Dialog: Hoaks Surat Suara Ungtungkan Siapa?

Foto: screenshot laman youtube




Abu Sayyaf Kirim Video Sandera Indonesia Memohon Dibebaskan

Kelompok Abu Sayyaf [Tony Blair Institute for Global Change]
Jakarta – Sandera asal Indonesia yang ditahan oleh kelompok radikal Abu Sayyaf di Filipina terlihat dalam sebuah rekaman video yang dibuat oleh kelompok itu. Dalam rekaman tersebut, Samsul Sangunim yang diculik di perairan Pulau Gaya di Semporna pada 11 September lalu, memohon agar segera dibebaskan.

Dalam rekaman terlihat pula Samsul dimasukkan dalam sebuah lubang yang baru saja digali. Dia menangis dan memohon bantuan agar secepatnya dibebaskan.

“Tolong saya bos, tolong saya bos, tolong ….,” kata Samsul, seperti dikutip dari thestar.com.my yang dilansir melalui Tempo.co, Jumat, 4 Januari 2019.

Sejumlah sumber di Filipina mengatakan rekaman video itu dikirim oleh Abu Sayyaf ke pemilik kapal yang tampaknya sedang melakukan negosiasi dengan para penculik yang menuntut uang tebusan untuk pembebasannya.

Saat berita ini turunkan pada Jumat malam, 4 Januari 2019, Kementerian Luar Negeri RI belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini.

Samsul diculik bersama rekannnya yang bernama Usman Yusof, 30 tahun. Usman telah melarikan diri dari para penculiknya pada 5 Desember 2018 lalu dan sudah berkumpul bersama keluarganya.

Samsul sekarang ditahan bersama tiga korban penculikan lainnya, yakni satu orang warga negara Malaysia dan dua warga negara Indonesia yang diculik dari sebuah kapal pencari ikan di perairan Kinabatangan sebuah wilayah dekat rantai kepulauan Tawi-Tawi, Filipina. Diyakini, proses negosiasi uang tebusan dilakukan secara langsung dengan keluarga korban atau pemilik kapal.

Sejumlah media di Filipina memberitakan, kelompok Abu Sayyaf meminta uang tebusan untuk Samsul sebesar 4 juta peso atau sekitar Rp 2,9 miliar.




Dugaan Kerja Paksa Siswa Indonesia Pernah Terbongkar di Jepang

Ilustrasi belajar (tidak terkait berita) / Foto: Istock

Jakarta – Dugaan mahasiswa Indonesia jadi korban kerja paksa di Taiwan menghebohkan dan telah dibantah oleh pemerintahan Taiwan. Beberapa tahun silam, dugaan siswa dipaksa kerja pernah terbongkar di Jepang.

Peristiwa ini diberitakan oleh Japan Times pada 16 Maret 2017 lalu. Otoritas tenaga kerja menyerahkan dokumen kepada kejaksaan di Prefektur Miyazaki yang berisi dugaan kerja paksa terhadap siswa sekolah bahasa dari Indonesia.

Dalam dokumen itu ada nama Yutaka Shimizu (70), kepala kelompok yang mengelola Houei International Japanese Language Academy dan empat orang lainnya. Mereka diduga memaksa 6 orang siswa Indonesia untuk bekerja tanpa dibayar pada Desember 2015-Juni 2016.

Kantor inspeksi standar tenaga kerja setempat mengatakan para siswa diduga dipaksa menggunakan upah mereka untuk membayar biaya sekolah bahasa. Pihak berwenang menganggap ada kaitan antara prosedur ini dan Miyakonojo, program pendidikan di prefektur Miyazaki.

Pengacara yang mewakili operator sekolah tersebut menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak terlibat aktivitas ilegal. Perusahaan itu mengaku memberi kesempatan kerja kepada siswa yang ingin bekerja.

Dihubungi terpisah, Koordinator PPI Dunia, Pandu Utama Manggala, mengatakan informasi soal dugaan kerja paksa siswa Indonesia di Jepang sempat ramai dikabarkan. Dia mengatakan masalah itu kemudian sudah ditangani.

“Ketika itu, sempat ramai pemberitaan. Ada yang dijanjikan kalau sekolah bahasa tidak usah bayar justru sudah dapat living cost. Tapi ada beberapa oknum sekolah bahasa yang memanfaatkan sehingga beberapa siswa harus kerja tapi tidak dibayar. Alasannya untuk menutupi biaya sekolah,” kata Pandu saat dihubungi.

