UGD Puskesmas Sungai Salak Terpaksa Ditutup Sementara, ini Sebabnya

Foto: plang informasi penutupan sementara pelayanan UGD Puskesmas Sungai Salak


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Pelayanan pada Unit Gawat Darurat (UGD) di Puskesmas Sungai Salak, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terpaksa dilakukan penutupan untuk sementara waktu.


Kepala Puskesmas Sungai Salak melalui KTU KPM Sungai Salak, Didik saat dikonfirmasi mengatakan, penutupan sementara dikarenakan adanya seorang pasien yang dinyatakan positif terpapar covid-19 oleh pihak RSUD Tembilahan.


Sebelum dinyatakan positif covid, pasien tersebut sempatkan mendapatkan perawatan di UGD Puskesmas Sungai Salak selama dua hari karena mengalami struk ringan.


“Pasien pada saat masuk ke UGD Puskesmas Sungai Salak telah dilakukan Rapid Tes, hasilnya non reaktif. Karena hari ini kondisi kesehatannya turun, lalu di rujuk ke RSUD Puri Husada Tembilahan. Setelah dirujuk, lalu dilakukan tes swab oleh rumah sakit, ternyata hasilnya positif,” kata KTU Puskesmas Sungai Salak kepada arbindonesia.com, Selasa (5/1/2021).


Lanjutnya, selama dua hari dirawat di UGD Puskesmas Sungai Salak, petugas banyak yang mengalami kontak langsung dengan pasien.


“Saat ini, petugas di UGD ada yang bergejala batuk dan pilek. Atas persetujuan dari Dinas Kesehatan maka untuk sementara pelayanan di UGD kita tutup sampai tanggal 10 Januari 2021 ini,” imbuh Didik.


“Yang tutup hanya UGD saja, kalau rawat jalannya tetap buka seperti biasa,” tambahnya.


Secara terpisah, Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan, Saut Pakpahan membenarkan adanya pasien rujukan dari Puskesmas Sungai Salak yang positif terpapar covid-19 setelah dilakukan tes swab oleh RS Tembilahan.


“Benar, pasien tanpa gejala. Saat ini masih berada di RSUD Puri Husada, masih dilakukan pemeriksaan. Jika hasil pemeriksaan normal, maka akan dilakukan isolasi di Rumah Sakit Covid. Tetapi jika pasien ada keluhan dan hasil Lab nya mendukung, maka akan dirawat di Puri Husada,” kata Saut Pakpahan kepada arbindonesia.com, Selasa (5/1/2021).


Selain itu, Saut juga mengatakan telah melakukan tracing (pelacakan kontak) terhadap orang yang mengalami kontak erat dengan pasien.


“Untuk orang yang kontak erat dengan pasien, secepatnya akan dilakukan Swab,” tutup Saut.


Arbain




Warga Pelangiran yang Hilang Saat Mancing Akhirnya Ditemukan

Foto: petugas dan masyarakat saat melakukan pencarian terhadap korban yang hilang saat memancing.


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Dani Subroto (52 tahun) seorang warga Tanjung
Pandak, Kelurahan Pelangiran, Kecamatan Pelangiran yang sempat hilang dan dilakukan pencarian oleh petugas akhirnya ditemukan.


Dani Subroto sebelumnya diduga terjatuh dan tenggelam ketika memancing di Perairan Tanjung Pandak pada pada hari Kamis, (31/12 2020).


Hingga Pukul 17.30 WIB, korban tak kunjung pulang ke rumahnya. Kemudian, salah satu keluarga korban mencari Informasi.


Dari informasi yang didapat keluarga korban, bahwa ada seorang warga yang menemukan sampan (perahu dayung) korban di lokasi tempat korban memancing. Akan tetapi, korban tidak berada di atas sampan tersebut.


Setelah dilakukan pencarian, oleh petugas terkait dan dibantu masyarakat, akhirnya Dani ditemukan. Akan tetapi saat ditemukan korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa.


Camat Pelangiran, Abdul Fani.S.Sos,M.Si ketika dihubungi mengatakan bahwa warganya yang sempat hilang tersebut telah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.


“Sudah ditemukan, sekitar pukul 08.00 tadi malam,” kata Camat Pelangiran, Abdul Fani. S.Sos,M.Si, Jum’at (1/1/2021) malam.


Arbain




Akibat Ombak, Puluhan Rumah Warga di Desa Kuala Selat Kateman Rusak

“Lihat juga Videonya di akhir artikel ini”


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Telah terjadi cuaca ekstrim berupa angin kencang disertai gelombang (ombak besar) dari arah laut hingga mengakibatkan puluhan rumah warga Desa Kuala Selat, Pelantaran (jalan) kayu, serta Los kantin/pasar mengalami rusak parah.


Peristiwa tersebut diketahui terjadi tepat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil)-Riau, Jum’at (1/1/2021) siang.


Kepala Desa Kuala Selat saat dikonfirmasi awak media, Imam Taufik menyebutkan bahwa cuaca ekstrim tersebut mulai terjadi sekira pukul 11.30 wib.


