TIDAK BENAR ADA PUNGLI ATAS PENGERJAAN PROYEK TANGGUL PARIT SIDOMULYO.

Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Sekretaris Desa Sungai Rukam, Kecamatan Enok, Arrafi Arrasyidi membantah adanya pungli atas pembangunan proyek tanggul mekanik parit Sidomulyo Desa Sungai Rukam Kecamatan Enok. Menurutnya, sesuai hasil pengakuan dari masyarakat, dana yang ditetapkan sebesar 7 ribu per meter itu diperuntukan sebagai tambahan biaya pembuatan tanggul sepanjang 1,5 Km dan iuran tersebut dalam pertemuan lanjutan diturunkan kembali menjadi sebesar Rp. 3 ribu permeternya.

“Begitu mencuatnya pemberitaan adanya pungli atas pembangunan proyek tanggul mekanik tersebut, saya langsung dipanggil pak camat untuk dimintai keterangan. Sepulangnya dari menemui Pak Camat, saya memanggil beberapa orang warga untuk mempertanyakan hal ini. Waktu itu warga dengan tegas membantah.”Jawab Sekdes ketika bertemu detikriau di ruang komisi II DPRD Inhil, Kamis (27/10/2011)

Dilanjutkan Sekdes menuturkan pengakuan warganya, tambahan biaya yang disepakati sebesar 7 ribu itu atas kesepakatan warga dalam suatu musyawarah yang dimaksudkan untuk urunan biaya tambahan pengerjaan tanggul sepanjang 1,5 KM dan perbaikan jembatan.

“sekalian warga minta tolong alat berat untuk tanam tiang pancang jembatan. Tentu kita tidak mungkin meminta bantuan seenaknya karena untuk operasional alat berat tersebut tentunya juga dibutuhkan bahan bakar.” Kata Sekdes mempertegas sambil menjelaskan kebutuhan tanggul untuk desa sungai rukam diperkirakan lebih kurang sepanjang 17 Km.

Terkait adanya tudingan pungli ini, Kepala Dinas Perkebunan Inhil, Kuswari melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Dwiyanto dengan tegas membantah. Bahkan dirinya bersedia berhenti kalau memang tudingan ini benar.

“Tudingan itu sama sekali tidak benar. Kita tidak pernah melakukan pungutan apapun kepada masyarakat. Kalau memang ada, berhentipun saya sanggup,” Jawab Dwiyanto dengan tegas ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya, Kamis (27/10/2010).

Anggota DPRD asal pemilihan Enok, Edy Harianto Sindrang juga menyangkal hal ini. Kata Edy, kalau memang tanggul yang dikerjakan itu tetap sepanjang 2,5 Km dan warga dipungut tambahan biaya, ini bisa dikatakan pungli. Tapi tambahan biaya inikan untuk tambahan pekerjaan yang dimintakan warga.

Disebutkannya juga, bantuan tanggul dari pemkab sepanjang 2,5 km itu tidak menyelesaikan masalah.”Kebutuhan tanggul sekitar 17 Km. ya idealnya pemda bantulah 10 Km-nya. Sisanya kan bisa dimintakan swadaya pada warga. Ini kalau memang kita mau sungguh-sungguh,”Kata Edy.

Edy juga mengucapkan terimakasih kepada anggota DPRD yang memiliki perhatian pada dapil tiga asal pemilihannya. “sebagai anggota Dewan, Kita tentunya tidak lagi bekerja dengan mengusung nama partai tapi lebih menyatu dalam kelembagaan yang disebut DPRD”.Pungkas Edy. (fsl)




Kecamatan Kritang Akan Seragamkan Musim Tanam Padi

KOTA BARU (www.detikriau.wordpress.com) — Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi, salah satu terobosan yang akan dilakukan pihak kecamatan adalah dengan jalan penyeragaman musim tanam. Hal itu itu juga dalam rangka menyukseskan program OPRM yang menjadi salah satu program prioritas Provinsi Riau.

