Revolusi dalam perspektif Islam

www.detikriau.wordpress.com — Gejolak revolusi yang melanda negara-negara Arab belum berakhir. Meski beberapa rezim diktator telah tumbang, perjuangan rakyat untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk pemerintahan yang pro-rakyat masih menghadapi batu sandungan dari dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, kekuatan rezim sekuler pro-Barat dan antek-anteknya masih menempati posisi-posisi strategis dalam pemerintahan. Di luar negeri, AS, Israel, dan negara-negara salibis Barat melancarkan berbagai konspirasi licik untuk mempertahankan hegemoninya di negeri-negeri kaum muslimin.

Para ulama dan mujahidin tidak menutup mata atas semua peristiwa bersejarah ini. Mereka tak bosan memberikan dukungan dan pengarahan kepada kaum muslimin yang tengah mengadakan revolusi, agar revolusi mereka berjalan sesuai syariat dan berhasil meraih tujuannya. Global Islamic Media Front (GIMF) merilis serial artikel dukungan kepada revolusi kaum muslimin di negara-negara Arab. Di antaranya serial artikel Syaikh Hasan Umar hafizhahullah yang berjudul Ruha al-Islam Dairah (Roda Islam terus berputar). Arrahmah.com menerjemahkan artikel pertama beliau untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.

 

Roda Islam terus berputar (1): Islam dan Revolusi

Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada penutup para nabi yang tiada lagi nabi sepeninggalnya. Amma ba’du…

dari Muadz bin Jabal berkata: “Saya mendengar Rasululah SAW bersabda:

“Sesungguhnya roda pengilingan Islam terus berputar, maka hendaklah kalian berputar bersama kitab Allah kemanapun ia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’an akan berpisah dengan kekuasaan, maka janganlah kalian memisahkan diri dari Al-Qur’an.Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para penguasa yang memutuskan perkara untuk kepentingan diri mereka sendiri dan tidak memutuskannya untuk kepentingan kalian. Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian. Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami lakukan?”

Beliau SAW menjawab, “Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu. Mati di atas ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan Musnad asy-Syamiyin serta Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyah al-Awliya’. Imam Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, 5/231, berkata: Perawi Yazid bin Martsad tidak mendengar hadits dari Mu’adz. Perawi Wadhin bin ‘Atha’ dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan lain-lain. Sementara seluruh perawi lainnya adalah para perawi yang tsiqah)

Setiap muslim dan muslimah harus memperhatikan hadits yang agung di atas, yang mengungkapkan  semangat revolusi Islam. Hadits ini menjelaskan bahwa kekuasaan sering kali membenci syariat Allah, kitab Allah, dan dien Allah. Kenapa? Karena kepentingan-kepentingan para penguasa bertabrakan dan menyelisihi dien Allah, kitab Allah, dan para pengikut kebenaran. Andai saja para penguasa membiarkan para pengikut kebenaran atau membuka pintu bagi mereka untuk mengemukakan pendapat dan mengingkari kemungkaran. Namun para penguasa itu menindas masyarakat dan memberikan tekanan hebat kepada para pengikut kebenaran. Karena selalu ada pertarungan antara dua manhaj; manhaj dien Allah di bawah panji kitab Allah dan manhaj setan dan penguasa yang batil di bawah panji-panji jahiliyah dengan beragam nama baik pada masa dahulu maupun masa sekarang.

Selama para penguasa menyelisihi Al-Qur’an, maka menaati mereka merupakan sebuah kesesatan, sedangkan mengikuti manhaj mereka merupakan jalan menuju neraka Jahaman. Nabi SAW bersabda, “Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”

Di sisi lain, berpegang teguh dengan kebenaran itu pahit rasanya. Nabi SAW bersabda, “Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian.” Dari sinilah diperlukan sebuah kelompok berani mati yang mempersembahkan pengorbanan dan tidak menyelewengkan dien Islam hanya karena ingin menyenangkan penguasa, meraih manfaat-manfaat duniawi, kedudukan dan jabatan yann tidak langgeng.

