Tips Menjadikan Facebook Bermanfaat

www.detikriau.org — sebelum memulai menjelaskan mengenai bagaimana memanfaatkan situs yang sangat terkenal di dunia ini menjadi salah satu situs yang bermanfaat bagi kita. Akan terlebih dahulu saya paparkan mengenai ide tentang munculnya gagasan untuk menuis hal tersebut. Baiklah, ide ini muncul saat saya berfikir bahwa Facebook in adalah situs yang saya gunakan dan saya buka setiap hari. Jujur aja, dalam 1 hari tidak kurang dari 5 kali saya bolak balik situs itu hany untuk sekedar update status, atau bahkan hanya liat status orang (Kalau lagi seoi komentar)hehe. Bagaimana dengan anda?
Tidak kah kita pernah berfikir bahwa situs itu bisa kita manfaatkan? naA, disini akan saya uraikan beberapa hal positif yang mungkin bisa kita lakukan di Facebook.

  1.  Gunakan facebook untuk membuat komunitas pendidikan. Misalnya kita dapat berbagi tips atau cara mengerjakan suatu masalah pendidikan, terkhusus bagi pelajar biasanya banayak mengalami masalah dalam hal belajar, baik itu bahasa Inggris, matematika, Sains, dan sebagainya. Untuk hal ini mulai lah bergabung denga komunitas yang membahas tentang masalah pendidikan.
  2. Menggunakan facebook untuk bertransaksi jual beli/Media Iklan, kalau udah expert di bidang ini ya, ini hal yang gak usah di kasih tahu lagi. tinggal bikin page facebook tentang barang yang anda ingin jual dan selseai promoin az deh tentang produk yang kamu jual serta tata cara memebelinya, Mengenai tulisan dan bentuknya tentu penjual lebih faham dari pada saya.he
  3. Yang sedang dalam masalah pribadi, tenang anda juga bisa berbagi di komunitas yang tidak hanya sekedar like status anda, bergabunglah dengan grup yang benar-benar bisa ngasih solusi buat anda. Sekedar pendapat, bahwa kamu gak bisa hidup dari orang lain, dan saya rasa itu benar sob, berbagi az, kalau emang kamu malu, tinggal private message aza ke orang yang sering membri masukan terhadap orang yang curhat tersebut.
  4. dan, yang terakhir adalah gunakan facebook untuk beramal, buatlah sebuah komunitas yang bisa ngasih support moril dan kalau emang bisa dipercaya buatlah juga dukungan kamu berupa uang buat orang yang lagi terkena musibah, sekali lagi saya sarankan, hiduo itu indah karena kawan dan kawan akan menindahkan apabila saling membantu. (yajid/vivalog)



Hasrat Politik Pemimpin Berjubah Agama

Oleh: Lindo Karsyah/riautunai

(www.detikriau.org) — Kita tentu sangat suka pemimpin yang memakai jubah dan simbol agama. Dan lebih menyukai lagi manakala perilakunya seiring dan sejalan pula dengan simbol tersebut.

Akan tetapi apa pula perasaan kita dengan sosok pemimpin yang suaranya merdu tatkala menyerukan perintah Tuhan?  Setiap waktu terdengar lantunan yang mendayu-dayu di media elektronik. Namun berselang usai itu, perangainya malah menghina perintah Tuhan. Suka perempuan, penipu, korup dan haus kekuasaan.

Sosok yang ingin membangun dinasti kekuasaan. Pribadi yang ingin melanjutkan kedaulatannya di tengah masyarakat. Manusia yang memahami bahwa kekuasaan tidak ada batasnya dan kekuasaan adalah warisan yang dijalankan secara turun menurun. Sebelum habis masa berkuasa, dia siapkan dengan segala daya dan tipu daya agar istri, adik, dan sanaknya menjadi penguasa pula. Hanya mereka yang berhak menjadi pihak yang memerintah dan yang lain hanya kaum hamba sahaya.

