HMKI BERI WAKTU 3 HARI PADA PT.RBH

PENGALIHAN-KERITANG (www.detikriau.org) – Demontrasi puluhan massa yang tergabung dalam HMKI ditindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan di ruang pertemuan kantor lurah Desa Pengalihan Kecamatan Keritang, Senin (5/3/2012).

Pantauan lapangan www.detikriau.org, pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan PT.RBH, Saharudin, Assisten II Setdakab Inhil, Ir. H. Syafrinal Hedy, Kepala Dinas PU, Ir. H. Tengku Eddy Efrizal, MP, Camat Keritang, Ahmad Ramani dan beberapa pejabat dilingkungan Setdakab Inhil itu diwarnai dengan aksi walk out demonstran karena mereka menganggap perwakilan yang dihadirkan pihak PT.RBH bukan dihadiri oleh pejabat yang berwenang untuk mengambil keputusan.

Dalam pertemuan itu, perwakilan PT.RBH, Saharudin berdalih bahwa PT.RBH sudah menunjukkan komitmen yang jelas untuk melakukan perbaikan jalan sesuai dengan Mou yang telah dengan Dinas PU Provinsi Riau beberapa waktu lalu. Hanya saja dijelaskannya, kontraktor (PT. YUDA. red) yang telah ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan sejak 6 bulan yang lalu tanpa memberikan alasan yang jelas sampai hari ini belum juga melaksanakan Surat Perintah Kerja (SPK) yang sudah diberikan.

Puluhan Massa demonstran sambil berjalan kaki melakukan orasi mengecam PT.RBHMenurut Saharudin, dalam pertemuan yang tidak  diikuti lagi oleh massa HMKI ini, mereka sudah menerima surat dari Dinas PU Kab. Inhil yang isinya mempertanyakan kenapa PT. RBH belum juga melakukan perbaikan jalan sesuai dengan MoU yang sudah dibuat. Atas dasar surat ini menurut saharudin lagi, pihak perusahaan juga sudah memberikan surat teguran sebanyak dua kali kepada PT.YUDA tapi belum juga mendapat jawaban.”Dalam hal ini tentu kami sebagai pihak yang juga dirugikan. Kita kembali akan menyurati PT.YUDA, kalau dalam surat tegoran ketiga ini tidak juga ada kepastian, kita bisa beralih kepada kontraktor yang lain,” Terang Saharudin

Berdasarkan informasi yang diterima dari sumber lapangan www.detikriau.org, massa demonstran memberikan tempo waktu selama tiga hari terhitung sejak hari ini, senin 5/3/2012 agar PT.RBH segera melakukan perbaikan kerusakan jalan yang telah mereka lakukan. Apabila tidak juga dipenuhi, mereka mengancam akan mengerahkan massa dengan jumlah yang jauh lebih besar. Sayangnya sampai berita ini dirilis, www.detikriau.com belum berhasil mendapatkan komfirmasi langsung kepada ketua HMKI, Supriyadi.(fsl)




Jalan Penghubung Ke Kecamatan GAS Semakin Memprihatinkan

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) — Tibanya musim hujan ini semakin membuat kondisi ruas jalan lintas yang menghubungkan Kecamatan Batang Tuaka – Gaung Anak Serka (GAS) di Kabupaten Inhil kian hari semakin parah.

Pantauan dilapangan, kerusakan ruas jalan tersebut mulai terasa dari Desa Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka hingga Kelurahan Teluk Pinang Kecamatan GAS. Tidak hanya berlubang dan penuh lumpur, di beberapa titik terlihat badan jalan tersebut sudah terputus dan hanya diperbaiki oleh masyarakat setempat secara swadaya dengan menumpukkan kayu ataupun batang kelapa sebagai penyambung jalan agar bisa dilewati.

Menurut Rudi (25) warga Kecamatan GAS,Senin  (5/3), ia mengeluhkan kondisi jalan penghubung Kecamatan Batang Tuaka-GAS yang semakin hari semakin memprihatinkan. Padahal, jalan tersebut sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat, karena disamping untuk keperluan lalu lintas masyarakat, jalan tersebut juga digunakan oleh para petani untuk mengangkut hasil pertanian mereka.

“Melihat kondisi jalan seperti itu, kalau tidak ada keperluan yang penting dan mendesak, diupah orangpun jalan ke Tembilahan saya tak mau,” kelakarnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Adi (25) salah seorang Mahasiswa UNISI  yang ditemui saat melintasi jalan tersebut juga mengeluhkan hal senada. Dikatakannya, kondisi jalan itu sudah banyak memakan korban, baik pengendara sepeda motor maupun mobil angkutan penumpang dan barang.

