Kisah Sang Pencuri Hidayah

Ilustrasi: net

Seorang pencuri memanjat tembok sebuah rumah di malam yang sunyi dan gulita. Bukan sembarang rumah, ia memanjat rumah seorang ulama ternama di kotanya. Bukan pula sembarang ulama, si pemilik rumah merupakan tabiin, murid para sahabat Rasulullah.

Saat masuk di rumah sang ulama, si pencuri mulai mencari barang-barang berharga. Namun, ia telah melihat seisi rumah, tak ada yang dapat ia ambil sebagai barang berharga. Si pencuri benar-benar kecewa.

Tak mendapat hasil curian, si pencuri justru kepergok si pemilik rumah. Rupanya si ulama tengah beribadah dan mengetahui rumahnya kemasukan maling. Namun, dengan santai, sang ulama mendekati si pencuri dan berkata, “Saudaraku, semoga Allah mengampunimu. Anda memasuki rumah saya dan tak mendapati barang yang layak diambil. Akan tetapi, saya tak ingin Anda meninggalkan rumah saya tanpa membawa keuntungan,” ujar si ulama tanpa merasa takut ataupun terkejut rumahnya dibobol maling.

Justru si pencurilah yang terkejut. Ia pun bertanya-tanya, apa maksud si ulama. Malang betul nasibnya, tak mendapat curian, tetapi didapati mencuri oleh ulama pula, bisik hati si pencuri. Ia pun hanya membisu, menanti apa yang direncanakan sang ulama.

Ulama tersebut pun pergi ke belakang rumah dan mengambil sebuah wadah penuh air. Ia pun menyodorkannya kepada si pencuri. Tentu saja si pencuri kebingungan. “Ambillah air wudhu dan lakukanlah dua rakaat shalat. Karena jika Anda melakukannya maka Anda akan meninggalkan rumah saya dengan harta yang jauh lebih besar daripada harta yang Anda cari saat memasuki rumah saya,” kata sang alim.

Sedari tadi, si pencuri telah merasakan sebuah kerendahan hati sang ulama. Tanpa pikir panjang, hatinya merasakan keinginan yang sangat untuk menjalankan nasihat sang ulama. “Ya, itu adalah sebuah tawaran yang sangat baik,” kata si pencuri.

Ia pun kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat. Setelah melakukannya, ia berkata kepada sang ulama, “Wahai alim, apakah kau keberatan jika aku tinggal sementara waktu di sini? Aku ingin melakukan dua rakaat shalat lagi,” ujarnya dengan mata berkaca. Ia merasakan keajaiban dalam hatinya saat melakukan dua rakaat yang disarankan sang ulama.

Sang ulama pun menjawab, “Silakan, tetaplah disini, sebanyak apa pun rakaat yang Anda inginkan untuk dilakukan,” ujarnya.

Si pencuri pun senang. Bukan hanya tambahan dua rakaat, ia bahkan shalat sepanjang malam di rumah sang ulama. Ia terus beribadah hingga pagi hari. Saat pagi, si pencuri pamit. Sang ulama pun berkata padanya, “Pergilah dan jadilah orang baik,” ujarnya.

Namun, si pencuri berubah pikiran. Ia enggan pergi dari rumah sang ulama. Ia pun berkata, “Apakah kau keberatan jika aku tinggal di sini denganmu hari ini karena aku ingin berpuasa hari ini,” pintanya.

Sang ulama pun justru senang. “Tinggallah selama yang Anda inginkan,” kata si ulama.

Si pencuri pun kemudian tinggal bersama sang ulama selama beberapa hari. Ia selalu shalat tepat waktu dan tak pernah luput shalat malam. Ia juga sangat rajin berpuasa. Hingga kemudian, si pencuri memutuskan untuk pergi. Ia berkata kepada sang ulama, “Aku telah memutuskan untuk bertobat dari dosa-dosaku di waktu silam,” ujarnya.