Dia tidak ingat lagi dengan pengajian yang sering disampaikannya bahwa Firaun yang sangat berkuasa akhirnya juga binasa, karena kesombongan dan keangkuhan. Dia lupa bahwa diatas langit ada langit, diatas kita ada Tuhan, penentu segalanya.

Hari ini dan beberapa hari belakangan, sang penguasa ini sudah menyakiti hati rakyat. Rakyat sudah marah, muak dan berontak. Sebentar lagi, entah apa yang terjadi?

Kenapa dia berprinsip demikian? Barangkali lantaran dia sudah lama berkuasa dan merasa dirinya berdarah biru dan menganggap yang lain itu sebagai kasta rendahan. Itulah kawan,  kekuasaan itu dapat membutakan hati, pikiran dan jiwa.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat seseorang bisa menjadi kejam dan menjadi seorang diktator? Menurut penulis, Indra Darmawan, ternyata kecenderungan seseorang menjadi diktator tidak terbentuk dalam satu malam.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stanford University pada 1971 pernah melakukan eksperimen untuk menguji kecenderungan manusia terhadap kekuasaan. Dalam penelitian itu, sekelompok mahasiswa secara acak berperan sebagai tahanan, sementara kelompok mahasiswa lainnya berperan sebagai penjaga tahanan.

Pada perkembangannya, para mahasiswa yang menjadi penjaga tahanan kemudian berubah menjadi kejam dan menekan. Di sisi lain, mahasiswa yang berperan sebagai tahanan, justru mulai menjadi orang yang pasif. Akhirnya, walaupun belum sampai seminggu, riset tersebut kemudian buru-buru dihentikan.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2010 dan dipublikasikan pada sebuah jurnal ilmu psikologi, menemukan bahwa orang-orang yang merasa dirinya berada dan berkecukupan, ternyata lebih buruk dalam membaca emosi orang lain, daripada orang-orang yang merasa dirinya miskin.

Menurut Dacher Keltner, salah seorang peneliti dari University of California-Berkeley, hal itu mungkin disebabkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan terbiasa untuk membangun aliansi dengan orang lain.

Sementara, orang-orang yang memiliki kekuasaan, kata Keltner, biasanya bisa melakukan hal-hal yang ia inginkan. “Saat Anda mendapatkan kekuasaan, Anda akan berhenti untuk aktif dari lingkungan sosial Anda,” ujar Keltner kepada LiveScience.

Maka selanjutnya, orang ini tidak bisa membaca kondisi emosi dari orang lain dengan baik. “Anda tidak akan memiliki pemahaman terhadap kondisi sosial yang penting, seperti kemiskinan,” Keltner menjelaskan.

Tak heran bila kemudian kekuasaan membuat seseorang menjadi impulsif, egois dan tidak bisa bersikap secara proporsional. Bahkan hal ini akan membuat orang itu menjadi terisolir.

Sebuah studi lainnya yang dipublikasikan pada Psychological Science 2009, mengatakan bahwa orang yang telah ‘terlatih’ untuk berpikir bahwa dirinya berkuasa, biasanya sangat percaya bahwa mereka bisa mengendalikan situasi, bahkan terhadap sebuah kondisi yang acak, seperti saat ia musti ‘berjudi’ dengan dadu.

Oleh karenanya, seorang tiran, biasanya memiliki kombinasi: gila kekuasaan, berhenti mendengarkan orang, bahkan percaya bahwa ia masih memiliki kontrol terhadap peristiwa yang acak. “Ilusi terhadap kontrol bisa menjadi salah satu jalan di mana kekuasaan justru menggiring ke kematiannya sendiri.”

Barangkali itulah yang merasuki pemikiran sang penguasa yang bertampilan gagah dan luar biasa ini! Mungkin hasrat kekuasaannya lagi memuncak kawan!***

 




DIKNAS TIDAK MILIKI DATABASE SEKOLAH

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Kendala yang dihadapai DPRD Inhil dalam rangka perbaikan bangunan sekolah yang kondisinya memprihatinkan karena tidak adanya database. Meski sudah sering disampaikan ke SKPD terkait untuk membuat data base tersebut, realisasi hingga sekarang tidak pernah dipenuhi.

