Mampukah DJP Kejar Rp 407,48 T Kekurangan Penerimaan Pajak?

Foto: Ari Saputra

Jakarta – Penerimaan pajak telah mencapai Rp 1.016,52 triliun atau 71,39% dari target APBN yang sebesar Rp 1.424,00 triliun. Di sisa waktu yang kurang dari dua bulan ini setidaknya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus mengumpulkan Rp 407,48 triliun lagi. Mampukah?

Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak mengatakan Hestu Yoga Saksama mengatakan pihaknya ditargetkan mengumpulkan penerimaan pajak hanya sebesar 94,9% atau Rp 1.350 triliun.

“Sesuai outlook APBN 2018, kami optimis penerimaan pajak sampai dengan akhir tahun bisa tercapai sebesar Rp 1.350 triliun atau 94,9% dari target Rp 1.424 triliun,” kata Hestu saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (20/11/2018) dilansir detikcom

Hestu menyebut, untuk mencapai target outlook penerimaan pajak 2018 juga butuh usaha ekstra, yaitu mempertahankan pertumbuhan penerimaan pajak di Oktober 2018 yang sebesar 17,6%.

“Target outlook tersebut akan tercapai apabila penerimaan 2 bulan terakhir ini tumbuh sekitar 17,6%, konsisten dengan pertumbuhan Januari sampai Oktober kemarin,” ujar dia.

Penerimaan pajak sampai Oktober 2018 telah Rp 1.016,52 triliun atau 71,39% dari target APBN. Angka tersebut kurang Rp 407,48 triliun dari target.

Hestu mengungkapkan, pihaknya tetap optimis penerimaan pajak bisa terkumpul 94,9% atau Rp 1.350 triliun dari target APBN karena tren akhir tahun penerimaan mengalami peningkatan.

“Karena belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat di akhir tahun. Untuk 2 bulan terakhir angkanya biasanya berkisar antara 20% sampai dengan 24% dari target total,” ujar dia.




Dokter Kerja Rodi Akibat Pemerintah Nunggak BPJS

Jakarta, detikriau — Permasalahan BPJS Kesehatan yang menunggak pembayaran pada rumah sakit merupakan ketidaksempurnaan sistem.

“Kalau ada dokter, perawat sekarang kayak kerja rodi tapi bayaran sangat kecil. Bukan cuma itu rumah sakit juga kebanyakan nunggak pemerintah,” ujar Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) Mardani Ali Sera dalam deklarasi Emak-Emak Indonesia Jaya (Mak Ija) di Duren Sawit, Jakarta, Selasa (20/11) dilansir rmol.co

Seharusnya, kata Mardani, sistem BPJS Kesehatan mempermudah akses bagi masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Kita akan perbaiki BPJS kita di 2019, BPJS harus membuat masyarakat tidak ngantri lagi. BPJS membuat dokter dan perawat  mendapat bayaran yang benar, BPJS harus bikin rumah sakit tidak rugi,” jelasnya.

Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) setidaknya hingga akhir 2018 defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp 10,98 triliun. Hal tersebut yang membuat pelayanan BPJS Kesehatan tidak maksimal.




Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

JAKARTA – Politikus Gerindra Bambang Riyanto optimistis Prabowo Subianto bisa menyelesaikan masalah honorer K2 (kategori dua). Keyakinan itu lantaran Prabowo dinilai sosok negarawan sejati.

“Bukan karena saya kader Gerindra lantas saya memuji Pak Prabowo. Beliau itu negarawan sejati, berani mengakui salah, minta maaf tanpa mengorbankan anak buah. Indonesia sekarang krisis negarawan sejati,” kata Bambang kepada JPNN, Selasa (20/11).

Mantan bupati Sukoharjo ini menambahkan, Prabowo sempat kaget mengetahui masalah honorer K2 yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit. Itu sebabnya, Prabowo pun sepakat memasukkan penyelesain masalah honorer K2 dalam program kerjanya.

“Pak Prabowo bukan melihat itu masalah warisan masa lalu atau enggak. Yang dilihat adalah anak bangsa, mengabdi puluhan tahun dengan gaji kecil tapi dibiarkan. Rasa kemanusiaan beliau yang menguat ketimbang pencitraan,” tuturnya.

Dia menambahkan, masyarakat saat ini bukan butuh sosok pejabat yang jago pencitraan. Yang dibutuhkan adalah sosok pembaru dan pemberi solusi.

Pemerintah merasa telah menyelesaikan masalah honorer K2 dengan mempercepat RPP Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, itu bukan solusi yang diharapkan honorer K2.

