Diskes bersama TGC Pemkab Inhil Terus Laksanakan Penanggulangan Malaria

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR -Tim Gerak Cepat (TGC) Kabupaten Indragiri Hilir terus melaksanakan langkah-langkah strategis dalam penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria yang terjadi di wilayah ini. KLB malaria pertama kali terdeteksi pada 14 September 2024, saat seorang pasien berobat di Puskesmas Pembantu Kuala Selat dengan keluhan demam, pusing, dan menggigil. Pemeriksaan RDT menunjukkan hasil positif malaria, Senin (7/10/2024).

Sejak saat itu, jumlah kasus semakin meningkat. Dari 15 hingga 17 September, lima kasus baru terkonfirmasi positif malaria. Hingga 7 Oktober 2024, jumlah total kasus positif malaria mencapai 66 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir, Rahmi Indrasuri, menyatakan, “Pj Bupati telah menetapkan status KLB malaria dan tanggap darurat bencana non-alam. Hal ini melibatkan semua perangkat daerah, termasuk Dinas Kesehatan, BPBD, serta pihak TNI/Polri.”

Penjabat (Pj) Bupati Indragiri Hilir, H Erisman Yahya pun menegaskan untuk dapat bergerak cepat dalam melindungi masyarakat. “Berdasarkan arahannya Pj Bupati memprioritaskan tindakan cepat dan terkoordinasi untuk melindungi kesehatan masyarakat. Setiap langkah yang diambil adalah untuk memastikan keselamatan warga dan mencegah penyebaran lebih lanjut,” ungkap Rahmi.

Upaya Penanggulangan KLB Malaria

Tim Gerak Cepat telah melakukan berbagai upaya penanganan, antara lain:

  1. Penanganan Kesehatan

Mendirikan posko kesehatan, Puskesmas, dan EMT mobile.

Melakukan identifikasi penyakit KLB malaria dan jumlah korban jiwa.

Memberikan pelayanan kesehatan, termasuk pembagian PMT untuk balita dan ibu hamil, serta pemberian kelambu.

  1. Sub Cluster Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan

Identifikasi tenaga kesehatan dan non-kesehatan.

Pembentukan pos kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Fasilitas rujukan dari Puskesmas ke RSUD Raja Musa.

  1. Sub Cluster Logistik

Identifikasi kebutuhan logistik.

Distribusi logistik dan obat-obatan ke pos kesehatan sesuai kebutuhan.

  1. Sub Cluster Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Pengamatan penyakit KLB malaria.

Penyuluhan kepada masyarakat mengenai potensi KLB malaria.

Penaburan larvasida dan penyemprotan IRS di rumah-rumah yang terdampak.

Pencarian kasus baru dengan pemeriksaan sampel darah.

  1. Sub Cluster Promosi Kesehatan

Edukasi masyarakat tentang penyakit malaria.

Pembagian spanduk informasi terkait malaria.

“Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat menekan penyebaran malaria dan melindungi masyarakat dari dampak lebih lanjut,” tambah Rahmi Indrasuri. (adv)




Dari 30 Kasus di 2022, Kini Tinggal 23 Kasus Stunting di Kecamatan Tempuling

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Kabupaten Indragiri Hilir, mencatatkan penurunan kasus stunting selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan data sistem pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), kasus stunting di Tempuling berkurang dari 30 kasus pada tahun 2022 menjadi 27 kasus pada 2023, dan turun lagi menjadi 23 kasus pada 2024.

Penurunan ini diiringi dengan peningkatan kunjungan ke posyandu serta upaya aktif pemerintah Tempuling bersama Puskesmas Sungai Salak.

Beberapa langkah yang telah diambil antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi, pendampingan ASI eksklusif, pelatihan pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal, dan pembinaan aksi bergizi di sekolah-sekolah.

Meski terjadi penurunan, sejumlah faktor seperti kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap dan sanitasi yang tidak memadai masih menjadi kendala utama dalam pencegahan stunting.

Sebanyak 21 dari 23 balita stunting di Tempuling diketahui tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, dan sebagian besar keluarga masih menggunakan air hujan sebagai sumber air bersih.

Paparan asap rokok juga menjadi faktor yang memengaruhi kejadian stunting, dengan 20 dari 23 anak stunting terpapar asap rokok.

