Mengenal Putra dan Putri Rasulullah

Mengenal-Putra-dan-Putri-Rasulullah-720x340detikriau.org — Pembicaraan tentang putra dan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak heran, sebagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau siapa saja nama anak-anaknya.

Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR Ahmad no.24864)

Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiyah.

Anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat saat berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga ath-Thayyib atau ath-Tahir karena lahir setelah kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat saat berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putri-putri Rasulullah

Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.

Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah.

Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.

Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.

Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah  bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar.

Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.

Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya.

Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.

Keempat, Fatimah binti Rasulullah.

Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخاري

“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد

“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri Firaun.” (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.

Putra-putra Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري

“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya..

Sumber: Islamweb.net




Adakah Kyai Penyebar Dosa?

akhir-zamanPertanyaan semacam itu mungkin dianggap seperti mengada-ada. Di samping itu di Indonesia ini apa yang tidak ada ? Sampai yang benar-benar tidak patut terjadi pun bisa dilakukan orang.

Dan kadang justru kemudian dipopulerkan oleh orang-orang yang tidak waras tapi menguasai media atau sarana lainnya. Anda masih ingat orang yang memakan mayat? Bagaimana dia? Justru dipopulerkan oleh orang-orang tidak waras dan dikenal di seluruh Indonesia.

Kalau hanya bertanya tentang kyai yang menyebar dosa, ya tidak usah djawab. Mungkin ada, mungkin bahkan banyak. Persoalannya bukan masalah ada atau tidak, namun jangan-jangan masyarakat tidak menyadarinya, bahkan pelakunya juga tidak merasa. Padahal dampak pengrusakannya sangatlah dahsyat. Itu yang jadi masalah.

Suatu gambaran, Seorang kyai, dulu waktu remajanya merupakan anak kyai yang dihormati mayarakat. Anak kyai ini biasa manja dan tidak pernah dimarahi oleh siapapun, bahkan ayahnya juga tidak pernah memarahinya. Tidak seperti kepada anak-anak yang lain.

Perlu diingat, seorang anak kadang jadi manja dan tidak pernah dimarahi, berbeda dengan anak-anak yang lain, karena ada beberapa kemungkinan. Mungkin anak itu punya karakter rawan, misalnya dimarahi langsung sakit, maka orang tuanya tak lagi memarahinya walau bersalah.

Mungkin karena anak pertama, atau terakhir, atau pertama laki-laki dari anak-anak perempuan, atau pertama perempuan dari anak-anak laki- laki dan berbagai sebab lainnya. Atau yang terburuk adalah karena anak itu pandai berpura-pura di depan orang tuanya hingga kelihatannya benar terus atau baik terus. Itu sebanding buruknya dengan yang pintar berdusta dan beralasan logis (walau isinya dusta) di depan orang tuanya.

Nah, gambaran anak kyai yang masih remaja ini adalah anak yang tidak pernah tampak salah di depan orang tuanya. Tampak tunduk, bahkan cium tangan kepada ibu bapaknya. Suaranya lembut dan sebagainya. Tetapi di balik itu dia menyembunyikan kenakalannya bahkan kebangkangannya.

Yaitu sering-sering tidak ikut shalat berjamaah ke masjid. Dan itu dilakukan dengan berbagai cara, hingga tidak begitu ketahuan, karena bapaknya yang jadi imam masjid pun tidak mungkin setiap waktu menengok apakah anaknya ada atau tidak. Karena jamaahnya cukup banyak.

Ketika anak kyai ini sudah nikah, kebiasaan tidak shalat berjamaah ke masjid makin menjadi-jadi. Karena rumahnya sudah tidak menyatu lagi dengan rumah orang tuanya walau masih di lingkugan masjid. Ketika kyai sepuh wafat, sang anak ini pun menggantikan orang tuanya sebagai kyai untuk memimpin masjid. Tetapi tampaknya justru yang lebih sering datang ke masjid dan mengimami shalat berjamaah adalah asistennya.

Pada awal-awalnya jamaah masjid tidak mempersoalkannya, dan kegiataan shalat berjamaah pun berlangsung biasa saja. Tetapi dalam jangka sekian waktu, tahu-tahu jamaah masjid semakin surut, mempreteli satu persatu bagai daun berguguran di musim kering.

Lingkungan masyarakat diseputaran masjid itu kemudian tampak sulit melangkahkan kaki ke masjid. Imam shalat kadang sudah menunggu-nunggu setelah adzan, tapi jarang orang masuk ke masjid. Kenapa jadi begini? Apakah mereka tidak giat ke masjid lagi itu gara-gara mengikuti jejak kyai muda yang malas ke masjid? Atau memang hati mereka masing-masing tertutup oleh godaan dunia yang lebih mereka anggap lebih menjanjikan?