“Sebagai komitmen penyeragaman tersebut dalam rapat evaluasi dan koordinasi program OPRM beberapa waktu lalu, salah satu poin penting yang dihasilkan adalah terkait penyeragaman musim tanam padi oleh petani pada minggu kedua bulan November,” ujar Camat Kritang Ahmad Ramani S.Sos. 

Masih menurutnya, untuk itu ia berharap kepada Kepala Desa dan UPT yang hadir dalam rapat tersebut untuk menginformasikan perihal tersebut kepada masyarakat petani. Langkah ini dinilai penting, karena ia melihat dimasyarakat ada langkah saling menunggu pada saat penanaman.

“Kesannya petani yang terlebih dahulu menanam dijadikan bahan percobaan. Kalau hasilnya baik, maka petani yang lain akan mengikuti. Tapi apa bila ada masalah seperti serangan hama, maka para petani akan menunda waktu tanam mereka,” terangnya.

Sebagai bentuk memotivasi untuk penyeragaman masa tanam, kalau memungkin juga akan mengundang Kadis Pertanian dan pejabat lainnya untuk hadir langsung ke lokasi. Sebab selama ini hanya panen raya saja, yang biasanya pejabat teras diundang, ini masa tanampun akan dilakukan. (Suf)




Inhil Terima Dana DAK Untuk Pendidikan RP 11 Milyar

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) —  Kabupaten Indragiri Hilir pada tahun 2011 ini mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 11 milyar. Dana sebesar itu diperuntukan guna pembangunan gedung sekolah, perehaban bangunan sekolah dan pembangunan gedung pustaka.

Informasi tersebut di peroleh baru-baru ini dari Anggota komisi II DPRD Inhil, Zulkarnain SE. Menurut keterangannya, dana tersebut masuk ke rekening daerah pada bulan September kemaren, dan kebetulan ketika itu dewan sedang membahas APBDP tahun 2011.

Keterlambatan masuknya anggaran memang berimbas pada pelaksanaan kegiatan. Sebab menurut petunjuk teknis, pelaksanaan paling lambat harus sudah selesai per 15 Desember. Akibatnya, bangunan sekolah yang meskinya bisa dibangun dua kelas mungkin hanya satu yang bisa dilaksanakan karena akibat keterbatasan waktu, rekanan tidak akan mampu untuk menyelesaikan.

“Kendala kita memang terletak pada lambatnya dana DAK tersebut masuk ke rekening Pemda. Akibatnya terpaksa beberapa kegiatan dipangkas, mengingat tenggang waktu pelaksanaan yang sangat mepet,” ujar Politis Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) tersebut.

Tapi meski begitu, ia berharap kepada pihak terkait untuk dapat bekerja maksimal dengan sisa waktu yang ada. Sebab, jangan sampai nantinya uang tersebut harus kembali lagi kepusat, karena kelemahan kita dalam memanfaatkan waktu yang tersisa. (Suf)




KESRA DIBAYAR “NYICIL”. GURU PERTANYAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Janji yang diberikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir untuk mengeluarkan dana Tunjangan Hari Raya (THR) atau Kesra bagi para tenaga pendidik pada hari senin dua pekan lalu dinilai para guru hanya setengah hati. Jangankan THR, tunjangan Kesra yang seharusnya dibayarkan 4 bulan juga hanya dibayarkan 2 bulan. Sisanya ngutang lagi. Kondisi seperti ini tentunya menjadikan keheranan bagaimana sebenarnya pengelolaan keuangan daerah.

