Tangani Karhutla, Polda Riau datangkan Drone Khusus dan Tim Ahli

Foto internet : Ilustrasi Karhutla

ARBINDONESIA.COM, RIAU – Kepolisian Daerah (Polda) Riau mendatangkan tim ahli dan drone khusus dari Mabes Polri guna memaksimalkan upaya penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Riau.

Ada 4 Tim yang terdiri dari Personil Mabes Polri, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK dan Kejaksaan, sudah diturunkan ke sejumlah lokasi kebakaran.

“Benar. Mereka sudah dilokasi sejak kemarin. Dibagi 4 tim masing-masing dari Mabes Polri dan Polda Riau,” kata Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, Kamis (10/10/19) pagi kepada wartawan membenarkan.

Keempat titik lokasi tersebut, kata Sunarto, yakni, 1 titik di wilayah Kabupaten Pelalawan, 1 titik di Inhu dan 2 titik di Siak.

“Untuk Tim Mabes dipimpin langsung Dirtipiter (Direktur Tindak Pidana Tertentu, red) Bareskrim Mabes Polri. Tim gabungan ini akan bekerja selama beberapa hari kedepan,” ucapnya.

Sedangkan alat canggih tersebut, katanya, berupa Drone Khusus yang dipakai ke lokasi kebakaran.

“Iya, drone khusus. Beda dengan drone biasa. Nanti kita jelaskan lebih lanjut. Yang pasti, semuanya turun termasuk Tim Ahli ini untuk kegiatan penyidikan Karlahut ini,” ucapnya.

Diketahui, hingga kini, Kepolisian telah menetapkan sebanyak 2 koorporasi sebagai tersangka Kebakaran Lahan. Satu ditangani oleh Bareskrim Mabes Polri yaitu PT Adei Plantation (PT AP) dan satu lagi ditangani oleh Polda Riau yaitu PT Sawit Sumber Sejahtera (PT SSS). Polda Riau bahkan telah menahan Penanggungjawab PT SSS.

Sedangkan tersangka perorangan, Kepolisian telah menetapkan sebanyak 67 tersangka yang ditangani oleh masing-masing Polres di Jajaran Polda Riau. (RLS)




Wiranto Masih Dirawat Setelah Ditusuk OTK

ARBINDONESIA.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto masih dirawat setelah ditusuk oleh orang tak dikenal, Kamis (10/10/2019). Kejadian tersebut terjadi di kawasan Pandeglang, Banten.

Penusuk Wiranto sudah ditangkap. Saat kunjungan Wiranto ke Pandeglang, Kapolda Banten Irjen Tomsi Tohir berada di lokasi kejadian. Kekinian, Tomsi sedang diperiksa.

“Ya untuk pelaku sudah diamankan,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Kamis (10/10/2019).

Wiranto ditusuk saat hendak pulang ke Jakarta usai menghadiri acara peresmian Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla’ul Anwar yang beralamat di Kampung Cikaliung, Desa Sindanghayu, Kecamatan Saketi.

Wiranto yang baru keluar dari mobil tiba-tiba ditusuk orang tidak dikenal dari arah samping kiri mobil. Usai kejadian itu Wiranto langsung dilarikan ke RSUD Berkah Pandeglang untuk mendapatkan pertolongan medis.

Pantauan di RSUD Berkah Pandeglang, Wiranto langsung dirawat di Ruang Unit Gawat Darurat. Di sekitar lokasi terlihat banyak polisi yang berjaga di ruangan.

Selain tim medis Bupati Pandeglang Irna Narulita terlihat juga memasuki ruangan, sedangkan di luar ruangan mobil ambulans tampak bersiaga.

Hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi terkait kejadian ini.

Sumber Suara.com




TNI Lobi Negara Tetangga Agar Tidak Dukung Papua Merdeka

ARB INdonesia, JAKARTA — Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Joni Supriyanto mengatakan pihaknya melakukan negosiasi ke negara-negara tetangga agar tidak mendukung kelompok pro kemerdekaan Papua. Menurutnya, TNI berusaha melakukan pendekatan non-perang dalam menghadapi konflik di Papua dan Papua Barat.