Pemerintah kecamatan Tempuling berkomitmen untuk terus menekan angka stunting melalui program-program yang lebih komprehensif dan terintegrasi.(ADV)




Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Desa Sari Mulya Tahun 2023-2024

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Desa Sari Mulya telah melakukan pengukuran stunting sebagai bagian dari upaya untuk mengidentifikasi dan menangani masalah gizi anak. Analisis ini bertujuan untuk memahami perkembangan status gizi anak di desa tersebut selama tahun 2023 hingga 2024

Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting

    Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan dataang. Stunting menjadi ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia di masa mendatang karena dapat menghambat pertumbuhan fisik, hambatan pertumbuhan otak anak (kognitif), penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa serta ancaman peningkatan penyakit tidak menular. 

    Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan
    maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa
    kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal,
    pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air
    bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. 

    Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini. 

    Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.

    Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Desa Sari Mulya sebagai salah satu Desa yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa. 

    Grafik 1. Angka Prevalensi Stunting Tahun 2023 dan 2024 

    di Sari Mulya

    Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi kenaikan persentase balita Stunting di Desa Sari Mulya di tahun 2023 yaitu 2% dan 2024 yaitu 2,3%.  Beberapa upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan pemberian TTD pada Ibu hamil, melakukan sosialisasi ASI Ekslusif, Pemberian makan pada Bayi,dan Anak (PMBA), Pemberian Vitamin A, melakukan pemantauan tumbuh kembang, serta program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

    1. Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting 
    2. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

    Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu.  Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita. 

    Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi. 

    Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah 

      Dinas Kesehatan bersama Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa, dimana Pola Konsumsi Ibu Hamil, Pola Asuh Ibu dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan. Selain diberikan nya Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil, juga dilakukan Intervensi pada Ibu Hamil KEK dengan Pemberian PMT. Guna mencegah terjadinya BBLR yang akan berdampak pada masalah gizi anak.

      Kelompok Sasaran Beresiko

        Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandung pun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan meningkatkan IPM Desa Pasir Emas dimasa depan.

        Upaya Yang Telah dilakukan

          Berbagai upaya yang telah dilakukan di Desa Pasir Emas Bersama Puskesmas dan lintas sector guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain;Kegiatan Penyuluhan pada remaja putri dan ibu hamil  pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah

          1. Pemberian Vitamin A pada bayi dan balita, Penyuluhan Asi ekslusif.
          2. Terkait kesehatan reproduksi masih ditemukan adanya pernikahan dini, sudah dilakukan dengan memberi penyuluhan, melakukan bimbingan kepada calon pengantin Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah, namun ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
          3. Bayi dan balita gizi buruk sudah dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Ibu hamil Anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) telah mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Dengan adanya penanganan bayi balita gizi kurang dan gizi buruk, ibu hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting, gizi kurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.
          4. Melakukan kegiatan Kolaborasi Tim Kabupaten di desa Tanjung Pasir yaitu upaya pencegahan stunting,edukasi gizi bagi anak dan remaja serta ibu hamil, 
          5. Bersama dinas Kesehatan Pengutan  pergerakan Pelaksnaan Intervensi Specifik dan Sensitif STUNTING

          (ADV)




          Analisis Hasil Pengukuran Stunting Kecamatan Kateman Tahun 2024

          ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak sehingga tinggi badannya lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (sejak kehamilan hingga anak berusia 2 tahun). Adapun faktor utama penyebab stunting termasuk kekurangan asupan gizi selama kehamilan dan masa pertumbuhan anak, infeksi berulang yang mengganggu penyerapan nutrisi, sanitasi yang buruk dan kurangnya terhadap akses air bersih yang meningkatkan resiko penyakit serta pola asuh yang tidak optimal seperti kurangnya pemahaman tentang kebutuhan gizi anak.

          Stunting tidak hanya mempengaruhi tinngi badan, tetapi juga perkembangan otak, yang bisa berdampak pada kemampuan belajar dan produktvitas anak dimasa depan. Oleh karena itu, penanganan stunting perlu dilakukan secara komprehensif melalui peningkatan gizi, sanitasi, dan edukasi bagi orang tua serta masyarak

          KASUS STUNTING DI KECAMATAN KATEMAN

          Sumber : Data sistem pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) 2022, 2023 dan 2024

          Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Kecamatan Kateman mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2022 terdapat 25 kasus menjadi 52 kasus pada tahun 2023. Terus terjadi peningkatan kasus pada tahun 56 kasus pada tahun 2024. Dari 3 Kelurahan, dan 8 Desa. Dari 2 kelurahan yang ada dikecamatan kateman terdapat 2 kelurahan yang mengalami kenaikan kasus stunting di setiap tahunnya yaitu kelurahan tagaraja pada tahub 2022 berjumlah 7 kasus kemudian di 2023 mengalamikenaikan 11 kasus dan kemudian turn menjadi 10 kasus si tahun 2023 sedangkan ada kelurahan bandar sri gemilang kenaikan kasus stunting juga terjadi yaitu 4 kasus pada tahun 2022, dan meningkat 9 kasus di 2023 dan terjadi penurunan di 2024 yaitu 8 kasus.