Akibatnya, sebanyak 24 unit rumah mengalami kerusakan, 1 kantin/pasar juga rusak, dan beberapa jalan jerambah kayu penghubung dari RT ke RT tampak rusak berat.


“Dari 24 unit rumah, 6 rusak parah dan tidak bisa ditinggali lagi. Sisanya hanya rusak sedang saja,” terang Kepala Desa Imam Taufik.


Kades juga menjelaskan bahwa ombak yang muncul bersamaan dengan angin ribut juga merusak Tanggul perkebunan Parit Berkat, yang mana saat ini tanggul hanya berukuran tinggi 1.30.M saja, namun karena ombak lebih tinggi maka tanggul ikut mengalami kerusakan yang sama.


“Atas musibah ini mari kita Doakan kepada saudara kita yang mengalami musibah tersebut agar mereka diberikan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan,” Jelas Kades Kuala Selat.


“Kami dari pemerintah Desa sangat mengharapkan kepada pemerintah Daerah, Provinsi, Maupun Pusat untuk segera memberikan bantuan Relokasi rumah atau tempat tinggal yang layak. Dan juga membantu kami dalam mengatasi abrasi yang begitu tinggi agar kebun dan lahan pertanian tidak menjadi laut, kami berharap akan ada solusi untuk percepatan pembuatan pemecah gelombang dan penahan longsor,” Harap Imam Taufik. (*)


Penggalan Video ombak besar rusak rumah warga di kuala Selat, (Sebaran jaringan media WhatsApp)



Belum Ditemukan, Warga yang Hilang Saat Mancing Masih Dilakukan Pencarian

Foto : Warga dan petugas saat melakukan pencarian terhadap korban yang hilang ketika memancing


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Hilangnya seorang Warga Desa Hidayat, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indgargiri Hilir (Inhil), diduga terjatuh dan tenggelam ketika memancing di Perairan Tanjung Pandak, hingga saat ini belum ditemukan, Jum’at (1/1/2021).


Camat Pelangiran, Abdul Fani.S.Sos,M.Si ketika dihubungi mengatakan, saat ini petugas masih melakukan pencarian terhadap warganya yang hilang saat pergi memancing.


“Belum diketemukan, saat ini kami masih di lokasi bersama petugas untuk melakukan pencarian terhadap korban,” kata Camat Pelangiran, Abdul Fani.S.Sos,M.Si, Jum’at (1/1/2021), sore pukul 16.00.


Diketahui, dari informasi kronologis yang didapat sebelumnya, bahwa Dani Subroto (50 tahun) pada hari Kamis, (31/12 2020) sekira pukul 10.30 WIB, korban pergi memancing di Perairan Tanjung Pandak, Desa Hidayat.


Hingga Pukul 17.30 WIB, korban tak kunjung pulang ke rumahnya. Kemudian, salah satu keluarga korban mencari Informasi.


Dari informasi yang didapat keluarga korban, bahwa ada seorang warga yang menemukan sampan (perahu dayung) korban di lokasi tempat korban memancing. Akan tetapi, korban tidak berada di atas sampan tersebut.


Hingga berita ini diterbitkan, Camat pelangiran bersama warga Desa Hidayat beserta Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan BPBD masih melakukan pencarian terhadap keberadaan korban.


(Arbain)




Pasar Guntung Terbakar, 35 Unit Sepeda Motor Ikut Dilalap

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Naas, kembali terjadi peristiwa kebakaran yang menghanguskan puluhan kios/lapak pedagang kaki lima dan puluhan unit sepeda motor roda dua di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, tepatnya di Pasar Guntung jalan Yos Sudarso, Kecamatan Kateman, Rabu (30/12/2020) pagi.


Saat dikonfirmasi, Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan SH SIK M.hum membenarkan bahwa memang ada musibah kebakaran yang mehanguskan rumah warga dan puluhan motor roda dua tersebut.


“Benar ada kebakaran di Kateman sekitar pukul 05.45 wib pagi tadi,” jawabnya saat dikonfirmasi melalui via whatsapp, Rabu (30/12/2020) Pagi.


Berdasarkan keterangan resmi oleh Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan menyebutkan sebanyak 41 Kios Pasar dan 35 Unit Kendraan bermotor (roda dua) terbakar, diantaranya 21 unit rusak berat dan 14 Unit rusak ringan.



Adanya kebakaran tersebut, Kapolres Inhil menyebutkan bahwa penyebabnya masih dalam tahap penyelidikan Polsek Kateman.


“Saat ini api telah dapat dikendalikan, pada saat kejadian tidak terdapat korban jiwa, kerugian materil belum dapat ditaksir. Dugaan sementara api tersebut berasal dari kios milik saudra Yandri,” Terang Kapolres Inhil.


Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan SH SIK M.hum menghimbau kepada masyarakat Inhil untuk lebih berhati-hati lagi dalam lebih bijak menjaga barang-barang yang mudah terbakar. Serta selalu perhatikan atau matikan aliran listrik jika dirasa tidak dipakai lagi untuk aktivitas.