Kelompok ini menyerupai keadaan generasi sahabat ketika mereka pertama kali mengemban dien Islam ini hingga akhirnya mereka serahkan kepada kita dalam keadaan jaya, menang, dan panjinya berkibar tinggi. Mereka adalah orang-orang yang asing. Nabi SAW bersabda:

“Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing sebagaimana keadaan pada awal kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”(HR. Muslim dan Ibnu Majah)

“Mereka adalah orang-orang shalih yang memperbaiki keadaan ketika masyarakat telah rusak.”(HR. Ibnu Wadhah dalam al-Bida’, Ad-Dulabi dalam al-Asma’ wa al-Kuna, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath dan al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Bathah dalam al-Ibanah al-Kubra, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah, dan Abu Amru ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan. Imam al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, 7/281, berkata: Seluruh perawinya adalah perawi kitab ash-Shahih kecuali Bakr bin Salim, dan ia seorang perawi yang tsiqah)

“Mereka adalah orang-orang yang tetap shalih ketika masyarakat telah rusak.” (HR. Ahmad, Hanad bin Sirri dalam az-Zuhd, al-Ajuri dalam al-Ghuraba’, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath dan a-Mu’jam as-Shaghir, Ibnu Bathah dalam al-Ibanah al-Kubra, Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifah ash-Shahabah, dan Abu Amru ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1273 mengatakan: Sanadnya shahih dan seluruh perawinya tsiqah)

Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan dien Islam sekalipun sebagian besar memusuhi mereka. Nabi SAW bersabda:

“Tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan orang-orang yang memusuhi mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap teguh di atas keadaan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka adalah para penggenggam bara api. Nabi SAW bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang pada saat itu orang yang bersabar dalam menggenggam teguh agama Islam bagaikan orang yang menggenggam bara api. Bagi orang-orang yang beramal dengan sunahku pada masa tersebut pahala amalan lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Adi, Ibnu Wadhah, dan lain-lain. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 957 berkata: Shahih berdasar keseluruhan sanadnya).

 

Hal itu karena mereka tidak mendapatkan para pembantu dan penolong dalam memperjuangkan kebenaran. Sementara gangguan dan ancaman mengincar mereka dari segala tempat. Namun mereka berjalan di jalan Allah SWT dan memperjuangkan dien Allah SWT. Mereka siap untuk masuk penjara bertahun-tahun. Mereka siap menanggung segala resiko dengan segala ragam bentuknya, meski dalam waktu yang lama. Mereka bahkan siap mati di jalan Allah. Nabi SAW bersabda: “Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu.” Semua resiko tersebut tidak memalingkan mereka dari dien Allah SWT.

 

Hadits ini merupakan salah satu contoh revolusi Islam melawan para pengikut kebatilan dan contoh kerasnya pertarungan antara kebatilan dan kebenaran. Ia sekalugis pesan kepada para pengemban agama Islam ini, bahwa Islam tidak akan tegak tanpa adanya pengorbanan-pengorbanan dan keteguhan-keteguhan. Dien Islam tidak akan tinggi dan Berjaya tanpa adanya persembahan nyawa para pengembannya. Maka persiapkanlah diri kalian untuk mengembannya, didiklah generasi-generasi Islam di atas prinsip ini.

Setelah penjelasan ringkas makna hadits di atas, kami sebutkan di sini sejumlah pelajaran yang bisa dipetik darinya:

1. Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan Islam dalam segala keadaan, baik dalam kondisi susah maupun senang, kondisi sulit maupun lapang.

2. Nabi SAW menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan para penguasa akan berpisah. Para penguasa tidak akan menerapkan syariat Allah, sebagaimana dilakukan oleh para penguasa zaman sekarang.

3. Nabi SAW menjelaskan bahwa para penguasa yang tidak menerapkan Al-Qur’an sebagai undang-undang tersebut adalah orang-orang yang tersesat dan menyesatkan. Barangsiapa menaati mereka niscaya akan tersesat dari kebenaran dan mengikuti setan. Pembelaan para ulama su’ dan berbagai udzur (alasan pembenaran) untuk para penguasa tersebut sama sekali tidak member manfaat bagi para penguasa tersebut. Status mereka tetap saja adalah para pemimpin kesesatan, dan Nabi SAW menyatakan ‘Jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”

 

4. Hadits tersebut menjelaskan prinsip tidak adanya ketaatan kepada makhluk jika diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.