“Kami berkoordinasi dengan negara-negara tetangga untuk tidak mendukung perjuangan Papua Merdeka,” kata Joni dalam Forum Politik dan Kebijakan Publik “Transformasi TNI di Era Disrupsi Teknologi: Prospek dan Tantangan” di Pakarti Center, Jakarta, Senin (7/10).

Dia mengatakan TNI bersama para pemangku kepentingan termasuk Kementerian Luar Negeri dan Badan Intelijen Negara, berusaha menyelesaikan permasalahan di Papua sesuai tugasnya masing-masing. Menurutnya, tidak ada lagi hegemoni sektoral dalam menangani persoalan di Papua.

Massa aksi melakukan demonstrasi dengan pengawalan prajurut TNI di Bundaran Timika Indah, Mimika, Papua, Rabu (21/8/2019). (ANTARA FOTO/Jeremias Rahadat)

Joni mengatakan Kementerian Luar Negeri sudah mengawali dengan melakukan pendekatan terhadap negara-negara Asia Pasifik agar tidak mendukung kelompok pro kemerdekaan Papua.

“Kita tahu perang dampaknya sangat besar dan merugikan untuk kita semua. Jadi pertemuan dengan negara-negara baik di ASEAN, di tingkat staf, satuan operasi, patroli di kawasan Malaka, dengan negara-negara Asean Plus. Itu selalu dilakukan untuk mengurangi tensi antara angkatan bersenjata,” kata Joni.

Hal yang sama juga dilakukan TNI lewat jalur pendekatan militer. Joni mencontohkan proses lobi dengan Papua Nugini, negara tetangga yang langsung berbatasan dengan Papua. TNI melakukan lobi dari segi militer.

Papua Nugini kesulitan dalam soal persenjataan. TNI menawarkan bantuan pengadaan amunisi meriam penghotmatan dengan harapan mereka tak membantu kelompok separatis di Papua.

“Jadi kita membangun kekuatan militer, pada saat yang sama kita membangun bagaimana agar kita tidak perang,” ucap mantan Pangdam Jakarta Raya tersebut.

Sebelumnya, konflik di Papua dan Papua Barat kembali memanas usai perkara rasisme terhadap para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu.

Wacana referendum dan pemisahan Papua dari Indonesia kembali muncul ke publik. Perdana Menteri Vanuatu Charlot Salwai Tabimasmas menyinggung dugaan pelanggaran HAM di Papua dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-74.

Di hadapan 193 negara anggota PBB, Tabimasmas menuntut pemerintah Indonesia bertindak secara adil dan menjunjung tinggi HAM dalam menyelesaikan kerusuhan di Papua yang terus terjadi selama satu bulan lebih terakhir.

“Ada pelanggaran HAM terjadi. Kami mengecam pelanggaran HAM terhadap masyarakat asli Papua. Kami mendesak pemerintah yang berkuasa untuk memastikan mendengarkan dan menghormati suara semua orang didengar, termasuk keinginan untuk menentukan nasib sendiri,” kata Tabimasmas dalam pidato yang disiarkan UN Web Tv.

Sumber CNN Indonesia




Tiga Hari Dilakukan Pencarian, Korban Tenggelam di Sungai Indragiri Ditemukan Mengapung

ARB INdonesia, INHIL – Setelah dilakukan pencairan selama 3 hari, akhirnya korban yang tenggelam di sungai Indragiri beberapa hari yang lalu ditemukan petugas.

Korban bernama Atan Rahmat (42) yang merupakan warga Jalan Waspada gang Waspada 5 Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan ini tenggelam di Sungai Indragiri Parit 5 Kelurahan Tembilahan Barat Kecamatan Tembilahan Hulu, Kamis 3 Oktober 2019 sekitar Pukul 07.30 WIB.

