Dinkes Inhil Himbau Paslon Pengantin untuk Jalani Pemeriksaan Kesehatan

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan mencegah stunting, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, melalui Dinas Kesehatan, telah mengambil langkah proaktif dengan menghimbau pasangan calon pengantin untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. 21/11/24

Inisiatif ini merupakan bagian dari program yang lebih luas untuk memastikan bahwa calon pengantin memiliki informasi dan sumber daya yang diperlukan untuk memulai kehidupan berkeluarga yang sehat. Pemeriksaan ini mencakup serangkaian tes yang dirancang untuk mendeteksi masalah kesehatan yang mungkin mempengaruhi kehamilan dan kesehatan anak-anak yang akan lahir.

Salah satu inovasi yang telah diperkenalkan adalah aplikasi “Kecap Manis” yang dikembangkan oleh Puskesmas Tembilahan Kota. Aplikasi ini menyediakan informasi penting tentang pencegahan stunting dan kesehatan reproduksi, serta tips untuk menghadapi masalah kesehatan yang mungkin timbul.

Dengan aplikasi ini, calon pengantin dapat dengan mudah mengakses informasi kesehatan yang relevan dan terkini, yang dapat membantu mereka dalam mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga yang sehat.

Pemeriksaan kesehatan pra-nikah ini meliputi berbagai jenis tes, termasuk pemeriksaan darah untuk mendeteksi kondisi seperti thalassemia dan anemia, tes golongan darah dan rhesus untuk mengetahui kompatibilitas dan risiko yang mungkin terjadi pada anak, serta tes untuk hepatitis B, HIV/AIDS, dan penyakit TORCH yang dapat mempengaruhi kehamilan dan kesehatan bayi.

Selain itu, tes gula darah dan urin juga dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan secara umum dan mendeteksi penyakit metabolik atau sistemik yang mungkin ada.

Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir juga telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan ini melalui berbagai kanal, termasuk puskesmas dan media lokal, untuk memastikan bahwa informasi ini menjangkau semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan bahwa pasangan calon pengantin akan lebih sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi dan persiapan yang diperlukan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi angka stunting di Kabupaten Indragiri Hilir dan memastikan bahwa generasi mendatang akan tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan sejahtera. Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan akses ke sumber daya kesehatan yang memadai, calon pengantin diharapkan dapat mempersiapkan diri mereka dengan lebih baik untuk membangun keluarga yang kuat dan sehat. Ini adalah langkah penting dalam upaya bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan lebih kuat untuk masa depan yang lebih cerah.(adv)




Kenali 5 Tanda Kehamilan Normal-Dinkes Inhil

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Tanda-tanda kehamilan normal pada ibu terdapat ragam variasi, akan tetapi tanda yang secara umum sering terjadi ada 5. Selasa (20/11/24).

Mengutip dari alodokter, terdapat 5 tanda tanda kehamilan normal yang sering terjadi pada umumnya, diantaranya :

Perdarahan ringan melalui vagina: Bercak darah yang keluar dari vagina pada awal kehamilan bisa merupakan tanda perdarahan implantasi atau akibat hubungan seksual atau pemeriksaan USG transvaginal. Namun, jika perdarahan berlangsung lebih dari beberapa hari atau disertai nyeri berat dan demam, segera konsultasikan ke dokter.

Morning sickness g: Mual dan muntah saat hamil seringkali terjadi di trimester awal. Mengonsumsi jahe hangat, vitamin B6, dan makanan dalam porsi kecil dapat membantu mengatasi morning sickness.

Perubahan pada payudara : Payudara bisa membesar, lebih sensitif, dan mengalami perubahan warna puting.

Pergerakan janin: Ibu hamil mungkin merasakan gerakan janin, terutama di trimester kedua.

Berat badan naik secara bertahap : Kenaikan berat badan yang wajar selama kehamilan adalah hal yang normal.

Ingat selalu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan kesehatan ibu dan janin selama kehamilan. (Adv)




Bersama Pemkab Inhil, Dinkes Ikuti Rapat Penanganan KLB Malaria

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Sejak status Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria ditetapkan pada 2 Oktober 2024, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir terus mengintensifkan berbagai langkah penanganan untuk menanggulangi penyebaran penyakit tersebut.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, rapat koordinasi penanganan KLB malaria digelar pada Rabu (20/11/2024) di Aula Bappeda. Rapat ini dipimpin oleh Asisten III Setda Inhil, Drs. Fajar Husin, mewakili Pj. Bupati Indragiri Hilir, dan melibatkan Tim Kementerian Kesehatan RI. Tim Kemenkes yang hadir di antaranya adalah Ammar Farras Sabila (Analis Bencana), Ze Eza Yulia Pearlovie (Pengendali Bencana Bidang Kesehatan), dr. Junita Rosa Tiurma (Pembina Wilayah Riau), dan Mohammad Ersahbanda (Penanggung Jawab Logistik).

