Analis Data Pengukuran Stunting 2022 – 2024 di Kelurahan Desa Kampung Baru Kec Concong

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam upaya meningkatkan kesehatan anak dan mengurangi stunting, pemerintah Kelurahan Desa Kampung Baru, Kecamatan Concong, melakukan analisis mendalam terhadap data pengukuran stunting yang diperoleh dari tahun 2022 hingga 2024.

1. PREVALENSI STUNTING

Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan

maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal,pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. 

Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini. 

Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.

Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Kelurahan Kampung Baru sebagai salah satu kelurahan yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa. 

Grafik Angka Prevalensi STUNTING Tahun 2022, 2023, dan 2024 Di Kelurahan Desa Kampung Baru

Dari grafik diatas dapat dilihat terjadinya Penurunan angka stunting pada tahun 2022 terdapat 7 orang balita stunting di Kelurahan kampung Baru, namun pada saat tahun 2023 terdapat balita stunting sebanyak 4 orang, dan pada tahun 2024 terdapat Kembali balita stunting dengan jumlah 2 orang, hal ini di sebabkan karena Upaya dalam penurunan angka stunting.

2. FAKTOR DETERMINAN

Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu.  Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita. 

Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi. 

3. UPAYA YANG DILAKUKAN

a. Memberikan asuhan gisi pada balita yang termasuk stunting

b. Melakukan penyuluhan kepada setiap orang tua terkait kebersihan lingkungan terutama jamban

c. Memberikan makanan tambahan local (MT LOKAL) yang masih berjalan sampai sekarang

d. Melakukan pengukuran pada balita setiap bulan

e. Memberikan edukasi kepada orantua terkait anak untuk dibawa ke posyandu tiap bulannya untuk mengetahui pemantauan pertumbuhan. (ADV)




Analisis Data Stunting Kecamatan Concong Luar Tahun 2022-2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam upaya meningkatkan kesehatan anak dan mengurangi stunting, pemerintah Kecamatan concong, melakukan analisis mendalam terhadap data pengukuran stunting yang diperoleh dari tahun 2022 hingga 2024.

Angka Prevalensi Stunting per Desa

Berdasarkan data yang diperoleh dari tiga desa di Kecamatan Concong Luar, prevalensi stunting menunjukkan angka yang beragam. Berikut adalah rincian data:

Dari data tersebut, Desa Concong Luar memiliki angka stunting tertinggi, yaitu 5 dari 122 balita yang ditimbang. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan dan gizi di desa ini.

Faktor Determinan Stunting

Faktor penyebab stunting di Kecamatan Concong Luar cenderung serupa di setiap desa. Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi antara lain:

1. Kurangnya Asupan Makanan: Banyak balita tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan optimal.

2. Pola Asuh yang Kurang Memadai: Pendekatan orang tua dalam merawat anak kurang sesuai dengan kebutuhan gizi dan kesehatan.

3. Faktor Genetik: Beberapa kasus stunting dapat dipengaruhi oleh kondisi genetik keluarga.

4. Kurangnya ASI Eksklusif: Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stunting.

5. Sanitasi Lingkungan yang Buruk: Kebersihan tempat tinggal, termasuk jamban, berkontribusi besar terhadap kesehatan anak.

Upaya yang Telah Dilakukan

Dalam upaya menurunkan angka stunting, setiap desa di Kecamatan Concong Luar telah melaksanakan sejumlah tindakan, di antaranya:

1. Asuhan Gizi untuk Balita Stunting: Program gizi yang terarah untuk membantu balita yang terdeteksi stunting.

2. Penyuluhan Kebersihan Lingkungan: Edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya kebersihan, khususnya terkait penggunaan jamban.

3. Pemberian Makanan Tambahan Lokal: Program pemberian makanan tambahan yang masih berlangsung untuk meningkatkan gizi balita.

4. Pengukuran Bulanan Balita: Monitoring perkembangan balita setiap bulan untuk mengidentifikasi masalah sejak dini.

5. Edukasi ke Posyandu: Mendorong orang tua untuk rutin membawa anak ke posyandu untuk pemantauan kesehatan dan pertumbuhan.