“Mereka itu layak dijadikan PNS bukan dikontrak. Yang dituntut honorer K2 kan janji pemerintah menyelesaikan secara bertahap. Sudah ada roadmap-nya di 2015 tapi malah menguap,” sesal anggota Badan Legislasi DPR RI ini




Bersaing dengan 72 Negara, Polri Raih Juara Menembak di Tiongkok

Tim Polri meraih juara pada ajang World Police Pistol Shooting Championship 2018 di Guangdong, Tiongkok, Senin (19/11/2018). (Foto: Istimewa/inews)

Jakarta — Kontingen Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berhasil meraih juara ketiga dalam ajang kejuaraan internasional World Police Pistol Shooting Championship 2018 di Provinsi Guangdong, Tiongkok, Senin (19/11/2018) kemarin.

inews.id mengabarkan, Dalam kejuaraan tersebut, tim penembak Polri menjadi juara pada nomor beregu dan perorangan. Kontingen Polri dipimpin Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose (selaku ketua tim) dengan lima anggota yaitu, Kombes Pol Drs Widodo, Komisaris Pol Kevin Leleury, AKP Anggi Saputra Ibrahim, Aiptu Sonny Prabowo, dan Aiptu Anang Yulianto.

“Ini menjadi prestasi yang sangat membanggakan bagi Indonesia, khusunya Polri karena berhasil membentangkan atau mengibarkan bendera pusaka Indonesia yaitu Bendera Merah Putih dalam ajang internasional di negeri tirai bambu,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (20/11/2018).

Dia menuturkan, keberhasilan tim penembak Polri memenangkan juara ketiga di Tiongkok menjadikan nama Indonesia diperhitungkan dalam kemapuan menembak pistol di seluruh dunia. Prestasi itu sekaligus mengharumkan nama Indonesia dalam sejarah ajang World Police Service Shooting Company.

Kejuaraan yang diselenggrakan pada 12–20 November 2018 itu diikuti 73 negara dari seluruh dunia. Lomba itu bertujuan untuk mendorog anggota polisi di seluruh dunia agar terus meningkatkan kemampuan menembak dalam meningkatkan efisiensi penggunaan senjata dalam bertempur dan juga dapat meningkatkan komunikasi polisi antarnegara, terutama dalam kerja sama di bidang keamanan.

“Dengan bukti prestasi saat ini, Polri optimistis dapat mengharumkan nama Indonesia dalam ajang selanjutnya, yaitu Asean Police Shooting, yang akan dilangsungkan di Milan, Italia,” tutur Dedi.




Mamasa Hari Ini Kembali diguncang Gempa. Kali Ini Berkekuatan 4,2 SR

Laporan: Ari Permana

Sulbar, detikriau.org – Gempa bumi lagi-lagi guncang tanah mamasa provinsi Sulawesi Barat.

Gempa berkekuatan 4,2 SR ini terjadi pada minggu (20/11) pukul 11:54:22 Wib.

“pusat gempa berada di darat 17 km Timur Laut Mamasa atau pada titik koordinat 2.94 LS dan 119.36 BT pada kedalaman 10 Km,” rilis BMKG melalui laman resminya

Gempa dirasakan pada skala MMI, III di Mamasa dan II di Toraja.




I Wayan Koster Akan Sikat Bisnis Ilegal Mafia Tiongkok di Bali

DENPASAR – Gubernur Bali I Wayan Koster menunjukkan ketegasannya terkait maraknya toko milik warga negara Tiongkok yang beroperasi secara ilegal di daerahnya. Menurut Koster, semua praktik usaha yang menyalahi aturan harus ditindak.

Koster mengatakan, permasalahan yang terjadi selama ini adalah adanya tindakan melanggar hukum yang dilakukan beberapa toko Tiongkok. Karena itu, mantan legislator PDI Perjuangan tersebut meminta kepada bupati/wali kota se-Bali untuk segera menertibkan usaha akomodasi, perjalanan wisata maupun perdagangan yang melakukan praktik tidak sehat dan melanggar peraturan perundang-undangan.

“Terhadap jenis-jenis usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan agar dilakukan tindakan penutupan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ucap Koster seperti diberitakan Radar Bali edisi Senin (19/11).

Selain itu, Koster juga meminta para pemangku kepentingan terkait pariwisata bisa kompak demi mewujudkan kepariwisataan yang berkualitas di Bali. Menurutnya, asosiasi pengusaha pariwisata yang ada saat ini harus ikut berkontribusi agar permasalahan serupa tidak terulang lagi.

Asosiasi yang ada sangat berperan demi terwujudnya pariwisata yang berkualitas. Saat ini, ibaratnya kita hanya mendapatkan sampahnya saja. Jadi kalau ada yang bermain, tindak tegas saja,” ujarnya.

Toko Tiongkok Dirazia, Tak Satu pun Jual Produk Indonesia

Awal November yang lalu, petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar menggelar inspeksi mendadak (sidak) di beberapa toko kerajinan milik warga negara Tiongkok. Dari empat toko yang dirazia, tak satu pun yang menjual barang buatan Indonesia.

