Menyambut Hari Pengungsi Dunia, Kovid Psikologi Gelar Seminar Nasional

ARBindonesia.com, PEKANBARU – Peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2020 di Pekanbaru, Komunitas Virtual dengan Psikologi (Kovid Psikologi) menggelar Seminar Nasional secara Online, Sabtu (20ajj bc o/6/2020).


Adapun yang menjadi narasumber pada seminar nasional tersebut diantaranya dari Lembaga PBB yaitu UNHCR (The United Nations High Commissioner for Refugees) Mrs. Ann Maymann dan IOM (International Organization for Migration) Mr. Dejan Micevski.


Serta perwakilan pemerintah yang memiliki tugas dalam penanganan pengungsi yaitu Ketua Harian Satgas Nasional Pengungsi Kemenkopolhukam Brigjen Pol (P) Drs. Chairul Anwar,Sh., MH dan Doktor Psikologi Sosial UIN SUSKA Riau Dr. Harmaini, M.Si.


Seminar nasional yang ditaja oleh Komunitas Virtual dengan Psikologi (Kovid Psikologi) ini dimoderatori mahasiswa Magister Psikologi Mangisi Erlinda S.Psi, yang juga merupakan Kepala kantor IOM di Pekanbaru pada Jumat, 19 Juni 2020.


Kegiatan ini dilakukan secara Bilingual dimana antusias peserta lebih meningkat dari sebelumnya, yang terdaftar sebagai peserta 640 orang dari seluruh daerah di Indonesia dan Luar Negeri seperti Australia, Singapura dan negara lainnya, dengan Views youtube mencapai 1.005 dari 7 jam tayang YouTube.


Ketua Harian Satgas Nasional Pengungsi Kemenkopolhukam Brigjen Pol (P) Drs. Chairul Anwar,Sh., MH menyatakan bahwa terdapat 13.515 pengungsi di beberapa kota di Indonesia saat ini.


Satgas Penanganan Pengungsi Kemenkopolhukam terus berupaya melakukan penanganan pengungsi bersama pemerintah daerah dan lembaga-lembaga internasional seperti UNHCR dan IOM, dibawah payung hukum Perpres no 125/ 2016.


“Banyak PR yang masih perlu dibenahi baik dari Perpres 125/ 2016 yang kedepannya akan ditinjau ulang, peningkatan koordinasi dan peranan pemerintah daerah serta payung hukum lainnya yang mengatur pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan kegiatan lainnya bagi pengungsi di Indonesia,” papar Drs. Chairul Anwar,Sh., MH dalam seminar.


Selain itu, International Organization for Migration yang diwakili oleh Mr. Dejan Micevski menjelaskan tentang penanganan pengungsi yang berada dibawah perawatan IOM di Indonesia.


Ia juga menjelaskan IOM mendukung pemerintah dalam penanganan pengungsi yang berada di 8 kota di Indonesia dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, perawatan dan perlindungan pengungsi serta kegiatan pengungsi bersama masyarakat setempat melalui upaya sukarela dari pengungsi sendiri.


“Dimasa pandemic Covid19 pengungsi telah melakukan berbagai kegiatan diantaranya pembuatan masker kain di Pekanbaru dan kota-kota lainnya yang dibagikan kepada masyarakat sekitar,” imbuh Mr. Dejan Micevski .


Sementara itu Perwakilan UNHCR untuk Indonesia Ms. Ann Maymann menyampaika rasa terima kasih atas inisiatif Kovid Psikologi dan UIN Suska Riau untuk melakukan kegiatan Seminar Nasional Online yang mengangkat tema Penanganan Pengungsi di Masa pandemic Covid19.


Ia mengaku sangat terkesan karena kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peringatan Hari Pengungsi Sedunia yang jatuh pada 20 Juni 2020.


(Tim Covid Psikologi)


Selamat merayakan World Refugees Day


“There is no exercise better for the heart than reaching down and lifting people up”
John Holmes.




Polisi Israel Tembak Mati Warga Palestina Berkebutuhan Khusus

Ilustrasi konflik Palestina dan Israel. (AFP PHOTO / JAAFAR ASHTIYEH)


ARBindonesia.com — Polisi Israel di Yerusalem timur menembak mati seorang warga Palestina berkebutuhan khusus karena mengira dia membawa sebuah pistol, Sabtu (30/5).


