Aksi Bela Tauhid jilid II, Ribuan Umat Islam Bergerak Menuju Istana

Jakarta – Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Aksi Bela Tauhid jilid II bergerak menuju Istana Negara Jakarta di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (2/11).

Peserta Aksi Bela Tauhid II mayoritas menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Gambir, Jakarta Pusat itu secara bertahap menyiapkan barisan di depan Masjid Istiqlal, tepatnya di pintu gerbang, seberang Gereja Katedral.

Kibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid sambil long march menuju Istana Negara, peserta aksi mengumandangkan yel-yel, “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah”.

“Saudara-saudaraku jangan sampai bendera Tauhid menyentuh tanah,” pesan salah satu orator melalui pengeras suara dilansir melaui rmol.co

Jumlah peserta yang mengikuti aksi kali ini jauh lebih banyak dari Aksi Bela Tauhid I yang digelar pekan lalu. Hampir seluruh peserta membawa bendera Tauhid berbagai ukuran.

Mereka akan terus mendesak dalang pembakaran bendera Tauhid pada perayaan Hari Santri Nasional (HSN) di Garut dihukum berat.

“Hidup dan mati kami hanya untuk tangkap dan penjarakan lelaki dan pihak yang menyuruh melakukan pembakaran bendera Tauhid umat Islam,” bunyi pesan yang ditulis di sisi atas dan bawah bendera Tauhid

Akses Ke Istana Ditutup, Massa Aksi Bela Tauhid Tertahan Di Patung Kuda

Aparat keamanan menutup Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat terkait dengan adanya Aksi Bela Tauhid jilid II.

Dengan penutupan itu, peserta aksi tertahan di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, persis di depan pintu Tugu Monas sisi barat.

Mereka tidak bisa menyampaikan aspirasi di depan kantor Kemenko Polhukam dan Istana Negara Jakarta.

Jalan ditutup dengan kawat berduri dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Di belakang kawat, berdiri personel keamanan dari kepolisian.

Dari atas mobil komando, seorang orator meminta beberapa pentolan dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan aktivis Islam untuk maju mendekat.

“Kepada para delegasi yang akan menemui Presiden di Istana, kami harapkan maju ke depan mobil komando, dekat jembatan penyeberangan,” serunya

Dia pun memanggil para ulama maupun aktivis Islam satu persatu. Mereka adalah KH Ahmad Mihdan, KH Nasir Zein, Eggy Sudjana, Ustaz Slamet Ma’arif, Habib Hanif Alatas, KH Sobri Lubis, KH Kurtubi, KH Abdurrasyid Asyafii, KH Muhammad Al-Khattath, Hj Neno Warisman.

“Nanti akan dipimpin oleh Ustaz A Mashuri untuk menuju ke Istana dengan mobil,” pungkasnya.

Namun dikabarkan, saat ini Presiden Joko Widodo sedang tak ada di Istana Negara. Dia sedang menjalankan tugas kenegaraan di luar Istana.

Editor: Faisal

Sumber: rmol




Selundupkan 44 Kg Sabu, Kopral TNI Terancam Bui Seumur Hidup

Koptu Nurdianto dalam persidangan militer karena diduga terlibat peredaran sabu, Kamis (1/11). (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)

Jakarta — Kopral Satu (Koptu) Nurdianto dituntut dengan pidana penjara seumur hidup, denda sebesar Rp5 miliar dan subsider 10 bulan kurungan. Prajurit TNI yang bertugas di Yonif 125 Simbisa Kodam I Bukit Barisan ini disebut terlibat dalam peredaran narkotika jenis sabu seberat 44 kilogram.

Tuntutan itu dibacakan Kepala Oditur Militer I-02 Medan, Kolonel Budiharto, di hadapan Ketua Majelis Hakim Kolonel Chk Bambang Indrawan,SH (Kadilmil I-02 Medan) serta anggota Mayor Chk Musthofa, SH dan Mayor Chk J.M.Siahaan, M.Hum, di Pengadilan Militer Medan, Kamis (1/11).

