Predator Pemangsa Nelayan di Sungai Luar, Akhirnya Dilumpuhkan oleh Sang Pawang

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Predator yang memangsa salah seorang nelayan di Desa Sungai Luar, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh sang pawang buaya, Senin (4/5/2020) Sekitar pukul 17. 00 Wib.


Setelah dilakukan pencarian beberapa hari oleh pawang buaya, hewan buas yang diyakini memangsa Jasmi (29 Tahun) hingga korban meninggal dunia, akhirnya buaya yang berukuran fantastis dengan berat diperkirakan ratusan Kilogram itu berhasil ditemukan.


Kepala Desa Sungai Luar, Taufik mengatakan dengan telah ditemukannya buaya pemangsa ini, kami berpesan kepada masyarakat terus berhati-hati. Sebab masih banyak buaya-buaya lain yang berada diperairan Sungai Batang Tuaka tersebut.


“Dari infonya, buaya yang ditangkap ini merupakan buaya pendatang. Kalau buaya di perairan Sungai Batang Tuaka ini masih bersahabat dengan para nelayan disini,” ungkap Kades.


Selain itu, kepada warga khususnya nelayan agar tidak panik dan was-was lagi setelah tertangkapnya hewan ganas itu.


“Kepada Nelayan jangan khwatir lagi tuk bekerja, tetap cari ikan namun tetap waspada,” paparnya.


Penangkapan Oleh Pawang Buaya


Sementara itu, Pawang Buaya, Junaidi (38 tahun) menuturkan pencarian dan penangkapan buaya tersebut sudah 6 hari sejak ditemukannya mayat nelayan tersebut


Penangkapan buaya dilakukan menggunakan pancing yang dipasang di muara (suak suangai) tempat ditemukan mayat korban sekitar 700 meter dari TKP.


“Buaya itu memakan pancing yang dikasih umpan bebek (itik) sejak 6 hari yang lalu,” paparnya.


Lanjutnya, buaya itu memakan pancing sejak pukul 6.30 WIB, usai selesai berbuka puasa.


“Saya dikabari oleh nelayan lain, bahwa pancing itu dimakan buaya,” katanya lagi.


Ritual Penangkapan Secara Batin oleh Sang Pawang


Saat awak media menangkap metode penangkapan, apakah ada dilakukan ritual, atau berbentuk ilmu kebatinan?


Junaidi menjawab, tidak bisa memaparkan secara lugas, yang jelas kata Junaidi, penangkapan itu tidak terlepas dari ritual.


“Kita lakukan ritual secara batin,” singkatnya.


Kapolsek Batang Tuaka


Sementara itu, Kapolsek Batang Tuaka, IPTU Andi membenarkan penangkapan buaya ganas tersebut pada pukul 6.00 sore tadi, yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah desa.


“Ia benar buaya itu sudah ditangkap warga bersama Pemdes Suangai Luar,” sebutnya.


Konflik buaya ini sudah 6 hari sejak korban dimangsa pada tanggal 28 April 2020 lalu, saat korban mencari ikan di sepanjang sungai Batang Tuaka.


Atas kejadian tersebut, warga bersama nelayan setempat was-was beraktivitas di sungai Batang Tuaka, sehingga warga memutuskan untuk melakukan penangkapan.


“Nelayan merasa was-was dan cemas ingin bekerja, sehingga masyarakat bersama pemdes melakukan penangkapan,” terangnya.


Kapolsek akan segera berkoordinasi dengan pihak
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau untuk mengevaluasi buaya tersebut.


“Akan segera kita koordinasikan,” tukasnya. (Arb)




Saat Patroli, Tim Mitigasi Inhil Temukan Sibelang Tengah Terperangkap

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR –  Saat melaksanakan patroli, Tim Mitigasi yang terdiri dari personil Koramil dan dua orang anggota Konservasi PT RIA menemukan sibelang (Harimau) tengah terperangkap didalam karangkeng besi.