Data stunting di Kecamatan Concong Luar menunjukkan tantangan signifikan yang perlu diatasi melalui pendekatan holistik yang melibatkan peningkatan asupan gizi, edukasi kebersihan, dan pemantauan kesehatan secara berkala. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka stunting dan memastikan pertumbuhan optimal bagi generasi mendatang. (ADV)




Tren Stunting Desa di Kecamatan Enok 2022-2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR -Sebagian besar desa di Kecamatan Enok menunjukkan tren penurunan kasus stunting dari tahun 2022 hingga 2024, dengan beberapa desa mengalami penurunan yang signifikan, meskipun ada satu desa yang sempat mengalami peningkatan sebelum akhirnya menurun. 

Desa Suhada dan Sungai Ambat mengalami penurunan jumlah kasus stunting. Desa Sungai Rukam mengalami penurunan dari 4 kasus stunting di tahun 2022 menjadi 1 kasus di tahun 2023 dan 2024. Desa Pusaran, terdapat penurunan kasus stunting dari 2 kasus di tahun 2022 menjadi 1 kasus pada tahun 2024, tetapi kembali naik menjadi 5 kasus pada tahun 2024. 

Secara umum, sebagian besar desa di Kecamatan Enok menunjukkan tren penurunan kasus stunting dari tahun 2022 ke 2024, meskipun ada beberapa desa seperti Pusaran yang sempat mengalami peningkatan

Faktor determinan yang memerlukan perhatian karena merupakan salah satu penyebab stunting

Telah dilakukan analisis penyebab kasus stunting dapat dilihat dari indikator-indikator yang berhubungan dengan faktor risiko. Berikut beberapa poin penting dari analisis:

1. Pendidikan ayah rendah mencapai cakupan 100%, yang berarti seluruh sasaran (13 dari 13) memiliki faktor risiko ini, menjadikannya salah satu penyebab potensial yang signifikan dalam kasus stunting.

2. Pendidikan ibu rendah juga mencakup 92,31% (12 dari 13), menunjukkan bahwa pendidikan orang tua, terutama ibu, berperan penting dalam kasus stunting.

3. Terpapar asap rokok memiliki cakupan sebesar 61,54%, yang mengindikasikan bahwa lebih dari separuh sasaran terpapar asap rokok, yang bisa mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak.

4. Tidak ASI eksklusif memengaruhi 69,23% dari sasaran, menunjukkan kurangnya pemberian ASI eksklusif juga menjadi faktor yang berkontribusi.

5. Masalah dengan makanan pendamping ASI (MP ASI) yang tidak baik  terjadi pada 38,46% sasaran, yang juga berpengaruh terhadap status gizi anak.

6. Faktor air bersih, jamban sehat, dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang masih rendah (cakupan sekitar 15-30%) menandakan bahwa kurangnya akses terhadap sanitasi dan kebersihan juga berpotensi menjadi penyebab kasus stunting.

Secara keseluruhan, faktor pendidikan, kebiasaan kesehatan (seperti paparan asap rokok), kurangnya pemberian ASI eksklusif, dan keterbatasan akses terhadap sanitasi serta kebersihan berperan penting dalam kasus stunting di wilayah Kecamatan Enok.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk penurunan stunting yaitu memberikan edukasi kepada ayah mengenai bahaya asap rokok terhadap kesehatan anggota keluarga khususnya pada anak, pemasangan poster Kawasan tanpa rokok di sekolah-sekolah,posyandu,perkantoran dan tempat-tempat umum dan fasilitas kesehatan.  

Penjadwalan untuk pemberian edukasi bahaya asap rokok pada ayah dilakukan 4 kali dalam setahun kegiatan bersamaan dengan dengan kegiatan pendampingan anak yang memiliki masalah gizi (weight faltering) .Penyuluhan ASI Ekslusif juga diberikan kepada ibu hamil dan ibu balita dikelas ibu hamil dan kelas ibu balita . 

Penjadwalan dilakukan 2 kali dalam setahun dengan cara bekerjasama dengan lintas program yaitu bagian program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Selanjutnya upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah keterbatasan akses air bersih yaitu melalui kerjasama lintas sector dengan cara mengadvokasi lintas sector untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat. 

Dan memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) dipilar ke tiga yaitu cara pengolahan air minum yang aman. (ADV)




Hasil Pengukuran Desa Belantaraya Kecamatan Gaung Tahun 2022 – 2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Pemerintah Desa Belantaraya Kecamatan Gaung dengan bangga mengumumkan hasil pengukuran yang telah dilakukan dari tahun 2022 hingga 2024. Pengukuran ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang ada di desa, serta sebagai dasar dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Selama periode tersebut, tim pengukuran melakukan analisis terhadap berbagai aspek, termasuk infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa sektor, seperti aksesibilitas jalan, penyediaan air bersih, dan program pemberdayaan masyarakat.

1. Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting

Stunting merupakan keadaan dimana anak memiliki tinggi badan (TB) atau panjang badan (PB) yang tidak sesuai dengan usianya yaitu memiliki batas (z-score) kurang dari -2SD. Stunting dapat dipengaruhi oleh faktor langsung maupun tidak langsung. Faktor langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu karakteristik anak seperti jenis kelamin, berat badan lahir rendah, kebiasaan makan, riwayat infeksi. 

Faktor tidak langsung yang mempengaruhi stunting adalah pola pemberian ASI, pendidikan ibu, tempat tinggal, dan status ekonomi keluarga. Stunting mencegah anak mencapai potensi fisik dan kognitifnya. Stunting pada anak mengakibatkan penurunan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi. 

Anak stunting juga memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita penyakit degenerative (tekanan darah tinggi, diabetes, jantung dan obesitas) saat dewasa.

Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) telah mengalami penurunan dari 24.4% (2021) menjadi 21.6% (2022). Prevalensi tersebut masih masuk dalam kategori tinggi (>20%) berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Periode 1000 hari pertama kehidupan perlu mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang dimasa depan. Intervensi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak merupakan intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting. Intervensi anak stunting memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat. 

Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah membuat Surat Keputusan Desa/ Kelurahan Lokasi Fokus (Lokus) Intervensi Penurunan Stunting dan menetepakan 26 lokus desa/ kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive. 

Desa Belantaraya yang terletak di Kecamatan Gaung merupakan salah satu desa lokus stunting, sehingga memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan stunting di tingkat desa atau kelurahan

Grafik Penurunan Prevalensi Stunting Desa Belantaraya Tahun 2022 – 2024

2. Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting

A. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta meliputi (1) Akses air bersih dan jamban sehat sulit didapat dibeberapa wilayah, (2) Perilaku yang kurang sehat seperti kebiasaan membuang sampah di sungai, menggunakan jamban cemplung dan perilaku merokok masih sulit dirubah, (3) Beberapa balita yang mengalami masalah gizi berhubungan dengan tingkat kemampuan ekonomi atau keluarga miskin, (4) Pemberian ASI Eksklusif belum berjalan efektif karena masih ada bayi yang diberi makanan selain ASI sebelum usia 6 bulan dan ada beberapa ibu yang tidak menyusui anak sampai minimal 6 bulan, (5) Masih ada anak dengan gizi kurang yang tidak menghabiskan PMT pemulihan karena rasanya kurang disukai, (6) Masih ada ibu/ keluarga yang memberi makanan bayi dan anak dengan tekstur yang tidak sesuai berdasarkan usianya, (7) Masih banyak masyarakat utamanya diwilayah sulit terjangkau yang belum mengetahui informasi tentang stunting dan cara pencegahannya, dan (8) Masih ada remaja putri yang tidak menghabiskan TTD yang didapat karena kurangnya motivasi diri ataupun minat untuk mengonsumsi TTD secara teratur.

B. Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

Tim pencegahan dan penangulangan stunting terintegrasi kabupaten Indargri Hilir bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan, Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada

C. Kelompok Sasaran Beresiko

Pencegahan stunting harus berfokus pada kelompok sasaran berisiko seperti Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. 

Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI eksklusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting, sehingga dapat meningkatkan IPM Desa/ Kelurahan dimasa depan.

3. UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN

Berbagai upaya yang telah dilakukan di Desa/Kelurahan bersama Puskesmas dan lintas sektor terkait seperti PKK Desa/Kelurahan. Pemerintahan Kecamatan Gaung bersama dengan pihak puskesmas guna menurunkan angka stunting membuat upaya perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK) dengan kegiatan sebagai berikut:

1. Kegiatan pengukuran bayi/ balita rutin (utamanya melakukan validasi pengukuran oleh kader terhadap anak-anak yang terindikasi mengalami masalah status gizi).

2. Kegiatan penyuluhan pencegahan stunting pada masyarakat.

3. Kegiatan penyuluhan dan demonstrasi pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) sesuai usia.

4. Kegiatan penyuluhan pada remaja putri dan ibu hamil mengenai pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah. Namun ada beberapa rematri dan ibu hamil yang tidak mengkonsumsi TTD secara rutin meskipun telah mendapatkannya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat dalam mengkonsumsi TTD.