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhil, Yuspik, korban ditemukan di daerah penyumpahan dan ditemukan langsung oleh tim patroli di pagi hari.

Setelah menemukan korban, lanjut Yuspik, petugas langsung menyerahkan kepada pihak keluarga. “Izin melaporkan kepada bapak Bupati dan Wabup dan pak sekda Alhamdulillah korban sudah ditemukan pagi ini dan langsung diserahkan ke pihak keluarga beralamat parit 15 hilir,” tulis Yuspik dalam komentar di Grup Whatshap Mitra Wartawan Inhil, Sabtu (5/10/2019).

Untuk diketahui, Atan yang merupakan seorang supir pompong hilang di Sungai Indragiri, dikutip dari RIAU1 diduga akibat mengidap penyakit epilepsi atau ayan.

Menurut keterangan saksi yang ikut bersama di pompong, korban diketahui tengah mengemudikan kendaraan laut dari wilayah Tembilahan menuju Desa Teluk Jira Kecamatan Tempuling.

Namun ternyata, di tengah perjalanan saksi yang duduk di depan pompong tidak melihat korban lagi sehingga langsung berusaha mencari korban. (Rls)




Naik Hercules, 51 Pengungsi Wamena Asal Sumbar Tiba di Halim

ARB INdonesia, JAKARTA – Sebanyak 51 pengungsi Wamena, Papua asal Sumatera Barat transit di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10) sekitar pukul 16.45 WIB. Mereka diangkut menggunakan pesawat Hercules jenis C130 dan lanjut terbang ke Sumatera Barat sekitar pukul 19.00 WIB.

“Sore ini ada pesawat C130 jenis Hercules TNI AU yang membawa pengungsi dari Wamena, itu orang-orang dari Sumatera Barat. Jumlahnya ada 51. Perjalanan tadi pagi mulai dari Ambon, Makassar, kemudian ada yang turun di Bali, Malang, Iswahyudi, dan sekarang sudah sampai di Halim,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Fajar Adriyanto di Lanud Halim Perdanakusuma.

Fajar menjelaskan sejauh ini pihaknya sudah mengevakuasi lebih dari empat ribu pengungsi. TNI AU sendiri mengerahkan tujuh pesawat untuk mengangkut para pengungsi dari Wamena.

“TNI AU mengerahkan pesawat Hercules dan CN295. Sudah lebih dari 4 ribu orang yang kita evakuasi dari Wamena. Saat ini total ada lima pesawat yang ada di sana. Hari ini ada yang kembali dua dan ada yang berangkat dua. Jadi, total ada tujuh pesawat. Lima Hercules dan dua CN295,” ucap dia.

Zulkifli, Ketua Ikatan Keluarga Minang Wamena menceritakan kondisi pascakerusuhan di Wamena. Dia mengatakam masyarakat Minang setelah kerusuhan berdarah di Wamena sempat mengungsi selama satu minggu markas Komando Distrik Militer (Kodim) 1702.

“Kami dari Wamena pertama sekali setelah kejadian kami mengungsi selama 1 minggu di Kodim 1702. Setelah kami mengungsi selama satu minggu kemudian ada bantuan dari TNI AU sehingga kami dievakuasi ke Sentani. Kemudian dipulangkan melalui Hercules dari Sentani ke Biak. Dari Biak ke Ambon. Dari Ambon dan juga beberapa tempat transit hingga sampai ke Halim,” kata Zulkifli.

“Kami sangat mengucapkan terima kasih baik kepada TNI dan Polri dan TNI AU yang telah memfasilitasi kami sampai kami dipulangkan dengan selamat,” katanya.

Jika kondisi Wamena kembali kondusif, Zulkifli menyatakan tak menutup kemungkinan bagi masyarakat Minang kembali ke sana guna melanjutkan usaha berdagang.

“Saya, masyarakat Sumbar umumnya berdagang. Seandainya kondisi kondusif, mungkin kami akan kembali ke Wamena untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa,” ujar Zulkifli.

