Waspada, Gejala MERS Mirip Influenza

1145251-batuk-flu-780x390detikriau.org – Virus korona sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) sudah menyebar semakin luas. Karena itu, masyarakat diimbau untuk semakin waspada terhadap penularan virus penyebab radang paru-paru ini. Salah satu bentuk kewaspadaan yaitu dengan mengetahui gejala-gejalanya.

Dokter spesialis paru Diah Handayani mengatakan, gejala dari infeksi MERS mirip dengan influenza, sehingga diistilahkan “flu like syndrome“. Penderita MERS akan mengalami batuk dan keluar mucus (lendir) yang berlebihan dari hidungnya.

“Bedanya, pada yang terinfeksi MERS juga akan timbul demam tinggi minimal 38 derajat celcius dan sesak napas,” kata dokter dari Divisi Infeksi, Departemen Pulmologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini kepada Kompas Health, Rabu (7/5/2014).

Diah menjelaskan, MERS sejatinya merupakan pneumonia yang disebabkan oleh virus. Pneumonia atau radang paru pada umumnya disebabkan oleh bakteri pneumoni, sedangkan untuk MERS penyebabnya adalah virus korona.

MERS, lanjutnya, juga memiliki kemiripan dengan sindrom pernapasan akut berat (SARS) yang sempat mewabah beberapa waktu lalu. Keduanya sama-sama pneumonia yang disebabkan oleh virus.

“Meskipun gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan virus sama, namun virus lebih berbahaya daripada bakteri. Ini karena virus penyebab pneumonia tinggi sekali virulensinya,” terang Diah.

Virulensi merupakan kemampuan virus menyebabkan penyakit. Pada pneumonia yang disebabkan virus, perkembangan penyakit bisa hanya dalam hitungan jam, bukan hari lagi. Sehingga sekali gejala muncul, pasien perlu segera memeriksakan diri untuk mencegah perkembangan penyakit semakin luas.

Diah memaparkan, masa inkubasi dari virus hingga menyebabkan penyakit adalah dua hingga 14 hari. Sehingga mungkin saja seseorang terinfeksi virus corona MERS di Timur Tengah dan kemudian gejala baru timbul begitu sudah kembali ke negara asal.

Ia menegaskan supaya setiap orang yang memiliki gejala influenza segera memeriksakan diri, terlebih setelah pulang dari Timur Tengah. Dan bukan hanya orang tersebut yang perlu memeriksakan diri, orang-orang terdekat di lingkungan hidupnya pun perlu memeriksakan diri.

Ini karena virus mungkin bisa menular antarmanusia dengan cepat dan mudah dengan batuk, bersin, bahkan berbicara. “Siapapun yang mengadakan kontak dengan pasien perlu dicurigai, maka perlu juga diperiksa,” ujarnya.(kompas.com)




Hati-hati, Picky Eater Berdampak Pada Pertumbuhan IQ Anak

083559_anakdepresiJakarta, Picky eater adalah kelompok anak-anak yang selalu memilah milih makanan. Anak-anak picky eater cenderung susah makan sehingga menyebabkan badan mereka kurus dan kurang gizi.
Prof. Dr. dr. Hananto Wiryo, SpA (K), dokter spesialis anak di RS Bedah Asri Jakarta dan konsultan nutrisi dan metabolik, menyatakan bahwa picky eater biasanya terjadi pada anak-anak yang ditinggal bekerja oleh orang tuanya sehingga urusan pemberian makan sehari-hari ditangani oleh baby sitter atau pengasuh. Akibatnya, asupan pada anak pun menjadi berantakan sehingga menghambat pertumbuhan IQ-nya.
“Picky eater itu bisa terjadi di usia berapa saja. Bila picky eater terjadi pada anak di bawah usia 3 tahun, dipastikan pertumbuhan IQ anak menjadi terhambat dan tidak optimal,” papar Prof Hananto saat ditemui pada acara Parenting Class ‘Anak Susah Makan Sayur’ yang diadakan di RS Bedah Asri, Jl. Duren Tiga, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Minggu (27/4/2014).
Lebih lanjut, Prof Hananto menjelaskan bahwa usia 3 tahun merupakan golden age, di mana semua pertumbuhan yang seharusnya optimal akan terjadi ketika usia mencapai masa golden age itu. Oleh karena itu, jika pertumbuhan IQ terhambat sebelum usia 3 tahun, maka hal tersebut akan berdampak pada kecerdasan anak. “Akibatnya anak bisa-bisa jadi kurang cerdas kan,” imbuhnya.
Tidak hanya itu saja, menurut Prof Hananto, picky eater juga akan berdampak buruk pada mudahnya anak terinfeksi penyakit. Hal ini bermula pada malnutrisi (kurang gizi) sehingga akhirnya berdampak pada infeksi penyakit.
“Malnutrisi itu bisa menyebabkan penyakit, seperti batuk, pilek, diare berulang, TBC anak, hingga infeksi saluran kemih,” terang Prof Hananto.
Maka dari itulah Prof Hananto sangat menyarankan kepada para orang tua untuk secara serius menangani permasalahan anak yang masuk dalam kelompok picky eater ini. Prof Hananto sangat menyayangkan bahwa masih ada masyarakat yang menilai picky eater merupakan sesuatu yang sepele, padahal menurut Prof Hananto, dampak yang ditimbulkan dari masalah picky eater ini sangatlah luas.(detik.com)