5. Hadits tersebut menjelaskan bahwa para penguasa yang menyimpang dari jalan Allah tersebut adalah para pembuat kehancuran dan kerusakan. Mereka merusak urusan dunia dan agama rakyat. Mereka tidak sungkan untuk menumpahkan darah rakyat tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Maka tepatlah sifat mereka dalam hadits di atas: “Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian. Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”

 

6. Hadits tersebut memerintahkan kesabaran memegang teguh agama Allah meski apapun resiko yang akan menimpa seorang hamba. Sabda Nabi SAW: Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu.” Semua resiko tersebut tidak memalingkan mereka dari dien Allah SWT.

7. Hadits tersebut menjelaskan kaitan yang erat antara ujian dengan keimanan. Sebagaimana firman Allah SWT:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta(QS. Al-Ankabut (29): 2-3)

 

Juga seperti sabda Nabi SAW:

Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang-orang shalih kemudian orang-orang yang keimanannya di bawah mereka. Setiap orang akan diuji sesuai kadar agama (keimanan)nya. Jika ia teguh memegang agama, niscaya ujian untuknya akan ditambah. Jika agamanya lemah, niscaya ujiannya juga akan diringankan.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, ath-Thayalisi, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan lain-lain)

 

Beliau SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang ridha dengan ujian Allah, niscaya Allah ridha kepadanya. Dan barangsiapa marah kepada ujian Allah, niscaya Allah marah kepadanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Qudha’i, Abu Ya’la, dan lain-lain)

 

8. Hadits di atas menunjukkan bahwa Islam melakukan revolusi terhadap para penguasa yang menyelisihi kitab Allah dan menzalimi hamba-hamba-Nya, bagaimanapun besarnya kekuasaan mereka.

9. Selama para penguasa yang menyelisihi kitab Allah adalah orang-orang yang tersesat dan barangsiapa menaati mereka niscaya mereka akan menyesatkannya; maka para ulama yang mengajak rakyat untuk menaati para penguasa tersebut, tidak melawan mereka, dan bahkan menampakkan indah kondisi para penguasa tersebut dengan menyebut mereka sebagai ulil amri bagi kaum muslimin dan menuduh orang-orang yang melawan mereka adalah Khawarij…maka para ulama tersebut adalah orang-orang yang tersesat, bahkan mereka adalah para ulama tukang menyesatkan umat Islam. Mereka menyembunyikan kebenaran dan juga mencampur adukkan antara kebenaran dan kebatilan. Mereka menyodorkan kepada masyarakat agama ‘privat’ yang tidak mengandung jihad, amar ma’ruf, dan nahi munkar.

Mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Para ulama yang tersesat menyerupai orang-orang Yahudi yang dimurkai oleh Allah, karena mereka mengetahui kebenaran namun tersesat (tidak mengamalkan ilmunya). Mereka itu dilaknat Allah SWT sampai mereka bertaubat. Di antara syarat taubat mereka adalah menjelaskan kepada masyarakat kebenaran yang mereka sembunyikan. Sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran yang mereka sembunyikan), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah (2): 159-160)

 

Allah SWT mempersyaratkan taubat mereka harus disertai sikap menjelaskan kepada masyarakat kebenaran yang mereka sembunyikan. Seperti disebutkan dalam ayat ini:

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran yang mereka sembunyikan).”

 

Setelah itu kita memiliki sikap khusus kepada mereka dengan izin Allah.

Kita memohon kepada Allah semoga mengumpulkan kita di atas kebenaran dan mempekerjakan kita untuk memperjuangkan dien-Nya. Amin.

