Bagaimana dengan ramdhan kita meraih derajat taqwa

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

ramadhan-1(detikriau.org) – Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة/183]
“Wahai kaum Mukmin, kalian diwajibkan shoum, berpuasa sebagaimana yang diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa, sanggup menahan hawa nafsu.” (QS Al-Baqarah: 183).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, Allah berfirman yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat ini, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa. Juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah.

Allah menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat teladan. Maka hendaknya mereka berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan apa yang telah mereka kerjakan.(Tafsir Ibnu Katsir 1/313).
Imam As-sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, lafal { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } agar kamu bertaqwa, karena puasa itu merupakan satu penyebab terbesar untuk taqwa. Karena shiyam itu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di antara cakupan taqwa adalah bahwa shiyam itu meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allah berupa makan, minum, jima’ (bersetubuh) dan semacamnya yang nafsu manusia cenderung kepadanya. Itu semua untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan meninggalkan hal-hal (yang biasanya dibolehkan itu) adalah dengan mengharap pahala-Nya. Itulah di antara amalan taqwa.

Dan di antaranya bahwa orang yang shiyam itu melatih diri untuk menyadari pengawasan Allah Ta’ala, maka ia meninggalkan apa yang dicenderungi nafsunya pada masa dirinya mampu melakukannya (melanggarnya), (namun hal itu tidak dilakukannya) karena kesadarannya terhadap pengawasan Allah atasnya. Dan di antaranya, bahwa shiyam itu mempersempit laju peredaran syetan, karena syetan beredar pada anak Adam (manusia) dalam aliran darah, maka dengan shiyam itu melemahkan operasinya dan mengurangi kemaksiatan. Diantaranya pula bahwa orang yang shiyam pada umumnya banyak taatnya, sedang taat itu adalah bagian dari taqwa. Dan diantaranya bahwa orang kaya apabila dia merasakan perihnya lapar maka mendorong dirinya untuk menolong orang-orang fakir lagi papa, dan ini termasuk bagian dari taqwa. (Tafsir as-Sa’di, juz 1 halaman 86).

Ketika seseorang meningkat kesadarannya dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, dan meningkat kesadarannya bahwa dirinya senantiasa dalam pengawasan Allah, maka saat itulah dia dalam kondisi mendekat pada Allah. Lantas disertai pula kesadaran untuk menolong orang-orang yang kesulitan hidupnya, maka berarti meninggikan tingkat kasih sayangnya kepada makhluk. Yang hal itu akan menjadikan dia disayangi oleh Allah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ »
Orang-orang yang menyayangi (penduduk bumi) maka mereka disayangi Ar-Rahman (Allah). Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi Yang di langit. (HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Ketika seorang hamba menjalankan shiyam Ramadhan dengan penuh ketaatan kepada Allah, menyadari pengawasan Allah, dan menyadari perihnya penderitaan manusia miskin lagi sengsara hingga menyayanginya dengan menolongnya, maka di situlah puncak ketaatan manusia sebagai hamba Allah. Yakni taat kepada Rabbnya, dan kasih sayang pada manusia lemah.

Lafal { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } agar kamu bertaqwa, insya Allah dapat diraih oleh hamba Allah yang seperti itu.

Untuk meraih derajat taqwa seperti itu, tentunya perlu menghindari hal-hal yang menghalanginya. Baik itu yang bersifat godaan hawa nafsu, godaan syetan, maupun hilangnya kasih sayang terhadap manusia. Dan yang paling menonjol perusakannya terhadap ibadah puasa adalah hal yang sekaligus merusak hubungan kedua-duanya, yakni merusak hubungan terhadap manusia dan sekaligus merusak hubungan kepada Allah Ta’ala. Di antaranya adalah berkata dusta dan pratek dusta. Sehingga shiyam Ramadhan yang nilainya sangat tinggi itu langsung rusak gara-gara dusta.
Nabi bersabda:
(( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ )) رواه البخاري.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya.” (HR. Al Bukhari).