Insiden ini terjadi di jalan kecil Kota Tua yang merupakan jalan utama bagi warga Palestina di wilayah yang dicaplok Israel ini.


“Unit polisi yang sedang berpatroli di sana melihat seorang yang diduga membawa barang yang dicurigai pistol,” bunyi pernyataan tertulis polisi Israel yang dikutip AFP.


“Mereka meminta tersangka berhenti dan mengejarnya. Saat pengejaran, para petugas melepas tembakan ke arah tersangka sehingga dilumpuhkan.


“Tidak ditemukan senjata di sekitar lokasi,” kata pernyataan itu.


Kantor berita resmi Palestina Wafa mengidentifikasikan korban sebagai Eyad Hallak, seorang warga berkebutuhan khusus yang tinggal di permukiman Wadi Joz, Jerusalem timur.


Beberapa hari belakangan terjadi peningkatan kekerasan di Jerusalem timur dan Tepi Barat yang diduduki, meski belum separah yang terjadi pada 2015-2016 ketika pasukan keamanan Israel kesulitan menghentikan gelombang serangan lone wolf yang tidak berkaitan dengan kelompok tertentu.


Pada Jumat (29/5) seorang warga Palestina mencoba menabrakkan kendaraan ke arah sejumlah tentara Israel di kota Ramallah, Tepi Barat, namun dia ditembak mati oleh para tentara.


Sebelumnya pada Senin (25/5) polisi Israel menembak dan melukai seorang pria yang mencoba menusuk seorang petugas di Yerusalem timur.


Muncul kekhawatiran rencana Israel mengambil keuntungan dari lampu hijau yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok wilayah Tepi Barat akan memicu kekerasan lebih besar lagi. (AFP)


Sumber CNNindonesia.com




Mengejutkan! Wuhan Kembali Diserang Corona

ARBindonesia.com, WUHAN – Kabar mengejutkan terkait virus corona datang dari Wuhan, Tiongkok. Setelah sebulan lebih tanpa kasus baru, kota kelahiran virus corona itu melaporkan temuan lima transmisi lokal pada Minggu (10/5).


Wuhan terakhir kali melaporkan penambahan kasus pada awal April lalu. Sementara terakhir kali ibu kota Provinsi Hubei itu mengumumkan lima tambahan kasus baru adalah pada 11 Maret.


Pemerintah setempat menyatakan bahwa kelima kasus baru itu ditemukan di sebuah kawasan permukiman.
Secara nasional, jumlah kasus baru yang dilaporkan kemarin mencapai 17 kasus. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Tiongkok sejak 28 April.


Data baru ini menunjukkan sulitnya mencegah gelombang kedua infeksi virus corona di tengah upaya menggenjot kembali perekonomian Tiongkok.


Kini, sebagian besar infeksi baru di Negeri Tirai Bambu itu berasal dari luar negeri. Dari total 17 kasus baru yang ditemukan kemarin, sebanyak tujuh di antaranya merupakan impor. (*)


Sumber pojoksatu.id




Kasus WNI Positif Corona Meninggal di Luar Negeri Menjadi 38 Orang

Kemlu mencatat jumlah WNI di luar negeri yang meninggal akibat positif Corona bertambah menjadi 38 orang. Foto/SINDOnews


ARBindonesia.com, JAKARTA – Dalam dua hari berturut-turut, Arab Saudi mencatatkan empat warga negara Indonesia (WNI) di negaranya meninggal akibat Corona. Dengan penambahan itu, total WNI di luar negeri yang dinyatakan meninggal akibat wabah itu mencapai 38 orang.


Catatan itu diperoleh dari data yang diungkapkan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) hari ini melalui keterangan di akun Twitter-nya @Kemlu_RI. Tercatat terjadi penambahan lagi kasus WNI di luar negeri yang dinyatakan positif COVID-19.


Hingga hari ini, Kemlu mengumumkan total kasus WNI terkonfirmasi Covid-19 mencapai 714 orang. Ada sembilan kasus baru yang terjadi di beberapa negara. “Tambahan WNI terkonfirmasi #COVID19 di Amerika Serikat, Inggris & Arab Saudi. Total WNI terkonfirmasi COVID-19 di Luar Negeri adalah 714,” begitu keterangan Kemlu, Kamis (7/5/2020).