“Menuntut terdakwa dengan pidana pokok yakni pidana penjara seumur hidup, denda sebesar Rp5 miliar dan subsider 10 bulan kurungan. Selain itu pidana tambahan dipecat dari militer. Mohon terdakwa agar tetap ditahan,” ucap Budiharto dalam tuntutannya.

Budiharto mengatakan perbuatan terdakwa melanggar Pasal 114 ayat (1) dan ayat (2) UU Narkotika juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Bahwa, terdakwa telah tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman beratnya lebih dari 5 gram yang dilakukan secara bersama-sama.

Dia menyebut ada sejumlah hal yang memberatkan hukuman bagi terdakwa. Salah satunya, itu merupakan perbuatan keenam kalinya.

“Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa saat berdinas TNI tidak sesuai dengan Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI. Perbuatan terdakwa bisa merusak generasi dan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

“Perbuatan yang dilakukan terdakwa bukan hanya sekali, akan tetapi sudah yang keenam kalinya. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa sudah mengabdi di TNI dan sudah beberapa kali melaksanakan operasi tugas,” ia menambahkan.

Usai mendengarkan pembacaan tuntutan itu, majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan pleidoi atau pembelaan yang akan dibacakan pada persidangan pekan depan.

“Saudara bisa menyampaikan pleidoi atas tuntutan pada persidangan pekan depan,” ucap Kolonel Chk Bambang Indrawan sembari mengetuk palu.

Dalam perkara ini, Nurdianto ditangkap terkait jaringan pengedar narkotika yang diungkap tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Sumut di Serdang Bedagai, Sumut, pada pertengahan Juli 2017. Ketika itu tim menangkap delapan orang pelaku dan menembak mati dua orang lainnya.

Delapan orang yang ditangkap yakni Anyar, Rofi, Marzuki, Saidul Saragih, Ahmad, Untung, Edy Saputra dan Aiptu Suherianto. Nama terakhir ini merupakan anggota Polres Serdang Bedagai yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pos Polair Pantai Cermin. Dua orang yang ditembak mati yakni Bambang Julianto dan Moh Syafii alias Panjul alias Boy.

Delapan pelaku itu sudah dijatuhi hukuman di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam pada April 2018 dan putusannya telah dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Medan.

Tujuh di antaranya dijatuhi hukuman mati, yakni Anyar, Rofi, Marzuki, Saidul Saragih, Ahmad, Untung dan Suherianto. Seorang lainnya, Edy Saputra dijatuhi hukuman pidana penjara seumur hidup.

Selain 10 orang itu, terdapat dua personel TNI yang terlibat, yakni Koptu Nurdianto dan Kopda Fuad, yang merupakan personel TNI AU. Nurdianto bertugas menjemput narkotika dari tengah laut menggunakan perahu motor milik Suherianto.

Sementara Fuad mengamankan mobil yang disewa untuk membawa sabu-sabu dari Medan ke Pekanbaru. Namun, persidangan Fuad belum sampai pada pembacaan tuntutan. Dalam persidangan, Nurdianto mengaku sudah enam kali menjemput sabu-sabu di tengah laut. Perbuatan itu dilakukannya sejak 2015.

Hukuman Pantas

Usai persidangan, Budiharto menyebut penjara seumur hidup bagi terdakwa sudah tepat.

“Kami nilai sangat tepat penjara seumur hidup itu. Sesungguhnya pidana yang sangat berat bagi prajurit itu adalah pidana tambahan dipecat dari militer. Kenapa? karena dengan dipecat, itu semua akan musnah, mata pencarian dan penghasilan untuk anak istri semua musnah,” pungkasnya.

Saat disinggung peran terdakwa yang sudah enam kali terlibat dalam penyeludupan narkotika, Kol Budiharto malah menyebutkan hal itu tidak terbukti.

