Drama Baku Tembak, DPO Dipaksa Bertekuk Lutut

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Drama baku tembak terjadi di Jalan Lintas Provinsi Parit VII Lorong Suhada II Kecamatan Tembilahan Hulu antara petugas Kepolisian yang dibantu personil militer dengan tersangka DPO, Hendro (40). Rentetan tembakan senjata petugas keamanan yang dibalas oleh DPO membuat suasana cukup mencekam. Pengepungan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh jam itu juga megakibatkan luka tembak salah seorang petugas kepolisian.

Berdasarkan informasi yang berhasil dirangkum detikriau.org dilokasi kejadian, pengepungan sudah mulai dilakukan petugas kepolisian sejak pukul 05.00 Wib, Jum’at (16/11). Terlihat puluhan petugas kepolisian bersenjatakan lengkap mengepung sebuah rumah berwarna hijau. Sekali-kali terdengar bunyi letusan senjata api. Tidak berselang lama, terlihat beberapa orang petugas melarikan salah seorang personilnya dengan bagian wajah terlihat berlumuran darah dan langsung dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan untuk mendapatkan perawatan.

Sekira pukul 08.00 Wib, beberapa orang personil berpakaian loreng juga mulai merangsek memasuki TKP memberikan bantuan petugas kepolisian.” TSK bersenjata, sekarang posisinya berada dikolong rumah,”Ujar seorang petugas kepolisian kepada detikriau.org sambil berlari kearah TKP.

Posisi TSK yang bertahan dibawah kolong rumah dengan tubuh terlindung lumpur membuat petugas cukup kerepotan mengetahui secara pasti posisi TSK. Beberapa kali terlihat petugas melakukan tembakan beruntun untuk menekan dan mendesak TSK.

Setelah petugas berhasil semakin menjepit posisi TSK dan akhirnya berhasil menguasai dan naik kerumah berbentuk panggung itu, TSK yang masih berada dikolong rumah masih belum mau menyerah. Wakapolres Inhil, Kompol Yuniar Ari Darmawan SIK beberapa kali memberikan penringatan agar TSK segera keluar dan menyerahkan diri tapi DPO yang dikabarkan Mantan Marinir dengan pangkat terakhir kelasi II ini tetap bungkam dan bertahan.

Tidak habis akal, dikarenakan TKP merupakan daerah rawa dan berair, petugas akhirnya memutuskan untuk mengalirkan setrum listrik mempergunakan sebilah besi panjang dan tidak berselang lama terdengar teriakan suara seseorang, “Ampun pak, saya menyerah,”.

Wakapolres Inhil seketika itu juga meminta TSK untuk melemparkan keluar senjata miliknya. Sekira pukul 12.35 Wib, dari kolong rumah terlihat seseorang dengan tubuh berlumuran lumpur dengan mengenakan rompi anti peluru dan bercelana pendek merangkak keluar. Dilokasi juga ditemui sebilah senjata api laras pendek merk FN 45 buatan USA.

Wakapolres Inhil ketika dikomfirmasi wartawan dilokasi membenarkan bahwa TSK merupakan seorang buron yang masuk dalam daftar DPO.”Dalam setiap kali melakukan aksinya TSK memang terkenal cukup sadis dan selalu mempergunakan senpi. Jika terdesak ia tidak segan-segan membunuh,” Jawab Wakapolres Singkat sambil juga menjelaskan bahwa jaringan kelompok HD ini bukan hanya beraksi di Inhil tetapi juga Yogya, lampung, Medan, Palembang, Padang dan beberapa daerah di Provinsi Riau lainnya.

TSK “HD” yang mengalami luka tembak pada bagian paha atas sebelah kiri langsung dilarikan ke RSUD Puri Husada untuk mendapatkan pertolongan. Sampai berita ini diturunkan belum didapat keterangan secara pasti siapa nama petugas kepolisian yang sempat menjadi korban dalam aksi baku tembak ini. (dro/*0)

Pengutipan berita dan gambar harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan tuntut sesuai ketentuan UU yang berlaku




Polisi Diminta Bekerja Lebih Serius Ungkap Pelaku Penganiayaan Waria

Keluarga Sempat Mengaku Kecewa dengan Kinerja Polres Inhil —

Tembilahan (www.detikriau.org) — Peristiwa penganiayaan yang dialami Wahyu alias Ayu (25) merupakan peristiwa penganiayaan Waria kedua setelah sebelumnya dialami oleh Amat (30) Waria asal Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra yang harus menghembuskan nafas terakhir akibat satu luka tusukan dibagian rusuk sebelah kirinya, Selasa (5/6/2012) yang lalu. Sayangnya hingga saat ini pihak kepolisian Polres Inhil masih belum berhasil mengungkap siapa pelakunya.