Sang ulama pun bersyukur dan bahagia. “Sungguh segala sesuatu ada di tangan Allah,” ujarnya. Sepulang dari rumah ulama, si pencuri membenahi hidupnya. Ia mulai menjalani hidup sebagai seorang Muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Hingga suatu hari, ia bertemu dengan kawan lamanya yang berprofesi sebagai pencuri. Teman itu pun bertanya, “Apa kau sudah menemukan harta yang banyak?”

Si pencuri yang telah mendapat hidayah pun berkata, “Saudaraku, aku tak menemukan apa pun, kecuali Malik Ibn Deenar. Aku pergi untuk mencuri di rumahnya, namun ialah yang justru mencuri hatiku. Aku telah bertobat kepada Allah dan aku memohon ampunan kepada-Nya,” ujarnya.

Malik Ibn Deenar merupakan ulama yang memberikan nasihat kepada si pencuri. Dialah  yang rumahnya menjadi target si pencuri yang justru mendapatkan hidayah darinya. Kisah di atas merupakan kisah nyata dari seorang ulama yang saleh, Malik Ibn Deenar. Seperti disebut sebelumnya, dia merupakan tabiin, generasi setelah sahabat Rasulullah.

Malik  ahir di era sahabat Rasulullah Ibn Abbas. Dia mengenal baik para sahabat Rasulullah, di antaranya Anas bin Malik. Dia juga merupakan rawi dan banyak meriwayatkan hadis. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Sumber: khazanah/republika.co.id




Hutan Sumatra Kian Menipis, Populasi Harimau Tinggal 400 Ekor

Harimau ini hamil besar dan sudah hampir melahirkan namun akhirnya tewas setelah terjerat perangkap.
(WWF: Febri Widodo)

Seekor induk harimau yang sedang hamil besar tewas bersama bayinya akibat jeratan perangkap yang melilit tubuhnya di salah satu desa di Riau. Hutan Sumatra yang kian menipis semakin mengancam populasi harimau yang kini tidak sampai 400 ekor.

Penduduk Tanjung Belit, Kabupaten Kampar, yang mendengar jeritan harimau tersebut berhasil menangkap dan membawanya ke desa mereka.

Harimau itu sebenarnya lolos dari perangkap, namun kawat logam yang menjerat bagian paha dan perutnya semakin ketat. Hewa ini tewas sebelum petugas terkait tiba di lokasi.

Dua ekor bayi harimau yang masih dalam kandungan induknya juga tak berhasil diselamatkan.

Hewan ini merupakan korban perburuan satwa yang merajalela di Indonesia.

“Ini melibatkan uang banyak,” kata Budi (bukan nama sebenarnya), seorang mantan pemburu satwa liar.

Setelah 30 tahun berburu harimau, Budi kini turut membantu kelompok konservasi WWF dan berbalik memburu para pemburu.

Di tahun-tahun sebelumnya Budi mengaku telah menangkap dan membunuh setidaknya 30 ekor harimau.

“Saya sering tertangkap, tetapi selalu aman dengan petugas. Saya tak pernah ke pengadilan. Karena diselesaikan di tempat,” katanya kepada jurnalis ABC Anne Barker.

Dahulu harimau pertama yang dijual Budi laku Rp 850.000. Namun kini harganya semakin mahal.

“Harimau terakhir yang sempat saya jual laku Rp 9.500.000,” tambahnya.

Bayi harimau juga tidak selamat setelah induknya tewas terjerat perangkap.
(ABC News: Anne Barker)

Deforestasi berdampak pada harimau

Deforestasi dan kegiatan pembangunan sangat berdampak langsung dalam mengurangi habitat harimau di Sumatra.

Hutan rimba digunduli untuk pembukaan lahan perkebunan.

Menurut hitungan WWF, 49 persen hutan asli Sumatra telah hilang sejak tahun 2000 akibat pembukaan jalan bagi perkebunan kelapa sawit, karet dan kertas.

Pulau terbesar keenam di dunia ini mengaloami perubahan lanskap alam menjadi produsen komoditas global dengan nilai miliaran dolar.

