RED CROSS SINGAPURA, BANTU 1000 KK WARGA TEMBILAHAN.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Sabtu, 17 Desember 2011 bertempat di Lapangan Upacara jalan Gadjah Mada Tembilahan, Palang Merah Singapura bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia Cabang Inhil menggelar acara bhakti sosial. Bhakti sosial ini diwujudkan dalam bentuk pemberian sembako gratis bagi 1000 kepala keluarga kurang mampu.

dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Indragiri Hilir, Indra M Adnan yang dibacakan oleh Asisten II Setdakab Inhil, H. Syafrinal Hedy menyampaikan bahwa Bupati memberikan apresiasi tinggi dan ucapan terima kasih kepada Palang Merah Singapura atas bhakti sosial yang diadakan di Kabupaten Indragiri Hilir. Bupati juga mengharapkan agar persaudaraan dan kerjasama antara Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Singapura dapat terus terjalin serta semakin erat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan bhakti sosial yang memang sudah diagendakan Organisasi palang Merah Indonesia dalam kunjunganannya ke Bumi Srigemilang.
Pada Kamis 15 Desember 2011 yang lalu telah diadakan acara temu ramah antara Pemerintah Kab. Inhil bersama dengan Palang Merah Indonesia Kab. Inhil dan Palang Merah Singapura, di Pondok makan Moro Kangen Tembilahan.

di hari berikutnya, Jum’at 16 Desember 2011, rombongan Palang Merah Singapura yang didampingi oleh Palang Merah Indonesia melakukan kunjungan ke Desa Sungai Buluh, Kecamatan Kuindra. Di Desa ini, diberikan bantuan kepada pelajar SD diantaranya berupa alat-alat tulis. rombongan juga memberikan bantuan ke Sekolah Dasar Negeri 06 Desa Sungai Buluh kecamatan kuindra, berupa buku paket dan 1 unit laptop.

Rombongan Palang Merah Singapura akan kembali bertolak ke negaranya pada hari Minggu, 18 Desember 2011.(fsl)




KECAMATAN KERITANG KIBLAT PERSAWAHAN INHIL

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com)  – Dari 13 desa se-kecamatan Keritang ternyata terdapat sebelas desa yang memiliki potensi areal persawahaan yang cukup besar. Dengan demikian kecamatan Keritang merupakan salah satu kecamatan di Indragiri Hilir (Inhil) yang dijadikan percontohan dan sekaligus dipercaya sebagai daerah penghasil gabah terbesar.

 

Diketahui, empat dari sebelas desa yang paling banyak areal persawahaanya adalah desa Kotabaru Reteh, desa Kembang Mekar Sari,desa Seberang Pebenaan dan desa Pebenaan. Sedangkan desa Nusantara Jaya, Pasar Kembang, Pancur, dan Kotabaru Seberida juga memiliki areal persawahan yang cukup luas.

 

“Kita akui empat desa itu potensi persawahaanya diatas rata-rata dibandingkan desa lainnya. Namun tujuh desa lainya, sama-sama memiliki potensi,” kata Camat Keritang,

Ahmad Ramani. Baru-baru ini di Tembilahan.

 

Kata Ramani, kecamatan Keritang secara total memiliki areal perswahaan sebesar 6022 hektar. Untuk mendukung produksi gabah agar semakin mengalami peningkatan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Oprasi Pangan Riau Makmur (OPRM) terus memperluas areal persawahaan melalu program Cetak Sawah Baru (CSB) yang disebar pada beberapa kecamatan se-Inhil

 

“Untuk Keritang, yang mendapat program CSB ada beberapa desa diantaranya, desa Pasar Kembang yang saat ini realisaasinya sudah mencapai 250 hektar. Dan kita targetkan hingga tahun 2013 pencapaianya menjadi 5000 hektar,” sebutnya.

 

Ramani menambahkan, untuk meningkatkan hasil produksi pertanian seperti gabah, pihaknya selalu berupaya memberikan penyuluhan kepada para petani. Materi penyuluhan berkaitan dengan bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan memberikan pengetahuan sehingga petani tidak melakukan alih pungsi lahan.