“Mengenai hal yang enam kali bawa sabu, itu hanya berdasarkan pengakuan saja, dan karena yang terbukti yang terakhir itu saja yang tanggal 15 Juli 2017. Sementara, yang lima kali itu hanya sebuah pengakuan saja. Mengenai siapa pemilik barang [sabu] yang sebelum diberikan kepada terdakwa, ini tidak terungkap, terdakwa hanya melaksanakan dari Iptu Surianto saja,” papar dia.

CNN Indonesia




500 Hari Kasusnya Tak Diungkap, Novel Baswedan Protes Jokowi

Penyidik KPK Novel Baswedan dalam diskusi yang bertema ‘500 Hari Dibiarkan Buta’ Photo :
VIVA/Edwien Firdaus

Detikriau.org – Sudah 500 hari, teror penyerangan air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan dibiarkan tak terungkap. Dalih polisi yang mengklaim kasus ini masih terus diselidiki semakin menambah kabur bukti dan fakta yang bisa diungkap. Mengingat, tidak ada progres apapun dari apa yang dilakukan polisi.

Novel mengatakan, tugas memberantas korupsi bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab, ancaman serta teror psikis dan fisik muncul seiring dengan upaya penindakan terhadap kasus korupsi. Setidaknya, ada lima kasus teror dan intimidasi yang diterima pegawai KPK oleh oknum tertentu.

“Saya ingin ceritakan bahwa, di KPK yang diserang itu bukan cuma saya, banyak. Saya bilang banyak karena lebih dari lima, banyak yang diserang juga. Saya baru tau kemarin ketika berbicara dengan beberapa rekan di KPK,” kata Novel dalam diskusi yang bertema #500HariNovelDibiarkanButa: Urgensi Perlindungan Penggiat Keadilan, di kantor KPK, Kamis, 1 November 2018 dilansir dari Viva

Menurut Novel, teror dan intimidasi yang dialami oleh rekan-rekannya di KPK tak kalah kejamnya dari apa yang dia alami, yakni disiram air keras. Serangan dan intimidasi yang dialami pegawai KPK seperti penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK, ancaman bom bahkan sampai ada yang diculik, ditangkap ketika bertugas dan diancam pembunuhan.

“Pernah safe house KPK itu diserbu, dengan tanpa aturan hukum, pernah pegawai KPK diculik. Saya penyidik, saya paham bagaimana penangkapan, lalu saya bilang diculik, terus banyak lagi hal-hal lain. Rumahnya dipasangin bom, walaupun setelah dicek bom itu palsu. Bagaimana dengan mobil pegawai KPK yang disiram air keras, lalu ancaman pembunuhan lainnya. Dan itu sampai sekarang dibiarkan. Terakhir terjadi di akhir 2017, saat itu saya sedang sakit di Singapura,” papar Novel.

Novel juga tetap berkeyakinan bahwa kasus penyerangan dan teror air keras yang dia alami sengaja tak mau diungkap Kepolisian. Seperti yang telah ia katakan 15 bulan lalu di beberapa media.

“Jadi bila seumpama diterangkan bahwa ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu (hanya) formalitas. Kemudian saya mendengar masukan-masukan yang saya dapat dari senior-senior di Mabes Polri, mereka sarankan sebaiknya dibentuk TGPF (tim gabungan pencari fakta),” ujar Novel.

Itu pun, tekan Novel, dirinya telah menyampaikan sejak awal pasca penyerangan, namun sampai hari ini belum juga diakomodir oleh penguasa.

“Tapi sejak awal disampaikan, saya tak pernah meminta urusan penyerangan kepada saya dijadikan yang utama. Dengan permintaan saya semua teror tersebut diungkap. Karena saya masih ingat betul dalam suatu kesempatan, pimpinan KPK menyampaikan juga bahwa pimpinan KPK berkeinginan melindungi kami,” ungkapnya.