Dalam razia itu tim gabungan menyasar toko- toko yang ada di kawasan Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai dan Jalan Raya Sesetan, Denpasar. Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (KUKM) Satpol PP Kota Denpasar I Nyoman Sudarsana mengungkapkan, razia itu melibatkan 40 personel.

Menurutnya, razia itu sebagai tindak lanjut atas rapat dengar pendapat DPRD Provinsi Bali dengan sejumlah unsur pemangku kepentingan di bidang pariwisata pada Rabu lalu (31/10).

“Ini sebagai tindaklanjut dari kami sesuai dengar pendapat yang telah berlangsung di DPRD Provinsi Bali,” ujarnya.

Dalam sidak itu, tim mendatangi toko Masso Latex di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Toko itu menjual kasur, bantal, selimut dan sejenisnya yang berbahan lateks.

Namun, toko itu hanya bisa menunjukkan izin dari Kementerian Perdagangan saja. Namun, tak ada izin dari pemerintah daerah.

Selain itu, tim juga menyambangi toko bernama Meiny dan Amuei di Jalan Raya Sesetan, Denpasar yang menjual produk Tiongkok. “Satu pun tidak ada produk Indonesia, dan ketiga usaha ini tidak memiliki izin apa pun alias bodong,” ungkap Sudarsana.

 

Wagub Bali Pergoki Modus Curang Wisata Murah ala Tiongkok

Praktik kecurangan lainnya juga terungkap. Informasi tentang paket wisata ke Bali yang dijual murah oleh agen perjalanan di Tiongkok ternyata benar adanya. Paket wisata murah itu seolah hanya jadi kedok, karena perputaran uangnya lebih banyak untuk Tiongkok.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati bahkan menelusuri sendiri modus wisata murah ala Tiongkok itu. Wakil gubernur yang akrab disapa dengan panggilan Cok Ace itu menyambangai beberapa toko kerajinan milik warga negara (WNA) Tiongkok.

Lokasi toko itu berada di seputaran Jalan By Pass Ngurah Rai, Nusa Dua. Barang-barang yang dijual seolah-seolah kerajinan dari Indonesia.

Saat sidak, Cok Ace melihat setiap wisatawan Tiongkok yang datang ke toko itu diajak ke ruangan khusus. Untuk kamuflase, barang jualan dan aksesori yang dipajang seperti buatan perajin Indonesia.

Di toko itu juga ada foto Presiden Joko Widodo dan pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keduanya tampak mengenakan batik.

Hal yang membuat Cok Ace geram adalah penggunaan lambang garuda pada invoice pembayaran. Invoice ini sebagai bentuk jaminan bahwa toko itu benar milik orang Indonesia.

Cok Ace bertanya ke bos toko itu yang mengaku bertransaksi menggunakan rupiah. Nyatanya, sistem pembayarannya menggunakan kartu Tiongkok dengan aplikasi WeChat.

Dengan demikian, transaksi itu tak tercatat di Indonesia. Praktis, Indonesia juga tak bisa menerapkan pajak.

“Dan satu lagi yang menyedihkan. Mereka pakai stempel garuda untuk menguatkan bahwa ada jaminan dari Indonesia. Seolah-olah kalau saya jadi wisatawan, stempel garuda ini menguatkan bahwa ini jaminan dari pemerintah Indonesia,” tutur Cok Ace.

Wakil gubernur yang juga pelaku pariwisata itu mengatakan, jika praktik tersebut terus dibiarkan maka citra pariwisata Bali akan dirugikan. Bahkan, Bali tak memperoleh untung apa pun dari paket wisata murah ala Tiongkok.

Dari segi citra dan ekonomi, kata Cok Ace, Bali hanya mendapatkan sampahnya saja. Anehnya, ketika rombongan Cok Ace datang, ada barang-barang yang langsung dibungkus dan digulung oleh karyawan toko itu.

“Alurnya wisatawan masuk ke dalam satu ruangan dan diberi penjelasan. Terus mencoba lateksnya. Saya pikir tadi pegawai spa tidur-tiduran di lateks dan lain sebagainya,” bebernya.

Ada foto Presiden Jokowi dan SBY memakai batik. Di sampingnya lateks yang dijual bukan buatan Indonesia.

“Saya khawatir ini menjadi bahan promosi seolah – olah dipakai oleh Presiden RI. Ini lho barang- barang seolah-olah seperti itu. Saya sebagai wisatawan melihat kejadian seperti itu seolah olah seperti itu. Tapi, begitu kita masuk langsung digulung dan dibungkus,” keluhnya.

Cok Ace memastikan sidaknya kali ini untuk menanggapi pemberitaan media bahwa paket wisata ke Bali dijual murah oleh agen-agen nakal di Tiongkok.  “Dan, ternyata benar. Jelas, ini sangat merugikan pariwisata Bali,” tukas Wagub Cok Ace.

Sumber: jpnn.com    Editor: Faisal