Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Tingkat Kecamatan Gaung Anak Serka Tahun 2024
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting menurut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang kesehatan.
Terdapat beberapa definisi stunting dari berbagai sumber, seperti definisi berikut ini :
Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus dua (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.
Menurut WHO, stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan didefinisikan terhambat gizinya jika tinggi badan mereka terhadap usia lebih dari dua deviasi standar di bawah median standar pertumbuhan anak WHO. Suatu masyarakat atau wilayah disebut tidak mempunyai masalah kesehatan masyarakat, termasuk stunting, apabila 95% balita berstatus gizi antara -2 SD s/d +2 SD, Berikut grafik data Stunting Wilayah Kerja UPT. Puskesmas Teluk Pinang Dan UPT. Puskesmas Sungai Iliran.
Gambar 1. Data Stunting UPT. Puskesmas Teluk Pinang
Gambar 2. Data Stunting UPT. Puskesmas Sungai Iliran
Gambar 3. Data Stunting Kecamatan Gaung Anak Serka
Sumber : Dari Sistem Pencatatan dan Pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) 2022, 2023, 2024
Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah balita Stunting di Kecamatan Gaung Anak Serka di tahun 2022 (17 Orang), 2023 (13 Orang) dan tahun 2024 menjadi (10 Orang). Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kabupaten Indragiri Hilir, Namun perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapatnya lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Kecamatan Gaung Anak Serka.
Berdasarkan SK Lokasi focus (LOKUS) intervensi penurunan stunting kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2024, untuk di wilayah kerja UPT. Puskesmas Sungai Iliran terdapat 1 desa lokus yaitu Desa Harapan Makmur. Dari grafik diatas dapat dilihat jumlah balita stunting di Desa tersebut di tahun 2022 ada 1 orang, tahun 2023 masih 1 orang juga, dan di tahun 2024 masih terdapat 1 balita stunting. Sejak tahun 2022 sampai tahun 2024 balita stunting di desa harapan makmur masih ada. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti : sanitasi lingkungan, pengetahuan orang tua terkait gizi, karakteristik keluarga, status imunisasi, pendidikan orang tua, dll. Balita tersebut sudah diberikan intervensi berupa rujukan ke Dokter spesialis Anak di RS. Dan telah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan didapatkan hasil yaitu terdapat bakteri di hasil pemeriksaan feses nya. Sehingga ini yang menyebabkan balita tidak naik BB dan TB nya secara signifikan.
Berbagai upaya yang telah ditempuh guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain :
Pemberian Tablet tambah darah (TTD) untuk ibu hamil dan remaja putri
Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
Pelatihan dan Sosialisasi tentang PMT Lokal pada Ibu hami KEK dan balita gizi kurang
Pemberian PMT Lokal pada Balita gizi kurang dan ibu hamil KEK
Kunjungan lapangan bumil KEK
Pelaksanaan kegiatan kelas Bumil dan balita
Pendapingan rujukan balita stunting dan gizi buruk
Pertemuan validasi dan evaluasi data gikia
Lokakarya Pembuatan Sop Tatalaksana Balita Dengan Masalah Gizi Dan Tumbuh Kembang
Berikut faktor Determinan yang memerlukan perhatian di Kecamatan Gaung Anak Serka
Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian
Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana halter sebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberianTTD baik remaja yang ada disekolah maupun di pondok Pesantren dan Posyandu Remaja. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkan ya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putrid tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
Faktor Determinan Stunting
Karakteristik Keluarga
Untuk faktor determinan karakteristik keluarga, di kecamatan gaung anak serka rata-rata balita stunting keluarga nya sudah mendapatkan pendampingan gizi, tetapi sebagian besar keluarga belum memiliki sarana air bersih (SAB), serta keluarga masih banyak yang BAB sembarangan, karna belum memiliki jamban.
Faktor MP-ASI
Untuk faktor MP-ASI, balita yang mengalami stunting memiliki riwayatmendapatkan makanan dan asi belum sesuai, tidak tepat dan tidak adekuat.
Status Imunisasi
Sebagian besar balita yang mengalami stunting memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap. Dikarenakan banyak orang tua yang tidak mau anaknya disuntik karena takut anaknya demam, dan lain-lain.
Pengetahuan Orangtua tentang Gizi
Orang tua balita yang mengalami stunting, sebagian besar belum tau tentang gizi diantaranya yaitu : mereka banyak yang belum memahami tentang kartu menuju sehat (KMS), tentang stunting dan gizi seimbang.