“Kemarin waktu saya lewat disini, ada pengendara sepeda motor yang terjatuh karena terperosok kedalam lubang besar. Belum lagi kendaraan roda empat sampai ada yang harus bermalam disini akibat terpuruk,” ceritanya dengan semangat.

Dijelaskannya lagi, kondisi jalan yang rusak tersebut akan semakin mengkhawatirkan para pengguna jalan apabila musim hujan dan air pasang, karena jalan yang berlubang akan tertutup genangan air dan menjadi sangat licin.

“Pejam mata sajalah kalau lewat jalan ini. Kita sudah tidak bisa memilih jalan mana yang bagus, sebab di bagian kiri dan kanan jalan sudah berlubang, apalagi kalau ditengahnya,” pungkasnya.

Untuk itu, ia sangat berharap pemerintah dapat memperbaiki kerusakan jalan penghubung Kecamatan Batang Tuaka-GAS secepatnya, karena keberadaan jalan sebagai sarana transportasi merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat. (suf)




PT.RBH KEMBALI DI DEMO MASYARAKAT.

Bentuk Kekecewaan Atas Rusaknya Ruas Jalan Akibat Tranfortasi Batu Bara.

Truk Angkut Batubara milik PT.RBH seperti ini yang dituding masyarakat biang kerusakan jalanPENGALIHAN – KERITANG – Puluhan Mahasiswa dan Pelajar beserta masyarakat saat ini sedang melaksanakan aksi demontrasi. Senin (5/3/2012). Aksi ini sebagai bentuk protes atas kerusakan jalan yang terjadi akibat tranportasi angkutan batubara milik PT. Riau Bara Harum (PT.RBH).

Berdasarkan sumber www.detikriau.org dilokasi demo, rombongan massa terlihat mulai berkonsentrasi dilapangan bola sejak pukul 13.30 WIB. Kemudian sekira pukul 14.00 WIB, masa bergerak ke depan bangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 04 Pengalihan Keritang yang berjarak kurang lebih 100 M dari lapangan bola. Dilokasi ini direncanakan massa akan memberhentikan kendaraan truk PT.RBH yang kedapatan melintas.

“Kita hanya menuntut tanggungjawab pihak perusahaan atas terjadinya kerusakan badan jalan akibat aktifitas tranportasi batu bara milik mereka. Dulu jalan ini mulus dan sekarang sudah hancur lebur.” Sekelumit orasi yang sempat terdengar keluar dari megaphone ditangan orator.

Dari pantauan sumber www.detikriau.org, rombongan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Keritang Inhil (HMKI) yang diketuai Supriyadi dalam aksi kali ini juga didampingi tokoh pemuda masyarakat setempat, Ambok Pinabung.

Aksi demo dikawal oleh puluhan petugas pengamanan dari kepolisian. Juga terlihat hadir dilokasi demo Asisten II Sekdakab Inhil, H, Syafrinal Hedi.

Kendaraan truk angkutan batubara milik PT.RBH yang biasanya ramai melintasi jalur ini, sejak siang hari tadi menurut informasi sumber tidak terlihat satupun melintas. Saat berita ini dirilis, massa masih melaksanakan aksi demontrasi dan kini mulai bergerak kearah Depan Kantor Lurah. (fsl)




TAAT BAYAR PPJ, PENERANGAN JALAN TAK PERNAH MENYALA

KERITANG (www.detikriau.org) — Masyarakat Kecamatan Keritang, terutama pelanggan PLN mengeluhkan tidak menyalanya lampu penerangan jalan, padahal tiap bulan mereka harus bayar Pajak Penerangan Jalan (PPJ).

Ketiadaan lampu penerangan jalan ini tentu membuat jalan-jalan di Kecamatan Keritang menjadi gelap dan rawan aksi kejahatan pada malam hari.“Kita tentunya mempertanyakan tidak adanya lampu penerang jalan, padahal tiap bulan pelanggan PLN membayar Pajak untuk itu,” ungkap tokoh pemuda Kecamatan Keritang, Muammar Harmain, Minggu (4/3).

Ditambahkannya, kondisi ini menjadi pertanyaan warga. Ia berharap kepada pihak terkait untuk segera memasang penerangan lampu jalan tersebut. “Intinya masyarakat sudah memenuhi kewajiban jadi berikan hak mereka.”Tegas Muammar(Suf)




RAWAN MACET DAN KECELAKAAN, PEMKAB DIMINTA TEMPATKAN PETUGAS.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Sempitnya ruas jalan serta ramainya arus lalulintas membuat jalan H. Arif Parit XI Tembilahan Hulu sering menimbulkan kemacetan. Penyebab utamanya, kawasan yang sedianya bukan diperuntukkan sebagai kawasan pasar ini, kini semakin ramai dipenuhi dengan pedagang. Para pedagang  mempergunakan pelataran rumah penduduk, ruko bahkan jembatan untuk memajang barang dagangan. Sebahagian masyarakat berharap, agar aktifitas ini tidak terlalu mengganggu pengguna jalan kiranya pemerintah dapat menempatkan petugas lapangan.