Mari kita sadari, bagaimana Allah akan menerima shiyam orang yang berkata dan berbuat dusta alias bohong. Shiyam adalah mendekatkan diri dengan taat, sampai mau untuk meninggalkan hal-hal yang aslinya boleh dilakukan ketika tidak berpuasa, seperti makan, minum, dan jima’. Ketaatan meninggalkan hal yang aslinya bukan haram, ketika ada perintah wajib ditinggalkan, maka ditinggalkan. Ini mestinya diikuti dengan sikap, bahwa yang mubah (boleh) saja harus ditinggalkan, apalagi yang haram, maka lebih harus ditinggalkan. Namun ketika yang haram tetap dilakukan padahal sudah payah-payah meninggalkan yang mubah, itu sikap yang tidak tahu diri. Merusak pekerjaan diri sendiri.

Kenapa?
Karena yang mubah saja harus ditinggalkan. Mestinya yang haram lebih ditinggalkan. Lha kok malah dikerjakan, itu namanya tidak tahu diri. Maka tepat sekali ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya.” (HR. Al Bukhari).
Satu hadits yang singkat, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya.” (HR. Al Bukhari) itu mengandung makna yang sangat luas. Coba kita bayangkan. Ketika kita shiyam Ramadhan, namun makan dan minum kita, bahkan pakaian yang kita pakai untuk berpuasa maupun untuk shalat; bila hal itu dihasilkan dari perkataan dan perbuatan dusta, maka jelas tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Bahkan do’a kita pun tidak dikabulkan-Nya.
Di hari-hari biasa selain Ramadhan pun, masalah makanan dan minuman haram itu sangat harus dijauhi. Baik haram karena dzat barangnya, maupun haram karena cara menadapatkannya ataupun mengolahnya (memprosesnya).

Ummat Islam wajib berhati-hati terhadap makanan, minuman, dan apa saja yang diharamkan. Lebih-lebih mengenai makanan dan minuman haram. Karena dampaknya sangat fatal, di antaranya ketika di dunia, do’a dari orang yang makan dan minumnya serta pakaiannya haram maka tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Sedang di akherat, daging yang tumbuh dari yang haram itu nerakalah yang lebih berhak atasnya.

Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
(كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ). (رواه أحمد والترمذي والدارمي)
Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih utama dengannya.(HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi).
وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( أيُّهَا النَّاسُ ، إنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إلاَّ طَيِّباً ، وإنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ . فقالَ تعالى :{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً } [ المؤمنون : 51 ] ، وقال تعالى : { يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } [ البقرة : 172 ] . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعثَ أغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، ومَلبسُهُ حرامٌ ، وَغُذِّيَ بالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟ رواه مسلم .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan oleh para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً } [ المؤمنون : 51 ]
Hai para rasul, makanlah kalian dari karunia Allah yang halal lagi baik. Lakukanlah amal shaleh untuk mensyukuri karunia-Ku kepada kalian (QS Al-Mukminun: 51). Dan Allah ta’ala berfirman:
{ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } [ البقرة : 172 ]
Wahai kaum Mukmin, makanlah sebagian dari karunia Allah yang halal yang Kami berikan kepada kalian. (QS Al-Baqarah: 172).

Lalu Rasulullah menuturkan tentang seorang lelaki yang pergi mengembara hingga rambutnya kusut berdebu, lalu dia mengangkat tangan ke arah langit sambil berdo’a: Ya Rabbi, ya Rabbi, berilah aku sesuatu, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, dan dimakani dengan yang haram pula. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan karena demikian. (HR Muslim).

Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sulit tidur. Kemudian isteri beliau bertanya, “apa yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa tidur?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
« إِنِّى وَجَدْتُ تَحْتَ جَنْبِى تَمْرَةً فَأَكَلْتُهَا وَكَانَ عِنْدَنَا تَمُرٌ مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَخَشِيتُ أَنْ تَكُونَ مِنْهُ »
“Sesungguhnya saya menemukan di bawah bahu saya sebutir kurma, maka saya makan, sedangkan di sisi kami ada kurma-kurma dari kurma sedekah (zakat), maka saya takut jika kurma tersebut adalah kurma dari sedekah.” (HR Ahmad dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma).
عن عائشة رضي الله عنها ، قالت : كَانَ لأبي بَكر الصديق – رضي الله عنه – غُلاَمٌ يُخْرِجُ لَهُ الخَرَاجَ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ ، فَجَاءَ يَوْماً بِشَيءٍ ، فَأكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ ، فَقَالَ لَهُ الغُلامُ : تَدْرِي مَا هَذَا ؟ فَقَالَ أَبُو بكر : وَمَا هُوَ ؟ قَالَ : كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لإنْسَانٍ في الجَاهِلِيَّةِ وَمَا أُحْسِنُ الكَهَانَةَ ، إِلاَّ أنّي خَدَعْتُهُ ، فَلَقِيَنِي ، فَأعْطَانِي لِذلِكَ ، هَذَا الَّذِي أكَلْتَ مِنْهُ ، فَأدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ . رواه البخاري .
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Abu Bakar mempunyai budak sahaya yang mengeluarkan kharaj (sesuatu yang diwajibkan tuan atas budaknya untuk dibayar/ ditunaikan tiap hari) untuknya, dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memakan dari kharajnya itu. Tiba-tiba budak itu pada suatu hari membawa makanan, maka dimakan oleh Abu Bakar, kemudian budak itu bertanya: “Tahukah kau, apa ini?” Abu Bakar berkata:”Apa dia?” Budak itu berkata: “Pada masa jahiliyah dulu saya pernah berlagak jadi dukun, padahal saya tidak mengerti perdukunan, hanya semata-mata mau menipu. Maka kini dia bertemu padaku mendadak memberi padaku makanan yang kau makan itu.” Maka segera Abu Bakar memasukkan jarinya dalam mulut, sehingga memuntahkan semua isi perutnya. (Shahih Al-Bukhari nomor 3842, dan di Kitab Riyadhus Shalihin bab Wara’ dan meninggalkan syubhat).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohi, bukan di bulan Ramadhan saja sebegitu hati-hatinya terhadap makanan. Hingga hanya karena khawatir yang dimakan itu satu butir kurma yang dikhawatirkan termasuk kurma sedekah (karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dibolehkan menerima sedekah) maka beliau jadi sulit tidur karena menggelisahinya.

Contoh lainnya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sampai memuntahkan isi perutnya semua karena ada makanan yang terlanjur masuk dikatakan budaknya sebagai hasil praktek perdukunan sang budak.

Itu semua tidak diriwayatkan berkaitan dengan Ramadhan, artinya di hari-hari biasa. Itupun makanan yang dikhawatirkan tidak halal, sangat dijauhi. Karena memang ancamannya, di samping ibadah dan do’a akan tertolak, masih pula diancam neraka. Maka bagaimana pula bila berpuasa Ramadhan, mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan bekal makanan dan minuman yang haram? Baik dzatnya maupun cara memperolehnya ataupun memprosesnya?

Semoga kita dihindarkan dari aneka cara tipu daya yang hanya akan merugikan kita sendiri.

Apabila kita dapat lulus dari aneka keharaman, dusta, tipuan, tingkah palsu dan semacamnya, dan beribadah ikhlas untuk Allah, maka insya Allah amaliyah Ramadhan akan mendapatkan berkah. Karena sebenarnya Ramadhan adalah bulan yang diberkahi, yakni banyak kebaikannya.
كَانَ رَسُوْلُ الله – صلى الله عليه وسلم – يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ: (( قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ )) رواه أحمد والنسائي. تحقيق الألباني ( صحيح ) انظر حديث رقم : 55 في صحيح الجامع .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para syetan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.”( H.R. Ahmad dan An Nasa’I, shahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ nomor 55).

Ramadhan, bulan yang mulia, bulan al-Qur’an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.

