Daftar 8 Negara Tanpa Medali di Asian Games 2018

Jakarta — Terdapat delapan negara yang gagal medali hingga ditutupnya Asian Games 2018, Minggu (2/9).

Jumlah delapan negara yang gagal meraih medali sama dengan edisi Asian Games sebelumnya pada 2014 di Incheon.

China mempertahankan gelar sebagai juara umum di Asian Games 2018. Di peringkat kedua diraih Jepang dan ketiga ditempati Korea Selatan. Sedangkan Indonesia berada di posisi keempat.

Berikut uraian singkat delapan negara yang gagal meraih satu pun medali pada Asian Games di Jakarta dan Palembang.

1. Bangladesh

Bangladesh total mengirim 34 atlet di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Atlet-atlet itu bertanding di cabang sepak bola, golf, angkat besi, dan gulat.

Dari total 34 atlet tersebut, tak satu pun medali yang berhasil diraih negara Asia Selatan tersebut. Itu merupakan penurunan prestasi bagi Bangladesh karena pada 2014 negara itu meraih dua perak dan satu perunggu.

2. Timor Leste

Timor Leste kembali berpartisipasi di event multicabang Asian Games 2018. Sama seperti 2014, negara bekas provinsi Republik Indonesia itu juga gagal meraih satu pun medali.

adahal, Timor Leste mengirim 64 atlet ke Jakarta dan Palembang yang tampil di 12 cabang.

  1. Bruneri Darussalam

    Brunei Darussalam hanya mengirimkan 15 atlet yang tersebar di tujuh cabang olahraga. Cabor-cabor tersebut antara lain atletik, berkuda, golf, karate, pencak silat, angkat besi, dan wushu.

Brunei memperpanjang paceklik medali sejak meraih medali perunggu di cabor karate pada Asian Games 2002 di Busan Korea Selatan.

4. Bhutan

Bhutan mengirim 24 atlet pada edisi kali ini yang tersebar di cabor atletikl, tinju, golf, dan taekwondo. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan keikutsertaan kontingen itu di Incheon empat tahun lalu yang mengirim 16 atlet.

Tetap saja, Bhutan tak meraih satu pun medali sejak keikutsertaan negara itu di Asian Games 1990.

5. Yaman

Yaman mengirimkan 14 atlet yang tersebar di empat cabor yakni judo, takwondo, gulat, dan wushu. Meski demikian, Yaman tetap tak meraih satu pun medali.

6. Oman

Negara tetangga Yaman, Oman, juga bernasib sama. Mereka gagal mempersembahkan medali kendati bertanding di sembilan cabor yaitu, atletik, hoki, menembak, sepak bola, renang, bola voli pantai, tenis, layar, dan angkat besi.

Oman kali terakhir meraih medali perunggu di cabor atletik pada Asian Games 2010 yang dipersembahkan Barakat Al Harthi.

7. Sri Lanka

Sri Lanka merupakan kontingen terbanyak di Asian Games 2018 yang gagal meraih emas. Total 173 atlet yang mereka kirimkan. Namun, tak satu pun medali yang berhasil didapatkan negara tersebut.

  1. Maladewa

    Maladewa kembali menjadi negara langganan yang tak berhasil mempersembahkan satu pun medali di Asian Games sejak berpartisipasi pada 1990.

Sumber: CNN Indonesia




Indonesia Satu-satunya Negara di Asia Tenggara diurutan Sepuluh Besar Asian Games 2018

Detikriau.org – Indonesia menjadi satu-satunya Negara di Asia Tenggara yang masuk sepuluh besar klasemen Asian Games 2018. Indonesia finis diurutan ke empat dengan perolehan 31 Emas, 24 Perak, dan 43 Perunggu.

Diposisi puncak, direbut China dengan 132 emas, 92 perak dan 65 perunggu. China sekaligus mencatatkan sebagai juara umum untuk yang kesepuluh kalinya diajang Asian Games.

Posisi runner-up diduduki oleh Jepang dengan 75 emas, 56 perak dan 74 perunggu.

Sedangkan posisi ketiga direbut oleh Korea Selatan dengan 49 emas, 58 perak dan 70 perunggu.

Dari total 45 Negara peserta, delapan diantaranya tidak memperoleh medali.

Berikut daftar 37 Negara yang berhasil memperolehan medali Asian Games 2018




B20 Diluncurkan! Besok, Solar Sudah Campur Minyak Sawit 20%

Jakarta – Biodiesel B20 resmi diluncurkan pemerintah hari ini. Mulai besok, setiap SPBU wajib salurkan bensin solar dengan campuran minyak sawit sebanyak 20% ke pengguna kendaraan. 

Peluncuran dilakukan di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian. Dihadiri oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Sekjen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial, Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Rida Mulyana, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, dan lainnya.

“Kami bersyukur sesuai dengan rencana hari ini melaunching pelaksanaan B20 baik PSO (subsidi) maupun non PSO,” kata Darmin di acara peluncuran, Jumat, 31 Agustus 2018.

Darmin menjelaskan kebijakan ini dijalankan guna mendorong ekspor dan memperlambat impor untuk menyehatkan nerara pembiayaan dan mengurangi defisit transaksi berjalan.

Ada beberapa kebijakan yang direncanakan, salah satunya adalah penerapan B20. “Begitu kita mulai akan ada penghematan karena diesel atau solarnya dicampur minyak CPO. Berarti berkurang kebutuhan solarnya,” kata Darmin.

Darmin yakin kebijakan ini bisa berbuah cepat bagi negara, terutama untuk penyelamatan devisa. Sementara kebijakan lain membutuhkan proses agak lama, seperti penggenjotan industri pariwisata.