Rapat juga dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, termasuk unsur Forkopimda, Dinas Kesehatan Provinsi Riau, BPBD, PMI, dan OPD lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir.

Menurut data terbaru dari Tim Kemenkes RI per 18 November 2024, terdapat 224 kasus malaria yang tercatat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman. Dalam menangani KLB ini, Kemenkes RI telah mengambil beberapa langkah, antara lain:

  1. Pendampingan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk mengaktifkan klaster dan subklaster penanganan.
  2. Melakukan survei vektor, survei jentik, dan survei kontak untuk memetakan penyebaran malaria.
  3. Memberikan pendampingan teknis melalui Zoom meeting terkait pentingnya kerja sama lintas sektoral dengan melibatkan BPBD dan BNPB.
  4. Identifikasi sumber penyebab penyakit di lokasi terdampak.

Dalam arahannya, Asisten III Setda Inhil, Drs. Fajar Husin, menegaskan pentingnya sinergi antara OPD dan Tim Kemenkes RI. Ia meminta seluruh OPD terkait memberikan dukungan maksimal dan melaporkan perkembangan situasi secara berkala.

“Koordinasi lintas sektoral sangat diperlukan untuk menangani KLB malaria ini. Diharapkan langkah-langkah konkret dapat diambil agar dampaknya dapat diminimalisir,” ujarnya. (Adv)




Bersama Diskes, Pj Ketua TP PKK Kunjungi Sejumlah Posyandu di Inhil

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Selama kurun waktu satu bulan, Pj Ketua PKK Inhil bersama Dinas Kesehatan sudah melakukan kunjungan ke beberapa posyandu yang ada. Diantaranya Posyandu di Kecamatan Batang Tuaka dan Tanah Merah.

Dalam kunjungannya, Kepala UPT Puskesmas Sungai Piring, Endang Suratmi, melaporkan bahwa di Kecamatan Batang Tuaka terdapat 20 Posyandu dengan 200 kader. Namun, hanya ada 5 gedung Posyandu yang memadai, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi rusak. Endang berharap agar ada perhatian lebih untuk memperbaiki fasilitas, sehingga Posyandu dapat lebih optimal dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Sekretaris Kecamatan Batang Tuaka yang mewakili Camat, juga menjelaskan tentang program penanganan stunting, khususnya program puber stunting. Program ini melibatkan ulama untuk menyampaikan informasi mengenai stunting melalui ceramah, dengan harapan dapat menciptakan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

Dalam sambutannya, Kartika Sari mengapresiasi upaya Kecamatan Batang Tuaka dalam menangani masalah stunting. Ia menegaskan bahwa Posyandu merupakan garda terdepan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak. “Di sini kita bisa memantau tumbuh kembang anak, memberikan imunisasi, dan menyampaikan informasi kesehatan. Semua ini adalah wujud dari upaya kita bersama agar anak-anak kita tumbuh sehat, kuat, dan cerdas,” ujarnya.

Kartika Sari juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada para kader Posyandu yang telah melayani masyarakat dengan tulus. “Semangat dan dedikasi Bapak/Ibu menjadi pendorong bagi kami untuk terus mendukung program kesehatan yang lebih baik di Kabupaten Indragiri Hilir,” tambahnya.

Sebagai penutup, Kartika Sari mengajak seluruh masyarakat untuk selalu mendukung kegiatan Posyandu, karena keberhasilan Posyandu adalah keberhasilan bersama dalam menuju generasi yang sehat dan berkualitas. Dalam kesempatan tersebut, ia juga melihat dan memberikan imunisasi kepada peserta imunisasi di Posyandu Mawar 3. ADV




Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Dinkes Inhil Serukan Waspada dan Pencegahan

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar kegiatan edukasi yang bertujuan untuk menginformasikan gejala, pencegahan, serta penanganan dini terhadap penyakit ini. PPOK merupakan salah satu penyakit paru yang sering menyebabkan kematian, namun dapat dicegah dan diobati dengan langkah yang tepat. 19/11/24

Kepala Dinas Kesehatan Inhil, Rahmi Indrasuri, mengungkapkan bahwa PPOK adalah kondisi yang melibatkan penyempitan saluran napas secara kronis, yang menyebabkan penderita kesulitan bernapas, batuk terus-menerus, serta produksi dahak yang berlebihan. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh kebiasaan merokok, polusi udara, serta faktor keturunan. Gejalanya sering kali muncul secara perlahan, sehingga banyak penderita yang tidak menyadari bahwa mereka menderita PPOK hingga kondisinya memburuk.

“PPOK sering disebut sebagai ‘silent killer’ karena gejalanya seringkali tidak terasa di awal. Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak meremehkan gejala-gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau produksi dahak yang berlebihan. Jika Anda merasakan gejala-gejala tersebut, segeralah berkonsultasi dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Rahmi Indrasuri.