Tercatat, antara tahun 2000 dan 2015 rata-rata 1,82 hektar hutan ditebang dijatuhi setiap jam.

Selain harimau, satwa liar lainnya rusa atau monyet juga terdampak secara langsung.

Akibatnya, tak jarang satwa-satwa ini muncul di desa dan daerah perkotaan. Serangan pada penduduk pun tak jarang terjadi.

 

Bulan lalu, seekor harimau jantan terperangkap di kolong selokan di salah satu pertokoan di Indragiri Hilir.

Dokter hewan Andita Septiandini mengatakan peristiwa mencerminkan semakin meningkatnya tekanan pada satwa liar.

“Habitat harimau di Indonesia semakin buruk. Harimau bersaing dengan harimau lain karena mereka tak lagi memiliki ruang untuk menjelajah,” katanya.

“Mereka terpaksa masuk ke kampung karena semakin sulit mencari mangsa di hutan,” tambahnya.

Seekor harimau yang terjebak dalam selokan di salah satu pertokoan di Indragiri Hilir.
(ABC)

Upaya mencegah kepunahan harimau

Warga Tanjung Belit masih ingat ketika harimau terlihat setiap hari dan betapa berbahayanya masuk hutan.

Salah satu warga bernama Kasim, yang ayahnya mati dibunuh harimau pada tahun 1972, mengaku belum pernah melihat seekor pun harimau di alam liar.

“Sekarang hutan penuh dengan orang. Orang berkebun di hutan, jadi tak ada lagi harimau di sana,” katanya.

Meskipun jumlahnya kian menyusut, WWF tetap optimis harimau Sumatra dapat diselamatkan dari kepunahan.

LSM itu kini fokus di wilayah bagian tengah Sumatra di mana harimau masih memiliki jangkauan menjelajah dan berkembang biak yang cukup luas.

Suaka Margasatwa Rimbang Baling di sepanjang punggung pegunungan Sumatra menjadi salah satu dari 18 lokasi di dunia yang diidentifikasi WWF berpotensi melipatgandakan populasi harimau.

Tujuannya bukan hanya menghentikan perburuan satwa tetapi juga menghentikan atau memperlambat hilangnya lahan hutan.

Petugas jaga hutan pun diturunkan berpatroli untuk melacak dan mengejar pemburu atau menghancurkan perangkap yang mereka pasang.

Petugas jaga hutan berpatroli untuk memberantas jerat yang dipasang warga.
(ABC News: Anne Barker)

Petugas pun mengincar jaringan perburuan satwa dan sindikat penebangan liar. Namun karena faktor korupsi, aktivitas tersebut seringkali tidak ditindaki secara hukum.

Dalam sejumlah kasus, lahan-lahan perkebunan berhasil dihutankan kembali, dan tanaman sawit atau tanaman industri lainnya diganti dengan pohon-pohon asli setempat.

Namun proses ini memakan waktu yang lama. Paling tidak perlu satu dekade bagi populasi harimau dan satwa lainnya untuk pulih kembali.

Kini, di kawasan suaka tersebut petugas telah memasang kamera CCTV di berbagai titik.

Mereka kemudian mencatat setiap harimau yang terekam kamera.

Para pemilik lahan juga didorong melanjutkan perkebunan mereka tanpa perlu menggunduli hutan asli. Caranya, dengan kembali ke lahan yang sebelumnya sudah ditinggalkan.

WWF belum lama ini menandatangani kerjasama dengan klub footy Richmond Football Club di Melbourne, yang memiliki julukan The Tigers.

Tujuannya untuk mempromosikan kampanye kesadaran harimau di Australia.

Pekan lalu, dua pemain Richmond, Nick Vlastuin dan Jack Graham, menghabiskan tiga hari di Sumatra menyaksikan patroli harimau di Rimbang Baling.

WWF Australia Ashley Brooks mengatakan sebagian besar kegiatan konservasi di Sumatra, termasuk patroli harimau, didanai donor dari Eropa, Jepang dan Amerika Serikat.