Pemerintah dikecamatan Gaung Anak Serka sangat mengharapkan dukungan dari berbagai sector untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di kecamatan Gaung Anak Serka melalui konvergensi Pencegahan dan Penangulangan Stunting. Pemerintah desa diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (ADV)
Analisis Data Pengukuran Stunting Tahun 2022 – 2024 Di Kelurahan Desa Concong Tengah
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR –Dinas kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir melakukan Analisis Data Pengukuran Stunting Tahun 2022 – 2024 Di Kelurahan Desa Concong Tengah
1. PREVALENSI STUNTING
Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal,pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa.
Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini.
Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.
Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Kelurahan Concong Tengah sebagai salah satu kelurahan yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa.
Grafik Angka Prevalensi STUNTING Tahun 2022, 2023, dan 2024 Di Kelurahan Desa Concong Tengah
Dari grafik diatas dapat dilihat terjadinya kenaikan angka stunting pada tahun 2022 tidak terdapat stunting di Kelurahan Concong Tengah, namun pada saat tahun 2023 terdapay balita stunting sebanyak 5 orang, dan pada tahun 2024 terdapat Kembali balita stunting dengan jumlah yang sama sehingga dilakukan lah Upaya dalam penurunan angka stunting salah satunya seperti pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil
2. FAKTOR DETERMINAN
Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu. Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita.
Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi.
3. UPAYA YANG DILAKUKAN
a. Memberikan asuhan gisi pada balita yang termasuk stunting
b. Melakukan penyuluhan kepada setiap orang tua terkait kebersihan lingkungan terutama jamban
c. Memberikan makanan tambahan local (MT LOKAL) yang masih berjalan sampai sekarang
d. Melakukan pengukuran pada balita setiap bulan
e. Memberikan edukasi kepada orantua terkait anak untuk dibawa ke posyandu tiap bulannya untuk mengetahui pemantauan pertumbuhan. (ADV)
Analisis Hasil Pengukuran Angka Stunting Kecamatan Concong Tahun 2022-2024
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Berdasarkan data dari sistem pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) tahun 2022, 2023, dan 2024, terjadi dinamika yang signifikan dalam angka stunting di Kecamatan Concong. Grafik yang dianalisis menunjukkan bahwa meskipun pada tahun 2022 terjadi peningkatan angka balita stunting, pada tahun 2024 angka tersebut mengalami penurunan kembali. 03/09/24
Tren Stunting
Penurunan angka stunting di tahun 2024 menjadi indikator keberhasilan program dan intervensi yang telah dilaksanakan. Meskipun demikian, presentase balita stunting masih menunjukkan angka yang perlu perhatian lebih, menandakan bahwa upaya yang dilakukan belum sepenuhnya maksimal. Diperlukan kerjasama yang lebih kuat antara semua pemangku kebijakan dan pelaksana program untuk menanggulangi masalah ini secara komprehensif.
Upaya Penanggulangan Stunting
Berbagai langkah telah diambil di Kecamatan Concong untuk memperbaiki gizi dan menurunkan angka stunting, terutama dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Beberapa upaya tersebut meliputi:
1. Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Stunting: Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan masyarakat.
2. Penyuluhan dan Sosialisasi: Fokus pada ASI Eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), kesehatan reproduksi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil: Menyediakan informasi dan pengetahuan terkait gizi yang optimal.
4. Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD): Untuk ibu hamil dan remaja putri guna mencegah anemia.
5. Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA): Menjamin pemenuhan gizi bagi anak-anak.
6. Program Penyehatan Lingkungan: Meningkatkan kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan.
7. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi: Menjamin akses masyarakat terhadap air bersih.
8. Orang Tua Asuh Stunting: Menginisiasi peran aktif masyarakat dalam mendukung anak-anak stunting.
Inovasi Gerakan Satu Hati
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir juga meluncurkan program inovasi “Gerakan Satu Hati” (GSH) jilid I dan II, yang melibatkan seluruh Tim Penggerak PKK, ASN, perbankan, swasta, LSM, dan organisasi lainnya untuk berdonasi dalam rangka pencegahan stunting. Alhamdulillah, program ini telah menunjukkan hasil positif dengan penurunan prevalensi stunting dan perbaikan status gizi di Kecamatan Concong.