Novel menambahkan, perlindungan terbaik itu apabila setiap ada teror maupun ada penyerangan berhasil diungkap. Sehingga pesan pentingnya adalah pelaku akan takut berbuat lagi dan memberikan rasa aman serta perlindungan psikis kepada pegawai KPK dalam menjalankan tugasnya.

“Lalu bagaimana yang diculik dan didiamkan. Ini bukan suatu hal yang biasa. Di beberapa kesempatan terakhir saya menyampaikan, mohon maaf ini, sebelum pemilu, saya sampaikan Bapak Presiden mestinya menjadi fokus hal ini, sejak awal sampaikan hal ini. Saya berharap dapat diselesaikan, karena itu bentuk dukungan riil pemerintah terhadap masalah pemberantasan korupsi, tapi itu tidak terjadi,” tegas Novel.

Seharusnya lanjut Novel, ketika kebuntuan ataupun ada ketidaksungguhan aparat penegak hukum dalam mengungkap suatu kasus, Presiden sejatinya perlu mengambil alih dengan memberi perhatian khusus, memerintahkan staf-stafnya agar hal tersebut dapat diungkap.

“Seandainya tidak mau mengungkap masalah saya, tidak jadi masalah, tapi saya berharap bisa mengungkap semua penyerangan pada pegawai pegawai KPK lainnya. Bukan kah itu hal yang masuk akal?”

Diketahui Novel mengalami penyerangan air keras yang mengakibatkan kerusakan pada matanya oleh orang tak dikenal. Penyerangan itu terjadi pada April 2017, yang sekaligus menambah daftar serangan terhadap pegawai KPK. Namun sampai hari ini polisi belum juga berhasil menangkap para pelakunya




Penyelaman Lion Air JT 610 Akui Alami Kejadian Aneh. Dengar Panggilan Suara wanita di Dasar Laut

Photo: VIVA/Anwar Sadat

Jakarta – Proses evakuasi korban dan bangkai kapal Lion Air JT 610 terus dilakukan. Tak hanya dari TNI, Polri dan Basarnas, proses evakuasi juga melibatkan komunitas selam, salah satunya adalah Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

Malik, penyelam POSSI asal Semarang mengaku dirinya kerap dilibatkan proses evakuasi seperti ini. Dia menceritakan dari mulai tidak biasa mengangkat bagian tubuh korban sampai akhirnya hal itu menjadi hal yang tidak asing lagi baginya.

Dilansir dari Viva, dalam penyelaman pencarian penumpang JT 610 di Laut Jaya Karawang kali ini, bahkan ia mengaku juga mengalami beberapa kejadian aneh. Seperti tiba-tiba misalnya ada suara yang memanggil padahal dia sedang berada di kedalaman puluhan meter di bawah laut.

“Iya memang kadang mengalami hal semacam itu, tapi saya biasa saja karena hal-hal seperti itu di Alquran kan memang ada. Jin dan Manusia itu memang diciptakan oleh Allah,” ujarnya.

Selain Malik, seorang penyelam dari TNI AL yang enggan disebutkan namanya juga mengaku kerap mengalami hal serupa. Dia seperti mendengar ada suara wanita yang berteriak memanggil saat dia melakukan penyelaman untuk mencari korban pesawat Lion Air JT 610.

Namun penyelam dari Kopaska ini enggan untuk berpikiran negatif. Dia menganggap hal itu hanya halusinasi saja.

“Kita seperti merasakan, ada yang teriak manggil. Tapi kita enggak hiraukan. Kita anggap itu paling bagian dari halusinasi saja,” ujarnya.

Untuk menjadi penyelam yang ikut dalam evakuasi bersama Basarnas, tidak hanya berdasarkan kemauan, tetapi juga dipilih karena telah memiliki kemampuan.

Beberapa kriteria yang dipilih adalah orang tersebut harus memiliki kemampuan menyelam yang baik, fokus, dan juga mudah bergaul.




Kondisi Indonesia Jadi Alasan Cucu Pendiri NU Gabung Prabowo

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari, Irfan Yusuf Hasyim. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho).