Bulan saat amal kebaikan dilipat gandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9)
artinya, “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (QS.asy-Syams: 9)
Kaum salaf, pendahulu Ummat ini telah memahami betapa tinggi nilai tamu tersebut (Ramadhan). Oleh karena itu, diriwayatkan, bahwa mereka berdo’a kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan apabila mereka mengakhirinya, mereka menangis dan berdo’a kepada Allah agar amal mereka pada bulan-bulan yang lain diterima, demikian seperti dinukil Ibnu Rajab rahimahullah. (Nasyarah,”Kaifa nastaqbilu Ramadhan” (Abu Mush’ab Riyadh bin Abdur Rahman al-Haqiil).

Apabila kita mempersiapkan diri untuk ibadah kepada Allah Ta’ala di bulan yang diberkahi yakni Ramadhan dengan menghindari aneka hal yang haram dan membatalkan pahala, maka insya Allah derajat taqwa akan kita raih. Sedang Allah telah memberi pujian kepada orang yang taqwa:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [الحجرات/13]
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat/ 49: 13).
Dan semoga kita terhindar dari ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوع
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar”. (HR. Ahmad dan terdapat dalam Shahih Al Jami’ No. 3490).
Ancaman itu benar-benar penting untuk kita perhatikan degan mencermati hal-hal yang diuraikan tersebut di atas.
Semoga tulisan singkat ni bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/07/01/bagaimana-dengan-ramadhan-kita-meraih-derajat-taqwa.html#sthash.fbiD4bUr.dpuf




Renungan Ramadhan: Karena Allah masih menyayangi kita

muhasabahdetikriau.org – Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Dengan limpahan karunia dan izin-Nya semata kita kembali bisa memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan karunia. Ia adalah bulan penuh keutamaan. Jika Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan untuk memasuki bulan suci Ramadhan, maka tentu Allah Ta’ala menghendaki ada kebaikan, berkah dan karunia yang bisa kita petik dari bulan suci ini. Allah Ta’ala menghendaki ada perbaikan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita.

Besarnya karunia bulan suci Ramadhan bisa kita rasakan, setidaknya, bila kita kembali menengok ke belakang, kepada sebelas bulan yang telah kita lalui sebelum datangnya bulan suci Ramadhan 1435 H ini.

Jika kita mengingat-ingat dan merenungi apa yang telah kita perbuat sejak bulan Syawwal hingga Dzulhijah 1434 H, kemudian Muharram sampai Sya’ban 1435 H; maka kita akan memiliki sedikit banyak gambaran tentang nilai dan keagungan bulan suci Ramadhan kali ini.

Apakah yang telah kita perbuat selama sebelas bulan yang lalu?
Hari-hari yang kita warnai dengan shalat lima waktu yang kwalitasnya tidak bagus. Hilangnya kekhusyukan, sibuk dengan urusan dunia saat adzan di masjid sudah berkumandang, ketinggalan raka’at shalat berjama’ah di masjid, atau bahkan shalat di rumah dan tidak ikut shalat berjama’ah di masjid.

Hari-hari yang kita warnai dengan kesulitan mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali dalam sebulan.
Hari-hari yang kita warnai dengan besarnya belanja untuk kepentingan pribadi dan keluarga, bahkan seringkali untuk perkara yang tidak penting. Di saat yang sama kita kesulitan atau merasa sangat berat, untuk menginfakkan sebagian penghasilan kita untuk kepentingan jalan Allah.
Hari-hari yang kita warnai dengan ketekunan mengikuti acara kantor, acara organisasi, pertemuan bisnis dan seterusnya. Pada saat yang sama kita jarang hadir dalam majilis-majlis ilmu di rumah-rumah Allah.

Hari-hari yang kita lewati dengan tidur lelap sepanjang malam, sehingga setan leluasa mengencingi telinga kita. Hari-hari yang kita tidak bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam yang terakhir dan tidak beristighfar di waktu sahur.

Hari-hari yang kita penuhi dengan kelalaian, kemaksiatan dan kemungkaran. Hari-hari saat kita berkawan akrab dengan setan dan hawa nafsu. Hari-hari di saat mata, telinga, lisan, tangan dan kaki kita terperangkap dalam bujuk rayu setan dan hawa nafsu.