“Terus terang kita cukup kecewa dengan kinerja pihak kepolisian. Sampai hari ini belum diketahui siapa pelaku yang tega menghabisi nyawa warga saya itu. saya tentunya sangat berharap agar kepolisian dapat bekerja lebih serius untuk mengungkap kasus ini,” Ujar Kepala Desa Sungai Bela, , Hasanudin yang masih termasuk keluarga korban menyampaikan keluhan kepada detikriau.org belum lama ini.

Dalam kesempatan itu, Hasanudin juga menyatakan seharusnya tidak memandang siapapun korban, walau ia seorang waria, ia juga manusia yang berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian saat itu, kejadian yang menyebabkan tewasnya Amat diperkirakan terjadi sekira pukul 02.00 Wib, selasa (5/6). Korban didapati sudah tidak bernyawa pagi sekira pukul 07.00 Wib oleh karyawan WS Ponsel dilantai dasar Gemilang Plaza jalan Jendral Sudirman. Bahkan saat itu Pihak Kepolisian sudah mendapatkan informasi bahwa sebelumnya korban diketahui terlihat minum-minum dengan 4 orang lainnya dengan inisial, L, Y, Jm dan Ij. (dro/*0)

Pengutipan berita dan gambar harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan tuntut sesuai ketentuan UU yang berlaku




LAGI, SEORANG WARIA DIANIAYA

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Nasib naas kembali dialami oleh seorang waria. Kali ini korbannya adalah Wahyu Alias Ayu (25) Warga kampung Betuah Kelurahan Seberang Tembilahan Kecamatan Tembilahan. Akibat penganiayaan ini, ia harus dilarikan ke RSUD Puri Husada dengan dua luka robek di bagian kepala.

Berdasarkan penuturan seorang warga jalan Trimas Tembilahan, Endi (30), malam kejadian, Kamis dinihari sekira pukul 02.00 Wib ia mendengar suara teriakan orang minta tolong. Karena kaget, ia beserta beberapa orang warga lainnya langsung berlari mencari asal suara. sesampainya di TKP, mereka melihat korban sudah tersungkur dalam kondisi pingsan dengan kepala berlumuran darah.

“Begitu sampai di TKP, kita tidak melihat ada orang lain selain korban yang sudah dalam keadaan pingsan. Kebetulan diantara kami ada seorang petugas sipil yang bekerja di Polres Inhil, iapun segera melaporkan dan tidak berselang lama setelah petugas polisi datang, korban langsung dilarikan ke RSUD Puri Husada untuk mendapatkan perawatan. ,” Tutur Endi, Kamis (15/11)

Menurut pengakuan Endi, sebelum ditemukannya korban pingsan bersimbah darah, sekira pukul 01.00 Wib saat ia keluar dari rumah hendak menuju ke warung kopi depan jalan Trimas, ia masih melihat korban duduk-duduk dengan beberapa orang di depan sebuah usaha cucian motor tidak jauh dari tempat tinggalnya. Namun ia mengaku tidak tau persis siapa saja teman-teman duduk korban saat itu.

Seorang petugas medis di RSUD Puri Husada Tembilahan membenarkan bahwa berdasarkan catatan, Kamis dinihari sekira pukul 02.20 Wib ada seorang pasien yang masuk ke ruang UGD atas nama Wahyu namun sudah dibawa pulang oleh keluarganya.” Tadi malam, tapi pasien sudah dijemput keluarganya. Pasien mengalami dua luka robek dibagian kepala dengan ukuran 1,5 x 0,2 x 0,4 dan 3 x 0,5 x 0,4.” Jelasnya.