Rajin Minum Kopi Tekan Risiko Diabetes?

0902504shutterstock-52926367780x390detikriau.org — Kopi memang telah diketahui sebagai minuman yang bermanfaat karena kandungan antioksidannya. Sebuah studi berskala di Amerika Serikat bahkan baru-baru ini menemukan, kebiasaan minum kopi dapat mengurangi risiko diabetes melitus.

Studi yang melibatkan lebih dari 123.000 orang dewasa itu menemukan, orang yang minum kopi lebih dari satu cangkir dalam sehari selama empat tahun mengalami menurunan risiko diabetes. Kesimpulan tersebut didapat melalui perbandingan dengan kelompok lainnya yang minum kopi kurang dari itu.
“Sepertinya ada pengaruh dosis kopi yang dikonsumsi dengan penurunan risiko diabetes,” ujar ketua penelitian Frank Hu, profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard School of Public Health.
Menurut studi tersebut, semakin banyak konsumsi kopi semakin menurun risiko diabetes yang dihadapi seseorang. Minum kopi tiga hingga lima cangkir kopi dalam sehari dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan.
Kendati demikian, tidak semua orang bisa minum kopi dalam jumlah yang sangat banyak dalam sehari. Pasalnya, kafein dalam kopi merupakan stimulan yang membuat orang tetap terjaga, waspada, dan membuat jantung berdebar-debar.
“Sulit untuk menentukan komponen apa dalam kopi yang dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2. Namun kombinasi dari antioksidan dan nutrisi pada kopi mungkin yang paling berperan,” kata Hu.
Studi yang dipublikasi dalam jurnal Diabetologia tersebut menunjukkan adanya hubungan antara dosis kopi dan penurunan risiko diabetes. Meskipun, hubungan tersebut bukanlah hubungan sebab-akibat.
Studi sebelumnya pada binatang dan sejumlah kecil kelompok orang dewasa menunjukkan, tidak ada hubungan antara kopi dan penurunan resistensi insulin. Diketahui, resistensi insulin merupakan tanda-tanda dari diabetes.
Hu menegaskan, kopi dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat, namun untuk mencegah terjadinya diabetes tipe 2, maka itu bukan segalanya. “Orang harus menjaga berat badannya tetap ideal dan aktif secara fisik,” katanya.(kompas.com)




Pertolongan Pertama pada Patah Tulang

patah tulangdetikriau.org —  Patah tulang umumnya disebut dengan fraktur dan digolongkan menjadi 2 macam, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Pada fraktur tertutup, tulang yang patah tidak sampai keluar melewati kulit. Sedangkan pada fraktur terbuka, sebagian atau keseluruhan tulang yang patah terlihat menembus kulit. Kasus ini dapat berbahaya karena korban kemungkinan akan kehilangan banyak darah dan rawan infeksi.
Jangan memindahkan korban kecuali ada tenaga medis yang berpengalaman, khususnya apabila bagian yang terluka adalah kepala, leher atau tulang belakang. Jika harus dipindahkan, pastikan bagian yang terluka tidak bergeser atau bergerak karena proses pemindahan. Contohnya, ikat bagian kaki yang terluka dengan kaki yang tidak terluka, baru kemudian dipindahkan.
Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul ‘First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat’, gejala patah tulang antara lain:
– Korban merasa atau mendengar bunyi patahan tulang
– Bagian yang terluka terasa sakit sekali, terutama saat disentuh atau digerakkan
– Sulit menggerakkan bagian yang terluka
– Gerakan bagian tubuh yang terluka tidak normal atau tidak seperti biasanya
– Terlihat bengkak
– Ada rasa sensasi tidak enak pada ujung tulang tubuh yang terluka
– Terlihat ada perubahan bentuk
Ukuran atau panjang tulang berbeda dengan pasangan tubuh lainnya
– Bagian tubuh yang luka terlihat membiru
Apabila menemui gejala-gejala di atas, penanganan darurat yang dapat dilakukan adalah:
1. Buka jalan napas, lakukan napas buatan jika diperlukan
2. Hentikan perdarahan apabila terjadi patah tulang terbuka. Gunting pakaian korban sebelum melakukan pertolongan.
3. Bila korban tak sadarkan diri, anggap ia mengalami luka di bagian kepala, leher atau tulang belakang.
4. Jangan mencoba untuk mengembalikan tulang yang terlihat keluar.
5. Jangan membersihkan luka atau menyisipkan sesuatu pada tulang yang luka meskipun tujuannya untuk menolong.
6. Tutup luka secara perlahan dengan kain steril atau perban untuk menghentikan perdarahan.
7. Tutup luka secara keseluruhan, termasuk tulang yang menonjol keluar.
8. Hubungi paramedis atau ambulans, jangan mengangkat korban yang terluka di bagian kepala, leher atau tulang belakang tanpa memakai tandu. Jaga kepala tetap lurus dengan badan.
9. Bila pertolongan medis belum datang sementara korban harus dibawa ke rumah sakit, gunakan splint di atas dan di bawah luka sebelum korban dipindah.
10. Jangan memberi minuman atau makanan pada korban.(detik.com)
 