Meskipun penurunan angka stunting di Kecamatan Concong merupakan langkah positif, komitmen dan kerjasama semua pihak tetap dibutuhkan untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Upaya berkelanjutan dan inovatif diperlukan untuk memastikan kesehatan anak dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. (ADV)
Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Desa Harapan Makmur Tahun 2023-2024
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Desa Harapan Makmur telah menyelesaikan pengukuran stunting pada anak-anak untuk tahun 2023-2024. Hasil analisis menunjukkan prevalensi stunting
1. Perkembangan Sebaran Prevalensi Stunting
Stunting merupakan masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal, pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air
bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan predictor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa.
Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi focus Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan datang. Stunting menjadi ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia dimasa mendatang karena dapat menghambat pertumbuhan fisik,hambatan pertumbuhan otak anak (kognitif), penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa serta ancaman peningkatan penyakit tidak menular.
Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkanada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan disbanding umur (PB/U) atau tinggi badan disbanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas.
Periode ini merupakan periode yang sensitive karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini.
Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatandasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendeksebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.
Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Desa Harapan Makmur sebagai salah satu Desa yang menjadi lokus stunting memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa.
Grafik 1. Angka Prevalensi Stunting Tahun 2023 dan 2024 di Harapan Makmur
Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Desa Harapan Makmur di tahun 2023 yaitu 0,127% dan 2024 yaitu 0,126%. Jumlah balita stunting di Desa ini di tahun 2023 yaitu 1 orang, dan 2024 juga 1 orang, 1 orang ini merupakan orang yang sama. Beberapa upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan pemberian TTD pada Ibu hamil dan remaja putri, melakukan Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita, Pemberian Vitamin A, Sosialisasi Pemberian PMT Lokal kepada kader, Pemberian PMT Lokal pada balita Gizi Kurang dan Ibu hamil KEK, melakukan pemantauan tumbuh kembang, serta program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.
Intervensi khusus kepada balita stunting yang telah dilakukan UPT. Puskesmas Sungai Iliran yaitu melakukan rujukan ke Dokter spesialis anak di Rumah sakit Kabupaten Indragiri Hilir. Dan telah dilakukan pengobatan oleh dokter, serta kolaborasi antara petugas gizi dan bidan desa Harapan makmur dalam memantau Balita stunting tersebut.
2. Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting
A. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian
Beberapa factor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan factor dari ibu. Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita.
Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu factor penyebab terjadinya masalah gizi.
B. Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah
Dinas Kesehatan bersama Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi di desa, dimana Pola Konsumsi Ibu Hamil, Pola Asuh Ibu dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan. Selain diberikannya Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil, juga dilakukan Intervensi pada Ibu Hamil KEK dengan Pemberian PMT. Guna mencegah terjadinya BBLR yang akan berdampak pada masalah gizi anak.
C. Kelompok Sasaran Beresiko
Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putrid perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandung pun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal.
3. Upaya Yang Telah dilakukan
Berbagai upaya yang telah dilakukan di Desa Harapan Makmur Bersama Puskesmas dan lintas sector guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain; Kegiatan Penyuluhan pada remaja putri dan ibu hamil pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah
1. Pemberian Vitamin A pada bayi dan balita, Penyuluhan Asi ekslusif.
2. Terkait kesehatan reproduksi sudah dilakukan dengan member penyuluhan, melakukan bimbingan kepada calon pengantin Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah, namun ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putrid tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
3. Bayi dan balita gizi buruk sudah dilakukan Pemberian F100 dan dipantau berat badan nya hingga menjadi gizi kurang. Apabila balita sudah masuk ke status gizi kurang makan diberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) baik berupa pabrikan maupun PMT Lokal. Selain kepada balita, PMT juga diberikan kepada Ibu hamil KEK dan beresiko KEK. Dengan adanya penanganan bayi balita gizi kurang dan gizi buruk, ibu hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting, gizikurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia yang ada.
4. Melakukan kegiatan Kolaborasi Tim Kabupaten di desa Harapan Makmur yaitu upaya pencegahan stunting, edukasi gizi bagi anak dan remaja serta ibu hamil,
5. Bersama dinas Kesehatan Penguatan pergerakan Pelaksnaan Intervensi Specifik dan Sensitif STUNTING. (ADV)
Analisis Hasil Pengukuran Stunting di Kecamatan Batang Tuaka 2022-2024
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting merupakan suatu keadaan di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata untuk usianya karena kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu selama kehamilan atau pada anak saat sedang dalam masa pertumbuhan.