 

Untuk meningkatkan hasil panen gabah petani tidak lepas dari sarana dan prasarana seperti ketersediaan peralatan pertanian dan persawahaan. Hal ini mengingat para kelompok tani yang ada di Keitang ketersediaan peralatan pertanian sangat minim.”Intinya kita tetap berupaya untuk mengembalikan nama besar Keritang sebagai daerah penghasil padi terbesar,” pungkasnya.(fsl)




Usulkan Pembuatan Portal, Camat Keritang Surati Pemkab

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com)  – Guna mempertahankan kondisi jalan dan jembatan dari kerusakan yang diakibatkan hilir mudiknya kendaraan berukuran besar, pemerintahan kecamatan Keritang surati Pemkab Indragiri Hilir (Inhil) untuk ajukan usulan pembuatan portal.

Demikian dikatakan Camat Keritang Ahmad Ramani. Menurutnya, akibat dari melintasnya truk-truk roda enam yang melebihi tonase membuat sebagian kondisi jalan lintas desa Kotabaru Reteh menuju ibu kota Kecamatan Keritang, yakni Kotabaru Seberida kini mengalami kerusakan cukup parah.

Selain itu, usulan pembuatan portal oleh pihak kecamatan Keritang kepada Pemkab Inhil yang ditebuskan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Perhubungan (Dishub) bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan jembatan Kuala Reteh. Dimana jembatan ini merupakan jembatan semi permanen sebagai jalur penghubung tiga kecamatan yakni, Reteh, Keritang dan Kecamatan Kemuning.

“Yang amat kita khawatirkan Kalau jembatan tersebut ambruk, maka secara otomatis arus lalulintas desa menuju kecamatan atau kecamatan menuju kecamatan lainnya bahkan penghubung ke Tembilahan ibu kota kabupaten akan lumpuh total,” ujar Ramani, belum lama ini di Tembilahan.

Oleh Karen itu, pihak desa dan kecamatan bersepakat untuk mengirimkan surat kepada Pemkab Inhil, terkait rencana pembuatan portal. “Seperti yang kita ketahui, kekuatan jembatan Reteh itu hanya mampu menopang beban sekitar 1-1,5 ton saja sehingga secara logika dapat dilintasi kendaraan pribadi dan mobil-mobil angkutan kecil, seperti L 300 dan sejenis Cary,” jelasnya.

Memang sebelumnya, kata Ramani lagi, warga sekitar pernah melarang mobil besar melintas disana tapi pada malam hari sekitar  pukul 12.00 WIB keatas mobil-mobil tersebut kembali melintas dan tidak terkontrol oleh warga.

“Intinya selain membuat surat, kami secara langsung juga telah membicarakan ini kepada dinas PU dan Dinas Perhubungan. Semoga apa yang kita buat ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat banyak,” tambahnya. (fsl)




Lakukan Kegiatan Sosial, Singapura Red Cross Kunjungi Inhil

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Rombongan Palang Merah Singapura (Singapura Red Cross) kunjungi Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Direncanakan oraganisasi kemanusiaan asal Negara Singa ini akan melakukan sejumlah kegiatan sosial.

Pada Kamis (15/12) sekitar pukul 19.30 malam bertempat di Pondok Makan Moro Kangen Tembilahan, Singapura Red Cross, langsung dijamu Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Inhil untuk melakukan temu ramah. Saat itu Bupati Inhil, H Indra Muchlis Adnan yang diwakili Asisten I Setdakab Inhil, H Said Ismail, menyatakan masyarakat Negeri Seribu Jembatan memberikan aspresiasi yang besar atas kedatangan Singapura Red Cross.

Kedatangan Singapura Red Cross tersebut juga merupakan sebuah kebanggaan dan kebahagiaan. “Kami atas nama Pemerintah dan Masyarakat Inhil merasa mendapat pengharagaan yang tiada nilainya,” kata H Said Ismail.

Apalagi lanjutnya, Singapura Red Cross merupakan sebuah organisasi kemanusiaan yang besar di Negaranya. Paling tidak, menurutnya, apa yang menjadi kelebihan mereka, dapat dicontoh oleh PMI Inhil, terutama dalam memberikan pertolongan atau kegiatan-kegiatan yang sipatnya sosial.