Sayangnya hingga berita ini dirilis belum didapat keterangan resmi dari pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Inhil, AKP Kurnia ketika dicoba untuk dikomfirmasi terkesan enggan memberikan penjelasan.” ini bukan tugas saya, kita sudah bagi-bagi tugas, coba tanyakan saja sama Agus Sihombing (paur Humas Polres Inhil. Red).” Jawabnya singkat sambil berlalu.(dro/*0)

Pengutipan berita dan gambar harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan tuntut sesuai ketentuan UU yang berlaku




Polisi Diminta Tangkap Pengeroyok Wartawan Perekam Penganiayaan TNI AU

Jakarta – Pengurus Pusat Ikatan Jurnalist Televisi Indonesia (IJTI), meminta polisi segera menangkap pengeroyok Fakhri Rubiyanto. Rubiyanto (sebelumnya ditulis Robby) merupakan wartawan yang merekam peristiwa pencekikan wartawan oleh oknum perwira TNI AU dalam insiden jatuhnya pesawat Hawk 200 di Pekanbaru Riau, 16 Oktober 2012.

“Polisi harus segera menangkap pelakunya sehingga motif pengeroyokan ini menjadi jelas,” ujar Ketua Umum IJTI Imam Wahyudi dalam keterangan persnya. IJTI juga berharap pimpinan TNI AU bisa segera memastikan bahwa pelaku pengeroyokan bukan dari kalangan TNI AU

Selain itu, polisi diminta memberi perlindungan memadai bagi Rubiyanto. “Kalau aparat setempat tidak bisa melindungi Rubi, IJTI akan meminta Rubi mendapatkan fasilitas perlindungan dari LPSK (lembaga perlindungan saksi dan korban,” sambungnya.

Rubiyanto, dikeroyok di dekat rumahnya Jalan Melati, Pekanbaru. Saat itu, Rubi tengah dalam perjalanan pulang dengan mengendarai mobil. Mobilnya tiba-tiba dipepet oleh pengendara motor.

Ketika dia berhenti, dua penumpang motor lain beserta penumpang motor yang memepetnya, langsung menyergap dan mengeroyoknya. Rubi tidak mengenali para pengeroyoknya.

Namun salah satu pelakunya mengatakan kurang lebih:” Kamu enak-enak dapat penghargaan, sementara kami susah”. Rubiyanto memang baru saja mendapat penghargaan dari PWI Riau atas keberhasilannya merekam peristiwa pencekikan wartawan oleh oknum perwira TNI AU pasca jatuhnya pesawat Hawk 200 di lahan kosong dekat pemukiman penduduk di Pekanbaru.

Rubiyanto, didampingi pengurus dan jurnalis dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sudah melaporkan kasus ini ke Polsek Bukit Raya, Pekanbaru.(detiknews.com)




Duh! Gadis 12 Tahun Ini Dijual Ayahnya ke Pria Hidung Belang

Jakarta – Sungguh malang nasib gadis 12 tahun ini. Dia dipaksa melayani nafsu bejat pria hidung belang atas perintah ayah kandungnya sendiri yang berinisial S. Tak tahan menderita, bocah itu kabur dan saat ini dalam perlindungan Komnas Perlindungan Anak (PA).

Bocah itu melarikan diri dari rumah kontrakan ayahnya di Cengkareng dengan diantar temannya, Selasa (13/11). Mereka lantas menuju Kalideres.

“Di Kalideres dia bertemu polisi, lalu lapor polisi ala anak-anak. Sayangnya, polisi bukan merujuk ke polres malah dirujuk ke salah satu stasiun TV. Nah stasiun TV itu menghubungi saya tadi malam, kira-kira pukul 17.00 WIB,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait di kantornya di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (14/11/2012).

Arist bercerita, ibu bocah ini telah meninggal saat ia duduk di kelas 1 SD pada tahun 2007 di Solo. Begitu lulus SD, bocah ini pindah ke Jakarta bersama ayahnya. Keduanya tinggal di rumah kontrakan di Cengkareng selama empat bulan terakhir.

“Dia seharusnya sekarang kelas 1 SMP, tapi tidak disekolahkan bapaknya,” kata Arist.

Menurut cerita bocah itu, sang ayah kerap mabuk dan memukulnya jika dia menolak permintaan ayahnya untuk ‘melayani’ pelanggannya. “Menurut si anak, sebelum pindah ke Jakarta, bapaknya tidak seperti itu. Ini kejadian sejak 4 bulan yang lalu,” ujarnya.