5. Kegiatan penyuluhan ASI Eksklusif, IMD dan pendidikan gizi lain pada ibu hamil.

6. Pemberian Vitamin A pada bayi dan balita, pemberian obat cacing pada balita.

7. Memberi penyuluhan terkait kesehatan reproduksi tentang pernikahan dini, namun masih ditemukan adanya pernikahan dini.

8. Bayi dan balita gizi kurang dan buruk sudah dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia telah mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan TTD. Dengan adanya intervensi pada beberapa kelompok tersebut maka dapat menekan terjadinya stunting, gizi kurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

9. Melakukan kegiatan Kolaborasi Tim Kabupaten di Desa Belantaraya yaitu upaya pencegahan stunting,edukasi gizi bagi anak dan remaja serta ibu hamil.

Pemerintah di Desa/Kelurahan sangat mengharapkan dukungan dari berbagai sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di kecamatan kemuning melalui konvergensi Pencegahan Stunting yang akan dilaksanakan sebelum musrenbangdes. Pemerintah desa diharap dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)




Analisis Hasil Pengukuran Stunting Kecamatan Gaung Tahun 2022-2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting merupakan suatu kondisi dimana tinggi badan rendah menurut usia sebagai hasil dari kekurangan gizi kronis atau berulang. World Health Organization (WHO) mendefinisikan kondisi stunting terjadi apabila panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan disbanding umur (TB/U) memiliki batas (z-score) kurang dari -2SD. 

Periode 1000 hari pertama kehidupan perlu mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang dimasa depan. Stunting dapat dipengaruhi oleh faktor langsung maupun tidak langsung. 

Faktor langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu karakteristik anak seperti jenis kelamin, berat badan lahir rendah, kebiasaan makan, riwayat infeksi. Faktor tidak langsung yang mempengaruhi stunting adalah pola pemberian ASI, pendidikan ibu, tempat tinggal, dan status ekonomi keluarga.

Stunting mencegah anak mencapai potensi fisik dan kognitifnya. Intervensi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak merupakan intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting. 

Intervensi anak stunting memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/Masyarakat. Pada tahun 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan rembuk stunting dengan menetapkan lokasi Fokus (Lokus) untuk tahun 2022, 40 Desa/Kelurahan. Rembuk stunting tersebut dilakukan di Kabupaten, Kecamatan dan Desa/Kelurahan lokus. Sehingga diketahui permasalahan dan pemecahan masalah masing-masing Desa/Kelurahan lokus di Kabupaten Indragiri Hilir. 

Berikut Grafik prevalensi stunting tahun 2022, 2023, 2024 Kecamatan Gaung:

Grafik Jumlah Balita Stunting Kecamatan Gaung Tahun 2022, 2023 dan 2024

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan balita stunting di Kecamatan Gaung. Berbagai upaya yang telah dilakukan di Kecamatan Gaung guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 HPK antara lain:

a. Koordinasi dengan lintas sektor mengenai pencegahan dan penanganan Stunting

b. Penyuluhan, sosialisasi ASI Eksklusif, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kesehatan reproduksi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

c. Kelas Ibu hamil

d. Kelas Ibu Balita

e. Pemberian dan Edukasi Pentingnya Konsumsi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri

f. Pemberian vitamin A pada bayi dan balita

g. Pemberian obat cacing

A. Faktor determinan yang memerlukan perhatian di Kecamatan Gaung

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi balita adalah:

1. Paparan asap rokok

Banyak balita yang terpapar asap rokok dilingkungan rumah karena adanya perokok aktif dalam keluarga, sehingga berisiko memperburuk kondisi stunting membuat daya tahan tubuh anak menurun.

2. Tingkat pendidikan orang tua balita masih rendah

Tingkat Pendidikan orang tua  balita yang  masih rendah berdampak pada kurangnya pemahaman mereka tentang pentingnya kecukupan gizi dan pola asuh yang baik untuk mencegah stunting dan juga dapat menghambat akses terhadap informasi kesehatan yang memadai.

3. Pernikahan dini

Remaja yang menikah belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang kehamilan dan perawatan gizi bayi. Tubuh ibu akan bersaing untuk mendapatkan gizi dengan bayi yang dikandungnya. Organ reproduksi remaja, seperti rahim, belum terbentuk sempurna sehingga berisiko mengganggu perkembangan janin. Secara fisik, psikologi, ekonomi remaja belum siap untuk menghadapi kehamilan dan merawat anak.

4. Belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap

Masih banyak orangtua tidak mau membawa anaknya untuk diberikan imunisasi dengan alasan khawatir terhadap efek sampingnya. Imunisasi yang tidak lengkap menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit yang berpengaruh terhadap status gizi dan tumbuh kembang anak.

5. Tidak mendapat ASI Ekslusif

Masih banyak ibu balita tidak memberikan anaknya ASI Eksklusif dengan berbagai alasan salah satunya larangan kerabat terdekat, suami , dll. Terkadang orangtua lebih memberikan anaknya susu formula dibandingkan memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.

6. Tidak memiliki jamban sehat

Masih banyak masyarakat yang belum memiliki jamban sehat. Masyarakat cenderung memilih BAB/BAK ke sungai, hal ini tentu menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak karena dapat terjadinya gangguan pencernaan seperti diare.

7. Sarana air bersih yang kurang

Ada beberapa desa yang belum memenuhi standar akses air bersih. Masyarakat lebih memilih MCK (Mandi Cuci Kakus) di sungai.  Kurangnya akses terhadap air bersih juga menjadi salah satu faktor memperburuk status kesehatan balita karena berisiko terkena penyakit terkait sanitasi dan kebersihan.

8. Penyakit Kronis

Adanya balita dengan riwayat penyakit kronis juga menjasi salah satu faktor memperburuk kondisi stunting. Karena penyakit tersebut mempengaruhi penyerapan gizi dan menghambat tumbuh kembang anak.

B. Perilaku kunci rumah tangga 1.000 HPK yang masih bermasalah di Kecamatan Gaung

Dari hasil monitoring pelayanan Ibu Hamil, PHBS Rumah Tangga, dan pola asuh pada balita masih membutuhkan pembinaan berupa:

a. Pemberian PMT pada bumil KEK, balita gizi kurang, gizi buruk dan Stunting

b. Pemberian susu bagi balita gizi kurang

C. Kelompok Sasaran Beresiko di Kecamatan Gaung

Kelompok beresiko Stunting yang perlu mendapatkan perhatian lebih diantaranya Remaja Putri, CATIN, Ibu Hamil, Bayi dan Bawah dua tahun ( BADUTA). Mempersiapkan remaja putri yang nantinya akan menjadi calon ibu  dengan memberikan TTD dan menjadi calon pengantin pada usia idealnya, agar nantinya hamil dalam keadaan sehat dan melahirkan bayi yang sehat juga. Bayi yang lahir juga harus mendapatkan IMD dan Asi Eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI harus sesuai dengan kebutuhan gizi anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai usianya. (ADV)




Bersama Diskes Inhil, Pj Bupati Buka Rapat Evaluasi Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat Semester I Tahun 2024

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Penjabat (Pj) Bupati Indragiri Hilir, Erisman Yahya, secara resmi membuka Rapat Evaluasi Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat Semester I Tahun 2024 yang digelar di Aula kantor bappeda Inhil, Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), tim pembina kabupaten sehat, dan tamu undangan lainnya, Rabu (2/10/2024)

Dalam sambutannya, Erisman Yahya menekankan pentingnya konsep Kabupaten/Kota Sehat,yaitu suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni oleh penduduk, yang dicapai melalui penerapan berbagai kegiatan dalam tatanan yang terintegrasi dan disepakati bersama antara masyarakat dan pemerintah daerah. Penyelenggaraan ini didasarkan pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor 1138/MENKES/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat, serta Rancangan Peraturan Presiden tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat.

“Evaluasi ini adalah momen yang sangat penting untuk melihat pencapaian yang sudah diraih di semester pertama tahun 2024, serta tantangan yang dihadapi ke depan. Kabupaten/Kota Sehat bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi melibatkan kolaborasi lintas sektor dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Erisman Yahya.

Selain itu Rapat evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberhasilan program yang telah dijalankan serta merumuskan langkah-langkah strategis yang akan diterapkan pada semester kedua tahun 2024. Fokus utama dalam pertemuan ini meliputi peningkatan kualitas sanitasi, kesehatan lingkungan, dan akses terhadap fasilitas kesehatan yang layak.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Indragiri Hilir menambahkan bahwa penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat ini merupakan upaya berkelanjutan yang memerlukan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat. “Kami berkomitmen untuk terus mendorong integrasi antara program pemerintah dan peran aktif masyarakat demi tercapainya lingkungan yang lebih sehat dan layak huni,” ujar TM Syaifullah.

Acara ini diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat komitmen seluruh pihak untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar. (Adv)