Hari-hari di saat kita menjauhi Allah dan ampunan-Nya. Itulah sebelas bulan yang telah lewat. Allah Ta’ala berkehendak untuk membimbing kita kembali ke jalan-Nya. Allah Ta’ala menghendaki kita bertaubat dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali bersimpuh di hadapan-Nya dalam taubat yang nashuha. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Maka Allah Ta’ala memanjangkan usia kita sampai bulan suci Ramadhan ini. Maka Allah Ta’ala memberi kita kesempatan selebar-lebarnya untuk mengisi bulan suci ini dengan amalan-amalan yang akan menghapuskan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita dan mendekatkan kita kepada ridha Allah dan ampunan-Nya.

Inilah karunia agung itu. Inilah kesempatan emas kedua yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Allah Ta’ala sangat menyayangi kita. Allah Ta’ala tidak membiarkan kita selalu lalai, terpedaya dan berlumuran dosa. Allah Ta’ala menghendaki kita mensucikan jiwa kita.

Maka marilah kita menyambut dan mengisi karunia agung bulan suci Ramadhan ini dengan amalan-amalan yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala. Janganlah kita menyia-nyiakan dan menelantarkan bentuk kasih sayang Allah Ta’ala ini.

Allah Ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ
Dan Allah mengajak kepada surga dan ampunan-Nya dengan izin-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 221)
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan Allah mengajak kepada negeri keselamatan (surga) dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Yunus [10]: 25)

Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas karunia bulan suci yang penuh berkah ini. Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas kesempatan kesekian kalinya yang Engkau karuniakan kepada kami, untuk memperbaiki dan mensucikan diri kami. Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas kasih sayang-Mu kepada kami.

Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.
Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhib al majdi/arrahmah.com)




9 Makna Penting Ramadan

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

indexdetikriau.org – Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang terambil dari kata ramidhayarmadhu yang pada mulanya berarti membakar, menyengat karena terik, atau sangat panas. Dinamakan demikian karena saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa, udara atau cuaca di Jazirah Arab sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering.

Selain itu, Ramadhan juga berarti ‘mengasah’ karena masyarakat Jahiliyah pada bulan itu mengasah alat-alat perang (pedang, golok, dan sebagainya) untuk menghadapi perang pada bulan berikutnya. Dengan demikian, Ramadhan dapat dimaknai sebagai bulan untuk ‘mengasah’ jiwa, ‘mengasah’ ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat ‘membakar’ sifat-sifat tercela dan ‘lemak-lemak dosa’ yang ada dalam diri kita.

Ramadhan yang setiap tahun kita jalani sangatlah penting dimaknai dari perspektif nama-nama lain yang dinisbatkan kepadanya. Para ulama melabelkan sejumlah nama pada Ramadhan.

Pertama, Syahr al-Qur’an (bulan Alquran), karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama.

Kedua, Syahr al-Shiyam (bulan pua sa wajib), karena hanya Ramadhan me ru pakan bulan di mana Muslim diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dan hanya Ramadhan, satu-satunya, nama bulan yang disebut dalam Alquran. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Ketiga, Syahr al-Tilawah (bulan membaca Alquran), karena pada bulan ini Jibril AS menemui Nabi SAW untuk melakukan tadarus Alquran bersama Nabi dari awal hingga akhir. Keempat, Syahr al-Rahmah (bulan penuh limpah an rahmat dari Allah SWT), karena Allah menurunkan aneka rahmat yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Pintu-pintu kebaikan yang mengantarkan kepada surga dibuka lebar-lebar.

Kelima, Syahr al-Najat (bulan pembebasan dari siksa neraka). Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa dan pembebesan diri dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridha-Nya. Ke enam, Syahr al-’Id(bulan yang berujung/ berakhir dengan hari raya). Ramadhan disambut dengan kegembiraan dan diakhiri dengan perayaan Idul Fitri yang penuh kebahagiaan juga, termasuk para fakir miskin

Ketujuh, Syahr al-Judd (bulan kedermawanan), karena bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Nabi SAW memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan pada bulan suci.

Kedelapan, Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian.

Kesembilan, Syahr Allah (bulan Al lah), karena di dalamnya Allah melipatgandakan pahala bagi orang berpuasa.