“Sudah tertangani KBRI dan KJRI di Jepang yang menindaklanjuti dengan cepat,” tambah mantan Ketua PPI Jepang ini.

Yang terbaru, kabar mahasiswa Indonesia menjadi korban kerja paksa di Taiwan sempat beredar luas. Pemerintah Taiwan lewat Ketua Perwakilan Kantor Ekonomi dan Dagang Taipei (TETO) Indonesia di Jakarta, John C Cen telah membantah hal itu.

Bantahan juga datang dari kampus di Taiwan yang disebut melakukan kerja paksa, Hsin Wu Technology University. Pihak kampus dengan tegas menyatakan bahwa apa yang beredar sama sekali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Senada dengan kampus, mahasiswa Indonesia di Hsing Wu University yang menempuh kuliah dalam program Industry-Academia Collaboration memastikan pihak universitas tidak memberlakukan kerja paksa dan juga tidak memberikan makanan dari bahan babi kepada para mahasiswa

Sumber: detikcom




Waspadai siklon Pabuk berdampak pada cuaca di Sumatera

“Siklon bergerak ke arah Barat dengan kecepatan 9 knot (15 km/jam) menjauhi  wilayah Indonesia dengan tekanan terendah 998 mb dan kekuatan  40 knot (75 km/jam).”

Hasil pantauan BMKG di Jakarta, Jumat (4/1/2019) terhadap pergerakan siklon tropis Pabuk yang berdampak pada cuaca di Indonesia terutama di wilayah Sumatera (Istimewa)

Jakarta  – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memantau adanya siklon tropis Pabuk di Laut China Selatan atau sekitar 560 km sebelah timur-timur laut Lhokseumawe, Aceh sehingga masyarakat diminta lebih waspada karena berdampak pada kondisi cuaca di Pulau Sumatera.

“Siklon ini memberikan dampak ke wilayah Indonesia utamanya Sumatera,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo yang dihubungi di Jakarta, Jumat.

Dampak yang dirasakan di wilayah Indonesia yaitu hujan ringan hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat.

Serta gelombang laut dengan tinggi 1,25-2,5 meter di Selat Malaka dan gelombang laut dengan tinggi 2,50-4 meter di Perairan Kepulauan Natuna, dan Laut Natuna Utara.

Mulyono menjelaskan, siklon tropis Pabuk terbentuk dari bibit siklon 97W yang tumbuh dan sudah terpantau oleh BMKG pada 31 Desember 2018.

Bibit siklon tersebut tumbuh menjadi siklon tropis sejak 1 Januari 2019 dan hingga saat ini masih terus berlangsung serta memberikan dampak terhadap cuaca di Sumatera.

Berdasarkan analisa BMKG, siklon tropis Pabuk bergerak ke Barat-Barat Laut dengan kecepatan 15 knot (27 km/jam)   menjauhi wilayah Indonesia dan tekanan terendah 994 mb serta kekuatan 45 knot (85 km/jam).

Diprakiraan pada 24 jam ke depan atau 5 Januari 2019 pukul 07.00 WIB, siklon tropis berada di Perairan barat Thailand dengan koordinat 9.2 Lintang Utara, 97.9 Bujur Timur atau sekitar 450 km sebelah utara Lhokseumawe.

Siklon bergerak ke arah Barat dengan kecepatan 9 knot (15 km/jam) menjauhi  wilayah Indonesia dengan tekanan terendah 998 mb dan kekuatan  40 knot (75 km/jam).

COPYRIGHT © ANTARA 2019

Editor: faisal




PPI Taiwan: Bukan Kerja Paksa Tapi Kelebihan Jam Kerja

Ketua PPI Taiwan Sutarsis/Net

Detikriau.org – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan menanggapi kabar adanya 300 mahasiswa asal Indonesia yang menjalani kerja paksa.

Menyusul hasil penyelidikan anggota parlemen Partai Kuomintang Ko Chih-En yang menemukan ratusan mahasiwa Indonesia yang menimba ilmu di Universitas Hsing Wu juga bekerja di pabrik kontak lensa.

“Mereka memang ikut program kuliah sambil magang. Jadi dari Indonesia memang sudah tahu bahwa akan belajar sambil kuliah, dapat gaji,” kata Ketua PPI Taiwan Sutarsis saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (3/1).