“Pemerintahkan sebenarnya bisa menempatkan petugasnya, seperti satpol PP atau Petugas dari Dinas Perhubungan agar ruas jalan ini bisa sedikit teratur dan tentunya tidak rawan terjadinya kecelakaan,”Ujar Indra, seorang pembeli ketika sempat dikomfirmasi Vokal dilapangan, Ahad (4/3).

Masih menurut penuturan Indra, sepengetahuan dirinya, walau kawasan ini sebenarnya secara resmi bukan diperuntukkan sebagai pasar rakyat tapi sudah sejak lama pedagang memanfaatkan lokasi ini untuk berdagang mengadu untung. Dengan berjalannya waktu, kini kawasan ini lebih dikenal masyarakat sebagai pasar Parit XI dan semakin hari semakin ramai.” Tentunya aktifitas masyarakat ini tidaklah terlalu dipermasalahkan karena paling tidak cukup banyak masyarakat yang megadu nasib dan mencari rezky dikawasan ini. Hanya saja tentunya agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya, tentu diperlukan adanya pengaturan dan pengorganisasian dengan benar,”Usul Indra.

Anto, warga masyarakat lainnya juga mengungkapkan pernyataan yang senada. Diakuinya, karena kawasan ini keberadaannya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, hampir setiap hari ia berbelanja berbagai keperluan dikawasan pasar parit XI ini.”Terus terang saya juga tidak mempermasalahkan keberadaan pasar tidak resmi ini, paling tidak, masyarakat sekitar tidak perlu lagi jauh-jauh untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Namun secara pribadi saya juga setuju kalaulah lokasi ini bisa ditata dengan lebih baik agar ruas jalan tidak sampai mengganggu pengguna jalan lainnya,” Kata Anto.

Dari pantauan, kawasan pasar parit IX ini hampir setiap hari tidak pernah sepi dengan berbagai aktifitas perdagangan, raminya pengunjung dan padatnya arus lalu lintas memang sering menimbulkan terjadinya kemacetan. Kemacetan akan semakin parah saat jam-jam sibuk seperti pagi dan siang hari.(fsl)




SEKILAS TENTANG PT.RIAU BARA HARUM.

RBH merupakan  sebuah perusahaan batubara berkalori 6.100-6.300 kkal yang berlokasi di Riau Tenggara di atas lahan seluas 24.450 hektar.  Berdiri sejak Tahun 1990, dimana pekerjaan eksplorasi awal sudah dilakukan sejak Tahun 1992. Perusahaan ini dimiliki oleh Kiki Barki, Herry Beng Koestanto dan Aria Sulhan Witoelar.

Struktur pemegang saham RBH adalah PT Sumber Bara Lestari (SBL) 47,5%, PT Karunia Tambang Mandiri (KTM) 2,5% dan PT Permata Energy Resources (PER) 50%.

SBL dan KTM merupakan dua perusahaan milik Kiki Barki sedangkan PER merupakan konsorsium antara grup Tiga Pilar melalui PT Permata Handrawina yang dipimpin Herry Beng Koestanto dengan grup Watala melalui PT Arya Watala Capital milik Aria Sulhan Witoelar.

Perusahaan ini memiliki Areal konsesi seluas 24.450 ha di Siberida, Batang Gangsal dan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu (92,68%) serta di Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (7.32%). Provinsi Riau. Kuasa Pertambangan adalah di Kawasan Keritang, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hilir.

Pengapalan / Informasi Pelabuhan:

  1. Dari pertambangan, Batu bara diangkut menggunakan truk kepabrik pengolahan di Mumpa, Kecamatan Tempuling, yaitu sekitar 11 dan 88 kilometer dari  Teluk Kelasa dan Rantau Langsat. Setelah diproses, batubara tersebut akan dimuat ke ban berjalan yang akan mengangkut batubara ke tongkang dengan kapasitas 5.500 ton. Kapal tersebut akan mengambil batubara lebih dari jarak sekitar 105 kilometer ke kapal berlabuh di lepas pantai Muara Bangkong. Kemudian kapal akan membawa batubara ke pembeli.
  2. Fasilitas pelabuhan adalah di sisi Sungai Indragiri.
  3. Lokasi pelabuhan bongkar di Kawasan Gantang Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hilir Kabupaten.

Sumber:  (rbhcoal.com/ financeindonesia.org/dro)