Jadi, Ramadhan adalah bulan yang sangat sarat makna yang kesemuanya bermuara kepada kemenangan, yaitu: kemenangan Muslim yang berpuasa dalam melawan hawa nafsu, egositas, keserakahan, dan ketidakjujuran. Sebagai bulan jihad, Ramadhan harus dimaknai dengan menunjukkan prestasi kinerja dan kesalehan individual serta sosial.(dro/republika)

 




MEMBUKA TABIR KEGAIBAN (Ajaran Ke Empat)

sholat malam

Syaikh Abdul Qadir Jailani

detikriau.org – Bismillah hirrahmanirrahim. Apabila kamu “mati” dari mahluk, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah akan melimpahkan rahmatNya kepada kamu.” Kemudian Allah akan mematikan kamu dari nafsu-nafsu badaniyyah. Apabila kamu telah mati dari nafsu badaniyyah, maka akan dikatakan kepada kamu “Semoga Allah akan melimpahkan rahmatNya kepada kamu.” Kemudian Allah akan mematikan kamu dari kehendak-kehendak dan nafsu. dan apabila kamu sudah mati dari kehendak-kehendak dan nafsu, maka akan dikatakan kepada kamu “Semoga Allah akan melimpahkan rahmatNya kepada kamu.” kemudian Allah akan menghidupkan kamu di dalam suatu kehidupan yang baru.

Selain itu, kamu akan diberikan “hidup” yang tidak akan ada “mati” lagi. kamu akan dikayakan dan tidak akan pernah miskin lagi. kamu akan diberkati dan tidak akan dimurkai. kami akan diberikan ilmu sehingga kamu tidak akan pernah bodoh lagi. Kamu akan diberikan kesentosaan dan kamu tidak akan merasakan ketakutan lagi. kamu akan maju dan tidak akan pernah mundur lagi. nasib kami akan baik dan tidak akan pernah buruk lagi. kamu akan dimuliakan dan tidak akan dihinakan. kamu akan didekati oleh Allah dan tidak akan pernah dijauhi lagi. martabat kamu akan tinggi dan tidak akan pernah turun lagi. kamu akan dibersihkan sehingga tidak lagi kamu merasa kotor. ringkasnya, jadilah kami seorang yang tinggi dan memiliki kepribadian yang mandiri. Dengan demikian, maka kamu boleh dikatakan sebagai orang yang luar biasa.

Jadilah kamu ahli waris para Rasul, para Nabi dan orang-orang yang shiddiq. Dengan demikian kamu akan menjadi titik akhir bagi segala kewalian dan wali-wali yang masih hidup akan datang menghampiri kamu. melalui kamu, segala sesuatu akan dapat diselesaikan, dan melalui shalatmu, tanaman-tanaman dapat ditumbuhkan, hujan dapat diturunkan dan malapetaka yang hendak menimpa umat manusia dari seluruh tingkatan dan lapisan dapat dihindarkan.

Orang-orang akan mendatangi kami dari tempat yang dekat dan jauh dengan mwmbawa hadiah, oleh-oleh serta memberikan khidmat kepadamu. Semua ini semata karena izin Allah yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Lisan manusia tiada henti-hentinya menghormati dan memuji kami. Tidak ada dua orang yang beriman yang bertingkah kepadamu.

Wahai mereka yang baik-baik, yang tinggal di tempat-tempat ramai dan mereka yang mengembara, inilah karunia Allah. Dan Allah memiliki kekuasaan yang tiada terbatas.
Sumber: diterjemahkan oleh Asep Kamal dari kitab Futuhul Ghaib, Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani
Dituliskan kembali oleh : Muhammad Faisal




MEMBUKA TABIR KEGAIBAN (Ajaran Ke Tiga)

Syeikh-Abdul-Qadir-al-JailaniDetikriau.org – Manakala seorang hamba di uji oleh Allah, maka mula-mula ia akan melepaskan diri dari ujian atau cobaan yang menyusahkan itu. Jika tidak berhasil, maka ia akan meminta pertolongan kepada orang lain seperti para raja, penguasa, orang-orang dunia atau para hartawan. Jika ia sakit, maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter atau dukun. Jika hal initipun tidak juga berhasil maka barulah ia kembali menghadapkan wajahnya kepada Allah, untuk memohon dan meratap kepada-Nya. Selagi ia masih bisa menolong dirinya maka ia tidak akan meminta pertolongand ari orang lain. Dan selagi pertolongan lain masih ia dapatkan, maka ia tidak akan memintakan pertolongan kepada Allah.