Ungkapan itu disampaikan oleh Sekretaris Komisi IV DPRD Inhil, Mansun baru-baru ini di Tembilahan. Menurutnya, database tentang keberadaan sekolah untuk tiap tingkatan mulai dari SD,SMP dan SMA sangat penting. Karena dengan data tersebut dewan bisa menganggarkan gedung sekolah mana yang harus diperbaiki sesuai dengan kondisi dan keadaan yang berlaku.

“Kita sudah sering mengingatkan mereka untuk membuat data base sekolah yang ada di Inhil. Dengan data itu, tentunya kita akan mudah mengetahui mana-mana gedung sekolah yang sudah harus dilakukan perehaban,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Tidak dipungkirinya, setakat ini banyak bangunan sekolah di Inhil yang mestinya sudah harus dilakukan perbaikan, terutama yang ada di daerah. Hanya saja memang tidak semuanya bangunan tersebut kita ketahui keberadaannya dimana. Sebab dewan, dalam hal ini Komisi IV memang tidak ada data rill di lapangan. Mereka yang mengetahui tentunya SKPD terkait.

“Ini yang menjadi kendala kita saat pembahasan anggaran. Kalau memang ada kondisi sekolah yang memprihatinkan, dan Kepseknya tidak bergerak pro aktif menyampaikan kondisi yang ada ke dewan, tentunya kita tidak tahu. Sehingga persoalan tersebut menyebabkan tidak teranggarakan pada saat pembahasan,” imbuhnya. (Suf)




Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

www.detikriau.wordpress.com — Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011
(jogjakini.wordpress.com/Aryadi Noersaid)

 




PERSIH PUKUL TELAK PS.BENGKULU 3-0

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Laga perdana kompetisi liga utama tahun 2012, bermain dikandang sendiri, Persih berhasil menundukkan PS. Bengkulu dengan skor telak 3-0.  Kemenangan ini sekaligus menghapus kekecewaan setelah dua kekalahan dalam laga sebelumnya.

Sejak menit-menit awal pertandingan, Persih terus melakukan tekanan. Dimenit ke 20 babak pertama, pemain Persih, Febi Martika Chandra dengan nomor punggung 26 melalui tendangan penalti berhasil menjebol gawang PS Bengkulu yang dikawal Rahmad AP Nomor Punggung 45 .Skor 1-0 ini bertahan sampai babak pertama berakhir.

Dibabak kedua menit-menit awal, mengejar ketinggalan anak-anak PS. Bengkulu asuhan pelatih M.Nasir berupaya melakukan tekanan. Pada menit ke 7 babak kedua, gawang Persih yang dikawal Agussalim berhasil bergoyang namun gol ini  dibatalkan oleh wasit, bahtiar karena dinilai sebelumnya telah terjadi off side.

Menit ke 9 babak kedua, persih kembali melakukan serangan balik tapi serangan ini dapat dipatahkan oleh barisan pertahanan PS. Bengkulu. Tekanan demi tekanan yang dilakukan pemain PS. Bengkulu tidak banyak memberikan arti. Malah pada menit ke 70, Febi pemain bernomor punggung 26 dari Persih ini kembali menggetarkan gawang PS Bengkulu.

Kemenangan dengan Skor 2-0 untuk Persih ini belum membuat anak-anak asuh dibawah Manager, Sudinoto  merasa puas. 3 menit menjelang pertandingan berakhir, Persih kembali berhasil menggetarkan jala gawang PS. Bengkulu melalui sundulan kepala M. Husin dengan nomor punggung 14. Skor 3-0 ini bertahan sampai peluit panjang tanda permainan berakhir terdengar.

Manager PS.Bengkulu Kecam kepemimpinan wasit Bahtiar.