“Belum ada bang. Jangankan THR. Untuk Kesra yang seharusnya kita terima untuk 4 bulan hanya dibayarkan 2 bulan. Tapi ya kita mau bilang apalagi, mau bikin macam-macam malah kita sendiri yang nantinya akan susah,” Jelas seorang tenaga pengajar sebuah sekolah menengah pertama di Tembilahan yang enggan menyebutkan namanya ketika ditayakan mengenai realisasi dari janji Kadisdik Inhil ini. Rabu (26/10/2011)

Bahkan dirinya saat itu sempat mempertanyakan tentang bagaimana sebenarnya kondisi pengelolaan keuangan daerah.”Abang ngerti nggak bagaimana sebenarnya pengelolaan keuangan daerah kita. Masak iya pemda sampai ngutang sama guru.” Tanyanya dengan jidat tampak berkerut.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Kadisdik Inhil, Anwar Nawang ketika sempat ditemui detikriau pada malam “welcome party” bagi kontingen 11 kabupaten/kota dalam iven porda yang lalu, jum’at malam (14/10/2011) mengatakan bahwa terlambatnya pembayaran THR bagi para guru disebabkan oleh keterlambatan penyerahan absen oleh 3 UPTD yang menyebabkan Disdik juga terlambat melakukan input pada RKA dan menurut Anwar, dirinya sempat berang dan memberikan teguran keras kepada tiga orang kepala UPTD tersebut.

Saat itu, Anwar berjanji akan memberikan salah satu THR atau Kesra bagi para guru pada senin tanggal 17/10/2011-nya. ”Insyaallah senin nanti sudah bisa kita bayarkan. Tapi untuk salah satunya dulu. Kalau tidak THR ya Kesranya,” kata Kadisdik saat itu.

Kalau memang seperti ucapan Kadisdik keterlambatan pembayaran hanya dikarenakan keterlambatan input pada RKA tentu pengertiannya dana untuk pembayarannya sudah tersedia. Tapi kenapa dalam realisasinya harus dibayar dengan cara “nyicil”?(fsl)




Tahun 2011 Kecamatan Kritang Dapat 1750 Hektar dari Proyek OPRM

KOTA BARU (www.detikriau.wordpress.com) — Potensi yang dimiliki Kecamatan Kritang untuk pengembangan tanaman padi sangat menjanjikan. Mungkin masih ada sekitar 7-8 ribu lahan yang masih tersedia untuk dijadikan areal persawahan. Kondisi itu tentunya membuat Kecamatan Kritang sangat layak untuk dijadikan penyangga utama lumbung padi dalam rangka mensukseskan kegiatan Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM).

Berkenaan dengan itulah, Kecamatan Kritang diberikan kepercayaan untuk tahun 2011 ini mendapat bantuan OPRM seluas 1750 hektar.   Diharapakan dengan bantuan yang cukup besar, akan mampu meningkatkan produksi beras Inhil secara Khusus dan Riau secara umum.

“Kecamatan Kritang, Reteh dan juga Sungai Batang, dahulu pernah menjadi lumbung berasnya Riau. Karena memang kondisi dan kebiasan masyarakatnya mendukung, makanya Kecamatan Kritang mendapat bantuan proyek OPRM dengan luas yang cukup besar,” kata Drs Wiryadi, Kadis Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultural dan Peternakan Kabupaten Indragiri Hilir.

Masih menurut mantan kabag Humas tersebut, Pada tahun sebelumnya Kecamatan Kritang juga mendapat bantuan OPRM seluas 1500 hektar. Hanya saja dalam pelaksanaannya, dari 1500 hektar yang terealisasi hanya 711 hektar. Itu berarti pelaksanaanya dibawah 50 persen.

Kendala yang dihadapi ketika itu, salah satunya adalah keterlambatan ketersedian bibit. Permasalahan lainnya adalah, petani padi ternyata tidak hanya fokus untuk satu pekerjaan, tapi juga diketahui mereka adalah petani kelapa. “Sehingga tidak jarang petani padi kita terpaksa memanen kelapa dulu, untuk keperluan hidup dan membeli hal yang dibutuhkan ketika menanam padi,” terangnya.