Penemuam Harimau tersebut di wilayah sekunder 41D PT RIA Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, Sabtu (02/05/2020).


Danramil 10/Pelangiran, Kapten Inf Effendi Sihombing
melalui Sertu Supriadi mnegatakan saat melaksanakan patroli sekitar pukul 09:00 Wib, tim melakukan pemeriksaan terhadap Box Trap (kotak jebakan) yang dipasang oleh BBKSDA Riau.


“Didalam Box Trap ditemukan seekor Harimau Sumatera terperangkap di dalamnya,” ujarnya.


Lanjurnya, kemudian tim melaksanakan pengamanan disekitar lokasi dan pihak perusahaan langsung menghubungi pihak BBKSDA Riau guna penjemputan Harimau Sumatera untuk dievakuasi dan dibawa ke PR HSD (Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya).


“Sekitar pukul 21:00 WIB, tim BBKSDA Provinsi berangkat menggunakan speedboat dari PT RIA menuju Tembilahan, untuk selanjutnya membawa Harimau yang telah dievakuasi menuju penangkaran satwa di Dharmasraya,” tuturnya.


Selama proses evakuasi, dilakukan pengawalan oleh Personil Koramil 10/Pelangiran dan Polsek Pelangiran. (Kodim 0314/Inhil)


Editor Arb




Belum Diketahui Tertular Darimana, Satu Dokter di Bengkalis Positif Covid

ARBindonesia.com, BENGKALIS – Berdasarkan hasil swab, satu orang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bengkalis dinyatakan positif terpapar Covid-19.


Dokter yang berinisial AR tersebut, saat ini sudah berada di ruang isolasi, dan pihak RSUD Bengkalis belum mengetahui secara pasti dari mana awal penularan virus tersebut.


Dalam hal itu, Pelaksana Tugas Direktur RSUD Bengkalis Ersan Saputra TH membenarkan hasil swab salah seorang dokter yang bertugas di RSUD Bengkalis positif Covid-19.


“Benar, sedang kita tracking (lacak) dimana tertularnya. Saat bertugas di RSUD Bengkalis atau ditempat lain. Insyaallah siang ini kita akan adakan konferensi pers. Mohon bersabar” jelas Ersan melalui Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bengkalis Johansyah Syafri, Sabtu dini hari, 2 Mei 2020.


Dijelaskan Ersan yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, dokter tersebut merupakan bagian dari sejumlah tenaga medis yang merawat NZ (59).


NZ salah seorang Pasien Dalam Penanganan (PDP) Covid-19 asal Desa Sungai Alam Kecamatan Bengkalis, yang meninggal dunia beberapa waktu lalu yang swab-nya negatif.


Masih menurut Ersan, bersama tenaga medis lainnya yang merawat NZ, dokter tersebut juga sempat dikarantina.


“Hasil swab pertamanya invalid (tidak valid). Sementara yang kedua negatif. Tapi hasil swab yang ketiga positif. Kita akan lacak dimana tertularnya. Sebab dari waktu meninggalnya NZ, sudah lewat waktu 14 hari. Pagi ini akan kita tracking”, tutupnya.


Dengan positifnya AR ini, maka sudah 2 orang di Kabupaten Bengkalis yang dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan swab. Yang pertama adalah AA (54).


AA yang merupakan warga Kecamatan Mandau. Sebelumnya dinyatakan sembuh dan pulang ke kediamannya pada 12 April 2020 lalu, AA dirawat di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. (Diskominfotik Bengkalis)


Editor Arb




Per 29 April, Pasient Positif Covid 19 di Inhil Bertambah

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR –  Pasient positif terpapar Covid-19 di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) per 29 April 2020 bertambah 1 satu orang.


Total Pasien terpapar positif corona di Inhil menjadi 2 orang.


