TETAP MELAUT ATAU BERHENTI MAKAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Walau disetiap penghujung tahun gelombang laut terbilang cukup tinggi, kondisi ini belum menghalangi sebahagian besar nelayan di Kabupaten Indragiri Hilir untuk tetap turun melaut. Menurut mereka, aktifitas sebagai nelayan ini terpaksa harus mereka lakukan karena mereka tidak memiliki sumber penghasilan ekonomi lain untuk menghidupi keluarga.

“Mana bisa saya berhenti melaut pak. Saya tidak memiliki keahlian lain untuk menghidupi istri dan tiga anak saya yang masih kecil. Istirahat satu hari saja berarti kami sekeluarga juga harus rela untuk istirahat mengganjal perut,” Keluh Atan, seorang nelayan Desa Bekawan Kecamatan Mandah, Kamis (29/12/2011)

Apa yang disampaikan Atan juga diamini oleh Majid, seorang nelayan Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra. Beberapa buah perahu yang selama ini dipinjamkan dengan cara kongsi pada nelayan setempat, sampai hari ini juga masih turun melaut seperti biasa.”Masih pak, nelayan kita tetap melaut. Ya mau apalagi, kalau, istirahat artinya mereka tidak mendapatkan pemasukan. Tapi kalau memang kondisinya sudah tidak memungkinkan, mau tidak mau kita juga terpaksa harus istirahat. Alhamdulillah sampai hari ini kita masih bekerja walaupun hasilnya agak menurun.” Ungkap Majid, ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya. Kamis (29/12/2011)

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Indragiri Hilir, Saripek ketika dikomfirmasikan melalui sambungan telepon selularnya mengakui kondisi mulai tingginya gelombang yang menyebabkan nelayan terganggu melaksanakan aktifitas. Namun dari hasil tinjauan KKP ke beberapa perkampungan Nelayan di daerah pesisir Inhil, sebahagian besar nelayan masih turun melaut sebagaimana biasanya.

“ya, memang setiap akhir tahun gelombang laut besar dan menyebabkan nelayan susah untuk mencari ikan. Namun secara resmi kita belum menerima keluhan nelayan. Dari hasil pantauan kita dibeberapa daerah pesisir Inhil, nelayan masih melaut seperti biasa.” Jelas Saripek.

Masih menurut Saripek, saat ini KKP sudah mengusulkan kepada kementrian kelautan RI untuk meminta bantuan tanggap darurat. Bantuan ini nantinya akan diperuntukan bagi nelayan selama dalam masa mereka istirahat melaut.” kita doakan saja mudah-mudahan kondisi alam tidak semakin memburuk dan nelayan kita masih tetap bisa mencari rezky,” Ujar saripek sambil mengatakan jumlah Nelayan di Kabupaten Indragiri Hilir berjumlah kurang lebih 8 ribu Kepala Keluarga. (fsl)




Pekarangan SD 11 Pekan Arba Terendam Air

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Lurah Pekan Arba, Rio A.P,  meminta kepada Dinas terkait untuk dapat meninggikan pekarangan gedung SD 11. Sebab saat musim penghujan, dan pasang tinggi seperti sekarang ini, pekarangan terendam sehingga cukup menggangu aktivitas sekolah, terutama untuk kegiatan ekstrakurikuler.

“Saat hujan, bisa lihat sendiri pekarangan sekolah terendam selama berhari-hari. Untuk masuk kelokal saja, guru dan siswa terpaksa harus melepas sepatu. Kalau tidak sudah pasti sepatu akan basah,” kata Lurah Pekan Arba, Kamis, (28/12).

Masih menurutnya, kondisi lapangan yang terendam juga menghambat ketika akan melaksanakan upacara pada hari Senin. Bagaimana mana mau melaksanakan upacara kalau seluruh lapangan digenangi oleh air. Untuk itu, diharapkan bagimana lapangan ini bisa ditinggikan, sehingga walau pasang naik aktivitas masih bisa dilaksanakan dilapangan.

“Intinya kami semua disini meminta lapangan ini bisa ditinggikan. Karena bagaimanapun juga pendidikan sangat penting bagi peningkatan SDM. Semua itu tentu, harus didukung dengan infrastruktu yang memadai,” imbuhnya.

Masih menurutnya, lapangan tersebut sebenarnya sudah ditimbun dan ditinggikan. Tapi ternyata tidak cukup untuk mencegah terjadinya banjir. Seharusnya lapangan tersebut memang dilakukan semenisasi baru bisa baik. “Tapi kendalanya ada pada pendanaan, karena untuk semenisasi keseluruhan butuh dana yang besar,” pungkasnya (Suf)




Jalan Rusak, Warga Kayu Putih Harap Perhatian Pemerintah

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Warga Jalan Batang Tuaka Gang, Kayu Putih, Kelurahan Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan berharap agar pemerintah bersedia menganggarkan dana untuk melakukan perbaikan jalan mereka. Kondisi jalan yang saat ini dipenuhi lubang, berlumpur dan terendam saat banjir dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan.