Pengertian
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan saat ini dan produktivitas anak di masa dewasanya.
Penyebab
Stunting terkait dengan banyak penyebab, antara lain aktor asupan gizi ibu dan anak, status kesehatan balita, ketahanan pangan, lingkungan sosial dan kesehatan, lingkungan pemukiman, kemiskinan, dan lain-lain (UNICEF, 2013; WHO, 2013).
Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.
Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.
Diagnosis
Diagnosis stunting pertama-tama dilakukan dengan melakukan tanya jawab oleh petugas kesehatan seputaran asupan makan anak, riwayat pemberian ASI, riwayat kehamilan dan persalinan, serta lingkungan tempat tinggal anak. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan fisik berupa mengukur panjang atau tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan lingkar lengan anak. Seorang anak dapat di diagnosis stunting bila tinggi badannya berada di bawah garis merah (-2 SD) berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.
ANALISIS HASIL PENGUKURAN STUNTING PUSKESMAS SUNGAI PIRING TAHUN 2022-2024
Gambar 1.1 Grafik tren stunting tahun 2022-2024
Penyebaran kasus stunting didesa di wilayah kerja Puskesmas Sungai Piring bisa dikatakan merata, dalam artian setiap desa ada kasus stunting. Tetapi sebagian besar desa di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Piring menunjukkan tren penurunan kasus stunting dari tahun 2022 hingga 2024. Pada tahun 2022 terdapat 38 kasus, kemudian tahun 2023 turun menjadi 26 kasus dan ditahun 2024 turun lagi menjadi 14 kasus. Beberapa desa mengalami penurunan yang signifikan, meskipun ada desa yang sempat mengalami peningkatan sebelum akhirnya menurun. Desa Sungai Dusun, Gemilang Jaya dan Sialang Jaya mengalami penurunan jumlah kasus stunting. Desa Sungai Luar dari 4 kasus ditahun 2022 meningkat menjadi 8 kasus ditahun 2023 lalu turun menjadi 2 kasus ditahun 2024. Begitu juga Desa Tasik Raya dan Desa Simpang Jaya, ditahun 2023 meningkat dan turun kasusnya pada tahun 2024.Kelurahan Sungai Piring, terdapat penurunan kasus stunting dari 8 kasus di tahun 2022 menjadi 1 kasus pada tahun 2023, tetapi kembali naik menjadi 3 kasus pada tahun 2024. Begitu juga desa sungai Rawa, dari 2022 dengan 6 kasus lalu turun menjadi 1 kasus ditahun 2023 dan naik lagi menjadi 3 kasus ditahun 2024. Secara umum, sebagian besar desa di wilayah kerja Puskesmas Sungai Piring menunjukkan tren penurunan kasus stunting dari tahun 2022 ke 2024.
Sedangkan untuk wilayah kerja Puskesmas Sungai raya terjadi peningkatan dibeberapa desa, seperti di Desa Sungai Raya pada tahun 2024 ada 6 kasus yang sebelumnya Cuma 2 kasus ditahun 2023, begitu juga di Desa Junjangan dan Pasir Emas, meningkat dari tahun sebelumnya. Akan tetapi ada juga desa yang menunjukkan tren penurunan kasus stunting seperti desa tanjung Siantar dan kuala Sebatu.
Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan balita stunting di Kecamatan Batang Tuaka. Berbagai upaya yang telah dilakukan di Kecamatan Batang Tuaka guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 HPK antara lain:
a. Penyuluhan pada Masyarakat, melakukan sosialisasi Asi Ekslusif, Inisiasi menyusu dini (IMD), kesehatan reproduksi, Prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).
b. Pelaksanaan kelas ibu Hamil, Kelas Ibu Balita, dan Posyandu Balita
c. Pemberian Tablet tambah darah pada ibu hamil dan remaja putri
d. Melakukan kunjungan rumah ibu hamil resiko tinggi dan kekurangan energi kronis (KEK) serta balita bermasalah gizi.
e. Pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dengan KEK dan ballita bermasalah gizi.