Australia masih berbilang minim kontribusinya untuk konservasi harimau.

WWF menjalin kerjasama dengan klub footy Richmond Football Club untuk meningkatkan kesadaran mengenai perlindungan harimau di Australia.
(ABC News: Anne Barker)

Dr Brooks mengatakan banyak konsumen tak tahu bagaimana kehidupan mereka berdampak langsung pada harimau Sumatra, akibat industri minyak sawit, kertas dan karet.

Indonesia merupakan penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Minyak ini digunakan untuk berbagai produk mulai dari coklat batangan dan es krim hingga sabun, pembersih rumah tangga, dan biofuel.

Sementara karet produksi Indonesia banyak digunakan dalam pembuatan sepatu dan ban.

“Sekitar 55 persen barang-barang di rak supermarket manapun di dunia memiliki kandungan minyak sawit atau produk turunannya,” kata Dr Brooks.

Pada November lalu produsen ban meluncurkan inisiatif untuk menghentikan perusakan hutan akibat perkebunan karet.

Global Platform for Sustainable Natural Rubber yang mencakup Michelin dan Goodyear, akan dimulai pada Maret nanti untuk mengurangi deforestasi.

Industri ban dunia menyerap sekitar 70 persen pasokan karet alam, sebagian besar berasal dari Asia Tenggara.

Inisiatif serupa telah diterapkan dalam industri minyak kelapa sawit, kopi dan kakao, dengan tingkat keberhasilan yang beragam.

Namun keberhasilan industri sawit, karet dan kertas berkelanjutan, akan selalu dirugikan oleh melonjaknya permintaan.

Permintaan karet selama 20 tahun terakhir misalnya, meningkat tajam karena munculnya pasar seperti China dengan kian banyaknya membeli mobil.

Semua ini memicu deforestasi dan membuat penderitaan harimau Sumatra semakin parah.

Penduduk Tanjung Belit tahu persis bahwa mereka tak mungkin lagi melihat harimau jika habitatnya hancur.

“Dahulu kami biasa melihat mereka setiap hari,” kata Ali Zabur, seorang warga setempat.

“Mereka tampak sangat ganas, mungkin karena habitatnya sudah hancur. Sekarang harimau sudah hilang karena hutan juga sudah hancur. Kasihan,” tuturnya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.




Korupsi Stadium Empat, Antara Fakta Dan Ketidakrelaan Penguasa

Karikatur: depokpos

PERMASALAHAN besar yang terus menghantui negeri kita selain kemiskinan adalah perilaku melawan hukum yang namanya “korupsi”, karena semua sudah sepakat mengatakan bahwa korupsi itu adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Selain itu kita juga bersepakat untuk mengatakan perang melawan korupsi.

Ketika kita sepakat untuk melakukan perang terhadap prilaku korupsi, maka semua juga harus sepakat untuk bersama-sama untuk menghilangkan rasa sentimen antar golongan, mengabaikan rasa primordialisme antar kelompok, membuang jauh-jauh kepentingan politik dan saatnya bersama-sama menggelorakan rasa nasionalisme, menyatukan missi untuk menutup pintu bagi para koruptor.

Perilaku korupsi di Indonesia sungguh sudah sangat mengkawatirkan, karena hampir semua elemen pemerintahan sudah terjangkit penyakit korupsi bahkan pada level pimpinan lembaga tinggi negara sekalipun tidak luput dari bahaya laten tersebut.

Data per November 2018 juga menyebutkan jumlah Kepala Daerah yang jadi tersangka kasus korupsi yaitu sebanyak 104 (sumber: www.jawapos.com), demikian juga data yang disodorkan oleh Sudirman Said, 5 pimpinan lembaga tinggi negara, 229 anggota DPR/DPRD, 29 menteri/kepala lembaga dan 30 penegak Hukum. Jumlah ini bukanlah sekedar hitungan jari yang tidak boleh dianggap sepele, termasuk juga cara mengatasinya tidaklah tergolong mudah.