Hal itu disampaikan Tim Gugus Tugas Terpadu Percepatan Pencegahan Covid-19 Inhil melalui Ketua Tim Medis Penanganan Paisent Covid-19,  dr. Aleksis, Sp.P melalui Press Compren, Rabu (29/4/2020).


“Pasien positif ke-2 ini berinisial SAR (19) warga Keritang berstatus Santri di Pondok Pesantren di Jawa Timur,” kata Aleksis, Dokter Spesialis Paru.


Saat ini, pasien tersebut dirawat di ruang isolasi RSUD Puri Husada Tembilahan dan dalam keadaan baik.


Sebagaimana diketahui, pasien positif pertama meninggal dunia beberapa waktu lalu yakni warga Jalan Gunung Daek, Tembilahan.


Untuk diketahui, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Inhil saat ini sebanyak 409 orang, sedangkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 15 orang.


“8 PDP sudah dipulangkan karena negatif Swab,” pungkasnya. (Arb)





Warga Lakukan Penghentian Paksa Terhadap Aktifitas Galian C di Desa Salo Timur

Foto ilustrasi. Goriau


ARBIndonesia.com, KAMPAR – Warga bersama perangkat desa melakukan penghentian paksa terhadap aktifitas pekerjaan tambang galian C di Dusun Koto Menanti, Desa Salo Timur, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Sabtu (25/4/2020) malam.


Penghentian paksa terhadap aktifitas tambang itu dilakukan warga dengan cara mendatangi langsung ke lokasi pekerjaan.


Kepala Dusun (Kadus) Koto Menanti, Muhammad Sulfi menyampaikan bahwa aktivitas tambang tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat.


Sebab, hal itu akan sangat berdampak terhadap lingkungan di Desa Salo Timur, khususnya Dusun Koto Menanti.


“Apalagi kegiatan tambang galian C tersebut salah satunya mengambil batu dari dalam aliran sungai Kampar, ditambah lagi sangat dekat dengan pemukiman warga sekitar. Itu sudah jelas salah,” kata Kadus kepada Arbindonesia.com melalui pesan WhatsApp, Minggu (26/4/2020) malam.


Lanjutnya, oleh karena itu secara spontan masyarakat langsung turun ke lokasi bersama kepala Desa Salo Timur untuk melakukan aksi penutupan secara paksa galian C tersebut.


“Atas nama masyarakat Dusun Koto Menanti kami  menolak dengan adanya galian C di wilayah kami,” tegas Muhammad Sulf

Menindaklanjuti hal tersebut, Kepala Desa Salo Timur melalui Kadus Koto Menanti, Muhammad Sulfi juga mengatakan bahwa pihak pemdes akan melakukan rapat bersama pihak BPD, RT/RW dan Tokoh Masyarakat untuk membahas tentang Peraturan Desa (Perdes) dan mencari kesepakatan bersama untuk menolak kegiatan tersebut.


“Dalam rapat itu nantinya sesegera mungkin akan dibuat Perdes larangan terhadap aktivitas tambang galian C ,” imbuhnya.


“Kedepan kami akan terus mengawal agar hal ini tidak ada lagi di wilayah kami,” imbuh Muhammad sulfi.


Reporter Yusrizal
Editor Arb




Dugaan Nepotisme pada Calon Penerima Kartu Prakerja di Kecamatan Enok

Foto Ilustrasi


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Ditengah pendemi Covid-19, hadirnya program bantuan pemerintah pusat melalui Kartu Pra Kerja menjadi ‘angin segar’ bagi warga negara Indonesia yang belum ataupun sedang mencari pekerjaan, dan yang terkena PHK.


Namun kehadiran program penyelamat bukan hanya menjadi kabar baik, ternyata dibalik itu juga menimbulkan kontroversi ditengah masyarakat.


Mulai dari peluang adanya joki hingga nepotisme serta konflik kepentingan yang mewarnai dengan kehadiran program Karu Pra Kerja tersebut.