Syaikh Hasan Umar

 

(muhib al-majdi/arrahmah)

 




PT WASKITA KARYA KECEWAKAN DEWAN

13 persen uang muka proyek sudah diambil, Progres Hanya 3 Persen. Realisasi Jalan Highway Paket II dan III

 

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpres.com) — Komisi III mengaku kecewa dengan kinerja rekanan kontraktor dalam hal ini PT Waskita Karya yang melaksanakan proyek multiyear untuk paket II yakni jalan yang menghubungkan Desa Belantaraya dengan Desa Tokolan, dan paket III yang menghubungkan Tokolan dengan Mandah. Sejauh ini, dari hasil kunjungan diperkiraan dewan relalisasi di lapangan baru mencapai angka 3 persen.

 

Ungkapan itu disampaikan oleh Ketua Komisi III Edi Gunawan ketika dihubungi melalui HP, terkait hasil kunjungan mereka kelapangan guna meninjau pelaksanaan proyek multiyears jalan highway Mandah Tempuling, Selasa, (15/11).

 

Masih menurutnya, kekecewan tersebut didasari pada masih rendahnya progres pelaksanaan di lapangan. Padahal pihak Waskita Karya sudah mengambil uang muka proyek sebesar 13 persen. Tapi kenyataan pelaksanaannya dilapangan masih sangat jauh dari yang diharapkan.

 

Padahal dewan berharap, Waskita Karya adalah salah satu perusahaan besar yang sudah melanglang buana secara Nasional, Meskinya dengan kemampuan yang ada serta pengalaman yang dimiliki, dewan berharap realisasi pekerjaan di lapangan sangat baik, bahkan kalau bisa di atas uang muka yang sudah mereka terima.

“Kenyataannya di lapangan, apa yang kita temukan sangat mengecewakan. Kalau memang seperti itu, apalagi dalam mengerjakan menunggu pencairan dana dahulu, tidak perlu sampai perusahaan besar seperti Waskita Karya yang melaksanakan, kontraktor lokalpun pasti mampu,” kata Asun sapaan akrab ketua Komisi III dengan nada kecewa.

Untuk itu ia meminta kepada Dinas Teknis selaku penanggungjawab kegiatan untuk menggesa rekanan dalam mengerjakan mega proyek tersebut. Sebab kalau itu tidak dilakukan sudah pasti target yang ingin dicapai tidak akan terealisasi

 

Dalam kesempatan itu ia menambahkan persoalan secara kasat mata yang terlihat, pada pasokan matrial yang menjadi kendalam. Meskinya untuk pesrusahaan sebesar itu, hal ini tentunya tidak boleh terjadi. Sebab yang namanya perusahaan besar, hal seperti itu tentunya sudah mereka pikirkan jauh-jauh hari.

 

“Lain hal kalau rekanan lokal yang dapat, yang paling pentingkan menang dulu. Persoalan matrial dipikirkan belakangan. Untuk persusahaan seperti Waskita, kalau hal seperti itu juga terjadi tentunya menjadi preseden buruk buat mereka,” katanya

 

Ungkapan kekecewan juga datang dari Wakil Ketua Komisi III Ir Junaidi. Dalam kesempatan berbeda ia mengatakan, pengerjaan oleh Waskita karya  yang dianggagp kualifaid dan mampu, seharusnya pelaksanaanya semakin cepat. nyatanya tidak jauh berbeda dengan rekanan kontraktor lokal.

 

“Waskita Karya kan perusahaan besar, harusnyatidak seperti itu, kok harus menunggu dana cair dulu baru bisa bekerja, itu kan tidak professional namanya,” katanya ketika itu.

 

Dari hasil kunjungan itu juga kata Junaidi, diketahui bahwa progress pekerjaan yang telah diselesaikan ternyata sangat minim dimungkinkan sebagai akibat tidak professionalnya kontraktor pelaksana dan juga suplay matrial yang masih sangat minim di lokasi. (Suf)




Petani Desa Sialang Panjang Membutuhkan Mesin Porteser

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) — Desa Sialang Panjang Kecamatan Tembilahan, selama ini dikenal sebagai salah satu sentra padi di Kabupaten indragiri Hilir. Areal pertanian dan juga produksi gabah cukup besar dikawasan tersebut.