Bila dirinci, di Amerika Serikat bertambah empat kasus baru WNI positif Corona. Kemudian, penambahan dua kasus lainnya terjadi di Arab Saudi dan tiga kasus di Inggris.


Berdasarkan data itu, Kemlu juga menyampakian terjadi lonjakan kasus WNI di luar negeri yang sembuh dari Corona sebanyak delapan orang. Dengan demikian, total yang dinyatakan sembuh mencapai 333 sembuh.


Pasien yang dinyatakan sembuh berada di dua negara. Jumlah yang dinyatakan sembuh di Amerika Serikat bertambah lima orang, sedangkan di Inggris tiga orang. Adanya penambahan kasus sembuh itu menyebabkan jumlah WNI yang menjalani perawatan intensif menurun satu orang. Saat ini total yang dirawat dan dalam kondisi stabil mencapai 343 dalam perawatan.


Berikut Sebaran Kasus WNI Covid-19 di Luar Negeri


Amerika Serikat: 55 orang (16 sembuh, 27 stabil, 12 meninggal)


Arab Saudi: 96 orang (15 sembuh, 71 stabil, 10 meninggal)


Australia: 2 orang (stabil)


Belanda: 7 orang (2 sembuh, 1 stabil, 4 meninggal)


Belgia: 2 orang (1 sembuh, 1 stabil)


Brunei Darussalam: 5 orang (4 sembuh, 1 stabil)


Ekuador: 1 orang (sembuh)


Filipina: 1 orang (stabil)


Finlandia: 1 orang (sembuh)


India: 75 orang (73 sembuh, 2 stabil)


Inggris: 17 orang (14 sembuh, 1 stabil, 2 meninggal)


Irlandia: 1 orang (sembuh)


Italia: 3 orang (sembuh)


Jepang: 2 orang (1 sembuh, 1 stabil)


Jerman: 10 orang (6 sembuh, 3 stabil, 1 meninggal)


Kamboja: 2 orang (sembuh)


Kanada: 1 orang (stabil)


Korea Selatan: 1 orang (sembuh)


Kuwait: 6 orang (stabil)


Malaysia: 108 orang (27 sembuh, 79 stabil, 2 meninggal)


Oman: 1 orang (sembuh)


Pakistan: 32 orang (26 sembuh, 6 stabil)


Perancis: 4 orang (3 sembuh, 1 stabil)


UEA: 15 orang (1 sembuh, 14 stabil)


Qatar: 8 orang (4 sembuh, 4 stabil)


RRT (Makau): 3 orang (2 sembuh, 1 stabil)


Rusia : 5 orang (stabil)


Singapura: 51 orang (28 sembuh, 21 stabil, 2 meninggal)


Spanyol: 13 orang (11 sembuh, 2 stabil)


Taiwan: 3 orang (2 sembuh, 1 stabil)


Thailand: 1 orang (stabil)


Turki: 2 orang (1 sembuh, 1 meninggal)


Vatikan: 8 orang (5 sembuh, 3 stabil)


Kapal pesiar: 172 WNI (81 sembuh, 87 stabil, 4 meninggal)


sumber sindonews.com




Jasad ABK RI Dibuang ke Laut, China: Sesuai Praktik Internasional

Gambar dari video jenazah ABK Indonesia yang meninggal di kapal nelayan China. Foto/Tangkapan layar MBC News


ARBindonesia.com, JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China sudah mengklarifikasi pembuangan jasad anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang dibuang dari kapal penangkap ikan China ke laut.


Menurut kementerian tersebut korban mengidap penyakit menular dan ada aturan internasional yang membolehkan tindakan seperti itu.


“KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Beijing telah menyampaikan nota diplomatik untuk meminta klarifikasi mengenai kasus ini. Dalam penjelasannya, Kemlu RRT (Republik Rakyat Tiongkok) menerangkan bahwa pelarungan telah dilakukan sesuai praktik kelautan internasional untuk menjaga kesehatan para awak kapal lainnya,” kata Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kamis (7/5/2020), mengutip hasil klarifikasi Kemlu China.