f. Pendampingan Asi Ekslusif
g. Melakukan inspeksi kesehatan lingkungan tempat pengolahan pangan (TPP)
h. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kuaalitas air di depot air minum
i. Melakukakan Survey kualitas air minum rumah tangga
j. Melaksanakan pelayanan kesehatan calon pengantin
k. Pembinaan Kader kesehatan remaja (KRR) di sekolah
i. Pemberian Vitamin A pada Balita (6-59 bulan) di posyandu dan TK/Paud
Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita, Kita ambil contoh di wilayah kerja Puskesmas Sungai Piring, ada beberapa faktor determinan yang mempengaruhi kejadian kasus stunting diwilayah Kecamatan Batang Tuaka, adalah sebagai berikut :
1. Tidak Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap
Sebagian besar balita yang berisiko stunting di wilayah kerja Puskesmas Sungai Piring tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, yaitu hanya sebesar 21,5% yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Salah satu penyebabnya rndahnya imunisasi dasar lengkap yaitu kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi. Ketidak lengkapan imunisasi dapat menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit yang bisa mempengaruhi status gizi dan pertumbuhan.
2. Terpapar Asap Rokok
Dari hasil audit kasus stunting di ketahui bahwa 86% balita stunting mendapatkan paparan asap rokok, dimana pada umunya orang tua balitalah yang merokok di rumah. Paparan asap rokok dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan memperburuk kondisi stunting dengan menurunkan daya tahan tubuh anak.
3. Tingkat Pendidikan orang tua balita masih rendah
Tingkat Pendidikan orang tua balita masih rendah, dimana dari hasil audit stunting diketahui 87,8% orang tua balita memiliki kategori tingkat pendidikan yang rendah sehingga sehingga berdampak pada kurangnya pemahaman mereka tetntang pentingnya nutrisi dan pola asuh yang baik untuk mencegah stunting dan juga dapat menghambat akses terhadap informasi kesehatan yang memadai.
4. Belum Mendapat MP ASI yang mengandung protein hewani
Banyak balita stunting belum mendapatkan MP-ASI yang memadai dan tidak mengandung protein hewani dimana hampir seluruh balita atau 85% MP-ASI yang diberikan orang tua tidak selalu mengandung protein hewani. MP-ASI yang tidak memadai bisa menyebabkan kekurangan gizi yang berkontribusi pada terjadinya stunting.
5. Pemahaman Tentang Stunting dan gizi seimbang yang masih kurang
Masih banyak orang tua yang tidak memahami pentingnya gizi seimbang dalam pola makan anak yang dapat memperburuk kondisi stunting, dimana di ketahui sebebsar 87,8% ibu tidak memahami apa itu stunting, makanan bergizi seimbang dan juga bagaimana pola makan yang baik untuk anak.
6. Tidak Menapat ASI Ekslusif
Sebagian besar anak stunting tidak mendapatkan ASI EKsklusif, dimana diketahui persentasenya sebesar 78,5% padahal ASI Eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan optimal anak pada enam bulan pertama kehidupan. Kebanyakan orang tua sudah memberikan madu, air putih atau pun susu formula pada anak sebelum anak berusia 6 bulan.
7. Tidak Memiliki Jamban Sehat
Ada anak yang tinggal dirumah tanpa jamban sehat, yang meningkatkan resiko infeksi dan memperburuk status kesehatan serta gizi anak, dimana sebesar 80% atau sebagian besar anak stunting tidak memiliki jamban yang sehat di rumah mereka.
8. Akses Air Bersih yang kurang
Kurangnya akses terhadap air bersih juga menjadi salah satu faktor memperburuk status gizi kesehatan balita, dimana sebesar 78,5% balita stunting tidak mendapatkan air bersih di rumah mereka, kebanyakan balita meminum air hujan hal ini dapat meningkatkan resiko terkena penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan.
9. Penyakit Kronis
Adanya balita dengan riwayat penyakit juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi stunting, karena penyakit kronis dapat mempengaruhi penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak. Dimana ada 5 orang balita (35,7%) memiliki penyakit bawaan kronis seperti PJB dan TBC.
Kejadian Stunting di Kecamatan Batang Tuaka sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor determinan, termasuk masih adanya balita tidak mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap, Paparan asap rokok, Kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang, stunting serta pola makan anak yang baik dan benar, pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dan tidak mengandung protein hewani, hingga faktor lingkungan seperti akses terhadap sanitasi dan air bersih. Upaya perbaikan status gizi balita memerlukan pendekatan holistik, termasuk edukasi kepada orang tua, perbaikan sanitasi lingkungan tempat tinggal anak, serta peningkatan gizi dan akses kesehatan.
Sedangkan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan angka stunting dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kecamatan Batang Tuaka antara lain :
1. Kegiatan audit stunting, kegiatan ini dilakukan oleh tim stunting UPT Puskesmas Sungai Piring dimana sebanyak 14 orang balita stunting seluruhnya sudah dilakukan audit stunting.
