini, era ini pemuda sangat piawai dalam menelanjangi teknologi, juga banyak harapan yang ingin di implementasikan dari pemuda untuk bisa melahirkan gaya baru untuk menumbuhkan resolusi apa yang bisa diberikan untuk Negara.

Melihat negara selalu berduka baik dari alamnya, manusianya, serta pemerintahannya, peran pemuda masih minim untuk menumbuhkan resolusi tersebut.

Faktanya kecanggihan tekhnologi belum mampu menyelesaikan dengan sekali sentuhan saja.

Problematika di negeri ini sangat using sekali, sehingga tidak salah jika regenerasi menjadi apatis. Kenapa demikian?, tentu yang menjadi persoalan tidak lain yaitu ‘tikus berdasi’.

Seseorang atau individual yang memiliki pangkat, jabatan dan pendidikan tinggi tapi punya keahlian khusus menjadi pencuri berdasi.

Tentu ghirah dari setiap pemuda dalam meningkatkan kemajuan bangsa ini menjadi lesu, bahkan anak-anak saja juga paham akan pencuri berdasi yang dipertontonkan di negeri lawak-lawak ini.

Pendalaman-pemahaman nilai moral kini telah dicabut dalam kurikulum pendidikan, pengamalan moral dan pancasila kini ditertawakan sama pemerintah sendiri. Sangat layak dan pantas negeri ini dikatakan negeri lawak-lawak.

Padahal untuk mengingat momen hari kebangkitan nasional maka pemuda beserta regenerasi dibawahnya harus ditanamkan habid atau kebiasaan mempelajari dan memahami perjuangan, menghargai, menanamkan lima nilai sila pancasila, dan menanamkan diingatan sejarah pengorbanan pahlawan.

Dinamika di negeri ini banyak, pemuda jangan lagi bersikap apatis, semakin apatis semakin memberi peluang terhadap ‘pencuri berdasi’ yang duduk di ‘kursi panas’ negeri ini.

Pandemi belum lagi berakhir, mau sampai kapan kita seperti ini?, Jikalau aksi kita dikebiri maka harus berani mengkritisi melalui teknologi.

Kendati demikian kita selaku harapan orang tua, bangsa, serta pahlawan masa lalu ada baiknya memberi perubahan dengan cara tidak bermalas-malasan, melakukan hal produktif yang bisa membanggakan kedua orang tua dan bangsa, memberantas korupsi dari yang terkecil, membantu pemulihan ekonomi dengan mengusulkan ide-ide kreatif anak bangsa, pergunakan tekhnologi sesuai pada fungsinya.

Penulis: Rizki Rahayu Fitri
(Ketua Umum HMI MPO Cabang Medan)