Persoalannya bukan hanya sampai di situ. Gambaran kyai muda malas ke masjid itu ternyata dampaknya merambat ke mana-mana. Masjid-masjid kosong. Di mana-mana dikeluhkan seperti itu.

Kenapa?

Karena tipe seperti gambaran kyai muda itu tidak hanya ada di satu tempat, tetapi ada di berbagai tempat. Dan celakanya, ketika kyai-kyai muda itu merupakan pengganti kyai-kyai besar di pusat-pusat pendidikan Islam. Maka akibatnya ditiru oleh orang-orang yang belajar di situ dari berbagai daerah.

Sehingga secara serempak terjadilah peristiwa kosongnya masjid-masjid dari jamaah di berbagai tempat akibat pengaruh kyai-kyai muda yang malas ke masjid yang mereka sudah menggantikan para kyai tua, yakni orang tua mereka yang telah meninggal.

Ada juga yang jadi politikus namun lebih kental hubungannya dengan orang-orang kafir bahkan dikenal sebagai pengkhianat dan sulit dipercaya. Ada juga yang jadi penggerak untuk menjaga tempat-tempat persembahan orang-orang kafir terutama di hari-hari raya mereka.

Bahkan tidak malu-malu mengadakan perayaan agama orang kafir di kantor mereka, hingga orang kafir pemilik hari raya kekafiran itu justru jadi para tamu. Padahal sudah ada ancamannya dalam Hadits :

“Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah diantara umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhalapun di sembah”. (HR : Ibnu Hiban).

Ya Allah, kenapa di bumi-Mu ini gejala banyaknya pengganti-pengganti para penolong agama-MU justru menjadi penggembos bahkan perusak agama-MU, ya Allah…

Ya Allah, kenapa gejala para pengganti dari para pemakmur masjid-masjid-Mu kini banyak yang menjadi peroboh masjid-masjid itu dari hidayah-Mu walau tampaknya bangunan-bangunan masjid justru megah-megah ya Allah…

Firman Allah :

“Apakah ini merupakan salah satu bentuk dari musibah yang telah Engkau kisahkan adanya kejadian zaman dahulu, ya Allah …” (QS : Maryam : 56)

” .. Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi ” (QS : Maryak m : 57)

“Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (QS : Maryam : 58)

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS : Maryam : 59)

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. (QS : Maryam: 60)

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dan dosa orang tua kami. Sayangilah kami sebagaimana orang tua kami mengelola kami waktu kecil. Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami atas agamaMU.

Ya Allah tunjukkanlah kami kebenaran itu benar dan berilah rizqi kami untuk mampu mengikutinya, dan tunjukkanlah kami kebatilan itu batil, dan beri rizki kami untuk mampu menjauhinya.(dro/voa-islam.com)




Keutamaan Mengingat Kematian dan Bagaimana Caranya ?

matiAda beberapa hadist Rasulullah s.a.w yang menjelaskan keutamaan mengingat kematian itu, diantaranya;
1. “Perbanyakkanlah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

2. Mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud: “Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang sedemikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia. (diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya)

3. Kematian sebagai penasehat pada diri sendiri: “Cukuplah kematian itu sebagai penasehat” (Diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi)

4. Orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian: “Secerdik-cerdiknya manusia iayalah yang terbanyak ingatnya kepada kematian serta terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan ibnu Abiddunya)

Abdullah bin Muthrif berkata: Kematian itu akan melenyapkan kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang yang diliputi oleh kenikmatan itu. Oleh sebab itu carilah kenikmatan yang tidak ada kematiannya yakni yang tidak ada habisnya.

Ketahuilah bahwa orang yang senantiasa berkecimpung dalam kemewahan keduniaan, yang tenggelam karena tertipu keindahannya serta yang amat mencintai kesyahwatan-kesyahwatan serta kesenangan-kesenangannya, pastilah terlupa hatinya mengingat akan kematian itu. Bahkan ia tidakakan mengingat sama sekali bahwa pada suatu ketika ia juga akan mati. Jikalau diingatkan oleh orang lainpun, ia akan membencinya dan malah lari dari nasihat yang baik itu. Golongan manusia yang semacam inilah yang disebut Allah Ta’ala dalam firmanNya:

katakanlah bahwa sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri daripadanya itu, pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada dzat yang maha mengetahui segala yang ghaib seta yang nyata. Selanjutnya ia akan memberitahukan kepadamu semua apa-apa yang kamu lakukan“. (S Jumu’ah 8)

Seseorang yang mengingat kematian itu ada tiga macam keadaannya:

1. orang terperosok di dalam keduniaan
2. orang yang bertaubat,
3. orang yang menyadari terus menerus.