Kekalahan telak 3-0 melawan Persih membuat manajer PS. Bengkulu, Minad geram. Menurutnya, kekalahan ini diakibatkan ketidakfairan kepemimpinan wasit.

Menurut Minad, Hari ini PS Bengkulu benar-benar dirampok. Keputusan-keputusan tidak fair yang dipertontonkan Bahtiar membuat dirinya semakin geram. Penilaiannya, Penalti dimenit ke 20 babak pertama itu sama sekali salah.”Pemain persih dengan nomor punggung 10 yang Handball, kok kami yang diberikan tendangan penalty. Bahtiar itu memang Wasit bajingan. Satupun pemain kami tidak ada permain asing. Seluruhnya anak-anak putra daerah Bengkulu. Seharusnya wasit memimpin permainan dengan adil bukan malah kami dihancurkan seperti ini”Kecamnya dengan nada suara tinggi saat memberikan komfirmasi usai pertandingan.

ManajeR Persih, Sudinoto menyebutkan apa yang dihasilkan Persih hari ini adalah dikarenakan permainan bagus dari anak-anak dibawah asuhannya. Sebagai tuan rumah, Sudinoto dengan sikap kalem meminta maaf jikalau memang ada kekurangan dalam memberikan pelayanan.”Permainan ini silahkan kawan-kawan wartawan berikan penilaian. Yang jelas kita hari ini kita persembahkan permainan terbaik. Sebagai manusia, siapapun pasti memiliki kekurangan tapi kami akan terus berupaya untuk mempersembahkan yang terbaik,” Pungkas Sudinoto yang juga menjabat sebagai Camat Tembilahan Kota ini mengakhiri. (fsl)




Taliban: Ratusan kasus, tentara salibis AS mengencingi jenazah mujahidin Afghan

(www.detikriau.wordpress.com) – Juru bicara resmi Imarah Islam Afghanistan bidang media, Dzabihullah Mujahid, mengutuk tentara salibis marinir AS yang mengencingi jenazah mujahidin Taliban. Dalam pernyataan yang dirilis hari Kamis (12/1/2012), beliau menyebut kejahatan tersebut adalah tindakan biadab.

Beberapa hari terakhir ini di youtube dan beberapa situs internet beredar video yang menunjukkan empat orang tentara berseragam marinir AS dan bersenjata mengencingi jenazah tiga orang yang diduga mujahidin Taliban. Video itu mengundang kecaman dari berbagai pihak. Sambil kencing, seorang tentara marinir itu mengeluarkan ejekan, “Semoga harimu indah, kawan.” Seorang tentara marinir lainnya tertawa sambil mengeluarkan umpatan jorok.

Beredar luasnya video penghinaan tentara salibis AS terhadap jenazah mujahidin Taliban semakin menyudutkan pemerintah agresor salibis AS yang sedang berjuang keras untuk mempertahankan mukanya. Untuk menutupi kekalahan demi kekalahan telak selama perang satu dekade di Afghan, Washington tengah membujuk mujahidin Taliban agar mau ‘berunding’.

Dzabihullah Mujahid dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa selama satu dekade jihad melawan agresor salibis AS, tentara salibis AS sudah ratusan kali mengencingi jenazah mujahidin Taliban. Video yang saat ini beredar hanyalah secuil bukti atas kebiadaban penjajah yang marah karena kalah di medan pertempuran.

Sementara itu The Council on American-Islamic Relations dalam surat pernyataan yang dikirim ke berbagai media massa, di antaranya Reuters menulis bahwa semua pihak yang terlibat dalam kejahatan dalam video tersebut harus dihukum seberat-beratnya sesuai peradilan militer AS dan hukum sipil AS yang terkait dengannya.

Organisasi perlindungan hak sipil muslim Amerika juga menulis surat kepada mentri pertahanan Amerika, Leon Panetta. Dalam suratnya, organisasi HAM muslim tersebut menyatakan tindakan tentara marinir AS tersebut adalah kejahatan terhadap hak asasi manusia.

 

(muhib al-majdi/arrahmah.com)