Dengan data tersebut, tidaklah berlebihan apabila Bapak Prabowo Subiato pada acara “The World in 2019 Gala Dinner” yang diselenggarakan majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura mengatakan korupsi di Indonesia seperti kanker stadium empat. Dan ungkapan ini adalah bentuk keprihatinan dengan tujuan mengajak semua elemen masyarakat supaya mewaqafkan waktu dan tenaganya untuk memerangi segala bentuk prilaku korupsi.

Kelompok yang penuh dengan pola pikir opitimis dan positif thinking menangkap pernyataan Bapak Prabowo sebagai ajakan dan seruan untuk memberantas korupsi di negeri tercinta ini. Berbeda dengan kelompok yang selalu menganggap orang disekitarnya adalah sebuah ancaman, sehingga semua pernyataanya dianggap sebagai bentuk upaya pendiskreditan dan penuh dengan rasa kewatir akan menurunnya nama baiknya. Padahal, sekali lagi pernyataan tersebut tidak terikat dengan ruang atau kelompok-kelompok tertentu tetapi tertuju kepada kita semua sebagai anak bangsa.

Pernyataan Prabowo, Penguasa dan Korupsi

Pertanyaan mendasar kenapa orang sekitar Istana merasa kebakaran jenggot dengan dengan pernyataan Bapak Prabowo Subianto? Tentu jawabannya tidak sederhana hanya sebatas merasa tersinggung. Karena disadari betul tanggung jawab Bapak Joko Widodo sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dalam perkara ini sangatlah besar, baik secara moral maupun secara struktural.

Secara moral, Bapak Jokowi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan tentu memepunyai tanggung jawab untuk selalu menjaga moral bangsa agar terhindar dari prilaku yang dapat mencoreng wajah negara baik di internal bangsa sendiri damupun ke dunia luar. Moral ini tidak cukup hanya dipoles dengan upaya sebatas pencitraan atau upaya untuk memenuhi kriteria bagus dipermukaan saja tetapi juga lebih kepada moral yang masuk kepada pola pikir dan karakter bangsa itu sendiri. Sehingga, prilaku buruk seperti tindakan korupsi tidak hanya diajuhi karena takut dengan adanya jeratan hukum tetapi karena adanya kesadaran penuh yang lahir dari jiwa bangsa untuk mejauhinya.

Secara struktural, Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan bertanggung jawab penuh terhadap para pejabat dan penyelenggara negara lainnya. Karena di tangan Bapak Presiden-lah keterikatan pekerjaan untuk dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu sangat diperlukan sikap tegas yang dibangun di atas komitmen untuk memberi pengaruh positif kepada bawahan termasuk pengaruh positif terhadap penegakan hukum. Karena tanpa itu, struktur tidaklah akan bermakna apa-apa yang muncul justru jurus petak umpet antar para pejabat untuk masing-masing mengamankan dirinya.

Power Tends To Corrupt, pribahasa dalam konteks tulisan ini perlu diposisikan sebagai penegas bahwa fitrah kekuasaan akan selalu mengarah kepada penyalahgunaan dan dapat melahirkan prilaku korupsi. Karena dengan kekuasaan yang melekat seorang pimpinan dapat melakukan apa saja termasuk hal-hal yang menyimpang dan melanggar hukum seperti korupsi. Sehingga menjadi sangat wajar apabila kekuasaan itu diawasi dengan yang serius, dan pengawasan tersebut yang dapat menyonkong keberhasilan kekuasaan itu sendiri.

Oleh karena itu, Bapak Praboyo Subianto sebagai pimpinan Partai Gerindra yang kebetulan posisinya di luar pemerintahan merasa punya tanggung jawab dan kewajiban untuk terus melakukan pengawasan terhadap pemerintah dalam rangka meminimalisir semua gejala kekuasaan yang entitasnya akan selalu mengarah kepada prilaku yang melanggar hukum. [***]

Nizar Zahro
Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) Partai Gerindra./rmol.co




Tak Kunjung Hamil Usai Menikah, Wanita Ini Baru Menyadari Dirinya Pria

Ilustrasi wanita (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

detikriau.org – Ada begitu banyak kisah transgender yang memutuskan untuk mengganti kelamin lantaran merasa terjebak di badan yang salah. Banyak pria yang lantas mengubah dirinya menjadi wanita, begitu pula sebaliknya.