Golongan orang yang pertama yakni yang sudah terperosok kelembah keduniaan, lazimnya jarang sekali ia akan mengingat-ingat akan kematian itu. Kalaupun ia mengingatnya pada suatu saat, maka yang tampak ialah bagaimana jika ia sudah meninggal dunia, tentu harta bendanya tidak akan dibawanya serta. Jadilah ia akan betul-betul bersedih hati menemui kematian itu. ia menyedihkan hartanya yang banyak, sebab bagaimanapun juga pasti akan ditinggalkan. Orang semacam ini terus juga mencela kematian dan seolah-olah enggan untuk menghadapinya. Oleh sebab itu, jika ia ingat kepada kematian, tidaklah akan mendekatkan diri pada Allah Ta’ala melainkan makin jauh jua.

Golongan orang yang kedua ialah orang yang bertaubat. Ia kan memperbanyak ingatan akan kematian itu dengan tujuan agar timbul ketakutan dan ketaqwaan dalam qalbunya. dengan demikian dapatpula menyempurnakan ketaubatan yang dilakukannya.

Mengenai golongan orang yang ketiga adalah orang yang sadar dan mengetahui duduknya persoalan kematian itu. Ia senantiasa akan ingat dengan kematian dan dengan tabah akan menghadapi kedatangannya. Sebabnya ialah karena ia sadar pula bahwa saat kematian itu adalah merupakan saat yang sangat bahagia baginya, ia akan dapat bertemua dengan kekasihnya. Ingatlah bahwa seseorang yang mencintai sesuatu pasti tidak akan terlalai sedikitpun masa pertemuannya dengan siapa yang dikasihnya itu. Kekasih satu-satunya bagi orang yang demikian adalah Allah Subhanu wa Ta’ala.

Bagaimana Jalan Sebaiknya Untuk Mengingat-Ingat Kematian Itu ?

Jalan yang sebaik-baiknya untuk itu adalah dengan memperbanyak kenang-kenangan kepada kawan- kawan atau teman sepergaulan yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Ingatlah mereka sebentar. Bagaimana kematian mereka itu dab bagaimana akhirnya tempat berdiam dibawah tanah.

Ingat pulalah sejenak rupa mereka-mereka itu, juga kedudukan dan jabatan mereka dikalangan masyarakat. Kenangkan pula bagaimana keadaannya sekarang. Tentunya kebagusan rupa dan kedudukan itu telah dilenyapkan oleh tanah yang menutupinya.

Bagian-bagian tubuhnya tentu sudah tercerai berai di dalam kubur mereka. Masjid dan majelispun akan berkurang karena ditinggalkan emreka itu. Bahkan bekas-bekas apapun dari mereka itu sudah tidak terdapat lagi. Selanjutnya hendaklan diresapkan kedalam hatinya bahwa ia adalah tidakberbeda sama sekali dengan kawan-kawan yang sudah terlebih dahulu berpulang. apa yang akan dialami oleh dirinya sendiri adalah sama dan tepat dengan apa yang dialami oleh mereka itu, akibatnyapun sama.

Nah, dengan pemikiran semacam itu secara terus menerus, terutama sekali saat memasuki kawasan kubur dan diwaktu membesuk orang sakit, pasti sedikit banyak akan mempengaruhi ingatannya kepada kematian yang pasti akan ditemuinya. Ingatan akan keamtian itu akan timbul kembali dalam kalbunya dan oleh karenanya akan berhasrat pula untuk membuat segala persiapan guna menyambut kedatangannya, bahkan mungkin dapat akan menjauhkan dirinya dari tipuan keduniaan.

Apabila disuatu saat dirinya amat terpesona dengan sesuatu benda duniawi, maka seyogyanya selalu mengingat-ingat kembali bahwa ia pasti akan tercerai berai dengan apa yang dicintainya itu. Ia pasti akan meninggalkannya atau benda itu yang akan meningalkannya terlebih dahulu. Apa yang dicintainya itu pasti tidak kekal berada di sisinya.

Terjadi sesuatu peristiwa yaitu Ibnu Muthi’ pada sjatu hari memandang rumahnya yang memang baik, indah dan elok sekali. Ia kagum pada keindahannya itu tetapi kemudian ia menangis. Setelahnya ia berkata, Ah andaikan tidak ada kematian, pasti aku akan mencintaimu dan gembira sekali memilikimu. Yah andaikan kita tidak memasuki liang kubur yang sempit, tentu mata kita akan terpesona selalu oleh harta duniawiah ini”. Sehabis berkata ini, ia meneruskan tangisnya lagi. Semoga Allah Ta’ala merahmati kita sekalian dan orang yang mulian ini.(dro)
Pustaka: Mau’izhatul Mukminin. Ringkasan dari ihya’ ‘Ulumuddin (karangan Imam Al Ghazali)




Maka Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?