          Terdapat juga 3 Desa yang mengalami kenanikan kasus yaitu Desa sungai simbar pada tahun 2022 terdapat 3 kasus stunting, kemudian meningkat di tahun 2023 dan 2024 sebanyak 15 kasus, kemudian desa kuala selat di tahun 2022 terdapat 4 kasus kemudian terdapat kenaikan kasus di tahun 2023 sebanyak 11 kasus dan 8 kasus di 2024, kemudian desa penjuru di tahun 2022 terdapat 1 kasus stunting, dan tidak ada kasus di tahun 2023 kemudian meningkat di tahun 2024 yaitu sebanyak 3 kasus, kemudian kenaikan kasus juga terjadi di desa sungai teritip yang pada awalnya ditahun 2022 dan 2023 tidak terdapat kasus stunting tetapi di tahun 2024 terjadi kasus stunting sebnayak 5 kasus. Selain itu juga terdapat 2 desa yang tidak memiliki kasus stunting yaitu desa tanjong raja dan Makmur jaya. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menrunkan prevalensi stunting  di Kecamatan Kateman namun belum maksimal, perlunya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang.

          Berbagai upaya yang telah dilakukan di kecamatan Kateman guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi antara lain:

          1. Penyuluhan pada Masyarakat, melakukan sosialisasi Asi Ekslusif, Inisiasi menyusu dini (IMD), kesehatan reproduksi, Prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Gerakan masyarakat  hidup sehat (Germas).
          2. Pelaksanaan kelas ibu Hamil, Kelas Ibu Balita, dan Posyandu Balita 
          3. Pemberian Tablet tambah darah pada ibu hamil dan remaja putri
          4. Melakukan kunjungan rumah ibu hamil resiko tinggi dan kekurangan energi kronis  (KEK) serta balita bermasalah gizi.
          5. Pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dengan KEK dan ballita bermasalah gizi.
          6. Pendampingan Asi Ekslusif
          7. Melakukan inspeksi kesehatan lingkungan tempat pengolahan pangan (TPP)
          8. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kuaalitas air di depot air minum
          9. Melakukakan Survey kualitas air minum rumah tangga
          10. Melaksanakan pelayanan kesehatan calon pengantin
          11. Pembinaan Kader kesehatan remaja (KRR) di sekolah
          12. Pemberian Vitamin A pada Balita (6-59 bulan) di posyandu dan TK/Paud

          Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita di Kecamatan Tembilahan adalah sebagai berikut :

          Tidak Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap

            Sebagian besar balita stunting di kecamatan Kateman tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Salah satu penyebabnya yaitu kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi. Ketidak lengkapan imunisasi dapat menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit yang bisa mempengaruhi status gizi dan pertumbuhan.

            Tingkat Pendidikan orang tua  balita masih rendah 

              Tingkat Pendidikan orang tua  balita masih rendah sehingga sehingga berdampak pada kurangnya pemahaman mereka tetntang pentingnya nutrisi dan pola asuh yang baik untuk mencegah stunting dan juga dapat menghambat akses terhadap informasi kesehatan yang memadai

              Terpapar Asap Rokok

                Paparan asap rokok dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan memperburuk kondisi stunting dengan menurunkan daya tahan tubuh anak.

                Belum Mendapat MP ASI

                  Banyak balita stunting belum mendapatkan MP-ASI yang sesuai standar. MP-ASI yang tidak memadai bisa menyebabkan kekurangan gizi yang berkontribusi pada terjadinya stunting.

                  Pemahaman Tentang Stunting yang masih kurang

                    Masih banyak orang tua yang tidak memahami pentingnya gizi seimbang dalam pola makan anak yang dapat memperburuk kondisi stunting. 

                    Tidak Menapat ASI Ekslusif

                      Sebagian anak stunting tidak mendapatkan ASI EKsklusif, padahal ASI Eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan optimal anak pada enam bulan pertama kehidupan.