Hanya saja dalam rangka makin menunjang tingkat produksi beras, masyarakat membutuhkan mesin porteser. Keberadaan alat tetrsebut dalam rangka menjaga kualitas gabah paska panen dan mencegah tingkat kehilangan gabah.

 

“Setakat ini kebutuhan yang cukup mendesak adalah bantuan alat pertanian tersebut untuk masyarakat,” kata Kades Sialang Panjang, Matzam saat berbincang-bincang beberapa waktu lalu.

 

Terkait dengan program OPRM yang didapat Desa Sialang Panjang, menurutnya Ia sangat mendukung. Adapun bentuk dukungan yang telah ditunjukan dirinya  terhadap program OPRM  dengan mengorbankan gudang padi miliknya untuk penampungan bibit padi IP 200 dan pupuk yang nantinya akan disemaikan ke lahan.

“ Kita berharap  penyaluran program  bibit dan pupuk ini, bisa tepat sasaran sesuai dengan harapan masyarakat. Sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat.”Harapnya. (Njd)




Bagaimana Rasulullah Mengobati-penyakit Masyarakat

www.detikriau.wordpress.com — Sudah menjadi fitrah manusia itu ia ingin hidup aman damai. Begitu juga fitrah manusia itu, dia tidak mau berlakunya krisis, kemungkaran, pemerkosaan dan segala penyakit masyarakat.

Andaikata kalau dia seorang pemimpin, dia mau orang yang dipimpin itu meletakkan ketaatan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang yang dipimpin, dia mau pemimpinnya meletakkan keadilan kepadanya. Andaikata kalau dia seorang ayah, dia mau anak-anaknya memberikan ketaatan dan kepatuhan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang anak, dia mau ibu dan ayahnya meletakkan kasih sayang kepadanya. Begitu jugalah suami kepada isterinya, dan isteri kepada suami. Andaikata seorang pemimpin, ibu, ayah, guru, suami, isteri dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing. Begitu juga seorang rakyat, anak murid, dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing, maka tidak akan terjadi pergaduhan, pertengkaran diatas muka bumi ini.

Tapi kalau kita lihat, apa yang terjadi adalah sebaliknya. Firman Allah yang artinya:

“Telah berlaku kerusakan di daratan dan di lautan akibat dari tangan-tangan manusia” [Q.S Ar-Rum : 41]

Hal ini terjadi bila pemimpin tidak dapat memberi keadilan, terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga orang yang dipimpinnya tidak dapat memberikan ketaatan kepadanya. Ibu ayah juga tidak dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, begitu juga anak-anak tidak dapat memberikan ketaatan terhadap ibu dan ayahnya. Begitu juga guru terhadap murid dan murid terhadap gurunya, suami terhadap isterinya dan isteri kepada suaminya.

Sebab itu dapat kita lihat berbagai-bagai masalah timbul dari sekecil-kecil masalah hinggalah ke sebesar-besar masalah. Dari rumah tangga, hinggalah ke negara-negara yang hebat pemimpinnya. Telah berbagai cara dan jalan dicari untuk menyelesaikan masalah. Ada yang mengatakan :

  1. Kekayaan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh mendapatkannya, tetapi tidak juga dapat menyelesaikan masalah ini.
  2. Ada pula yang mengatakan kepandaian dan ilmu pengetahuan akan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, tetapi juga tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah ini, bahkan bertambah rumit lagi.
  3. Ada juga yang mengatakan pangkat dan darjat dapat menyelesaikan masalah ini, tetapi ini juga tidak berhasil menyelesaikan masalah yang melanda masyarakat, bahkan bertambah parah dan rumit lagi.

Jadi jalan yang paling mudah untuk kita selesaikan masalah ini haruslah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Al Qur’an dan Sunnah dapat membeirkan jawaban yang tepat, ,dari manakah akar dari masalah-masalah tersebut.
Firman Allah SWT yang artinya :

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu, selagi ia tidak mengubah yang ada di dalam hatinya” [Q.S Ar-Rad : 11]

Hadits Rasulullah SAW yang artinya :

“Di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika baik daging itu maka baiklah jasadnya. Jika rusak daging itu, maka rusaklah jasadnya. Ketahuilah itu adalah hati.”