Jika pertolongan Allah belum ia dapatkan, maka ia akan terus meratap, shalat, berdoa dan menyerahkan dirinya dengan sepenuh harapan dan kecemasan kepada Allah Ta’ala. Sekali-kali Allah tidak akan menerima ratapannya, sebelum ia memutuskan dirinya dari keduniaan. Dan setelah ia terlepas dari keduniaan, maka akan tampaklah keputusan dan ketentuan Allah pada orang itu dan lepaslah ia dari hal-hal keduniaan. Selanjutnya hanyalah ruh saja;ah yang masih tinggal padanya.
Dalam peringkat ini, yang tampak padanya hanyalah kerja atau perbuatan Allah dan tertanamlah didalam hatinya kepercayaan sesungguhnya tentang Tauhid (Ke-Esaan-Allah)
Pada hakekatnya, tidak ada pelaku atau penggerak atau mendiamkan, kecuali Allah saja. Tidak ada kebaikan dan tidak ada keburukan, tidak ada kerugian dan tidak ada keuntungan, tidak ada faedah dan tidak pula ada anugerah, tidak terbuka dan tidak pula tertutup, tidak mati dan tidak pula hidup, tidak kaya dan tidak pula papa, melainkan semuanya ada ditangan Allah.
Hamba Allah tidaklah ubah sebagaimana anak bayi yang berada dipangkuan ibunya atau seperti orang mati yang sedang dimandikan atau seperti bola dikaki pemain; melambung, bergulir keatas ketepi dan ke tengah, senantiasa berubah tempat dan kedudukan. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Maka hilanglah ia keluar dari dirinya dan masuk kedalam perbuatan Allah semata-mata.
Hamba Allah semacam ini hanya meminta Allah dan perbuatanNya. Yang didengar dan diketahuinya hanyalah Allah. Jika ia melihat sesuatu, maka yang dilihat itu adalah perbuatan Allah. Jika ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka yang didengar dan diketahuinya itu hanyalah firman Allah dan jika ia mengetahui sesuatu maka ia mengetahuinya itu melalui pengetahuan Allah.
Ia akan diberikan anugerah oleh Allah. Beruntunglah ia karena dekat dengan Allah. Ia akan dihiasi dan dimuliakan. Ridhalah ia kepada Allah. Bertambah dekatlah ia kepada Tuhannya. Bertambah cintalah ia kepada Allah. Allah akan meminpin dan menghiasainya dengan kekayaan cahaya ilmu Allah. Maka terbukalah tabir yang menghalanginya dari rahasia-rahasia Allah yang maha agung. Ia hanya akan mendengar dan mengingat Allah yang Maha Tinggi. Maka ia akan senantiasa bersyukur dan shalat dihadapan Allah SWT.
Bersambung ………
Sumber: diterjemahkan oleh Asep Kamal dari kitab Futuhul Ghaib, Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani
Dituliskan kembali oleh : Muhammad Faisal




MEMBUKA TABIR KEGAIBAN

syaikh abdul qadir jailanidetikriau.org – MEMBUKA TABIR KEGAIBAN ini adalah sebuah kita yang ditulis oleh seorang wali Allah, Syaikh Abdul Qadir Jailani. Beliau dilahirkan di Naif dikawasan daerah jailan, Persia pada bulan ramadhan 470 H kurang lebih bertepatan dengan tahun 1077 M. Ayahnya bernama Abu Shaleh, seorang yang sangat ta’at kepada Allah dan mempunyai keturunan dengan Imam Hasan, yaitu anak sulung dari Syaidina Ali (saudara sepupu Nabi Muhammad saw) dengan Fatimah (anak perempuan Nabi Muhammad saw).