Sutarsis mengatakan, dirinya tidak setuju dengan istilah kerja paksa terhadap mahasiswa seperti selama ini beredar di publik.

“Kami kurang setuju karena menurut para mahasiswa yang ikut mereka memang tahu harus kuliah dengan kerja. Hanya saja ada kelebihan jam kerja yang menyalahi aturan, walaupun semua dibayar,” tuturnya.

“Menurut kami, setelah diskusi sama kawan-kawan di kampus tersebut memang tidak tepat kalau dikatakan kerja paksa. Tapi yang ada adalah kerja di luar batas jam, walaupun overtime tetap dibayar,” jelas Sutarsis.

Menurutnya, sebelum pihak parlemen Taiwan menemukan kejadian tersebut, PPI sudah menerima keluhan dari para peserta yang ikut program kuliah magang.

Untuk itu, Sutarsis berharap ada perbaikan tata kelola dari program kuliah magang. Di mana pemerintah Taiwan dan Indonesia memiliki wewenang bertemu dengan berbagai pihak-pihak yang terlibat dengan membuat aturan lebih detail dan mengikat.

“Agar mahasiswa kita dapat fasilitas pendidikan yang terbaik. Berharap pemerintah RI mulai mempertimbangan untuk menempatkan pejabat selevel atase pendidikan di Taiwan agar berbagai kerja sama ini terkelola, monitoring dan terevaluasi dgn baik,” papar Sutarsis yang merupakan mahasiswa S3 National Central University Taoyuan.

Sumber: Rmol.co




Viking Persib Club bantah dukung Jokowi-Ma’ruf Amin

Cawapres RI Ma’ruf Amin saat menerima perwakilan Bobotoh di Jakarta, Rabu (2/1/2019)

Bandung – Komunitas pendukung Persib Bandung, Viking Persib Club, membantah telah mendeklarasikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Jokowi-Ma`ruf Amin.

Bantahan itu unggah melalui akun instagram resmi Viking Persib Club. Selain itu pentolan Viking, Yana Umar, menuliskan bantahan serupa terkait dukungan terhadap Ma`ruf Amin.

“Sehubungan dengan maraknya pemberitaan media yang menyebut keberpihakan Viking Persib Club (VPC) mendukung salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Republik Indonesia 2019, bersama ini kami informasikan kepada distrik-distrik, para anggota VPC dan bobotoh pada umumnya, bahwa VIKING PERSIB CLUB selama ini tidak pernah mendeklarasikan dukungan kepada Capres maupun Cawapres pada Pemilu 2019 mendatang,” tulis Yana Umar, Kamis.

Masih tulis Yana, Viking Persib Club terlahir karena kebersamaan dan keberanekaragaman pandangan. Sebuah rumah yang di dalamnya ratusan ribu manusia dengan beragam pemikiran dan karakteristik yang berbeda-beda namun dipertemukan oleh takdir yang sama, yaitu mendukung Persib.

Sebelumnya, beberapa orang yang mengatasnamakan Viking mendatangi kediaman Ma`ruf Amin di Rumah Situbondo, Jakarta, Rabu. Mereka datang untuk menyatakan dukungannya bagi pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 1 tersebut.

Derek, salah satu yang datang ke kediaman Ma`ruf Amin mengatakan, dirinya datang untuk menyatakan dukungan atas restu dari Ketua Umum Viking, Heru Joko.

“Dukungan ini amanah dari ketua umum kami,” kata Derek

Saat dikonfirmasi langsung kepada Heru Joko, ia belum bisa memberikan keterangan secara langsung. Saat ini ia sedang berada di Jepang.

“Nanti saja ya, saya lagi di Jepang,” kata Heru.

Sementara itu, Ketua Viking Frontline, Tobias Ginanjar mengatakan, dalam organisasi setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Namun apabila mengatasnamakan organisasi terutama Viking, hal itu bukanlah sikap organisasi tersebut.

“Menurut saya tindakan tersebut kurang tepat karena sebenarnya bobotoh berasal dari beragam latar belakang pandangan politik yang berbeda-beda sehingga tidak bisa digeneralisasi menjadi pendukung si A dan si B yang justru nantinya malah memunculkan pro-kontra di kalangan internal bobotoh itu sendiri,” kata dia.

COPYRIGHT © ANTARA 2019