Sementara itu, Ketua Singapura Red Cross Mr. Cristofer Chau, menyebutkan sebelum melakukan kunjungan ke Inhil, , pihaknya terlebih dahulu telah melakukan survei pada akhir bulan November 2011 kemarin. Menurut dia, Singapura Red Cross dan PMI sudah lama melakukan hubungan. Meski diakuinya kedatangan ke Inhil kali ini merupakan kunjungan pertama mereka.

“Paling tidak kunjungan ini kita dapat berbagi satu sama lain terutama pada bidang ilmu serta sebagai ajang shering informasi maupun transpormasi pengalaman,”ungkapnya.

Rombangan Singapura Red Cross berjumlah sebanyak 26 orang, dijadwalkan akan melakukan kegiatan sosial di Kota Tembilahan dan daerah lainya di Inhil, seperti Desa Sungai Buluh Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra). Disana Singapura Red Cross, akan menyerahkan bantuan Sembilan Kebutuhan Bahan Pokok (Sembako) kepada warga yang kurang mampu. (fsl)




KEMANA REALISASI BANTUAN DARI DANA APBN BAGI LM3 DI INHIL?

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gemilang Serumpun, Indra Gunawan menilai penerima dana bantuan dari dana APBN bagi Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3) di Kabupaten Indragiri Hilir ditenggarai tidak memenuhi ketentuan dan cenderung disalahgunakan. Dirinya berharap, Dana bantuan ini dapat disalurkan tepat sasaran agar mampu meraih hasil sesuai dengan yang diharapkan.

“ LM3 berawal pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Agama No. 346/1991 dan No. 94/1991. Mulanya LM3 yang difasilitasi adalah lembaga-lembaga Pondok Pesantren, dengan sasaran berkembangnya usaha agribisnis di masing-masing pondok pesantren.

Pembinaan LM3 oleh Departemen Pertanian lebih dikembangkan lagi sejak tahun 1997, yaitu dengan diterbitkannya Surat Menteri Dalam Negeri No. 412.25/1141/PMD tangal 21 Oktober 1996 dan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 555/Kpts/OT.210/6/97 serta Surat Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian No. RC.220/720/B/VI/1998 tentang Pengembangan Agribisnis LM3.” Papar Ketua LSM Indra Gunawan saat disambangi Vokal di kediamannya, Kamis (15/12/2011)

Dijelaskan Indra lagi, Penetapan LM3 terpilih melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Dinas lingkup Pertanian terkait Kabupaten/Kota, BBDA/BDA, Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha LM3 Pusat serta KPA. Proses pemilihan dilakukan secara transparan atas dasar hasil identifikasi yang berpedoman pada kriteria yang ditetapkan, hasil kajian lapang dan proposal/ rencana usaha LM3.

“yang ingin saya pertanyakan, Kabupaten Inhil menurut informasi yang saya terima juga sudah beberapa kali menerima bantuan dana APBN untuk apa yang dinamakan gerakan LM3 ini. Hanya saja, secara pribadi sampai saat ini saya belum pernah mendengar LM3 mana saja yang telah memperolehnya dan bagaimana realisasinya dilapangan.” Tanya Indra

Menurut Indra, program ini seharusnya disosialisasikan secara luas kepada masyarakat khususnya di pesantren-pesantren. ia mendapat informasi, penerima bantuan dana APBN untuk Kabupaten Inhil terkesan tidak memenuhi persyaratan yang dimintakan. “saya hanya merasa aneh saja, program LM3 yang telah mengharumkan dan mampu menumbuhkan sektor ekonomi pada beberapa pesantren di hampir seluruh wilayah Indonesia ini kok anginnya terlalu pelan berhembus di Inhil? dan malah saya mendengar ada yang sudah mendapatkan bantuan ternak kambing namun kini hewan ternaknya sudah tidak diketahui lagi dimana rimbanya. Jadi saya sangat berharap agar semua pihak dapat turut bersama-sama melakukan pantauan bantuan bagi LM3 ini agar tujuan mulianya benar-benar bermanfaat dan tidak hanya malah dipergunakan oleh kelompok tertentu untuk niat yang menyimpang” pungkas Indra.(fsl)