 
 




Ingin Berat Badan Cepat Turun? Makan Malamlah Pukul 18:14

181835_dalamdetikriau.org — Ternyata, rahasia sukses menurunkan berat badan tak hanya tergantung pada apa dan seberapa banyak yang kita makan dan minum. Agar cepat langsing, Anda juga perlu memerhatikan waktu yang tepat untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.
Menurut survei yang digelar Forza Supplements terhadap 1.000 orang yang sedang menurunkan berat badan, waktu optimal untuk sarapan adalah pukul 07:11. Makan siang sebaiknya dilakukan pada pukul 12:38, sedangkan makan malam pada pukul 18:14.
“Kebanyakan orang yang berdiet menganjurkan makanan ini dilengkapi dengan camilan rendah lemak ketika Anda kelaparan menjelang siang atau sore hari,” jelas Lee Smith, Managing Director Forza Supplements.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 84% orang yang berdiet yakin bahwa menaati waktu makan tertentu penting jika ingin melangsingkan tubuh. Selain itu, 76% responden mengatakan bahwa sarapan adalah waktu makan terpenting dalam sehari.
“Melewatkan sarapan hanya akan membuat Anda lapar dan cenderung makan berlebihan di waktu makan berikutnya. Hal ini menyebabkan lonjakan gula darah,” tutur Smith seperti ditulis situs Express (31/03/2014). Ia menyarankan kita membiasakan pola makan konsisten tiga kali sehari, antara 400-600 kalori, agar gula darah lebih stabil.
Sebanyak 60% responden menilai, melewatkan waktu makan akan mempersulit penurunan berat badan. Sebagian besar (67%) partisipan survei setuju bahwa makan malam sebelum pukul 19:00 bisa membantu penurunan berat badan.
Namun, lebih dari setengah peserta studi mengaku paling banyak mengonsumsi kalori pada pukul 18:00-22:00. Mereka (62%) pun mengaku sering ngemil setelah jam 20:00 di depan televisi.
“Kalori terbakar kapanpun Anda memakannya. Namun, jika Anda makan malam terlalu larut, Anda tak bisa membakar habis kalori tersebut karena Anda cenderung jadi tidak aktif sebelum tidur. Kalori yang tidak terbakar akan disimpan sebagai lemak,” jelas Smith.
Selain itu, lanjut Smith, makan terlalu dekat dengan jam tidur dapat meningkatkan kadar gula darah dan insulin, sehingga Anda jadi sulit tidur. “Makan malam harus menjadi yang paling ringan dibanding makan siang dan sarapan. Sebaiknya lakukan tiga jam sebelum Anda tidur,” saran Smith.(detik.com)
 
 




Cara Meningkatkan Daya Ingat

245636_daya-ingat_663_382detikriau.org — Daya ingat adalah hal yang berhubungan dengan kinerja otak. Otak merupakan bagian dari organ tubuh yang harus dilatih agar tetap menjadi prima, walau berat otak hanya 2kg, tetapi bila tidak dirawat dan dilatih perlahan otak akan menjadi lemah.

Kelemahan kinerja otak dapat terlihat dari ketidakmampuan untuk mengingat suatu hal. Otak juga membutuhkan asupan gizi dari makanan dan beberapa vitamin juga butuh lebih banyak oksigen dibandingkan dengan organ-organ tubuh lainnya.
selengkapnya