Pada kesempatan tersebut, Dinas Kesehatan Inhil juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pencegahan, yang dapat dimulai dengan menghindari kebiasaan merokok, mengurangi paparan polusi udara, serta menjalani gaya hidup sehat. Penderita PPOK juga dianjurkan untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan dan mengikuti pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter guna memperlambat perkembangan penyakit.

Dalam rangka mendukung pencegahan dan penanganan PPOK, Dinas Kesehatan Inhil mengadakan berbagai kegiatan, seperti seminar tentang PPOK, pemeriksaan fungsi paru gratis, serta penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara menghindari faktor risiko PPOK. Selain itu, mereka juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk deteksi dini.

Sebagai langkah preventif, Dinas Kesehatan Inhil juga bekerja sama dengan puskesmas-puskesmas di seluruh wilayah Inhil untuk menyediakan layanan pemeriksaan paru, termasuk tes spirometri, yang dapat membantu mendeteksi PPOK sejak dini.

“PPOK dapat dikelola dengan baik jika terdeteksi sejak dini. Oleh karena itu, kami sangat mendukung upaya masyarakat untuk menjaga kesehatan paru-paru mereka dengan menghindari faktor risiko, berolahraga, dan menjalani pola hidup sehat,” tutup Rahmi Indrasuri.

Dengan adanya edukasi ini, Dinas Kesehatan berharap masyarakat Kabupaten Inhil dapat lebih waspada terhadap risiko PPOK dan lebih proaktif dalam menjaga kesehatan paru-paru mereka. Penyakit ini bisa dicegah dan dikelola dengan baik apabila dilakukan pencegahan sejak dini. (Adv)




Cegah Malaria, Petugas Gabungan Gotong Royong di Desa Kuala Selat

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Upaya pencegahan penyakit malaria terus dilakukan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Terbaru, petugas gabungan dari berbagai instansi menggelar kegiatan gotong royong pemberantasan sarang nyamuk di Desa Kuala Selat, yang merupakan wilayah dengan jumlah kasus malaria terbanyak di daerah ini.

“Kegiatan ini merupakan langkah pencegahan primer untuk mengendalikan malaria,” ujar Musfardi Rustam, Penanggung Jawab Malaria Fungsional Epidemiologi Madya Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Selasa (19/11/2024).

Gotong royong ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari anggota Koramil, kepala dusun Desa Kuala Selat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Inhil, Puskesmas Kateman, dan warga setempat. Musfardi berharap, kegiatan ini bisa terus dilakukan secara rutin agar penyebaran malaria dapat segera dikendalikan.

Selain membersihkan sarang nyamuk, petugas juga membagikan 1.728 dosis repellent, yang berfungsi untuk mengusir nyamuk, serta vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh warga Desa Kuala Selat.

“Ini bagian dari upaya pencegahan yang komprehensif, tidak hanya dengan cara pengendalian nyamuk, tetapi juga memperkuat imunitas masyarakat,” jelas Musfardi.”

Sebelumnya, petugas juga melakukan pengambilan darah massal atau mass blood survey di desa tersebut untuk mendeteksi apakah ada warga yang terinfeksi malaria. Petugas mendatangi rumah-rumah warga untuk mengambil sampel darah yang kemudian diperiksa menggunakan peralatan laboratorium khusus.

“Dari pengambilan darah massal ini, kami berhasil mengumpulkan 280 spesimen yang akan segera diperiksa untuk memastikan apakah ada virus malaria di dalam darah warga,” tambah Musfardi.

Upaya lain yang dilakukan adalah penyemprotan insektisida dengan daya tahan lama di rumah-rumah warga. Insektisida ini diharapkan efektif dalam membunuh nyamuk penyebab malaria, sekaligus memutus rantai penularan penyakit.

Selain penyemprotan di rumah, petugas juga menaburkan larvasida di kolam dan genangan air di sekitar pemukiman warga. Langkah ini bertujuan untuk membasmi jentik-jentik nyamuk yang bisa berkembang menjadi nyamuk dewasa penyebar malaria.

Bantuan kelambu dan obat-obatan juga telah diterima dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Sebanyak 500 lembar kelambu, 30 kg insektisida, dan 100 kg bio larvasida telah disalurkan untuk mendukung penanganan malaria di Inhil dan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

Hingga saat ini, total kasus malaria di Kabupaten Inhil tercatat mencapai 172 kasus, dengan 40 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Musfardi mengungkapkan, meski ada kemajuan dalam penanganan, upaya pencegahan dan pengendalian malaria harus terus digencarkan agar tidak ada lagi penyebaran penyakit ini di wilayah tersebut.

“Harapan kami, dengan kolaborasi dan upaya yang maksimal, penyakit malaria dapat segera dikendalikan, dan masyarakat dapat hidup sehat bebas dari malaria,” kata Musfardi.

Kegiatan ini menjadi contoh nyata pentingnya sinergi antara pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat dalam memerangi penyakit menular seperti malaria. (Adv)