“Akhir tahun seperti ini, setiap pasang naik, jalan ini terendam air. Bahkan sudah beberapa kali pengguna jalan terjatuh akibat terperosok ke dalam lubang yang hampir rata menutupi permukaan jalan ini.” Ungkap seorang warga, Diki ketika bertemu Www.detikriau.wordpress.com saat melihat secara langsung kondisi jalan ini. Rabu (28/12/2011)

Gang dengan lebar 1,5 meter dan panjang kurang lebih 140 meter ini merupakan kawasan perumahan yang cukup padat, kondisi jalan yang rusak parah seperti ini, tentunya harus segera untuk diperhatikan dan dilakukan perbaikan.”Posisinya yang masuk dalam kawasan Tembilahan Kota tentunya harus menjadi perhatian tersendiri apalagi kondisinya sudah sangat memprihatinkan, kasihan warga. Takutnya kalau lambat diperbaiki kondisi jalan akan semakin parah karena setiap hari air pasang naik dan memenuhi badan jalan”Ungkap Diki mengakhiri. (fsl)




DULU JALAN BERASPAL HOTMIX, KINI, BAK KUBANGAN SAPI

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Ruas jalan yang menghubungkan tiga Kecamatan yakni Kecamatan Keritang, Kecamatan Kemuning dan Kecamatan Kempas, kini kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Ruas jalan yang dulunya mulus beraspalkan hotmix ini dalam hitungan bulan sudah dipenuhi lobang mengangga dan becek. Dimusim penghujan, ruas jalan ini tidak lebih dari kubangan lumpur yang sangat membahayakan pengguna jalan. Luluh lantak jalan penghubung ini dituding masyarakat sebagai akibat angkutan ratusan kendaraan truk dengan kapsitas puluhan ton.

“Kita mau bilang apa lagi bang, dulu jalan ini begitu mulus dan menjadi kebanggan masyarakat setempat. Tapi setelah setiap harinya ratusan kendaraan truk dengan kapasitas angkutan mencapai puluhan ton, badan jalan ini menjadi hancur.”Keluh Yadi, warga setempat saat bertemu di lokasi jalan kilometer VIII Kecamatan Kempas, senin (26/12/2011).

Menurut Yadi, dulu, disaat jalan masih bagus, dari pasar kilo VIII menuju Rumbai jaya, ia hanya butuh waktu dalam hitungan puluhan menit. Namun saat ini, waktu tempuh bertambah 3 sampai empat kali lipat.”Gimana kita mau cepat bang, lihat saja kondisi jalan hari ini, lubang dan kubangan lumpur hampir memenuhi seluruh badan jalan. Kalau gegabah, alamat wajah kita akan berbedak lumpur,”Ungkapnya sambi bergurau.

Apa yang dingkapkan Yadi juga diamini oleh Herman, warga rumbai jaya yang setiap hari melintasi jalur jalan ini untuk berdagang blak-balakan mengakui biang kerusakan jalan ini nyata disebabkan angkuatan truk batubara milik PT. Riau Bara Harum (RBH).”mau bilang apa lagi pak. Memang dijalur jalan ini ratusan truk setiap harinya melintas tapi yang jelas, truk angkutan milik PT.RBH yang paling memegang peran kerusakan ruas jalan ini. Coba bapak lihat sendirilah, bobot kosong truk itu saja, 10 sampai 12 ton ditambah muatan lebih dari 30 ton. Dengan bobot kendaraan seberat ini. Tentulah badan jalan ini akan luluh lantak,”Ucapnya dengan nada kesal.

Akibat semua ini, tambah Herman, aktifitasnya sebagai seorag pedagang juga menjadi terhambat.”kita rakyat kecil tak bisa apa-apa pak. Saat kondisi jalan luluh lantak sperti ini, apa tanggungjawab pihak perusahaan?(fsl)




KEHADIRAN PKS TUMBUHKAN EKONOMI MASYARAKAT DESA KERITANG HULU

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Desa Keritang Hulu, 1 dari 11 desa di Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Desa Selensen, Batu Ampar, Air Balui, Tuk Jimun, Limau Manis, Kemuning Tua, Kemuning Muda, Lubuk Besar, Talang Jangkang, Sakara dan Keritang. Red) semakin hari terlihat geliat pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin menakjubkan. Berbagai sektor pembangunan di desa yang terdiri dari 5 dusun ini sebagian besar didanai melalui swadaya masyarakat. Pasar keritang yang merupakan pasar tradisional terbaik seprovinsi Riau dan pasar tradisional terbaik ke tiga di seluruh Indonesia memberikan bukti nama besar Desa yang berada dipintu masuk bagian Selatan Kabupaten Indragiri Hilir ini. Sektor penghasilan utama masyarakat sebagian besar pada sektor perkebunan sawit. Menurut pengakuan Ketua adat masyarakat setempat, Sulaiman, pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat mengalami perubahan drastis setelah berdirinya pabrik pengelolaan kelapa sawit yang mampu menampung hasil panen perkebunan masyarakat.