Dapat kita lihat dari Al Qur’an dan Hadits tadi setiap penyakit yang timbul pada diri manusia itu, adalah berawal dari hati. Hati yang sakit (jahat) akan mendorong mata, kaki, tangan berbuat jahat. Maka lahirlah masyarakat yang jahat, seperti merampok, membunuh, memfitnah, mengumpat dan sebagainya.

Penyakit masyarakat ini dapat diibaratkan sebagai sebatang pokok yang mengeluarkan buah yang beracun. Buah yang beracun itu disebabkan pohon yang beracun. Jadi untuk menghilangkan buah yang beracun itu hendaklah ditebang pohon itu terlebih dahulu. Bukan buang buah saja. Sebab kalau yang dibuang buahnya saja, sepuluh buah yang kita buang akan tumbuh pula sepululh pohon yang beracun. Begitulah seterusnya.

Oleh itu untuk panduan yang lebih jelas lagi, kita lihat bagaimana Rasulullah dapat mengobat penyakit masyarakat ketika itu hingga menjadikan orang miskin sabar dan redha dalam kemiskinan dan orang kaya pemurah. Seperti Abu Hurairah yang menjadi ketua dari puluhan fakir miskin yang tinggal di Serambi Masjid Madinah. Sayidatina Fatimah, seorang wanita miskin walaupun anak Rasulullah dan menikah pula dengan Sayidina Ali yang begitu miskin lagi pejuang pula. Kemudian perpecahan diantara satu golongan dapat disatukan seperti Muhajirin dan Anshar. Baginda Rasulullah SAW dapat mendidik masyarakat jahiliah kepada kenal dan cinta kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW saat itu diutus sebagai Pembawa Rahmat kepada sekalian alam. Firman Allah yang artinya :

 

“Dan tidak diutuskan kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat pada sekalian alam”
[Q.S. Al Anbiya : 107]

Dengan keberkatan dan ketabahan Rasulullah SAW itu, Baginda dapat mengembalikan masyarakat kepada kebenaran.

Krisis Masyarakat di Zaman sebelum Rasulullah

Sebelum dibahas tentang bagaimanakah Rasulullah mengobati penyakit masyarakat jahiliah di zamannya, terlebih dahulu kita mengetahui akan apakah penyakit masyarakat yang mewabah ketika itu. Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, masyarakat tertimpa berbagai macam krisis dan penyakit jiwa. Diantara penyakit yang menimpa masyarakat :
” Sangat memuja berhala. Hati masyarakat begitu melekat kepada berhala.
” Terlalu ketagihan dengan arak/alkohol.
” Terlalu suka dengan riba. Bunga tinggi, tak sanggup bayar, jadi hamba.
” Wujudnya dua empayar besar yaitu Rome dan Parsi yang menindas negara-negara lemah.
” Pelacuran amat leluasa merebak di tengah masyarakat.
” Akhlak kaum wanita ketika itu amat rendah.
” Manusia terlalu bakhil, terlalu gila harta sehingga harta orang hendak dijadikan harta dia.
” Perpecahan menjadi-jadi. Terjadi peperangan. Kadang peperangan besar hanya disebabkan hal kecil.

Cara Rasulullah Menyelesaikan Krisis

Rasulullah hanya tanamkan 3 pil saja pada diri masyarakat Jahiliah ketika itu.

Pertama, Rasulullah menanam kembali rasa tauhid kedalam hati masyarakat sehingga manusia terasa akan kebesaran Tuhan, kasih sayang, kehebatan dan keperkasaan Tuhan.

Kedua, Rasulullah menanamkan kembali cinta kepada Akhirat. Beliau memperkatakan tentang Syurga dan Neraka.

“Akhirat itu adalah lebih utama, lebih baik daripada dunia.” (Q.S. Ad Dhuha : 4)

“Akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal” (Q.S. Al A’la : 17)

Lahirlah manusia yang jiwanya terpaut dengan Akhirat. Akhirnya bukan saja harta dihabiskan untuk Akhirat bahkan nyawa sendiri dikorbankan. Mereka mau cepat-cepat kembali ke Akhirat. Mereka mau mati syahid menjadi para syuhada.