                      Tidak Memiliki Jamban Sehat

                        Ada anak yang tinggal dirumah tanpa jamban sehat, yang meningkatkan resiko infeksi dan memperburuk status kesehatan serta gizi anak 

                        Akses Air Bersih yang kurang

                          Kurangnya akses terhadap air bersih juga menjadi salah satu faktor memperburuk status gizi kesehatan balita, meningkatkan resiko terkena penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan

                          Penyakit Kronis

                            Adanya balita dengan riwayat penyakit juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi stunting, karena penyakit kronis dapat mempengaruhi penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak

                            Kejadian Stunting di Kecamatan Kateman sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor determinan, termasuk masih adanya balita tidak mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap, Paparan asap rokok, Kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang dalam pola makan anak, pemberian MP-ASI yang tidak sesuai, hingga faktor lingkungan seperti akses terhadap sanitasi dan air bersih. Upaya perbaikan status gizi balita memerlukan pendekatan holistik, termasuk edukasi kepada orang tua, perbaikan sanitasi lingkungan tempat tinggal anak, serta peningkatan gizi dan akses kesehatan. (ADV)




                            Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Bandar Sri Gemilang Tahun 2023-2024

                            ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting merupakan masalah gizi yang serius dan dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan anak. Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai prevalensi stunting di Kelurahan Bandar Sri Gemilang serta faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting.

                            Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting

                              Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan dataang. Stunting menjadi ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia di masa mendatang karena dapat menghambat pertumbuhan fisik, hambatan pertumbuhan otak anak (kognitif), penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa serta ancaman peningkatan penyakit tidak menular. 

                              Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan
                              maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa
                              kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal,
                              pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air
                              bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. 

                              Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini. 

                              Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.

                              Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Kelurahan Bandar Sri Gemilang sebagai salah satu kelurahan yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa. 

                              Grafik 1. Angka Prevalensi Stunting Tahun 2023 dan 2024  di Kelurahan Bandar Sri Gemilang

                              Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kelurahan Bandar Sri Gemilang di tahun 2023 yaitu 9% dan 2024 yaitu 7,6%.  Beberapa upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan pemberian TTD pada Ibu hamil, melakukan sosialisasi ASI Ekslusif, Pemberian makan pada Bayi,dan Anak (PMBA), Pemberian Vitamin A, melakukan pemantauan tumbuh kembang, serta program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

                              1. Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting 
                              2. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

                              Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu.  Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita. 

                              Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi. 

                              Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah 

                                Dinas Kesehatan bersama Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa, dimana Pola Konsumsi Ibu Hamil, Pola Asuh Ibu dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan. Selain diberikan nya Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil, juga dilakukan Intervensi pada Ibu Hamil KEK dengan Pemberian PMT. Guna mencegah terjadinya BBLR yang akan berdampak pada masalah gizi anak.

                                Kelompok Sasaran Beresiko

                                  Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandung pun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan meningkatkan IPM Desa Pasir Emas dimasa depan.

                                  Upaya Yang Telah dilakukan

                                    Berbagai upaya yang telah dilakukan di Desa Pasir Emas Bersama Puskesmas dan lintas sector guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain;Kegiatan Penyuluhan pada remaja putri dan ibu hamil  pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah

                                    1. Pemberian Vitamin A pada bayi dan balita, Penyuluhan Asi ekslusif.
                                    2. Terkait kesehatan reproduksi masih ditemukan adanya pernikahan dini, sudah dilakukan dengan memberi penyuluhan, melakukan bimbingan kepada calon pengantin Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah, namun ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
                                    3. Bayi dan balita gizi buruk sudah dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Ibu hamil Anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) telah mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Dengan adanya penanganan bayi balita gizi kurang dan gizi buruk, ibu hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting, gizi kurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.
                                    4. Melakukan kegiatan Kolaborasi Tim Kabupaten di desa Tanjung Pasir yaitu upaya pencegahan stunting,edukasi gizi bagi anak dan remaja serta ibu hamil, 
                                    5. Bersama dinas Kesehatan Pengutan  pergerakan Pelaksnaan Intervensi Specifik dan Sensitif STUNTING

                                    (ADV)




                                    Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Tagaraja 2023-2024

                                    ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Laporan ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi stunting di Kelurahan Tagaraja, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini.

                                    Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting

                                      Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan dataang. Stunting menjadi ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia di masa mendatang karena dapat menghambat pertumbuhan fisik, hambatan pertumbuhan otak anak (kognitif), penurunan kualitas belajar hingga penurunan produktivitas di usia dewasa serta ancaman peningkatan penyakit tidak menular. 