Sementara itu, Anggota DPR RI yang juga merupakan perwakilan Ikatan Keluarga Minang Jabodetabek, Arteria Dahlan mengatakan bahwa pihaknya akan memfasilitasi keinginan para perantau Minang itu kembali ke Wawena. Menurut dia, untuk persoalan seperti ini DPR telah bekerja sama dengan berbagai pihak.

“Ya pastinya (difasilitasi). Sekarang pun apabila nanti di kemudian hari masih berpikir ada kesempatan ternyata lebih baik di sana setelah konfliknya mereda, kita fasilitasi nanti,” katanya.

“Ini semua sudah terintegrasi, ada BNPB masuk di sini, Kemensos, yang utamanya Polisi dan TNI di sini menjadi pelayan yang memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Arteria.

Sumber CNN Indonesia




Polisi Dinilai Tertutup soal Pelajar-Mahasiswa yang Diamankan

ARB INdonesia, JAKARTA – Aliansi Masyarakat untuk Keadilan dan Demokrasi (AMUK) mengaku kesulitan mengumpulkan data lengkap pelajar dan mahasiswa yang ditangkap polisi usai mengikuti aksi demonstrasi di depan gedung DPR RI. Kepolisian dinilai tertutup dalam memberikan informasi soal penangkapan para pelajar dan mahasiswa itu.

Anggota AMUK Arif Maulana mengatakan, polisi tak pernah menjabarkan dengan jelas identitas maupun jumlah pelajar dan mahasiswa yang diamankan meski saat ini polisi mengklaim telah memulangkan seluruh pelajar dan mahasiswa tersebut.

“Kesulitannya, tidak ada informasi dari polisi terkait nama, ini siapa orangnya, umur berapa, dari mana, statusnya apa, ditangkap, ditahan, tersangka, atau saksi, itu enggak ada infonya,” ujar Arif saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (3/10).

Sementara polisi sendiri mengklaim telah memulangkan seluruh pelajar dan mahasiswa tersebut ke orang tua masing-masing per hari ini.

Arif menuturkan, dari data AMUK per 1 Oktober 2019 ada sekitar 90 orang yang tak jelas kabarnya usai aksi 24 sampai 26 September lalu. Sedangkan untuk aksi 30 September tercatat ada sekitar 73 orang yang tak diketahui kabarnya.

“Untuk peristiwa 24-26 September sebagian memang sudah dilepas, tapi yang kami tahu masih ada juga yang ditahan di dalam,” katanya.

Selain minim informasi, menurut Arif, polisi juga tak membuka akses bagi anggota keluarga yang ingin bertemu. Ia pun mengklaim dihalang-halangi saat ingin memberi bantuan hukum pada pelajar dan mahasiswa yang ditahan.

Arif mengatakan, Komnas HAM sebenarnya telah meminta ke polisi untuk menyediakan data-data pelajar dan mahasiswa berserta statusnya. Namun rupanya permintaan itu diabaikan oleh polisi.

“Maka kemarin kami buat juga pengaduan ke Ombudsman, Komnas Perempuan, hari ini juga kami ke KPAI,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan sebanyak 380 orang sudah tetapkan sebagai tersangka usai demo berujung rusuh pada 30 September lalu. 

Dari 380 tersangka, 179 di antaranya masih ditahan. Para tersangka yang ditahan menurut Argo berasal dari berbagai wilayah di antaranya Depok, Bekasi, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Sumatera.

Argo menuturkan Polda Metro Jaya dari 1.365 peserta demo 30 September yang sempat tangkap, mereka terdiri dari 611 pelajar dan 126 mahasiswa. Sisanya sebanyak 628 orang yang bukan dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Dikatakan Argo, sebagian pedemo yang sempat ditangkap Polda Metro Jaya sudah dipulangkan kembali ke orang tuanya.

Sumber CNN Indonesia