Ketiga, Rasulullah menanam semangat dan perasaan cinta akan sesama manusia terutamanya umat Islam untuk mengikis penyakit terlalu cinta diri sendiri, keluarga atau kawan-kawan sendiri.

“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga dia mencintai diri saudara-saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri”

“Sebaik-baik manusia ialah manusia yang banyak berkhidmat kepada manusia yang lain”

“Barang siapa yang menunaikan hajat saudara lain, Tuhan akan tunaikan padanya 70 hajat”

Terjalin perasaan ghairah apabila menolong orang lain. Lahir perasaan kasih sayang pada orang lain. Mereka dapat merasakan nasib orang lain seperti nasib mereka sendiri, kesenangan orang lain seperti kesenangan sendiri, kesusahan orang lain seperti kesusahan sendiri, darah orang lain seperti darah sendiri, nyawa orang lain seperti nyawa sendiri.

Dengan 3 pil inilah Rasulullah dapat mendidik manusia-manusia Jahiliyah ketika itu hinggakan Allah telah memuji Rasulullah dan generasi ketika itu. Firman Allah yang artinya :

 

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia yang mengajak kepada Ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah”
[Q.S. Ali Imran : 110]

Hadits Rasulullah SAW yang artinya :

“Sahabat-sahabatku adalah seperti bintang-bintang di langit. Jika diikuti diantara mereka niscaya kamu akan mendapat petunjuk”

 




DISHUBKOMINFO INHIL DINILAI “LEMBEK”

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Keluhan yang disampaikan masyarakat terhadap tingginya bea parkir yang dikenakan pengelola mendapat tanggapan positif. Dewan berjanji untuk segera menindaklanjuti hal ini. Saat ini, sebahagian  masyarakat menilai berbagai persoalan yang terjadi terkait masalah perparkiran karena ketidaktegasan Dinas dalam menegakkan aturan.

“Keluhan masyarakat ini akan kita tampung. Nanti akan kita bahas terlebih  dahulu diinternal komisi. Nantinya dari pembahasan yang kita lakukan, baru kita dapat mengambil langkah seperti apa menyikapi persoalan ini,” kata anggota Komisi II DPRD Inhil, Zulkifli saat dimintai tanggapan terkait persoalan ini. Kamis (3/11/2011)

Masalah parkir sebenarnya tidak perlu terjadi kalau memang ada ketegasan dari Dishubkominfo. Dari pengamatan, ketidaktegasan telah menimbulkan berbagai gesekan yang terjadi. Seperti pada saat pemenang tender beberapa waktu yang lalu. Hampir terjadi caos dilapangan antara pemenang dengan pengelola lama akibat ketidaktegasan dinas.

“Benar pak. harusnya Dinas berani bertindak tegas. intinya ya harus sesuai dengan ketentuan yang ada. kalau lembek seperti ini, bagaimana bisa tegakkan aturan.”Sebut Yadi, seorang warga Tembilahan memberikan tanggapan, Jum’at (4/11/2011)

Sama halnya dengan tarif parkir diatas ketentuan Perda, prkateknya masih tetap terjadi, meski sebelumnya sudah ada teguran dari Dinas. Tapi teguran seolah dianggap angin lalu, karena dalam prakteknya juru parkir masih tetap memungut tidak sesuai dengan ketentuan.

“Sudah kita tegur, untuk tidak memungut diatas ketentuan Perda yang ada,”ujar Kadishubkominfo belum lama ini, ketika dimintai tanggapannya terkait persoalan ini.

Tapi kalau prkateknya tetap tidak diindahkan oleh juru parkir, tentunya menimbulkan spekulasi ditengah masyarakat. Apakah memang teguran yang tidak diindahkan, ataukah memang ada permainan terselebung yang merestui prkatek ilegal seperti itu. (Usuf)




Klik disini!!! IKUTI POLLING…..

[polldaddy poll=5639988]