Namun, bagaimana jika justru seseorang salah sangka soal jenis kelaminnya selama mereka hidup? Mungkin terdengar tak masuk akal, tapi hal ini kenyataannya benar terjadi.

Seorang wanita asal Hunan, Tiongkok, sangat terkejut ketika mengetahui dirinya adalah laki-laki usai menjalani medical checkup. Dikutip dari Asia One sebagaiman dilansir liputan6.com, wanita ini telah setahun menikah dengan sang suami.

Dirinya merasa khawatir lantaran tak kunjung hamil. Dia kemudian memutuskan untuk menjalani medical checkup dan sangat terkejut ketika mengetahui hasilnya.

Wanita 26 tahun ini memang memiliki tubuh layaknya seorang wanita, tetapi nyatanya secara ilmiah dirinya adalah seorang pria. Hal ini lantaran berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat testis tersembunyi pada alat vitalnya.

Ya, meski secara fisik dan sosial dirinya diketahui sebagai seorang wanita, nyatanya dirinya adalah pria. Tak hanya memiliki testis tersembunyi, hasil medical checkup juga menunjukkan perkembangan gonad tak lengkap di tubuhnya yang menandakan dirinya memiliki kelainan seksual.




Prakiraan Tinggi Gelombang disejumlah Perairan Indonesia Hari Ini




Miniature Dunia Aneh dan Cantik yang Disebut “koloni angkasa”

Sumber: CNN (Terjemahan)   Editor: Faisal

Aki Murase hidup dalam bayang-bayang Pegunungan Hira di utara Kyoto, tetapi dia dengan senang hati menghabiskan hari-hari di dalam ruangan memilih koleksi rekamannya buah pemikiran yang besar atau mengotak-atik komponen televisi yang rusak.

Murase telah mengabdikan dirinya untuk menciptakan “terarium – Ecospheres Lilliputian” yang terbungkus dalam ruang kaca. Pria berusia 37 tahun itu menyebut karya-karyanya sebagai “Koloni Angkasa”, sebuah gambaran bagi permukiman luar angkasa raksasa yang dibayangkan oleh fisikawan Amerika, Gerard O’Neill.

Dilangit-langit rumahnya tergantung terrariums berbagai ukuran. Didalam masing-masing tabung kaca ia mengkurasi lansekap miniatur yang terawat dengan baik.

Bernuansakan pegunungan dengan pohon-pohon yang kecil yang jelas berkaitan dengan seni bonsai jepang. Namun Murase, sang otodidak ini lebih memilih untuk bekerja diluar batas dari tradisi bonsai.

Daur ulang dan penanaman kembali adalah pusat dari proses kreasi Murase. Kamu akan melihat papan sirkuit dan kabel TV yang dirangkai secara melilit dan membentuk miniatur momiji, sebuah pohon maple jepang.

Dari taman Indor ke terarium

Kakek Murase adalah seorang amatir penggila seni bonsai, oleh karena itu benih kecintaan Morase sudah tertanam sejak usia dini.

“saya membuat apa yang dinamakan aqua terarrium sejak masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, Ini adalah hobi yang banyak disukai anak-anak pada masa itu. Saya sangat suka menanam tanaman air di dalam tangki kaca dengan menempatkan lampu LED dan membiarkan kura-kura kecil saya bermain disana”

Namun rekam jejak Murate pada penciptaan terarium secara penuh waktu silih berganti. Setelah menghabiskan waktu  satu tahun penuh bertempat tinggal di Australia, dia pindah ke Kyoto, sebuah kota yang dianggapnya tanah kelahiran dan pelestari budaya jepang. Sesampainya di Kyoto, Murase magang sebagai pembuat furnitur, mengabdikan dirinya sebagai seorang tukang kayu.