Ibu Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah putri Abdullah Shaumayya, seorang yang juga sangat ta’at kepada Allah, keturunan Imam Husain, anak Ali dengan Fatimah. Jadi Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah anak keturunan Hasan dan juga Husain.

Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani yang paling agung adalah kitab “Futuhul Ghaib (Membuka Tabir Kegaiban). Kitab ini berisikan 80 (delapan puluh) ajaran dan nasehat sang Syekh yang sangat terkenal diseluruh dunia yang nantinya akan kami tuliskan kembali secara bertahap.

Semenjak kecil Syaikh Abdul Qadir Jailani dikenal dikenal sebagai anak yang pendiam dan mempunyai sopan santun. Ia suka merenung sambil berpikir dan sangat cenderung kepada mistik (pengalaman kerohanian). Setelah berusia 18 tahun. Syaikh Abdul Qadir Jailani mnejadi orang yang paling tamak dengan ilmu dan cenderung ingin selalu bersama-sama dengan orang-orang shaleh. Keadaan inilah yang mendorong dirinya untuk pergi mengembara ke Bagdad, yang pada masa itu menjadi pusat pengkajian berbagai ilmu.

Syaikh Abdul Qadir Jailani juga dijuluki Ghautsul A’zham’ (wali Allah yang paling Agung). Menurut pemahaman orang-orang sufi, Ghaut berada dibawah tingkatan Nabi dalam pangkat kerohanian dan dalam menyampaikan rahmat Allah kepada manusia. Ada juga orang masa sekarang ini yang mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani masuk dalam peringkat Ash –Shiddiqun, sebagaimana digelarkan oleh Al-Qur’an untuk orang-orang seperti beliau.

Syaikh Abdul Qadir Jailani meninggal dunia pada tanggal 11 Rabiul Awal 561 H atau Tahun 1166 M.
AJARAN SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI

Ajaran Pertama:
Ada tiga perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap Mu’min didalam seluruh keadaan, yaitu: Melaksanakan segala perintah Allah, menjauhkan diri dari segala yang haram, dan ridho dengan hokum-hukum atau ketentuan Allah.
Ketiga perkara ini jangan sampai tidak ada pada seorang mukmin. Oleh karena itu seorang Mu’min harus memikirkan perkara ini, bertanya kepada dirinya tentang perkara ini dan anggota tubuhnya melakukan perkara ini.

Ajaran Kedua:
Ikutilah dengan ikhlas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammad saw dan janganlah merubah jalan itu. Patuhlah kepada Allah dan Rasulnya dan jangan sekali-kali berbuat durhaka.
Bertauhidlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya. Allah itu maha suci dan tidak mempunyai sifat-sifat tercela atau kekurangan.
Janganlah ragu-ragu terhadap kebenaran Allah. BErsabarlah dan berpegang-teguhlah keadaNya.
Bermohonlah kepadaNya dan tunggulah dengan sabar.
Bersatupadulah dalam menta’ati Allah dan jangan berpecah belah.
Saling mencintai antar sesame dan janngan saling mendengki.
Hindari diri dari segala noda dan dosa. Hiasilah dirimu dengan ketaatan kepada Allah.
Janganlah menjauhkan diri dari Allah dan jangan pernah melupakanNya.
Janganlah lalai untuk bertobat kepadaNya dan kembali kepada-Nya.
Jangan jemu untuk memohon ampun kepada Allah pada siang dan malam hari. Mudah-mudahan kamu akan diberikan lindungan olehi-Nya dari marabahaya dan azab neraka, diberikan kehidupan yang berbahagia di dalam surge, bersatu dengan Tuhan dan diberi nikmat-nikmat oleh-Nya. Kamu akan menikmati kebahagiaan dan kesentosaan yang abadi disorga beserta para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang sholeh. Kamu akan kekal didalam surge itu untuk selama-lamanya.
Ajaran ketiga:………….. (bersambung)

Sumber: diterjemahkan oleh Asep Kamal dari kitab Futuhul Ghaib, Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani
Dituliskan kembali oleh : Muhammad Faisal