                                      Stunting disebabkan oleh masalah asupan gizi yang dikonsumsi selama kandungan
                                      maupun masa balita. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum masa
                                      kehamilan, serta masa nifas, terbatasnya layanan kesehatan seperti pelayanan antenatal,
                                      pelayanan post natal dan rendahnya akses makanan bergizi, rendahnya akses sanitasi dan air
                                      bersih juga merupakan penyebab stunting. Multi faktor yang sangat beragam tersebut membutuhkan intervensi yang paling menentukan yaitu pada 1000 HPK ( 1000 hari pertama kehidupan ). Salah satu dampak stunting adalah tidak optimalnya kemampuan kognitif anak yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya ke depan. Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. 

                                      Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang menyebabkan gangguan pertumbuhan linear (RPL). Menurut WHO Child Growth Standart stunting didasarkan ada pada pengukuran panjang badan atau tinggi badan menggunakan batas Z score dengan indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) < -2 SD. Keputusan Menteri Kesehatan No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antorpometri penilaian status gizi anak dibedakan menjadi 2 yaitu stunted (pendek / z score < -2SD) dan severely stunted (sangat pendek / z score < -3SD. Periode 0-24 bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini. 

                                      Indonesia menduduki peringkat ke lima dunia dan tertinggi di Asia Tenggara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting.

                                      Pada tahun 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir telah mengadakan Rembuk Stunting dengan menetapkan 26 lokus desa/kelurahan untuk intervensi spesifik dan sensitive pada lokus tersebut. Kelurahan Tagaraja sebagai salah satu Kelurahan yang menjadi lokus stuntng memiliki tanggung jawab dalam pencegahan dan penurunan Stunting di tingkat Desa. 

                                      Grafik 1. Angka Prevalensi Stunting Tahun 2023 dan 2024 

                                      di Kelurahan Tagaraja

                                      Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kelurahan Tagaraja di tahun 2023 yaitu 2,2% dan 2024 yaitu 1,6%.  Beberapa upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan pemberian TTD pada Ibu hamil, melakukan sosialisasi ASI Ekslusif, Pemberian makan pada Bayi,dan Anak (PMBA), Pemberian Vitamin A, melakukan pemantauan tumbuh kembang, serta program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

                                      1. Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting 
                                      2. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

                                      Beberapa faktor determinan yang mempengaruhi stunting adalah asupan makan yang tidak memadai, ASI eksklusif, lingkungan rumah dan faktor dari ibu.  Ibu yang mempengaruhi stunting diantaranya kurang gizi selama pra konsepsi sampai menyusui, penyakit infeksi, kesehatan mental ibu, jarak kelahiran pendek, kehamilan usia remaja, pendidikan dan tinggi badan pendek. Selain itu berat lahir dan kebiasaan merokok juga sangat berpengaruh pada kejadian stunting pada balita. 

                                      Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah dan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi. 

                                      Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah 

                                        Dinas Kesehatan bersama Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa, dimana Pola Konsumsi Ibu Hamil, Pola Asuh Ibu dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan. Selain diberikan nya Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil, juga dilakukan Intervensi pada Ibu Hamil KEK dengan Pemberian PMT. Guna mencegah terjadinya BBLR yang akan berdampak pada masalah gizi anak.

                                        Kelompok Sasaran Beresiko

                                          Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandung pun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan meningkatkan IPM Desa Pasir Emas dimasa depan.

                                          Upaya Yang Telah dilakukan

                                            Berbagai upaya yang telah dilakukan di Desa Pasir Emas Bersama Puskesmas dan lintas sector guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain;Kegiatan Penyuluhan pada remaja putri dan ibu hamil  pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah

                                            1. Pemberian Vitamin A pada bayi dan balita, Penyuluhan Asi ekslusif.
                                            2. Terkait kesehatan reproduksi masih ditemukan adanya pernikahan dini, sudah dilakukan dengan memberi penyuluhan, melakukan bimbingan kepada calon pengantin Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah, namun ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
                                            3. Bayi dan balita gizi buruk sudah dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Ibu hamil Anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) telah mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Dengan adanya penanganan bayi balita gizi kurang dan gizi buruk, ibu hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting, gizi kurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.
                                            4. Melakukan kegiatan Kolaborasi Tim Kabupaten di desa Tanjung Pasir yaitu upaya pencegahan stunting,edukasi gizi bagi anak dan remaja serta ibu hamil, 
                                            5. Bersama dinas Kesehatan Pengutan  pergerakan Pelaksnaan Intervensi Specifik dan Sensitif STUNTING

                                            (ADV)