Pada Desember 2019 dan Maret 2020, pada kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604 terjadi kematian 3 awak kapal WNI (warga negara Indonesia) saat kapal sedang berlayar di Samudra Pasifik. Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan melarung jenazah karena kematian disebabkan penyakit menular dan hal ini berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya.


Dasar hukum pelarungan atau pembuangan jasad ABK ke laut adalah ILO Seafarer’s Service Regulation tentang prosedur pelarungan jenazah (burial at sea). Dalam ketentuan ILO disebutkan bahwa kapten kapal dapat memutuskan melarung jenazah dalam kondisi antara lain jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.


Video pelarungan jasad ABK WNI viral di Korea Selatan. Media setempat, MBC, menulis bahwa kejadian pelarungan jasad ABK WNI ke laut terjadi pada 30 Maret di Samudra Pasifik. Dalam video itu, ada peti mati yang dibungkus kain merah terlihat ditempatkan di geladak sebuah kapal ikan China.


Peti mati itu berisi jenazah bernama Ari, pelaut Indonesia berusia 24 tahun. Setelah memancing selama lebih dari setahun di atas kapal nelayan China, dia meninggal di kapal.


Para pelaut China di sekitar peti mati menjalankan prosesi pemakaman sederhana dengan menyalakan dupa dan menaburkan alkohol.


“Apakah ada orang lain yang melakukan lebih banyak (prosesi)? Tidak? Tidak?,” kata pelaut China dalam video yang ditayangkan MBC.


Lalu, pelaut itu mengangkat peti mati dan melemparkannya ke laut. Ari dimakamkan di laut yang kedalamannya tidak diketahui.


Bahkan sebelum Ari meninggal, ada ABK bernama Alfata yang berusia 19 tahun dan Sepri yang berusia 24 tahun juga dilaporkan meninggal.


Sebelumnya, pemerintah Indonesia, baik melalui perwakilan Indonesia di Selandia Baru, RRT dan Korea Selatan maupun di Pusat, memberi perhatian serius atas permasalahan yang dihadapi ABK WNI di kapal ikan berbendera RRT Long Xin 605 dan Tian Yu 8 yang beberapa hari lalu berlabuh di Busan, Korea Selatan. Kedua kapal tersebut membawa 46 ABK WNI dan 15 diantaranya berasal dari Kapal Long Xin 629.


KBRI Seoul berkoordinasi dengan otoritas setempat telah memulangkan 11 awak kapal pada 24 April 2020. Sebanyak 14 awak kapal lainnya akan dipulangkan pada 8 Mei 2020. KBRI Seoul juga sedang mengupayakan pemulangan jenazah awak kapal atas nama (inisial) E yang meninggal di Rumah Sakit Busan karena pneumonia. Sedangkan 20 awak kapal lainnya melanjutkan bekerja di kapal Long Xin 605 dan Tian Yu 8. (*)


Sumber Sindonews.com




Lembaga Kesehatan AS Sebut Ada Enam Gejala Baru Orang Terinfeksi Virus Corona

ARBindonesia.com Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menambahkan enam gejala baru bagi orang yang terinfeksi virus corona (Covid-19).


Enam gejala tersebut yaitu menggigil, gemetar disertai menggigil, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan kehilangan indra perasa atau penciuman.


Gejala itu ditambahkan dengan gejala yang dikonfirmasi sebelumnya yaitu demam, batuk, dan sesak napas. Demikian dilansir dari Alarabiya, Senin (27/4).


CDC mengatakan, orang yang mengalami kesulitan bernapas, rasa sakit yang terus-menerus atau tekanan di dada, sulit bangun, atau bibir atau wajah kebiruan harus segera mencari pertolongan medis.


Gejala lain dari Covid-19 termasuk diare, pilek, kelelahan dan mual, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Menurut WHO, sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 mengalami gejala ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus.


Beberapa kasus parah memerlukan perawatan intensif dan pemasangan ventilator agar tetap mendapatkan oksigen.


Orang yang memiliki riwayat penyakit dan mereka yang berusia di atas 60 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit ini dan bahkan menyebabkan kematian.


Virus corona sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 2,9 juta orang di seluruh dunia dan merenggut nyawa lebih dari 203.000 orang, menurut data Universitas Johns Hopkins.


Sumber merdeka.com