Jakarta — Irfan Yusuf Hasyim, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari, mengatakan kondisi Indonesia sudah berbeda dalam empat tahun terakhir era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Hal itu menjadi alasan Irfan bergabung dan menjadi Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

“Kita seperti tidak di Indonesia lagi, di mana setiap orang masing-masing saling memaki, saling mengejek, saling bertentangan dan itu terbuka secara umum,” tutur pria yang akrab disapa Gus Irfan tersebut di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta, Kamis malam (1/11).

“Dan ini harusnya bisa diminimalisir oleh pemimpin kita,” lanjutnya.

Hal lain yang menurutnya Indonesia berbeda dalam empat tahun ke belakang, yakni seputar kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik. Menurutnya, banyak masyarakat khususnya di pedesaan terjepit dengan kondisi ekonomi dalam empat tahun terakhir.

Bukan tanpa alasan. Gus Irfan mengatakan hal itu berdasarkan apa yang dilihat dan didengarnya dari para petani tebu di kampung halamannya.

“Saya ini tinggal di pedesaan. Saya ini petani tebu juga. Saya tahu bagaimana mereka menangis tebu. Mereka menangis harga gula sekarang. Itu sudah susah,” ucap Gus Irfan.

“Saya ketemu orang-orang kecil di sana, tahu saya [kondisi] semua,” lanjutnya.

Gus Irfan juga mengatakan dirinya menjabat sebagai Ketua Lembaga Perekonomian di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Oleh karena itu, dia mengklaim tahu betul keluhan masyarakat soal ekonomi.

“Saya di NU, kebetulan menjadi wakil ketua lembaga perekonomi di NU pusat, jadi ya saya tahu persis kondisi kita,” kata Gus Irfan.

Gus Irfan menganggap Prabowo-Sandi memiliki program yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Tentu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gus Irfan berharap dirinya dapat membantu BPN Prabowo-Sandi dalam mensosialisasikan program-program ekonomi. Khususnya yang berkaitan dengan ekonomi keumatan.

“Saya kira dengan banyaknya ide-ide dari Bang Sandi bisa kita sinergikan supaya bisa bermanfaat kepada umat,” kata Gus Irfan

CNN Indonesia




PA 212 Pastikan Aksi Bela Tauhid II Tetap Digelar Besok

Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Jakarta — Massa yang mengatasnamakan Presidium Alumni (PA) 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF U), memastikan tetap turun padaAksi Bela TauhidJilid II yang digelar Jumat (2/11). Aksi dipastikan terpusat di halaman depan Istana Negara, Jakarta.

“Dipusatkan di depan Istana Negara, dari Masjid Istiqlal terus ke istana,” ujar Sekretaris Umum Presidium Alumni 212, Bernard Abdul Jabbar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (1/10).

Diketahui aksi ini merupakan lanjutan dari aksi yang telah digelar pada Jumat (26/10). Bernard mengklaim jumlah massa aksi yang akan hadir sebanyak 10 ribu orang.

Ia mengatakan aksi tetap digelar meskipun aktor yang membakar bendera itu sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian. “Kita ingin mencari dalang yang bakar bendera berlafaskan tauhid itu, walaupun yang sudah bakar itu sudah jadi tersangka,” kata dia.

Bernard pun membantah bahwa pihaknya akan menuntut pemerintah untuk membubarkan Barisan Serbaguna Ansor (Banser) NU dalam aksi tersebut. Ia menegaskan tuntutan massa aksi agar pemerintah segera mencari dalang atau aktor utama yang menggerakkan maupun yang mendanai pembakaran bendera kalimat tauhid tersebut.

Selain itu, Bernard juga berharap pemerintah dapat membuka pintu Istana untuk melakukan audiensi. Ia berkeinginan agar perwakilan massa bisa masuk ke dalam Istana untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo ataupun yang mewakilinya.

“Ya kalau diterima kita mau, tidak diterima juga enggak apa-apa,” kata dia.

CNN Indonesia