2. Kegiatan rujukan balita stunting ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi atau rumah sakit daerah. 12 dari 14 orang balita sudah di rujuk ke RSUD Puri Husada dan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter spesialis anak.
3. Seluruh balita stunting 14 orangnya sudah mendapatkan konseling gizi dan tumbuh kembang, serta konseling kesehatan lingkungan.
4. Penyuluhan ASI Eksklusif, IMD, Kespro, PHBS dan Germas di berbagai kegiatan seperti kelas ibu hamil, kelas ibu balita, Posyandu, sekolah mulai dari tingakt SD, SMP dan SMA.
5. Telah berjalannya kegiatan pemberian TTD pada ibu hamil dan remaja putri melalui kegiatan aksi bergizi di tingkat SMP/MTS dan SMA/MA di seluruh wilayah kerja UPT Puskesmas Sungai Piring
6. 100% balita stunting mendapatkan PMT berbasis pangan lokal dan juga PMT Susu
7. Melakukan kunjungan rumah ke seluruh rumah balita stunting dan balita yang memiliki masalah gizi seperti gizi kurang, bb kurang dan weight faltering serta memberikan konseling PMBA kepada orang tua balita.
8. Memberikan PMT pangan lokal dan PMT susu serta biskuit kepada ibu hamil beresiko KEK dan melakukan kunjungan rumah serta memberikan konseling.
9. Melakukan inspeksi kesehatan lingkungan baik di sekolah, tempat pengolahan pangan, rumah tangga, dan pemeriksaan kualitas air minum.
10. Memberikan pelayanan kesehatan kepada calon pengantin di KUA
11. Pemberian vitamin A dan obat cacing kepada anak dan balita.
Adapun inovassi program yang di lakukan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan stunting adalah program GANISA (Gerakan Nikah Sehat) dimana kegiatan ini bekerjasama dengan KUA Kecamatan Batang Tuaka. Pada kegiatan ini tim puskesmas akan turun ke KUA dan memberikan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, penyuntikan imunisasi TT dan pemberian tablet tambah darah. (ADV)
Analisis Hasil Pengukuran Angka Stunting di Kecamatan Concong Tahun 2022-2024
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Berdasarkan data dari sistem pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) tahun 2022, 2023, dan 2024, terjadi dinamika signifikan dalam angka stunting di Kecamatan Concong. Grafik menunjukkan peningkatan kasus balita stunting hingga tahun 2023, diikuti oleh penurunan yang berarti pada tahun 2024.
Penurunan ini mencerminkan keberhasilan intervensi program pencegahan stunting yang telah dilaksanakan. Meski demikian, angka stunting masih berada di tingkat yang perlu perhatian lebih, menandakan perlunya peningkatan kerjasama dan komitmen dari semua pemangku kebijakan dan pelaksana program.
Berbagai langkah strategis telah diimplementasikan di Kecamatan Concong untuk menurunkan angka stunting, terutama melalui perbaikan gizi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Upaya tersebut antara lain:
1. Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Stunting: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dan masyarakat.
2. Sosialisasi dan Penyuluhan: Mencakup ASI Eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), kesehatan reproduksi, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui program Germas dan Gemar Makan Ikan (GEMARIKAN).
3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil: Memastikan ibu mendapatkan informasi yang cukup mengenai nutrisi yang tepat selama kehamilan.
4. Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD): Untuk ibu hamil dan remaja putri guna mencegah anemia yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak.
5. Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA): Mengedukasi orang tua tentang pentingnya asupan gizi yang seimbang.
6. Program Penyehatan Lingkungan: Meningkatkan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan.
7. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih: Memastikan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.
8. Program Orang Tua Asuh Stunting: Mengajak masyarakat berkontribusi langsung dalam pencegahan stunting.
Inisiatif “Gerakan Satu Hati” (GSH) yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir juga menunjukkan dampak positif, dengan melibatkan ASN, perbankan, swasta, LSM, dan organisasi masyarakat dalam mendukung program pencegahan stunting.
Kesimpulannya, meski ada penurunan angka stunting yang signifikan pada tahun 2024, tantangan masih ada. Oleh karena itu, kolaborasi yang lebih erat antar stakeholder sangat diperlukan untuk memastikan pencapaian yang lebih optimal dalam penanganan stunting di Kecamatan Concong. (ADV)