TINGKATKAN KESEJAHTERAAN, PETANI INHIL DIHARAP MAMPU PRODUKSI PADI DUA KALI PERTAHUN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Indragiri Hilir, Wiryadi,S.Sos,M.Si meminta agar para petani dapat menjadikan momentum Tahun baru Hijrah 1433 sebagai pemicu semangat baru untuk melakukan perobahan. Dicontohkanya, Sebagai petani, tekad untuk meraih perobahan bisa diwujudkan dalam bentuk memanjemen pola tanam dan penerapan tehnik budidaya pertanian yang benar yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan efek positif khususnya dalam hal peningkatan pendapatan bagi keluarga.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11. Ungkap Wiryadi membacakan sebuah ayat Al qur’an saat ditemui  diruang kerjanya, Kamis (15/12/2011)

Menurut Wiryadi, kalau memang para petani ingin merubah nasib hidup mereka maka tekad dan kemauan itu harus tumbuh dari diri mereka sendiri. Namun tekad tentunya harus diiringi dengan ilmu pengetahuan.

Selama ini, kebanyakan para petani di Inhil hanya melakukan penanaman padi sebanyak 1 kali dalam satu tahun dan hal ini dilakukan lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan dalam bidang pertanian itu sendiri. Katanya, sudah menjadi kebiasaan petani di Inhil cenderung melakukan penanaman padi jenis lokal yang relative memiliki usia tanam yang lebih panjang, yakni 6 s/d 7 bulan dalam 1 kali masa tanam.

“Kita tidak melarang petani tetap melakukan penanaman padi jenis lokal ini karena selama ini mereka lebih menitikkan output pertanian padi untuk memenuhi konsumsi keluarga. Namun sebaiknya, ketersediaan lahan dapat dimanajemen dengan lebih baik. Misalnya, sebahagian lahan bisa tetap ditanami dengan jenis padi untuk konsumsi dan sebahagian lahan lagi diperuntukkan dengan menanam jenis padi yang relative berusia panen lebih pendek dengan target outputnya untuk dipasarkan dan memperoleh tambahan penghasilan keluarga.

Dicontohkannya, dengan menanam padi jenis unggul dengan usia panen 105 s/d 110 hari tentunya dalam 1 tahun, paling tidak petani dapat melakukan 2 kali masa tanam.

“Dalam 1 Hektar lahan, padi jenis unggul mampu memberikan hasil sebanyak 5 Ton dan dalam 2 kali masa tanam bisa dihasilkan gabah sebanyak 10 ton. Dengan harga jual gabah kering saat ini dikisaran harga Rp. 3000 per kilonya, berarti dalam satu tahun petani bisa memperoleh penghasilan sebanyak Rp. 30 juta. Setelah dikurangi biaya operasional yang rata-rata senilai 30 persen, tentunya petani dapat kelebihan sebesar Rp. 21 juta per tahun.

Dengan kelebihan penghasilan yang bisa disisihkan setiap tahunnya, kalau memang petani ingin menabungkan untuk biaya berangkat menunaikan haji, mereka hanya butuh waktu menyetor selama 3 tahun dengan 6 kali masa tanam” Jelas Wiryadi memberikan gambaran.

Merobah kebiasaan untuk melakukan pola tanam padi 2 kali dalam satu tahun untuk geografis Inhil yang rata-rata sebagai daerah dataran rendah tentunya bukanlah suatu hal yang mustahil. “Padi memang bukan tanaman air namun kebutuhan air adalah hal utama. Untuk geografis Inhil, kebutuhan air merupakan hal yang relative tidak ada permasalahan. Dimusim kemarau sekalipun, ketersediaan air tanah selalu mencukupi untuk kebutuhan hidup tanaman padi. Jadi semua itu hanya tinggal kemauan. Tuhan telah memberikan nikmat yang berlimpah untuk masyarakat Inhil tinggal kesungguhan dan keinginan masyarakatnya lagi bisa atau tidak untuk memanfaatkannya,” Ungkap Wiryadi mengakhiri.(fsl)