Salah satunya yang terjadi di Kecamatan Enok, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Yang membuat warga heboh atas adanya dugaan nepotisme dalam penjaringan calon penerimaan pelatihan Kartu Prakerja itu.


Seperti yang diungkapkan perwakilan dari Aliansi Pemuda Kecamatan Enok, Ahmad Zainuri kepada arbindonesia.com melalui sambungn seluler, Sabtu (25/4 /2020) malam.


Zen mengatakan terdapat beberapa poin penting yang menjadi kuat dugaan adanya nepotisme dalam penjaringan calon penerima pelatihan Kartu Pra Kerja pada tahap pertama di Kecamatan Enok.


“Pertama, dari nama yang terdaftar itu rata-rata orang kantor Camat dan keluarga-keluarganya. Kemudian, nama-nama yang keluar mayoritas dari Kelurahan Enok, tak ada dari desa-desa lain, ataupun kelurahan lain. Ada 1 orang dari desa dan kelurahan lain, tetapi itu pun masih keluarga dan saudara dekat juga dari orang kantor camat,” terangnya.


Selanjutnya dari temuan Zen, adanya pegawai kantor camat  yang melakukan pembohongan publik dengan mengaku kalau ia kesulitan bekerja, kemudian kesulitan usaha untuk mendapatkan Kartu Pra kerja.


“Mahasiswa itu tak boleh ikut dalam penerimaan Kartu Pra Kerja, sesuai dengan Perpres No 36 tahun 2020, tetapi ada anak dari pemerintah Kecamatan Enok bisa dapat. Sementara statusnya sekarang Mahasiswa yang sedang melanjukan pendidikan S2,” ungkap Zen.


Peserta penerima Kartu Pra Kerja sudah tertuang secara gamblang dalam Perpres No 36 Tahun 2020, tetapi masih ada yang mencoba mempermainkan hal ini.


“Yang menjadi kata kunci dalam Perpres tersebut  ‘yang sedang menganggur, bukan yang sudah bekerja tetapi ingin mencari kerja lagi’,” ucap zen sambil menyebutkan poin per poin yang tertuang dalam Peraturan Presiden tentang penerima Kartu Pra kerja tersebut.


Dengan adanya kehebohan ini ditengah masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Enok. Ahmad Zainuri mengaku telah melakukan konfirmasi ke desa-desa, terutama di desa tempat ia berdomisili saat ini.


Dari beberapa desa yang ia konfirmasi mengenai hal ini, ternyata pihak desa mengaku enggan untuk melakukan penjaringan calon penerima Kartu Pra Kerja tersebut.


“Sebab surat pemberitahuan yang dilayangkan pihak kantor camat ke Pemerintah Desa, ada yang sore dan ada yang malam baru sampai. Sementara hari itu, malamnya sudah batas akhir untuk melakukan pendaftaran,” tuturnya.


Terakhir Zen mengatakan, melalui Aliansi Pemuda Kecamatan Enok kami masih menunggu jawaban dari pihak kecamatan terkait hal ini. Sayangnya, sejak mulai hebohnya masalah ini pada 12 April lalu, sampai hari ini pihaknya belum menerima jawaban dari pihak kecamatan.


“Intinya kami meminta pihak kecamatan maupun Kabupaten bertanggung jawab atas hal ini, dan memberi sanksi bagi oknum kecamatan yang melakukan pembohong publik,” tutup Zen.


Sementar Camat Enok Kaharudin saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler,  terkesan enggan untuk memberi keterengan mengenai kontroversi penerima Kartu Pra Kerja di Kecamatan Enok, Minggu (26/4/2020).


Namun ia berkilah mengenai Kartu Pra Kerja itu bukanlah bidangnya. Camat meminta wartawan untuk hubungi Dinas Transmigrasi.


“Jangan didengar semua orang, yang salah jangan didengar,” pungkas Kaharudin sambil memutus pembicaraan. (Arb)