Berdasar hitungan Kementerian ESDM jika kebijakan berlaku efektif per 1 September nanti, maka penghematan yang bisa didapat negara untuk sementara adalah US$1,1 miliar atau Rp 15,8 triliun./*

sumber: cnbc indonesia




DPR Minta Satgas Pangan Polri Usut Peredaran Gula Rafinasi

JAKARTA – Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri mengusut peredaran gula rafinasi di pasaran. Sebab, gula rafinasi yang harusnya bagi kalangan industri ternyata beredar di pasar sebagai barang konsumsi.

Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menemukan gula rafinasi yang harusnya untuk industri ternyata merembes ke pasar konsumsi rumah tangga di berbagai daerah. Menurut Bambang, merujuk Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 117 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Gula, maka gula rafinasi tidak boleh diperdagangkan ke pasar.

“Meminta Satgas Pangan Polri untuk melakukan penyelidikan mengenai adanya gula rafinasi yang beredar di pasar tradisional, mengingat gula rafinasi seharusnya digunakan oleh industri,” ujarnya di Jakarta, Jumat (31/8).

Mantan ketua Komisi III DPR  itu mengatakan, Kementerian Perdagagan (Kemendag) harusnya menindak tegas produsen gula pemegang izin impor gula rafinasi dan perusahaan distribusi yang menjualnya ke pasar. Sebab, kata dia, praktik kecurangan itu membuat harga gula lokal anjlok sehingga merugikan petani.

“Pimpinan DPR meminta Kemendag dan Satgas Pangan untuk meningkatkan pengawasan  agar kasus beredarnya gula rafinasi di pasar tidak terjadi kembali,” kata legislator Partai Golkar itu.

Dia juga meminta Kemendag mengkaji ulang izin impor gula mentah 111 ribu ton yang diperkirakan masuk pada September 2018. Sebaiknya rencana untuk melakukan impor gula dikaji ulang dengan memperhatikan stok yang ada saat ini dan pasokan dari petani dalam negeri.

Bamsoet menegaskan, pemerintah semestinya memperhatikan petani tebu. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membeli gula hasil petani dalam negeri. Menurutnya, pemerintah bisa menggunakan Bulog.

“Meminta Kemendag mendesak Perum Bulog untuk menyerap gula yang diproduksi oleh petani dalam negeri,” tuturnya.

sumber: jpnn.com

 




Berapa Total Utang Pemerintah dalam Bentuk Dolar AS?

Jakarta – Utang pemerintah yang tembus Rp 4.000 triliun dikhawatirkan terus bertambah jumlahnya seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

berdasrkan data APBN dilansir detikcom, Jakarta, Jumat (31/8/2018). Total utang pemerintah per Juli 2018 sebesar Rp 4.253,0 triliun. Lalu berapa jumlah utang dalam valuta asing?

Dari data tersebut, valas dalam struktur utang pemerintah terdiri dalam mata uang dolar AS, Euro, dan Yen. Namun jika ditotalkan dalam dolar AS maka nilainya sekitar US$ 125 miliar atau setara Rp 1.804,42 triliun dengan kurs Rp 14.431 per akhir Juli 2018.

Total utang pemerintah dalam valas pun berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 779,71 triliun. Pinjaman luar negeri terdiri dari pinjaman bilateral, multilateral, komersial, dan suppliers.

Lalu, sekitar Rp 1.024,71 triliun berasal dari SBN yang berdenominasi valas. Jija dirinci, untuk SUN sebesar Rp 801,31 triliun dan SBSN sebesar Rp 223,40 triliun./*




Nilai Dolar Melesat, Fadli: Ini Warning Membahayakan

Foto ilustrasi: Net

JAKARTA – Nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hampir menembus Rp 15 ribu. Hingga Jumat (31/8) pagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar terpantau sudah menembus angka Rp 14.700.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyatakan nilai tukar dolar AS yang sudah nyaris menembus angka Rp 15 ribu itu merupakan peringatan serius bagi pemerintah.

“Ya ini menurut saya suatu warning yang membahayakan,” kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (31/8) dilansir JPNN.com.

Fadli mengingatkan krisis moneter 1997-1998 terjadi karena dimulai dari depresiasi nilai tukar rupiah.

Fadli masih ingat kala itu nilai tukar dolar yang awalnya Rp 2.200 merangsek naik menjadi Rp 6 ribu.

Kemudian pernah mencapai angka terburuk Rp 18 ribu dan kemudian di sekitaran Rp 14 ribu per 1 dolar AS.

“Sekarang ini dengan rupiah semakin melemah sampai ke titik Rp 14700 bahkan Rp 14800, ya ini menurut saya sangat membahayakan,” ujarnya.

Dia tidak setuju jika kondisi perekonomian global yang tidak stabil selalu dijadikan alasan melemahnya nilai tukar rupiah.

Fadli menegaskan itu adalah alasan klasik. “Anak lulusan SD juga bisa ngomong begini. Jadi justru ini apologi yang menurut saya tidak bisa diterima,” kata Fadli.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan pemerintah harus melakukan sesuatu dengan kondisi seperti sekarang ini.

Fadli menilai selama ini kelihatan tidak ada intervensi kebijakan yang setidaknya bisa menahan laju depresiasi nilai tukar tersebut.

Pemerintah jangan justru melakukan kebijakan impor beras dan gula di tengah melemahnya nilai tukar.

Selain merugikan petani yang tengah memasuki masa panen, kebijakan impor juga bisa membuat kurs semakin melemah.

“Saya kira sangat membahayakan terhadap kedaulatan pangan, tetapi juga terhadap kurs kita yang akan semakin melemah,” katanya.

Fadil menyatakan seharusnya ada langkah-langkah yang jelas dari pemerintah. Supaya kehadiran pemerintah terutama tim ekonomi dirasakan masyarakat./*/JPNN