Namun beberapa tahun kemudian, Murase berbalik arus, ia memulai dari bekas reruntuhan sebuah café dipusat kota. Disnilah ia mulai mengutak-atik kehidupan tanaman kembali. Ia mendekorasi limbah dengan kreasinya sendiri, seperti bekas TV yang sudah dibuang yang ditanami tanaman yang menjalar keluar darinya. Dia juga akan memberikan kehidupan baru pada tabung logam tua dengan merombaknya sebagai pot tanaman.

Pelanggan dan teman-temannya mendorong Murase untuk meneruskan pengembangan taman didalam ruangan yang akhirnya mengarah kepada terarium. Namun pada awalnya Murase mendapati kendala signifikan pada desain awalnya, yaitu tidak adanya sinar matahari.

“Rumah-rumah tradisional di Kyoto sangat panjang dan sempit sehingga sangat sedikit mendapatkan sinar matahari.” Kata Murase

“Ini bukan lingkungan yang baik untuk menumbuhkan tanaman apapun”

Memecahkan masalah ini, Murase beralih kembali dengan menggunakan cahaya dari lampu LED yang sudah pernah ia gunakan dalam ekperimen aqua terrarium saat ia masih remaja.

Daur Ulang dan Penanaman Kembali

 Selama enam tahun terakhir, Murase telah bekerja menciptakan terrarium secara penuh waktu.

Untuk menjaga pilosopinya “replanting and recycling” ia mendatangkan tanaman dari berbagai sumber. Ia mendapatkan pasokan dari teman-temannya, menjelajahi hutan-hutan di pegunungan sekitar studionya dan mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa seperti toko-toko perangkat keras termasuk untuk mendapatkan tanaman yang terlupakan atau rusak.

Saat kunjungan kami, ia memperlihatkan sebuah tanaman bonsai yang diberikan kepadanya secara gratis dari pembibitan tanaman. Meskipun kelihatan seperti sudah layu dan mati, Murase yakin akan mampu kembali membuat tanaman itu hidup dan menjadikannya sebagai  pusat dari sebuah terrarium.

Master Bonsai: Rahasia kuno di balik pohon tua berusia berabad-abad milik mereka

“Aku tidak mencoba membuat bonsai atau pemandangan yang sempurna” katanya “Tetapi aku ingin menjadikan tanaman dan pohon yang sudah tua kembali hidup dengan kerja seni saya”

Mungkin kepindahannya ke Kyoto menjadi asalnya – Terarium Murase berbagi ciri dengan sejenis taman tradisional yang berasal dari kota itu, menurut kolektor seni Jepang, Alex Kerr.

“Seni Murase merupakan potongan tsuboniwa modern, sebuah taman mini yang Anda temukan di dalam rumah-rumah tradisional Kyoto,” katanya dalam wawancara email.

Sebagai sebuah taman, Murase terrarium membutuhkan perawatan yang relative sederhana, tetapi harus secara rutin. Disiram dan dibersihkan secara teratur.

Terarium Murase dijual seharga 50.000 yen ($ 460) atau 100.000 yen ($ 919) – untuk ukuran kecil dan besar – masing-masing terarium dilengkapi dengan seperangkat alat berkebun dan petunjuk terperinci untuk pemeliharaan.

Menurut Murase,  terrarium sangat special dikalangan masyarakat perkotaan di Jepang, dimana ruang taman premium dan luar ruangan adalah sebuah kemewahan.  Kreasinya juga dapat ditemukan di café, restoran dan sekolah-sekolah diseluruh negri.

Kerr, pemilik salah satu terarium yang tergantung di dapur rumahnya di Kyoto, mengatakan bahwa dia memeriksa koloni ruang angkasanya sendiri setiap pagi. “Ini meditasi,” kata Kerr.

“Cahaya hijau yang bersinar di dalam bola kaca, bola dunia Murase adalah benih kehidupan – pengingat yang kecil tapi kuat dari misteri alam luar.”