Sementara itu, Camat Kritang Ahmad Ramani, SPd, tentunya merasa bersyukur dengan kepercayaan yang diberikan untuk pelaksanaan proyek OPRM. Untuk itu dirinya merasa sangat optimis, untuk tahun ini proyek tersebut berjalan sukses dan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

“Terus terang kita optimis proyek OPRM pada tahun ini dapat berjalan sukses. karena bagimanapun juga, kesuksesan yang didapat tentu akan berimbas pada peningatan kesejahteraan petani kita,” ujarnya. (Nejad)




Akibat Tidak Ada Jembatan, Perahu Anak Sekolah Terbalik Saat Menyeberang

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) — Kondisi memprihatinkan menimpa anak-anak SD yang tinggal di Parit Jaya Baru, Parit Riau dan beberapa parit lainnya yang ada di Desa Sungai Rukam Kecamatan Enok. Tidak adanya jembatan penyeberangan membuat anak anak tersebut meski menggunakan perahu (sampan-red) untuk pergi kesekolah yang berlokasi di Parit Suak Jaya

Hanya untuk menuntut ilmu, anak-anak terpaksa harus melintasi Sungai Enok yang luasnya mendekati 100 meter dengan arus yang cukup deras. Hal itu tentunya sangat membahayakan mereka, karena yang namanya anak-anak, tentunya terkadang mereka masih sempat bermain di dalam perahu yang pada gilirannnya dapat membahayakan keselamatan mereka.

Itulah barangkali yang terjadi beberapa waktu lalu. Perahu rombongan anak sekolah berjumlah 9 0rang terbalik hingga memakan korban satu  nyawa. Informasi yang didapat, korban yang meninggal akibat kehabisan tenaga ketika akan berenang ke pinggir sungai, setelah menolong 8 orang rekannya. Sebab diketahui korban yang meninggal adalah siswa yang terbesar, sebagai bentuk tanggungjawab, ia menyelamatkan seluruh rekannya terlebih dahulu, meski pada gilirannnya dirinya yang harus menghadap sang Khalik.

Camat Enok HM Syatir Hasan S. Sos, ketika dikonfirmasi, Rabu, (26/10), membenarkan apa yang terjadi. Menurut keterangannya, kejadian tersebut sudah berlangsung sekitar 1 bulan yang lalu. Selaku Pemerintah Kecamatan dirinya turut berduka cita atas apa yang menimpa anak-anak tersebut.

Ditambahkannya, permasalahan ini memang menjadi persoalan yang dihadapi. Selama ini memang banyak usulan dari masyarakat untuk dibangunkan jembatan penyeberangan dikawasan tersebut. Hal ini dalam rangka memudahkan aktivitas masyarakat dan mencegah agar hal serupa jangan terjadi lagi dibelakang hari nantinya.

“Warga di Parit Jaya Baru Parit Riau dan beberapa parit lainnya, memang sudah lama mengharapkan dibangunnya jembatan penyeberangan kesana. Hal itu dalam rangka mempermudah anak-anak pergi ke sekolah, tidak seperti sekarang ini terpaksa haru menggunakan perahu,” imbuhnya.

Untuk itu menurut Camat, selaku Pemerintah Kecamatan mewakili masyarakat, dirinya meminta kepada Pemkab Inhil untuk dapat menganggarkan pembangunan jembatan tersebut. Hal itu tidak terlepas dalam rangka mengantisipasi, kedepan agar kejadian seperti ini jangan sampai terulang.

Sementara itu Edi Haryanto Sindrang anggota DPRD dari Enok, ketika dimintai tanggapannnya oleh dalam kesempatan berbeda mengungkapkan, Pemkab Inhil memang harus mencarikan solusi atas apa yang berlaku. Langkah yang bisa diambil mungkin dengan membangun jembatan, ataupun membuatkan alat penyeberangan lainnya yang relatif lebih aman dari pada menggunakan perahu.

“Yang paling utama saat ini yang harus dilakukan oleh Pemkab adalah solusi konkrit dalam rangka mencegah peristiwa serupa terjadi. Karena bagaimanapun juga, kita tentunya berkeinginan agar peristiwa itu jangan terulang kembali, hanya karena tidak ada langkah nyata yang dibuat,” kata politisi Golkar tersebut. (suf)