Dalam sebulan, dia melayani 5-6 laki-laki hidung belang dengan tarif Rp 300-400 ribu. “Tapi uang itu langsung diberikan ke ayahnya. Dia tidak mendapat uang sama sekali,” tutur Arist.

Walau telah memperoleh perlakuan jahat dari ayahnya, bocah itu kadang rindu pada ayahnya. “Korban masih nangis-nangis. Dia antara sedih dan kangen juga sama bapaknya,” ucap Arist.

Komnas PA belum bisa menghubungi keluarganya yang di Solo karena tidak memiliki kontak. Arist mengatakan bahwa bocah itu akan dibawa ke rumah perlindungan sosial yang aman.

“Merumuskan langkah-langkah untuk memulihkan pengalaman pahit, menghilangkan trauma, dan apakah nanti akan melanjutkan sekolahnya,” kata Arist.(detiknews.com)




Asyik Memadu Kasih di Jembatan Rumbai jaya, Kekasih Hati Tewas di Tusuk OTK

TEMBILAHAN (www.detikriau.org)  – Pasangan dua sejoli ini tidak akan pernah menduga, sabtu (6/10) akan menjadi hari terakhir kencan malam mingguan mereka. Sang kekasih, Gusrianda (21) dengan terpaksa harus meninggalkan  kekasih hati HI (20) untuk selamanya akibat satu luka tusukan  pada bagian pinggang sebelah kirinya.

Menurut keterangan Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan SIK melalui Kapolsek Kecamatan Tempuling AKP P. Pardosi, berdasarkan keterangan saksi korban di Kepolisian, malam berdarah itu bermula saat Agus, nama panggilan keseharian Mahasiswa Semester V Universitas Islam Indragiri Hilir (UNISI) ini sedang duduk-duduk diatas sadel sepeda motornya sambil memadu kasih bersama pujaan hati di jembatan penyeberangan Rumbai jaya.

Sekira pukul 21.30 Wib, entah apa sebabnya, pasangan sejoli ini didatangi oleh 4 orang yang tidak dikenal (OTK). 3 dari OTK langsung membawa Korban menjauh dari kekasihnya yang ditunggu oleh 1 orang dari mereka. Karena merasa takut, pasangan kekasih ini tidak mampu berbuat banyak dan mengikuti kemauan 4 OTK tersebut.

Hanya hitungan menit setelah korban dibawa menjauh, sang kekasih, HI (20) Mahasiswi salah satu Universitas di Kota Tembilahan ini melihat Agus rubuh dan terbaring diatas jembatan Rumbai jaya dan ke 4 OTK langsung kabur meninggalkan TKP dengan mengendarai sepeda motor.

“Sesuai dengan keterangan saksi pacar korban, kejadiannya begitu cepat sebab tidak lama setelah korban diajak berjalan sedikit menjauh dari tempat duduknya, lalu ia menyaksikan kesihnya tergeletak  di jalan akibat luka berdarah bagian mulut dan luka tusuk bagian pinggangnya.” Kata AKP.P.Pardosi menjawab komfirmasi wartawan.

Melihat kekasihnya dalam kondisi kritis, lalu pacar korban berteriak minta tolong barulah warga yang kebetulan juga sedang berada di Jembatan Rumbai berdatangan dan memberi pertolongan serta  melaporkan ke Polsek Tempuling, namun kawanan OTK sudah kabur meninggalkan TKP

“Korban sudah sempat dibawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan tapi akibat luka tusukan yang dialaminya, korban harus menghembuskan nafas terakhir.” Tambah Kapolsek Tempuling

Maih menurut AKP.Pardosi, hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan pengembangan dan memburu kawanan pelaku, sedangkan motif yang melatarbelakangi tewasnya putra dari Husni warga RT 04 Desa Sungai Salak Kecamatan Tempuling ini, pihak kepolisian masih belum bisa menjelaskan.

“Kita sedang melakukan pengembangan untuk mengungkap siapa kawanan pelaku serta motif yang melatarbelakangainya. Saat ini jenazah korban sudah dimakamkan oleh pihak keluarganya.”jelasnya Kapolsek.

Orang tua korban, Husni  berharap agar pihak Kepolisian segera mengungkap siapa pelaku yang sudah tega menghabisi buah hatinya dan memberikan menghukum dengan seberat-beratnya. (dro/*0)