Bismillahirrahmanirrahim…

Ar Rahmandetikriau.org — Surah Ar-Rahman adalah surah ke-55 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Surat Ar Rahman adalah salah satu surat dari 114 surat dalam Al Qur’an. Entah mengapa, tanpa mengesampingkan surat lain dalam Al Qur’an, surat ini menyita perhatian saya. Surat ini memiliki kata yang begitu indah dan mengalir berirama. Dan tanpa terasa air mata menetes, satu demi satu

Ciri khas surah ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.

FABIAYYI ALAA ‘IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan). Tiga puluh ayat dalam surat Ar Rahman memiliki kalimat ini; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Berulang, Allah memberi peringatan kepada kita; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Melalui surat ini Allah seolah memberi sinyal kepada kita akan sifat kita yang pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir. Ya, tiga hal itu yang ada dibenak saya (semoga Allah mengampuni kesalahanku) ketika ayat demi ayat dibaca.
PELUPA; manusia adalah mahluk yang pelupa

Manusia dalam Al Qur’an di tulis dalam beberapa istilah, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam. Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas digunakan untuk menunjukan sekelompok manusia baik dalam arti jenis atau sekelompok tertentu. Al-basyar, karena manusia cenderung perasa dan emosional, dan banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam.

setidaknya ada dua hal yang seringkali dengan mudah dilupakan manusia, dan barulah dia teringat dan menyadari apa yang telah dilupakan itu, ketika berada dalam kondisi sulit, susah dan membahayakan.

Pertama, manusia dengan mudah dan gampang melupakan Allah swt. dan baru ingat kembali kepada-Nya, ketika manusia menghadapi kondisi sulit, susah dan membahayakan. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat Yunus [10]: 12

Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”

Begitu juga dalam surat Fushshilat [41]: 50

Artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang…”

Kita adalah mahluk pelupa, dan Allah mengingatkan kita berulang-ulang … maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
KUFUR NIKMAT

Disetiap tarikan nafas yang kita hirup, disetiap bergantinya siang malam, di setiap detak jantung, ada nikmat Allah yang kita sering lupakan. Ya, nikmat Allah yang sering lupa untuk kita syukuri. Dan ketika musibah (baca:ujian) diberikan pada kita, kita juga lupa bahwa itu sebagian nikmat yang Allah beri. Lalu kitapun hanya bisa mencaci maki, mengupat, bahkan merasa Allah tidak adil. Masya Allah…

di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.

QS. ar-Rahman (55) : 11

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

QS. ar-Rahman (55) : 12

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

QS. ar-Rahman (55) : 13

Bentuk rasa syukur seharusnya menambah keimanan kita; mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Beribadah kepada Allah, dan menjauhkan diri dari maksiat. Celakalah orang yang kufur nikmat, dan berbahagialah orang yang bisa mensyukuri nikmat. Karena ketika ia bersyukur, Allah menambahkan nikmat-Nya.

“la in syakartum laa adziidanakum wa la’in kafartum inna azabi lasyadid”

artinya “sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih”. (QS. Ibrahim ayat 7)

maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

 

BERFIKIR

Melalui surat ini Allah hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

QS. ar-Rahman (55) : 19

antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

QS. ar-Rahman (55) : 20

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

QS. ar-Rahman (55) : 21

Pernahkan kita berfikir? Mungkin, kebanyakan kita hanya mengikuti apa yang sudah diwariskan oleh orang-orang tua kita. Dan agama yang Islam yang kita pegang pun hanyalah “warisan” yang kita teruskan. Tanpa kita mau berfikir, untuk merenung lebih dalam dan menambah keimanan kita.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah.

maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Keutamaan Surat Ar Rahman

1. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan padanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/187).

2. Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat dengan-Nya daripadanya.

Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Malam lepas Isya’ ku buka Al Qur’an dan kubaca surat Ar Rahman. Tanpa terasa, air mataku menetes. Satu ,,, demi satu ,,,,

maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

 

https://id-id.facebook.com/notes/fanspage-halalkan-aku-ayah/keutamaan-surat-ar-rahman-peringatan-yang-diulang-ulang/385696614776078




Kisah Nyata: Akhir hayat penggemar musik dan pencinta Al-Qur’an

www.detikriau.wordpress.com –Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.

Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.

Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.

Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.

Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.

Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.

Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.

Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah  wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…

Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.

Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.

“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.

Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…

Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]