“Apabila meninggalkan rumah/bangunan agar, 1. Terlebih dulu mengecek dan memastikan kompor sudah dalam keadaan mati, 2. Mematikan perangkat elektronik dengan mencabut kabel dari stop kontak,” Ujar Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan. (*)




10 Fakta Tsunami Aceh, Tragedi 16 Tahun Lalu Yang Menyebabkan 227.000 Orang Meninggal

ARBindonesia.com, JAKARTA – Hari ini, tepat 16 tahun lalu, gempa bumi berkekuatan 9,2 skala Richter (SR) disusul tsunami besar dengan ketinggian mecapai puluhan meluluhlantakkan Aceh. Bencana yang menghatam bumi serambi Makkah kala itu tak hanya menjadi duka bagi Indonesia, tapi juga dunia.


Tsunami kala itu menyebabkan ratusan ribu orang tewas. Sejumlah negara pun terdampak oleh bencana alam itu.


Berikut 10 fakta tentang Tsunami Aceh 2004 yang dirangkum iNews.id dari berbagai sumber:


Terjadi Sehari Setelah Natal


Tsunami Aceh 14 tahun silam terjadi pada Minggu (26/12/2004), sehari setelah perayaan Natal. Tsunami diawali gempa bumi yang berpusat di lepas pesisir barat antara Simeulue dan daratan Sumatera. Sejumlah ilmuwan menyebut gempa ini sebagai Gempa Bumi Sumatera–Andaman.


Tinggi maksimum gelombang tsunami 30 meter


Gelombang tsunami Aceh memiliki ketinggian rata-rata 10 meter. Namun puncak tertingginya mencapai 30 meter.


15 Negara Terdampak


Sebanyak 15 negara terdampak oleh bencana Tsunami Aceh 2004. Kelima belas negara itu adalah Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagaskar.


Total korban jiwa lebih dari 220.000 orang
Korban meninggal dunia dalam bencana tersebut mencapai 227.898 jiwa. Indonesia berada di urutan pertama dengan total 167.540 orang meninggal dunia dan 500.000 lebih penduduk kehilangan tempat tinggal.


Kekuatan tsunami setara lima megaton dinamit


Energi tsunami yang menyapu daratan Aceh 16 tahun silam setara dengan lima megaton dinamit. Indonesia menjadi negara yang terkena dampak paling besar, diikuti Sri Lanka, India, dan Thailand.


Bencana alam paling mematikan di abad ke-21


Peristiwa Tsunami Aceh 2004 atau oleh kalangan internasional juga disebut “2004 Indian Ocean earthquake and tsunami” alias Gempa Bumi dan Tsunami Samudera Hindia 2004, sejauh ini masih tercatat sebagai bencana alam paling mematikan di abad ke-21.


PLTD Apung 1


Bencana Tsunami Aceh 2004 memang sangat dahsyat. Gelombang tsunami itu bahkan mampu menghanyutkan PLTD Apung 1, sebuah kapal berbobot 2.600 ton, sejauh 2–3 km ke daratan. Saat ini, bangkai kapal Apung 1 menjadi tempat wisata populer di Kota Banda Aceh.


Kapal PLTD Apung 1 yang kini jadi museum di Banda Aceh. (Foto: Salman Mardira/Okezone)


Donasi internasional menembus Rp197,5 triliun


Penderitaan orang-orang dan negara-negara yang terkena dampak mendorong tanggapan kemanusiaan di seluruh dunia. Salah satu bentuknya adalah penggalangan donasi. Total sumbangan yang terhimpun pada waktu itu mencapai lebih dari 14 miliar dolar AS (setara dengan Rp197,5 triliun untuk kurs saat ini).


Mengubah Jalur Pelayaran


Gempa dan tsunami besar di Aceh 16 tahun lalu ikut memengaruhi jalur pelayaran di Selat Malaka. Bencana alam itu telah mengubah kedalaman dasar laut di perairan yang memisahkan Malaysia dengan Pulau Sumatra itu. Di satu tempat, kedalaman air yang sebelumnya mencapai 4.000 kaki mendangkal menjadi 100 kaki, sehingga pelayaran mustahil dan berbahaya dilakukan.


Seluruh Bumi Bergetar


Menurut hasil penghitungan para ahli, Gempa Aceh 2004 menyebabkan seluruh planet bumi bergetar 1 sentimeter.


“Secara global, gempa ini cukup besar untuk menggetarkan seluruh planet hingga setengah inci, atau satu sentimeter. Di mana pun kami memiliki instrumen, kami dapat melihat gerakan,” ungkap profesor geosains di Penn State University Amerika Serikat, Charles Ammon, dikutip CNN.


“Biasanya, gempa bumi kecil mungkin berlangsung kurang dari satu detik; gempa bumi berukuran sedang mungkin berlangsung beberapa detik. Gempa ini berlangsung antara 500 dan 600 detik,” kata dia.


Sumber rctiplus.com