“sudah puluhan tahun masyarakat kita mengandalkan penghasilan dari sektor perkebunan sawit. Beberapa waktu lalu, setiap panen masyarakat memasarkan melalui agen/pengepul yang selanjutnya memasarkan ke pabrik-pabrik pengolahan sawit di Provinsi Jambi ataupun di Kabupaten Inhu. Artinya, pemasaran, sepenuhnya berada di tangan agen.”Ungkap Sulaiman ketika disambangi  di Kediamannya , Senin (26/12/2011).

Menurut penjelasan Sulaiman. Selama itu, agen yang menentukan berapa harga jual dan tidak pernah ada ketransparanan harga penjualan sawit di pabrik. Bahkan disaat hasil panen melimpah, agen-agen sering berkilah dengan berbagai dalih untuk menampung hasil panen tersebut. “Kalau tidak mau hasil panen membusuk dan terbuang percuma, masyarakat terpaksa harus menerima berapapun harga yang dipatok oleh agen. Akibatnya, usaha keras masyarakat untuk merobah penghidupan dari sektor ini tidak mampu berbuah manis. Setelah adanya PKS di desa kita, kapanpun kita panen, kita bisa langsung memasarkannya dan harga yang kita jual sesuai dengan harga pasar dan terbuka secara transparan.”Kisahnya dengan suara mantap sambil sekali-kali menghirup kopi panas dan kepulan asap rokok mengudara dari sudut bibirnya.

Sulaiman mengakui, berbagai pembangunan di desanya yang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari Ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan ini, sebahagian besar didanai melalui swadaya masyarakat.” Pasar, beberapa ruas jalan dan dua jembatan pembangunannya didanai secara swadaya oleh masyarakat setempat. Setiap panen, senilai rupiah tertentu, hasil penjualan itu dikumpulkan dan dipergunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa. Alhamdulillah, diakui ataupun tidak, kita merasa sangat bersyukur dengan berdirinya pabrik kelapa sawit yang dirasakan telah mempu memberikan arti bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat ini,”Ungkap Sulaiman mengakhiri.

Dari pantauan di beberapa dusun di Desa Keritang Kecamatan Kemuning ini, kebanyakan rumah masyarakat sudah dibangun secara permanen dan hampir disetiap teras rumah penduduk terparkir kendaraan roda dua keluaran baru dan dibeberapa rumah terpajang kendaraan roda empat. Disepanjang kiri-kanan pasar rakyat yang berdiri di jalur lintas timur pulau Sumatra ini, mulai ramai terlihat jejeran rumah toko (ruko) yang menjajakan berbagai kebutuhan masyarakat.(fsl)




MPI PERTANYAKAN KEBIJAKAN KOMERSIL DISDIK INHIL

Pelajar SD dan SMP Harus Beli Bahan Seragam Batik di Disdik Inhil

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Tokoh muda Masyarakat Peduli Inhil (MPI), Zakiyun mempertanyakan kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Inhil yang mengharuskan pihak sekolah untuk membeli bahan baju seragam batik yang dikoordinir melalui salah seorang pejabat di Disdik. Menurutnya, dana Bantuan Operasional sekolah Daerah (BOSDA) ini seharusnya pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah.

“Dana BOSDA memang untuk membantu pembelian seragam bagi murid-murid setingkat SD dan SMP dan peruntukannya sepenuhnya berada di pihak sekolah karena mereka yang tau apa yang menjadi kebutuhan mereka. Kalau peruntukannya ditentukan oleh Dinas Pendidikan, apa ini tidak bisa dikatakan diintervensi?,”Jawab Zakiyun ketika bertemu Www.detikriau.wordpress.com di Tembilahan, Ahad (25/12/2011).

Menurut penuturan Yon, panggilan akrab aktivis muda ini, dirinya mendapati pihak Disdik membuat keharusan agar sekolah-sekolah membeli bahan pakaian seragam batik dan dikoordinir melalui salah seorang pejabat di Disdik Inhil,”Kok aneh, sekolah-sekolah diharuskan untuk membeli bahan pakaian seragam batik di Disdik dan dananya sebesar Rp. 40 ribu disetorkan kepada salah seorang pejabat di Dinas tersebut. Lagipula bukan seragam jadi tapi hanya bahan kainnya saja. Ini ada apa? Apa Dinas mau jadi pedagang?”Tanya Yon

Dari penuturan seorang kepala sekolah yang sempat ditemui Www.detikriau.wordpress.com di Dinas Pendidikan Inhil baru-baru ini, dirinyapun merasa heran kenapa ada keharusan seperti ini. Dirinya menyebutkan bahwa ketentuan dalam penggunaan Bosda itu sudah sangat jelas.”Pakaian seragam itukan ada pakaian merah putih, pakaian olahraga, pakaian muslim, pakaian pramuka dan pakaian batik. Penggunaannnya disebutkan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Tapi gimana saya mau protes, kalau berani, saya pasti digencet, awak tau sendirilah. Jadi akhirnya saya terpaksa harus ikut orang banyaklah,”Ujarnya dengan nada suara dipelan-pelankan dan menolak memberitahukan namanya ketika dikomfirmasi. (fl)